Jumat, 13 Oktober 2017

Pelatihan Menulis di School of Universe



Bermula dari informasi yang dibagi oleh salah satu teman di grup WhatsApp. Beliau bertanya apakah ada teman-teman di grup yang bisa mengisi pelatihan menulis di sekolah alam yang berlokasi di Parung Bogor. Beberapa merespon tapi belum ada yang pasti bisa mengisi. Sebelum ikut merespon, saya sempat browsing sebentar tentang profil sekolah alam tersebut. Wah! Melihat sekilas sekolahnya, saya langsung antusias untuk berkunjung ke sana. Saya mencoba menjapri beliau (Dewi Liez) dan bertanya seperti apa konsep model pelatihan yang diinginkan.

Ini chat saya dengan Mbak Dewi
Ini chat dengan Mbak Iin
  Akhirnya kesepakatan terjadi. Saya dihubungkan dengan salah satu orangtua murid dari sekolah itu. Respon hangat dan menyenangkan kembali terjadi. “Pucuk di cinta ulam pun tiba”. Iin Savitry (nama orangtua murid itu) ternyata sudah mengenal profil saya. Bahkan anak beliau katanya nge-fans ke saya. Tersanjung banget baca komentarnya. Obrolan singkat pun terjadi dan akhirnya kembali menghasilkan kesepakatan. Saya kembali dihubungkan dengan salah satu guru dari sekolah itu untuk membicarakan teknis pelatihan. Tidak berpanjang-panjang diskusi, mereka menyetujui konsep yang saya ajukan. Maka, saya pun bersiap menyusun materi tayangan.

Menyiapkan materi sesuai tema yang diminta        
            Dari hasil obrolan dengan Iin, kegiatan pelatihan menulis ini merupakan rangkaian dari acara “Literacy Fair” yang puncaknya akan digelar pada tanggal 4 November 2017.  Di acara puncak nanti, setiap siswa (kelas 3 – 6) diminta membuat karya tulis dengan tema besar “Aku dan Rasulullah saw.” Oleh sebab itu, saya diminta untuk memberikan materi panduan agar anak-anak paham bagaimana menuliskan karyanya tentang tema tersebut. Saya juga diingatkan bahwa karya tulisnya bukan artikel ilmiah. Anak-anak hanya diminta bercerita lewat tulisan saja. 
            Dua hari sebelum hari “H” saya pun sibuk menyiapkan materi. Sementara langkah-langkah menulis cerita serta motivasi untuk mulai semangat menulis tetap menjadi panduan pembukanya. Tema “Aku dan Rasulullah saw” Saya jadikan contoh dalam penerapan langkah-langkah menulis tersebut. Bongkar pasang materi dengan template PowerPoint yang sudah ada akhirnya kelar.

Lelah efek kemacetan akhirnya terbayar
            Hari Kamis, 12 Oktober 2017 pun tiba. Pagi-pagi sekali saya sudah siap untuk berangkat menuju Sekolah Alam – School of Universe, Parung Bogor. Perjalanan pagi dari Bekasi yang luar biasa macetnya menjadi pelengkap perjuangan menyetir agar tiba tepat waktu di sekolah itu. Rasa cemas mulai mengganggu ketika jam di mobil sudah melewati angka delapan. Saya harus tiba di sekolah itu tepat pukul 08.30 WIB. Sementara acara pelatihan akan dimulai pada jam sembilan.
            Alhamdulillah, dengan menambah kecepatan menyetir, saya dan asisten (keponakan saya) yang ikut menemani akhirnya tiba di sekolah itu kurang dari waktu yang dijanjikan. Begitu turun dari mobil, kecemasan dan rasa lelah tiba-tiba menguap. Udara alam terbuka yang disuguhkan oleh School of Universe begitu memanjakan pandangan saya. Ditambah sambutan hangat para guru (mereka menyebut dirinya fasilitator/fasil) dan Iin Savitry membuat saya lupa kalau sudah degdegan menyetir selama dua jam lebih dari Bekasi. 


