Rabu, 31 Juli 2013

Fatty Prety Menemukan Jodohnya



Ketika menulis sebuah cerita apakah itu cerita pendek atau novel, satu hal yang membuat puas adalah ketika karya itu akhirnya dimuat atau diterbitkan dan dinikmati pembacanya. Begitu juga saat saya menyelesaikan naskah cerita yang awalnya diberi judul “Student of the Year” ini.

Cerita ini berhasil saya selesaikan karena ingin mengaplikasikan ilmu menulis di Kelas Ajaib yang dimentori oleh Benny Rhamdani. Dengan deadline yang diberikan, waktu itu saya berusaha keras menuntaskan ceritanya dengan baik. Akhirnya saya mampu menyelesaikannya tepat waktu. Selanjutnya naskah yang sudah selesai ini pun diajukan ke penerbit. Saya mencoba menawarkannya ke penerbit yang cukup punya nama besar di dunia perbukuan, yaitu Bhuana Ilmu Populer.

Alhamdulillah, editornya menyambut dengan baik. Tanpa menunggu terlalu lama, akhirnya BIP memberi kepastian bahwa naskah novel anak karya saya akan diterbitkan. Meskipun akhirnya judul cerita berganti menjadi “Fatty Prety” saya tak mampu meluapkan kegembiraan saya sehingga membuat status di facebook tentang kabar diterimanya naskah itu. Yang lebih membanggakan, sang editor mengatakan bahwa ini adalah novel anak pertama yang diterbitkan di BIP. Tentu saja saya merasa ge-er serasa menjadi Pioneer. *blushing*

Lewat diskusi bersama editor cerita anak di BIP untuk revisi di beberapa bagian cerita, Si Fatty Prety pun akhirnya sudah ikut mejeng di toko-toko buku Gramedia. Dan, tanpa saya duga sebelumnya, baru saja Fatty Prety terbit di bulan Mei 2013, saya sudah menerima laporan royaltinya yang cukup lumayan. Dalam sebulan sudah sekitar 500 eksemplar yang terjual. Tentu saja saya berharap semoga Fatty Prety semakin dicari dan diminati. Aamiin. :)

Ide Cerita.
Saya suka membahas masalah kelebihan berat badan bersama putri saya, Mira. Bahkan kami juga pernah mencoba diet bersama dengan minuman herbal, namun kembali lagi ke bentuk semula alias masih terlihat gemuk. Hehehe....

Nah, dari obrolan-obrolan itulah muncul ide di kepala saya untuk menuliskan kisah seorang anak perempuan yang bertubuh gemuk tapi tetap pede dan enjoy dengan kegemukannya. Kebetulan waktu itu saya mendapat tugas membuat cerita dari hasil pelatihan menulis di Kelas Ajaib. Ide inilah yang saya pakai dan saya kembangkan menjadi cerita dengan menambahkan karakter tokoh utamanya yang tidak hanya gemuk tapi juga pintar dan jago matematika serta mengarang cerita.

Mengapa saya memilih tokoh utama yang kurang menarik? Apakah saya tidak takut kalau pembaca cilik nanti jadi tidak tertarik sama tokohnya? Jawabnya tidak! Saya ingin memberi gambaran bahwa di luar sana banyak anak-anak dengan penampilan fisik yang biasa-biasa saja bahkan cenderung tidak menarik tapi memiliki banyak kelebihan sehingga membuatnya tetap bisa tampil percaya diri dan menjadi panutan, terutama di sekolahnya. Dan, saya menggambarkan Prety dengan karakter pintar, gemuk, familiar, tapi tetap ada sisi sombongnya alias percaya diri yang luar biasa.

Bagi saya, tokoh utama dalam cerita tak harus selalu santun, baik, seolah tanpa cacat di prilakunya. Meskipun anak-anak pintar cenderung berprilaku seperti itu, tapi tak sedikit juga anak-anak genius itu punya sikap natural sebagai individu yang terkadang terlihat terlalu percaya diri karena merasa dirinya pintar tak tertandingi. Nah, beginilah saya ingin menggambarkan Prety dalam novel ini.


