Sabtu, 23 Juli 2016

Cerita di Balik Pelatihan Menulis di Pulau Pramuka


Dokumentasi acara
       
         Bagaimana saya tidak mencintai profesi ini? Dari profesi sebagai penulis, saya telah menemukan banyak sekali pengalaman indah dan mengesankan. Permintaan untuk berbagi ilmu tentang menulis seolah tak pernah putus menghampiri. Bahkan ketika saya sedang merasa kurang produktif melahirkan karya buku pun permintaan itu tetap berdatangan. Seperti biasa, saya selalu sulit untuk menolaknya.
            Tepat sehari setelah memasuki Ramadan 1437 H, saya mendapat tawaran melalui inbox facebook.  Ade Ganiarti (teman saya yang juga penulis) menanyakan kesediaan saya untuk menjadi narasumber dalam kegiatan pencanangan “Gerakan Literasi Siswa SMA”. Seperti biasa, saya berusaha tidak menolak setiap tawaran untuk berbagai ilmu menulis, terutama untuk anak-anak dan remaja. Namun, kali ini murid-murid SMA yang akan saya berikan motivasi dan keterampilan menulis itu berada di Pulau Pramuka, salah satu pulau yang ada di Kepulauan Seribu Jakarta.
            Singkat cerita, Mbak Ade yang berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di salah satu SMA Jakarta itu menyambungkan komunikasi dengan Pak Firdaus, Kepala Sekolah SMA Negeri 69 Pulau Pramuka. Tawaran pun kembali diajukan langsung oleh Pak Firdaus lewat whatsapp (WA). Hingga akhirnya kami menemukan kesepakatan tentang tanggal dan hari pelaksanaan.

Menuju pantai Marina Ancol
            Menjelang hari “H”, saya sudah siap untuk berbagi pengalaman kepada murid-murid SMA N 69 di Pulau Pramuka. Tepat di hari Kamis, 21 Juli 2016, selepas sholat Subuh, saya sudah siap menyetir menuju pantai Marina Ancol. Dari sanalah kapal boat cepat yang akan mengantarkan saya menuju Pulau Pramuka. Saya tidak sendiri. Ada Ratna, sahabat yang Insya Allah akan selalu mendampingi saya di kegiatan pelatihan menulis. Ratna menyebut dirinya sebagai asisten. Sementara saya menjulukinya sebagai manejer. Lucu ya? Begitulah kami.

Menunggu naik ke kapal boat cepat
Menikmati ombak kecil menuju Pulau Pramuka
Pak Firdaus telah menyiapkan tiket pergi dan pulang untuk kami berdua. Tiba di pantai Marina Ancol, kami hanya perlu melakukan registrasi ulang di meja penjualan tiket, lalu menunggu waktu keberangkatan. Tidak hanya kami yang akan diantarkan oleh kapal boat cepat itu. Ada banyak pengunjung dan wisatawan yang akan turun di pulau-pulau kecil lainnya selain Pulau Pramuka. Begitu jam delapan, kami pun berkumpul di dermaga untuk menunggu giliran dipanggil menaiki kapal. Setelah semua penumpang kapal naik, perjalanan menempuh lautan lepas pun dimulai.

Tiba di dermaga Pulau Pramuka dan SMA Negeri 69 Jakarta
            Perjalanan laut yang menghabiskan durasi sekitar satu jam itu, akhirnya membawa kami tiba di dermaga Pulau Pramuka. Satu per satu penumpang menuruni kapal, termasuk saya dan Ratna. Begitu turun, dengan percaya diri kami langsung jalan melewati pintu gerbang kedatangan di Pulau Pramuka. Sementara saya sendiri belum tahu letak sekolah yang akan kami tuju. 

Naik andong menuju SMA N 69
            Ternyata untuk menuju sekolah itu tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki buat ukuran kaki kami. Itu yang dikatakan oleh seorang ibu (warga yang tinggal di pulau itu). Ibu itu menyarankan agar kami naik andong - gerobak yang mampu menampung sepuluh penumpang - yang ditarik dengan sepeda motor. Perjalanan pun dilanjutkan menuju SMA N 69 dengan menaiki andong. Bayarannya murah sekali. Cukup memberi 5000 rupiah saja untuk satu orang. Namun, saya memilih melebihkannya, mengingat jarak tempuhnya lumayan mutar-mutar.

