Senin, 09 Januari 2017

Pelatihan Menulis di SD Islam Al Azhar BSD

            Salah satu kebahagiaan yang membuat saya merasa harus terus menulis adalah ketika selesai memberi pelatihan tentang menulis itu sendiri. Rasanya ilmu yang saya punya tetap hidup dan berkembang sedemikian rupa. Itu sebabnya, saya selalu sulit menolak setiap tawaran untuk menjadi pemateri di pelatihan menulis cerita, baik untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. Meskipun ilmu menulis cerita yang saya miliki tidak semumpuni penulis-penulis kondang, namun naluri berbagi itu selalu menjadi prioritasnya.
            Pada bulan November 2016, saya diminta untuk menjadi pemateri oleh ibu-ibu pengurus BKOMS (Badan Koordinasi Orangtua Murid dan Sekolah) SD Islam Al Azhar BSD. Setelah melakukan pertemuan, akhirnya diputuskan bahwa acara akan digelar pada hari Kamis, 10 November 2016. Bertepatan dengan peringatan “Hari Pahlawan”. Saya diminta memberi pelatihan menulis kepada kurang lebih 300 siswa dari kelas 3, 4, 5, dan 6.

10 November 2016
            Tibalah hari yang ditetapkan. Pagi-pagi sekali saya sudah meluncur di jalan tol. Alhamdulillah, saya tiba lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Setelah menikmati sarapan di kantin sekolah yang megah itu, saya langsung diajak menuju aula. Saya terpana melihat backdrop yang terpampang di dinding bagian depan aula tersebut. Tiba-tiba dada saya sesak oleh rasa tersanjung. Karena masih sepi, saya sempatkan berfoto di depannya. 

            Sambil menyiapkan laptop dan materi yang sudah saya bawa, panitia juga mulai sibuk mengatur ruangan yang sebenarnya sudah tertata rapi. Pelatihan katanya akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk murid kelas 3 dan 4. Sesi kedua untuk murid kelas 5 dan 6. Tidak terlalu menunggu lama, suara-suara riuh pun terdengar. Anak-anak mulai memasuki ruangan dengan arahan ibu-ibu pengurus BKOMS. Mata saya langsung berbinar melihat keantusiasan mereka. Bahagia sekali rasanya. 

Hj. Endang Pujiati Sembiring (MC)
Hj. Dra. Akhsid Utami (Kepala Sekolah)
            Setelah semua berkumpul di aula, acara pun dibuka oleh pembawa acara, Ibu Hj. Endang Pujiati Sembiring. Setelah itu dilanjut oleh sambutan Kepala Sekolah, Ibu Hj. Dra. Akhsid Utami.  Dalam sambutannya, Ibu Kepala Sekolah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari materi bulan bahasa di sekolah tersebut. Banyak kegiatan yang sudah dilakukan, dan pelatihan menulis adalah salah satunya, kata beliau. Beliau juga berharap dari pelatihan menulis ini kelak akan melahirkan penulis-penulis cilik berbakat dari sekolah mereka. Saya mengaminkan harapan beliau dalam hati.

Pelatihan menulis pun dimulai
            Seperti biasa, saya selalu mengawali pelatihan menulis dengan salam pembuka dan memperkenalkan diri. Selain itu, untuk menjalin kontak yang baik dengan anak-anak, saya juga tidak buru-buru berbagi materi. Saya sapa mereka dengan hal-hal terkait dunia kepenulisan. Dengan jumlah murid sekitar 150 anak (kelas 3 dan 4), tentu suara gemuruh saat anak-anak merespon pertanyaan saya kembali memenuhi aula. Saya kembali menenangkan suasana dan mengajak mereka untuk tekun menyimak materi tentang cara menulis cerita pendek yang akan saya sajikan. 


            Tema yang saya pilih adalah “Menulis itu Asyik”. Saya jelaskan untuk jangan pernah takut dan ragu-ragu ketika ingin menulis cerita. Kalau idenya sudah ada, mulailah menuliskannya. Bagaimana caranya? Saya menjelaskan tahapan yang bisa mereka praktikkan. Dari ide yang mereka pilih, agar lebih mudah memancing semangat mereka menuliskan ceritanya, mereka bisa menentukan nama-nama tokoh dalam ceritanya. Mulai dari tokoh utama sampai teman-teman maupun keluarganya. 
Saya memberi contoh buku kumcer murid-murid saya kepada mereka
            Setelah itu saya memberi tips untuk membuat poin-poin penting yang ingin mereka ceritakan tentang ide tersebut. Maksudnya agar ide yang sudah ada tidak terhenti secara tiba-tiba karena kehabisan bahan untuk diceritakan. Dari semua poin tersebut yang paling penting mereka pikirkan adalah konflik atau masalah apa yang dihadapi tokohnya. Saya jelaskan bahwa tanpa konflik/masalah, cerita tidak akan menarik untuk dibaca. Jadi, saya mengajak mereka untuk membuat konflik yang keren agar ceritanya seru untuk dibaca. Selain konflik/masalah, mereka juga harus membuat cara penyelesaiannya dengan baik. Tidak ujug-ujug konflik terpecahkan tanpa sebab dan akibat. 

