Selasa, 19 September 2017

Bercermin dari Penjara Anak



Anak merupakan harapan serta masa depan keluarga dan bangsa. Harapan ini membutuhkan persiapan agar mereka kelak tumbuh menjadi manusia yang berkualitas, bermoral, sehat lahir dan batin, serta berguna bagi diri, keluarga serta bangsanya. Semua persiapan tersebut bermula dari pola asuh dan penguatan moral dari rumah yang dilakukan sejak dini. Idealnya, pola asuh yang baik tentu akan melahirkan anak dengan kepribadian kuat, tidak mudah putus asa, dan tangguh menghadapi tekanan hidup.
Namun sebaliknya,  anak yang tidak mendapatkan pola asuh serta penguatan dan wawasan moral yang tepat, acapkali menimbulkan masalah. Ia akan rentan pada lingkungan yang menyuguhkan pergaulan negatif. Kerentanan ini akan menggiringnya untuk melakukan perbuatan amoral dan melanggar hukum yang akan berakhir di penjara. Kenyataan tentang penjara ini yang akan saya bagi sebagai bahan interospeksi bagi kita.

Akhirnya masuk penjara
Tidak ada anak yang ingin mengakhiri hidupnya dalam penjara. Namun, banyak kasus menimpa anak-anak Indonesia yang justru akhirnya menyeret mereka ke sana. Semua bermula dari rumah dan lingkungan. Bisa jadi, peran dan perhatian orangtua tak pernah mereka dapatkan. Ditambah faktor lingkungan dan pergaulan yang semakin memicu ke arah yang salah. Semua itu bisa jadi berpengaruh pada perkembangan psikis anak. Anak yang tidak memiliki mental kuat akan nekat melakukan kesalahan dan merugikan masa depannya.

Di Masjid lapas ini lah kegiatan konseling GPR untuk anak lapas berlangsung
Contoh anak-anak yang gagal mendapatkan perhatian, sentuhan, dan didikan yang tepat dari orangtuanya, ada di Lembaga Khusus Pembinaan Anak (LPKA) Tangerang. Mereka lebih dikenal dengan sebutan anak-anak lapas, yaitu anak-anak yang telah melakukan tindak kejahatan dan melanggar undang-undang negara.  Mau melihat hasil didikan gagal orangtua dan pergaulan yang salah seperti apa? Semua ada di lapas anak tersebut. Saya menyebutnya paket komplit.
Di beberapa kali pertemuan dengan anak-anak lapas itu, hati saya selalu terenyuh. Mereka adalah anak-anak Indonesia berusia antara 13 sampai 17 tahun. Hukum telah menjerat mereka atas beragam kasus. Mulai dari kasus pembunuhan, perbuatan asusila, narkoba, tawuran, dan pencurian. Masa hukumannya pun beragam. Tergantung dari beratnya kasus. Yang paling berat adalah kasus pembunuhan, bisa 8 sampai 9 tahun.  


Umumnya mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Ada anak penyapu jalan, anak pembantu rumah tangga, anak pemulung, dan anak tukang becak. Namun ada juga yang berasal dari keluarga yang mapan. Mereka harus membaur dengan yang lainnya. Sementara untuk tingkat pendidikannya pun beragam. Mulai dari level SD sampai SMA, dan yang putus sekolah. Kalau tidak berbincang, kita tidak akan bisa membedakan latar belakang mereka. Semua menjadi terlihat sama.

Penyesalan itu selalu datang di belakang
Ketika masih bergabung dengan komunitas Gerakan Peduli Remaja yang secara kontinu melakukan konseling di LPKA Tangerang tersebut, saya menjadi salah satu pembimbing anak-anak lapas itu. Di setiap pertemuan, selain memberikan bimbingan rohani, kami juga membuka sesi dialog dengan mereka. Pada momen berdialog itu pula saya kerap menatap mata mereka yang cenderung kosong dan tidak terarah.
“Mau gimana lagi, Bunda. Hidup itu kan butuh makan.”
“Pakai narkoba kan bisa ngilangin stress, Bun.”
“Daripada aku yang dibunuh, mending habisi duluan.”
Begitulah sebagian alasan yang mereka utarakan di awal-awal konseling. Belum ada terlihat rasa penyesalan. Mereka merasa puas karena merasa seolah keluar sebagai pemenang dari setiap masalah yang mereka hadapi. Mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya  mereka lah yang kalah. Kalah dalam melawan hawa nafsunya karena mereka memang tidak dibekali oleh didikan agama dan moral yang benar. 


