Kamis, 28 Maret 2013

Merangkai Ide di Balik Jeruji



(Repost)

Siang itu, 26 Maret 2013, selepas saya menghadiri rapat di kantor sekretariat Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia, ada rasa tak sabar untuk segera meninggalkan ruang rapat. Pasalnya, hari itu adalah jadwal saya untuk melanjutkan memberi materi pelatihan menulis di Lapas Anak Pria, Tangerang. Rasa rindu ingin bertemu anak-anak didik lapas yang menjadi peserta pelatihan menulis itu sudah sempurna menguasai hati saya.

Begitu rapat usai, saya pun bergegas meninggalkan gedung Bank Indonesia menuju Tangerang. Namun sebelumnya saya harus menjemput teman-teman dari Gerakan Peduli Remaja (GPR). Mobil yang saya kendarai melaju dari arah Jalan Thamrin menuju kawasan Tebet dengan kecepatan sedang. Akhirnya kami kembali bersama menuju Tangerang.

Cuaca yang lumayan panas tak menghalangi niat saya untuk menyetir mobil di sepanjang tol. Justru saya ingin segera tiba di lapas, bertemu anak-anak itu, melanjutkan materi untuk berbagi ilmu menulis kepada mereka. Saya sudah berjanji untuk kembali.

Karena waktu Zuhur sudah terlewati beberapa saat, kami pun terlebih dahulu memutuskan untuk singgah di mesjid yang ada di salah satu rest area. Di akhir sholat saya tak lupa memanjatkan doa untuk anak-anak lapas itu. Memohon kasih sayang Allah untuk melimpahkan hidayah dan penerang jiwa kepada mereka. Semoga doa-doa saya diijabah. Aamiin.

Di sinilah kelak mereka merangkai ide

Akhirnya, kami tiba di lapas tepat pukul 13.30 WIB. Seperti biasa, kami harus mengisi buku tamu terlebih dahulu. Setelah itu Pak Bagus (salah satu penanggung jawab lapas) mendampingi kami menuju aula. Tak berapa lama, anak-anak lapas pun kembali bekumpul. Hati saya yang tadinya berbunga tiba-tiba terselip rasa kecewa. Apa pasal? Mereka tak seramai di pertemuan pertama. Saya nyaris berpraduga bahwa sebagian dari anak-anak lapas itu bosan dan tak ingin lagi mengikuti pelatihan menulis dari saya.

“Kok hanya 14 yang hadir? Yang 6 lagi mana?” tanya saya dengan hati cemas.

“Ada yang lagi bertugas, Bunda. Jadi enggak bisa ikut,” jawab salah satu dari mereka.

Lega rasanya. Dugaan saya ternyata meleset. Dari 20 anak yang ada di pertemuan pertama, saat itu hanya 14 yang bisa kembali hadir di sesi kedua pelatihan menulis. Bukan karena mereka bosan dan jera mengikuti materi menulis yang saya berikan, ternyata ada sebab lain yang tak memungkinkan mereka bergabung di aula lapas itu.

Sambil menunggu Kepala Lapas dan tak ingin membuang waktu, kami pun membuka pelatihan sesi kedua. Kami kembali menyulut semangat mereka untuk tetap sabar dan tekun mengikuti pelatihan.

Sehabis itu, saya putarkan film inspiratif Dick dan Rick Hoyt, yang mengisahkan kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya yang cacat sejak lahir. Sang ayah bernama Dick dan si anak bernama Rick. Mereka adalah salah satu tim yang ikut serta dalam sebuah pertandingan triathlon yaitu semacam marathon dengan rupa-rupa olah raga seperti lari yang berjarak 26,2 mil, ditambah bersepeda sejauh 112 mil, serta berenang 2,4 mil.

 
Di akhir tanyangan berdurasi tak sampai sepuluh menit itu, saya ingin menggugah hati anak-anak lapas. Saya katakan kepada mereka, bahwa keterbatasan yang ada pada diri mereka, jangan sampai menjadi halangan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Jangan sampai menjebak mereka untuk melakukan perbuatan yang justru berakibat fatal bagi diri sendiri. Semangat Dick sebagai ayah yang memiliki anak yang cacat itu patut dicontoh. Tak ada yang tak mungkin jika niat baik sudah kita semai di hati. Begitulah saya menyemai semangat untuk mereka.