Sinopsis.

Pemilihan Murid Terbaik  di London Bristol Primary School  akan tiba.  Prety cemas dengan kehadiran Cicilia, murid baru pindahan dari Birmingham. Dia merasa popularitasnya terancam.

Prety adalah anak gemuk jagoan  matematika dan mengarang.  Dia mulai terusik   dengan kehadiran Cicilia yang langsing dan supel. Cicilia pun selalu membandingkan kebiasaannya  makan sehat dengan Prety yang suka sekali cokelat dan keju. Terjadilah persaingan antara Prety dan Cicilia. Akankah Prety mendapat gelar Murid Terbaik tahun in?

Kalau mau tahu lengkapnya, jangan segan-segan baca novelnya ya. *_^

Kamis, 25 Juli 2013

Sehat itu Mahal, Nak....



       Waktu anak-anak saya masih kecil, kamar rumah sakit bukan ruangan yang asing lagi buat kami. Beberapa kali mereka pernah menjadi pasien opname di rumah sakit. Awalnya saya malu untuk berbagi pengalaman yang tak enak ini. Malu itu cenderung pada bakal munculnya anggapan pembaca/penyimak bahwa saya ternyata bukanlah ibu yang sempurna, tak pandai merawat kesehatan anak, sehingga anak-anak saya gampang sakit, bahkan menjadi pasien langganan ke luar masuk rumah sakit. Namun, ini saya bagi bukan sebagai bentuk penolakan untuk anggapan-anggapan itu. Jadi, untuk apa saya harus malu? Siapa sih ibu yang mau anaknya sakit dan dirawat di rumah sakit? Tak ada itu.
      Ketika anak-anak saya mulai tumbuh remaja, saya pikir takkan bersentuhan lagi dengan kamar rumah sakit. Melihat mereka mulai tumbuh dengan sehat dan lama tak mengeluh sakit, saya jadi berkesimpulan seperti itu. Tapi, Allah SWT ternyata masih sayang kepada mereka dan saya sebagai ibunya. Kami kembali diingatkan dengan ujian rasa sakit itu. Akhir tahun 2012 lalu, anak saya Yasmin Amira (15 tahun) didiagnosa dengan adanya batu di empedunya. Hasil endoskopi menunjukkan bahwa lambungnya juga bermasalah. Dari diagnosa itu anak saya pun harus menjalani terapi obat dan diet ketat. Dan, saya kembali mondar-mandir dari rumah (Bekasi) ke rumah sakit (RSPP, Jaksel)), seperti dulu ketika Mira masih kecil, tapi dengan rasa sakit dan rumah sakit yang berbeda.
            Hasil diagnosa itu membuat Mira harus mengkonsumsi obat secara rutin. Sejak Desember 2012 dia rutin minum obat selama hampir tiga bulan. Setelah itu, Mira istirahat dan sama sekali tak mengkonsumsi obat sekitar lima bulan. Dua bulan pertama setelah berhenti mengkonsumsi obat-obatan untuk lambung dan empedunya, Mira masih mengikuti dengan disiplin diet yang dianjurkan dokternya. Tidak makan makanan yang banyak mengandung lemak dan kolesterol. Banyak makan makanan berserat seperti sayur dan buah. Alhamdulillah, nyeri lambung dan batu di empedu itu tak pernah lagi kambuh hampir tujuh bulan lamanya.
