Senin, 13 Agustus 2012

Teman Bukanlah Aset


Hidup akan sepi jika tak punya teman, tapi tak jarang hidup yang ramai karena teman pun tiba-tiba akan terasa sepi, mengapa?
       Membahas konsep pertemanan pasti akan menorehkan cerita panjang dan itu mungkin akan lebih tepat dilakukan oleh pakar Psikologi. Kita lihat dari satu contoh saja yuk! Hitung-hitung belajar jadi Psikolog
       Sering kita mendengar dan bahkan ikut meyakini arti seorang teman dalam kehidupan kita. Sebagai contoh, kita menganggap orang yang bisa dijadikan teman adalah dia yang bisa membantu kita disaat kita tenggelam dalam kepayahan, dia yang mau memberi sandaran disaat kita kehilangan pegangan dan banyak lagi hal-hal yang selalu bisa kita jadikan tempat untuk memudahkan kita keluar dari masalah.
     Bagaimana kalau anggapan ini kita balik, bukankah lebih indah jika kita tak selalu memandang teman sebagai objek pelepas dahaga hanya dari sisi kita?
Misalnya, teman adalah orang yang selalu bisa kita bantu manakala dia tenggelam dalam kepayahan, seseorang yang bisa kita beri sandaran di saat dirinya kehilangan pegangan dan kondisi-kondisi lain yang senada. Ini akan terasa lebih indah dan menghindarkan kita terjebak pada satu kondisi yang tanpa kita sadari kita menjadikannya sebagai aset, meskipun tak murni berwujud materi.
        Mengapa sebagai aset?
    Kadangkala dalam pertemanan kita sesekali terbentur dalam hubungan timbal balik, terutama masalah-masalah yang berkaitan dengan materi. Kita jadi pamrih, ketika kita yang selama ini selalu memberi, sebaliknya teman tersebut tak sekalipun melakukan hal yang sama. Kita menjadi hitung-hitungan, sementara jalinan pertemanan terus berjalan. Coba rasakan jika ini menyelinap dalam hati kita, seberapa lama dan letihnya kita terus mengitung untung rugi tadi, dan seberapa lama kita memakai topeng kepura-puraan? Tak ada ketulusan di dalamnya jika kita menempatkan teman sebagi aset.
    Untuk membuat jalinan pertemanan menjadi indah, cobalah kita ubah paradigma kita tentang seorang teman. Tempatkan mereka menjadi seseorang yang selalu bisa kita lepaskan dari kesulitan-kesulitannya. Ulurkan tangan kita sebelum dia memintanya. Dan berusaha untuk tidak kecewa jika kita tak memperoleh sebaliknya, InsyaAllah ini takkan pernah membuat kita merasa sepi, karena teman bukanlah aset.
 “Teman adalah seseorang yang mengerti lagu yang kita nyanyikan meskipun suara kita tak terdengar.
Teman juga seseorang yang memahami apa yang kita katakan meskipun mulut kita terkunci”