“Harus bisa ya, Bunda? Tetap semangat ya, Bunda?” celetuk salah satu anak membuat hati saya kembali terenyuh.

“Ya dong. Kalian lihat film tadi, ayah dan anak itu selalu optimis. Bunda ingin kalian juga seperti itu ya,” tambahku.

“Iya, Bunda...!” jawab mereka semangat. Alhamdulillah... mereka ternyata paham dengan keinginan saya. Semoga tidak hanya sampai di situ. Saya ingin mereka mengaktualisasikannya di dalam kehidupan mereka selama di penjara itu.

Setelah menonton film, saya segera melanjutkan materi. Namun, di dua puluh menit pertama, Kalapas pun memasuki aula. Karena di pertemuan pertama Kalapas belum sempat meresmikan kegiatan Pelatihan Menulis itu, maka di kesempatan kedua itulah beliau menyampaikan apresiasinya sekaligus meresmikan pelatihan menulis untuk anak-anak didik lapas (ANDIKPAS).

Peresmian Pelatihan di Aula Lapas

Kalapas, Heny Yuwono memperkenalkan kepada peserta pelatihan. Beliau sangat berterimakasih dengan niat baik itu dan berharap kelak akan lahir kisah-kisah bernas dari anak-anak didik lapas yang terkumpul dalam satu buku kompilasi. Begitu pula harapan saya.

Sebelum melanjutkan pelatihan, Kalapas meminta kami berfoto bersama dengan beliau. Sesaat sebelum meninggalkan aula, saya melihat pancaran optimis di mata Pak Heny Yuwono. Saya menangkap kalau itu adalah luapan dari keinginannya agar anak-anak didik lapas tetap semangat dan konsisten mengikuti pelatihan hingga kelak bisa menghasilkan karya. 

Foto bersama Kalapas dan ANDIKPAS

Pelatihan menulis pun berlanjut. Saya kembali mengurai materi tentang penokohan, setting, alur, dan ending cerita. Saya memberikan beberapa contoh untuk masing-masing unsur penting dalam sebuah cerita itu. Anak-anak lapas tetap serius memerhatikan. Sesekali celotehan berupa komentar mewarnai kelas.

“Gimana kalau enggak berhasil nanti ya, Bunda?” tanya Doni.

“Jangan menyerah sebelum mencoba. Kalian pasti bisa, karena di awal Bunda sudah bilang, bahwa pada dasarnya semua orang bisa menulis, hanya perlu latihan untuk membuatnya berhasil melahirkan sebuah tulisan yang enak untuk dibaca,” kata saya kembali menyulut semangat mereka.

“Yakin kalau kalian akan mampu membuat cerita dari pengalaman kalian?” tanya saya sekali lagi

“Ya! Yakin, Bundaaa...!” jawab mereka.


Sebelum mengakhiri pelatihan, saya kembali menguji mereka lewat game sederhana. Saya meminta mereka merangkai sepuluh kata kunci yang sudah saya persiapkan. Saya meminta mereka membuat cerita minimal 10 kalimat dan memasukkan 10 kata kunci tersebut di ceritanya dalam waktu 10 menit.

“Ya ampuuun, Bundaaa... sepuluh menit? Cepat banget!” protes salah satu dari mereka.

“Iya, Bunda mau lihat sejauh mana kalian mampu menyerap materi yang sudah Bunda berikan. Dan, untuk tiga pemenang, Bunda akan kasih hadiah novel terbaru Bunda, ada buku antologi juga dari Bunda,” balas saya menahan tawa sebab ini memang tak biasa. Saya belum pernah memberikan durasi sedemikian pendek untuk menyelsaikan tugas di game yang saya berikan. Tapi, saya hanya ingin membuktikan kalau mereka mampu.

“Siiip! Okelah kalau begitu!” seru mereka menjadi semangat.

Mereka pun mengambil posisi duduk yang paling nyaman untuk menulis. Mereka bukan penulis andal. Waktu 10 menit itu memang sangat singkat untuk mereka merangkai kata menjadi 10 kalimat. Tapi, saya yakin mereka mampu melakukannya.

“Oke, siaaap? Waktunya dimulai!” seru saya memberi aba-aba.


