Minggu, 26 Juni 2016

Ramadhan Writing Class dari Awal hingga Akhir



            Awalnya ada keraguan saat keinginan untuk menggelar kelas menulis buat anak-anak muncul kembali. Hal pertama yang membuat ragu itu semata-mata hanya karena sebagai penulis cerita anak, saya merasa tidak produktif setahun belakangan ini. Namun, kecintaan pada kegiatan mengajar dan berbagi ilmu jauh lebih kuat ketimbang perasaan minder itu, maka tekat pun dikuatkan.
            Seminggu Ramadan sudah berlalu. Saya menyampaikan usul untuk menggelar pelatihan menulis sebagai pengisi kegiatan Ramadan anak-anak di Bekasi kepada Mas Herdy Leonardi. Beliau ini adalah Murabbi anak-anak saya dan sekaligus karyawan di Graha Pesantren Enterpreneur, Rukan Eemerald Blok UF 08, Sumarecon, Bekasi.
            Niatan saya disambut baik. Selanjutnya saya teruskan usulan ini ke Mbak Ratna, istri Utadz Herdy sekaligus sahabat saya.  Mbak Ratna spontan menyambut dan antusias ingin mengkoordinir acaranya. Saya takjub karena Mbak Ratna bergerak cepat untuk mendapatkan izin memakai salah satu ruangan yang ada di PE tersebut. Sementara, saya dengan harap-harap cemas meneruskan niatan ini ke editor saya (Imran Laha) dari Penerbit Adibintang. Lagi-lagi, dukungan langsung saya dapatkan. Bahkan penerbit Adibintang mau memberikan hadiah buku-buku kerennya untuk sesi kuis. 

Flyer yang didesain oleh Pak Totok
            Singkat cerita, setelah mendapat izin tempat di Gedung Pesantren Enterpreneur, saya lagi-lagi didukung oleh PakHaji Toto Usprianto (Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al Hidayah tempat saya bermukim) dalam pendesainan flyer. Begitu pula dengan Mas Yudi yang berbaik hati mendesain x banner untuk hari "H". Masya Allah, hati ini bahagia sekali. Allah begitu Maha Pengasih, sebab dari awal hingga akhir Dia membentangkan jalan luas demi terwujudnya niatan tulus saya. Semua demi anak-anak yang berdomisili di Bekasi yang cinta pada dunia menulis.

Cemas menunggu yang mendaftar
            Sejak flyer diposting di facebook dan Instagram, deg-degan pun dimulai. Hari terus berlalu, sementara tanggal pelaksanaan semakin dekat (26 Juni 2016). Yang mendaftar baru 8 orang dari 25 kuota yang disediakan oleh Mbak Ratna selaku koordinator acara. Sampai di hari Jum’at, 24 Juni 2016, tiba-tiba peminatnya ramai, mencapai 24 orang. Lega rasanya, karena target kuota akhirnya terpenuhi dan tentu membuat saya semakin bersemangat ingin berbagi ilmu.
            Saya pikir, setelah 24 anak yang mendaftar, sudah tidak akan bertambah lagi. Ternyata di hari “H” malah berlebih menjadi 27 anak. Mbak Ratna tidak sampai hati menolak tiga anak yang datang bersama orangtuanya dan memberikan uang pendaftaran di tempat. Untunglah goodie bag yang disiapkan sengaja dilebihkan. 

X Banner cantik ini hasil desain Mas Yudi
Awalnya saya ingin membatasi usia peserta hanya boleh untuk kelas 3 sampai kelas 6 SD saja. Tapi permintaan para orangtua ternyata tidak bisa kami tolak, sehingga peserta pun terdiri dari anak kelas 2 SD hingga kelas 3 SMP. Ini membuat saya harus membongkar materi yang sudah ada di power point (bekas pelatihan-pelatihan sebelumnya). Saya harus menyeimbangkan bobotnya supaya bisa dipahami oleh yang kelas 2 SD tapi tidak terlalu ringan juga untuk yang SMP.