Anak-anak itu terjebak pada kejahatan yang terkadang tak mereka sadari. Mereka begitu saja melakukan perbuatan amoral tanpa mempertimbangkan akibatnya. Sebagian dari mereka bahkan tidak sempat berpikir bahwa konsekuensi dari perbuatan yang mereka lakukan akan menjebloskannya ke tempat yang bernama penjara. Tempat yang akhirnya menjauhkan mereka dari keluarga. Terisolir dari segala kebebasan yang pernah mereka nikmati.
Meskipun untuk penjara anak-anak, tidak seberat kondisi penjara dewasa, tetap saja sulit menyebut bahwa  tempat itu mampu memberikan kenyamanan. Banyak hal yang akan dibatasi. Termasuk kamar tidur, kamar mandi, fasilitas sandang, pangan, beragam peraturan lapas, dan lain sebagainya. Yang jelas, sudah tidak ada lagi kebebasan seperti yang mereka bayangkan dan rasakan sebelum masuk penjara. Bukan itu saja. Jika tidak pandai membawakan diri, bukan tidak mungkin mereka juga akan mengalami kasus bullying sesama tahanan.
Setelah merasakan masa tahanan, biasanya sebagian dari mereka mulai menyadari kesalahannya. Kondisi lapas dengan segala keterbatasannya, akhirnya membuat mereka menyesal. Masuk penjara tentu menjadi aib. Tidak hanya bagi anak sebagai pelaku, tapi orangtua serta keluarga pun menanggung konsekuensinya. Pernah masuk penjara akan memengaruhi reputasi dan nama baik keluarga.
Yang lebih menyakitkan, ada orangtua yang tidak menginginkan anaknya kembali ke rumah setelah bebas dari penjara. Ini pernah dialami dan dirasakan salah satu anak Lapas yang sekarang sudah bebas dari masa hukumannya. Beberapa kali saya sempat melakukan kontak dengan “R”. Ia sempat berkeluh-kesah dan mengatakan bahwa orangtuanya tidak menerimanya kembali ke rumah. Akhirnya “R” tinggal bersama pamannya. 

Sesi konseling bersama Gerakan Peduli Remaja
Beberapa cerita yang saya dengar dari mereka, semua mengerucut pada ungkapan rasa penyesalan. Selain menyesal, mereka juga mengungkapkan rasa ketidakpercayaan diri yang kuat. Di satu sisi, mereka ingin berlama-lama di penjara dan pasrah pada segala keterbatasan. Di sisi lain, mereka ingin cepat-cepat mengakhiri masa hukumannya tapi tidak siap menghadapi dunia di luar penjara. Ada rasa takut akan kembali terlibat kasus yang sama lalu kembali ke penjara. Ini menjadi dilema yang menghantui mereka. Menyedihkan.
Setelah mendapatkan pembinaan, sebagian besar dari mereka berangsur berubah. Mereka ingin memperbaiki kesalahan yang pernah mereka lakukan. Namun seringkali hukuman dunia lebih berat. Contoh kecil, saat mereka keluar dari lapas, sebagian besar enggan kembali ke lingkungan asal, karena cap atau stempel mantan napi begitu melekat di diri mereka.
Apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan demi penyesalan biasanya selalu datang belakangan. Jika tidak kuat untuk menghadapinya dan kembali bangkit membenahi diri, maka masa depan mereka pula yang akan menjadi taruhannya. Kita tidak ingin seperti itu bukan?

Pola asuh dan pengaruh perkembangan moral anak
            Keluarga adalah unit sosial terkecil yang akan memberikan pondasi dasar bagi perkembangan karakter anak. Seperti apa penerapan pola asuh orangtua pada anaknya akan sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak, termasuk masalah moralnya. Tentu tidak ada orangtua yang ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik. Apalagi sampai terjerumus pada perbuatan melanggar hukum. Namun, harapan itu tidak bisa diwujudkan secara instan.
Jika ingin karakter anak tumbuh dengan normal dan baik, orangtua juga harus menjalankan pola asuh yang benar. Tepat tidaknya penerapan pola asuh ini bisa dilihat dalam bentuk perlakuan fisik maupun sentuhan psikis terhadap anak-anaknya. Ada yang kaku (otoriter), serba membolehkan (permisif), dan demokratis. Model pola asuh ini dapat dilihat dari tutur kata, sikap, prilaku, dan tindakan orangtua pada anaknya.
Dari tiga jenis model pola asuh di atas, menurut saya yang paling ideal adalah penerapan pola demokratis (gabungan dari pola asuh otoriter dan permisif). Ada saatnya orangtua berlaku otoriter pada anak jika itu menyangkut ketaatan beribadah dalam agamanya dan beretika dalam bertingkah-laku. Ada saatnya orangtua permisif jika itu tidak menyangkut hal-hal yang prinsip dan mendasar sifatnya. Masing-masing orangtua lah yang memahami bagian mana kondisi-kondisi yang tidak terlalu prinsip itu.
Dengan menggabungkan pola asuh otoriter dan permisif dalam bentuk pola asuh demokratis, maka diharapkan perkembangan moral anak bisa tumbuh dengan positif. Anak bisa tumbuh dengan kematangan jiwa yang baik, memiliki rasa tanggung jawab, emosinya stabil, mudah bekerjasama, gampang menerima saran serta mampu mematuhi aturan tanpa merasa dipaksa.
Dari keluhan anak-anak di lapas, saya mencoba menarik kesimpulan. Mereka tidak pernah mendapatkan pola asuh yang benar. Masing-masing orangtua mereka sibuk dengan dirinya atas dasar ingin memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi tersebut membuat mereka lupa bahwa anak-anak mereka tetap membutuhkan perhatian, tempat mengadu serta berbagi tentang apa saja. Kelupaan itu pula yang membuat anak-anak mereka mencari perhatian dan perlindungan keluar rumah tanpa bekal mental yang kuat. Semoga ini menjadi cerminan bagi kita. [Wylvera W.]
 