Sisi dalam bangunan SMA N 69 (Sumber foto: www.beritajakarta.com)

            Sesampainya kami di depan pintu gerbang SMA N 69, beberapa siswa perempuan menyambut kedatangan kami dengan wajah yang sedikit bingung. Sempat terbesit keraguan di hati saya melihat ekspresi wajah mereka itu. Namun, setelah saya mengatakan ingin bertemu dengan Pak Firdaus, mereka langsung mengantarkan kami untuk bertemu dengan Bu Dewi (guru Bahasa Indonesia di sekolah itu).
            Bu Dewi mengajak kami ke ruang Kepala Sekolah. Setelah menunggu beberapa saat, Pak Firdaus akhirnya kembali ke ruangannya. Perkenalan pun berlangsung menyenangkan. Pak Firdaus bercerita sekilas tentang kondisi sekolahnya. Beliau ternyata baru dua bulan ditempatkan dan menjadi kepala sekolah di sana. Kalau dilihat dari fisik sekolahnya, SMA Negeri 69 memang terlihat megah dengan bangunannya yang cukup permanen. Tapi ternyata tidak sebanding dengan jumlah tenaga pengajar dan kemampuan siswa-siswinya di bidang akademik. 

“Sekolah kami sebenarnya masih sangat membutuhkan tenaga guru untuk beberapa mata pelajaran penting, namun sampai saat ini belum terpenuhi juga,” ujar Pak Firdaus sangat berharap.
Yang menjadi pertimbangan dan penghambat utama bagi para guru yang akan ditempatkan di sekolah itu mungkin adalah jarak dan lokasi sekolah. Pak Firdaus dan guru-guru lainnya yang ada di SMA N 69 itu sendiri harus rela bermukim sementara di Pulau Pramuka. Mereka tinggal di mess yang disediakan untuk tenaga pengajar sekolah itu. Tidak bisa pulang pergi setiap hari. Kondisi itulah yang membuat saya menyimpan rasa kagum dan salut pada Pak Firdaus dan para staf pengajar di sekolah itu. Mereka rela meninggalkan keluarga untuk mengabdikan ilmunya kepada anak-anak di pulau itu. Semoga keinginan Pak Firdaus untuk penambahan tenaga pengajar di sekolah itu segera terwujud. Aamiin ….

Gerakan perdana literasi siswa
Terkait dengan “Gerakan Literasi” sendiri, kehadiran saya yang berprofesi sebagai penulis adalah hal baru buat sekolah itu. Selama ini belum pernah ada penulis yang khusus didatangkan untuk memberikan materi dasar tentang penulisan cerita. Betapa tersanjungnya saya mendengar itu walau diam-diam menyimpan rasa tertantang untuk memberikan yang terbaik.

Mereka sudah siap mengikuti pelatihan menulis
Bu Dewi membuka acara
Setelah berbincang-bincang mengisi perkenalan dan menjalin keakraban bersama Pak Firdaus dan Bu Dewi, kami bersama-sama menuju ruang lab komputer. Di sana sudah menunggu 50 siswa-siswi yang siap menyimak materi motivasi dan pelatihan menulis dari saya.
            Bu Dewi yang bertindak sebagai pemandu acara langsung menertibkan anak-anak dan membuka kegiatan pelatihan. Setelah itu, Pak Firdaus menyampaikan sambutan dan menjelaskan latar belakang digelarnya kegiatan tersebut. Beliau berharap, agar setelah saya memberikan motivasi dan materi dasar tentang menulis, anak-anak yang ada di ruangan itu semangat dan tergugah untuk memraktikkan ilmunya. 

Pak Firdaus memberika sambutan dan pengarahan
“Semoga setelah mendapatkan ilmu dari Bu Wiwiek nanti, kalian menjadi semangat untuk membuat tulisan dan cerita yang bagus. Kalau ceritanya bagus, kita akan coba membukukannya menjadi kumpulan cerita,” ujar Pak Firdaus berusaha membakar semangat anak-anak muridnya.
Mendengar kata-kata Pak Firdaus, dalam hati saya bertekad akan memberikan yang terbaik kepada anak-anak yang duduk menyimak dengan mata penuh antusias itu.

Motivasi dan pelatihan menulis berjalan lancar dan menyenangkan
            Selepas Pak Firdaus memberikan sambutan dan pengarahan, saya segera mengambil alih sesi berikutnya. Salam perkenalan dan penjelasan profil saya menjadi pembuka keakraban di pagi menjelang siang itu. Saya menatap beberapa pasang mata di depan saya. Mata itu penuh dengan rasa ingin tahu. Agar lebih akrab lagi, saya menyebut panggilan “Bunda” untuk diri saya.

