Selasa, 10 September 2013

My Dear Daughter....




Yasmin Amira Hanan
Anakku....
Melihatmu adalah berjuta bahagia buatku
Ceriamu adalah luapan pelipur laraku
Air matamu adalah tumpukan gundahku
Ibadahmu adalah pelindung dan penyelamatku
Meski tak selalu terucap dalam kata-kata
Sayang dan cintaku kerap ada dalam doa
Tetaplah menjadi anak Ibu yang manis dan soleha
Agar tak hanya di dunia kita bersama

Ketika kau masih di dalam kandungan Ibu, Bapak selalu menduga kalau yang ada di dalam perut Ibu adalah anak laki-laki. Semakin hari bapakmu semakin dibikin penasaran karena dokter kandungan yang memantau perkembanganmu dalam rahim Ibu masih bertahan tak mau memberitahu jenis kelamin dirimu. Tapi, sebenarnya Ibu sudah merasakan bahwa ada calon bayi perempuan mungil dalam perut Ibu.
Begitulah, Nak... bapakmu lalu mencarikan nama anak laki-laki sebagai persiapan menyambut kelahiranmu. Nama itu cukup bagus sebenarnya, Bagus Abian Wicaksana, tapi keyakinan Ibu semakin besar ketika hari-hari kelahiranmu semakin dekat bahwa kamu adalah anak perempuan. Dan, benar saja... ketika wajahmu muncul, bapakmu tanpa sadar berucap, “Oh, Alhamdulillah... perempuan rupanya, Wiek.” Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
Bapakmu memang cekatan, begitu dia tahu kalau anaknya lahir sebagai bayi perempuan cantik yang montok, dia segera menemukan nama Amira Hanan untukmu. Lalu, Ibu melengkapi nama itu dengan tambahan Yasmin di depannya. Lengkaplah kami memanggilmu Yasmin Amira Hanan. Dokter dan perawat di rumah sakit itu sempat memuji namamu yang indah. Alhamdulillah, saat itu ibu pun tak henti berdoa semoga akhlakmu jauh lebih indah dari nama yang kami berikan.
Sebagai anak pertama Ibu dan Bapak, sekaligus cucu pertama dari Kakek dan Nenek, waktu itu kehadiranmu tentu saja seakan sebuah permata yang berkilau. Perhatian dan kasih sayang kami tercurah untukmu. Dan, kau pun tumbuh menjadi anak yang periang, lincah, kreatif serta menggemaskan. 
Suatu hari, kala itu usiamu baru sekitar lima tahun. Tapi, entah pemicu dari mana dan mungkin saat itu Ibu terlalu lelah, tiba-tiba kenakalanmu sulit Ibu tolerir. Ibu sempat memukul kakimu dengan ikatan sapu lidi. Kamu menangis tersedu-sedu dan dalam isakanmu kau berkata, “Ibu jahat!” Kau tahu, Nak... saat itu hati Ibu hancur berkeping-keping. Ibu ingin segera memelukmu, tapi entah bisikan syetan mana yang menahan Ibu untuk tak segera memelukmu. Bisikan itu mengatakan, bahwa Ibu perlu menghukummu kalau kamu nakal.
Ketika rasa lelah sempurna menguasaimu karena menangis, akhirnya kamu tertidur lelap. Saat itulah, Nak... Ibu memandangi wajahmu berlama-lama sambil sesekali mengelap air mata penyesalan yang menetes di pipi Ibu. Ibu mengelus betismu yang tadi sempat tersambit oleh sapu lidi. Rasanya Ibu tak sabar menunggu kau terbangun dan mengucapkan permohonan maaf serta memelukmu. Dengan hati penuh harap, Ibu sabar menunggu kau terbangun sambil sesekali mengelus kepala dan punggungmu.
Begitu kau membuka mata, Ibu tak mau menunggu lama dan mengatakan, “Maafin, Ibu ya.” Matamu masih menerawang menatap wajah Ibu. Lagi-lagi Ibu tak mau menyia-nyiakan waktu, tubuhmu Ibu raih dan peluk seerat mungkin demi menebus semua kesalahan dan kekasaran Ibu. Rasa haru semakin membuncah ketika pelukan Ibu kau sambut dengan hangat seolah kau sudah lupa dengan kekejaman yang baru saja Ibu lakukan padamu. Ah, kalau ingat itu, rasanya Ibu ingin sekali mengulang waktu agar kejadian itu tak ada dalam catatan hati Ibu dan dirimu. Sungguh, Ibu menyesal....