On The Way Home In Summer Trip
23 Agustus 2008, 12.43  am

Mata yang Tak Pernah Tua

              
       Selesai berdandan, aku tertegun memandangi tubuh yang muncul di depan cermin. Tak bisa berpura-pura, bayangan itu bukan wajah gadis berusia 17 tahun lagi. Polesan bedak dan lipstick hanya mampu menyamarkan dan sedikit memberi warna segar. Terpaan keringat dan udara di luar sana akan segera mengungkap warna aslinya, wajah perempuan yang hampir berkepala empat. Untung semangat dan jiwaku selalu merasa bahwa aku masih gadis belia yang mampu menepis teguran ketuaan itu. Aku jadi ingat lagi kejadian itu.
            Malam itu aku terusik dengan sosok perempuan muda, cantik, masih sangat segar dan bertubuh langsing tanpa lemak. Perempuan itu tak sadar bahwa aku terus memandanginya sementara dia khusyuk menatap suamiku. Pemandangan beberapa saat yang terjadi di depan mataku tentu saja memancing rasa ingin tahuku tentang sebuah kesetiaan dan cinta. Keyakinanku sempat terkacaukan dengan tampilan perempuan muda yang menawan itu. Aku saja terpukau dengan kemolekan wajah dan tubuhnya, maka pastilah banyak pria yang juga terpesona dengannya, tak terkecuali suamiku. Perasaan terpojok ini yang menggodaku untuk mempertanyakan sesuatu.
            “Apa kamu masih tetap mencintaiku jika aku tua, jelek dan sudah berkeriput nanti?” tanyaku mengagetkan suami. Pertanyaan itu sepertinya sedikit mengganggu suasana makan malam kami di sebuah restoran, di kawasan Kelapa Gading. Dia tak menjawab. Diamnya malah membuat keyakinanku semakin berkurang.
            “Apa kamu masih cinta padaku jika aku sudah tak muda lagi?” sekali lagi kuajukan pertanyaan itu.
            “Pertanyaanmu itu tak harus dijawab sekarang kan?” jawabnya dengan senyum. Gantian, aku yang diam. Memendam rasa tak puas. Tapi aku tak tahan juga. Jika tidak sekarang, kapan lagi aku akan mendapatkan jawabannya?
            “Kamu lihat perempuan cantik itu?” tanyaku menyelidik.
            “Yang mana?” katanya acuh tak acuh.
            “Yang duduk di depan kita ini. Dari tadi dia terus mencuri-curi pandang ke kamu. Kamu pura-pura enggak sadar ya?” kataku lagi sambil menyembunyikan rasa cemburu.
            “O…biarkan saja. Seharusnya kamu bangga kalau suamimu ini masih bisa menarik perhatian cewek secantik dia,” katanya bergurau yang sama sekali tak terdengar lucu buatku. Aku jadi malas meneruskan pembicaraan. Tidak bisa dibohongi suasana hatiku menyita  kegembiraan dan keindahan makan malam kami waktu itu. Tapi suamiku malah semakin lahap dan sepertinya tak terusik dengan pertanyaan-pertanyaanku tadi. Apakah dia menikmati situasi ini? Diperhatikan oleh perempuan molek rupa seakan-akan membuatnya bertambah semangat menghabiskan sisa steak di piringnya. Kepalaku sudah penuh dengan berbagai dugaan yang bergabung dengan rasa tersaingi. Aku ingin segera kembali ke rumah dan mempertanyakan hal yang sama, apakah suamiku masih mencintaiku jika aku tak muda lagi?
            “Jadi nonton enggak?” kata suamiku menawarkan setelah makan malam berdua usai.
            “Enggak ah, sudah terlalu malam. Kasihan anak-anak ditinggal,” jawabku dengan alasan yang tak pas. Aku malas melanjutkan kebersamaan kami setelah kejadian tadi. Yang ada di benakku adalah rasa ingin segera sampai ke rumah, di kamar, dan mempertanyakan hal yang sama, tentang cinta.
            “Kan ada mama? Sekali-sekali berduaan begini, seperti waktu pacaran,” katanya sambil bercanda menepis alasanku.
            “Aku lagi enggak selera nonton. Pulang saja yuk,” jawabku masih tetap menyembunyikan rasa cemburu.
            “Enggak nyesel? Pemerannya aktor idolamu lo,” tawarnya lagi membujuk. Aku lihat poster yang berjajar di tembok menuju pintu bioskop. Benar, si Steven Seagal yang jadi pemeran utamanya. Tapi aku sudah kehilangan selera. Aku kembali menggeleng. Akhirnya suamiku menyerah dan kami memutuskan untuk pulang.
            Malam itu sudah jam 11, ketika kami sampai di rumah, anak-anak ternyata sudah tidur. Bagus! Pikirku. Ini akan mempercepat aku mendapat jawaban tentang pertanyaan di restoran tadi. Aku pun tak membuang-buang waktu.
            “Sekarang sudah bisa dijawab kan? Apa kamu masih tetap mencintaiku jika aku sudah  tua, keriput dan tak cantik lagi?” tanyaku bertubi-tubi. Dia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.
            “Kamu masih ingat, sepasang suami istri yang sudah tua renta, yang kita lihat saat kita berkunjung ke Bern?” katanya balik bertanya.
            “Ya, memang kenapa?” tanyaku belum paham.
            “Kamu ingat, waktu itu kamu bilang, seandainya kita bisa sampai setua itu menjalani kehidupan rumah tangga. Bahagia banget ya, ingat enggak?” katanya mengingatkanku. Aku cuma mengangguk pelan.
            “Terus kamu nanya lagi, suaminya masih kelihatan ganteng ya padahal sudah tua. Sementara istrinya tua banget dan sudah enggak bisa jalan, tapi suaminya begitu sabar menemani sambil mendorong kursi roda istrinya,” kata suamiku mengulang kenangan itu.
            “Lalu kamu ingat enggak aku jawab apa?” katanya lagi. Aku bertahan, diam.
            “Cinta mereka enggak dibatasi usia dan keriput di kulit, makanya bisa awet.”
            “Ya, tapi itu kan mereka, sementara kamu belum menjawab pertanyaanku,” kataku mulai tak sabar.
            “Itulah bedanya perempuan dengan laki-laki,” suamiku melanjutkan pendapatnya, tapi tetap tak sampai pada jawaban yang aku inginkan.
            “Maksudnya apa sih?” kataku mulai kesal.
            “Kalau aku bisa menyimpulkan, bahwa cinta si kakek-nenek itu tidak dibatasi oleh usia dan kekencangan permukaan kulit, seharusnya kamu paham bahwa aku juga ingin seperti mereka,” katanya diplomatis.
            “Kamu ingat enggak, apa hal pertama yang pernah kupuji tentang fisikmu?” tanyanya lagi. Aku pura-pura menggeleng, padahal aku ingat sekali kalau dia paling suka memuji mataku.
            “Kamu memang pelupa,” ujarnya membiarkan kenangan itu menghampiriku.
            “Oh, ya aku lupa,” kataku jadi malu.
        “Mana ada mata yang pernah tua sekalipun usiamu sudah 100 tahun. Apalagi kalau rasa cinta itu tempatnya di hati. Kayaknya nggak ada hati yang mengenal kata keriput ya?” katanya bercanda.
            Suamiku benar dengan mengatakan, perempuan selalu ingin dipuaskan dengan kata-kata untuk meyakinkan sesuatu yang diragukannya. Sementara, hanya sedikit laki-laki yang bisa membahasakan isi hatinya dengan kata-kata. “Tapi inilah perbedaan, dan istriku ingin aku mengatakannya berulang-ulang,” katanya dengan senyum mengembang. 
          Malam itu, meskipun aku sedikit tersindir dengan kritikannya tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, namun rasa tersanjung tak bisa kulenyapkan begitu saja. Cinta lewat mata yang telah membuatnya setia mendampingiku, Insya Allah tak akan menyurutkan keyakinanku lagi.
            Kupandangi sekali lagi wajahku di dalam cermin. Aku melihat bayangan seorang gadis muda yang masih segar berusia 17 tahun. Besok tak ada lagi bayangan wajah yang mulai dihinggapi garis ketuaan yang akan mengusikku di dalam cermin.
            “Jika kau mencintai seseorang dengan segenap jiwa, maka kau takkan pernah     mempersoalkan kulit yang membalut tubuhnya, sekalipun keriput itu telah sempurna   membungkus   raganya.”