Saya memulai pelatihan
“Sebelumnya Bunda ingin tahu, adakah di antara kalian yang pernah dan punya hobi menulis? Apakah itu cerpen, puisi, atau apa saja?” tanya saya ingin tahu.
Hening ….
Tak satu pun di antara mereka yang pernah melakukannya. Ini benar-benar tantangan buat saya dalam menyajikan materi. Saya tidak mau menyerah.

Mereka serius menyimak
“Atau adakah yang pernah curhat dan menuliskan curhatnya di buku harian atau diari, buku tulis atau kertas apa saja?” pancing saya lagi.
            Beberapa detik kembali hening. Tiba-tiba ada yang riuh dan bisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Samar-samar saya mendengar kalau ia punya buku diari.
            “Nah, kamu punya buku diari ya?” tebak saya langsung ke arahnya.
            Anak itu mengangguk. Legalah sedikit hati saya. Dari sana, saya pun melanjutkan materi berisi motivasi tentang menulis. Saya berikan beberapa quote dari orang-orang terkenal yang mencintai dunia literasi. Seperti Ali bin Abi Thalib, J.K. Rowling, Helvy Tiana Rosa, dan quote dari saya sendiri yang memancing senyum dan tawa kecil mereka.
            “Nah, kalau yang paling bawah itu, quote dari penulis cantik yang berdiri di depan kalian ini,” ujar saya membuat mereka tertawa.

Semua cerita berawal dari ide
            Sering sekali bakat menjadi alasan untuk enggan memulai niat menjadi penulis. Termasuk anak-anak yang tak pernah mendapat asupan semangat di dunia tulis-menulis seperti mereka. Saya tidak mau anggapan itu menjadi penghalang bagi mereka. Hanya 1% bakat yang diperlukan untuk keterampilan menulis cerita, sisanya adalah kesungguhan berlatih secara terus-menerus. Saya berusaha meyakinkan mereka untuk itu. 

Nadia mencoba membuat opening cerita
            Selanjutnya, saya meminta mereka untuk meyakinkan diri masing-masing tentang tujuan mereka menulis, menetapkan jadwal rutin menulis, mencoba memberi reward dan punishment terhadap jadwal yang sudah ditetapkan, dan berusaha tekun serta disiplin untuk melakukannya. Setelah itu, saya lanjutkan memberikan materi inti tentang teknik menulis. Mulai dari mengemas ide, membuat judul yang menarik perhatian calon pembaca, menentukan karakter tokoh dan konflik cerita, mempercantik alur dan membuat dialog-dialog yang efisien (tidak bertele-tele), hingga pentingnya melakukan self editing terhadap tulisan sendiri sebelum mengirimkan karya ke media atau mengikutkan tulisan tersebut untuk lomba.
            Di sela-sela sajian slide materi, saya menanyangkan dua ilustrasi. Saya mencoba meminta mereka memancing ide dengan membuat konflik cerita dengan bantuan ilustrasi tersebut. Beberapa saat tidak ada yang berani mencobanya. Saya tidak putus asa dan terus menyemangati. Akhirnya satu murid bernama Nanda memberanikan mencoba. 

Membuat konflik dengan bantuan ilustrasi
            “Adel melihat isi dompetnya. Ternyata dompet itu kosong dan samasekali tidak ada sisa uang jajan di dalamnya. Adel sedih karena obsesinya untuk membeli novel Geranium Blossom belum tercapai,” ujar Nanda membuat saya senang sebab ia mampu membuat konflik cerita dengan lumayan baik.
Nanda mencoba membuat konflik cerita
            Pelatihan menulis terhenti sekitar setengah jam untuk melaksanakan sholat Zuhur dan makan siang. Jam satu tepat acara dimulai lagi untuk memasuki sesi praktik membuat cerita. Saya meminta anak-anak itu untuk mengerahkan semua kemapuannya dalam memilih dan menuliskan cerita dengan memraktikkan materi yang sudah saya berikan. Alhamdulillah, dari 50 cerita yang terkumpul, terpilihlah 3 cerita terbaik yang ditulis oleh Nava Rinta Aresa, Virdatun Nabila, Laiylatul Kodria.