 Note: Artikel ini pernah dimuat di Majalah Insani, edisi Juli 2017          



Senin, 09 Januari 2017

Pelatihan Menulis di SD Islam Al Azhar BSD

            Salah satu kebahagiaan yang membuat saya merasa harus terus menulis adalah ketika selesai memberi pelatihan tentang menulis itu sendiri. Rasanya ilmu yang saya punya tetap hidup dan berkembang sedemikian rupa. Itu sebabnya, saya selalu sulit menolak setiap tawaran untuk menjadi pemateri di pelatihan menulis cerita, baik untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. Meskipun ilmu menulis cerita yang saya miliki tidak semumpuni penulis-penulis kondang, namun naluri berbagi itu selalu menjadi prioritasnya.
            Pada bulan November 2016, saya diminta untuk menjadi pemateri oleh ibu-ibu pengurus BKOMS (Badan Koordinasi Orangtua Murid dan Sekolah) SD Islam Al Azhar BSD. Setelah melakukan pertemuan, akhirnya diputuskan bahwa acara akan digelar pada hari Kamis, 10 November 2016. Bertepatan dengan peringatan “Hari Pahlawan”. Saya diminta memberi pelatihan menulis kepada kurang lebih 300 siswa dari kelas 3, 4, 5, dan 6.

10 November 2016
            Tibalah hari yang ditetapkan. Pagi-pagi sekali saya sudah meluncur di jalan tol. Alhamdulillah, saya tiba lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Setelah menikmati sarapan di kantin sekolah yang megah itu, saya langsung diajak menuju aula. Saya terpana melihat backdrop yang terpampang di dinding bagian depan aula tersebut. Tiba-tiba dada saya sesak oleh rasa tersanjung. Karena masih sepi, saya sempatkan berfoto di depannya. 

            Sambil menyiapkan laptop dan materi yang sudah saya bawa, panitia juga mulai sibuk mengatur ruangan yang sebenarnya sudah tertata rapi. Pelatihan katanya akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk murid kelas 3 dan 4. Sesi kedua untuk murid kelas 5 dan 6. Tidak terlalu menunggu lama, suara-suara riuh pun terdengar. Anak-anak mulai memasuki ruangan dengan arahan ibu-ibu pengurus BKOMS. Mata saya langsung berbinar melihat keantusiasan mereka. Bahagia sekali rasanya. 

Hj. Endang Pujiati Sembiring (MC)
Hj. Dra. Akhsid Utami (Kepala Sekolah)
            Setelah semua berkumpul di aula, acara pun dibuka oleh pembawa acara, Ibu Hj. Endang Pujiati Sembiring. Setelah itu dilanjut oleh sambutan Kepala Sekolah, Ibu Hj. Dra. Akhsid Utami.  Dalam sambutannya, Ibu Kepala Sekolah mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari materi bulan bahasa di sekolah tersebut. Banyak kegiatan yang sudah dilakukan, dan pelatihan menulis adalah salah satunya, kata beliau. Beliau juga berharap dari pelatihan menulis ini kelak akan melahirkan penulis-penulis cilik berbakat dari sekolah mereka. Saya mengaminkan harapan beliau dalam hati.

Pelatihan menulis pun dimulai
            Seperti biasa, saya selalu mengawali pelatihan menulis dengan salam pembuka dan memperkenalkan diri. Selain itu, untuk menjalin kontak yang baik dengan anak-anak, saya juga tidak buru-buru berbagi materi. Saya sapa mereka dengan hal-hal terkait dunia kepenulisan. Dengan jumlah murid sekitar 150 anak (kelas 3 dan 4), tentu suara gemuruh saat anak-anak merespon pertanyaan saya kembali memenuhi aula. Saya kembali menenangkan suasana dan mengajak mereka untuk tekun menyimak materi tentang cara menulis cerita pendek yang akan saya sajikan. 