            Merasa sudah kembal pulih, Mira mulai terlena. Sedikit demi sedikit dia mulai lupa sama diet ketatnya. Dan, saya pun tak lagi ketat melarangnya seperti sebelumnya. Sebulan berlalu, belum ada tanda-tanda kambuh juga. Mira semakin merasa kalau dirinya sudah sembuh dan semakin berani mengkonsumsi makanan gorengan, berlemak kembali. Begitu memasuki bulan Ramadan 2013, gejala kambuh pun mulai muncul sesekali, namun belum begitu hebat.
Hingga memasuki seminggu Ramadan, serangan sakit di ulu hati dan lambung itu begitu dahsyat. Saat itu hari sudah larut malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Rasa nyeri itu perlahan-lahan menyerangnya. Jauh lebih menyakitkan dibanding dua kali serangan di tahun 2012. Mira merasakan perbedaan itu. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi kening, leher dan kepalanya. Tak berapa lama Mira akhirnya muntah dan mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam lambungnya. Tidak hanya sekali. Muntah itu terus berlanjut hingga beberapa kali sampai hanya air saja yang muncrat dari mulutnya.
        Melihat kondisi Mira yang sangat lemah, betapa paniknya saya malam itu. Apalagi suami saya saat itu sedang dinas. Neneknya Mira lah yang sibuk membantu saya menenangkan. Rasanya pagi begitu lama datangnya. Saya tak sabar menunggu untuk melarikannya ke rumah sakit. Setelah Mira sedikit tenang, kami mencoba memberinya bubur nasi. Namun, perutnya yang kram itu tak lagi mampu menerima makanan baru. Mira semakin lemah dan akhirnya dia tertidur hingga pagi.
       Begitu pagi, saya dan neneknya Mira bersiap membawa putriku ke rumah sakit. Sambil menyetir, saya sesekali memantau wajah Mira yang duduk di jok belakang dari kaca spion. Hingga terbesit sebuah permintaan yang saya rasa setiap ibu pernah menginginkannya. Saya berharap kalau saja rasa sakit yang dirasakan Mira bisa dibagi kepada saya ibunya, pasti Mira merasa sedikit terbantu. Namun, keinginan itu buru-buru saya tepis. Jika saya sakit, siapa yang akan merawatnya? Akhirnya di sepanjang jalan saya memohon kepada Allah SWT agar memberi kekuatan untuknya.
Mira menahan rasa sakitnya. :(
       Begitulah, sesampai di rumah sakit, serangkaian pemeriksaan pun kembali dijalani Mira. Hingga hasilnya ke luar pada hari Jum’at, 19 Juli 2013 bahwa Mira dinyatakan harus dirawat. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa SGOT dan SGPT nya tinggi. Ini artinya fungsi hatinya meningkat drastis dan terganggu. Kondisi ini mengharuskan Mira menjalani bedrest dan tindakan/perawatan/pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi Mira sangat lemah saat masuk kamar rumah sakit.