Mereka dengan sigap menuliskan kata-kata itu. Ada yang masih berpikir dan belum menemukan ide. Saya menyemangati mereka yang masih bingung, tak bisa membuka kalimat dengan satu kata pun. Akhirnya saya mencoba memberikan contoh. Begitu saya selesai memberi contoh, semua akhirnya mencair dan fokus pada kertas tulisanya masing-masing.

Sepuluh menit berakhir. Terpilihlah tiga pemenang, karena paling cepat mengumpulkan, memenuhi semua kriteria, dan rangkaian katanya lumayan bagus. Mereka adalah Nurhadi, Jayman Ariyamas, Dimas.



“Selamat ya!” ujar saya sambil membagikan buku-buku saya untuk mereka.

Demikianlah, semua materi di pelatihan menulis sudah selesai saya berikan. Untuk feedbacknya, saya memberikan tugas akhir kepada mereka. Saya meminta mereka menuliskan kisah-kisah mereka yang dikumpulkan di pertemuan berikutnya. Kelak kisah-kisah mereka itu akan kami satukan dalam kumpulan cerita anak-anak Lapas Pria, Tangerang.

Saya akan terus berupaya mewujudkan impian ini menjadi kenyataan. Kami ingin memberikan sesuatu yang mampu membangkitkan semangat dan percaya diri untuk anak-anak lapas (peserta pelatihan menulis itu) bahwa mereka juga bisa menjadi penulis. Insya Allah. []



Catatan ini telah menjadi HL di Kompasiana, 27 Maret 2013.

Rabu, 20 Maret 2013

Proses Kreatif Misteri Anak Jagung





Judul: Misteri Anak Jagung
Jumlah halaman: 197 halaman
Penulis: Wylvera W.
Editor: Beby Haryanti Dewi
Penerbit: Penerbitan Pelangi Indonesia
Harga: Rp48.000,-

Girang dan bahagia, itu hal pertama yang saya rasakan ketika buku baru saya terbit. Hasrat ingin memamerkannya pun meluap-luap. Saya segera memajang covernya di facebook, twitter, dan BB saya. Tidak sampai di situ saja, saya tak pernah lupa mengabarkannya kepada teman, murid-murid saya serta keluarga besar. Hahaha... heboh ya?
Meskipun ada yang menganggap itu norak, saya tak perduli. Saya merasa pantas-pantas saja kalau seorang penulis ingin memamerkan karyanya karena itu bentuk penghargaan terhadap kerja kerasnya.

Sebelumnya saya pernah menulis novel juga yang berjudul Kue-kue Cinta. Tapi itu dikerjakan secara duet dengan teman penulis. Tahun 2011, saya juga pernah menyelesaikan dan sudah diterbitkan, satu buku Seri Dongeng Dunia Princess, Princess Kim Yung dan 24 Princess Korea Lainnya (penerbit DAR! Mizan). Itu buku bacaan untuk anak yang lumayan tebal yang pernah saya kerjakan. Ada sekitar 130 halaman.

Dan, Misteri Anak Jagung inilah yang benar-benar wujud novel remaja pertama yang berhasil saya kerjakan sendiri. Naskah novel MAJ saya garap pada tahun 2008. Bisa dibayangkan, betapa senangnya saya, karena waktu yang sekian lama itu akhirnya berhasil mempertemukan MAJ dengan jodoh penerbitnya.

Novel ini saya garap ketika saya masih bermukim di Urbana Illinois, USA. Kala itu, saya dan anak-anak ikut diboyong suami untuk mendampinginya melanjutkan studi di program S2. Waktu saya yang banyak kosong selama di apartemen, tentu saja membuat saya tak bisa diam. Akhirnya saya kembali terjun ke dunia menulis setelah sekian lama tak lagi bersentuhan dengannya.

Banyak pengalaman yang terjadi di perjalanan novel Misteri Anak Jagung ini. Semua bermula dari kelas online yang sempat saya ikuti di Forum Lingkar Pena, Amerika Kanada. Waktu itu, pengurus FLP, AC menggandeng Tasaro GK sebagai trainer di kelas menulis online. Kelas itu dibuka untuk kami agar para anggotanya bisa ikut belajar tentang langkah-langkah menulis sebuah novel. Akhirnya, kami pun diberi tugas untuk membuat outline sebuah novel. Pilihan genrenya dibebaskan.

