Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2016

Berbagi Kasih di Negeri Sampah



Inilah "Negeri Sampah" itu (dokpri)
           Sejak tahun 2012, saya mulai mengakrabkan diri dengan lokasi yang selalu menyuguhkan aroma busuk dari gunungan sampah. Di kawasan itu pula terdapat beberapa sekolah dengan murid-murid yang berasal dari lingkungan setempat. Rutinitas saya menuju lokasi yang dekat dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu adalah untuk membagi ilmu menulis. Saya mengajar kelas menulis salah satu sekolah di sana.
Di kawasan Bantar Gebang tersebut, berjajar rumah-rumah bedeng dengan 7.000 kepala keluarga yang tinggal di bantaran dekat pegunungan sampah setinggi 30 meter. Sementara anak-anak di kawasan tersebut terdiri dari usia balita hingga remaja (SMP). Sehari-hari mereka membantu orangtuanya memulung, memilih sampah, dan menjualnya kepada pengusaha sampah. Tak pernah putus rasa haru di hati saya saat mendatangi lokasi itu.
Didampingi oleh gunungan sampah yang selalu menebar aroma tak sedap, wajah anak-anak itu selalu menunjukkan aura semangat untuk meraih ilmu di bangku sekolah. Lalu dari manakan istilah “Negeri Sampah” itu munculnya?

Kepedulian Econity90 dan Wings Peduli Kasih
            Hari itu, Selasa, 19 Januari 2016, saya diundang untuk menghadiri acara bertajuk “Membangun Impian dari Negeri Sampah” di Sekolah Alam Tunas Mulia yang berlokasi di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) – Sumur Batu Bantar Gebang. Acara ini diprakarsai oleh Econity90 dan Yayasan Wings Peduli Kasih untuk ratusan anak dan warga sekitar wilayah TPA Bantar Gebang, Bekasi. 



Dalam kegiatan tersebut, Econity90 menggandeng Yayasan Wings Peduli Kasih. Bentuk perhatian serta sumbangan yang diberikan adalah berupa pendirian fasilitas pendidikan untuk Sekolah Alam Tunas Mulia, terutama bangunan tempat belajar dan mengajar nantinya.
            Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Felice (perwakilan dari Yayasan Wings Peduli Kasih), Bapak Aristo Kristandyo - Group Head of Marketing Communications PT. Sayap Mas Uatama (Wings Food and Beverages), Bapak Rahmat Susanta (Ketua Dewan Pengurus Econity90), Bapak Topik Ajimulya (Lurah Sumur Batu Bantar Gebang), dan Bapak Nadam Dwi Subekti selaku pendiri Sekolah Alam Tunas Mulia, serta para orangtua murid dan tamu undangan lainnya. 

Anak-anak di Negeri Sampah menyuguhkan ragam hiburan seni

Sambutan dari pihak sekolah begitu terlihat antusias. Anak-anak murid Sekolah Alam Tunas Mulia memberi sambutan berturut-turut dengan lagu pembuka berjudul, “Guruku Tersayang” serta tarian dari Sumatera Barat (Dindin Badindin/Indang). Ini menunjukkan bahwa sekolah tersebut tidak hanya fokus pada bidang pelajaran akademik, namun tetap mengajarkan hal berbau seni yang terangkum dalam bidang non akademik. 
Topik Ajimulya (Lurah Sumur Batu)

Dalam sambutannya, Bapak Rahmat Sutanta (Ketua Dewan Pengurus Econity90) mengatakan, bahwa di Indonesia terdapat lebih dari seratus ribu sekolah yang dianggap tidak layak pakai. Meskipun Sekolah Alam Tunas Mulia sudah berjalan sekian tahun lamanya, menurut Pak Rahmat sekolah itu termasuk dalam kategori sekolah belum layak.    