       Di balik kegundahan hati, saya tetap berusaha tak melawan ketentuan Allah. Semua ini saya yakini sebagai teguran kembali dari-Nya. Saya tak konsisten menjaga kedisiplinan Mira untuk tetap menjalankan diet ketat pada makanannya. Ketika saya mendengar hasil SGOT dan SGPT yang begitu tinggi serta urinenya mengandung protein +1 saya sudah membayangkan kerusakan pada livernya. Rasa takut itu akhirnya terjawab setelah tiga hari Mira dirawat, dengan hasil yang menyatakan bahwa Mira terbebas dari penyakit Hepatitis A, B, dan C. Saya kembali mengucap rasa syukur meskipun batu empedu tetap bertengger di perutnya.
     Kondisi Mira yang lemah serta masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan lagi membuat Mira harus dirawat untuk beberapa hari. Ketika menulis ini, Mira sudah seminggu menjalani masa opnamenya di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Pelan-pelan saya kembali mereview sikap sembrono kami (saya dan Mira) dalam mentaati pola makan sehat dari dokter.
    Mira merasa menyesal karena sudah melanggar aturan itu. Dan, saya sebagai ibunya tentu saja merasakan hal yang serupa bahkan jauh lebih menyesal dibanding anak saya. Tapi, saya tak mau larut dalam rasa penyesalan itu. Bagaimana pun ini adalah teguran yang keras agar saya jauh bisa menjaga dan melindungi Mira dari keinginan-keinginan untuk lalai dari menjalankan pola makan sehat tadi.
Pemeriksaan berikutnya adalah USG. Mira begitu takut mendengar kata operasi. Ketika dia tahu dari hasil USG, kalau batu di empedunya bertambah besar diameternya, dia menangis malam itu. Bayangan akan dioperasi menghantuinya. Mira menangkap sorot mata saya yang mungkin terlihat gundah. Saya tak mau menyembunyikan semua hasil USG terakhirnya. Biarlah Mira tahu kondisi yang sebenarnya agar dia tahu apa yang harus dilakukannya ke depan nanti. Semua demi kesembuhannya.
     “Aku nggak mau dioperasi, Bu. Aku janji nggak mau makan lemak-lemak lagi. Aku janji mau disiplin diet,” isaknya ketika saya baru saja kembali dari bertemu dokter jaga malam itu. Rasanya saya ingin ikut menangis bersamanya. Tapi, saya ibunya. Saya harus terlihat tegar di matanya. Kalau saya lemah, Mira tak akan mendapatkan tempat berlindung. Akhirnya saya elus kepalanya dan membagi kekuatan untuknya.
Mira ditemani Khalid (adiknya) supaya nggak merasa jenuh dan bosan.
     Saya kembali bersyukur karena ketakutan Mira akan kata operasi akhirnya sedikit terobati. Dokter tidak menganjurkan untuk mengangkat batu di empedu Mira lewat operasi, tapi dia meminta komitmen Mira untuk kembali menjalankan pola makan sehat dengan serat tinggi. Dokter berharap serat dari sayuran dan buah-buahan itu mampu menggerus atau mempertahankan diameter batu di empedu Mira. Dan, itu sudah menjadi garansi seumur hidup anakku.
     Yah, sehat itu mahal sekali. Maka, dari sini ke depan saya berharap Mira menyadarinya dan saya akan setia mendampinginya agar kembali pulih seperti sedia kala. Ya Allah sehatkan dan kembalikanlah keceriaan itu di mata putriku. Aamiin. 
Cepat sembuh ya, Nak....[]