Bekasi, April ‘09

Note :
Dimuat di majalah Insani, Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI), edisi 11/TH VI/April 2010

Amplop Kosong

            Setiap kali bepergian dengan kendaraan umum, selalu saja ada hikmah yang kubawa pulang. Waktu itu, selepas mengikuti kegiatan olahraga di kawasan Blok M, aku memilih pulang naik bis. Sehabis berlatih, aku pun langsung menuju terminal Blok M untuk menunggu bis jurusan Bekasi.
Peluh mulai membasahi kening dan punggungku. Teriknya matahari membuatku nyaris terbakar. Bis yang kutunggu belum juga kelihatan. Demi melawan panas yang menyengat, aku berkomat-kamit, berdoa supaya bis segera tiba. Akhirnya doaku terkabul. Buru-buru aku menaikinya. Mengempaskan tubuh di salah satu bangkunya. Udara dingin yang berhembus dari pendingin bis, sedikit membantu.
Panas matahari menembus dinding-dinding bis yang kunaiki. AC yang dinyalakan pak sopir sebenarnya tak banyak berpengaruh pada udara di dalam angkutan. Peluh di badanku selepas olahraga tadi belum sempurna mengering. Tiba-tiba, keisenganku muncul. Dari pada menggerutu tentang panas dan gerah, lebih baik aku mencandai situasi. Satu, dua, tiga! hitungku mulai iseng dalam hati. Hitungan kulakukan untuk menebak, pasti sebentar lagi bis akan dipenuhi oleh suara merdu musisi jalanan. Benar saja. Anak muda itu mulai bernyanyi. Sebuah lagu berakhir dengan mulus.
Lumayanlah, aku suka lagunya. “Andaikan Kau Datang Kembali.” Lagu lama yang pernah hits dinyanyikan ulang oleh Ruth Sahanaya waktu itu. Suasana panas berangsur-angsur sejuk mendengar lagu itu dinyanyikan dengan alunan suara yang bagus. Sesekali bibirku ikut bergumam mengikuti syairnya. Berlanjut ke lagu berikutnya, aku mulai tak kuat menekan rasa kantuk yang sedari tadi menghimpit kelopak mataku. Hingga aku tak sadar, kalau pengamen itu sudah menyelesaikan lagunya.
            “Terimakasih Bu,” katanya kepada penumpang yang duduk disebelahku. Buru-buru kukeluarkan uang ribuan. Aku suka pada lagu dan suaranya, jadi rasanya tak menyesal untuk memberikannya tips lebih. Dia kembali mengucapkan terimakasih.
            Bis terus berjalan hingga pintu tol Jati Bening. Aku sudah tak ingin tidur lagi. Biasanya, habis pengamen satu turun dan rute bis masih cukup untuk satu atau dua lagu, pastilah kembali diisi dengan pengamen berikutnya. Aku kembali iseng menghitung. Satu, dua, tiga! bisikku dalam hati. Aku menghitung seperti hendak mengikuti lomba lari cepat. Pada hitungan ketiga tebakanku kembali tepat. Bis kembali diisi dengan musisi lainnya. Kali ini pengamen cilik. Sebagai awal penampilannya, dia membagikan amplop-amplop berukuran kecil, cukup untuk meletakkan uang receh saja sebenarnya.
            Anak itu mulai bernyanyi. Rasa kantukku sudah hilang dilumat suara fales pengamen cilik itu. Samasekali tak ada keindahan di lagu-lagu yang dinyanyikannya. Kalau boleh jujur, lebih baik anak ini baca puisi saja ketimbang bernyanyi.
            “Terimakasih, Bapak sopir, Bapak kondektur, dan Bapak Ibu yang baik hati. Keikhlasan Bapak Ibu yang sangat kami harapkan untuk bisa kami gunakan membeli sebungkus nasi,” kata anak itu sambil kembali memunguti amplop-amplop yang dibagikannya ke seluruh penumpang tadi. Dari bangku depan, aku mulai melihat ekspresi kesal di wajahnya. Tentu saja, amplop-amplop itu mungkin kembali dengan kosong. Anak itu pasti bisa meraba, apakah amplop kosong miliknya telah terisi uang atau tidak.
Sampai ke bangku belakang, aku tak lagi melihat raut wajahnya, hanya gerutunya saja yang terdengar.
            “Orang kaya kenapa pelit-pelit ya? Enggak masuk surga kalau punya duit tapi dimakan sendiri!”
Surprise! Refleks sebagian penumpang menoleh ke arahnya. Aku tak tahu, apakah mereka ingin marah atau malu mendengar ocehan pengamen cilik itu.
            Ternyata, sedekah pada pengamen juga sangat dipengaruhi oleh mutu suara. Kalau pengamen pertama yang naik dari Blok M, bisa mengumpulkan rezeki lebih banyak, karena lagu dan suaranya cukup lumayan. Tapi, pengamen cilik ini tak sedikitpun memberi penghiburan di dalam bis.
Kasihan kamu dek, mestinya kamu sekolah vocal dulu baru jadi pengamen, bisikku bergurau dalam hati. Aku membayangkan pengamen cilik itu pasti malas membuka amplop-amplop yang tak berisi itu. Salah satu amplop yang tadi diletakkannya di atas pangkuanku, juga terselip diantara puluhan amplop kosong yang tadi disebarkannya ke seluruh penumpang bis. Akhirnya, pengamen cilik itu turun juga dengan amplop-amplop kosong di perempatan lampu merah Metropolitan Mal.
            Dek, coba kamu lihat lagi...mungkin tak semua amplopmu kosong lo, bisikku kembali dalam hati. [Wylvera W.]
--------

Dimuat di majalah Insani Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia.

