Selasa, 01 April 2014

Menantu untuk Emak


Cerpenku, "Menantu untuk Emak" di Majalah NooR edisi April 2013

            (Naskah asli)

            Wajah wanita 55 tahun di depanku ini begitu bersahaja. Polos dan jujur. Dialah emakku, wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku. Emak pula yang telah menanamkan segala bentuk norma hidup ke dalam jiwaku.
            Emak membuka album di pangkuannya. Sejak tadi aku membiarkan Emak menikmati foto-foto kenangan itu. Sesekali kulihat bibir Emak tersenyum diselingi desahan napas pelan yang perlahan menggerakkan dadanya.
        “Bapakmu tak pernah melepas senyumnya saat difoto,” ujar Emak mengomentari kebiasaan almarhum Bapakku jika difoto.
            “Iya, Mak. Kata Bapak, biar wajahnya selalu terlihat ceria,” balasku.
        “Dan, kau selalu meniru gaya Bapakmu juga, kan?” tanya Emak seraya memandangku dengan tatapan lembutnya. Aku mengangguk membagi senyuman ke Emak.
Aku tahu, saat ini Emak sedang merindukan Bapak. Biasanya hampir setiap akhir pekan mereka duduk berdua di teras rumah ini. Tapi, ketika Bapak berpulang tiga tahun lalu, Emak  jadi kehilangan teman hidup. Setelah Bapak tidak ada, akulah yang menjadi pengganti teman Emak. Berbincang, berbagi masalah, sampai berdiskusi tentang penghematan uang belanja. Karena hanya aku anak Emak.
            “Tak terasa sekarang umurmu sudah 30 tahun. Kapan ya Emak bisa melihat calon suamimu?” tanya Emak tiba-tiba mengalihkan obrolan. Ini sudah tahun keempat Emak mengajukan pertanyaan yang sama.
            “Sudah ada, Mak. Tapi, aku masih belum yakin untuk mengenalkannya kepada Emak....”
            “Mengapa belum yakin? Kau takut Emak menolaknya?” potong Emak.
            “Hmm...,” jawabku bergumam.
            “Kapan Emak bisa menilai kalau kau saja tak pernah membawanya untuk bertemu Emak?” tambah Emak lagi.
            “Nantilah, Mak,” balasku singkat karena tak tahu harus menjawab dengan kalimat yang pas.
            Setiap kali aku teringat pada keinginan Emak agar aku segera menikah, ada rasa ngilu di sudut hati. Karena setiap tahun berganti tetap tidak ada yang berubah di statusku. Aku masih melajang hingga saat ini.
            “Lin, ini sudah berganti tahun lagi,” sambung Emak kembali terdengar menyindir di telingaku.
            “Iya, Mak.”  
            “Tak terasa umurmu juga sudah bertambah,” sela Emak lagi semakin membuatku kebingungan menyusun kalimat untuk menimpalinya.
            “Kemarin ada laki-laki bertandang ke sini. Katanya dia teman dekatmu,” lanjut Emak membuat dadaku berdebar kencang.
            “Hah? Laki-laki? Teman dekatku?” tanyaku gugup.
            “Iya, namanya Faisal. Katanya dia senang karena akhirnya bisa bertemu dengan Emak,” tambah Emak lagi tiba-tiba membuatku kembali tak bisa melanjutkan kata-kata. Faisal bertemu Emak? Kira-kira apa yang dibicarakannya? Kepalaku sibuk memikirkan segala kemungkinan.
            “Katanya kalian sudah lama saling mengenal. Dia ingin melamarmu,” sambung Emak lagi.
            “Melamar?!” tanyaku terperanjat.
            “Iya, Emak meminta dia membawa keluarganya,” jawab Emak.
      “Dia yatim piatu, Mak. Hidupnya bertahun-tahun mengurus panti asuhan tempat dia pernah dibesarkan,” kataku seraya menundukkan wajah. Akhirnya aku bisa mengeluarkan serangkaian kalimat itu di hadapan Emak. Namun, aku tak berani menatap mata Emak.
