Senin, 22 Agustus 2016

Menjadi Ibu yang Menyenangkan



(Foto: pixabay.com)
        Menjadi seorang Ibu yang menyenangkan adalah impian bagi perempuan yang sudah memiliki anak. Namun, tidak semua Ibu bisa melakukannya. Lihat saja di luar sana. Selalu ada saja anak yang tidak bisa hormat pada ibunya. Menganggap Ibu hanya sebagai perempuan yang sekadar melahirkannya ke dunia. Namun, jangan buru-buru menyalahkan anak. Mengapa Ibu dianggap tidak menyenangkan oleh anak-anaknya? Bisa jadi, kebiasaan dan karakter yang Ibu tampilkan dalam mengasuh anak-anaknya, tidak membuat mereka nyaman.
Bagaimana cara menggapai impian menjadi Ibu yang menyenangkan dan disenangi oleh anak-anaknya? Ada sebuah kewajiban yang semestinya tidak boleh diabaikan atau menganggapnya biasa-biasa saja. Dan di ujung kewajiban pasti selalu menunggu sebuah kata yang bernama tanggung jawab. Hal ini tak bisa lepas pada urusan hitung-hitungan di hari akhir kelak. Bukan dengan manusia tapi dengan Sang Khaliq.
Menyadari kewajiban tersebut, sebagai seorang Ibu saya pun merasa selalu ada yang mengawasi, jika saya salah melakukan tanggung jawab itu. Untuk itu, saya berusaha keras agar kelak tidak diberatkan oleh hitungan yang salah dalam mempertanggungjawabkannya di hadapan Al Hasiib (Yang Maha Membuat Perhitungan).
Berat? Memang. Sebab, tidak semua hal baik-baik yang saya inginkan sebagai Ibu dari anak-anak, akan selalu saya dapatkan. Semua butuh proses. Ada yang lama ada yang cepat, dan ada pula yang berubah-ubah. 

Mira dan Khalid beberapa tahun silam
            Saya sudah melewati masa-masa memiliki anak balita. Sesekali saya juga pernah merasakan kelelahan dalam mengurus anak-anak saya. Kelelahan tersebut umumnya lebih pada fisik. Sebab, anak-anak saya yang masih balita butuh pengawasan lebih pada gerak motorik, gizi dan kesehatannya, serta segala kebutuhan untuk tumbuh kembangnya. Dalam masa itu, saya butuh energi lebih dalam mengawasi kedua buah hati. Terjaga di malam hari bukan lagi kondisi yang langka bagi saya. Apalagi jika anak-anak sedang sakit. Kelelahan itu pasti akan menyertai hari-hari saya.
Begitu pula dalam mempersiapkan makanan yang bergizi untuk mereka. Saya harus ekstra mencari tahu apa saja yang pas untuk tumbuh-kembang mereka. Memasak, merapikan bekas mainan, membersihkan pakaian mereka, dan ragam rutinitas tentu akan membuat capek. Yang akhirnya saya menyadari bahwa itu lumrah. Idealnya, saya tidak ingin mengeluh untuk melakukan tanggung jawab ini.

Menikmati setiap fase itu ....
            Seiring dengan pertumbuhan anak, maka kelelahan saya ikut bergeser pula. Jika anak sudah beranjak remaja, pendampingan dan pengawasan saya sebagai Ibu tidak lagi terbatas pada hal-hal ketika anak-anak saya masih balita. Mereka sudah punya dunia lain di luar rumah. Pergaulannya tentu tidak lagi sama seperti zaman TK atau SD.
Ketakutan bahwa anak akan salah langkah dalam pergaulannya, menjadi satu hal yang terkadang mampu menguras energi tidak di bagian fisik tapi pikiran. Anak yang sudah remaja tidak bisa lagi sekadar diajak bermain seperti waktu balita. Maka peran saya akan meningkat pada pendampingan ala seorang teman dekat. Menjadi teman diskusi bagi anak, mengawasi dengan memberikan tanggung jawab, atau bahkan masuk ke dunia mereka jika memang dibutuhkan. Semua itu semata-mata agar mereka merasa nyaman serta tidak melupakan posisi ibunya sebagai prioritas dalam berbagi berbagai hal dan permasalahan.   