Betapa cepat waktu melaju. Sekarang, kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Banyak waktu dan cerita yang sudah kita lewati bersama. Ketika dulu kau sakit, terjatuh, tertawa, sampai kegembiraan yang meluap-luap saat kau menerima beberapa piala adalah kenangan yang selalu indah untuk Ibu kenang. Kau memang selalu mengisi hari-hari Ibu dengan pesona kreativitas yang Allah berikan untukmu, Nak. Semoga budi pekertimu pun tumbuh seiring dengan kreativitas itu.        
          Saat kau tumbuh remaja dan mulai terbuka bercerita tentang teman laki-laki sekelasmu atau sahabat perempuan di sekolah yang terkadang membuatmu kesal dan ingin marah. Lalu, ketika tanpa terelakkan kita tiba-tiba berdebat tentang sebuah prinsip, lagi-lagi itu membuat Ibu semakin belajar memahamimu, anakku. Semoga proses itu terus kita nikmati bersama.
Kau ingat, ketika pertama kali mendapatkan haid pertamamu? Kala itu kau masih duduk di fifth grade elementary school. Waktu itu kita masih berada di Urbana Illinois Amerika. Kau sempat menolak tanda akil baliqmu itu dan mengatakan, “Kenapa kok cepat banget sih? I’m ashamed! Kakak gak mau ke luar apartemen!” ujarmu panik.
Ibu tak mau membiarkanmu larut dalam kepanikan itu. Dengan menyimpan rasa lucu sebenarnya, Ibu memberi pengertian kepadamu bahwa seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT. Darah yang keluar dari tubuhmu itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepadamu agar kau semakin belajar untuk menjaga diri, semakin bertaqwa dan menjaga auratmu. Artinya kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Mendengar penjelasan Ibu, sikapmu tidak langsung berubah, kau masih malu-malu turun dari mobil ketika Ibu mampir ke apartemen teman waktu itu. Kau lebih memilih menunggu di mobil. Lucu rasanya kalau ingat itu.
“Aku nggak mau orang lain tahu kalau aku berdarah,” ucapmu lugu membuat Ibu berusaha menahan tawa. Namun, situasi itu tidak lama. Kau memang anak Ibu yang cerdas. Akhirnya kau mau menerima dan mulai terbiasa dengan tanda kegadisan itu.
Anakku sayang, kau tahu... ketika berada di sampingmu ada waktu-waktu yang sejujurnya membuat Ibu ketakutan tapi sekaligus berusaha ikhlas dan pasrah? Yah, saat itu adalah ketika melihat dirimu sakit dan terbaring lemah. Dulu, ketika kau masih kecil, Ibu begitu cemas ketika kau harus dirawat di rumah sakit. Hati Ibu tak pernah lepas dari doa agar kau segera pulih dan kembali bermain dengan riang gembira. Saat-saat itu Ibu pikir sudah kita lewati, Nak. Tapi, Allah SWT ternyata masih sayang kepadamu dan Ibu.
Belum lama ini, Ibu kembali dihadapkan pada kecemasan yang luar  biasa berat Ibu rasakan. Rasanya baru saja kita bersuka-cita merayakan hari kelahiran dan pertambahan usiamu menjadi 15 tahun di bulan Juni 2013 lalu, tiba-tiba kau kembali jatuh sakit. Ketika itu dunia terasa runtuh di atas kepala Ibu, Nak. Ibu berusaha tegar mendengar diagnosa dokter yang menyimpulkan bahwa di empedumu saat ini tengah menyimpan batu kecil berdiameter 0,8 centimeter. Itulah yang membuat kita sama-sama menikmati malam-malam puasa di rumah sakit itu. Tidak hanya itu, hasil endoskopi menunjukkan bahwa lambungmu juga bermasalah. Dari diagnosa itu kau pun harus menjalani terapi obat dan diet ketat.
            Hasil diagnosa itu membuatmu harus kembali mengkonsumsi obat secara rutin setelah kau sempat menghentikannya di pertengahan 2013 lalu. Proses dan serangan rasa sakit yang kau derita saat itu membuat hati Ibu terasa tercabik-cabik. Erangan suaramu saat berjuang menahan rasa perih di lambung dan perutmu yang kram serta wajahmu yang pucat pasi menekan beban nyeri di ulu hati, membuat Ibu ingin meminjamkan semua organ tubuh ini untukmu. Dan, kalau saja mungkin, Ibu ingin sekali menggantikan kesakitanmu itu, Nak. Sungguh....
             