Writing Class pun berlangsung seru
            Acara pelatihan digelar di lantai 3 Gedung Pesantren Enterpreneur. Tidak ada eskalator atau lift menuju ke lantai tiga gedung itu. Namun, efek semangat untuk mendapatkan materi tentang menulis cerita, mengalahkan perasaan bakal mengalami kaki pegal dan napas ngos-ngosan menuju ruang pelatihan dalam kondisi berpuasa.
            Pfiuuuh! Lumayan ini naiknya, Bu,” ujar salah satu orangtua peserta yang ikut mengantarkan anaknya ke ruang pelatihan. Kami akhirnya sama-sama tertawa.

Tekun menyimak
Senang banget melihat keseriusan mereka
            Setelah semua hadir, saya pun memulai kelas dengan mengucapkan salam. Sebelum memberikan materi inti, saya memancing anak-anak dengan beberapa pertanyaan awal. Salah satunya tentang alasan mereka mau ikut di “Ramadhan Writing Class” bersama saya.  Wuaaah…! Saya sumringah ketika mereka antusias ingin menjawab.
            “Saya pengin nulis cerita!”
            “Pengin tahu gimana caranya bikin cerita yang bagus!”
            “Mau belajar nulis cerpen!”

"Mau belajar nulis cerpen!" - Naya
            Itu beberapa jawaban yang bikin bibir saya tersenyum puas dan ingin segera memulai kelas dengan semangat. Saya pun memperkenalkan diri kepada mereka. Saya sebutkan nama lengkap saya dan pengalaman yang telah saya peroleh selama menjadi penulis. Semua tekun menyimak dan sesekali terlihat ekspresi kagum dari wajah dan tatapan mereka. Saya sengaja melakukan itu agar mereka semakin antusias. Bukan untuk pamer tanpa alasan.
            Demi mencairkan suasana, saya tiba-tiba meminta mereka menyebut ulang nama lengkap saya. Tawa pun pecah ketika salah satu anak menyebut nama saya dengan terbata-bata dan kurang tepat. Akhirnya saya meminta mereka untuk memanggil saya dengan sebutan “Bunda Wiwiek” saja.
            “Tapi kalau kalian nanti pengin cari buku Bunda di toko buku, jangan cari nama Wiwiek ya. Nggak bakal nemu. Carinya tetap nama Wylvera W. ya…,” kelakar saya membuat mereka tertawa.
            Selanjutnya, materi tentang menulis pun meluncur satu per satu. Mulai dari menemukan ide, tips memilih ide keren dari beberapa ide yang muncul di kepala, membuat pohon ide, meringkasnya dengan membuat contoh dahan dan ranting ide, menentukan karakter tokoh, sinopsis pendek untuk memandu mereka dalam menuliskan ceritanya, membuat judul yang eye catching, memahami unsur-unsur penting yang wajib ada dalam cerita pendek hingga penyuntingan dialog-dialog panjang yang tidak perlu. 
          Semua berusaha saya sajikan dengan contoh dan penjelasan yang rinci serta mudah untuk dipahami.Yang paling seru saat membahas tentang karakter tokoh. Muncullah nama-nama Harry Potter, Cinderella, Dory (dari film Finding Dory), Tom and Jerry, Maleficent, sampai Bawang Merah dan Bawang Putih. Beberapa dari mereka ikut mengomentari dan bikin kelas lumayan ramai. Kelas ramai dengan celetukan-celetukan spontan dari mereka. 
Sesekali saya melempar pertanyaan. Mereka pun tetap antusias menjawab. Ketika saya tanya, apa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon penulis yang tidak boleh ditawar-tawar jika dia memang ingin terjun di dunia menulis? Anak yang bernama Amara lantang menjawab, “Membaca!” serunya mantap. Luar biasa! Ini membuktikan kepada saya bahwa anak-anak yang hadir dan ikut pelatihan menulis ini adalah anak-anak yang sungguh-sungguh ingin belajar menulis cerita. Amara mewakili teman-temannya dengan membuktikan diri bahwa mereka adalah anak-anak yang senang membaca juga. 
Cinta membuat ending "Cinta dan Es Krim"
Materi kembali saya lanjutkan. Setelah menetapkan konflik dan nama tokoh, salah satu peserta berhasil membuat saya kagum ketika saya memberikan contoh ilustrasi dan meminta mereka membuat dua kalimat saja dari gambar itu. Dua gambar yang terpampang di layar infokus (gambar anak perempuan dengan dompet kosong di tangannya + gambar es krim). Anak yang bernama Cinta membuat cerita singkat tentang gambar itu dengan ending yang bikin saya tercengang. Luar biasa, saya sendiri tidak sempat memikirkan akan menuliskan tentang ending seperti itu. 
“Cinta sedih karena dia tidak bisa membeli es krim favoritnya. Selain sakit flu, Cinta juga tidak punya uang. Namun, dia tidak putus asa. Ketika melihat seorang kakek pemulung yang keberatan memikul kardus-kardus bekas, Cinta menawarkan diri membantu membawakannya. Sesampainya di gubuk Kakek pemulung itu, Cinta terkejut. Si Kakek pemulung itu memberinya uang sebagai ucapan terima kasih. Cinta tidak tega menolaknya. Setelah itu, Cinta pun bisa membeli es krim favoritnya.”