Saya tiba-tiba ingin sekali bercerita tentang ladang-ladang jagung yang kerapkali saya lewati selama tinggal di Urbana. Saya kagum pada petani-petani jagung itu. Dan, saya selalu terdorong untuk menelusuri ladang-ladang jagung itu. Adakah sesuatu yang misterius di dalamnya? Begitu di benak saya. Lalu, apa hubungannya dengan Misteri Anak Jagung? Sudah lama saya ingin mengangkat tema tentang keunikan anak indigo. Saya sempat menuliskannya lewat sebuah cerita pendek waktu itu. Saya merasa bahwa anak indigo ini unik dan layak diangkat dalam cerita, karena mereka memiliki kelebihan, menurut saya. Kelebihan mereka itulah yang ingin saya gali. Lalu, saya memilih untuk mengurainya di cerita fiksi.

Saya pun mulai browsing dan riset tentang anak-anak indigo. Tak hanya itu, setiap kali ada kesempatan ke perpustakaan di sana, mata saya selalu awas pada judul-judul buku yang berkaitan dengan anak-anak indigo. Saya menemukan beberapa referensi. Lalu, keinginan saya yang ingin menjadikan ladang jagung di Amerika menjadi setting cerita saya tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Saya kembali melakukan riset tentang ladang-ladang jagung yang ada di Urbana, Illinois sebagai pendukung dan pelengkap cerita MAJ. Seperti itulah upaya yang saya lakukan waktu itu.
Salah satu ladang jagung di Illinois yang pernah kulewati

Tidak berhenti sampai di situ. Ada hal-hal aneh yang sempat saya rasakan ketika menggarap novel ini. Setiap kali melanjutkan naskah ini, seolah-olah saya semakin mengenal tokoh-tokoh dalam novel saya itu. Dan, seakan-akan mereka masuk ke dalam kehidupan saya selama saya berada di Urbana. Yang lebih serunya, saya seperti bisa membayangkan wajah-wajah mereka. Maka, saat penggarapan ilustrasi, sempat menemukan sedikit kendala. Sebab, saya terobsesi pada salah satu wajah yang saya bayangkan. Ketika akhirnya cover MAJ menemukan sosok wajah seorang anak, saya seakan ingin berteriak. Wajah anak itulah yang saya bayangkan. Pas sekali!

Sementara, setting tempat yang saya pakai dalam novel ini adalah ladang jagung. Maka, setiap kali saya melintas di ladang-ladang jagung yang banyak tersebar di Urbana, Illinois, mata saya selalu saja memandang aneh ke sana. Hasrat ingin memasuki ladang jagung itu begitu menggebu-gebu. Aneh! Tapi, itulah yang sempat merasuki saya ketika menggarap novel Misteri Anak Jagung.

Hampir seluruh cerita diwarnai oleh misteri ladang jagung. Seperti adegan dan dialog-dialog batin Gantari dalam novel ini.

Mrs.Elia mengeluarkan jagung dari dalam kantong yang terbuat dari kertas. Darahku berdesir. Apa yang akan dilakukan Mrs.Elia dengan jagung-jagung itu? (Misteri Anak Jagung, hlm. 132)

Sebenarnya, tak lama waktu yang saya habiskan untuk menyelesaikan naskah MAJ. Justru yang banyak menyita waktu adalah ketika saya tiba-tiba tak merasa yakin kalau apa yang sudah saya selesaikan itu memiliki nilai plus bagi calon pembacanya. Maka, sebelum mengirimkannya ke penerbit, saya sempat meminta masukan dari beberapa penulis andal. Salah satunya adalah mentor saya sendiri saat memulai novel itu, Tasaro GK. Beliau mengatakan bahwa ini adalah ide yang bagus, maka saya diminta untuk segera melanjutkannya.

Begitulah, saat saya yakin kalau naskah novel MAJ layak untuk diterbitkan, saya pun mulai bergerilya untuk menawarkannya ke penerbit. Setelah sekian tahun lamanya naskah itu mencari jodohnya, akhirnya Misteri Anak Jagung tertambat di sebuah penerbit bernama Penerbitan Pelangi Indonesia.