            Tema yang saya pilih adalah “Menulis itu Asyik”. Saya jelaskan untuk jangan pernah takut dan ragu-ragu ketika ingin menulis cerita. Kalau idenya sudah ada, mulailah menuliskannya. Bagaimana caranya? Saya menjelaskan tahapan yang bisa mereka praktikkan. Dari ide yang mereka pilih, agar lebih mudah memancing semangat mereka menuliskan ceritanya, mereka bisa menentukan nama-nama tokoh dalam ceritanya. Mulai dari tokoh utama sampai teman-teman maupun keluarganya. 
Saya memberi contoh buku kumcer murid-murid saya kepada mereka
            Setelah itu saya memberi tips untuk membuat poin-poin penting yang ingin mereka ceritakan tentang ide tersebut. Maksudnya agar ide yang sudah ada tidak terhenti secara tiba-tiba karena kehabisan bahan untuk diceritakan. Dari semua poin tersebut yang paling penting mereka pikirkan adalah konflik atau masalah apa yang dihadapi tokohnya. Saya jelaskan bahwa tanpa konflik/masalah, cerita tidak akan menarik untuk dibaca. Jadi, saya mengajak mereka untuk membuat konflik yang keren agar ceritanya seru untuk dibaca. Selain konflik/masalah, mereka juga harus membuat cara penyelesaiannya dengan baik. Tidak ujug-ujug konflik terpecahkan tanpa sebab dan akibat. 

            Di sela-sela penjelasan, saya tetap menjaga kontak dengan anak-anak tersebut. Berulang-ulang saya ajukan pertanyaan, “Apakah sudah mengerti dengan yang Bunda jelaskan?” Jika lebih banyak yang ragu-ragu menjawab “iya”, saya pasti akan mengulangnya dengan penyampaian yang lebih mudah untuk dipahami anak usia 8 – 10 tahun seperti mereka. Alhamdulillah, walaupun sesekali suara riuh memenuhi aula, konsentrasi mereka cenderung bisa saya jaga.


            Setelah semua materi selesai saya sampaikan, saya mengajak mereka untuk memraktikkannya. Agar lebih memudahkan, saya berikan pancingan sebuah ilustrasi/gambar. Saya minta mereka menulis sebuah cerita dari gambar yang saya berikan. Saya bebaskan mereka berkreasi dengan imajinasinya. Gambar yang saya berikan hanyalah sekadar untuk memancing ide mereka saja.
            Saat praktik menulis cerita, saya kembali bangga melihat semangat anak-anak SD Islam Al Azhar BSD ini. Mereka bergegas mengambil posisi untuk memulai tulisannya. Saya umumkan bahwa saya akan memilih lima cerita terbaik untuk mendapatkan buku karya saya. Wah! Mendengar itu, mereka kembali riuh. Saya tertawa dan terus menyemangati mereka agar menulis cerita yang keren, tidak biasa-biasa saja, dan seru konflik serta endingnya.


            Saat waktu berakhir, mereka berlomba mengumpulkan karyanya. Dua puluh pengumpul pertama saja yang akan saya nilai. Begitu perjanjian dan peraturan awalnya. Akhirnya terpilihlah lima penulis cerita terbaik yang mendapatkan hadiah buku karya saya. Kami sempatkan untuk berfoto bersama sebelum sesi kedua dilanjutkan.

            Sesi pertama berakhir dengan lancar. Saya beristirahat sejenak menyiapkan materi untuk murid-murid kelas 5 dan 6 di sesi kedua. Materinya sedikit berbeda dengan adik-adik mereka. Saya menambahkan cara menentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita yang akan mereka tulis. Semakin unik karakter tokoh utamanya maka akan semakin cepat diingat oleh pembacanya, begitu saya jelaskan.
            Kalau di sesi pertama, saya tidak sempat membuka kesempatan untuk tanya-jawab, maka di sesi kedua saya memberi kesempatan itu. Beberapa murid berlomba untuk mengajukan pertanyaan. Salah satu pertanyaan yang paling saya ingat, “Kalau kita bikin cerita dari cerita yang pernah kita baca, boleh nggak, Bu?” Pertanyaan itu sangat menarik. Saya jelaskan bahwa banyak cerita-cerita yang pernah kita baca seolah mirip satu dengan lainnya. Mengapa demikian? Sebab, hampir tidak ada yang benar-benar baru di dunia cerita. Semakin banyak cerita yang dibaca maka ketika ingin menuliskan cerita kita sendiri, tanpa sadar kita akan terinspirasi oleh cerita-cerita yang kita baca.
            “Yang tidak boleh atau diharamkan dalam dunia kepenulisan adalah mencontek bulat-bulat alias plagiat. Kalau terinspirasi, boleh-boleh saja asal tidak menjiplak utuh nama tokoh, setting, alur cerita terutama konflik serta endingnya.”