            “Itu yang membuatmu selama ini tak berani mengenalkannya kepada Emak?” tanya Emak.
        “Jadi, Faisal sudah cerita tentang latar belakang hidupnya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Emak.
       “Bersiaplah, Lin. Pernikahanmu sudah diambang pintu,” kata Emak tak juga menjawab pertanyaanku.
Aku kembali terdiam. Kata-kata Emak yang terakhir semakin penuh teka-teki buatku. Apa yang sudah dikatakan Faisal, sehingga Emak begitu yakin menyuruhku mempersiapkan pernikahan? Aku sangat mengenal Emak. Hatinya takkan luluh jika tak ada sesuatu yang mampu membuatnya takluk dan merasa jatuh hati. Aku semakin penasaran dibuatnya.
            Ini adalah awal tahun yang luar biasa buatku. Tak ada lagi yang harus kusembunyikan dari laki-laki bersahaja itu. Kata-kata Emak sudah cukup memberi restu pada hubungan kami. Tapi, Faisal bukan laki-laki berduit yang mampu melamarku dengan sejumlah mahar atau uang yang layak.
Aku ingat ketika Emak memberi pesan agar selain memperhatikan bibit, bebet, dan bobot calon pendamping hidup, aku juga jangan menutup mata pada harapan masa depan yang bisa dijanjikannya. Menurut Emak, setidaknya laki-laki yang kelak menjadi suamiku takkan menelantarkanku alias tak diberi nafkah lahir.
Emak bukan tipe wanita materialistis, tapi apa yang dikatakannya sangat masuk di akalku. Mana ada seorang ibu yang rela melihat putrinya hidup terlantar dalam pernikahannya. Dan, aku tak tahu mengapa Emak dengan mudahnya menerima Faisal untuk menjadi pendamping hidupku. Aku sendiri tak berani menjamin kalau Faisal mampu memberiku kehidupan yang mapan. Hanya cinta dan harapan yang membuatku tetap mempertahankan hubungan kami. Alasan itu pula yang selama ini membuatku ragu mengenalkannya kepada Emak. Tapi dugaanku jauh meleset. Selain menyuruhku menyiapkan diri memasuki gerbang pernikahan, Emak tak banyak berkomentar tentang Faisal.
“Emak sudah yakin kalau aku memilih Faisal menjadi suamiku?” tanyaku sebelum semua terlanjur kuputuskan dan akhirnya menyakitkan. Bukan hanya untukku, tapi juga buat Emak.
“Insya Allah,” jawab Emak dengan yakin.
Begitulah, akhirnya aku dan Faisal menikah dengan cara sederhana. Tak ada pesta besar. Tak ada bulan madu. Kami hanya berikrar di depan penghulu dengan disaksikan kerabat dekat saja. Dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya. Rasa penasaranku terhadap keputusan Emak belum juga usai.
Kulirik Emak yang duduk di belakang Faisal. Emak tersenyum bahagia. Sudah lama aku tak melihat senyum seperti itu di bibir Emak. Tepatnya sejak Bapak berpulang. Dan, sikap Emak ini semakin membuatku bertanya-tanya.
Mataku beralih ke arah Faisal. Calon suamiku itu bagaikan putra kesayangan Emak. Aku menyaksikan Emak mengelus-elus pundak Faisal, seolah tak ingin kehilangannya. Perhatian Emak seakan memberi kekuatan bagi Faisal saat mengucapkan akad nikah. Dan, kami pun resmi menjadi suami istri.
Setelah acara sakral itu berjalan dengan khidmat, Emak bergeser ke sampingku. Emak merangkulkan sebelah tangannya ke pundakku.
“Insya Allah, Faisal akan menjadi suami yang bertanggung jawab atas dirimu, Linda,” bisik Emak begitu yakin di telingaku.
“Aamiin. Insya Allah, Mak,” balasku bahagia.
*
Malam ini rumah kami kembali hening. Kerabat Emak dan almarhum Bapak sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Tinggal aku, Emak, dan Faisal. Emak dan Faisal masih sibuk menggulung karpet dan tikar di ruang tamu. Sementara aku mondar-mandir memindahkan sisa-sisa piring dan gelas kotor ke dapur. Sesekali mataku melihat keakraban Emak dan Faisal. Mereka seperti sudah saling mengenal sejak lama.