Amara menjawab pertanyaan
Laili lupa-lupa ingat jawabannya ^_^
Untuk Cinta, saya memberikannya hadiah buku dari penerbit Adibintang. Sebelum masuk ke sesi praktik, saya menguji daya serap dan ingatan mereka terhadap materi yang sudah saya berikan. Ada delapan pertanyaan seputar materi menulis yang saya ajukan. Hebat! Mereka berebut angkat tangan untuk menjawab. Siapa cepat dia dapat tentunya. Delapan buku hadiah dari penerbit Adibintang pun mereka perebutkan dengan seru dengan menjawab semua pertanyaan dengan tepat.

Empat cerita terbaik
            Setelah materi menulis selesai saya berikan, tibalah di sesi praktik membuat cerita pendek dengan bantuan ilustrasi. Ada dua ilustrasi yang saya berikan. Mereka bebas memilih. Saya berikan waktu tiga puluh menit untuk mereka. 

Pada serius bikin cerpennya


            Perhatian saya langsung tertuju pada anak yang masih kelas 2 SD tadi. Saya pikir dia menyerah dan merasa kalah dari kakak-kakaknya yang lain. Ternyata, Nayla (nama anak itu) tetap bersemangat dan berusaha membuat cerita versinya. Masya Allah … terharu hati saya melihat semangat Nayla dan dua temannya yang sama-sama masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.
            Tiga puluh menit pun berlalu dan saya harus memilih 4 cerita terbaik dari 27 cerita yang sudah mereka kerjakan. Tentu saja, tidak semua mampu menyelesaikan dengan tuntas. Saya tetap memberikan apresiasi untuk usaha mereka. 

Delapan anak yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar
             Akhirnya terpilihkan empat cerita terbaik, masing-masing dengan judul dan nama penulisnya. Masing-masing mereka mendapatkan satu buku karya saya dan penerbit Adibintang.
  1.       Tongkat yang Menghilang – Nisa
  2.       Nina dan Nino – Azka Awalinda Isra
  3.       Cerita oleh Ibu – Aufa (ini anak cowok lho)
  4.       Kemah Sekolahku – Cintania Aulia Adi Putri
Empat cerita terpilih

Ini penulisnya ;)
           Sebelum menutup “Ramadhan Writing Class”, kami pun berfoto bersama dan anak-anak dioleh-olehi goodie bag sebagai bentuk rasa terima kasih kami. Saya berharap, setelah pelatihan ini, mereka semakin percaya diri untuk berani menulis kisah-kisah dari ide-ide keren yang mereka temukan. Aamiin.

Foto bersama peserta dan Bunda Ratna
            Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada Ustadz Herdy Leonardi, Syarifah Ratna Alaydrus (Ratna), Pak H. Toto Usprianto, Mas Yudi, Penerbit Adibintang dan Mas Imran Laha, Pesantren Enterpereneur yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Tak lupa ucapan terima kasih saya kepada para orangtua yang telah memercayakan anak-anaknya untuk mengikuti “Ramadhan Writing Class” ini bersama saya. Semoga apa yang saya berikan di momen Ramadan ini memberikan manfaat dan berkah. Aamiin.
Sampai jumpa di pelatihan menulis berikutnya. Salam. [Wylvera W.]
           