Sesi untuk kelas 5 dan 6
            Berikutnya saya diberitahu bahwa murid-murid SD Islam Al Azhar tersebut sudah memiliki tabloid. Beberapa pengurus tabloidnya ada di ruangan tersebut. Saya kagum mendengarnya. Selanjutnya, saya sedikit mengalihkan materi. Walaupun materi menulis cerita dan berita itu berbeda, namun pada dasarnya unsur yang tidak boleh mereka abaikan adalah tentang 5W + 1H. Unsur ini pun ada dalam penulisan cerita. Yang membedakannya adalah faktual, aktual, dan tidaknya. Lalu, saya jelaskan sekilas tentang kerja seorang jurnalis. 
            Setelah itu, seperti di sesi pertama, saya kembali mengajak murid-murid kelas 5 dan 6 ini memraktikkan materi yang sudah mereka dapat. Saya juga memberikan pancingan dua gambar untuk mereka jadikan ide ceritanya. Peraturannya sama. Dua puluh pengumpul cerita pertama saja yang akan saya nilai.

Cinderamata dari Ketua BKOMS
Bersama ibu-ibu pengurus BKOMS
            Akhirnya kembali terpilih lima penulis cerita terbaik yang mendapatkan hadiah buku karya saya. Sesi foto bersama tentu menjadi penutup yang berkesan. Tidak hanya dengan para penulis ciliknya, tapi dengan panitia BKOMS juga.

Pulang membawa kesan indah
            Betapa rasa tersanjung itu terus saya rasakan. Selepas menjadi pemateri menulis, bingkisan cantik menjadi oleh-oleh manis yang saya terima. Sepertinya tidak cukup itu saja. Panitia menjamu saya untuk makan siang di salah satu restoran yang lokasinya masih seputar BSD. Masya Allah … dalam hati saya berharap agar apa yang saya berikan kepada murid-murid SD Islam Al Azhar BSD tersebut bermanfaat dan bisa diaplikasikan ke depannya. 

            Saat menuju pulang, saya kembali mendoakan agar semakin banyak anak-anak yang tertarik untuk mencintai dunia menulis dan membaca. Semoga dari mereka kelak akan lahir penulis-penulis cerita dengan karya-karya keren yang abadi sepanjang masa.
Terima kasih, ibu-ibu panitia. Semoga kehadiran saya benar-benar meninggalkan manfaat buat para buah hatinya. Aamiin. [Wylvera W.]

Senin, 05 Desember 2016

Cemburu itu Membuat Saya Malu


 
Sumber foto: WhatsApp Group

            Sebelum berbagi pengalaman versi saya tentang aksi damai 411 dan aksi super damai 212, saya mohon perlindungan terlebih dahulu kepada Allah. Semoga tidak terselip niat riya selama menyelesaikan cerita yang sarat dengan segala rasa ini.
            Bismillah ….
Sebagai seorang yang aktif di facebook, teman-teman yang ada di friend list saya mengenal saya sebagai penulis. Selain itu sebagian dari mereka juga tahu kalau saya adalah guru ekstrakurikuler jurnalistik dan menulis di salah satu sekolah Islam Bekasi. Sejak memiliki akun fecebook, saya hampir tidak pernah memasang status yang rentan memancing perdebatan. Status saya biasanya terkait dengan buku atau karya-karya saya, cerita-cerita tentang anak-anak saya, dan pengalaman lain yang ringan-ringan. Mungkin itu sebabnya belakangan ini ada satu dua orang yang penasaran dan mengajukan pertanyaan.
            "Mbak Wyl beda ya sekarang. Status-statusnya di FB beda banget. Nggak nulis buku lagi ya, Mbak?"
            Semua itu berawal dari kasus dugaan penistaan terhadap Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 51 yang merebak di media sosial. Meskipun mulanya saya belum begitu tergerak untuk menyikapinya. Saya biarkan hati saya terus mengikuti perkembangan beritanya. Hingga akhirnya saya sadar bahwa sebagai umat Islam, saya tidak seharusnya diam dan menjadi penonton saja. Quote-quote penggugah rasa pun bertebaran di facebook. Hati saya begitu tercubit saat membaca apa yang dikatakan oleh Buya Hamka.
“Jika ghirah telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan 3 lapis, sebab kehilangan ghirah sama dengan mati.” – (Buya Hamka). 


