Tampilkan postingan dengan label Bukuku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukuku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2015

Catatan di Balik Lahirnya Buku “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess”




Penulis mana yang tidak girang, ketika mendengar kabar kalau bukunya masuk dalam urutan pertama penjualan di toko buku terbesar tanah air? Yang bikin bangga dan nyaris tidak percaya, sembilan buku berikutnya adalah karya para penulis beken di negeri ini.
Ya, buku karya saya yang berjudul “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess” pernah menempati posisi teratas di daftar “Top Ten Gramedia Publishers” di toko Gramedia Cijantung. Kegembiraan itu seolah tak putus ketika saya kembali menerima laporan dari teman-teman penulis lainnya. Buku ini juga diletakkan di rak belakang meja kasir Gramedia, sementara di toko lainnya dikelompokkan pada buku yang direkomendasikan.


Namun di balik kegembiraan itu, tetap terselip rasa khawatir di hati saya. Akankah buku karya saya ini bisa bertahan di posisi yang sama hingga mencapai keseluruhan jumlah eksemplar yang dicetak habis? Mampukah penjualan itu mencapai proses cetak ulang? Atau apakah buku ini benar-benar memberi manfaat bagi seluruh pembaca yang sudah membeli dan membacanya? Pertanyaan ketiga ini sebenarnya yang paling menguasai rasa khawatir saya.

Latar belakang penggarapan 
Baiklah, kita lupakan sejenak rasa gembira dan kekhawatiran itu. Saya ingin mengulas cerita di balik proses penulisan cerita ke-99 judul dalam buku “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess” ini.
Bagi saya, belajar dan terus menggali ilmu menulis itu adalah keharusan bagi seseorang yang berprofesi sebagai penulis. Walaupun saya sudah sering memberi pelatihan menulis kepada anak-anak dan remaja, saya tetap merasa bahwa ilmu menulis saya perlu ditambah terus. Saya tidak pernah minder untuk melebur dalam kelas-kelas menulis, khususnya yang digawangi oleh penulis yang berpengalaman. Semua itu pasti ada manfaatnya. Terutama untuk meningkatkan kemampuan saya dalam teknik menulis yang lebih baik. Selain itu, saya juga bisa menularkannya kepada murid-murid saya. Jadi, tidak ada yang sia-sia.
Semua berawal dari semangat mengikuti kelas menulis online buku bacaan anak yang digawangi Ali Muakhir. Siapa sih yang tidak kenal dengan beliau? Saya menyebutnya sebagai salah satu Suhu menulis buku cerita anak di tanah air. Beliau merupakan founder kelas menulis online yang nge-trend dengan nama “Winner Class”.
Sudah lama saya mendengar tentang “Winner Class” ini, namun belum terbesit di hati untuk bergabung. Hingga pada suatu hari, saya begitu tertarik untuk mengikuti kelas pelatihan editing naskah di sana. Itulah momen awal yang membuat saya melebur di dalamnya. Selain itu, banyak kesempatan yang ditawarkan kepada para penulis buku anak di grup itu. Mulai dari pelatihan editing, proyek menulis buku seri melalui audisi naskah, sampai cara mengonsep buku anak. 