Jumat, 10 Juni 2016

Delapan Cara Membuang Amarah, Benci, dan Dendam




“Jangan kurang ajar kau ya. Kuhajar kau nanti!”
“Jangankan lihat mukanya, dengar suaranya aja aku gak suka!”
“Dia sudah nyakitin hati aku, gimana nggak dendam coba?”
 
          Cobalah baca kalimat-kalimat di atas. Apa yang terasa? Betul, kalimat di atas adalah ungkapan dari kemarahan, kebencian, dan dendam. Tentu saja, sangat tidak nyaman dibaca dan didengar ketika kita sadar dan terjaga. Namun, bukan tidak mungkin kita pun pernah melakukannya. Sebab, di setiap detik napas kita, syaitan tak pernah diam dan lengah untuk terus menggoda.

         Salah satu senjata syaitan untuk menghancurkan akhlak manusia adalah menggodanya untuk marah. Jika sudah masuk dalam perangkap amarah, maka syaitan pun akan mudah mengendalikan kita. Selanjutnya kita pun akan mudah melepaskan kata-kata di atas. Duh! Seram ya…?

         Amarah adalah perasaan tidak senang dan gusar terhadap sesuatu. Benci artinya tidak suka, tidak tertarik terhadap seseorang atau sesuatu, bisa atau tanpa sebab. Sementara dendam adalah sebuah perasaan yang berkeinginan untuk membalas. Coba tanya hati kita masing-masing. Pernahkah kita meluapkan amarah, menyimpan dendam dan rasa benci di hati? Pernahkah kita memutus tali silaturahmi akibat ketiga hal negatif itu? Apa yang kita rasakan jika ketiga hal negatif itu terselip di hati? Tidakkah kita dihantui rasa resah?

          Setiap manusia tentunya berharap bahwa hidupnya selalu damai dan tenteram. Baik itu dalam lingkungan keluarga, teman, dan di mana saja. Namun, sebagai makhluk sosial yang kerap berinteraksi dengan manusia lainnya, siapa yang bisa menduga, kapan masalah akan menghampiri kita. Masalah itu pula yang akhirnya menyebabkan kita tergoda untuk marah, dendam, dan membenci. Sementara kemampuan setiap manusia dalam mengatasi amarah, dendam, dan kebencian pun tentulah berbeda-beda. Namun, kita juga diberi akal untuk berusaha dan belajar terus-menerus untuk terampil mengendalikan amarah yang akan berefek pada rasa benci dan dendam itu.

           Sebagai umat Islam, saya takut sekali. Sebab kemarahan, dendam, dan kebencian sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Lebih jauh lagi, muslim yang menyimpan amarah, dendam, dan kebencian di hatinya, maka semua amalannya akan tertolak. Na’udzubillahimindzalik.

       Lalu, bagaimana cara untuk mengendalikan bahkan melenyapkan amarah, dendam, dan kebencian itu? Di agama saya (Islam), banyak sekali tuntunan yang mampu menjauhkan kita dari dari amarah, dendam, dan benci ini. Dan, saya yakin, agama lainnya pun begitu.

        Di postingan ini, saya tidak membahas cara mengatasi ketiga sikap negatif itu dari sudut pandang agama saya. Saya ingin berbagi secara umum saja. Kita bisa melakukan beberapa langkah berikut agar terbebas dari tiga sikap negatif itu.

1. Diam
Dalam keadaan marah, biasanya kata-kata atau kalimat yang muncul adalah sarat dengan kata-kata menyakitkan. Jika hal ini tidak diredam, maka bukan tidak mungkin akan memunculkan keinginan untuk membalas dari pihak lawan. Terciptalah lingkaran yang tidak sehat dan bahkan bisa menciptakan permusuhan tak berkesudahan. Untuk itu, berusahalah diam saat hati dipenuhi rasa marah. Tarik napas dalam-dalam lalu lepaskan. Kondisi ini pelan-pelan akan memberikan waktu pada kita, sehingga rasa emosi itu menjauh dari hati kita.