Bersama Kakak Mira
Bersama Khalid

            Ibu mana yang tidak ingin menjadi idola bagi anak-anaknya? Saya juga menginginkannya. Alhamdulillah, memiliki sepasang anak yang keduanya sudah menjadi remaja, membuat saya selalu merasa bahagia menjadi seorang Ibu. Sejak mereka kecil hingga sekarang dan Insya Allah di hari depan nanti, tidak ada satu masalah yang benar-benar membuat hubungan kami berantakan. Meskipun sesekali ada kendala, alhamdulillah … selalu terlerai dengan bijaksana.
Sebagai Ibu, perjalanan dan perjuangan saya agar selalu menjadi sahabat yang menyenangkan buat kedua anak saya masihlah panjang. Anak pertama saya saja baru masuk di perguruan tinggi, sementara adiknya masih kelas 2 SMA. Proses untuk terus menjadi Ibu yang menyenangkan, tentunya tidak selesai sampai di fase ini saja. Proses itu pula yang saat ini sedang dan terus saya nikmati.

Insya Allah, always full of love .... ^_^
Saya pernah ditanya oleh teman yang kebetulan masih memiliki anak balita. Entah apa yang ia lihat dari kebersamaan saya dengan kedua ana-anak saya. Menurutnya, saya dan anak-anak itu terlihat begitu kompak. Lalu, ia pun menanyakan rahasianya. Lama saya simpan jawaban ini, sebab malu rasanya mendahului para senior yang anaknya sudah berkerja, bahkan sudah menikah dan punya cucu.
Namun hari ini akhirnya saya tergoda juga untuk berbagi. Mungkin terlalu sederhana dan sudah banyak diparktikkan para Ibu lainnya. Tapi, niatnya hanya untuk saling berbagi agar kita bisa menjadi Ibu yang menyenangkan buat anak-anak kita.

Menjadi Ibu yang bijaksana
            Menjadi Ibu yang bijaksana itu relatif bagi setiap anak dan ibunya. Sebab masing-masing anak dan ibunya tentu punya patron sendiri-sendiri. Kalau saya, simpel saja. Berusaha tidak mudah marah atau menyalahkan anak jika mereka melakukan kesalahan. Saya selalu menanyakan penyebab mereka melakukan kesalahan tersebut. Jika mereka melakukannya karena lupa, tidak sengaja, atau bahkan tidak tahu kalau itu salah, saya berusaha tidak akan menghukum mereka. Cukup mengingatkannya saja dengan contoh-contoh yang bisa mereka pahami.

Menjadi Ibu yang jujur
            Mustahil rasanya Ibu menuntut anak untuk selalu jujur kalau dirinya sendiri sulit berbuat jujur. Kejujuran itu buat saya tidak bisa didoktrin ke anak, melainkan mencontohkannya dengan perbuatan. Dari sikap dan perbuatan yang senantiasa menjunjung tinggi kejujuran inilah, saya meyakini bahwa kedua anak saya berusaha meniru dan takut untuk berbohong. Tidak hanya tentang kejujuran, banyak prilaku dan adab lainnya yang perlu dicontohkan oleh perbuatan Ibu, ketimbang hanya memberikan ceramah panjang lebar ke anak-anak. Saya berusaha melakukan itu dengan penuh ketulusan.