Sesi praktik menulis cerita
Siswa laki-laki tak kalah semangat dengan yang perempuan

Sopian akhirnya berani memulai tulisannya
Tiga penulis cerita terbaik di sesi praktik
            Acara pelatihan diakhiri dengan foto bersama. Namun sebelum mengakhiri catatan ini, saya sangat terkesan dengan salah satu siswa bernama Sopian. Saat saya meminta mereka menetapkan jadwal menulis, Sopian sempat berkomentar lantang, “Nggak punya waktu, Bun!” Maka pada saat praktik, saya mencoba mendekati Sopian dan menyemangatinya. “Kamu nggak perlu mencari ide jauh-jauh. Kamu bisa menceritakan pengalamanmu selama tinggal di pulau ini,” ujar saya setelah mendapat informasi dari Pak Firdaus bahwa Sopian sehari-hari membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai nelayan. Itu sebabnya Sopian lantang mengatakan kalau ia tak punya waktu untuk menulis. Di luar jam sekolah, Sopian harus membantu ayahnya mencari ikan di laut.

Foto dengan sebagian peserta pelatihan (yang lain sudah pulang)
            Setelah meyakinkan Sopian, akhirnya ia paham. “Boleh ya Bunda saya cerita tentang pengalaman sebagai nelayan?” tanya Sopian mulai semangat. Saya yakinkan lagi bahwa menuliskan cerita dari pengalaman sendiri itu, jauh lebih mudah dan hasilnya Insya Allah lebih berkesan. Sopian pun semangat menuliskan ceritanya yang berjudul “Kerja keras Membantu Orangtua”.  Walaupun cerita itu tidak terpilih sebagai cerita terbaik, Sopian telah berhasil mengalahkan ketidakpercayaan dirinya.
            Inilah catatan panjang saya tentang momen berbagi motivasi, pengalaman, dan materi dasar untuk menulis cerita untuk siswa-siswi SMA Negeri 69 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu Jakarta. Tepat pukul 15.00 WIB, saya dan Ratna harus meninggalkan pulau itu untuk kembali ke pantai Marina Ancol lalu pulang ke rumah.

Foto bareng Pak Firdaus dan Bu Dewi
Semoga apa yang sudah saya bagi mampu menumbuhkan semangat dan kesonsistenan mereka untuk terus rajin membaca dan menulis kisah-kisah indah ke depannya nanti. Semoga suatu hari hari nanti muncul pula penulis keren dari sekolah itu. Aamiin.
            Insya Allah, saya akan mendapatkan kesempatan untuk kembali lagi ke sekolah yang sudah meninggalkan kesan menyenangkan itu. Semoga …. [Wylvera W.]


Minggu, 26 Juni 2016

Ramadhan Writing Class dari Awal hingga Akhir



            Awalnya ada keraguan saat keinginan untuk menggelar kelas menulis buat anak-anak muncul kembali. Hal pertama yang membuat ragu itu semata-mata hanya karena sebagai penulis cerita anak, saya merasa tidak produktif setahun belakangan ini. Namun, kecintaan pada kegiatan mengajar dan berbagi ilmu jauh lebih kuat ketimbang perasaan minder itu, maka tekat pun dikuatkan.
            Seminggu Ramadan sudah berlalu. Saya menyampaikan usul untuk menggelar pelatihan menulis sebagai pengisi kegiatan Ramadan anak-anak di Bekasi kepada Mas Herdy Leonardi. Beliau ini adalah Murabbi anak-anak saya dan sekaligus karyawan di Graha Pesantren Enterpreneur, Rukan Eemerald Blok UF 08, Sumarecon, Bekasi.
            Niatan saya disambut baik. Selanjutnya saya teruskan usulan ini ke Mbak Ratna, istri Utadz Herdy sekaligus sahabat saya.  Mbak Ratna spontan menyambut dan antusias ingin mengkoordinir acaranya. Saya takjub karena Mbak Ratna bergerak cepat untuk mendapatkan izin memakai salah satu ruangan yang ada di PE tersebut. Sementara, saya dengan harap-harap cemas meneruskan niatan ini ke editor saya (Imran Laha) dari Penerbit Adibintang. Lagi-lagi, dukungan langsung saya dapatkan. Bahkan penerbit Adibintang mau memberikan hadiah buku-buku kerennya untuk sesi kuis. 