            Walaupun sebenarnya Al Qur’an tak butuh pembelaan, sebab Allah SWT telah menjaganya hingga akhir zaman nanti. Namun, sejak itu, hati saya seperti digiring untuk terus melakukan pembelaan. Saya mulai merasakan kemarahan dan kekecewaan. Saya terluka dengan penghinaan itu. Mengapa ayat Al Qur’an yang agung dan merupakan firman Allah SWT yang menjadi pedoman umat muslim dalam menjalankan aqidahnya dinodai sedemikian rupa? Saya tidak boleh diam saja tanpa bersikap.
Saya malu jika mengingat kisah semut Ibrahim. Kalau seekor semut saja mampu memosisikan dirinya, kenapa saya tidak? Sejak itulah status-status saya di facebook mulai menampakkan keberpikahan saya yang sesekali memancing perdebatan. Sampai saya pun akhirnya mengambil jalan memutus pertemanan di facebook dengan teman yang komentar-komentarnya sangat tendensius dan cenderung merusak mood saya. Untuk itu, saya mohon Allah mengampuni sikap ketidaksabaran dan kekurangikhlasan saya.       
Kembali ke pertanyaan teman tersebut, saya pun memberi jawaban dari apa yang saya rasakan. Inilah jawaban saya di facebook;
Saat ini iya, saya jeda dulu dari menulis untuk buku. Hati saya sedang fokus pada menulis dan menyuarakan apa yang sedang diperjuangkan saudara-saudara seiman saya. Walau hanya di status facebook. Kan saya sejatinya hanya ibu rumah tangga. Tidak terdesak oleh tuntutan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Jadi saya punya waktu lebih banyak untuk melibatkan diri. Di luar sana, banyak perempuan muslim yang bekerja full time saja rela meluangkan waktunya untuk memperjuangkan kasus yang masih belum kelar ini. Masa saya cuek sih? Saya takut nanti Allah murka pada saya. Na'udzubillahimindzalik. Saya nggak siap mempertanggungjawabkannya di yaumil hisab nanti. Saya rasa saya masih punya waktu untuk ikut berjuang walau efeknya kecil, dan mungkin nggak ngaruh juga. Namun, semoga yang kecil sekali ini, Allah jadikan tabungan saya untuk di sana nanti. Aamiin.”
Meskipun demikian jawaban saya, jauh di lubuk hati, saya tetap menyimpan rasa cemburu itu. Dan bisa jadi ada riya bersemayam diam-diam di sudut hati ini tanpa saya sadari. Astaghfirullah. Sejujurnya, apa yang saya lakukan tidaklah berarti. Saya hanya mampu membela dari wall fecebook saya saja. Bahkan saat saudara-saudara seiman saya turun berkumpul melakukan Aksi Bela Islam II, pada tanggal 4 November 2016 (411), saya tidak bisa melibatkan diri. Walau hati ini ingin sekali ikut bersama mereka, saya tetap tidak bisa. Sebab saat itu saya sedang ada di Lombok.
Saya cemburu sekali pada mereka, sehingga keberadaan saya di Lombok terasa tidak maksimal karena pikiran saya terpecah. Saya cemburu jika karena ketidaktotalan saya berjuang, Allah akan murka pada saya. Saya cemburu jika momen ini tak memberi kesempatan pada saya untuk menambahkan berat pahala sebagai penolong saya di yaumil hisab nanti. Astaghfirullah ….
Sepulang dari Lombok, saya kembali fokus mengikuti perkembangan kasus penistaan Surah Al Maidah ayat 51 ini. Sampai akhirnya tuntutan bergulir pada tahap  bahwa Basuki Tjahaya Purnama/Ahok diputuskan sebagai tersangka. Alhamdulillah.
            Tuntutan umat muslim yang merasa kitab sucinya dinistakan belumlah usai. Walaupun Ahok telah diputuskan sebagai tersangka, namun keberadaannya masih bebas. Para ulama kembali berjuang untuk melakukan tuntutan hukum agar Ahok segera diadili dengan tuntas. Atas kuasa dan izin Allah SWT, akhirnya sampailah pada kesepakatan untuk menggelar “Aksi Bela Islam III” pada tanggal 2 Desember 2016. Kesepakatan itu saya saksikan di layar tivi. Tidak hanya saya, di sebelah duduk Mama saya yang begitu serius menyimak acara tersebut. 