Menjadi Ibu yang tegas bukan sarkas
            Waktu anak-anak saya balita, ketegasan yang kerap saya lakukan adalah jika mereka tiba-tiba bertengkar gara-gara memperebutkan mainan. Si Kakak terkadang merasa lebih berkuasa dari adiknya sehingga ia merasa berhak memarahi adiknya sampai menangis.Saya marah? Iya, tapi tetap berusaha tidak membuat mereka "takut" melihat saya.
Peran saya dalam kondisi pertengkaran ini persis seperti wasit tapi tidak dengan tujuan mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Demi menenangkan si Adik, saya biasanya berusaha mencari alternatif mainan lainnya untuk diberikan. Jika si Adik sudah tenang, saya pelan-pelan mengajak si Kakak ngobrol dalam bahasa anak seusianya. Menjelaskan kepadanya bahwa posisinya sebagai kakak bukan berarti ia lebih berkuasa dari adiknya. Justru ia harus belajar menjadi pelindung buat adiknya. Namun, cara menjelaskannya pun saya usahakan hati-hati sekali, agar si Kakak tidak merasa perannya sebagai kakak justru terbebani oleh sikap harus selalu mengalah. Intinya saya tegas tapi berusaha kreatif menciptakan sebuah contoh sederhana. Alhamdulillah, meskipun tidak instan, perlahan-lahan ini membuahkan hasil.

Menjadi Ibu, teman diskusi, dan pendengar yang baik
            Saya tidak begitu kesulitan untuk menjadi Ibu dan teman buat kedua anak saya saat mereka masih balita dan anak-anak. Banyak hal yang bisa membuat kebersamaan kami menyenangkan. Selain mereka seolah memahami bahwa kendali lebih besar di saya, mereka juga lebih menurut dan enjoy. Berbeda setelah mereka beranjak remaja. Beberapa kebiasaan baru pun bermunculan tanpa saya duga.
Cerita tentang pergaulan bersama teman-teman sekolah yang tidak hanya sekadar bermain lagi seperti zaman TK dan SD pun mulai mereka bagi. Ketidaksukaan mereka pada sesuatu yang saya pilihkan terkadang menjadi masalah yang muncul secara tiba-tiba. Dalam kondisi ini memang tidak selalu berakhir dengan mulus secara cepat. Bahkan sesekali menemukan jalan buntu yang membuat saya dan anak-anak berdebat dan saling mempertahankan argumen masing-masing.
Untunglah, saya bukan tipe Ibu yang nyaman berlama-lama pada kondisi saling marahan dengan anak. Oleh karena itu, saya tidak bisa diam untuk bertahan membiarkan suasana keruh di antara kami. Saya kembali berusaha belajar memahami perubahan fase mereka. Seperti apa dunia remaja dan kebiasaan-kebiasaannya, trend apa yang sedang menjadi pembicaraan di luar sana, dan hal lainnya, menjadi pertimbangan saya untuk mencari tahu. Upaya ini saya lakukan agar saya tidak lagi memaksakan kehendak pada mereka. Kecuali jika pilihan mereka bertabrakan dengan norma dan agama. Saya akan ajak mereka lagi-lagi berdiskusi dan mencari panduan yang tepat. Biasanya saya ingatkan mereka pada ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist-hadist yang relevan dengan itu.
Sebagai Ibu, saya juga tidak memaksakan agar anak-anak saya harus selalu mendengarkan kata-kata saya. Ada kalanya saya hanya diam menyimak cerita-cerita mereka. Saya tidak akan menjelma menjadi sosok yang tiba-tiba sok bijaksana dan tahu segalanya. Sesekali justru saya yang memosisikan diri menjadi pendengar yang baik. Intinya saya selalu berusaha menciptakan komunikasi yang “hidup” di antara kami.
           