Rahmat Sutanta
Untuk itu, selaku wakil dari Wings Peduli Kasih, Bapak Aristo Kristandyo mengatakan bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun, menurutnya, yang sering menjadi kendala adalah masalah kekonsistenan. “Ide dan upaya harus terus kita lakukan secara konsisten. Membangun impian juga harus konsisten. Semua berangkat dari keluarga masing-masing. Jangan lupa untuk selalu menyemangati anak-anak. Itulah bentuk konsistensi kita,” himbau beliau di sambutan berikutnya.
Aristo Kristandyo
Bapak Aristo juga megatakan bahwa setelah bangunan nanti berdiri, Wings Peduli Kasih dan Econity90 tidak melepas begitu saja. Mereka akan kembali lagi untuk melihat progressnya. Hal ini dilakukan sebagai perwujudan kepedulian dari Wings Peduli Kasih yang berkomitmen untuk selalu terlibat dalam pemberdayaan masyarakat dan komunitas. Terutama pembinaan sumber daya manusianya (pelatihan terhadap tenaga pengajar). Wings Peduli Kasih juga menerima pengajuan proposal terkait dengan daerah yang layak untuk diberikan bantuan, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. 
Nadam Dwi Subekti
Sekolah Alam Tunas Mulia yang didirikan oleh Bapak Nadam Dwi Subekti ini telah mampu menampung 60 orang anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), 50 orang anak SD, dan sekitar 20 anak setingkat SMP dengan 8 guru. Sejak sekolah itu berdiri, tentu perhatian dari pihak luar pun mulai berdatangan untuk berbagi. Begitu pula dengan perhatian tulus yang diberikan oleh Econity90 (yayasan sosial yang didirikan oleh para almuni Fakultas Ekonomi UI, angkatan ’90). Hal ini sangat disyukuri oleh Pak Nadam. 

Salah satu ruang belajar
Dalam sambutan berikutnya, Bapak Nadam Dwi Subekti mengatakan bahwa ia sangat terharu dan senang sekali dengan bentuk perhatian yang diberikan oleh Econity90 dan Wings Peduli Kasih. Akan dibangunnya ruang kelas untuk anak-anak Sekolah Alam Tunas Mulia, tentu memberi semangat baru.  Selama ini mereka melakukan kegiatan belajar dan mengajar di bangunan yang semi permanen, berbentuk rumah panggung. 

Ruang belajar lainnya
Dari bangunan sederhana itu, Sekolah Alam Tunas Mulia telah berhasil mengantarkan tujuh murid-muridnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bahkan ada yang akan lulus kuliah di tahun ini (2016). Di sela sambutannya, Pak Nadam membeberkan kisah tujuh murid yang telah berhasil dibina di sekolah itu. Ketujuh murid tersebut telah mampu menginspirasi Bapak Nadam dan teman-temannya untuk membukukan kisah berjudul “Impian dari Negeri Sampah” dalam bentuk novel.
Perpustakaan
“Waktu itu sejak tahun 2004 saya sudah mengajar mengaji di pemulungan. Ternyata murid-murid saya tidak ada yang bersekolah. Jadi saya berpikir, kenapa saya tidak mendirikan sekolah saja untuk mereka. Sejak itu, saya dan teman-teman pun berupaya mendirikan sekolah untuk anak-anak pemulung itu. Karena sekolah ini menjalankan sistim kejar paket, maka saya memilih model sekolah alam agar lebih dekat dengan mereka,” ujar Pak Nadam saat saya diberi kesempatan berbincang dengan beliau.
Selama setahun Bapak Nadam terus berupaya mendapatkan izin untuk mewujudkan mimpinya mendirikan sekolah tersebut. Dan, akhirnya hingga saat ini Sekolah Alam Tunas Mulia pun sudah banyak memberi manfaat kepada anak-anak pemulung di kawasan tersebut. 

Tommy Prabowo (MC)
            Sebelum berlanjut ke acara berikutnya, MC Tommy Prabowo memandu acara puncak, yaitu peletakan batu pertama untuk pembangunan ruang kelas/belajar Sekolah Alam Tunas Mulia. Dengan didirikannya bangunan kelas ini, diharapkan anak-anak bisa lebih nyaman dan bertambah semangat belajarnya. 
peletakan dan pencangkulan (tanah) pertama (groundbreaking)
 
            Acara dilanjutkan dengan suguhan hiburan. Anak-anak sangat senang mendengar dongeng Kak Inne Sudjono (pembaca berita, penyiar radio, storyteller, dan aktivis dunia anak). Mereka terlihat sangat antusias menyimak. Lewat dongeng yang disampaikan, Kak Inne ingin memotivasi agar anak-anak yang bermukim di kawasan pembuangan sampah itu tetap semangat, giat, dan tekun belajar untuk meraih cita-cita mereka.

Anak-anak tekun menyimak dongeng Kak Inne
            Tidak hanya anak-anak yang diberi motivasi, Dokter Cindhe Puspito juga memaparkan tentang cara hidup sehat kepada para orangtua murid yang hadir di acara itu. Lingkungan yang selalu dikelilingi sampah, hendaknya jangan membuat mereka tidak peduli pada kebersihan. Kebersihan diri dan keluarga tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan. 
 
dr. Cindhe Puspito
Praktik mencuci tangan yang benar
Menjaga kebersihan dengan memulainya dari hal kecil. Mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan kuku, dan mencuci bahan makanan yang ingin dimasak dengan cara yang benar. Menurut Dokter Cindhe, tubuh yang bersih akan membuat fisik sehat dan kuat. 