Flyer yang didesain oleh Pak Totok
            Singkat cerita, setelah mendapat izin tempat di Gedung Pesantren Enterpreneur, saya lagi-lagi didukung oleh PakHaji Toto Usprianto (Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al Hidayah tempat saya bermukim) dalam pendesainan flyer. Begitu pula dengan Mas Yudi yang berbaik hati mendesain x banner untuk hari "H". Masya Allah, hati ini bahagia sekali. Allah begitu Maha Pengasih, sebab dari awal hingga akhir Dia membentangkan jalan luas demi terwujudnya niatan tulus saya. Semua demi anak-anak yang berdomisili di Bekasi yang cinta pada dunia menulis.

Cemas menunggu yang mendaftar
            Sejak flyer diposting di facebook dan Instagram, deg-degan pun dimulai. Hari terus berlalu, sementara tanggal pelaksanaan semakin dekat (26 Juni 2016). Yang mendaftar baru 8 orang dari 25 kuota yang disediakan oleh Mbak Ratna selaku koordinator acara. Sampai di hari Jum’at, 24 Juni 2016, tiba-tiba peminatnya ramai, mencapai 24 orang. Lega rasanya, karena target kuota akhirnya terpenuhi dan tentu membuat saya semakin bersemangat ingin berbagi ilmu.
            Saya pikir, setelah 24 anak yang mendaftar, sudah tidak akan bertambah lagi. Ternyata di hari “H” malah berlebih menjadi 27 anak. Mbak Ratna tidak sampai hati menolak tiga anak yang datang bersama orangtuanya dan memberikan uang pendaftaran di tempat. Untunglah goodie bag yang disiapkan sengaja dilebihkan. 

X Banner cantik ini hasil desain Mas Yudi
Awalnya saya ingin membatasi usia peserta hanya boleh untuk kelas 3 sampai kelas 6 SD saja. Tapi permintaan para orangtua ternyata tidak bisa kami tolak, sehingga peserta pun terdiri dari anak kelas 2 SD hingga kelas 3 SMP. Ini membuat saya harus membongkar materi yang sudah ada di power point (bekas pelatihan-pelatihan sebelumnya). Saya harus menyeimbangkan bobotnya supaya bisa dipahami oleh yang kelas 2 SD tapi tidak terlalu ringan juga untuk yang SMP.

Writing Class pun berlangsung seru
            Acara pelatihan digelar di lantai 3 Gedung Pesantren Enterpreneur. Tidak ada eskalator atau lift menuju ke lantai tiga gedung itu. Namun, efek semangat untuk mendapatkan materi tentang menulis cerita, mengalahkan perasaan bakal mengalami kaki pegal dan napas ngos-ngosan menuju ruang pelatihan dalam kondisi berpuasa.
            Pfiuuuh! Lumayan ini naiknya, Bu,” ujar salah satu orangtua peserta yang ikut mengantarkan anaknya ke ruang pelatihan. Kami akhirnya sama-sama tertawa.

Tekun menyimak
Senang banget melihat keseriusan mereka
            Setelah semua hadir, saya pun memulai kelas dengan mengucapkan salam. Sebelum memberikan materi inti, saya memancing anak-anak dengan beberapa pertanyaan awal. Salah satunya tentang alasan mereka mau ikut di “Ramadhan Writing Class” bersama saya.  Wuaaah…! Saya sumringah ketika mereka antusias ingin menjawab.
            “Saya pengin nulis cerita!”
            “Pengin tahu gimana caranya bikin cerita yang bagus!”
            “Mau belajar nulis cerpen!”