            Di sela-sela penjelasan, saya tetap menjaga kontak dengan anak-anak tersebut. Berulang-ulang saya ajukan pertanyaan, “Apakah sudah mengerti dengan yang Bunda jelaskan?” Jika lebih banyak yang ragu-ragu menjawab “iya”, saya pasti akan mengulangnya dengan penyampaian yang lebih mudah untuk dipahami anak usia 8 – 10 tahun seperti mereka. Alhamdulillah, walaupun sesekali suara riuh memenuhi aula, konsentrasi mereka cenderung bisa saya jaga.


            Setelah semua materi selesai saya sampaikan, saya mengajak mereka untuk memraktikkannya. Agar lebih memudahkan, saya berikan pancingan sebuah ilustrasi/gambar. Saya minta mereka menulis sebuah cerita dari gambar yang saya berikan. Saya bebaskan mereka berkreasi dengan imajinasinya. Gambar yang saya berikan hanyalah sekadar untuk memancing ide mereka saja.
            Saat praktik menulis cerita, saya kembali bangga melihat semangat anak-anak SD Islam Al Azhar BSD ini. Mereka bergegas mengambil posisi untuk memulai tulisannya. Saya umumkan bahwa saya akan memilih lima cerita terbaik untuk mendapatkan buku karya saya. Wah! Mendengar itu, mereka kembali riuh. Saya tertawa dan terus menyemangati mereka agar menulis cerita yang keren, tidak biasa-biasa saja, dan seru konflik serta endingnya.


            Saat waktu berakhir, mereka berlomba mengumpulkan karyanya. Dua puluh pengumpul pertama saja yang akan saya nilai. Begitu perjanjian dan peraturan awalnya. Akhirnya terpilihlah lima penulis cerita terbaik yang mendapatkan hadiah buku karya saya. Kami sempatkan untuk berfoto bersama sebelum sesi kedua dilanjutkan.

            Sesi pertama berakhir dengan lancar. Saya beristirahat sejenak menyiapkan materi untuk murid-murid kelas 5 dan 6 di sesi kedua. Materinya sedikit berbeda dengan adik-adik mereka. Saya menambahkan cara menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita yang akan mereka tulis. Semakin unik karakter tokoh utamanya maka akan semakin cepat diingat oleh pembacanya, begitu saya jelaskan.
            Kalau di sesi pertama, saya tidak sempat membuka kesempatan untuk tanya-jawab, maka di sesi kedua saya memberi kesempatan itu. Beberapa murid berlomba untuk mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat, “Kalau kita bikin cerita dari cerita yang pernah kita baca, boleh nggak, Bu?” Pertanyaan itu sangat menarik. Saya jelaskan bahwa banyak cerita-cerita yang pernah kita baca seolah mirip satu dengan lainnya. Mengapa demikian? Sebab, hampir tidak ada yang benar-benar baru di dunia cerita. Semakin banyak cerita yang dibaca maka ketika ingin menuliskan cerita kita sendiri, tanpa sadar kita akan terinspirasi oleh cerita-cerita yang kita baca.
            “Yang tidak boleh atau diharamkan dalam dunia kepenulisan adalah mencontek bulat-bulat alias plagiat. Kalau terinspirasi, boleh-boleh saja asal tidak menjiplak utuh nama tokoh, setting, alur cerita terutama konflik serta endingnya.”

Sesi untuk kelas 5 dan 6
            Berikutnya saya diberitahu bahwa murid-murid SD Islam Al Azhar tersebut sudah memiliki tabloid. Beberapa pengurus tabloidnya ada di ruangan tersebut. Saya kagum mendengarnya. Selanjutnya, saya sedikit mengalihkan materi. Walaupun materi menulis cerita dan berita itu berbeda, namun pada dasarnya unsur yang tidak boleh mereka abaikan adalah tentang 5W + 1H. Unsur ini pun ada dalam penulisan cerita. Yang membedakannya adalah faktual, aktual, dan tidaknya. Lalu, saya jelaskan sekilas tentang kerja seorang jurnalis. 
            Setelah itu, seperti di sesi pertama, saya kembali mengajak murid-murid kelas 5 dan 6 ini memraktikkan materi yang sudah mereka dapat. Saya juga memberikan pancingan dua gambar untuk mereka jadikan ide ceritanya. Peraturannya sama. Dua puluh pengumpul cerita pertama saja yang akan saya nilai.

Cinderamata dari Ketua BKOMS
Bersama ibu-ibu pengurus BKOMS
            Akhirnya kembali terpilih lima penulis cerita terbaik yang mendapatkan hadiah buku karya saya. Sesi foto bersama tentu menjadi penutup yang berkesan. Tidak hanya dengan para penulis ciliknya, tapi dengan panitia BKOMS juga.