“Sudahlah, besok saja kita lanjutkan membersihkan semuanya,” ujar Emak memecah kebisuan yang sejak tadi terjadi di antara kami bertiga.
“Tanggung, Mak!” jawabku dari dapur.
“Faisal, ajak istrimu istirahat. Kalau tak dicegah, dia bisa semalaman di dapur itu nanti,” tambah Emak membuat Faisal bergerak mendekatiku.
“Ayolah, Lin... besok masih ada waktu,” bisik Faisal menahan senyum di depanku. Kulongokkan kepala melihat Emak yang masih berada di ruang tamu.
“Hmm... sekarang Emak punya pendukung ya,” balasku berbisik pula ke Faisal. Selintas kulihat Emak pun beranjak ke kamarnya.
“Tak enak menolak Emak,” ujar Faisal sambil berjalan menuju kamar kami.
Akhirnya, aku dan Faisal sudah berada di dalam kamar pengantin kami yang sederhana. Inilah malam pertamaku dan Faisal. Tanpa kuduga, tiba-tiba Faisal mengatakan sesuatu tentang Emak.
“Aku kagum kepada Emakmu, Lin. Dan, aku sangat menghormatinya,” ujar Faisal dengan senyumnya yang telah meluluhkan hatiku di saat pertama kali kami bertemu. Aku masih diam, menunggu Faisal melanjutkan penilaiannya tentang Emak.
“Ketika kukatakan kalau aku tak bisa memberikan biaya pesta yang layak untukmu, Emak memberikanku ini,” ujar Faisal menunjukkan kotak perhiasan.
“Apa itu?” tanyaku terkejut. Faisal membuka kotak perhiasan itu. Betapa terperanjatnya aku ketika kilau dari gelang emas dengan hiasan berinisial namaku ada di tangan Faisal.
“Haah? Bagaimana mungkin?” tanyaku semakin bingung.
“Emakmu menitipkan ini untuk biaya pernikahan kita. Tapi aku tak memanfaatkannya, Lin. Uang mahar dan biaya pernikahan kita murni dari hasil keringatku. Maafkan aku kalau tak ada pesta besar dan acara bulan madu buat kita, karena tabunganku tak cukup untuk itu,” jawab Faisal mengalir. Aku terdiam. Rasa kagum dan heran berbaur menjadi satu.
Faisal memberikan gelang Emak kembali kepadaku. Kutinggalkan Faisal sebentar dan buru-buru menemui Emak. Pintu kamar Emak tak terkunci. Kulihat Emak sedang tersenyum memandangi album yang terbuka di pangkuannya. Kuketuk pintu kamarnya dengan pelan.
“Emak, maaf... aku mengganggu sebentar,” kataku lirih.
“Ada apa, Lin?” tanya Emak sambil menutup album itu.
“Emak jangan marah ya. Faisal ingin mengembalikan ini,” kataku sangat berhati-hati. Aku tidak ingin Emak tersinggung.
“Ya Allah, mengapa dikembalikan?” tanya Emak ragu menerima gelang emas yang masih kupegang.
“Maaf, saya tak bisa menolak pemberian Emak waktu itu. Saya tak ingin membuat Emak berkecil hati,” tiba-tiba Faisal sudah berdiri di belakangku.
“Jadi, biaya pernikahan kalian...?”
“Saya masih punya simpanan untuk biaya pernikahan kami,” ujar Faisal menjawab kebingungan Emak.
“Subhanallah... tapi gelang ini tetap Emak berikan untukmu, karena ada inisial nama istrimu di situ,” ujar Emak dengan mata berkaca-kaca.
“Baiklah, Mak,” kata Faisal sambil menarik lenganku serta menyematkan gelang itu.
“Terima kasih, Mak,” ujar kami serentak.
Akhirnya Emak kembali tersenyum sambil melangkah mendekatiku. Lengannya yang lembut kembali memelukku.
“Tahun ini statusmu telah resmi berubah, Lin. Kau telah menjadi istri Faisal. Besok-besok, album kenangan kita akan ditambah oleh wajah menantu Emak,” bisik Emak hangat di telingaku. Aku mengencangkan rengkuhan di tubuh Emak dalam balutan keharuan.
“Aahh... Emak.”