Harapan saya, semoga novel ini mendapat tempat di hati pembacanya. Semisteri apa pun alur ceritanya, semoga tetap memberikan nilai-nilai positif dan tambahan ilmu bagi pembacanya. Apalagi buat kamu yang memiliki teman indigo, novel ini bisa jadi teman paling seru untuk dibaca. Seperti kata Delia (salah satu tokoh dalam novel MAJ) tentang anak indigo.
”Anak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan istimewa yang tidak dimiliki anak-anak pada umumnya. Meskipun tidak terlihat mencolok dan seperti umumnya anak-anak, namun di antara mereka ada yang istimewa. Mereka bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain,” jelas Delia memamerkan apa yang pernah dibacanya di buku-buku Psikologi. (Misteri Anak Jagung, hlm. 134).
Nah, penasaran? Ayo silakan diburu novelnya di toko-toko yang tersebar di tanah air. Jangan lupa untuk memberikan reviewnya ya. Ditunggu! []

Minggu, 17 Maret 2013

Amanah Baru itu Sangat Menantang




Majalah Insani adalah majalah yang dikelola oleh ibu-ibu istri pegawai Bank Indonesia yang tergabung dalam komunitas PIPEBI (Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia). Majalah ini sudah terbit dalam 19 edisi. Meskipun hanya majalah yang dikelola oleh ibu-ibu istri pegawai, namun proses kerja dan tanggung jawabnya tak jauh berbeda dari majalah-majalah yang mengejar profit di luar sana.

Sejak awal, Majalah Insani terbit secara berkala. Dari sekali, hingga kini menjadi tiga kali dalam setahun. Distribusinya tentu saja tidak ke luar dari lingkungan keluarga besar Bank Indonesia. Namun, penyebarannya lumayan luas. Majalah Insani didistribusikan mulai di kantor BI pusat, kantor-kantor cabang BI di seluruh tanah air, sampai ke kantor-kantor perwakilan seperti, Singapore, Tokyo, London, dan New York. 

Dan, selama Majalah Insani terbit, saya yang notabene adalah istri salah satu pegawai BI, sudah beberapa kali menjadi salah satu kontributornya. Bahkan saya sempat menjadi wakil pemimpin redaksi di sana selama setahun. Namun, meskipun sempat bergabung, saya merasa dalam kurun waktu setahun rasanya belum banyak yang bisa saya pelajari di sana.
Tim Redaksi sebelumnya (masih ada saya di sana)

Kemarin, tiba-tiba permintaan untuk memegang posisi pemimpin redaksi datang. Saya sempat ragu untuk menerimanya, karena tak begitu yakin bisa melanjutkan estafet dari tim redaksi yang lama. Mereka sudah begitu solid dan mumpuni. Majalah Insani sudah sangat bagus tampilannya. Banyak yang memuji. Nah, prestasi itu yang membuat saya berpikir ulang sebelum menerima tawaran yang sangat menantang itu.

Sebagai istri pegawai Bank Indonesia, tentu saja kesempatan untuk berdedikasi di lingkungan Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia sudah bukan barang langka. Apalagi jika si istri punya waktu, keinginan, dan niat untuk belajar berorganisasi, kesempatan itu Insya Allah terbuka lebar. Sementara, Majalah Insani merupakan wadah yang bisa mengakomodir catatan dari kegiatan PIPEBI, baik kegiatan di lingkungan keluarga besar BI maupun yang bersinggungan dengan masyarakat, seperti pemberian bantuan sosial berupa sumbangan bencana alam, panti asuhan, PAUD, dan lain-lain.

Di samping itu, Majalah Insani juga bisa menjadi alat penyalur bakat menulis para istri pegawai BI. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang kemudian menyulut semangat saya untuk akhirnya menerima tawaran dari Ibu Ketua PIPEBI, Ny. Bernadette Chandra.

Bermodalkan pengalaman menulis buku-buku cerita dan artikel selama berkecimpung di dunia penulisan, akhirnya saya beranikan diri untuk menerima tawaran itu. Lalu, setelahnya, langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari teman (sesama istri pegawai BI) yang mau dan bisa diajak bekerjasama sebagai tim.
Ketua PIPEBI, Wakil, Bendahara, dan Redaksi Insani

Alhamdulillah, proses pencarian itu tak memakan waktu lama. Saya mendapatkan lima orang teman yang mau diajak bergabung sebagai tim redaksi yang baru. Mereka adalah Lely Soelistio Darmawan, Ayek Keri Wiropraboro, Yanti Fiskara Indawan, Yanti Meiwan Herarosi, dan Karine Fadjar Majardi.