Pulang membawa kesan indah
            Betapa rasa tersanjung itu terus saya rasakan. Selepas menjadi pemateri menulis, bingkisan cantik menjadi oleh-oleh manis yang saya terima. Sepertinya tidak cukup itu saja. Panitia menjamu saya untuk makan siang di salah satu restoran yang lokasinya masih seputar BSD. Masya Allah … dalam hati saya berharap agar apa yang saya berikan kepada murid-murid SD Islam Al Azhar BSD tersebut bermanfaat dan bisa diaplikasikan ke depannya. 

            Saat menuju pulang, saya kembali mendoakan agar semakin banyak anak-anak yang tertarik untuk mencintai dunia menulis dan membaca. Semoga dari mereka kelak akan lahir penulis-penulis cerita dengan karya-karya keren yang abadi sepanjang masa.
Terima kasih, ibu-ibu panitia. Semoga kehadiran saya benar-benar meninggalkan manfaat buat para buah hatinya. Aamiin. [Wylvera W.]

Senin, 05 Desember 2016

Cemburu itu Membuat Saya Malu


 
Sumber foto: WhatsApp Group

            Sebelum berbagi pengalaman versi saya tentang aksi damai 411 dan aksi super damai 212, saya mohon perlindungan terlebih dahulu kepada Allah. Semoga tidak terselip niat riya selama menyelesaikan cerita yang sarat dengan segala rasa ini.
            Bismillah ….
Sebagai seorang yang aktif di facebook, teman-teman yang ada di friend list saya mengenal saya sebagai penulis. Selain itu sebagian dari mereka juga tahu kalau saya adalah guru ekstrakurikuler jurnalistik dan menulis di salah satu sekolah Islam Bekasi. Sejak memiliki akun fecebook, saya hampir tidak pernah memasang status yang rentan memancing perdebatan. Status saya biasanya terkait dengan buku atau karya-karya saya, cerita-cerita tentang anak-anak saya, dan pengalaman lain yang ringan-ringan. Mungkin itu sebabnya belakangan ini ada satu dua orang yang penasaran dan mengajukan pertanyaan.
            "Mbak Wyl beda ya sekarang. Status-statusnya di FB beda banget. Nggak nulis buku lagi ya, Mbak?"
            Semua itu berawal dari kasus dugaan penistaan terhadap Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 51 yang merebak di media sosial. Meskipun mulanya saya belum begitu tergerak untuk menyikapinya. Saya biarkan hati saya terus mengikuti perkembangan beritanya. Hingga akhirnya saya sadar bahwa sebagai umat Islam, saya tidak seharusnya diam dan menjadi penonton saja. Quote-quote penggugah rasa pun bertebaran di facebook. Hati saya begitu tercubit saat membaca apa yang dikatakan oleh Buya Hamka.
“Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan 3 lapis, sebab kehilangan ghirah sama dengan mati.” – (Buya Hamka). 