Salah satu kiriman foto dari teman penulis
Saya sudah dua kali lolos audisi untuk sebuah proyek buku seri Islami di sana. Namun, kesempatan itu tidak lantas membuat saya puas. Ketika tawaran untuk belajar “Cara Mengonsep Buku Anak” kembali diumumkan di grup, saya lagi-lagi ikut bergabung. Jadilah saya salah satu peserta yang direkrut dari beberapa teman penulis anak lainnya. Oleh Imran Laha dari Penerbit Adibintang yang diundang Ali Muakhir, kami diajarkan untuk melihat peluang saat ingin mengajukan sebuah konsep naskah ke penerbit.
Setelah tips dan trik melihat peluang dipaparkan, kami pun ditantang untuk mengajukan konsep buku anak Islami oleh Imran Laha. Saya nekat mengajukan 4 judul waktu itu. Setelah melalui beberapa tahap seleksi, akhirnya dari keempat konsep buku yang saya tawarkan, hanya dua yang lolos. Namun, baru satu yang mampu saya selesaikan, yaitu “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess”. Alhamdulillah ....
Konsekuensi dari lolosnya konsep tersebut, saya harus memenuhi target deadline yang ditetapkan oleh Imran Laha. Untuk menyelesaikan cerita dari 99 judul yang saya ajukan, Imran Laha memberikan waktu 1 bulan. Merinding saya membayangkannya. Namun, saya tak berani menawar. Saya kerjakan saja dulu sekuat tenaga. Mulai dari mengumpulkan referensi tentang makna 99 Asmaul Husna, lalu menyusun judul dan isi cerita yang sesuai dengan makna nama-nama mulia milik Allah itu.
Ketika waktu yang ditentukan nyaris berakhir, saya hampir putus asa tapi gengsi meminta tambahan waktu. Lama saya mempertimbangkannya sambil terus berusaha mengejar target. Sebenarnya bukan hanya saya yang melewati batas waktu yang diberikan. Beberapa teman penulis lainnya juga masih banyak yang belum menyetor naskahnya. Tapi, sungguh bukan itu alasan saya menunda-nunda waktu. Banyak kendala yang menghambat saya tidak bisa menepati deadline.
Hingga akhirnya saya nekat menawar juga dan meminta tambahan waktu setengah bulan lagi kepada Imran. Alhamdulillah ... betapa senangnya saya ketika beliau tanpa ragu memberi tambahan waktu itu. Tambahan waktu itu tentu tidak saya sia-siakan. Saya mengubah kecepatan menulis dan berusaha fokus.

Proses pemilihan judul
Mengapa saya memilih 99 Asmaul Husna lalu menuangkannya dalam kisah 99 Princess? Pertama, saya membuat target awal untuk calon pembaca buku saya ini adalah anak perempuan. Kedua, menurut saya, trend tokoh yang seolah tak pernah surut di perbukuan anak, salah satunya adalah tokoh princess. Ketiga, selain penulis, profesi saya adalah pengajar eksktrakurikuler jurnalistik dan kepenulisan di salah satu SDIT. Saya memiliki murid yang semuanya anak perempuan. Dari murid-murid saya itulah saya menyimpulkan bahwa pembaca anak (perempuan) masih cenderung menyukai cerita dengan tokoh ala-ala princess. Keempat, bagaimana caranya agar pembaca anak (Islam) mudah mengingat sekaligus memahami nama-nama indah kepunyaan Allah Swt. ini.
Saya ingin agar mereka tidak hanya mampu sekadar menghapal, namun paham menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, saya ambil dari Asmaul Husna “Ar Rahman”. Anak-anak muslim umumnya tahu arti dari “Ar Rahman” adalah “Yang Maha Pengasih”. Lalu, seperti apa aplikasinya dalam kehidupan? Saya pun mengurainya dalam sebuah cerita dengan tokoh putri yang diberi nama Princess Rahmania dengan judul, “Princess Rahmania dan Sayap Burung yang Terluka”. Di cerita Princess Rahmania inilah saya sajikan kisah yang mencerminkan pengamalan dari makna “Pengasih” tadi. Untuk melengkapi pemahaman mereka sebagai pembaca buku ini, di akhir setiap cerita, saya juga menjelaskan kembali arti/maksud dari setiap Asmaul Husna itu.
Terkait dengan target pembaca, sebenarnya tidak mutlak. Saya juga ingin agar anak laki-laki kelak suka dan tertarik untuk membaca buku saya ini. Lalu, bagaimana caranya? Saya pun mencari ide agar 99 cerita yang saya sajikan tidak hanya dapat dibaca oleh anak perempuan saja. Tokoh princess di dalam buku itu hanya sebagai tokoh utamanya saja. Sementara alur dan kisah-kisahnya masih pas dengan anak laki-laki. Ingin membuktikannya? Silakan miliki bukunya ya. *eh, saya serius lho ... ^_^*
Tidak ada proses yang tidak menemukan kesulitan. Saya pun mengalaminya. Saya sangat hati-hati dan takut sekali jika dari 99 cerita yang saya tulis, terjadi pengulangan kisah atau mirip-mirip. Enggak lucu ‘kan, kalau dalam satu buku ada dua cerita yang serupa tapi nama tokohnya berbeda? Untuk itu, setiap judul saya sertakan outline singkat dan fokus dalam penggarapan kisah demi kisahnya. Tapi ini hanya untuk panduan saya saat mengerjakannya saja, alias tidak diserahkan ke editor.  