Rabu, 17 Juli 2013

Lima Kata Ajaib



 
            Saya masih terganggu dengan sikap Khalid sore tadi. Ada kesalahan yang telah saya lakukan sehingga dia menunjukkan protes yang mengejutkan. Saya harus meluruskan masalah ini agar tak ada lagi ganjalan di hati Khalid.
            “Ibu enggak adil!” tiba-tiba tadi Khalid protes di depan saya. Tas sekolahnya di lempar ke atas kursi. Saya tersentak. Dahi saya berkerut sejenak.
Apa pasal? Mengapa anak bungsu saya menuduh saya tidak adil? Akhirnya, saya dekati Khalid yang sedang memasang wajah kesal.
            “Memangnya Khalid Ibu apain?” tanya saya hati-hati.
            “Kakak jadi besar kepala kalau cuma aku yang disuruh minta maaf,” jawabnya mulai lunak.
            “Oh, soal pesan di hp itu?” tanya saya lagi minta kepastian.
            “Iya. Kan, kakak yang matiin hp nya. Jadi bukan aku dong yang salah. Aku sudah kirim pesan kok, kalau Ibu enggak bisa jemput Kakak. Bukan salahku dong kalau Kakak kelamaan nunggu Ibu dan Ibunya enggak datang,” paparnya lagi.
            “Ibu minta maaf ya, Dek” kata saya buru-buru mengulurkan tangan. Khalid meraih tangan saya dan tersenyum.
“Nanti Ibu suruh Kakak minta maaf juga ke Adek,” kata saya kembali membujuknya. Khalid mengangguk pelan.
            Malamnya saya berusaha mengajak Mira, Khalid, dan Bapak mereka, duduk bersama. Obrolan saya buka dengan topik tentang minta maaf dan memaafkan. Awalnya mereka acuh, tapi lama-kelamaan mereka tertarik juga untuk mendengarkan.
            “Kalian pernah dengar tentang lima kata ajaib?” tanya saya memancing.
            “Apa itu Bu?” Khalid mulai antusias dan balik bertanya.
            “Maaf, tolong, permisi, terimakasih, dan salam,” jawab saya.
            Saat saya menjelaskan, Khalid melirik ke Mira. Mungkin hatinya belum puas dengan sikap kakaknya yang tak mau spontan meminta maaf siang tadi. Saya pura-pura tidak memerhatikannya. Saya lanjutkan penjelasan tentang lima kata ajaib tadi.
            “Ucapkanlah kata maaf ketika kita terlanjur berbuat salah kepada orang lain, baik disengaja maupun tidak. Jangan pernah lupa mengucapkan kata tolong saat kita meminta bantuan orang lain. Katakan permisi ketika kita ingin lewat, mau berbicara atau meninggalkan teman, saudara atau siapa saja yang telah bersama kita. Lalu, jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah membantu atau berbuat baik kepada kita. Yang terakhir, ucapkanlah salam ketika kita bertemu dengan orang lain,” ujar saya menjelaskan panjang lebar.
            Khalid dan Mira tekun menyimak. Saya sengaja membuka memori mereka pada lima kata ajaib ini. Terutama kata maaf yang selalu saya dan suami ajarkan kepada anak-anak kami saat mereka masih kecil. Sekarang mereka sudah sama-sama SMP. Mungkin mereka terlupa.
            “Maafin ya, Dek. Maafin ya, Bu,” tiba-tiba Mira mengulurkan tangannya ke arah saya dan Khalid. Saya meraih tangannya sambil tersenyum. Mira pasti menyadari kesalahannya siang tadi.
            “Aku juga minta maaf ya, Kak, Bu. Besok-besok tolong dong hp nya dinyalakan kalau sudah bel pulang sekolah, ya Kak,” kata Khalid pula sambil mengucapkan dua dari lima kata ajaib tadi.
            Mata kami saling menatap dan akhirnya kami sama-sama tersenyum. Penjelasan saya tentang lima kata ajaib kembali membuka hati Mira dan Khalid, untuk mengingat semua kebiasaan baik yang telah ibu dan bapaknya tanamkan sejak kecil. []

Note: Dimuat di Leisure Republika rubrik Buah Hati, edisi Selasa, 9 April 2013.

Sabtu, 13 Juli 2013

Cerita di Balik Novel Misteri Hantu Bertopeng



 
Penulis: Wylvera W.  
Penyunting naskah: Dadan Ramadhan dan Beby Haryanti 
Penerbit: DAR! Mizan







“Cerita seperti apa yang membuat kalian tertarik untuk membacanya?” Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada murid-murid kelas ekstrakurikuler Jurnalistik dan Kepenulisan yang saya bimbing.

“Cerita misteriii! Apalagi kalau ada hantu-hantunya,” jawab sebagian murid-murid saya di kelas ekskul tersebut. Berdasarkan jawaban itu saya menjadi tertantang untuk kembali menulis kisah misteri yang melibatkan kata hantu di dalamnya.

Di awal menulis novel anak bergenre misteri ini sempat terselip rasa khawatir di hati saya. Kata “hantu” di dalam judul novel itu mungkin saja akan menimbulkan kontra pada pembaca dewasa khususnya para orangtua yang anaknya gemar membaca. Namun, dengan keyakinan bahwa tujuan saya bukan untuk merusak pola pikir anak-anak, saya berusaha kembali meyakinkan diri untuk semangat menuntaskannya. Biarkan anak-anak itu nanti yang menemukan pesan dalam cerita yang saya tulis itu.