Pembagian goodie bag
            Acara diakhiri dengan pemberian goodie bag kepada anak-anak Sekolah Alam Tunas Mulia. Semoga kepedulian yang dilakukan oleh Econity90 dan Wings Peduli Kasih ini dapat menjadi contoh, agar bangsa yang kita cintai bisa lebih maju, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatannya. [Wylvera W.]

Sumber foto: Koleksi pribadi 

Rabu, 09 Desember 2015

Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan



Ini bukti bahwa perempuan tak bisa lepas dari benda-benda itu ^_^

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan dan peran kaum perempuan di mana pun adalah kunci keberhasilan dalam keluarga sebagai basis untuk membangun masyarakat dan negara yang ideal. Sementara, kemajuan masyarakat dan negara tidak bisa lepas dari peran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Untuk menunjang keberhasilan tersebut, keterlibatan kaum perempuan dalam keterampilannya terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pun tidak bisa dipisahkan.
Teknologi Informasi dan Komunikasi mampu memberikan banyak manfaat. TIK juga memungkinkan peran-peran dalam bidang ekonomi dan bidang sosial menjadi lebih kuat dan optimal. Kaum perempuan bisa meningkatkan produktivitas, membuka peluang ekonomi, meningkatkan taraf hidup diri dan keluarganya, memberikan kontribusi yang lebih besar pada ekonomi dan sosial. Namun, manfaat itu ternyata belum dirasakan merata di berbagai wilayah.
Melihat kondisi ini, maka Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI, Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merasa perlu dan bertanggung jawab untuk menyusun sebuah pedoman pemanfaatan TIK, khususnya bagi perempuan demi meningkatkan kualitas. Terkait dengan keinginan baik tersebut, diskusi demi diskusi telah dilakukan untuk menyusun sebuah pedoman yang maksimal untuk disosialisasikan. 

Suasana di ruang diskusi
Beruntung sekali, saya termasuk salah satu peserta yang diundang untuk memberikan usulan pada pedoman pemanfaatan TIK yang masih berbentuk draft. Saya hadir untuk memenuhi undangan dari KPPPA pada hari Senin dan Selasa (7 – 8 Desember 2015) di Hotel Salak Bogor. Pertemuan dua hari satu malam itu benar-benar dimaksimalkan untuk mengumpulkan masukan dari para peserta yang hadir. Di antaranya dari Kemkominfo, Tim Pokja – Pemerhati TIK, Tim Pokja Serempak – UI, Tim Pokja Serempak – BPPT, Tim Pokja Serempak – IWITA, blogger, dan penulis.

Sekilas hasil pemaparan dan diskusi
Di sesi awal, Ari Fitria Nandini SH. MH. (Kemkominfo) memberi masukan. Beliau menyoroti penggunaan rujukan/acuan yang jelas terhadap makna dari dua terminologi yang ditemukan dalam kata TIK, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Beliau mengusulkan untuk mengambil rujukan yang pasti agar tidak muncul keragu-raguan dalam pemahaman defenisinya. Ari Fitria juga mengatakjan bahwa pedoman yang disusun sudah tepat. Dan pedoman ini tidak hanya ditujukan untuk perempuan perkotaan, namun sampai ke perempuan di pedesaan.

Ari Fitria Nandini
“Bagaimana kita membuat pedoman yang step by step agar mereka yang sudah melek teknologi sampai yang belum pun bisa memahami tapi tidak merasa digurui,” ujarnya menambahkan.
Ari Fitria juga mengatakan bahwa pedoman yang disusun juga perlu mencantumkan batasan hukum yang menyangkut hak asasi. UU terkait dengan itu (UU ITE) perlu dicantumkan dalam pedoman final nantinya. Dan, beberapa masukan lainnya yang nantinya akan disepakati akan dimuat di dalam pedoman.
Selanjutnya, Indriyanto Banyumurti (dari Tim Pokja Serempak) mengawali paparannya dengan menampilkan tayangan/film (hasil riset dari London School Public Relation/LSPR bekerjasama dengan AC- Qwords) yang menggambarkan tentang perempuan dan penggunaan ICT (Information and Communication Technologies) di Indonesia. Dalam tayangan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa perempuan tidak bisa lepas dari internet.