Buku saya diletakkan dalam jajaran buku rekomendasi

Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menuntaskan 99 kisah dan menyetornya kepada Imran Laha sebelum waktu setengah bulan yang ditambahkan. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Saya harus sabar menunggu keputusan naik cetak naskah calon buku saya. Mulai dari proses editing, penggarapan ilustrasi, layout, dan lainnya. Deg-degan? Tentu!
Kesabaran saya akhirnya berakhir tidak lebih dari tiga bulan. Buku “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess” karya saya pun terbit di bulan Ramadan 1436 H (Juni 2015). Dengan ketebalan 212 halaman, harga 125 ribu rupiah, buku ini tampil dengan desain yang menawan (menurut saya ^^). Alhamdulillah, saya senang sekali. Kerja keras saya berbuah manis.
Tak lupa, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada Imran Laha dan Penerbit Adibintang yang telah memberi kesempatan kepada saya menuliskan kisah “99 Asmaul Husna dan Kisah Para Princess” ini. Ucapan terima kasih yang sedalamnya juga saya sampaikan kepada para orangtua dan anak-anak yang telah membeli dan membaca buku ini. Kepada Mbak Nurul yang telah mengapresiasinya dalam blog pribadi seperti di link ini. 
Selanjutnya, sambil menunggu progress penjualannya, saya berdoa agar buku ini selalu mendapat tempat di hati para pembacanya. Isinya dapat memberikan manfaat dan keberkahan. Aamiin. [Wylvera W.]

Selasa, 14 Juli 2015

Cerita di Balik Duet “Gundam Attack!”


Sudahkah membeli buku keren ini? ^_^ (dokpri)