            Walaupun sebenarnya Al Qur’an tak butuh pembelaan, sebab Allah SWT telah menjaganya hingga akhir zaman nanti. Namun, sejak itu, hati saya seperti digiring untuk terus melakukan pembelaan. Saya mulai merasakan kemarahan dan kekecewaan. Saya terluka dengan penghinaan itu. Mengapa ayat Al Qur’an yang agung dan merupakan firman Allah SWT yang menjadi pedoman umat muslim dalam menjalankan aqidahnya dinodai sedemikian rupa? Saya tidak boleh diam saja tanpa bersikap.
Saya malu jika mengingat kisah semut Ibrahim. Kalau seekor semut saja mampu memosisikan dirinya, kenapa saya tidak? Sejak itulah status-status saya di facebook mulai menampakkan keberpikahan saya yang sesekali memancing perdebatan. Sampai saya pun akhirnya mengambil jalan memutus pertemanan di facebook dengan teman yang komentar-komentarnya sangat tendensius dan cenderung merusak mood saya. Untuk itu, saya mohon Allah mengampuni sikap ketidaksabaran dan kekurangikhlasan saya.       
Kembali ke pertanyaan teman tersebut, saya pun memberi jawaban dari apa yang saya rasakan. Inilah jawaban saya di facebook;
Saat ini iya, saya jeda dulu dari menulis untuk buku. Hati saya sedang fokus pada menulis dan menyuarakan apa yang sedang diperjuangkan saudara-saudara seiman saya. Walau hanya di status facebook. Kan saya sejatinya hanya ibu rumah tangga. Tidak terdesak oleh tuntutan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Jadi saya punya waktu lebih banyak untuk melibatkan diri. Di luar sana, banyak perempuan muslim yang bekerja full time saja rela meluangkan waktunya untuk memperjuangkan kasus yang masih belum kelar ini. Masa saya cuek sih? Saya takut nanti Allah murka pada saya. Na'udzubillahimindzalik. Saya nggak siap mempertanggungjawabkannya di yaumil hisab nanti. Saya rasa saya masih punya waktu untuk ikut berjuang walau efeknya kecil, dan mungkin nggak ngaruh juga. Namun, semoga yang kecil sekali ini, Allah jadikan tabungan saya untuk di sana nanti. Aamiin.”
Meskipun demikian jawaban saya, jauh di lubuk hati, saya tetap menyimpan rasa cemburu itu. Dan bisa jadi ada riya bersemayam diam-diam di sudut hati ini tanpa saya sadari. Astaghfirullah. Sejujurnya, apa yang saya lakukan tidaklah berarti. Saya hanya mampu membela dari wall fecebook saya saja. Bahkan saat saudara-saudara seiman saya turun berkumpul melakukan Aksi Bela Islam II, pada tanggal 4 November 2016 (411), saya tidak bisa melibatkan diri. Walau hati ini ingin sekali ikut bersama mereka, saya tetap tidak bisa. Sebab saat itu saya sedang ada di Lombok.
Saya cemburu sekali pada mereka, sehingga keberadaan saya di Lombok terasa tidak maksimal karena pikiran saya terpecah. Saya cemburu jika karena ketidaktotalan saya berjuang, Allah akan murka pada saya. Saya cemburu jika momen ini tak memberi kesempatan pada saya untuk menambahkan berat pahala sebagai penolong saya di yaumil hisab nanti. Astaghfirullah ….
Sepulang dari Lombok, saya kembali fokus mengikuti perkembangan kasus penistaan Surah Al Maidah ayat 51 ini. Sampai akhirnya tuntutan bergulir pada tahap  bahwa Basuki Tjahaya Purnama/Ahok diputuskan sebagai tersangka. Alhamdulillah.
            Tuntutan umat muslim yang merasa kitab sucinya dinistakan belumlah usai. Walaupun Ahok telah diputuskan sebagai tersangka, namun keberadaannya masih bebas. Para ulama kembali berjuang untuk melakukan tuntutan hukum agar Ahok segera diadili dengan tuntas. Atas kuasa dan izin Allah SWT, akhirnya sampailah pada kesepakatan untuk menggelar “Aksi Bela Islam III” pada tanggal 2 Desember 2016. Kesepakatan itu saya saksikan di layar tivi. Tidak hanya saya, di sebelah duduk Mama saya yang begitu serius menyimak acara tersebut. 

Mama saya menyiapkan bekal ikut aksi 212
            Yang paling membuat saya terkejut, saat Mama saya tiba-tiba menyatakan keinginannya untuk ikut aksi 212 itu.
            “Serius Mama mau ikut? Kok tiba-tiba mau ikut, kenapa , Ma?” tanya saya masih belum yakin.
            “Iya. Kemarin jujur saja, Mama takut waktu kau bilang kalau ada demo lagi mau ikut. Mama takut terjadi apa-apa. Tapi begitu tadi mendengar Habaib Riziq bilang akan aman karena aksinya super damai, Mama jadi yakin mau ikut denganmu. Malu juga kalau cuma diam-diam di rumah, padahal hati Mama pun marah sama si Ahok. Bukan soal politik-politikan ini. Enggak ngerti Mama kalau soal itu. Mau ikut bantu berdoa. Mudah-mudahan habis aksi ini, Allah menolong umat Islam dan menunjukkan siapa yang salah,” jawab Mama bersemangat dengan sudut pandangnya yang sederhana.
Masya Allah, cemburu di hati saya kembali mencuat mendengar kata-kata Mama saya itu. Puncak rasa cemburu itu, ketika saya mengikuti berita bahwa rombongan para santri dari Ciamis akan datang ke Jakarta. Mereka tidak datang dengan menumpang kendaraan, melainkan berjalan kaki. Foto-foto alas kaki santri yang bolong, santri dengan kondisi fisiknya yang jika dipandang oleh kasat mata, rasanya tidak mungkin sampai ke Jakarta dengan berjalan kaki, ternyata bisa tiba juga. Dan, masih banyak gambaran yang begitu menggetarkan hati. 

Rombongan santri Ciamis yang berjalan kaki dari tempat asalnya :'(
Sumber foto (atas dan bawah): Facebook

Allahu Akbar!
Lagi-lagi hati saya menangis. Saya menyaksikan kebenaran kabar itu di televisi dan media-media sosial. Siapa yang menggerakkan mereka? Uang? Perintah ulama? TIDAK! Mereka datang atas dorongan keyakinan (iman) serta nurani yang marah dan tidak rela menerima penistaan terhadap Al Qur'an, Surat Al Maidah 51 oleh Ahok. Ghirah yang ada di hati mereka tak surut saat mengetahui bahwa sempat ada pelarangan dari aparat kepolisian kepada pengusaha bus untuk menyewakan kendaraannya menuju Aksi Bela Islam III 212.  Lalu, sebesar apa kontribusi saya dan Mama saya pada perjuangan membela Al Qur’an dari penista tersebut? Tidak lebih besar dari senoktah. Ya Allah, ampuni kami ini.
Sehari sebelum Jum’at, 2 Desember 2016, saya seperti nyaris kehilangan kesempatan untuk mewujudkan keinginan hadir di Aksi Super Damai 212. Tiga kali mencoba bergabung dengan rombongan dari Bekasi, berakhir batal karena beberapa kendala. Namun, lagi-lagi atas izin Allah SWT, saya dan Mama akhirnya diberi kesempatan berangkat bersama rombongan mujahid dan mujahidah dari Pesantren Enterpreneur Bekasi. Alhamdulillah ….