Langsung segar melihat penampakan sekolahnya seperti ini

            Nama “Sekolah Alam” yang digagas oleh Bapak Lendo Novo ini memang layak disandingkan pada School of Universe. Lendo Novo yang pernah meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI, 12/09/2009) telah mendesain School of Universe menjadi sekolah yang menyenangkan. Area luas yang ditumbuhi oleh pepohonan dan bunga-bungaan benar-benar menampilkan model sekolah alam yang sesungguhnya. Ruang-ruang kelas yang dindingnya terbuat dari papan dan didesain semi terbuka itu membuat mata saya mendadak fresh. Mood saya langsung melonjak karena tak sabar ingin segera bertemu dengan peserta pelatihan.

Naluri buat berfoto mendadak kambuh :)
            Pukul 08.45, saya diajak menuju lokasi pelatihan yang sudah disiapkan pihak sekolah. Sambil berjalan menuju tempat yang mereka sebut joglo itu, mata saya masih saja jelalatan memandangi area sekitar yang begitu sejuk dan asri. Betapa anak-anak yang bersekolah di situ betah berlama-lama menikmati alam terbuka sambil menimba ilmu.
           
Pelatihan menulis cerita
            Ketika sampai di joglo, saya memandangi sekilas wajah anak-anak yang terlihat sama tak sabarnya menunggu kehadiran saya. Dengan sigap para fasil mengatur duduk mereka agar terlihat rapi sebelum acara dimulai. Dari 75 orang yang akan mengikuti pelatihan, lebih dari setengahnya adalah murid laki-laki.
Surprise!
Baru kali ini saya mendapatkan peserta pelatihan yang didominasi oleh anak laki-laki usia sekolah dasar dan terlihat bersemangat ingin mendapatkan ilmu menulis. Saya senyum-senyum sendiri melihat tatapan mata mereka yang tak lepas memandangi saya yang bersiap menyuguhkan ilmu menulis.
Bu Ana membuka acara
            Pelatihan menulis dibuka oleh Bu Ana (salah satu fasil) dengan mengenalkan saya kepada anak-anak yang telah duduk rapi. Tidak lama, Bu Ana langsung menyerahkan acara kepada saya. Salam pun saya ucapkan untuk memulai sesi pelatihan. Sekilas saya mengenalkan diri kembali. Sebelum memulai pelatihan, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Diantaranya tentang alasan mereka berkumpul dan menunggu saya di tempat itu. Spontan mereka menjawab “Mau belajar menulis ceritaaa …!” Jawaban penuh rasa semangat itu membuat saya yakin dan segera membuka materi pertama.

Pelatihan pun dimulai
            Tayangan dari materi pertama yang saya tampilkan adalah tentang sebuah pertanyaan “Saya ingin menulis, apa yang harus saya lakukan?” Lagi-lagi spontan mereka mengangkat tangan dan berebutan menjawab. “Harus ada alat tulis!”, “Pakai cerita!” “Ada temanya!” Lalu sayup-sayup terdengar seorang anak menjawab, “Harus ada ide!”
            Saya membenarkan semua jawaban mereka dan melengkapi jawaban dengan slide berikutnya. Saya sampaikan bahwa keinginan mereka untuk menulis harus diawali dengan niat, keyakinan, fokus, kekonsistenan, dan kedisplinan. Mendadak ekspresi mereka berubah takjub sambil menatap ke layar infokus. Lucu melihatnya. 

Selalu ada saja yang nggak fokus tapi itu biasaaa ;)
            Setelah saya paparkan satu per satu dari lima modal awal itu, barulah saya tanyakan lagi hal apa lagi yang mereka perlukan saat menulis. Kembali mereka berebutan menjawab. Dua anak lantang berseru, “Ideee …!” Jawaban kedua anak yang bernama Melodi dan Alya itu sangat tepat. Selanjutnya Melodi dan Alya pula yang berulang-ulang saya jadikan contoh di sela-sela pemaparan materi. Mereka tersenyum-senyum malu.