2. Jangan pedulikan
Biasanya kemarahan akan muncul bila kita terlalu memedulikan perkataan negatif orang lain terhadap diri kita, baik itu secara langsung maupun sindiran. Namun, jika kita tidak merespon dan tidak memedulikannya, maka hal-hal yang memancing kemarahan itu akan lebih mudah dikendalikan.

3. Selalu bersikap baik
Kemarahan kerapkali disebabkan oleh sikap-sikap yang kurang menyenangkan dari salah satu atau kedua belah pihak. Seterusnya bukan tidak mungkin akan terjadi permusuhan berkepanjangan. Maka untuk menghindari situasi tersebut, berusahalah selalu bersikap baik. Yakinkan diri bahwa sikap yang baik Insya Allah akan melindungi kita.

4. Toleran
Orang yang terampil bertoleransi, hidupnya cenderung lebih damai. Kita tidak pernah tahu latar belakang mengapa orang lain selalu memberi kesan buruk terhadap kita. Begitu juga sebaliknya. Belajarlah bertoleransi menghadapi orang yang menyebalkan dan memancing amarah kita.

5. Interospeksi dan minta maaf
Ini yang terkadang sulit kita lakukan. Ego dalam diri kita sering mengalahkan hati untuk melakukan interospeksi. Dengan melakukan interospeksi, maka kita tidak mudah untuk menyalahkan orang lain. Jika kita sudah menemukan kekeliruan itu, segeralah meminta maaf. Namun jika kita tidak menemukan kesalahan dalam diri kita, jangan membiarkan kemarahan bersemayam, ambillah cara agar kemarahan pada seseorang itu mencair.

6. Berpikir positif
Misalnya seseorang telah melakukan hal yang membuat kita marah. Jangan buru-buru membalas kemarahan tersebut dan membencinya. Berusahalah melihat hal-hal positif lainnya. Fokuslah pada hal yang positif itu sampai amarah dan rasa benci kita menguap sehingga tak menyisakan dendam setelahnya.

7. Tersenyum
Senyum adalah ibadah dalam keyakinan saya. Lagi-lagi saya yakin, demikian juga di keyakinan lainnya. Dengan senyuman yang tulus, orang tidak akan mudah menebak isi hati kita. Justru senyuman yang kita perlihatkan akan memberi aura damai bagi orang lain.

8. Memaafkan
Gampang diucapkan tetapi sulit untuk dipraktikkan. Memaafkan adalah sikap mulia yang akan membawa kita pada kedamaian. Memang tidak mudah. Apalagi jika hati kita sudah sedemikian terluka. Namun, jika kita berusaha dan mau melakukannya, percayalah … efeknya sangat luar biasa. Tidak hanya pada perasaan kita, tapi juga untuk kesehatan jiwa dan raga.

          Inilah delapan upaya yang harus kita coba melakukannya saat hati kita tersulut kemarahan lalu melahirkan kebencian dan dendam di hati. Selamat mencoba, semoga berhasil. [Wylvera W.]