Briefing di depan kantor PE, Emerald Sumarecon Bekasi sebelum berangkat
Menunggu keberangkatan dari stasiun kereta Bekasi
Dari keberangkatan itulah rasa cemburu saya mulai berkecamuk. Tiba di stasiun kereta, saya menyaksikan rombongan yang berniat sama, menuju Silang Monas Jakarta. Mulai dari yang muda, tua, hingga anak-anak pun ikut serta dengan menampilkan wajah-wajah yang mengekspresikan keberanian dan siap berjihad dalam pekik takbir yang berkumandang berulang-ulang.  Masya Allah … saya tak bisa melukiskan gemuruh di dada saya ketika itu. Sesak menahan tangis semakin terasa berat. Apalagi ketika menyadari bahwa semangat dan ghirah saya ternyata hanya sebutir debu di antara semangat mereka.
Tiba di stasiun Gondangdia, Jakarta, tubuh saya kembali bergetar pelan. Dada saya bolak-balik bergemuruh mendengar gema takbir yang berulang-ulang dikumandangkan para mujahid dan mujahidah yang semakin membaur dari segala penjuru. Saya lirik Mama saya sekilas. Mata beliau sudah sempurna bekaca-kaca menahan tangis. Mungkin Mama merasakan hal yang sama dengan saya. Sebab, ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Mama saya.

Dari stasiun Gondangdia menuju Silang Monas
Sumber foto: facebook

Rombongan kami pun akhirnya membaur dengan yang lainnya. Kami berjalan menuju Silang Monas. Seketika itu saya seolah diingatkan oleh suasana saat menjalankan prosesi berhaji yang berjalan bersama jema’ah menuju Mina untuk melempar jumrah. Merinding, degdegan, haru, berbaur menjalari tubuh saya.  Saya yang baru merasakan nikmatnya berhaji bulan September 2016 lalu, seolah dikembalikan pada suasana yang mirip di tanah haram, Mekkah. Gelombang manusia yang datang dari Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Palembang, Jogjakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi tumpah ruah di Jakarta. Saya yakin bahwa Allah SWT yang menggerakkan itu semua. Semua datang demi untuk satu tujuan, yaitu menuntut agar hukum ditegakkan seadil-adilnya bagi Ahok, si penista Surat Al Maidah 51.
Saya yang baru pertama kali ikut aksi demo, tentu saja takjub melihat pemandangan yang luar biasa itu. Sebentar-sebentar saya menarik napas agar air mata ini bisa ditahan. Dada saya sesak menahan haru yang meluap-luap. Apalagi saat berpapasan dengan para relawan yang begitu gesit membagikan makanan dan minuman di sepanjang jalan menuju Monas. Ya Allah, sampai saya sulit menolaknya, padahal tas saya dan Mama sudah sesak dengan makanan. Saya tidak berani menolak apa yang mereka berikan, sebab bagi mereka itu adalah nilai-nilai yang mereka yakini sebagai amalan jihad. Allahu Akbar!

video

Kenyataan itu kembali membuncahkan rasa cemburu di hati saya. Rasa cinta pada Al Qur’an dan Islam begitu besar sehingga membentuk kekuatan yang super dahsyat untuk sebuah tujuan yang sama. Dari pagi hingga selesai sholat Jum’at pada hari itu telah menyelipkan banyak sekali pengalaman dan kenangan indah dalam batin saya. Gema takbir dan tahlil dari jiwa-jiwa yang ingin membela kebenaran kian memenuhi lapangan Monas dan sekitarnya. Saf-saf untuk persiapan sholat Jum’at perlahan kian penuh. Merinding saya melihat kenyataan yang sedemikian menakjubkan itu. Sekali lagi, saya seolah terbawa ke suasana wukuf di Padang Arafah. Saat itu, air mata saya tak bisa dibendung lagi. Lepas sudah membasahi pipi ini.
Ketakutan dan kekhawatiran akan terjadi kerusuhan yang di awalnya sempat terselip sebelum tiba di area aksi superdamai, seketika pupus tanpa bekas. Bertukar dengan rasa syukur yang tak bisa digambarkan dengan keindahan kata-kata. Maha Mulia Allah SWT yang telah menggerakkan hati para hamba-Nya untuk menunjukkan pada dunia bahwa inilah umat muslim yang sesungguhnya. Yang selama ini kerap dikecam sebagai sumber kemunculan teroris, provokator, dan pandangan negatif lainnya. 