Melodi (jilbab hijau) dan Alya (jilbab cokelat)
            Setelah saya menyampaikan tahapan awal menulis, terlihat sekali anak-anak itu mulai tak sabar ingin memraktikannya. Saya lanjutkan materi dengan langsung memberikan contoh tema besar tentang “Indahnya Akhlak Rasulullah saw”. Pelan-pelan saya jelaskan bagaimana cara agar ide tentang tema besar itu bisa dijadikan sebuah cerita menarik dan memberi kesan buat pembaca. Mulai dari mengemas pohon ide sampai kepada rantingnya. Memberikan contoh cara menciptakan konflik/kendala pada cerita, memunculkan karakter tokoh, menjelaskan tiga unsur besar (tema, setting, alur) dan unsur penting lainnya yang dibutuhkan dalam menulis cerita. Tak lupa saya berikan tips agar tidak kesulitan membuat judul.
            Untuk lebih memudahkan mereka memahami apa yang sudah saya jelaskan, saya juga memberikan contoh bagaimana cara membuat pendahuluan dalam cerita, seperti apa bentuk konflik/tantangan itu, dan bagaimana mengemas ending (akhir) dan penutup cerita agar memberi kesan mendalam bagi pembacanya. Mata mereka tak lepas-lepas memandangi saya dan sesekali menatap layar.
Contoh cara membuat konflik/kendala cerita
            Di awal pertemuan dengan beberapa fasil, saya diminta memaklumi jika dalam pelatihan akan sulit mengarahkan anak-anak. Namun selama dua setengah jam di sesi pertama, saya justru tidak merasa terganggu. Anak-anak peserta pelatihan yang terdiri dari kelas 3, 4, 5, dan 6 itu relatif fokus. Padahal katanya anak-anak itu sangat kreatif, aktif, dan terkadang susah diajak duduk tenang. Ada sekitar lima anak yang berkebutuhan khusus juga diikutkan dalam pelatihan itu. Satu anak sesekali lari ke depan dan mengambil mic yang saya pegang. Yang lainnya ada yang menangis juga tapi semua itu bukan kendala besar dan tak terlalu sulit menenangkannya kembali.
Betapa bahagia dan bersyukurnya karena sedikit pun saya tidak merasa kesulitan mengajak anak-anak itu untuk tenang dan konsisten fokus menyimak materi yang saya sampaikan dari awal hingga akhir.

Games dan jokes sebelum sesi praktik
            Jangankan anak-anak, orang dewasa saja terkadang sulit untuk mempertahankan ritme agar tidak bosan saat menyimak materi yang disajikan lebih dari dua jam. Gestur seperti itu tentu sesekali terlihat pada beberapa anak School of Universe yang menjadi peserta pelatihan menulis itu. Namun, tidak terus-menerus dan tidak terlalu mengganggu.
            Dari sekian banyak pengalaman menjadi pemateri di pelatihan menulis untuk anak-anak yang pernah saya lakoni, kekuatan joke dan celetukan jenaka bisa mencairkan suasana bosan. Ditambah games menarik terkait materi juga mampu membuat perhatian anak-anak peserta pelatihan itu tetap terjaga. Tips itu  pula yang saya lakukan pada pelatihan menulis di sekolah alam tersebut. 
 
Faruq, Hanif, dan Kayne mencoba tantangan
Dalam hitungan ke sepuluh, Kayne bisa menulis 5 kata
            Saya bertanya siapa di antara 75 anak yang ada di joglo itu mau ke depan. Suara riuh dan saling berebut tunjuk tangan sambil menyebut “Saya, Bu …!” kembali menggaung. Akhirnya saya memilih tiga murid laki-laki (Faruq, Hanif, dan Kayne) untuk maju. Walaupun tidak ada hadiah yang disediakan untuk permainan itu, keantusiasan mereka tidak surut. Tidak hanya Faruq, Hanif, dan Kayne yang asyik dalam permainan, saya tetap melibatkan semua anak untuk memandu ketiga teman mereka yang ada di depan. Terciptalah suasana menyenangkan yang kembali membuat mereka rileks sebelum mengawali sesi praktik menuliskan ceritanya.