***



 

33 komentar:

  1. noted :) gaya penuturannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kira-kira seperti itulah, Mak. :)

      Hapus
  2. so touchy....

    jadi pengen segera cari menantu buat ibuku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... ayo Chela. Thanks, sudah mampir. :)

      Hapus
  3. Hiks.... terharu, Mak Wiwik. Bagus... menyentuh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih Teh Nia. :)

      Hapus
  4. Uhuuuk terharu dan panas mataku, semuanya memiliki kepribadian yang mulia dan baik ya, Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah membaca dan meresapinya, Mak. Astin.

      Hapus
  5. Ceritanya sederhana namun membuat haru pembaca mak Wiek :)
    Makasih udah sharing tulisannya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih apresiasinya, Mbak Hidayah. :)

      Hapus
  6. Keren ;)

    www.bairuindra.blogspot.com

    BalasHapus
  7. Mba, klu boleh tw prosedur kirim naskah ke Noor bagaimananya? Kirimnya ke email apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naskahnya bisa dikirim ke alamat e-mail mereka di majalahnoor@gmail.com atau majalahnoor@yahoo.co.id dan alamat redaksinya; Jl. Karang Pola VI No. 7A, Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540.

      Hapus
    2. Tks mba smg sya juga bisa menulis di sana :)

      Hapus
  8. Ceritanya ngalir banget seperti diary. Makasih sudah berbagi mak. *kemudian bakar menyan cari ide. Lho?! ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak Lusi. Ayo, buruan nulis dan kirim ya. ;)

      Hapus
  9. pelajaran kece untuk di contoh cara bercerita dantemanya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiiih, makasih, Mak Icoel. :)

      Hapus
  10. gaya ceritanya mengalir, dan tiap percakapan ada narasi tentang pencerita, jadi sebagai pembaca saya bisa membayangkan gimana mereka saat itu.. ^.^ sukaak..

    Okeh, nih, mak ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih ya Mbak. ;)

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, cerpenku jadi penggugah bagi yang masih sendiri ini kayaknya. Alhamdulillah. :)

      Hapus
  12. Terharu, hiks.... jadi pengen cariin mantu buat ortu juga :D *lho?*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... ayo...ayo, cari menantu buat Emak. ;)

      Hapus
  13. Mak Wik, bagus banget, mengalir lembut memancing haru. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak Alaika. *tersanjung* ;)

      Hapus
  14. mengalir dengan sangat indahnya mak .,.apik banget! aku izin save ya sambil nyari ide buat nyoba2 peruntungan juga ...
    thanks for sharing mak :)

    BalasHapus
  15. Membaca ceritanya membuat saya membayangkan kejadian sesungguhnya, keren mbak...inspiratif, kalau boleh tahu syaratnya apa aja untuk kirim cerpen?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk ke majalah selain NooR, masing-masing punya syarat. Tapi umumnya harus sesuai dengan ciri khas dan gaya cerpen yang dimuat di majalah tersebut. Untuk NooR, sayang sekali, mereka meniadakan rubrik cerpen lagi sepertinya. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...