          Ibu ingin menuntaskan curahan hati ini kepadamu, Nak. Sebelas hari kebersamaan kita di rumah sakit itu membuat nyali Ibu pasang surut. Ketakutan Ibu semakin memuncak ketika malam itu rasa nyeri itu kembali menyerangmu sehingga para perawat bergegas memasangkan selang dari tabung oksigen ke hidungmu. Kau tahu, Nak... sekali lagi Ibu ingin memelukmu sekuat-kuatnya saat itu. Ingin memohon kepada Sang Maha Pengasih untuk menggantikan semua kesakitan yang kau rasakan ke tubuh Ibu. Tapi, Ibu terus berusaha menegarkan rasa, memupuk ikhlas dan rasa menerima bahwa semua ini harus kita lewati bersama-sama. Allah punya rahasia untuk kita, Nak....
            Mira, anakku sayang... In shaa Allah, setelah apa yang kita alami, membuat Ibu semakin dekat dan menjagamu dengan segenap jiwa raga. Ibu akan terus memberikan yang terbaik demi kesembuhanmu, demi angan-angan dan cita-citamu yang tinggi. Ibu ingin melihat kau meraihnya. Ibu ingin melihat stetoskop itu tergantung di lehermu. Iya, Kak... Ibu akan berusaha mendampingimu hingga kau meraih profesi dokter itu. Teruslah berjuang, anakku sayang... Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu. Terutama Ibu, luapkan segala rasa yang ingin kau tumpahkan. Ibu selalu siap untukmu, In shaa Allah.
Semoga Allah SWT memberikan waktu itu untuk kita, anakku. Aamiin. []  



Untuk Mak Dian Ekawati Suryaman salam kenal, sebagai salam perkenalan kita, aku mempersilakan dirimu membagi catatan hatimu bersama putri kesayanganm, ya Mak. :)

       

Kamis, 05 September 2013

Di Acara Halalbihalal itu ....