Pak Ibeng


     Pagi itu cuaca di perkampungan kami sedikit mendung. Semalaman hujan turun tiada berhenti. Orang-orang mengira pagi ini akan cerah sebagai pengganti dari kemurungan hari sebelumnya. Ternyata tidak. Sisa-sisa keredupan awan masih terhampar di atas langit. Bedanya pagi ini jalanan tak lagi ditambah lembab oleh air hujan. 
     Dengan membawa sobekan kertas berisi daftar belanja hari ini, aku pun pergi ke warung yang biasa di kunjungi warga untuk membeli kebutuhan memasak sehari-harinya. Satu meter dari tempat itu, aku melihat sudah ramai para ibu yang sibuk memilih-milih ikan dan sayuran. ”Wah, aku bakal tidak kebagian ni,” pikirku mempercepat langkah.
     ”Assalamu’alaikum bu,” sapaku pada salah seorang warga kami.
    ”Wa’alaikumsalam, eh bu Tari... kesiangan, Bu?”
    ”Ya, tadi masih ragu mau belanja atau enggak ni,” aku pun mulai ikut bergabung memilih ikan dan sayur yang akan kuracik menjadi menu hari ini.
     ”Bu Tari udah dengar kabar belum?” tanya si ibu lagi setengah berbisik.
     ”Kabar apa ya, Bu?” tanyaku tidak mengerti.
     ”Pak Ibeng kecelakaan, sekarang ada rumah sakit lo.”
     ”Astaghfirullah, saya enggak tahu beritanya,” kataku terkejut.
    ”Alaaah biarin aja bu Tari, orang seperti itu memang pantas diberi pelajaran.” 
Aku melongo mendengar komentar ibu yang lainnya. Mengapa mereka begitu sinis menanggapi warganya yang sedang ditimpa musibah? Pak Ibeng memang jarang terlihat di pertemuan warga. Kalaupun hadir hanya sesekali. Kata suamiku, dia memang selalu sibuk. Jam kerjanya tidak seperti orang kantoran biasa, yang berangkat pagi dan pulang menjelang maghrib. Aku juga kurang paham pekerjaan apa yang dia geluti. Kadang-kadang dia harus meninggalkan istri dan anak-anaknya berhari-hari untuk menjalankan kewajibannya ke luar kota.
     ”Orangnya kasar, ngomong gak bisa pelan, suka ngatur padahal jarang ikut rapat RT, tapi herannya pak RT kok ya mau aja sih di arahin sama pak Ibeng ya, Bu Tari,” tambah yang lainnya seperti belum puas mensyukuri Pak Ibeng yang ditimpa musibah.
     ”Ya, mungkin emang sudah pembawaannya begitu Bu, tapi kita kan gak tahu pak Ibeng yang sebenarnya,” jawabku mulai gerah.
       ”Gak tahu gimana? Pokoknya sok pinter deh dia itu. Saya paling sebel kalau dia tiba-tiba unjuk bicara di rapat, kesannya sok bijaksana dan paling tahu segala, pokoknya sok ngaturlah, padahal dia dan keluarganya baru juga tiga tahun di sini. Untung istrinya baik, kalau wataknya sama aduh! Amit-amit deh saya mau temenan sama tu keluarga.” 
Aku mulai jengah mendengar segala perkataan mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat aku pun segera membayar belanjaanku, dan pamit padanya.
        Sambil memasak, aku kembali memikirkan komentar para ibu yang sangat sarkas pada pak Ibeng tadi. Kucoba mengingat-ingat, apa saja yang pernah dia lakukan selama menjadi warga di sini. Pak Ibeng sangat sosial. Tak pernah menolak jika diminta sumbangan oleh suamiku. Untuk mesjid, untuk warga yang sakit, untuk pebaikan selokan dan macam-macam lagi yang pernah dia sumbangkan. Tapi, sayangnya warga tak pernah tahu kalau uang yang kami pakai untuk itu semua, sebagaian adalah sumbangan Pak Ibeng. Suamiku selalu amanah. Pak Ibeng meminta kami untuk tidak menceritakannya kepada warga, bahkan untuk mencantumkan namanya pun dia tak ingin. 
        Kebetulan suamiku bendahara di lingkungan kami, jadi aku tahu semua itu. Kasihan Pak Ibeng, pikirku merenung. Pak Ibeng memang tidak pandai beramah tamah dengan tetangga. Sikap yang ditampilkannya terkesan pendiam dan sombong. Sesekali dia bicara, nadanya memang terdengar galak. Suaranya keras, tak seperti orang Jawa kebanyakan, atau orang-orang yang terlahir dan dibesarkan di tanah Jawa. Kalau dia tidak setuju pada satu hal, dia ungkapkan dengan argumentasinya. Meskipun argumentasi itu benar, namun ada warga yang mungkin kurang suka dengan caranya mengungkapkan sesuatu. ”Terlalu blak-blakan,” kata mereka yang sudah terbiasa dengan budaya ”ngikut asal semua senang.” Ini yang mungkin terkesan menjengkelkan bagi warga. Tapi seandainya mereka tahu siapa dan bagaimana Pak Ibeng yang sebenarnya, aku yakin mereka akan mengubah cara pandang dan penilaiannya. Tapi bagaimana menjelaskannya ke warga. Lamunanku terputus mendengar suara telepon berbunyi.
     ”Assalamu’alaikum, Bu Tari....”
    ”Wa’alaikumsalam, Bu,” sahutku.
    ”Pak Ibeng meninggal dunia,” kudengar suara diseberang sana tergesa-gesa.
    ”Innalillahiwainnailaihi rozi’un....”
    Sebelum dimakamkan, Pak RT memberi kata sambutan di depan jenazah P;ak Ibeng dan semua warga yang hadir di rumah duka itu. Pak RT akhirnya membeberkan semua kebaikan pak Ibeng semasa hidupnya. Kuperhatikan raut-raut wajah yang memerah, memucat, dan beberapa mulut ternganga, mendengar ulasan pak RT. Yang selama ini menghujat, mencela bahkan sempat mensyukuri musibah yang menimpa pak Ibeng pun kulihat ada genangan air di mata mereka. Ternyata suamiku tak kuat menyimpan amanah dari Pak Ibeng, dia menceritakan semuanya kepada Pak RT. Di akhir ucapan belasungkawanya Pak RT berkata, ”Yang terlihat cantik belum tentu indah, yang terlihat lembut belum tentu baik, yang terlihat diam belum tentu benar, yang terlihat kasar belum tentu jahat, jadi saya ingin meminjam istilah luar yaitu, don’t judge a book by its cover... marilah sama-sama kita mendoakan arwah Pak Ibeng agar mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT...dan segala amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT...Aamiin.”