Menjadi Ibu yang tidak pelit memuji         
            Mungkin masih ada Ibu yang malu dan terkadang gengsi memuji dan menyatakan sayang dan cinta pada anaknya. Padahal, kata-kata pujian dan ungkapan kasih dan sayang itu bisa menjadi asupan "gizi" untuk tumbuh kembang psikis mereka. Saya selalu percaya ini, sehingga walaupun marah, saya hampir tidak pernah lupa mengakhiri kemarahan dengan mengatakan, “Ibu marah sama kalian ini bukan karena Ibu benci, tapi justru karena Ibu terlalu sayang sama kalian.” Atau jika mereka melakukan hal yang baik, saya tidak segan-segan melontarkan pujian, “Kereeen…! Hebat ih!”
Jika sedang ada rezeki berlebih, prestasi dan usaha mereka yang telah membuahkan hasil yang baik, saya tidak hitung-hitungan untuk memberikannya hadiah. Tidak harus mahal. Dengan menraktir makan siang, makan malam, membelikan buku favorit mereka, atau nonton bareng saja, saya sudah bisa melihat binar bahagia di mata mereka. Dan binar itu tidak bisa dinilai dengan angka-angka.
            Itulah beberapa hal yang selama ini saya lakukan untuk kedua anak saya. Lalu, apakah saya sudah cukup menyenangkan buat mereka? Biarkan mereka yang menjawabnya. Yang terpenting, saya takkan pernah berhenti mencurahkan cinta dan kasih sayang buat mereka sampai kapan pun. Dan, alhamdulillah, hingga hari ini dan Insya Allah sampai kapan pun, saya masih selalu merasakan kasih sayang mereka buat saya. [Wylvera W.]

           
               

Jumat, 12 Agustus 2016

Sehari Bersama Stefano Romano (Part 2)





            Setelah menikmati makan siang dan menunaikan sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju SDIT Thariq bin Ziyad yang lokasinya ada di Pondok Hijau Permai Bekasi. Ide saya mengajak Stefano sebenarnya diawali oleh kelas ekstrakurikuler fotografi yang baru saja dibuka di sekolah ini. Ketika saya tawarkan kepada Stefano beberapa hari sebelumnya via whatsapp, beliau langsung mengatakan, “Tidak masalah, tanggal 10 … one day untuk kamu.” Klop rasanya. Saya pun menyampaikan kabar baik itu kepada Ibu kepala sekolah.
Sejam kemudian, kami pun tiba di depan sekolah. Saya memarkikan mobil dan tidak ada terlintas pikiran yang bakal mengejutkan kami. Kehadiran kami disambut hangat oleh Pak Jauhari (guru bidang kesiswaan). Kami diajak istirahat di kantor Kepala Sekolah sejenak, sebelum anak-anak berkumpul di ruang pertemuan yang sudah disiapkan.

Histeria di halaman sekolah SDIT Thariq bin Ziyad
Beberapa saat setelah itu, terjadilah situasi yang mengejutkan. Entah dari mana mulanya, anak-anak tiba-tiba berkerumun di depan pintu ruangan Kepala Sekolah. Bu Siti (kepala sekolah SDIT Thariq bin Ziyad) dengan lembut mencegah anak-anak agar bersabar menunggu di luar. Namun, namanya juga anak-anak, beberapa dari mereka nekat membuka pintu sambil membawa buku tulis. 
Beginilah suasana di balik kaca jendela ruang Kepala Sekolah

“Mister, saya minta tanda tangannya dong!” seru dua anak yang berhasil mendorong pintu dan masuk menghampiri kami.
Stefano yang masih terkejut melihat situasi itu, tetap melayani anak-anak dengan ramah dan penuh canda.
“Saya seperti Justin Bieber!” seru Stefano membuat kami tertawa lepas.


Bunga tersenyum manis sekali setelah dapat tanda tangan Stefano
Setelah berbincang sebentar dengan Bu Siti, saya meminta Stefano untuk keluar menuju ruang aula di lantai dua. Begitu pintu dibuka, anak-anak semakin histeris ingin menyerbu dan mendekat ke arah Stefano. Situasi terjadi sangat spontan. Mereka menyambut Justin Bieber … eh, Stefano Romano … dengan sambutan yang luar biasa heboh ala anak-anak. Semua anak seolah tak mau ketinggalan untuk meminta tanda tangan Sang Fotografer beken dari Italia ini.
“Misteeer …! Saya beluuum…!”
“Misteeer …! Minta tanda tangannyaaa …!”
“Aaaah … aku beluuum…!”

https://www.youtube.com/watch?v=9NCUCg_qEeo

Suara-suara itu membuat suasana riuh yang membuat hati saya membuncah antara kagum, haru, dan lucu. Alhamdulillah, akhirnya situasi bisa dikendalikan. Stefano siap berbagi pengalaman bersama anak-anak dari kelas ekskul jurnalistik dan menulis serta fotografi.