"Mau belajar nulis cerpen!" - Naya
            Itu beberapa jawaban yang bikin bibir saya tersenyum puas dan ingin segera memulai kelas dengan semangat. Saya pun memperkenalkan diri kepada mereka. Saya sebutkan nama lengkap saya dan pengalaman yang telah saya peroleh selama menjadi penulis. Semua tekun menyimak dan sesekali terlihat ekspresi kagum dari wajah dan tatapan mereka. Saya sengaja melakukan itu agar mereka semakin antusias. Bukan untuk pamer tanpa alasan.
            Demi mencairkan suasana, saya tiba-tiba meminta mereka menyebut ulang nama lengkap saya. Tawa pun pecah ketika salah satu anak menyebut nama saya dengan terbata-bata dan kurang tepat. Akhirnya saya meminta mereka untuk memanggil saya dengan sebutan “Bunda Wiwiek” saja.
            “Tapi kalau kalian nanti pengin cari buku Bunda di toko buku, jangan cari nama Wiwiek ya. Nggak bakal nemu. Carinya tetap nama Wylvera W. ya…,” kelakar saya membuat mereka tertawa.
            Selanjutnya, materi tentang menulis pun meluncur satu per satu. Mulai dari menemukan ide, tips memilih ide keren dari beberapa ide yang muncul di kepala, membuat pohon ide, meringkasnya dengan membuat contoh dahan dan ranting ide, menentukan karakter tokoh, sinopsis pendek untuk memandu mereka dalam menuliskan ceritanya, membuat judul yang eye catching, memahami unsur-unsur penting yang wajib ada dalam cerita pendek hingga penyuntingan dialog-dialog panjang yang tidak perlu. 
          Semua berusaha saya sajikan dengan contoh dan penjelasan yang rinci serta mudah untuk dipahami.Yang paling seru saat membahas tentang karakter tokoh. Muncullah nama-nama Harry Potter, Cinderella, Dory (dari film Finding Dory), Tom and Jerry, Maleficent, sampai Bawang Merah dan Bawang Putih. Beberapa dari mereka ikut mengomentari dan bikin kelas lumayan ramai. Kelas ramai dengan celetukan-celetukan spontan dari mereka. 
Sesekali saya melempar pertanyaan. Mereka pun tetap antusias menjawab. Ketika saya tanya, apa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang calon penulis yang tidak boleh ditawar-tawar jika dia memang ingin terjun di dunia menulis? Anak yang bernama Amara lantang menjawab, “Membaca!” serunya mantap. Luar biasa! Ini membuktikan kepada saya bahwa anak-anak yang hadir dan ikut pelatihan menulis ini adalah anak-anak yang sungguh-sungguh ingin belajar menulis cerita. Amara mewakili teman-temannya dengan membuktikan diri bahwa mereka adalah anak-anak yang senang membaca juga. 
Cinta membuat ending "Cinta dan Es Krim"
Materi kembali saya lanjutkan. Setelah menetapkan konflik dan nama tokoh, salah satu peserta berhasil membuat saya kagum ketika saya memberikan contoh ilustrasi dan meminta mereka membuat dua kalimat saja dari gambar itu. Dua gambar yang terpampang di layar infokus (gambar anak perempuan dengan dompet kosong di tangannya + gambar es krim). Anak yang bernama Cinta membuat cerita singkat tentang gambar itu dengan ending yang bikin saya tercengang. Luar biasa, saya sendiri tidak sempat memikirkan akan menuliskan tentang ending seperti itu. 
“Cinta sedih karena dia tidak bisa membeli es krim favoritnya. Selain sakit flu, Cinta juga tidak punya uang. Namun, dia tidak putus asa. Ketika melihat seorang kakek pemulung yang keberatan memikul kardus-kardus bekas, Cinta menawarkan diri membantu membawakannya. Sesampainya di gubuk Kakek pemulung itu, Cinta terkejut. Si Kakek pemulung itu memberinya uang sebagai ucapan terima kasih. Cinta tidak tega menolaknya. Setelah itu, Cinta pun bisa membeli es krim favoritnya.”

Amara menjawab pertanyaan
Laili lupa-lupa ingat jawabannya ^_^
Untuk Cinta, saya memberikannya hadiah buku dari penerbit Adibintang. Sebelum masuk ke sesi praktik, saya menguji daya serap dan ingatan mereka terhadap materi yang sudah saya berikan. Ada delapan pertanyaan seputar materi menulis yang saya ajukan. Hebat! Mereka berebut angkat tangan untuk menjawab. Siapa cepat dia dapat tentunya. Delapan buku hadiah dari penerbit Adibintang pun mereka perebutkan dengan seru dengan menjawab semua pertanyaan dengan tepat.

Empat cerita terbaik
            Setelah materi menulis selesai saya berikan, tibalah di sesi praktik membuat cerita pendek dengan bantuan ilustrasi. Ada dua ilustrasi yang saya berikan. Mereka bebas memilih. Saya berikan waktu tiga puluh menit untuk mereka. 

Pada serius bikin cerpennya


            Perhatian saya langsung tertuju pada anak yang masih kelas 2 SD tadi. Saya pikir dia menyerah dan merasa kalah dari kakak-kakaknya yang lain. Ternyata, Nayla (nama anak itu) tetap bersemangat dan berusaha membuat cerita versinya. Masya Allah … terharu hati saya melihat semangat Nayla dan dua temannya yang sama-sama masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.
            Tiga puluh menit pun berlalu dan saya harus memilih 4 cerita terbaik dari 27 cerita yang sudah mereka kerjakan. Tentu saja, tidak semua mampu menyelesaikan dengan tuntas. Saya tetap memberikan apresiasi untuk usaha mereka. 