Kembali ke proses awal penulisan novel Misteri Hantu Bertopeng. Saat itu ketika ada kesempatan untuk ikut menulis seri Kecil-Kecil Jadi Detektif (KKJD) di DAR! Mizan, saya sangat antusias. Ilmu menulis kisah detektif dari guru saya, Benny Rhamdani menjadi modal yang besar dalam mengawali cerita saya ini.

Saya mulai memikirkan kisah seperti apa yang pas untuk dijadikan sebagai cerita detektif. Tak lama, ide itu muncul. Sebagai guru ekskul jurnalistik di SDIT Thariq Bin Ziyad, Bekasi, saya memilih berkisah tentang seorang anak yang gemar melakukan kegiatan wartawan cilik seperti meliput, wawancara dan membuat berita. Saya yakin bahwa saya akan lebih leluasa mengurai alur ceritanya, sebab selama ini saya sudah begitu dekat dengan anak-anak di kelas ekskul jurnalistik dan saya paham betul bagaimana mereka semangat jika diminta untuk melakukan liputan di luar kelas.

Saya mulai menyusun sinopsis untuk cerita tersebut. Dengan berimajinasi dan membayangkan setting lokasi di salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada di Sumatera Utara, saya pun berhasil mengurai ide itu. Berawal dari dua tokoh anak bernama Rio dan Afif yang sedang mengikuti sebuah pelatihan wartawan cilik yang dipandu oleh guru Jurnalistik yang baru. Mereka memilih lokasi perkebunan kelapa sawit. Guru Jurnalistik meminta mereka meliput suasana perkebunan dan membuat reportase tentang pengolahan minyak goreng dari biji kelapa sawit. Di perkebunan itu ada sebuah rumah tua peninggalan Belanda yang selalu tampak kosong dan menyeramkan. Rio dan Afif memutuskan masuk dan ingin mewawancarai penghuni rumah tua peninggalan masa penjajahan Belanda itu.

Seseorang menerima mereka dengan sambutan bersahabat. Setelah selesai, mereka kembali ke rumah masing-masing, dan baru menyadari voice recorder atau alat perekam suara milik Rio hilang. Malamnya Rio ditemani sepupunya, Keisya kembali ke rumah Belanda itu. Tapi rumah itu kosong. Mereka berusaha masuk karena alat perekam itu sangat penting. Sayangnya mereka ketauan dan disekap di rumah itu. Selama mereka disekap hantu-hantu bertopeng mulai memperlihatkan dirinya. Lalu, bagaimana kelanjutan kisahnya? Silakan dibaca di novelnya ya.

Saya ambil beberapa kutipan dialog dan narasi dari novel 128 halaman ini yang mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk segera membaca tuntas novel ini;

Ruangan di kamar itu tiba-tiba terasa dingin seperti dalam kulkas. Keisya melingkarkan kedua lengannya. Lama-kelamaan, dia tak kuat menahan rasa takut yang mulai menguasai hatinya. – Misteri Hantu Bertopeng, hlm 35 –

Ssseeet!
Keisya kembali dikejutkan oleh suara yang disusul oleh kelebat bayangan yang melintas di balik jendela. Ya Tuhan! Apa itu? Tanya Keisya dalam hati. Tangan dan kaki Keisya kembali dingin menahan rasa takut yang mulai menjalarinya. – Misteri Hantu Bertopeng, hlm 42 –

“Hm... kalau itu bukan hantu, jadi siapa? Mengapa iseng melintas-lintas di jendela, dapur, dan ruangan lain di rumah ini?” Keisya masih tak mau menyerah tentang hantu bertopeng itu. – Misteri Hantu Bertopeng, hlm 103 –

Misteri Hantu Bertopeng dan anak-anak Ekskul Jurnalistik
Penasaran? Ayo, miliki novelnya dan ditunggu reviewnya juga ya. :) []


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...