Pertemuan yang berlangsung seru dan mengesankan
Saya kembali memandu sesi pertemuan di ruang aula. Kali ini, Stefano mengawali pertemuan, memancing anak-anak dengan pertanyaan yang diberikannya. Mengapa suka fotografi? Untuk apa belajar fotografi? Mengapa kamu harus belajar menulis? Dan masih ada beberapa pertanyaan yang diajukan Stefano, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Bangga hati saya melihat anak-anak kami ini. Mereka benar-benar menyiapkan diri untuk bertemu dan mengenal Stefano. 

Anak-anak tekun menyimak penjelasan Stefano
Keakraban yang spontan
Stefano memamerkan buku kumpulan foto karyanya

 “Mister! Bagaimana cara memoto objek supaya hasilnya bagus? Kalau kameranya gak bagus gimana dong?” salah satu anak giliran mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan itu membuat Stefano mengambil kesempatan untuk kembali memamerkan buku kumpulan foto karyanya. Beliau menjelaskan, bahwa memoto itu kuncinya ada di mata.
“Kalau kamu punya kamera bagus dan mahal, tapi mata kamu tidak bisa menangkap objek dengan bagus, hasilnya juga tidak akan bagus. Tapi kalau mata kamu bisa menangkap dengan indah, maka hasil foto kamu pun akan bagus dan indah. Jadi rahasianya ada pada mata,” jawab Stefano membuat ekspresi kagum di mata anak-anak yang menyimak, terutama anak yang mengajukan pertanyaan tadi.


Semakin lama semakin akrab dan mendekat ^^

Ada hal menarik bagi saya pribadi. Saat Stefano kembali memperlihatkan isi buku kumpulan foto karyanya kepada anak-anak. Pada lembar demi lembar dari foto-foto wajah Indonesia di buku “Kampungku Indonesia” yang dilihat oleh anak-anak, tiba-tiba Stefano menghentikannya pada satu foto.
“Ini foto orang sedang sholat. Ia sholat mencari cahaya. Jadi foto ini bercerita tentang Islam. Islam itu apa? Islam itu cinta. Jadi dalam Islam itu ada cinta dan cahaya,” ulasnya membuat hati saya basah menahan bangga. Anak-anak juga menatap wajah Stefano, sang mu'alaf, dengan pancaran kagum. 


Saat Stefano menjelaskan makna dan cerita dalam foto-fotonya

Selebihnya, acara kebersamaan di ruang pertemuan itu berjalan dengan seru. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak Thariq bin Ziyad ini. Begitu pula dengan Stefano. Beliau juga tak mau kalah melempar pertanyaan seru ke anak-anak. Ada yang memberi jawaban dengan standar pengetahuan anak-anak SD, namun ada juga yang jawabannya sangat mengesankan bagi Stefano.
Saya dan Ade Nursa’adah siap memberikan hadiah wafer cokelat bagi mereka yang menjawab dan bertanya. Stefano juga memberikan boneka tangan berukuran kecil dengan inisial namanya untuk beberapa anak yang menjawab dan bertanya dengan baik. Posisi duduk pun selalu berubah. Mereka seolah tidak mau jauh-jauh dari Sang Fotografer. 