Saf para Mujahidah yang tetap tertib hingga akhir aksi
 Puncak kecemburuan saya akhirnya sampai pada momen pelaksanaan sholat berjema’ah. Saya yang saat itu sedang berhalangan sholat merasa sedih sekali. Sekuat  tenaga saya menenangkan hati dan meyakinkan diri bahwa sesungguhnya Allah sedang memberi kesempatan kepada saya. Dengan berhalangannya saya sholat, saya memiliki kesempatan untuk lebih melihat dan merenungi sekeliling saya saat itu. 

Hujan tak menghalangi kekhusyukan sholat
Ini salah satu yang membuat pipi saya basah air mata bercampur tetes hujan ;'(
Betapa keikhlasan itu jelas tergambar di mata saya begitu melihat hujan yang kian tercurah dari langit Allah. Hujan yang sudah sempurna membasahi sajadah, mukena, hijab, dan baju mereka seolah menjelma seperti air yang menyejukkan jiwa. Mereka tetap khusyuk menegakkan sholat berjema’ah. Sama sekali tak membuat para mujahid dan mujahidah beranjak dari safnya. Ya Allah … Engkau tampakkan pada saya bentuk ikhlas yang demikian besar. Tak sepantasnya rasa cemburu ini saya simpan berlama-lama dalam hati. Astaghfirullah ….
Sekali lagi saya menyapu pandangan ketika semua khusyuk menegakkan sholat. Inilah ummat muslim yang selalu Allah jaga hati dan sikapnya dari keberingasan, kebusukan, serta kekotoran hati dan niat yang ingin menghancurkan keutuhan bangsa dan negara (NKRI). Kami datang dan berkumpul untuk melantunkan doa-doa demi mengetuk pintu langit dan memohon keridhoan Allah SWT untuk satu tujuan mulia. Kami hanya ingin hukum dan keadilan ditegakkan agar tak ada penista agama/kitab suci yang bisa bebas melakukan kesombongannya tanpa ganjaran. Semoga Engkau menggerakkan hati para pemimpin negeri ini, para penguasa dan penegak hukum untuk jujur menjalankan amanah dan tanggung jawabnya. Aamiin Ya Rabb.
Kami dan seluruh ummat muslim (rakyat Indonesia) yang mendukung aksi 411 dan 212 ini hanya menginginkan satu hal. Tuntutan ummat Islam terhadap tersangka penista Al Qur’an Surat Al Maidah 51, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) segera diproses dengan sejujur-jujurnya. Aamiin. [Wylvera W.]
       
Note: Semoga catatan ini menjadi pengingat saya dan anak cucu saya kelak. Aamiin          

Senin, 21 November 2016

Berbagi Pengalaman Menulis di SMA Negeri 1 Bekasi



            Pernah terlintas keinginan untuk berbagi tentang pengalaman menulis di SMA Negeri 1 Bekasi. Keinginan ini muncul karena anak pertama saya merupakan alumninya dan anak kedua saya masih bersekolah di sana juga. Saya pun masih menjadi pengurus komite sekolahnya. Namun, keinginan itu tak pernah tercetus. Hanya tersimpan di hati saya saja.
            Pucuk di cinta ulam pun tiba. Seperti ketemu jodoh. Hari itu saya di hubungi oleh Ibu dra. Mukaromah, M.Pd (Wakil Kepala Sekolah bidang humas). Beliau menanyakan kesediaan saya untuk menjadi narasumber dalam rangka gerakan literasi sekolah. Awalnya beliau lebih dulu menghubungi putri saya, Yasmin Amira Hanan. Berhubung Mira tidak bisa karena sedang ada ulangan tengah semester, maka sayalah yang diminta menggantikannya. Saya menyanggupi.
            Singkat cerita, tibalah di hari “H”, Senin, 24 Oktober 2016. Di awal, Bu Mukaromah tidak menjelaskan secara rinci materi apa yang diinginkan pihak sekolah. Beliau hanya menyebutkan apakah saya bisa mengisi acara kepenulisan. Saat saya tawarkan materi menulis fiksi, beliau meminta menambahkan materi penulisan nonfiksi. Materi itulah yang saya siapkan.


Begitu memasuki ruang auditorium SMA Negeri 1 Bekasi, saya sempat panik melihat backdrop yang terpampang. Di sana tertulis “Workshop Gerakan Literasi Sekolah, Membangun Komunitas Literat untuk Mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegence)”. Waduh! Saya tidak menyiapkan bahan yang tercakup secara rinci tentang delapan kecerdasan yang menggambarkan kecerdasan majemuk itu. Materi yang saya siapkan hanya mewakili penggalian kecerdasan bahasa (linguistic intelligence). Itu pun hanya seputar kepenulisan saja. Otak saya berpikir cepat agar materi saya bisa diselaraskan dengan tema.