Delapan anak yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar
             Akhirnya terpilihkan empat cerita terbaik, masing-masing dengan judul dan nama penulisnya. Masing-masing mereka mendapatkan satu buku karya saya dan penerbit Adibintang.
  1.       Tongkat yang Menghilang – Nisa
  2.       Nina dan Nino – Azka Awalinda Isra
  3.       Cerita oleh Ibu – Aufa (ini anak cowok lho)
  4.       Kemah Sekolahku – Cintania Aulia Adi Putri
Empat cerita terpilih

Ini penulisnya ;)
           Sebelum menutup “Ramadhan Writing Class”, kami pun berfoto bersama dan anak-anak dioleh-olehi goodie bag sebagai bentuk rasa terima kasih kami. Saya berharap, setelah pelatihan ini, mereka semakin percaya diri untuk berani menulis kisah-kisah dari ide-ide keren yang mereka temukan. Aamiin.

Foto bersama peserta dan Bunda Ratna
            Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada Ustadz Herdy Leonardi, Syarifah Ratna Alaydrus (Ratna), Pak H. Toto Usprianto, Mas Yudi, Penerbit Adibintang dan Mas Imran Laha, Pesantren Enterpereneur yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Tak lupa ucapan terima kasih saya kepada para orangtua yang telah memercayakan anak-anaknya untuk mengikuti “Ramadhan Writing Class” ini bersama saya. Semoga apa yang saya berikan di momen Ramadan ini memberikan manfaat dan berkah. Aamiin.
Sampai jumpa di pelatihan menulis berikutnya. Salam. [Wylvera W.]
           

Jumat, 10 Juni 2016

Delapan Cara Membuang Amarah, Benci, dan Dendam




“Jangan kurang ajar kau ya. Kuhajar kau nanti!”
“Jangankan lihat mukanya, dengar suaranya aja aku gak suka!”
“Dia sudah nyakitin hati aku, gimana nggak dendam coba?”
 
          Cobalah baca kalimat-kalimat di atas. Apa yang terasa? Betul, kalimat di atas adalah ungkapan dari kemarahan, kebencian, dan dendam. Tentu saja, sangat tidak nyaman dibaca dan didengar ketika kita sadar dan terjaga. Namun, bukan tidak mungkin kita pun pernah melakukannya. Sebab, di setiap detik napas kita, syaitan tak pernah diam dan lengah untuk terus menggoda.

         Salah satu senjata syaitan untuk menghancurkan akhlak manusia adalah menggodanya untuk marah. Jika sudah masuk dalam perangkap amarah, maka syaitan pun akan mudah mengendalikan kita. Selanjutnya kita pun akan mudah melepaskan kata-kata di atas. Duh! Seram ya…?

         Amarah adalah perasaan tidak senang dan gusar terhadap sesuatu. Benci artinya tidak suka, tidak tertarik terhadap seseorang atau sesuatu, bisa atau tanpa sebab. Sementara dendam adalah sebuah perasaan yang berkeinginan untuk membalas. Coba tanya hati kita masing-masing. Pernahkah kita meluapkan amarah, menyimpan dendam dan rasa benci di hati? Pernahkah kita memutus tali silaturahmi akibat ketiga hal negatif itu? Apa yang kita rasakan jika ketiga hal negatif itu terselip di hati? Tidakkah kita dihantui rasa resah?

          Setiap manusia tentunya berharap bahwa hidupnya selalu damai dan tenteram. Baik itu dalam lingkungan keluarga, teman, dan di mana saja. Namun, sebagai makhluk sosial yang kerap berinteraksi dengan manusia lainnya, siapa yang bisa menduga, kapan masalah akan menghampiri kita. Masalah itu pula yang akhirnya menyebabkan kita tergoda untuk marah, dendam, dan membenci. Sementara kemampuan setiap manusia dalam mengatasi amarah, dendam, dan kebencian pun tentulah berbeda-beda. Namun, kita juga diberi akal untuk berusaha dan belajar terus-menerus untuk terampil mengendalikan amarah yang akan berefek pada rasa benci dan dendam itu.