            Menyinggung tentang kata hahalbihalal, dari literasi yang pernah saya baca, halal-bihalal sendiri dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Mungkin terkait dengan makna itu, setiap memasuki bulan syawal, tradisi yang kerapkali digelar adalah acara halalbihalal ini.
Hampir semua komunitas menyempatkan waktu mengambil momen untuk terlibat di acara ini. Begitu juga dengan Kumpulan Emak2 Blogger (KEB). Setelah awalnya MakPon Mira Sahid (sapaan akrab Emak Founder KEB) melemparkan usulan tanggal penyelenggaraan halalbihalal di grup, akhirnya muncullah kesepakatan bahwa acara itu akan digelar pada tanggal 1 September 2013 yang lalu.
Hari “H” yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara halalbihalal Kumpulan Emak2 Blogger digelar di sebuah tempat makan bernama D’Cost yang lumayan nyaman, murah dan mudah dijangkau oleh anggota KEB yang bermukim di Jabodetabek. Dan, tidak terlalu sulit juga bagi mereka yang datang dari Bandung. Buktinya mereka hadir tepat waktu.
Karena sudah lama tak saling bertemu dan kumpul-kumpul, saya pun ikut hadir di acara yang diadakan di Plaza Semanggi itu. Begitu memasuki gedung, dengan mengenakan dress code  Smart Casual white and jeans (meskipun enggak casual-casual amat sih... makanya enggak menang...hihihi) yang sudah disepakati, saya pun melangkah yakin menuju lokasi acara. Seperti biasa, setiap KEB menggelar acara kumpul-kumpul, jangan kaget kalau penyambutannya selalu hangat dan penuh kekeluargaan. Kedatangan saya pun disambut sehangat matahari pagi. Cipika- cipiki pun tidak terlewati (padahal saya belum ngisi buku tamu lho waktu itu, untung ingat kalau enggak ‘kan nggak bakalan dapat doorprize...qiqiqi).
MC andalan KEB (Mak Aulia Gurdi) membuka acara halalbihalal.
Singkat cerita, acara pun dibuka oleh MC favoritnya KEB, Mak Aulia Gurdi dengan santai. Tak panjang kata pembuka yang beliau habiskan (mungkin kasihan melihat wajah-wajah lapar yang sudah menunggu untuk makan siang...hahaha), beliau pun mempersilahkan Mak Fadlun (Ketua Panitia #KEBSyawalan). Lagi-lagi seperti ingin mempercepat waktu lunch, Mak Fadlun tak berpanjang kata dan langsung membuka acara dengan doa. Feling so good. Hehehe....
Mak Fadlun (ini lho ketua panitianya).
Tak lengkaplah rasanya kalau KEB menggelar acara tanpa sepatah dua patah kata dari Foundernya. MC pun mendaulat MakPon Mira Sahid untuk memberi sambutannya. Yang saya ingat, MakPon mengatakan bahwa acara halalbihalal ini adalah bentuk kerinduan KEB yang sudah lama tak menggelar acara pertemuan setelah event akbar Srikandi Blogger beberapa bulan yang lalu. 
MakPon Mira Sahid dalam sambutannya. :)
Emak muda yang selalu tampil cantik dan stylist ini juga menyelipkan program KEB ke depan. Pertama tentang training online menulis yang akan digawangi oleh Nunik Utami (penulis yang sudah menghasilkan puluhan buku) untuk member KEB. Kedua, tentang ajang pemilihan Srikandi Blogger 2014. Saya cukup senang dan berbangga hati menyimak informasi yang disampaikan oleh MakPon. Kalau di event Srikandi Blogger yang lau jajaran Makmin KEB telah mempercayakan saya sebagai ketua penyelanggaranya, untuk 2014 nanti sahabat saya yang didaulat untuk memotori acara bergengsi ini. Alhamdulillah... semoga Mak Haya Aliya Zaki dan para Srikandi Blogger KEB 2013 terpilih diberi kemudahan dan kelancaran untuk mengemban amanah ini. Aamiin.
Inilah panitia Pemilihan Srikandi Blogger 2014 yad.
            Sebelum acara dilanjutkan, ternyata masih ada satu lagi yang didaulat untuk memberi sambutannya. Emak berbaju oranye itu terlihat gugup saat memulai kata-katanya. Yaaa... tentu saja, belum memulai sudah dianggap selesai. Hahaha... peaaace ya, Mak Icoel.
Mak Sumarti Saelan salah kostum deh kayaknya. :p
           Begitulah, setelah sambutan selesai MC pun menggelar acara makan siang bersama. Tapi, jangan salah, biarpun dalam keadaan makan, ruangan yang berukuran kira-kira 5x5 meter itu tidak pernah hening dari keriuhan. Ada saja bahan candaan yang mampu membuat suasana terus mencair dan memancing gelak tawa. Itulah kami, para Emak yang tak pernah kering oleh senda gurau.
            Setelah makan siang, MC kembali memberi waktu kepada Mak Riski Fitriasari untuk memandu games. Game pertama adalah lomba meraut pensil. Saya ikutan dooong... tapi... tapi... enggak menang, Mak. Hehehe... ketauan kalau sehari-hari jarang sekali merautkan pensil anak ya?

Siap-sap lomba meraut pensil ni ceritanya. (Foto: Dina Begum)

Selepas itu, games lainnya juga tak kalah seru. Ada beberapa pertanyaan seputar KEB yang harus dijawab oleh para Emak. Dan, lagi-lagi saya bukan salah satu pemenangnya. Kasiaaan deh. Tak apalah, yang penting mereka happy (ngeless tingkat dewi). Berlanjut ke lomba mendorong tutup botol di atas meja. Siapa yang terdekat dengan garis pembatas tutup botol miliknya yang jadi pemenangnya. Daaan... the winner is... Mak Aryani! Plok...! Plok...! Plok...!