Mama saya menyiapkan bekal ikut aksi 212
            Yang paling membuat saya terkejut, saat Mama saya tiba-tiba menyatakan keinginannya untuk ikut aksi 212 itu.
            “Serius Mama mau ikut? Kok tiba-tiba mau ikut, kenapa , Ma?” tanya saya masih belum yakin.
            “Iya. Kemarin jujur saja, Mama takut waktu kau bilang kalau ada demo lagi mau ikut. Mama takut terjadi apa-apa. Tapi begitu tadi mendengar Habaib Riziq bilang akan aman karena aksinya super damai, Mama jadi yakin mau ikut denganmu. Malu juga kalau cuma diam-diam di rumah, padahal hati Mama pun marah sama si Ahok. Bukan soal politik-politikan ini. Enggak ngerti Mama kalau soal itu. Mau ikut bantu berdoa. Mudah-mudahan habis aksi ini, Allah menolong umat Islam dan menunjukkan siapa yang salah,” jawab Mama bersemangat dengan sudut pandangnya yang sederhana.
Masya Allah, cemburu di hati saya kembali mencuat mendengar kata-kata Mama saya itu. Puncak rasa cemburu itu, ketika saya mengikuti berita bahwa rombongan para santri dari Ciamis akan datang ke Jakarta. Mereka tidak datang dengan menumpang kendaraan, melainkan berjalan kaki. Foto-foto alas kaki santri yang bolong, santri dengan kondisi fisiknya yang jika dipandang oleh kasat mata, rasanya tidak mungkin sampai ke Jakarta dengan berjalan kaki, ternyata bisa tiba juga. Dan, masih banyak gambaran yang begitu menggetarkan hati. 

Rombongan santri Ciamis yang berjalan kaki dari tempat asalnya :'(
Sumber foto (atas dan bawah): Facebook

Allahu Akbar!
Lagi-lagi hati saya menangis. Saya menyaksikan kebenaran kabar itu di televisi dan media-media sosial. Siapa yang menggerakkan mereka? Uang? Perintah ulama? TIDAK! Mereka datang atas dorongan keyakinan (iman) serta nurani yang marah dan tidak rela menerima penistaan terhadap Al Qur'an, Surat Al Maidah 51 oleh Ahok. Ghirah yang ada di hati mereka tak surut saat mengetahui bahwa sempat ada pelarangan dari aparat kepolisian kepada pengusaha bus untuk menyewakan kendaraannya menuju Aksi Bela Islam III 212.  Lalu, sebesar apa kontribusi saya dan Mama saya pada perjuangan membela Al Qur’an dari penista tersebut? Tidak lebih besar dari senoktah. Ya Allah, ampuni kami ini.
Sehari sebelum Jum’at, 2 Desember 2016, saya seperti nyaris kehilangan kesempatan untuk mewujudkan keinginan hadir di Aksi Super Damai 212. Tiga kali mencoba bergabung dengan rombongan dari Bekasi, berakhir batal karena beberapa kendala. Namun, lagi-lagi atas izin Allah SWT, saya dan Mama akhirnya diberi kesempatan berangkat bersama rombongan mujahid dan mujahidah dari Pesantren Enterpreneur Bekasi. Alhamdulillah ….

Briefing di depan kantor PE, Emerald Sumarecon Bekasi sebelum berangkat
Menunggu keberangkatan dari stasiun kereta Bekasi
Dari keberangkatan itulah rasa cemburu saya mulai berkecamuk. Tiba di stasiun kereta, saya menyaksikan rombongan yang berniat sama, menuju Silang Monas Jakarta. Mulai dari yang muda, tua, hingga anak-anak pun ikut serta dengan menampilkan wajah-wajah yang mengekspresikan keberanian dan siap berjihad dalam pekik takbir yang berkumandang berulang-ulang.  Masya Allah … saya tak bisa melukiskan gemuruh di dada saya ketika itu. Sesak menahan tangis semakin terasa berat. Apalagi ketika menyadari bahwa semangat dan ghirah saya ternyata hanya sebutir debu di antara semangat mereka.
Tiba di stasiun Gondangdia, Jakarta, tubuh saya kembali bergetar pelan. Dada saya bolak-balik bergemuruh mendengar gema takbir yang berulang-ulang dikumandangkan para mujahid dan mujahidah yang semakin membaur dari segala penjuru. Saya lirik Mama saya sekilas. Mata beliau sudah sempurna bekaca-kaca menahan tangis. Mungkin Mama merasakan hal yang sama dengan saya. Sebab, ini juga menjadi pengalaman pertama bagi Mama saya.

Dari stasiun Gondangdia menuju Silang Monas
Sumber foto: facebook

Rombongan kami pun akhirnya membaur dengan yang lainnya. Kami berjalan menuju Silang Monas. Seketika itu saya seolah diingatkan oleh suasana saat menjalankan prosesi berhaji yang berjalan bersama jema’ah menuju Mina untuk melempar jumrah. Merinding, degdegan, haru, berbaur menjalari tubuh saya.  Saya yang baru merasakan nikmatnya berhaji bulan September 2016 lalu, seolah dikembalikan pada suasana yang mirip di tanah haram, Mekkah. Gelombang manusia yang datang dari Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Palembang, Jogjakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi tumpah ruah di Jakarta. Saya yakin bahwa Allah SWT yang menggerakkan itu semua. Semua datang demi untuk satu tujuan, yaitu menuntut agar hukum ditegakkan seadil-adilnya bagi Ahok, si penista Surat Al Maidah 51.
Saya yang baru pertama kali ikut aksi demo, tentu saja takjub melihat pemandangan yang luar biasa itu. Sebentar-sebentar saya menarik napas agar air mata ini bisa ditahan. Dada saya sesak menahan haru yang meluap-luap. Apalagi saat berpapasan dengan para relawan yang begitu gesit membagikan makanan dan minuman di sepanjang jalan menuju Monas. Ya Allah, sampai saya sulit menolaknya, padahal tas saya dan Mama sudah sesak dengan makanan. Saya tidak berani menolak apa yang mereka berikan, sebab bagi mereka itu adalah nilai-nilai yang mereka yakini sebagai amalan jihad. Allahu Akbar!