Foto bersama sebelum berpisah

             Akhirnya sebelum masuk waktu Ashar, pertemuan pun kami akhiri dengan foto bersama. Saya juga mengizinkan mereka untuk melanjutkan meminta tanda tangan sang idola. Momen meminta tanda tangan ini ternyata sangat berkesan buat Stefano. Ada satu anak yang membuat Stefano mengulang-ulang cerita dan kejadian yang lucu itu.
Anak itu ternyata sudah dua kali meminta tanda tangan dari Stefano. Karena penasaran, Stefano bertanya kepada anak tersebut.
“Kamu sudah dua kali dapat tanda tangan saya. Ini untuk siapa lagi?”
“Yang 1 untuk saya, 1 lagi untuk Ibu saya, dan yang 1 nya lagi untuk dijual,” jawab anak itu polos.
Kami tak bisa menahan tawa mendengar kejadian itu. Karena itu pula, Stefano mengomentari dirinya sendiri, “Make me feel as Justin Bieber… hahaha!”

Saya bersama Bu Siti dan guru-guru TBZ (foto by Stefano Romano)
Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, Stefano masih menyempatkan diri untuk megambil foto para guru dengan kamera kesayangannya. Saya melihat binar puas di mata Sang Fotografer. Saya juga sangat bersyukur karena Allah memberi kesempatan untuk mengenalkan Stefano kepada anak-anak, Bu Siti, Pak Jauhari, dan sekolah tempat saya mengajar ekskul ini. Semoga kehadiran Stefano di sekolah kami ini, mampu menebar dan meninggalkan kesan serta pengalaman yang indah.

Pak Jauhari, guru-guru, para murid, dan orangtua murid (foto by Stefano)
            I wish back there again,” ujar Stefano saat saya kembali mengantarkannya pulang.
            “Aamiin ….”
            Dengan berulang mengucap syukur dalam hati, saya mengantarkan Stefano dan istrinya serta sahabat saya kembali menuju ke rumah mereka masing-masing. Sehari bersama Stefano Romano telah menorehkan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga cahaya Islam itu tetap menerangi hati sahabat saya, Stefano Romano lewat lensa kameranya. Aamiin …. [Wylvera W.]


Kamis, 11 Agustus 2016

Sehari Bersama Stefano Romano (Part 1)


Stefano dan murid-murid PKBM Al Falah

            Hari Rabu, 10 Agustus 2016 menjadi hari yang sangat mengesankan. Tidak hanya untuk saya, tapi juga buat anak-anak pemulung yang ada di PKBM Al Falah Bantargebang, serta murid-murid SDIT Thariq bin Ziyad Pondok Hijau Permai Bekasi. Dua sekolah dengan basis kurikulum dan sistim pembelajaran yang jauh berbeda ini, kedatangan seorang fotografer luar negeri yang namanya cukup kondang.
Semua bermula dari perkenalan saya dengan sang fotografer di sebuah momen yang tidak pernah saya duga. Fotografer kondang yang lebih memilih spesialisasi foto wajah (portrait photography) ini, saya kenal dalam suasana pemotretan. Namun, kisah perkenalan saya dengan beliau akan saya ceritakan di postingan lain dalam blog ini. 
Saya tidak menyangka kalau akhirnya bisa bertemu dan mengenal Stefano Romano. Kalau kita mencari informasi tentang dirinya di internet, pasti akan menemukan banyak sekali cerita mengenai sosok pria kelahiran 11 Januari 1974 ini. Betul! Dunia fotografer tentu sangat mengenal pria asal Roma Italia ini. Apalagi setelah ia berhasil melahirkan karya yang berisikan kumpulan foto wajah Indonesia dalam buku yang berjudul “Kampungku Indonesia”.     