Indriyanto Banyumurti
            Dari draft yang saya terima, dalam rilis penelitiannya yang berjudul “Profil Pengguna Internet Indonesia 2014”, Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom – UI) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun per tahun mencapai 88,1 juta orang hingga akhir tahun 2014. Ini sama dengan 34,9 % dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebesar 52 juta penggunanya berada di kawasan Jawa dan Bali.


Dari data yang dirilis oleh APJII dan Puskakom UI di atas, Indriyanto Banyumurti mengatakan, “88, 1 juta pengguna internet itu besar, tapi jika dilihat penetrasinya terhadap populasi, ini masih rendah, hanya 34,9%. Target 2015 harusnya Indonesia punya 50% kalau kita memakai acuan WSIS – Word Summit on the Information Society tahun 2003, yang mendeklarasikan bahwa 50% penduduk dunia memiliki akses atas informasi.”
Isu kesetaraan gender merupakan sebuah tujuan utama pembangunan. Hal ini terutama bisa meningkatkan produktivitas - improve development dari generasi mendatang, karena kita tahu bahwa perempuan adalah garda utama dalam pembangunan generasi mendatang.



Dari sinilah KPPPAI menginisiasi disusunnya “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan” Indonesia, yang intinya adalah diarahkan menjadi acuan bagi siapa saja, para stakeholder, untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam penggunaan TIK. Sedangkan ruang lingkup dari pedoman ini terkait dengan pengertian umum tentang Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi, kompetensi di bidang TIK khusus untuk kaum perempuan, kurikulum pelatihan yang diperuntukkan, serta contoh modul pelatihannya
            Selanjutnya dalam kajian pengembangan konten dan akses perempuan pada internet yang diteliti oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2012, ditemukan bahwa sebagian kaum perempuan tidak memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kesempatan yang tinggi dalam mengakses teknologi informasi (internet). Kendala ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti; beban perempuan di ranah domestik yang lebih dominan, kemampuan terhadap akses teknologi yang rendah, serta minimnya pengetahuan dan keterampilan di bidang TIK. 

            Selain itu, yang paling menarik adalah ketika dampak dari pemanfaatan TIK ini dirasa telah melebur ke dalam hampir seluruh aktivitas kita sebagai warga masyarakat. Kenyataan inilah yang melatarbelakangi perlunya disusun sebuah pedoman untuk melakukan pengembangan kompetensi kaum perempuan di bidang TIK. Pedoman tersebut tidak akan tersusun secara maksimal tanpa adanya peran dan sumbangsih dari seluruh pemangku kepentingan.  
            Penyusunan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan” ini juga dimaksudkan sebagai acuan bagi instansi pemerintah, lembaga masyarakat, masyarakat (khususnya kaum perempuan), serta para pemangku kepentingan lainnya dalam rangka meningkatkan kapasitas perempuan dalam menggunakan TIK.
            Sementara pedoman ini nantinya akan menunjang beberapa hal, diantaranya meliputi aktivitas dalam keluarga, sosial maupun ekonomi yang didukung oleh kemampuan dan kecakapan dalam penggunaan TIK.
            Penyusunan pedoman yang saya hadiri membahas detail aspek yang dibutuhkan agar mampu memberi solusi bagi keterbatasan pengetahuan kaum perempuan terhadap kemajuan TIK. Beragam masukan disampaikan oleh peserta diskusi yang hadir. Semata-mata bertujuan untuk memaksimalkan rumusan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”.
Selanjutnya Indriyanto memaparkan beberapa penelitian lainnya terkait dengan pokok bahasan dalam diskusi tersebut. Di antaranya adalah menyoroti penelitian GSM Association yang mengukur bagaimana pemanfaatan kaum perempuan terhadap ponsel selular pada negara-negara berkembang. Khusus untuk Indonesia - merujuk pada peneilitian tersebut - ada tiga hal utama yang menjadi kendala dalam pemanfaatan teknologi. Pertama adalah biaya kepemilikian handset dan pulsanya. Mereka tidak memiliki keleluasaan ekonomi untuk memenuhi hal tersebut. Kedua, kepercayaan diri dan literacy technical (kemampuan untuk menggunakannya secara teknis).