            Nah, bukan hanya itu lho games nya. Ada lagi yang seru. Kata panitianya, kalau ini tidak dilaksanakan, bakal tak ada lagi kesempatan untuk “ngerjai” para MakMin KEB. Nah, lho! Hihihi.... Kalau mau melihat keenergikan para MakMin dengan goyangan cesarnya, ya di acara inilah saatnya. Lanjutkaaan! Hahahaha....
Sebenarnya ini belum lengkap, tapi nggak tega, Maaak.... :p
            Tiga jam bersama di acara halalbihalal #KEBSyawalan ini benar-benar momen yang membuat saya nyaris “lupa diri”. Katanya sih, saya gokil... ah masak sih? Bukankah Mak Elisa Koraag jauh lebih “gila” dibanding saya yang pendiam dan malu-malu ini. Qiqiqi.... 
Lihatlah, kami sudah berusaha supaya tampil cantik. :)


Foto: Mak Dey (pinjam foto cantiknya ya. ;))
Eh, tapi, terang saja kegokilan saya kambuh. Bayangkan saja ya, saya dan Mak Elisa yang sudah begitu pede bakalan dipilih sebagai Emak dengan dress code terbaik, akhirnya harus mengalah (tepatnya gigit jari sih) karena pilihan panitia jatuh kepada Mak Winda Krisnadefa. Yaaah... lagi-lagi kami rela jika ditempatkan hanya sebagai finalis saja (menurut kami:p). 

Mak Winda, pemenang dress code terbaik. :)
            Demikianlah, acara yang penuh dengan canda tawa itu akhirnya ditutup dengan foto bersama. Kalau boleh jujur, sebenarnya kami masih ingin berlama-lama, tapi melihat mata pelayan di D’Cost itu rasanya enggak rela juga sih kalau sampai diusir dulu baru pulang. Hahahaha....

Lumayan kan yang hadir? :)

            Kebersamaan yang indah ini semoga terus terjalin dan terpupuk selamanya. Tidak hanya di dunia maya (blog, grup facebook dan twitter), KEB In shaa Allah mampu mengeratkan tali silaturahmi, menebar ilmu dan info bermanfaat, mencerdaskan sesama anggotanya di mana pun berada. Semoga.
            Kesimpulan dari cerita ini adalaaaah... saya sangat menikmati acaranya. Dua jempol buat panitia! Jarang-jarang juga ‘kan bisa melihat saya gokil macam itu? Jujur saja sehari-harinya saya ini pendiam dan agak malu-malu "in" lho, Maks. Hahaha....  []
           

Rabu, 28 Agustus 2013

Memberi Motivasi Menulis



Benarkah kegiatan menulis itu butuh motivasi? Kalau saya yang ditanya tentu jawabnya bisa iya bisa tidak. Untuk sebagian orang modal menulis bukanlah motivasi tetapi lebih pada inspirasi/ide. Namun, selebihnya justru membutuhkan motivasi untuk memulai menulis, sebab motivasi yang mereka dapat diharapkan mampu menggerakkan inspirasi/ide yang muncul.
Untuk  itu, beberapa waktu lalu saya telah memenuhi permintaan dari Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Ikatan Alumni dan Abituren Pelajar Pesantren AT-Thoyyibah Indonesia (IKAPPAI) Medan, Rumah Yuni Kreatif dan Rumah Fitrah untuk mengisi acara bertajuk “Menulis bersama Wylvera”, bertempat di gedung jurusan Analis Kesehatan Poltekkes, Jalan Willem Iskandar Pasar V Barat no. 6 Medan.
Panitia meminta saya memberikan motivasi menulis kepada audience yang akan mendaftar menjadi peserta di pelatihan tersebut. Setelah melewati diskusi jarak jauh (Medan – Bekasi), akhirnya kesepakatan pun terwujud. Saya menyetujui tanggal pelaksanaan yang diminta oleh mereka yaitu 16 Agustus 2013. Kebetulan saya masih berada di Medan untuk menghabiskan libur mudik bersama keluarga. Sehingga menjadi pemateri di sebuah kegiatan pelatihan menulis tentu saja akan menjadi momen berkesan di suasana mudik saya kali ini.
Awalnya saya sedikit ragu untuk memenuhi permintaan itu, karena agak riskan rasanya menyelenggarakan pelatihan (apalagi pelatihan menulis) yang lumayan serius di suasana lebaran. 