Momen yang mempertemukan saya dan Stefano Romano

Dari perkenalan itulah akhirnya Stefano menguping bincang-bincang saya dengan salah satu wartawan dari majalah Islam. Ia mendengar kalau selama ini saya mengajar kelas ekstrakurikuler jurnalistik dan menulis di dua sekolah tadi. Stefano adalah seorang mualaf yang sejatinya sangat mencintai anak-anak, khususnya anak-anak Indonesia. Mendengar perbincangan itu, ia meminta saya mengajaknya ke sekolah anak pemulung tempat saya mengajar. Seperti pucuk di cinta ulam pun tiba, tentu tawaran itu tidak saya sia-siakan.
Sedikit sulit juga dalam menetapkan tanggal buat Stefano. Jadwal beliau selama tiga bulan di Indonesia memang cukup padat. Namun, tidak ada niat baik yang tak menemukan jalannya. Akhirnya kami pun sepakat di tanggal 10 Agustus 2016. Meskipun dalam hati, saya ingat kalau tanggal itu adalah hari wedding anniversary saya, saya harus tetap profesional. Dan, syukurnya setelah itu, suami saya justru sangat mendukung. Anggap saja ini sebagai kado istimewa juga buat saya dan suami.

Dari Citos Menuju Al Falah Bantargebang Bekasi
            Rabu pagi itu, sekitar jam 7, saya sudah sampai di depan Mal Cilandak Town Square (Citos). Alhamdulillah, perjalanan dari Bekasi – Citos pagi itu lancar. Saya tiba tepat waktu. Namun, saya harus menunggu Stefano dan istrinya, juga sahabat saya, Ade Nursa’adah yang ingin ikut di momen kunjungan itu. Sejam setelah itu, akhirnya kami sudah berkumpul. Saya segera membawa mereka menuju Bantargebang Bekasi.
            Perjalanan yang menghabiskan durasi 1 ½ jam lebih itu akhirnya membawa kami tiba di halaman sekolah Al Falah. Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Al Falah yang berada di bawah naungan Yayasan Ummu Amanah, milik Wahyu Katri Ambar Wulan Sari, sahabat saya ini, lokasinya berada di kawasan Tempat Pembuang Akhir (TPA) sampah. Sejak tahun 2012, saya sudah akrab mengajar menulis di sana. 

Murid-murid Al Falah siap menyimak materi dari Stefano

            Sekolah yang berada di kawasan pembuangan sampah ini sempat membuat saya cemas. Saya pikir Stefano, Mbak Bayu (istri Stefano), dan Ade (sahabat saya) akan terganggu dengan aroma sampah yang semilir memenuhi penciuman kami. Ternyata, mereka sama sekali tidak memedulikan aroma itu. Justru ekspresi sumringah yang jelas terpancar dari mata dan wajah mereka.
            Pihak sekolah pun menyambut kehadiran kami dengan penuh antusias. Sekitar 50 murid dari sekolah tempat anak-anak pemulung itu sigap berkumpul di aula terbuka untuk menyambut kehadiran kami. Wajah-wajah dengan tatap mata gembira sibuk menatap sosok Sang Fotografer. Mereka seperti tak sabar ingin segera mengenal dan menyimak pengalaman dari Stefano Romano.


            Saya membuka pertemuan itu dengan salam dan menjelaskan tentang tujuan kedatangan Stefano ke sekolah itu. Setelah itu, saya memperkenalkan Stefano Romano dan profesinya sebagai fotografer internasional. Begitu mendengar asal negara Stefano, suara riuh mereka tak bisa dibendung sesaat. Saya yakin, kalau mereka sangat bangga karena dikunjungi oleh seorang fotografer sekelas Stefano Romano.
            Sesi berikutnya langsung diambil alih oleh Stefano Romano. Beliau menjelaskan tentang awal dia memilih mencintai seni fotografi. Yang membuat anak-anak pemulung itu bolak-balik bertepuk-tangan, ketika Stefano mengatakan kalau dia sangat mencintai Indonesia.
            “Indonesia adalah kampung kedua buat saya,” tegas Stefano lalu disambut dengan tepuk tangan meriah dari anak-anak.
            Stefano juga berbagi kisah tentang alasannya menjadikan Indonesia sebagai kampung keduanya setelah Roma Italia. Diawali oleh kekagumannya saat memotret wajah-wajah berhijab, akhirnya Stefano Romano menambatkan hati dan keyakinannya untuk memeluk Islam di tahun 2010. Lewat lensa kameranya itu pula, Stefano banyak mengenal Islam dan keindahannya. Setelah memeluk Islam, ia memutuskan menikah dengan perempuan Indonesia bernama Bayu Bintari Fatmawati di tahun yang sama. Dari sanalah ia mulai mencintai Indonesia. Sejak menikah, Stefano sudah tiga kali berkunjung ke negeri istrinya.