Note : Dimuat di majalah Annida No.11/XVII/Juli 2008
          KIsah Sejati "Pak Ibeng"

Kamis, 09 Agustus 2012

Anak Indonesia dan Lagu Nasional


Mira, Khalid, dkk saat latihan persiapan tampil di UN day
“Dari Sabang sampai Merauke berjajar pula-pulau
Sambung Menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia…

Indonesia tanah airku aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku tanah airku Indonesia…..”

           Pernah mendengar lagu nasional yang ini? Saya yakin jawabannya bisa ya bisa tidak..:-)
Pengalaman saya menonton murid-murid Indonesia dari Martin Luther King Jr. Elementary School selama berlatih untuk mempersiapkan penamplian mereka di United Nation day (UN day) di sekolah pada tgl 24 Oktober nanti, membuat hati saya tergerak mengutip salah satu lagu yang akan mereka kumandangkan sebagai pembuka tulisan ini. Semua ada enam lagu yang dilantunkan secara medley sebenarnya :
*Dari Sabang sampai Merauke : R. Suharjo
*Bendera Merah Putih : Ibu Sud
*Caca Marica
*Nona Manis siapa yang punya
*Ayo Mama
*Indonesia Pusaka : Ismail Marzuki
Mbak Poppy mengiringi anak-anak latihan
            Setiap kali menyimak anak-anak kami berlatih, diam-diam ada rasa haru yang mengalir di dada saya. Rasa haru ini berbarengan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam batin. ”Apakah anak-anak Indonesia ini mengerti dengan syair yang sedang mereka nyanyikan?” Apakah anak-anak ini bisa merasakan getaran bangga pada saat mereka melantunkan syair-syair ini?”  Seperti dulu, waktu saya masih anak-anak, saya selalu merasa bangga ketika guru saya meminta saya menyanyikan lagu-lagu nasional/kebangsaan di depan kelas. Apalagi ketika saya diminta menyanyikan lagu ”Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki itu. Wah! Dengan penuh perasaan saya bawakan di depan kelas. Karena saya menyanyikannya sungguh-sungguh dari hati. Dari hati seorang putri Indonesia yang lahir dan dibesarkan di tanah air Indonesia.
            Tapi, bagaimana dengan anak-anak ini? Kalau boleh jujur, saya simpulkan sepertinya mereka bernyanyi sekedar ingin menunaikan tugas untuk tampil sesuai dengan keinginan guru Bahasa Indonesia nya saja di hari ’H’ nanti.  Tak ada emosi dan ekspresi di wajah mereka. Tak ada dinamika di nada-nada suara mereka. Serta tak ada pancaran rasa bangga yang tergambar di raut wajah mereka. Datar saja!
                Sebagian lagu-lagu yang nanti mereka kumandangkan di depan puluhan murid serta beberapa guru mereka yang datang dari kultur dan budaya serta negara yang berbeda-beda, merupakan alat yang bisa memperkenalkan mereka dan menunjukkan bahwa ”Aku adalah anak Indonesia”.
            Memang, mereka tak patut dipersalahkan dalam hal ini. Anak-anak kita ini mungkin sudah tak seperti anak-anak di zaman saya dulu, yang selalu lantang jika diminta menyuarakan ”Merdeka!!” Meskipun saya tak hidup di zaman perang, namun rasa bangga itu terwarisi dan seperti benar-benar merasuk ke jiwa saya. Seperti bangganya saya ketika diminta menjadi paskibra (pasukan pengibar bendera) meskipun hanya untuk lingkup sekolah saya saja. Begitu terharunya saya ketika diminta menjadi dirigen untuk menyanyikan lagu ”Indonesia Raya” di depan semua murid, guru dan kepala sekolah waktu itu. Semua kebanggaan akan terlihat di ekspresi wajah saya ketika itu. Sayangnya, tak ada bukti otentik. Kalau saja ada, saya akan menggunakannya sebagai mata rantai berikutnya untuk mewariskan semangat ini kepada anak-anak saya.
            Anak-anak kita ini mungkin sudah tak pernah mendengar syair-syair lagu tentang tanah air, bangsa dan negaranya. Ini bedanya zaman. Setiap tahap akan menampakkan ciri-cirinya sendiri. Anak-anak kami ini mungkin sadar sepenuhnya bahwa mereka sungguh-sungguh anak Indonesia, meskipun mereka mungkin tak sempat dikenalkan dengan lagu-lagu itu.     