           Sebagai umat Islam, saya takut sekali. Sebab kemarahan, dendam, dan kebencian sangat tidak disukai oleh Allah SWT. Lebih jauh lagi, muslim yang menyimpan amarah, dendam, dan kebencian di hatinya, maka semua amalannya akan tertolak. Na’udzubillahimindzalik.

       Lalu, bagaimana cara untuk mengendalikan bahkan melenyapkan amarah, dendam, dan kebencian itu? Di agama saya (Islam), banyak sekali tuntunan yang mampu menjauhkan kita dari dari amarah, dendam, dan benci ini. Dan, saya yakin, agama lainnya pun begitu.

        Di postingan ini, saya tidak membahas cara mengatasi ketiga sikap negatif itu dari sudut pandang agama saya. Saya ingin berbagi secara umum saja. Kita bisa melakukan beberapa langkah berikut agar terbebas dari tiga sikap negatif itu.

1. Diam
Dalam keadaan marah, biasanya kata-kata atau kalimat yang muncul adalah sarat dengan kata-kata menyakitkan. Jika hal ini tidak diredam, maka bukan tidak mungkin akan memunculkan keinginan untuk membalas dari pihak lawan. Terciptalah lingkaran yang tidak sehat dan bahkan bisa menciptakan permusuhan tak berkesudahan. Untuk itu, berusahalah diam saat hati dipenuhi rasa marah. Tarik napas dalam-dalam lalu lepaskan. Kondisi ini pelan-pelan akan memberikan waktu pada kita, sehingga rasa emosi itu menjauh dari hati kita.

2. Jangan pedulikan
Biasanya kemarahan akan muncul bila kita terlalu memedulikan perkataan negatif orang lain terhadap diri kita, baik itu secara langsung maupun sindiran. Namun, jika kita tidak merespon dan tidak memedulikannya, maka hal-hal yang memancing kemarahan itu akan lebih mudah dikendalikan.

3. Selalu bersikap baik
Kemarahan kerapkali disebabkan oleh sikap-sikap yang kurang menyenangkan dari salah satu atau kedua belah pihak. Seterusnya bukan tidak mungkin akan terjadi permusuhan berkepanjangan. Maka untuk menghindari situasi tersebut, berusahalah selalu bersikap baik. Yakinkan diri bahwa sikap yang baik Insya Allah akan melindungi kita.

4. Toleran
Orang yang terampil bertoleransi, hidupnya cenderung lebih damai. Kita tidak pernah tahu latar belakang mengapa orang lain selalu memberi kesan buruk terhadap kita. Begitu juga sebaliknya. Belajarlah bertoleransi menghadapi orang yang menyebalkan dan memancing amarah kita.

5. Interospeksi dan minta maaf
Ini yang terkadang sulit kita lakukan. Ego dalam diri kita sering mengalahkan hati untuk melakukan interospeksi. Dengan melakukan interospeksi, maka kita tidak mudah untuk menyalahkan orang lain. Jika kita sudah menemukan kekeliruan itu, segeralah meminta maaf. Namun jika kita tidak menemukan kesalahan dalam diri kita, jangan membiarkan kemarahan bersemayam, ambillah cara agar kemarahan pada seseorang itu mencair.

6. Berpikir positif
Misalnya seseorang telah melakukan hal yang membuat kita marah. Jangan buru-buru membalas kemarahan tersebut dan membencinya. Berusahalah melihat hal-hal positif lainnya. Fokuslah pada hal yang positif itu sampai amarah dan rasa benci kita menguap sehingga tak menyisakan dendam setelahnya.

7. Tersenyum
Senyum adalah ibadah dalam keyakinan saya. Lagi-lagi saya yakin, demikian juga di keyakinan lainnya. Dengan senyuman yang tulus, orang tidak akan mudah menebak isi hati kita. Justru senyuman yang kita perlihatkan akan memberi aura damai bagi orang lain.

8. Memaafkan
Gampang diucapkan tetapi sulit untuk dipraktikkan. Memaafkan adalah sikap mulia yang akan membawa kita pada kedamaian. Memang tidak mudah. Apalagi jika hati kita sudah sedemikian terluka. Namun, jika kita berusaha dan mau melakukannya, percayalah … efeknya sangat luar biasa. Tidak hanya pada perasaan kita, tapi juga untuk kesehatan jiwa dan raga.

          Inilah delapan upaya yang harus kita coba melakukannya saat hati kita tersulut kemarahan lalu melahirkan kebencian dan dendam di hati. Selamat mencoba, semoga berhasil. [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...