            Tawaran menulis duet dari Mas Noor H. Dee (editor Nourabooks) tidak langsung membuat saya gembira. Pasalnya, teman yang mau diajak menulis duet belum tentu bersedia. Namun, agar tidak kehilangan kesempatan, saya tetap menyatakan “iya” waktu itu.
            Khalid memang pernah menjadi bagian dari komunitas Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Bahkan beberapa buku karyanya sudah terbit dan mejeng di toko buku. Namun setelah SMP, semangat menulisnya mulai menurun dan beralih ke hobi lain, seperti bermusik, games online, dan merakit gundam plastik menjadi robot-robot kecil. Kalaupun ingin menulis, itu karena di-request. Seperti untuk majalah internal yang saya gawangi di kantor suami.
            Setelah menyetujui permintaan Mas Noor H. Dee, saya pun memutar akal untuk membujuk Khalid. Awalnya dia menolak dan sedikit komplen. “Ibu sih, nggak nanya dulu baru bilang iya ke editornya,” protesnya. Sambil harap-harap cemas, saya langsung menawarkan kalau cerita yang akan kami tulis nggak jauh-jauh dari hobinya. Betul saja, matanya langsung berbinar. “Memang mau nulis apaan?” tanyanya mulai terpancing usulan saya. “Kita menulis tentang gundam. Nulisnya bergantian. Bab pertama versi Ibu, bab kedua versi Khalid. Begitu seterusnya,” ujar saya kembali membuatnya bingung.
            Akhirnya saya menjelaskan kalau idenya adalah tentang kegalauan Ibu. “Haaah?! Berarti kita mau cerita ke orang-orang kalau aku sama Ibu suka debat soal gundam, gitu?” kembali Khalid ragu. Saya jelaskan kalau perbedaan pandangan itulah yang menjadi nyawa ceritanya. Saya yakinkan kalau dia tidak perlu khawatir karena justru perselisihan, perbedaan pendapat dan persepsi, serta proses menyesuaikan konsep berpikir Ibu dan anak akan menjadi warna cantik yang bakal mengisi ceritanya. Alhamdulillah, Khalid paham dan menyetujui.
            Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa gunpla adalah singkatan dari kata gundam plastik. Gundam adalah robot berupa mesin perang yang dikemudikan oleh seorang pilot. Nama gundam sendiri mulai dikenal melalui serial televisi terpopuler di Jepang. Sementara gunpla adalah rakitan dari runner atau rangka awal sebelum bagian-bagian gundam plastiknya dicopot. Nah, inilah yang hampir setiap hari menemani Khalid di sela jadwal sekolahnya yang padat. Hobi ini pula yang kerap memicu amarah saya.
            Kegemaran dan kecintaan Khalid pada gundam beberapa kali memicu pertengakaran di antara kami. Khalid jadi seolah-olah mengisolasi dirinya di kamar demi gundam-gundamnya. Bahkan semangat belajarnya pun perlahan menurun gara-gara tersedot oleh pesona gundam itu. Kondisi inilah yang memicu saya untuk menuangkannya dalam cerita. Kami akan berbagi sudut pandang untuk menyikapi perbedaan ini dalam buku yang akan kami garap bersama.

Proses menulis yang tak jarang memancing debat
            Saya mengawalinya dengan plot. Sebelum memulai menulis, saya tunjukkan terlebih dahulu ke Khalid plot yang sudah saya rancang. Betul saja. Selalu ada protes darinya.
            “Ibu jangan asal-asalan dong menerangkan tentang apa itu gunpla dan gundam. Trus, versi akunya jangan seperti itu,” katanya memberi koreksi dan membantu meluruskan plot.
            Begitulah, akhirnya kami pun mulai menulis. Karena sudah pernah menulis beberapa cerita menjadi buku, Khalid lebih mudah memahami arahan saya. Saya mengambil bagian sudut pandang Ibu dan Khalid mengambil sudut pandangnya yang berperan sebagai Ciko di cerita ini.
Jangan dikira dalam proses mengeksekusi 8 bab untuk target 60 halaman itu mulus dan lancar. Hingga akhir pun masih terjadi perdebatan. Ketika saya bingung mau melanjutkan dari bab yang sudah dikerjakan Khalid, anaknya malah santai-santai saja dan bilang, “Yang penting aku sudah bikin begitu. Ibu kreatif dong melanjutkannya.” Wuahahaha ... alih-alih gondok dan kesal, yang ada saya malah bawa ketawa.
            Seru! Itu kesimpulan yang bisa saya ambil. Menulis duet dengan anak sendiri yang karakternya cuek itu memang sesuatu banget. Tapi ketika melihat hasil akhirnya, semua perdebatan yang sempat terjadi selama proses menyelesaikan cerita “Gundam Attack!” seolah menguap begitu saja. Saya juga melihat tatapan puas dan senang di mata Khalid ketika bukti terbit dari buku duet kami tiba di rumah.   
Nah, bagaimana dengan Bapak dan Ibu? Enggak kepengin nulis duet juga dengan putra-putrinya? Eiiits, jangan bingung. Kalau mau referensi dan format ceritanya, silakan beli dulu buku duet “Gundam Attack!” kami ya. Penerbit Nourabooks masih menunggu kiriman naskah lainnya kok. Ayo, jangan sampai ketinggalan kesempatan ya. ^_^  [Wylvera W.]



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...