Sesi penyajian materi
Acara akhirnya dibuka oleh MC. Berikutnya Drs. Mawar M.Pd (Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bekasi) menyampaikan sambutannya dan menjelaskan latar belakang diselenggarakannya acara tersebut. Pak Mawar menekankan pada gerakan membaca dan menulis. Beliau mengharapkan agar siswa-siswi SMA Negeri 1 semakin meningkatkan kegiatan membaca agar mampu menghasilkan karya tulis seperti tulisan nonfiksi, fiksi, sastra, dan lain sebagainya. Perasaan saya langsung lega karena ternyata materi yang saya siapkan tidak menyimpang dari tema yang diangkat oleh pihak sekolah.

Ruang auditoriumnya penuh :)
MC
Sambutan Kepala Sekolah
Selepas sambutan, acara sepenuhnya diserahkan kepada saya. Saat menaiki panggung dan menghadap ke peserta workshop, saya menatap ke mereka sejenak. Walaupun Bapak kepala sekolah sudah menyebut kehadiran mereka, saya baru sepenuhnya menyadari kalau tidak hanya para siswa SMA Negeri 1 Bekasi saja yang akan mengikuti acara tersebut. Duduk di bangku paling depan beberapa guru dan siswa yang khusus diundang dari SMA Negeri lainnya di Bekasi. Ada perwakilan dari SMA Negeri 2, SMA Negeri 5, SMA Negeri 14 dan lainnya. Saya harus siap.
Saya buka pertemuan dengan salam dan menambahkan sekilas latar belakang profesi saya yang belum sempat dijelaskan oleh Pembawa Acara. Setelah itu, saya langsung menampilkan materi yang telah saya siapkan di layar infokus. Seperti biasa, sebelum masuk pada materi inti tentang teknik menulis, biasanya saya selalu mengawalinya dengan menyajikan quote-quote yang sarat dengan motivasi. Tujuannya agar mereka memokuskan niat terlebih dahulu agar bisa menyerap apa yang akan saya sampaikan selanjutnya.

Masih pemanasan ^_^
Let's go!
Ada sedikit yang mengganjal hati saya saat menyampaikan materi. Biasanya saya lebih senang menggunakan mic tanpa wayar, sehingga saya bisa bergerak mendekati audience. Dengan cara seperti itu, saya merasa lebih dekat dengan mereka dan bisa memancing komunikasi dua arah. Tapi karena setting auditorium sudah seperti itu adanya, saya berusaha tetap merasa enjoy menyajikan materi di atas panggung dengan ruang gerak terbatas dari awal hingga akhir.
Selanjutnya saya menjelaskan tentang tulisan fiksi dan jenis-jenisnya secara umum. Setelah itu, saya memilih teknik dan tahapan menulis cerita pendek. Mulai dari cara menemukan ide, memilih ide yang unik untuk dijadikan cerita, hingga menjadikannya sebuah cerita yang menarik dan asyik untuk dibaca. Tidak hanya sajian tahapannya saja, saya juga memberikan contoh-contoh cara menuliskannya. Seperti membuat sinopsis awal yang bisa dijadikan pedoman saat menyelesaikan cerita pendek, hingga trik memilih judul untuk cerita yang telah ditetapkan.
Yang paling menarik saat menyajikan teknik menulis cerita pendek ini, saat tahapan sampai pada pemilihan karakter tokoh dalam cerita. Dari contoh-contoh karakter yang saya tampilkan, suasana ruang auditorium semakin mencair. Apalagi ketika saya menunjukkan gambar tokoh-tokoh karakter yang akrab di benak mereka. Mulai dari karakter ala Hollywood, sampai versi Indonesia. Seperti Harry Potter, Lord Voldemort, Maleficent, Cinderella, hingga Reza Rahadian yang memerankan tokoh Habibie. Saya memancing mereka agar memahami bagaimana triknya membuat karakter tokoh sedemikian rupa hingga sosoknya bisa melekat di benak pembaca sampai kapan pun. 


Tuntas membahas tahapan menulis cerita pendek, saya melanjutkannya dengan penulisan nonfiksi. Saya memulainya dengan menjelaskan apa itu tulisan nonfiksi. Karena durasi waktu yang diberikan kepada saya hanya dua jam, saya mengambil contoh termudah yaitu menulis artikel. Apa pun jenis tulisannya, semua bermula dari pemilihan ide.
Saya menjelaskan secara singkat perbedaan tulisan fiksi dan nonfiksi. Terutama pada bagian “berpikir sistematis”, “pengumpulan data” serta “alternatif pemecahan masalah” berikut contoh-contoh cara menuliskannya secara singkat. Beberapa siswa terlihat sangat serius menyimak. Ternyata mereka adalah pengurus tabloid sekolah. Tentu saja uraian materi nonfiksi menjadi menarik buat mereka. Saya tidak melewatkan kesempatan ini untuk sesekali berinteraksi.