Saat tampil di Martin Luther King Junior Elementary School
            Sekali lagi, inilah mungkin perbedaan dan pergerakan zaman. Mereka ingin melihat Indonesia dari sisi yang berbeda. Jadi tak ada yang salah sebenarnya pada fase saya dan fase mereka. Hanya saja kadang saya suka terbawa emosi, mengapa anak-anak zaman sekarang semakin sedikit yang bilang ”ya, aku tahu,” atau ”ya, aku hafal,” jika mereka ditanya tentang lagu kebangsaan atau lagu-lagu nasionalnya. Atau mungkin, masih ada diantara kita yang notabene kelahiran ’70-an, mengaku tak tahu dan tak kenal dengan ketiga lagu nasional di atas. Jadi, dengan kondisi ini, rasanya tak patut marah jika melihat kenyataan yang saya utarakan di atas. Melihat dan menyimak mereka bernyanyi tanpa rasa, ada rasa sedih dan haru yang bergejolak di batin saya.
            Mau tak mau saya harus jauh lebih bisa memahami dan memberikan kesempatan, bahwa anak-anak kita ini merasa menjadi anak Indonesia bukan hanya sekedar bisa berekspresi ketika mereka sedang menyanyikan lagu-lagu nasional itu. Mereka ingin memberikan jiwa dan raga mereka kepada bangsa dan tanah airnya tidak sekedar dalam bentuk memberi rasa pada sebuah nyanyian semata. Keberhasilan mereka kelak di belahan bumi manapun mereka akan terdampar, mereka tetap meyakini bahwa mereka adalah putra putri Indonesia seutuhnya. Mereka akan menjadi apa, atau apa yang bisa mereka berikan kepada tanah leluhurnya, mereka rasakan lebih dari sekedar meresapi sebuah lagu.  Pikiran-pikiran mereka, dedikasi mereka adalah cerminan bahwa mereka ingin menunjukkan pada dunia  ”Aku anak Indonesia!”