Begitulah, kami pun diundang untuk menghadiri pertemuan pertama dengan Ibu Ketua PIPEBI beserta wakil dan pengurus lainnya. Tak banyak yang dibicarakan, hanya fokus pada sesi perkenalan. Baru di pertemuan berikutnya, kami sudah merambah pada penentuan langkah-langkah untuk melanjutkan proses terbit majalah kebanggaan PIPEBI itu. Di kesempatan itu juga hadir tim redaksi lama. Kami juga mengundang pihak spora yang selalu setia membantu Majalah Insani sampai proses cetak dan terbitnya.
Rapat redaksi dengan PIPEBI dan Spora

Tentu saja, semua tak semulus yang saya bayangkan. Dengan waktu yang sempit saya harus bisa mengejar dan meminta kerjasama dari teman-teman supaya majalah tersebut tetap terbit di bulan April 2013 nanti. Saya pun sedikit pontang-panting mengumpulkan naskah untuk dimuat pada rubrik-rubriknya yang nantinya akan memenuhi 48 halaman.

Dengan deadline yang sudah ditetapkan bahwa tanggal 17 Maret 2013 semua naskah untuk rubrik-rubrik yang sudah ditentukan harus masuk, saya kembali panik. Tapi, berkat kerjasama dari para kontributor artikel, foto, dan tim editing dari spora, saat ini target sudah mencapai 75%. Setelah ini akan masuk pada langkah pembuatan dummy hingga persetujuan untuk naik cetak.

Saya sangat berharap bahwa tanggung jawab dari amanah sebagai pemimpin redaksi ini setidaknya jangan sampai mengecawakan para petinggi PIPEBI dan seluruh anggota yang selalu menanti-nanti terbitnya majalah kami tercinta ini. Semoga Majalah Insani tetap bisa hadir di bulan April 2013 mendatang. Aamiin. [Wiwiek Indra Gunawan]