Praktik menulis sesuai tema
            Tibalah sesi praktik menulis yang hasilnya akan diperlombakan untuk mendapatkan hadiah. Setelah kertas bergaris dibagikan, saya pun menampilkan tema apa yang harus mereka jadikan cerita di layar. Saya meminta mereka menulis tentang tema “Aku dan Rasulullah saw.” Tema inilah yang akan dijadikan bahan pameran di acara puncak “Literacy Fair” di sekolah itu.
Mereka saling berpandangan dan terkesan senang. Di awal saya memang sempat mendengar informasi bahwa saat anak-anak ini diminta menuliskan tema tersebut, mereka masih bingung mau menuliskan apa. Itu sebabnya saya diundang untuk memberikan panduan menuliskannya. Itu pula yang membuat binar di mata mereka spontan terpancar. Alhamdulillah … saya senang melihat ekspresi itu.
Sekitar 45 menit mereka saya beri waktu untuk menuangkan ide-idenya terkait tema yang diberikan. Tentu saja tidak semua anak bisa langsung berkreasi menuangkan idenya menjadi sebuah cerita. Tetap ada saja yang masih bingung dan dalam sepuluh menit waktu berjalan, kertasnya masih kosong. Hal ini wajar karena kemampuan anak dalam menyerap ilmu tentu berbeda. 

Ada yang masih bingung memulai ceritanya
Saya hampiri beberapa anak yang masih bingung itu. “Saya memang sudah pernah dengar cerita Rasulullah tapi saya lupa, Bu. Gak tau mau nulis apa,” ujar salah satu dari anak yang bingung itu. Tidak ingin mematahkan semangatnya, saya justru menyemangati untuk tetap menulis cerita tentang mengapa dia lupa pada kisah itu. “Jangan bingung. Kelupaan kamu pada kisah Rasulullah saw. tetap bisa menjadi sebuah cerita yang menarik. Ayo ceritakan kenapa kamu bisa lupa padahal dulu kamu pernah mendengar cerita Rasulullah dari guru kamu,” ujar saya memancing agar ide itu muncul di kepalanya. “Ooo … boleh nulis gitu ya, Bu?” tanyanya lugu. Saya mengangguk mantap. Matanya kembali berbinar dan mulai menulis.
Ada juga anak yang katanya paling susah kalau disuruh menulis karena ia tidak suka. Mencatat bahan pelajaran pun hampir tak pernah dilakukannya. Bu Ana menceritakan itu di akhir sesi. Untunglah saat sesi praktik, saya menemukan anak itu. Mungkin tanpa sadar saat saya bertanya “Adakah yang belum menuliskan satu kata pun?” anak itu mengangkat tangannya. Dengan lantang ia berseru, “Bingung mau nulis apaan!”
Lagi-lagi tidak ingin mematahkan semangatnya untuk ikut serta berlomba menulis, saya meminta ia menuliskan tentang rasa bingung itu. Mengapa ia bingung mau menuliskan apa? Apakah ia tidak ingat atau belum pernah mendengar kisah tentang Rasulullah? Sebisa mungkin saya arahkan anak itu untuk memancing ide di kepalanya agar bisa dijadikan tulisan. Tidak mengapa jika apa yang ditulisnya tidak sesuai dengan tema, yang penting ia mau memulainya.

Cerita terbaik mendapat hadiah
            Setiap memberikan pelatihan menulis, saya berusaha untuk tidak pelit membawa hadiah. Biasanya hadiah yang saya bawa berupa buku-buku karya saya sendiri, buku kompilasi, dan buku-buku karya anak-anak saya yang stoknya masih ada di rumah. Di samping itu, saya juga selalu menanyakan apakah pihak penyelenggara juga mau menyediakan hadiah. Hadiah dari saya biasanya tidak saya beritahu kepada panitia. Saya jadikan itu sebagai kejutan agar peserta pelatihan merasa lebih bersemangat saat mengikuti sesi praktik menulisnya.

Ini sembilan cerita yang terpilih

            Di awal sesi praktik saya sampaikan bahwa selain hadiah dari pihak sekolah, saya juga akan memberikan bonus hadiah untuk mereka yang berhasil menulis cerita yang keren. Mendengar itu, anak-anak terlihat bersemangat dan tak sabar untuk memulai menuliskan cerita mereka. 

Ini para pemenangnya ... eh, satu lagi ke mana ya?
            Lebih 45 menit mereka berlomba menuliskan cerita bertema “Aku dan Rasulullah saw”. Saya pun diberi waktu untuk membaca dan memilih para pemenangnya di saat mereka salat dan makan siang. Terpilih sembilan cerita terbaik. Penulisnya terdiri dari murid kelas 3, 4, 5, dan 6.