Pagi itu sekitar jam sembilan pagi, ruangan yang telah ditata sedemikian rupa terlihat lengang seperti tak ada tanda-tanda akan digelar sebuah kegiatan pelatihan menulis. Ketika saya datang, saya hanya melihat beberapa panitia yang menunggu di meja dan buku tamu (untuk daftar hadir peserta), beberapa buku karya saya yang tersusun ‘anggun’ di atas meja, backdrop yang memuat foto saya terpampang manis di dinding beserta seperangkat infocus. Diam-diam saya menguatkan semangat untuk tetap memberikan materi meskipun nantinya hanya segelintir yang hadir.


Tetapi dugaan saya meleset. Kekhawatiran saya tidak terbukti, sebab begitu waktu bergerak maju ruangan yang hening tadi pun mulai terlihat semarak oleh kehadiran para peserta pelatihan yang rata-rata mengenakan hijab. Subhanallah... saya sempat menangkap sinar keantusiasan di mata mereka begitu memasuki ruangan. Senyum ramah dan hangat tak putus-putus menghampiri saya sebagai pemateri.
Acara yang seharusnya dimulai tepat pukul 09.00 pagi itu bergeser ke pukul 10.30. Itulah yang sempat membuat saya merasa cemas, namun semangat saya langsung menyala ketika melihat sekitar 35 peserta yang “duduk manis” dan siap menunggu materi menulis dari saya. Kekosongan waktu antara pukul 09.30 – 10.30 itu dimanfaatkan oleh moderator untuk saling berkenalan sambil menunggu yang lainnya hadir. Moderator meminta saya berbagi pengalaman dan latar belakang yang menginspirasi saya memilih profesi sebagai penulis, guru dan trainer. Dengan senang hati saya membuka cerita untuk menjawab semua yang ingin mereka tahu tentang saya di dunia menulis. 


Betapa senangnya saya ketika melihat mata mereka seolah tak mau berpaling sekejap pun demi menyimak pengalaman yang saya sampaikan. Apalagi ketika mereka tahu kalau saya lahir dan besar di kota Medan. Keakraban terasa begitu cepat menjalin kebersamaan kami. Lalu saya ceritakan kalau masa kecil saya justru tidak dimanjakan oleh buku-buku bacaan. Padahal saya suka sekali membaca waktu itu. Mungkin orangtua kami tidak terpikir menyediakan anggaran membelikan buku-buku cerita untuk saya karena kami bukanlah keluarga yang terlalu berlebih secara ekonomi. Namun, kebiasaan Papa saya yang suka mendongeng menjadi sebuah kenangan yang terus mengendap. Lagi-lagi saya mengatakan bahwa bukan tidak mungkin kalau kebiasaan mendengar dongeng itulah sebenarnya cikal bakal yang tersimpan di diri saya sehingga saya akhirnya terjun ke dunia menulis. 




Waktu begitu cepat bergerak. Sesi perkenalan dan membagi pengalaman akhirnya usai. Tibalah saatnya MC membuka acara pelatihan menulis secara resmi. Setelah Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan IKAPPAI dan Ketua Rumah Fitrah memberikan sambutannya, saya pun siap berdiri di depan kelas untuk memulai materi menulis. Mulai dari motivasi menulis, tips agar tetap semangat untuk menulis, sumber ide, cara mengemas dan mengolah ide menjadi tulisan, unsur-unsur yang ada dalam tulisan atau cerita, sampai pada proses self editing, saya paparkan dengan rinci. Selain memberikan contoh-contoh, di tengah paparan sesekali saya melempar joke-joke ringan untuk memancing tawa mereka. Ruangan pun menjadi riuh ditingkahi tawa.


Saya tak lupa untuk bertanya apakah mereka masih tetap bersemangat untuk mengikuti dan menyimak materi dari saya. Jawabannya sangat memuaskan. Mereka masih tekun menyimak sambil sesekali mencatat bagian-bagian penting yang ingin mereka simpan sebagai panduan.
Ketika memasuki tengah hari (jam-jamnya lapar...hehehe), saya tak mau mengendurkan semangat mereka untuk tetap konsisten mengikuti kelas. Beberapa mata dan mulut yang mulai menguap itu tak boleh dibiarkan. Saya meminta mereka berdiri untuk bersama-sama melakukan penyegaran. Gerakan tangan dan jari itu bernama hujan deras dan gerimis. Sambil mengikuti aba-aba yang saya berikan, ruangan pun kembali segar dipenuhi gelak tawa kami.