video

Kenyataan itu kembali membuncahkan rasa cemburu di hati saya. Rasa cinta pada Al Qur’an dan Islam begitu besar sehingga membentuk kekuatan yang super dahsyat untuk sebuah tujuan yang sama. Dari pagi hingga selesai sholat Jum’at pada hari itu telah menyelipkan banyak sekali pengalaman dan kenangan indah dalam batin saya. Gema takbir dan tahlil dari jiwa-jiwa yang ingin membela kebenaran kian memenuhi lapangan Monas dan sekitarnya. Saf-saf untuk persiapan sholat Jum’at perlahan kian penuh. Merinding saya melihat kenyataan yang sedemikian menakjubkan itu. Sekali lagi, saya seolah terbawa ke suasana wukuf di Padang Arafah. Saat itu, air mata saya tak bisa dibendung lagi. Lepas sudah membasahi pipi ini.
Ketakutan dan kekhawatiran akan terjadi kerusuhan yang di awalnya sempat terselip sebelum tiba di area aksi superdamai, seketika pupus tanpa bekas. Bertukar dengan rasa syukur yang tak bisa digambarkan dengan keindahan kata-kata. Maha Mulia Allah SWT yang telah menggerakkan hati para hamba-Nya untuk menunjukkan pada dunia bahwa inilah umat muslim yang sesungguhnya. Yang selama ini kerap dikecam sebagai sumber kemunculan teroris, provokator, dan pandangan negatif lainnya. 

Saf para Mujahidah yang tetap tertib hingga akhir aksi
 Puncak kecemburuan saya akhirnya sampai pada momen pelaksanaan sholat berjema’ah. Saya yang saat itu sedang berhalangan sholat merasa sedih sekali. Sekuat  tenaga saya menenangkan hati dan meyakinkan diri bahwa sesungguhnya Allah sedang memberi kesempatan kepada saya. Dengan berhalangannya saya sholat, saya memiliki kesempatan untuk lebih melihat dan merenungi sekeliling saya saat itu. 

Hujan tak menghalangi kekhusyukan sholat
Ini salah satu yang membuat pipi saya basah air mata bercampur tetes hujan ;'(
Betapa keikhlasan itu jelas tergambar di mata saya begitu melihat hujan yang kian tercurah dari langit Allah. Hujan yang sudah sempurna membasahi sajadah, mukena, hijab, dan baju mereka seolah menjelma seperti air yang menyejukkan jiwa. Mereka tetap khusyuk menegakkan sholat berjema’ah. Sama sekali tak membuat para mujahid dan mujahidah beranjak dari safnya. Ya Allah … Engkau tampakkan pada saya bentuk ikhlas yang demikian besar. Tak sepantasnya rasa cemburu ini saya simpan berlama-lama dalam hati. Astaghfirullah ….
Sekali lagi saya menyapu pandangan ketika semua khusyuk menegakkan sholat. Inilah ummat muslim yang selalu Allah jaga hati dan sikapnya dari keberingasan, kebusukan, serta kekotoran hati dan niat yang ingin menghancurkan keutuhan bangsa dan negara (NKRI). Kami datang dan berkumpul untuk melantunkan doa-doa demi mengetuk pintu langit dan memohon keridhoan Allah SWT untuk satu tujuan mulia. Kami hanya ingin hukum dan keadilan ditegakkan agar tak ada penista agama/kitab suci yang bisa bebas melakukan kesombongannya tanpa ganjaran. Semoga Engkau menggerakkan hati para pemimpin negeri ini, para penguasa dan penegak hukum untuk jujur menjalankan amanah dan tanggung jawabnya. Aamiin Ya Rabb.
Kami dan seluruh ummat muslim (rakyat Indonesia) yang mendukung aksi 411 dan 212 ini hanya menginginkan satu hal. Tuntutan ummat Islam terhadap tersangka penista Al Qur’an Surat Al Maidah 51, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) segera diproses dengan sejujur-jujurnya. Aamiin. [Wylvera W.]
       
Note: Semoga catatan ini menjadi pengingat saya dan anak cucu saya kelak. Aamiin          

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...