Selasa, 17 Mei 2016

Campur Tangan Allah itu Nyata



            Saya sadar, kalau cerita ini bisa saja dialami oleh para orangtua lainnya. Namun, hati saya begitu kuat untuk tetap mencatatnya di blog ini. Bukan untuk riya. Tidak samasekali. Niat saya sederhana saja. Ingin mengabadikan momen yang pernah saya lewati bersama anak sulung saya, Mira. Dan yang terpenting, saya ingin membagi keyakinan, bahwa Allah itu sungguh Maha Pengasih dan Penyayang.
Mira masih 3 tahun
            Sebagai anak pertama dan kebetulan cucu pertama pula dari kedua belah pihak keluarga saya dan suami, Mira seolah jadi pusat perhatian. Awal-awal kelahirannya menjadi hadiah terindah bagi keluarga saya dan suami. Mulai dari pemberian nama dan ulang tahun pertama hingga beberapa tahun setelahnya pun, kami ungkapkan dalam bentuk tasyakuran. Yasmin Amira Hanan, sebuah nama pemberian saya dan suami ditabalkan di Medan. Sebuah pesta sederhana yang berlangsung di rumah saya kala itu, dihadiri oleh sanak famili. Rasa syukur dan bahagia mewarnai suasana saat itu.
            Keluarga kecil kami tidak tinggal di Medan (kampung halaman saya dan suami). Kami sempat tinggal di Komplek Perdatam, Jakarta Selatan, waktu itu. Hanya setahun. Jelang empat bulan usia Mira, kami pun pindah ke Bekasi hingga saat ini. Setiap tahun menjadi tradisi kami untuk mudik ke Medan. Saat itu ketika usia Mira tepat setahun, bertepatan dengan Idul Fitri, saya dan suami kembali menggelar acara tasyakuran. Mensyukuri setahunnya umur Mira.
            Begitulah, sebelum adiknya dan sepupu-sepupunya lahir, perhatian para kakek dan neneknya belum bergeser. Mira jadi tumpuan kasih sayang kami. Seiring berjalannya waktu, cucu-cucu lainnya pun lahir. Porsi untuk Mira pun mulai terbagi. Seolah tanpa diatur oleh hal-hal tertulis, keberadaannya jadi contoh atau tolok ukur buat adik-adiknya. Waktu itu, saya tidak pernah menyadarinya. Namun dari waktu ke waktu, karakter Mira kian terbentuk sedemikian rupa. Bisa jadi dia tanpa sadar pelan-pelan memosisikan dirinya sebagai “Kakak Tertua” dari adik kandung dan sepupu-sepupunya.