Saat memasuki sesi tanya jawab, beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan, tentang cara mengatasi jika saat menulis tiba-tiba di tengah tulisan idenya mampet atau kehilangan gairah untuk meneruskan tulisan. Saya katakan bahwa proses menulis itu bukan instan dan harus langsung jadi. Penulis yang produktif sekalipun pasti pernah mengalami kebuntuan yang sering disebut dengan istilah writer’s block. Itu manusiawi dan tidak perlu langsung menjadi galau atau patah semangat. Namun, bukan berarti membiarkan kebuntuan itu berlama-lama. Boleh istirahat sejenak dari tulisan yang stuck itu, cari suasana segar supaya ide yang buntu tadi bisa dicairkan kembali.


Banyak cara, misalnya jalan-jalan (dalam artian ke luar rumah) mencari udara segar atau blogwalking alias jalan-jalan ke blog orang lain, membaca dan nonton. Siapa tahu, dari sana akan muncul kembali ide-ide segar. Dan, begitu terasa nyaman, kembalilah ke tulisan yang terhenti tadi. Lihatlah apa sebenarnya yang membuat tulisan kita buntu. Sudah tepatkah ide yang kita pilih untuk dijadikan sebuah tulisan? Sudahkan kita membuat garis-garis besar dari apa yang ingin kita tulis? Jika tulisan itu ingin menjadi cerita panjang, lupakah kita membuat plotnya? Jika jawabannya iya, maka itulah salah satu penyebab yang membuat kita bingung untuk melanjutkannya sebab kita belum memiliki guideline untuk tulisan kita.




Pertanyaan terus bermuncuulan dan saya tetap menjawab dengan semangat. Jika saja waktu tidak dibatasi rasanya tak habis-habis pertanyaan yang mereka ajukan. Luar biasa! Puji saya dalam hati. Begitulah, kebersamaan kami yang menghabiskan durasi sekitar 3 jam itu terasa begitu singkat. Banyak hal yang dipertanyakan kepada saya dan saya selalu berusaha memberikan jawaban yang mereka inginkan. Ini terbukti dari hasil tulisan yang mereka rangkai di sesi praktik. Betapa senangnya saya mendengar beberapa dari mereka membacakan tulisannya. Idenya begitu mengalir dan berjiwa. Saya sempat ragu dan menyimpan rasa penasaran. Tapi akhirnya saya lega setelah mendengar pengakuan dari mereka ketika saya menanyakan sesuatu.
“Wah, tulisannya bagus-bagus. Jangan-jangan semua yang ada di kelas pelatihan ini diam-diam memang penulis ya, jadi materi yang saya sampaikan hanya penyegaran saja sifatnya?” tanya saya sengaja ingin mendapatkan feedback yang pasti dari mereka.
“Tidaklah, Bu. Itu karena materi dan cara ibu menyampaikannya memang jelas dan rinci. Kami jadi langsung mengerti dan mempraktikkannya. Selama ini kami enggak dapat materi seperti yang ibu berikan. Ternyata jadi lebih gampang menulis itu ya,” jawab salah satu dari mereka.
Tidak hanya sampai di situ, panitia juga sangat royal membagi-bagikan hadiah. Tulisan-tulisan yang bagus diberi penghargaan lewat hadiah berupa goodie bag berisi buku dan suvenir lainnya.


Puas dan lega rasanya. Tiga jam berdiri dan memberi materi akhirnya berbuah manis. Peserta pelatihan juga antusias membeli buku-buku saya untuk ditandatangani. Sesi booksigning pun berjalan lancar dan seru.



Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah mengundang saya untuk menjadi pembicara di pelatihan ini. Terima kasih juga buat bingkisan cantiknya. Jangan ragu untuk mengundang saya kembali di acara serupa ya. Hehehe....


Untuk semua peserta, terima kasih kebersamaannya. Teruslah menulis! Semoga materi menulis dari saya mampu memotivasi kalian, baik itu dalam menulis cerita maupun karya tulis lainnya. Salam. []

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...