Syukurlah, mereka tetap fokus dan tekun menyimak serta ikut tertawa saat saya “melempar” joke-joke di sela-sela penyajian materi. Di awal, Kepala Sekolah sempat mengenalkan bahwa saya adalah Ibu dari Yasmin Amira Hanan yang mereka kenal sebagai kakak kelas dan alumni sekolah mereka. Suara agak riuh, ketika Pak Mawar juga menyebut bahwa saya juga orangtua dari Darryl Khalid Aulia. Yang mengenal Khalid anak saya, tentu saja spontan mengeluarkan gumaman-gumaman yang bikin saya ingin tertawa. Satu point sebenarnya sudah saya peroleh. Rasa penasaran mereka membuat saya bersemangat saat naik ke panggung.

Yasmin Amira Hanan tiba-tiba muncul di ruangan, langsung saya todong
Di akhir sesi penyajian materi, saya sangat bersyukur, putri saya ternyata menyempatkan datang jauh-jauh dari UI (setelah menyelesaikan ulangannya) untuk memberikan motivasi singkat tentang menulis dan membaca. Ini momen singkat yang membuat saya merasa terlengkapi. Saya juga menayangkan hasil rekaman yang sempat saya minta dari Muthia Kairunnisa (Thia) dan Dinda. Mereka adalah dua penulis remaja yang telah meraih banyak prestasi di bidang kepenulisan.  

Sesi praktik menulis sinopsis cerita
            Memanfaatkan waktu yang tersisa, saya tidak meminta peserta workshop untuk menulis cerita pendek maupun artikel. Saya pilihkan yang termudah dan saya rasa bisa diselekasikan dalam waktu 15 menit. Mereka saya minta menulis sinopsis cerita yang mereka pilih lengkap dengan pengenalan cerita, konflik, dan ending secara singkat.
            Begitu kertas dibagikan dan waktu start diserukan, semua khusyuk menulis. Lima belas menit berlalu. Kalau ditotal semua sinopsis yang terkumpul, ada sekitar 100-an. Namun, saya terpaksa menggunakan cara penilaian cepat karena keterbatasan waktu. Di awal sesi praktik, saya telah mengumumkan bahwa saya akan menilai 15 sinopsis yang pertama kali diserahkan kepada panitia. Dari 15 itu saya akan memilih 3 sinopsis yang paling menarik untuk menerima hadiah buku dari saya.

Adli in action
            Demi mengisi waktu 15 menit untuk saya menilai, saya menantang mereka menampilkan kemampuan stand up comedy. Majulah satu orang siswa bernama Adli ke atas panggung. Ruang auditorium mendadak riuh oleh tawa. Adli tampil memukau dengan guyonan-guyonan dalam aksi panggungnya. Saya yang sedang menilai sinopsis peserta pun sesekali ikut tertawa. Luar biasa! Saya pikir siswa-siswi SMA Negeri 1 yang dipilih untuk mengikuti workshop ini adalah anak-anak seriusan. Tenyata tebakan saya salah total. Rasa humor mereka renyah dan mampu mengocok perut selama 15 menit itu. 

Inilah tiga peserta yang menulis sinopsis terkeren

            Satu lagi yang bikin saya kagum. Awalnya saya tidak mengira kalau Adli termasuk salah satu penulis sinopsis yang saya seleksi. Sinopsis Adli menjadi salah satu yang terpilih bersama dua sinopsis karya temannya. Bukan hanya humoris, Adli juga jago bikin sinopsis cerita yang keren.

Sesi foto-foto yang tidak lengkap
            Biasanya, di setiap akhir mengisi pelatihan menulis maupun mengisi acara parenting, panitia menyediakan waktu untuk foto bersama dengan peserta. Mungkin karena waktunya sangat sempit, maka ketika saya mengakhiri sesi workshop, peserta meninggalkan auditorium satu per satu. Tinggalah beberapa panitia (termasuk guru penanggung jawab) dan peserta yang masih bertahan dalam ruangan. Mereka menyempatkan diri meminta saya untuk berfoto bareng menggunakan hape mereka. Jadi, maaf … kalau tidak ada foto saya khusus bersama semua peserta workshop. *agak-agak menyesal tapi tetap puas kok*

Siswa dari SMA Negeri 14 Bekasi minta foto bareng saya :)
Ssst ... saya dicegat sama tiga dara ini. Hahaha ....
Saat keluar dan ingin meninggalkan auditorium, saya kembali dicegat oleh tiga siswi SMA Negeri 1 Bekasi. Ternyata mereka sengaja menunggu saya keluar untuk bisa diajak foto barsama. Mereka ini teman-teman seangkatan Khalid, putra saya. Bisa dibayangkanlah, sesi foto itu diwarnai ekspresi malu-malu. *ngikik dalam hati*
            Inilah cerita saya saat mengisi workshop kepenulisan di SMA Negeri 1 Bekasi. Walaupun mungkin tidak ada yang baru, semoga tetap ada rasa senang saat membacanya.
Salam literasi! [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...