Hal tersebut menjadi isu utama yang perlu disoroti, khususnya terkait dalam pedoman yang disusun. Terkait dengan ini pula, team pun merumuskan beberapa kompetensi yang dibutuhkan oleh perempuan di bidang TIK.
  1. Mengerti berbagai perangkat dan jenis TIK, seperti tablet, smartphone dengan beraham jenis dan spec teknologinya yang kian berkembang.
  2. Memahami prinsip kerja internet. Hal ini diperlukan sebagai knowledge. Kaum perempuan harus tahu menggunakan dan bagaimana internet itu bekerja. Terutama ketika berbicara tentang perlindungan anak dan keamanan data di internet.
  3. Menggunakan penelusuran website. Di bagian ini, skill sangat dibutuhkan. Misalnya dalam menggunakan mesin pencari dalam internet.
  4. Menggunakan surat elektronik sebagai alat komunikasi dasar.
  5. Mengenal berbagai jenis media sosial.
  6. Mengetahui etika regulasi terkait dengan internet. Ini termasuk di dalamnya tentang attitude.
Dalam kegiatan rumah tangga, perempuan bisa menggunakan internet untuk pendidikan, memahami dampak positif dan negatif, juga berkaitan dengan fitur-fitur dan parental control.
Dalam kegiatan ekonomi, lebih pada bagaimana internet bisa digunakan sebagai rumusan strategi pemasaran, bagaimana membuat media promosi (melalui website dan blog).
Dalam kegiatan sosial, bagaimana para perempuan yang bergerak sebagai aktivis sosial, internet bisa digunakan melakukan campaign, advokasi, edukasi publik, membangung jejaring, dan lain sebagainya.

Martha Simanjuntak
Dalam kesempatan diskusi tersebut, Martha Simanjuntak (Tim Pokja Serempak – IWITA), menyampaikan pengalamannya ketika mengikuti seminar dan pelatihan TIK di Korea.
“Dari hasil informasi yang saya dapat terkait perempuan dan TIK di sana, menurut pandangan mereka, Thailand masih lebih baik kesiapannya terhadap TIK ini. Namun, menurut saya dan teman-teman dari negara lain, Indonesia lebih unggul. Jika dilihat dari kepemilikan handphone dan akun di media sosial, perempuan Indonesia lebih unggul dari negara-negara ASEAN tersebut. Tapi karena Indonesia ini besar jadi tidak merata sehingga di negara ASEAN, Indonesia masuk dalam kategori pemula dalam pemahaman perempuannya terhadap TIK,” ujar Martha. 

Yudho Giri Sucahyo
Di sesi berikutnya, Yudho Giri Sucahyo (Tim Pokja Serempak – UI), menyampaikan masukannya tentang peningkatan literasi TIK, Perempuan dan Anak. Yudho memberikan contoh tentang peran Ibu dalam urusan seleksi masuk sekolah yang dipantau lewat website. Kemudian tentang mendampingi anak-anak dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ada beberapa soal pertanyaan yang mau tidak mau harus dicari jawabannya di dengan menggunakan internet. Menurut Yudho juga, saat ini untuk menjadi PNS pun pemahaman terhadap penggunaan internet sangat dibutuhkan. Selanjutnya tentang pengaturan penggunaan ponsel oleh anak. 

“Saya sudah sejak tahun 2007 menjadi mitra PBB - Asia Pasifik untuk pelatihan TIK. Mereka punya inisiatif, tahun ini launching tahun depan akan semakin banyak kegiatan yang namanya WIFI - Women and ICT  Frontier Initiative,” ujar Yudho.
Yudho mengatakan bahwa yang perlu dilakukan adalah menggalang komitmen. Tahun depan akan banyak perempuan yang bisa diundang untuk pelatihan. Beberapa hal terkait kaum perempuan yang disebutkan Yudho untuk dikenalkan dan diberi pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan TIK menjadi tujuan utama pedoman yang dirumuskan. Maka, pedoman yang didiskusikan perlu disempurnakan, sehingga bisa digunakan sebaik-baiknya.

Riski Fitriasari (Blogger) - Sumber: Ani Berta
Arin Murtiyarini (Blogger) - Sumber Ani Berta
        Sesi dilanjutkan dengan mengumpulkan beragam masukan dan koreksi dari peserta diskusi. Beberapa masukan seperti pedoman terhadap sanksi copy paste konten (karya tulis), penjelasan tentang dampak kesehatan pada durasi penggunaan internet, sosialisai dan pengenalan manfaat TIK ke sekolah-sekolah dasar (terutama untuk para guru), dan banyak lagi masukan lainnya demi menyempurnakan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”. 


Senang diberi kesempatan untuk memberi usulan - Sumber: Ani Berta

Diharapkan pedoman ini akan mampu memberikan perubahan pada perempuan-perempuan Indonesia. Sehingga mereka “melek” Teknologi Informasi (e-literate), yaitu tidak hanya sekadar mengetahui cara penggunaannya, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif. [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...