Ada pertemuan tentu ada perpisahan
            Usai sudah pelatihan menulis bersama anak-anak Sekolah Alam – School of Universe, Parung Bogor. Saya tutup momen kebersamaan di hari itu dengan kembali memotivasi agar mereka terus berlatih dan menjadi terampil menulis. Saya katakana bahwa ingin menjadi apa pun mereka nanti dan profesi apa saja yang ingin mereka tekuni, kemampuan menulis bisa memperkaya keterampilan mereka. Saya yakinkan bahwa banyak sekali keuntungan positif jika mereka mau melatih kemampuan menulisnya.

Bersama seluruh peserta dan panitia pelatihan menulis
            Sebelum benar-benar berpisah, kami pun berfoto bersama. Ada satu hal yang membuat saya haru. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri saya dan berkata, “Bu … saya kok jadi pengin nulis cerita tapi bukan pendek tapi cerita seperti buku cerita gitu. Ternyata gampang ya, Bu. Jadi semangat saya,” ujarnya dengan mimik lucu penuh antusias. “Bu, kapan lagi Ibu datang ke sini?” lanjutnya lagi membuat saya sempurna terharu. Saya respon ia dengan balasan tak kalah antusias. 

Terima kasih, School of Universe :)
            Semoga apa yang saya berikan di sekolah alam itu bisa diserap dan jadikan bekal dalam kegiatan tulis – menulis. Aamiin. Sampai jumpa di pelatihan lainnya. Salam. [Wylvera W.]

Kamis, 05 Oktober 2017

Air Zamzam dan Ujian Kesabaran

            
Tempat penyediaan air zamzam - dokpri

        Saya yakin, setiap kaum muslimin yang pernah berhaji dan berumrah pasti memiliki pengalaman. Baik itu pengalaman fisik maupun batin. Untuk pengalaman fisik, bisa jadi ada yang mirip. Namun untuk pengalaman batin tentulah berbeda-beda. Masing-masing akan menjadikannya sebagai hikmah dalam menjalani keyakinan hidupnya sebagai hamba Allah.
            Kemarin saya sempat bercerita tentang pilihan visa yang saya dan suami ambil untuk berhaji. Tentang bagaimana pengalaman kami melewatinya hingga akhirnya kami sampai di Mekkah Al Mukaromah. Ketika berada di tanah haram, segala sesuatu yang terjadi, ada, terasa oleh saya maupun teman-teman sesama rombongan jema’ah, saya selalu berusaha menyikapi dan mengumpulkan maknanya.
            Kali ini perhatian saya tertuju pada air zamzam yang ada di Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Saat musim berhaji, udara yang biasanya panas menyengat akan disejukkan ketika jema’ah tiba di kedua masjid tersebut. Bisa minum air zamzam setiap hari tanpa khawatir akan kehabisan, merupakan berkah yang luar biasa.
            Saya yakin bahwa tidak satu pun jema’ah yang pernah salat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi melewatkan kesempatan meminum air zamzam. Bayangkan berapa jumlah ummat muslim yang minum air zamzam itu setiap harinya, terutama di musim haji dan umrah. Namun, air zamzam tidak pernah kering dan selalu berlimpah. Betapa Maha Kaya dan Kuasa Allah yang tak satu pun mampu menandingi-Nya. 
            Kalau tanpa pemahaman, meminum air zamzam di tanah haram seolah seperti minum air biasa saja. Tapi, sebenarnya tidak demikian. Mengapa tamu-tamu Allah selalu berkeinginan untuk meminumnya? Bahkan ada yang tak segan-segan membawa wadah cukup besar dan mengisinya penuh untuk dibawa bolak-balik ke penginapan bahkan saat pulang ke tanah air masing-masing.
            Dari Ibnu Abbas ra, bahwsanya Rasulullah saw bersabda tentang air zamzam;
            Sebaik-baiknya air dipermukaan bumi ialah air zamzam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit.”
            Saya menyimpulkan bahwa dari sabda Nabi Muhammad saw inilah ummat muslim ingin berulang-ulang minum air zamzam selama ia berada di tanah haram.