Urbana, 17 Okt ’08 
From my MP

Selasa, 07 Agustus 2012

Kanker dan Keprihatinan

             
              Di Jakarta, hampir semua orang mengenal Rumah Sakit Kanker ”Dharmais”. Rumah Sakit Kanker ”Dharmais” adalah rumah sakit kanker pertama di Indonesia dan merupakan Pusat Kanker Nasioanl serta menjadi rumah sakit rujukan di bidang penanggulangan kanker di Indonesia.
            Beberapa waktu yang lalu, saya sengaja mengajak kedua anak saya mengunjungi rumah sakit ”Dharmais”. Waktu libur mereka, ingin saya isi dengan sesuatu yang bermanfaat. Jadilah kami bertiga melihat secara langsung orang-orang yang nasibnya kurang beruntung. Saya mengajak kedua buah hati melihat tempat perawatan anak-anak penderita kanker dari dekat. Anak-anak saya begitu terpana dan terenyuh  melihat kondisi anak-anak tersebut. Selain menderita kanker otak, ada yang terkena kanker kelenjar getah bening, kanker saraf, tumor otak, kanker mata (Retinoblastoma), limfoma (benjolan di lehar, ketiak dan pangkal paha, cepat membesar), kanker tulang dan leukimia (kanker darah). 
            Saya sempatkan berbincang dengan salah satu relawan dari Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (Community for Children with Cancer), yaitu yayasan yang bertujuan untuk membantu keluarga pasien miskin yang anaknya menderita kanker. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya. Salah satunya, yang paling menyedihkan,  ternyata kebanyakan anak-anak penderita kanker berasal dari keluarga yang kurang mampu. ”Yayasan ini didirikan untuk mencari para donatur yang berkenan membantu biaya perobatan pasien di sini,” kata relawan tersebut menjelaskan. Mengingat biaya pengobatan untuk penyakit kanker tidaklah murah, Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia yang diketuai oleh dr. Edi Setiawan Tehuteru, SP. A, MHA, IBCLC tak henti-hentinya menyebarkan informasi mengenai penanganan anak-anak penderita kanker dari keluarga kurang mampu. ”Meskipun ada Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) tapi tidak sepenuhnya membantu,” tambahnya lagi. Biaya untuk sekali kemoterapi saja sudah menghabiskan jutaan rupiah. Meskipun saat ini yayasan telah menerima banyak bantuan dari para donatur, namun karena anak-anak penderita kanker cukup banyak dan terus bertambah, bantuan yang diterima masih belum mencukupi menutup biaya pengobatan para pasien. Sebagai lembaga swadana, mereka masih sangat mengharapkan kerelaan para dermawan dalam membantu biaya pengobatan pasien penderita kanker dari keluarga kurang mampu.
            Dalam menangani pasien anak-anak, pihak rumah sakit menerapkan tiga pendekatan/treatment, yaitu Clinical, Psyco and Social. Treatment secara klinis (clinical) salah satunya dengan memberikan EMLA (Eutectic Mixture of Lidocaine and Prilocaine), yaitu sejenis krim penahan rasa sakit. Sementara treatment Psikologis bertujuan meyakinkan si pasien untuk menerima kenyataan bahwa saat ini mereka sedang menderita kanker. Anak-anak ini diyakinkan bahwa penyakit yang mereka derita bukanlah ’momok’ yang harus ditakuti. Mereka tidak perlu putus asa dan diberikan motivasi untuk terus berjuang meneruskan hidup. Treatment berikutnya adalah pendekatan sosial yang bertujuan untuk membantu sosialisasi pasien dengan lingkungan. Maksudnya agar pasien anak-anak merasa tidak dikucilkan. Mereka tetap sebagai bagian dari lingkungan di mana mereka berada. Para pasien penderita kanker pada dasarnya membutuhkan semangat agar tetap merasa sebagai makhluk Tuhan yang normal.   
          Anak-anak pengidap kanker rata-rata mengalami stress dan depresi ketika diharuskan menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hal ini tampak pada keengganan mereka untuk makan, melakukan kegiatan di ruang bermain, selalu diam dan malas berbicara. Di sinilah peran para relawan membantu memulihkan kepercayaan diri si pasien. Untuk memfasilitasi kerja para relawan, pihak rumah sakit mendesain tempat yang bernama ”Bangsal Persahabatan.” Di bangsal ini, anak-anak penderita kanker diupayakan merasa nyaman. Ada tempat bermain, perpustakaan dan ruang komputer. Dengan fasilitas yang ada, pasien anak-anak  diharapkan tetap bisa menjalani kehidupan layaknya anak-anak lain seperti bersekolah, bermain, berinteraksi dengan orang tua dan aktifitas lainnya. Untuk kegiatan bersekolah, relawan dari Yayasan Pita Kuning berupaya agar anak-anak tersebut tetap mamperoleh kesempatan belajar meskipun dengan metode yang berbeda dari sekolah formal di luar rumah sakit.
            Dari kunjungan tersebut, kami melihat sesuatu yang lebih menyentuh dari wajah anak-anak tersebut. Meskipun berusaha menutupi, tapi wajah mereka yang tidak berdosa terlihat berusaha menahan penderitaan akibat penyakit yang ganas ini. Kanker memang penyakit yang luar biasa. Dia baru menunjukkan tanda-tanda kasat mata ketika telah menguasai sebagian besar fisik korbannya. Karena itu, upaya pengobatan seringkali berhadapan dengan kenyataan kondisi pasien yang sudah lemah. Namun demikian, para dokter dan petugas paramedis yang menangani penderita kanker selalu bersikap optimis dengan tetap mengupayakan tindakan pengobatan yang diperlukan. 
       Fakta lain yang seringkali mengguncang hati para dokter dan paramedis adalah kenyataan bahwa kebanyakan pasien yang mereka tangani berasal dari keluarga kurang mampu. Sambil berusaha menahan haru, dr. Edi menceritakan, ada orang tua dari salah satu pasiennya yang hanya bermata pencaharian sebagai pedagang nasi uduk. Ibu si anak rela meminta uang modal kepada dr. Edi untuk diperbolehkan menjual nasi uduk di lingkungan rumah sakit. Tujuannya, agar dia dapat terus mendampingi anaknya selama dalam perawatan, sementara si ibu tak harus bulak balik (Serang-Jakarta-red) yang tentunya membutuhkan biaya tambahan.
         Selain faktor ekonomi, para dokter dan paramedis kadangkala juga harus bersikap bijak menghadapi reaksi penolakan dari keluarga  si pasien. Ada kisah sedih yang disampaikan oleh dr. Edi ketika menangani pasien anak penderita kanker tulang. Alternatif pencegahan yang direkomendasikan dr. Edi adalah tindakan amputasi kaki si anak. Namun, rekomendasi tersebut ditolak oleh orang tua si anak. Dokter Edi terus berusaha meyakinkan bahwa itulah salah satu cara yang paling memungkinkan untuk mencegah penyebaran sel kanker lebih jauh. Sikap penolakan yang berulang-ulang menyebabkan penanganan terhadap pasien menjadi terkendala sementara sel kanker terus menggerogoti kesehatan si pasien. Ketika pada akhirnya orang tua si pasien setuju, tindakan pengobatan sudah sangat terlambat dan si pasien akhirnya meninggal dunia. Tragedi ini sangat memukul orang tua si pasien yang menyesali dirinya dan mengatakan bahwa, penyebab kematian si anak bukan semata-mata karena kanker yang diderita tapi juga karena sikapnya yang tidak kooperatif. Dari kasus ini, dr. Edi menghimbau agar masyarakat memberikan dukungan dan kepercayaan terhadap tindakan medis yang dilakukan oleh pihak rumah sakit.
            Pada awalnya saya berharap kunjungan ke Rumah Sakit Kanker ”Dharmais” dapat membuka mata hati kedua buah hati saya bahwa masih banyak anak-anak lain seusia mereka yang hidupnya kurang beruntung. Saya hanya ibu yang dititipkan sepasang amanah yang tak ternilai harganya. Apa yang mereka lihat, Insya Allah menjadi catatan khusus di hati mereka berdua. Saya harapkan mereka tak lupa mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan pada kehidupan mereka. Di akhir kunjungan, ternyata saya juga mendapat pelajaran penting tentang bagaimana memaknai hidup. Bahwa dalam setiap butir rezeki yang kita peroleh ada kesempatan beribadah dengan memberi sebagian kepada mereka yang kekurangan.   
Khalid dan anak teman saya yg sempat dirawat di Dharmais
            Saya hanya bisa mengatakan bahwa anak-anak penderita kanker ini mendambakan/membutuhkan kepedulian kita. Mereka ada di sudut-sudut kamar rumah sakit. Mereka nyata di hadapan kita. Mereka membutuhkan dukungan agar tetap bisa menghadapi hidup dengan lebih tegar. Kepedulian kita merupakan obat mujarab bagi anak-anak dan orangtua mereka. Agar mereka tidak merasa sendirian menanggung beban yang berat itu. 