Mira masih TK
            Mira pun masuk play group, TK A dan B, hingga sekolah dasar. Tidak pernah sekalipun saya mempersiapkannya untuk jadi yang terbaik di mata adik-adiknya. Namun, itu tadi, Mira tanpa sadar mendorong dirinya sendiri untuk berada di posisi itu. Beberapa prestasi pun kerap diperolehnya. Di play group saja, sudah ada beberapa piala yang dihasilkannya. Begitu juga di TK, SD, SMP, hingga SMA. Dan semua keberhasilan itu tidak melulu terkait dengan bidang akademik saja.
Sempat beberapa kali terbesit di benak saya, “Apakah semua penghargaan yang pernah diperoleh Mira itu akan membuatnya sulit menerima kekalahan?” Ya, saya beberapa kali membaca ulasan dan paparan para pakar tentang perkembangan karakter anak. Wajarlah kalau saya khawatir. Disebutkan di beberapa artikel itu bahwa anak yang senantiasa mudah mendapatkan keberhasilan, egonya akan sulit dilenturkan. Keras kepala, mau menang sendiri, sulit bernegosiasi, dan hal lainnya yang mengarah ke sana bisa saja mendominasi karakternya. Kekhawatiran itulah yang mengiringi hati saya agar terus mendampinginya untuk mempersiapkan mental.
Tidak semudah itu membentuk karakter anak yang sejak awal merasa jadi panutan dalam keluarga. Namun saya tidak semudah itu juga untuk menyerah. Saya terus memengaruhi pola pikir Mira dalam menyiapkan hati menerima sebuah kekalahan. Itu saya mulai sejak dia masih duduk di sekolah dasar. Semua yang saya lakukan selalu saya sandarkan pada permohonan ridho dari Allah.  Namun, sekali lagi, memang tidak mudah. Sesekali terlontar dari mulutnya, “Aaah, kenapa nggak berhasil sih?” “Memangnya salahku di mana sampai bisa gagal ya, Bu?” “Kesal ni, Kakak … gagalnya di mana ya, Bu?” Dan, masih ada beberapa penolakan lain yang pernah terucap saat dia dihadapkan pada kegagalan.
Kondisi seperti itulah yang akhirnya membuat saya khawatir ketika Mira mulai duduk di bangku SMA. Tapi, Allah SWT ternyata mendengar kekhawatiran saya. Mira semakin hari semakin tumbuh menjadi pribadi yang wise. Saya pun terheran-heran sendiri. Sejak Allah menyembuhkannya dari pasca operasi pengangkatan batu di kantung empedunya (kondisi yang nyaris membuat hidup saya gamang waktu itu), saya diam-diam memerhatikan perubahan karakternya. Mira seolah terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih legowo, tidak terlalu ambisius, santai saat mendapatkan bahwa dirinya gagal menerima sesuatu. Meskipun sesekali masih muncul penolakan itu, namun tidak sekuat masa-masa sebelumnya. Alhamdulillah, semua karena izin Allah.
Hingga sampailah menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) yang akan mengantarkannya melepas masa SMA. Justru saya yang cemas. Sementara Mira santai dan seolah tidak terlalu terbebani dengan target-target. Begitu juga saat menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Awalnya Mira ingin mengambil jurusan kedokteran. Pilihan ini saya yakini hanyalah bentuk rasa hormatnya saja pada ibu dan bapaknya waktu itu. Ya, saya dan suami sempat mendengung-dengungkan bahwa dulu kami gagal untuk kuliah di jurusan itu. Mira seolah ingin mewujudkan mimpi kedua orangtuanya.
Di seleksi awal jalur undangan, sekolah melakukan pemetaan awal. Saat itu Mira memilih fakultas kedokteran. Begitu hasilnya keluar, posisi Mira ada di nomor urut tiga. Mira seperti disadarkan. Dia bilang ke saya, “Bu, sepertinya Kakak nggak cocok deh ambil kedokteran.” Saya terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Saya pikir dia serius mau mengambil jurusan itu. Namun ternyata Mira hanya ingin menguji kekuatan dan target dari nilai-nilai rapot yang telah diraihnya.
Wajarlah kalau ketika mendengar Mira memilih jurusan yang pernah menjadi obsesi saya dan bapaknya, saya senangnya bukan kepalang. Namun, saya buru-buru menetralkan perasaan. Sekuat hati saya tidak mau memengaruhi pilihannya. Mira yang tahu dia mau jadi apa nanti. Sebagai orangtua, saya dan bapaknya hanya memberikan fasilitas, mendukung, dan mendoakannya.
Sampailah pada akhirnya Mira memutuskan untuk pindah jalur dari IPA ke IPS. Mira memilih Fakultas Hukum UI untuk final pengisian data jalur undangan. Selain itu, Mira menemukan informasi tentang penerimaan jurusan yang sama namun di kelas internasionalnya. Waktu pendaftaran ternyata sudah sangat mepet, sementara syarat yang diminta ada yang belum dimiliki oleh Mira.
Saya dan suami menyemangati Mira agar tidak mundur sebelum bertanding. Akhirnya Mira juga mencoba keberuntungan untuk seleksi di Fakultas Hukum kelas internasional Universitas Indonesia - Talent Scouting. Ada beberapa syarat yang diminta. Pertama, harus memiliki sertifikat IELTS atau TOEFl dengan standar score 5,5. Kedua, harus membuat motivational statement (semacam application letter). Ketiga, nilai rapot semester 1 sampai 5. Keempat, sertifikat prestasi yang terkait.
Mira belum memilik sertifikat TOEFL maupun IELTS. Karena masih ada waktu, saya dan bapaknya pun sibuk menemaninya untuk mengikuti test IELTS waktu itu. Alhamdulillah, Mira berhasil meraih overall score 7 untuk IELTS. Ini menjadi pemicu harapannya untuk diterima di Faculty of Law UI International Class. 