Nurafifah
            Murid-murid Al Falah menyimak dengan tekun setiap paparan yang disampaikan Stefano. Yang paling membuat suasanya menyenangkan adalah saat sesi tanya-jawab dibuka. Anak-anak itu seolah berlomba ingin mengajukan pertanyaan seputar fotografi. Tawa riuh menggelegar saat Stefano meminta anak-anak memanggilnya dengan sebutan Aa atau Akang.
            “Aa … eh, Kang … eh, manggilnya apa?” ujar Nurafifah, salah satu murid kelas ekskul menulis, gugup dan malu-malu.
            “Enggak mau bilang Akang?” canda Stefano membuat suasana semakin riuh penuh tawa. 

            “Mengapa Kang Stefano lebih suka memoto wajah?”
            “Karena kalau foto kaki itu tidak bagus,” balas Stefano dengan gurauannya memancing semua tertawa

"Di Indonesia, apa saja yang sudah dijadikan objek foto?"

            Begitulah, anak-anak bergilir mengajukan pertanyaan seputar dunia fotogarfi. Bagi yang bertanya, Stefano membagikan boneka lucu yang di bagian dadanya tersemat inisial nama beliau. Bukan itu saja, anak-anak yang bertanya juga mendapatkan hadiah wafer cokelat. Senang banget saya melihat kegembiraan mereka. Ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan buat anak-anak pemulung itu.

Di lokasi dekat dengan gunung sampah


            Sesi berikutnya, saya meminta anak-anak menenami Stefano untuk melihat lokasi gunung sampah yang tertinggi di Indonesia. Teriknya matahari sedikit pun tidak menyurutkan momen indah kebersamaan kami dengan Stefano pagi menjelang siang itu.
            Anak-anak yang sebagian adalah murid-murid saya dari kelas ekskul menulis, sangat antusias mendampingi Stefano mengambil objek untuk difoto. Tawa dan canda mereka sesekali meramaikan rombongan kami yang berjalan kaki menuju lokasi. 

Melihat isi buku "Kampungku Indonesia" karya Stefano
            Setelah puas memotret objek, akhirnya kami kembali ke sekolah. Belum puas rasanya sehingga Stefano seolah masih ditahan untuk diajak berfoto bersama guru-guru. Buku kumpulan foto “Kampungku Indonesia” pun ikut meramaikan kebersamaan itu. Mereka terkagum-kagum melihat isi buku karya Stefano. Cara Stefano memotret dan menghasilkan gambar yang menakjubkan membuat mulut mereka berdecak kagum. 

Klik di sini
Klik aja ya ^_^

Ingin berlama-lama di sana, namun waktu yang membatasi kebersamaan kami. Saya mengingatkan Stefano untuk jadwal kunjungan berikutnya. Dengan berat hati, akhirnya kami meninggalkan Al Falah.

Menyempatkan makan siang dan sholat sebelum sesi kunjungan berikutnya
            Dari Bantargebang, saya kembali membawa Stefano, Mbak Bayu, dan Ade menuju SDIT Thariq bin Ziyad. Cuaca panas ternyata memaksa kami untuk mampir sejenak di sebuah restoran sederhana. Kami memesan menu makan siang dan bergantian sholat. Saya puas ketika melihat Stefano menyantap menu pilihan istrinya dengan lahap. Syukurlah … menu pilihan mereka di resto pilihan saya memuaskan mereka. [Wylvera W.]

(Bersambung ….)


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...