Jakarta, 22 Juni 2009
From my MP

Menunggu Kereta

(Memetik hikmah di stasiun kereta)

 
            Bagi orang-orang yang biasa menggunakan angkutan kereta api untuk bepergian, cerita ini bukanlah barang baru. Sama seperti saya, jika malas naik bis saya akan beralih menaiki kereta api (maklum belum punya mobil.). Biasanya kereta yang saya pilih adalah express AC. Selain lebih cepat sampai, suasana di dalamnya juga sedikit lebih nyaman dari yang berkelas ekonomi. Meskipun tak dipungkiri, kereta berkelas ekonomi sesekali jadi pilihan saya juga untuk mencapai tempat tertentu (misalnya mau ke TA & M2). 
       Setelah satu setengah tahun tak menaikinya, tentu saja ada rasa rindu. Pagi itu saya akhirnya memutuskan untuk mulai mencoba lagi angkutan yang satu ini. Seperti dulu, pertama, saya beli tiket di loket yang mencantumkan jam dan tujuan keberangkatan kereta. Saya ingin berhenti di stasiun Gambir. Karena hanya ada dua loket, yang kiri menjual tiket kelas ekonomi, sementara yang sebelah kanan kelas express ber-AC. Tanpa tanya lagi saya langsung membeli tiketnya. 
          Setelah tiket terbeli, saya pun bergabung dengan calon penumpang lain, menunggu kedatangan kereta. Saya lirik jam di tangan. Dua puluh menit lagi. Waktu sebanyak itu saya pakai untuk mengamati sekeliling. Sesekali ada senyum geli yang diam-diam merekah di sudut hati saya. Apalagi pada saat itu, bayangkan, orang yang tadinya sudah menunggu lama di jalur dua, tiba-tiba harus berlari-lari pindah ke jalur  tiga karena mendengar pengumuman bahwa kereta ekonomi yang akan datang lebih dulu, ada di jalur tiga. Saling senggol dan saling ingin lebih dulu sampai ke jalur tiga pun terjadi. Yang merasa tersenggol, jadi marah-marah. Padahal masih pagi lo...kok sudah naik darah. :-)
            Pada saat seperti itu saya berpikir, jika manusia pada dasarnya akan menunjukkan ambisi dan egonya jika ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat. Kenyataan seperti ini tak hanya terjadi di kalangan bawah, karena yang saling mendorong, berlomba, saya lihat dari tampilannya adalah orang-orang yang juga berkelas. Ya, minimal punya penghasilan diatas rata-rata lah sebulan, tebak saya melihat dari busana yang dipakai...maaf jika saya salah dalam menebak (namanya juga mereka-reka.).  
       Akhirnya semua sudah ada di dalam kereta, di jalur tiga. Belum sampai lima menit keluar lagi pengumuman.
            “Kereta ekonomi menuju kota, melewati tanah abang akan tiba di jalur dua, dan akan lebih dulu diberangkatan dari kereta ekonomi di jalur tiga.”
         Kalau saja saya bersama teman saat itu, ingin rasanya saya tertawa terpingkal-pingkal. Karena minusnya kesabaran para penumpang, akhirnya mereka terlanjur terjebak di kereta dan jalur yang salah, padahal tujuan utamanya ingin cepat sampai kan? Sebagian orang rupanya tak mau pasrah pada kebodohannya. Mereka kembali berlarian menuju jalur dua di tempat pertama mereka menunggu tadi (padahal ini juga kebodohan...hehehe). Sambil marah-marah, protes pada ketidakbecusan pihak pengelola jam keberangkatan kereta.
            “Gimana sih! Kan jalur tiga yang duluan sampai, kenapa yang jalur dua yang berangkat duluan!” gerutu seseorang geram.
            “Gimana mau bisa maju kalau ngatur jadwal aja gak becus!! Lihat tu di luar negeri, semua serba tepat waktu!” kata penumpang yang masih bertahan di kereta (gak juga sih sebenarnya...hehehe).
            Sekali lagi, sebenarnya saya ingin menertawakan situasi ini. Menertawakan, tidak hanya para penumpangnya tapi juga para pengelolanya. Tertawa pada penumpang yg tak sabar dan akhirnya malah terlambat dan marah-marah. Tertawa pada ambisi dan karakter spontan yg mereka tunjukkan dalam situasi serba ingin lebih dulu sampai ke tujuannya masing-masing. Tertawa pada pihak kereta api yang tak bisa komit pada jadwal. Menertawakan suasana gaduh yg terjadi pada saat itu. Tapi tawa saya hanya disimpan di hati, dan berganti dengan rasa syukur, bahwa saya beruntung diberi kesempatan untuk menyaksikan realita seperti ini. Paling tidak pelajaran kesabaran bisa saya petik darinya.

Bekasi, Maret ‘09

Note: 
Mendengar kabar bahwa MP akan ditutup blognya, terpaksa beberapa catatan kecil jadul saya di sana, saya pindahkan ke sini.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...