Meraih gelar The Best Speaker
Berikutnya, Mira pun sibuk membuat motivational statement dan memilih tiga sertifikat yang pernah diperolehnya (salah satunya sertifikat “The Best Speaker pada kompetisi English Debating” antar SMA se-Bekasi). Semuanya sudah berhasil disubmit. Tinggal menunggu hasil.
Ketika UAN telah terlampaui, pengumuman kelulusan pun telah keluar, detik-detik kecemasan dimulai lagi. Jujur saja, orang paling cemas saat menunggu pengumuman kelulusan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah saya. Ya, saya … ibunya Mira. Daaan … Mira tidak lulus undangan. Saya pikir Mira down. Ternyata dia tenang-tenang saja. Justru sayalah yang agak cemas. Kalau jalur undangan tidak lolos, harapan berikutnya adalah Talent Scouting. Kalau itu pun gagal, Mira harus siap bersaing lewat ujian tertulis bersama ratusan siswa SMA lainnya lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan Simak UI.
Mira pun tidak mau konyol. Dia memilih untuk ikut kelas intensif IPS demi mempersiapkan diri di jalur-jalur test tadi. Talent Scouting sementara dilupakannya. Tiga tahun dijejali dengan pelajaran IPA membuatnya sedikit kesulitan saat pertama kali mendapatkan materi pelajaran IPS. Nilai tryout-nya pun standar sekali. Mira hanya mampu berada di urutan ke-50 di antara teman-teman lesnya. Minggu-minggu berikutnya, Mira terus berusaha hingga akhirnya ia mampu meraih hasil nilai tryout yang membawanya pada posisi 10 untuk kelas IPS.
Di tengah-tengah mempersiapkan diri untuk test SBMPTN dan Simak UI, tibalah saatnya menunggu pengumuman Talent Scouting FH UI, 16 Mei 2016. Ini seolah menjadi klimaks dari penantian kami. Mira kembali memunculkan rasa khawatirnya. Berulang-ulang dia bilang ke saya, “Kok tangan Kakak dingin ya, Bu. Jam tiga masih lama banget ya?” Duuuh … kondisi ini mau tak mau membuat saya ikut cemas, bahkan lebih cemas dari Mira sendiri. Termasuk ibu saya (Nenek) pun yang awalnya tenang akhirnya terbawa cemas.
Menjelang pukul 15.00 WIB, kami semakin uring-uringan. Begitu tepat jam tiga, Mira langsung mengecek website. Berulang-ulang dicoba tetap saja gagal. Hingga akhirnya Mira memutuskan menunggu azan untuk sholat Ashar. Saya yang sedang tidak sholat menunggu dengan harap-harap cemas. Ibu saya pun mendahulukan sholat. Namun, saya tetap tidak berani mencoba-coba membuka website-nya.
Setelah selesai sholat, Mira berubah sedikit lebih tenang dan mulai membuka websitenya kembali. Akhirnya bisa! Mira memasukkan passwordnya.
“Ya Allah … Alhamdulillah, aku diterima! Aku lulus, Bu! Lulus!” serunya dengan suara serak. Saya spontan mencium kepalanya dan kami berpelukan (lebay ya … tapi sesungguhnya itulah yang terjadi). Sesaat setelah merasakan kegembiraan itu, saya buru-buru mengingatkan Mira untuk sujud syukur. Bahagianya tak terkira. Allah akhirnya menjawab doa-doa dan penantian Mira dan kami semua. Dan, saya percaya, bahwa keberhasilan ini sedikit banyak adalah berkat doa dari teman-teman saya juga (baik di facebook, whatsApp, dan lainnya).
“Alhamdulillah, aku sekarang sudah jadi mahasiswa ya, Bu. Doa-doa kita di sholat-sholat tengah malam itu sudah dijawab Allah. Alhamdulillah ya, Bu,” ujar Mira bikin kami tersenyum haru.
Speechless….  
Saya hanya tersenyum haru menyimak kata-kata Mira. Terima kasih, Ya Allah. Sungguh, kebesaran dan janji-janji-Mu untuk orang-orang yang ikhlas terbangun pada sepertiga malam, semakin membuktikan bahwa Engkau Maha Mengabulkan permintaan hamba-Mu yang bersungguh-sungguh berharap. Alhamdulillah….
Tanpa campur tangan-Mu, semua kebahagiaan yang Mira dan kami rasakan ini tidak akan terjadi. Untuk itu, kami kembalikan segalanya pada kuasa dan kasih sayang-Mu, Ya Allah. Perjalanan Mira masih panjang (jika Engkau meridhoinya). Ini adalah permulaan baginya dalam memasuki gerbang kedewasaan demi meraih cita-cita yang diinginkannya. Saya mohon, jaga dan bimbinglah anak kami untuk tetap tawadhu’ dan istiqomah dalam menuntut dan mengamalkan ilmunya - untuk dunia dan bekal akhiratnya - di jalan yang Engkau ridhoi. Aamiin …. [Wylvera W.]
           

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...