Waktu yang Tersisa




Oleh: Ny. Wiwiek Indra Gunawan

Riyah bersimpuh menatap pusara di sisi duduknya. Tanah kuburan itu masih dipenuhi bunga-bunga yang sudah mengering. Seminggu yang lalu Riyah baru saja kehilangan Beno, anak laki-laki kesayangannya. Riyah tak pernah membayangkan kalau Beno akhirnya pergi untuk selamanya dengan cara mengenaskan. Riyah terlalu percaya pada putra sulungnya itu. Dia selalu menjadikan Beno sebagai contoh anak mandiri bagi kedua anak perempuannya. Riyah kembali teringat perdebatan yang pernah terjadi dengan kedua putrinya.
“Mengapa sih kalian tak bisa mencontoh Abang kalian? Masih kelas tiga SMA saja dia sudah tak banyak menyusahkan Mami,” ujar Riyah waktu itu.
“Bang Beno bukan contoh yang baik buat kami! Mami enggak pernah tahu, kan apa yang dilakukan Bang Beno di belakang Mami?” sela Hani sengit tak setuju dengan pandangan ibunya tentang Beno.
“Apa maksudmu, Han?” tanya Riyah mulai gusar.
“Coba deh sekali-sekali Mami tanya ke dia,” jawab Ratih menimpali.
Riyah lagi-lagi mengabaikan kata-kata Hani dan Ratih. Dia menganggap  kedua anaknya itu cemburu pada Abang mereka. Riyah yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya, tak mau ambil pusing dengan Hani dan Ratih yang dianggapnya sedang dilanda kecemburuan.
Bagi Riyah, Beno adalah segalanya. Beno tak pernah menyusahkannya dengan keluhan-keluhan tentang pelajaran sekolah. Riyah mengira Beno selalu rajin mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama teman-teman sekelasnya. Terkadang Riyah malah kasihan melihat Beno karena harus menginap di rumah temannya hanya untuk menyelesaikan tugas dari guru. Riyah justru merasa bersalah karena tak punya waktu untuk membantu Beno dalam urusan sekolahnya.
Riyah menyimpan kebanggaan itu di hatinya. Mata hatinya tertutup oleh kejanggalan-kejanggalan yang kerap dilakukan Beno. Rasa sayang Riyah pada Beno menggelapkan semua logikanya. Riyah tak pernah mengikuti perkembangan Beno dari hari ke hari. Kepercayaan yang diberikan Riyah sangat berlebihan sehingga justru berbalik menjadi tak peduli. Kontak batin yang biasa terjadi antara anak dan ibu, seakan terkikis oleh kesibukan. Riyah mengabaikan semua itu demi karirnya.
Riyah sudah lima tahun hidup tanpa suami. Sejak kematian Rahmat, tidak membuat Riyah semakin dekat dengan ketiga anak-anaknya. Riyah malah semakin tenggelam dengan kesibukannya di kantor. Pergi pagi dan kembali ke rumah saat anak-anaknya sudah terlelap. Bahkan Riyah jarang sekali mengintip kamar Beno yang kosong.
Ke mana Beno pergi di malam-malam gelap itu?
Riyah tak pernah sadar kalau anaknya sudah lama ternggelam dengan genk narkoba. Beno tak pernah menyusahkan Riyah soal uang, bukan lantaran dia kasihan melihat ibunya, tapi justru dia punya penghasilan sendiri dari hasil penjualan barang haram itu. Hingga akhirnya Beno tak bisa melepaskan diri dari jerat kenikmatan benda terlarang itu. Beno menjadi pembohong besar jika berhadapan dengan ibunya. Sikap manis Beno itulah yang membuat Riyah tak pernah tahu sepak terjang anaknya di luar sana.
Suatu malam, Riyah dan kedua putrinya dikejutkan oleh dentuman keras di pagar rumahnya. Saat itu jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Riyah, Hani, dan Ratih tergopoh-gopoh menuruni tangga rumah mereka. Dengan terburu-buru Riyah membuka pintu. Mereka berlari menuju gerbang rumah yang nyaris roboh. Tubuh Riyah bergetar hebat begitu melihat Beno terkapar penuh darah di sisi sepeda motor. Riyah tak sempat lagi berpikir dari mana Beno mendapatkan sepeda motor itu.
Malam itu juga Beno dilarikan ke rumah sakit terdekat. Proses penanganan Beno begitu cepat. Akhirnya Beno dipindahkan ke ruang ICU. Dengan jantung berdegup kencang, Riyah membisu tak sangggup lagi berkata-kata. Hanya pandangannya saja yang berkaca-kaca menatap mata Hani dan Ratih. Kalau saja waktu itu dia mau mendengar kata-kata peringatan dari kedua putrinya, mungkin Beno masih bisa diselamatkan dari jeratan pengaruh narkoba.
Kini Riyah hanya bisa menyesali pilihan sikap yang diambilnya. Membiarkan anak-anaknya yang sudah kehilangan figur seorang ayah, tumbuh bersama waktu tanpa perhatian ibu di sisi mereka. Riyah tak bisa menyalahkan Beno, justru dirinyalah yang harus menanggung semua tragedi yang paling menyakitkan ini di sisa umurnya.
“Maafkan Mami, Nak. Kalau saja Mami tak membiarkanmu dan selalu memberi perhatian layaknya seorang Ibu di setiap waktu tumbuhmu, saat ini Mami tentu saja masih bisa mendekapmu. Kita masih  bisa berbincang tentang masa depan atau apa saja yang kamu butuhkan. Kamu tak sampai mencicipi barang haram itu. Maafkan Mami....” isak Riyah terus meyesali dirinya.
“Mi, sudahlah. Mami masih punya waktu banyak untuk kami,” bisik Hani parau. Riyah tersentak mendengar suara lembut putrinya. Ternyata Hani sejak tadi diam-diam mengikuti dan memperhatian ibunya.
Riyah mendekap Hani. Isakan Riyah masih tersisa. Hani membiarkan ibunya memuaskan tangis. Takdir Beno sudah menjadi pukulan dahsyat untuk ibunya. Hani tak ingin menambahi beban itu di sisa waktu hidup wanita yang paling dicintainya.
***

Dimuat di Majalah Insani (majalah ibu-ibu istri pegawai BI), edisi 18/TH VII/Agustus 2012. 
 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...