Ujian kesabaran karena air zamzam
            Petuah untuk selalu menahan amarah dan meningkatkan rasa sabar selalu kita dengar ketika hendak menuju ke tanah haram. Meskipun menahan amarah dan sabar itu hendaknya dapat kita amalkan kapan dan di mana saja, tapi kadarnya ternyata lebih besar saat berada di tanah suci.
            Ini pula yang terjadi pada saya. Semestinya air zamzam itu menyejukkan, menghilangkan dahaga dan penyakit, menambah stamina saat melakukan prosesi haji dan umrah. Tapi, saat itu ujian tentang air zamzam menghampiri saya.
Kok bisa?
            Saat itu azan Magrib tinggal beberapa menit lagi berkumandang di Masjidil Haram. Saya dan suami yang terlambat datang harus mencari tempat untuk salat. Kami mulai kebingungan. Suami saya tidak ingin membiarkan saya mencari tempat sendirian. Ia berusaha sampai saya menemukan tempat terlebih dahulu. Namun, beberapa titik jalur masuk menuju saf-saf perempuan sudah ditutup oleh petugas.
Akhirnya saya melihat ada tempat yang lumayan cukup untuk membentangkan sajadah. Posisinya dekat dengan deretan tong penyimpanan air zamzam. Suami meminta saya untuk menunggunya selepas salat Isya di tempat yang tak jauh dari situ. Tanpa berpikir macam-macam, saya pun membentangkan sajadah lalu buru-buru mengerjakan salat tahiyatul masjid. 

Mengambil air zamzam sebelum dan sesusah salat
            Setelah azan magrib, saya dan para wanita di saf kami pun khusyuk mendirikan salat. Pada rakaat kedua, saya merasa bagian kaki saya dingin dan menyebar ke gamis bagian bawah. Saya tetap berusaha konsentrasi menyelesaikan salat. Ketika selesai, barulah saya tahu kalau sajadah dan sebagian gamis saya sudah basah oleh genangan air zamzam.
Sesaat sebelum salat, ada perempuan (bukan orang Indonesia pastinya), sibuk mengisi botolnya dengan air zamzam. Ia masih berjongkok di sisi tempat air zamzam itu. Saya memerhatikannya. Sebelum mengisi botolnya, perempuan itu menuangkan sisa air yang masih ada dari dalam botol itu. Air itulah ternyata yang sejak tadi menggenangi lantai dan sajadah saya.
Kalau menuruti bisikan hawa nafsu, pastilah saya menegur dan marah padanya. Tapi itu tidak saya lakukan, walaupun sajadah saya tidak bisa dipakai lagi untuk salat Isya. Gamis saya pun sudah basah hingga ke pangkal paha. Sementara salat Isya masih beberapa saat lagi.
Saya mencoba tenang dan berpikir bahwa situasi itu tengah menguji kesabaran saya? Ada seorang ibu separuh baya dengan wajah putih bersih (lagi-lagi bukan orang Indonesia), menawarkan separuh sajadahnya untuk kami pakai bersama-sama. Ia meminta saya menggeser posisi duduk merapat ke sisinya supaya air yang menggenang tidak mengenai sajadahnya juga. Tampak sekali sikapnya yang tulus dan kasihan melihat saya. Tapi ia tak sekalipun mengomentari perempuan yang sudah membuat sajadah dan gamis saya basah. Sikap Ibu itu membuat saya menepis rasa kesal yang sempat muncul di hati. Sementara wanita yang sudah membasahi sajadah dan gamis saya masih berjongkok tanpa meminta maaf kepada saya. Ia melihat saya dengan ekspresi datar.
Setelah salat Isya selesai, saya mencoba memaknai kejadian yang baru saja saya alami. Hasrat untuk menikmati manfaat air zamzam memang sungguh besar bagi setiap jema’ah yang berada di Masjidil Haram. Namun, terkadang tidak semua paham bagaimana cara mendapatkannya dengan cara yang benar, tanpa merugikan yang lainnya. Keinginan yang kuat dengan ketersediaan yang lebih dari cukup tidak serta-merta membuat orang sabar dan santun dalam mendapatkannya. Karakter tetaplah karakter. Jika tidak dibarengi dengan akhlak dan kesantunan, maka ketidakpedulian akan muncul tanpa disadari.
Setelah kejadian sederhana itu, saya berusaha beristighfar berulang-ulang. Semoga Allah selalu menjaga hati ini dari kealpaan tersebut. Kesabaran ternyata lebih menguntungkan dari kemarahan. [Wylvera W.]

           


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...