Sabtu, 05 April 2014

Berselancar di Dunia Imajinasi Anak itu Sangat Menyenangkan



 
Saya dan murid-murid SDIT Aulady (doc. pribadi)
Dunia imajinasi anak adalah dunia yang penuh kreativitas. Mendorong anak untuk berimajinasi merupakan hal yang diperlukan untuk mengelola pola pikir anak sejak dini. Dan, upaya untuk itu menjadi bagian yang sangat menyenangkan bagi saya. Itu sebabnya jika ada tawaran untuk mengisi momen berharga ini, jika tak berbenturan dengan kegiatan lain, saya tak akan pernah menolaknya.
Seperti kemarin, ketika ditawari untuk ikut berbagi ilmu serta pengalaman tentang menulis, saya langsung antusias menerimanya. Ya, kesempatan itu saya dapat dari Haya Aliya Zaki yang saat itu mencari partner untuk mengisi kelas Pelatihan Menulis di SDIT Aulady Serpong, Banten. Menurut Haya, dia butuh bantuan saya karena ternyata peminat kelas menulis banyak dan lebih dari lima puluh anak. Saya diminta untuk menggawangi setengahnya. Akhirnya kesepakatan pun tercapai dan tinggal menunggu hari “H” nya.
Kembali bertemu dengan murid-murid Sekolah Dasar membuat saya selalu bergairah menjalani aktivitas. Maka, di Sabtu pagi yang cerah, 5 April 2014 itu dengan didampingi oleh suami tercinta yang telah bersedia meluangkan weekendnya untuk mengantarkan saya ke lokasi, saya begitu semangat ingin segera tiba di lokasi. Meskipun kami agak tersendat mencapai lokasi sekolah (sempat berkeliling BSD sejenak...hehe), jarak Bekasi –Serpong tak menjadi masalah.
Kami tiba di SDIT Aulady sekitar jam sembilan lebih. Saya tak terlalu resah karena sesi saya pukul 09.30 WIB. Belum terlambat. Setelah saya turun dari mobil, suami sempat mengatakan, “Good luck” yang membuat saya terharu. Lalu, beliau kembali pulang dan berjanji akan menjemput. Betapa bahagianya mendapatkan support dari orang terdekat seperti itu. Alhamdulillah....
Presentasi proposal ekskul (doc. Haya Aliya Zaki)
Bersama salah seorang panitia, saya langsung dihantarkan menuju aula. Menurut Haya, sebelum kami mendampingi anak-anak di kelas, pihak sekolah akan membuka acara yang diawali dengan menyimak presentasi tentang rencana kelas ekstrakurikuler menulis yang akan diadakan di sekolah itu. Haya yang bertugas menyajikan proposal berbentuk pemaparan di layar infokus. Saya membantu mengawasi slide presentasi singkat itu dengan senang hati. Di akhir persentasi, tibalah Benny Rhamdani yang akan mengisi seminar parenting tentang, “Bagaimana Menumbuhkembangkan Budaya Menulis pada Anak” serta “Peran Orangtua Menghadapi Pengaruh Negatif Kebebasan Publikasi”.
Sesaat sebelum Benny meninggalkan lokasi. (doc.ribadi)
Setelah sesi pemaparan tentang proposal ekstrakurikuler menulis selesai, saya dan Haya pun langsung menuju ke lantai bawah. Sementara Benny Rhamdani melanjutkan sesinya di seminar parenting tersebut.
Ternyata kehadiran kami sudah dinanti oleh anak-anak yang terlihat mulai tak sabar itu. Kelas terbagi dua. Haya bersama sekitar 25 anak dan saya bersama 24 murid-murid SDIT Aulady. Setelah dibuka oleh salah seorang guru, saya pun mengambil alih kelas dan mulai memperkenalkan diri. Sejenak saya saya perhatikan wajah anak-anak manis dan ganteng itu. Mata mereka seolah tak mau berkedip melihat saya. Inilah yang selalu membuat hati saya berdegup bahagia jika berdiri di depan kelas saat memulai berbagi ilmu serta pengalaman untuk anak-anak.
Slide pembuka materi (doc. pribadi)
Klik!
Seperti biasa, slide awal dari materi yang akan saya sampaikan pun terbuka. Belum ada reaksi, dan kelas tetap senyap.
Klik!
 Slide kedua terbuka. Terdengarlah komentar-komentar setengah berbisik dan riuh  meningkahi suasana kelas. Apa pasal? Hahaha... tentu saja mereka berbisik, ternyata ada foto artis di situ. Salah satu dari mereka bertanya itu foto saya saat di mana. Saya mengatakan, “Itu foto Ibu ketika di London”. Sontak bibir mereka menyeru, “Wow! Kereeen!” Hahaha... lucunya.
Foto "artis" itu yang membuat anak-anak riuh. Qiqiqi....
Saya mulai memberi motivasi tentang pentingnya menguasai keterampilan menulis. Saya katakan bahwa keterampilan menulis sangat bermanfaat bagi profesi apa pun, sebab keterampilan ini akan memberi nilai lebih bagi kita. Seterusnya saya memberikan tips dasar untuk menjadi penulis. Pertama, bulatkan niat, lalu yakinlah pada niat tersebut, setelah itu fokus, konsisten dan terakhir berusahalah untuk disiplin.
Anak-anak semakin tekun menyimak materi saya. Sesekali mereka melontarkan pertanyaan (meskipun belum dibuka sesi tanya jawab). Inilah bedanya jika saya menggawangi kelas berbagi dengan orang dewasa. Anak-anak tetaplah anak-anak, mereka tak akan sabar menahan rasa ingin tahunya akan sesuatu yang mengganjal di benaknya. Mereka tak peduli dengan aturan main, jika hasrat ingin tahunya sudah membumbung di kepala. Hehehe... saya tetap senang dan menjawab semua pertanyaan itu di sela-sela presentasi. 
Suasana kelas (doc.pribadi)
Ketika sampai pada materi tentang membuat judul pada tulisan, pertanyaan pun kembali bermunculan, dari yang sederhana sampai pada yang terkesan lugu dan polos. Kembali, saya katakan... itulah anak-anak, mereka selalu ingin tahu meskipun pertanyaan itu sudah terjawab di pertanyaan temannya dalam versi berbeda. Hahaha... saya selalu antusias melayani setiap pertanyaan berulang dari mereka.
“Ibu, saya suka menulis, tapi kenapa ya judulnya terkadang enggak cocok dengan apa yang saya tulis. Boleh gak ya begitu?” tanya salah satu dari mereka.
“Sebaiknya judul harus menggambarkan cerita, jadi sebelum menetapkan judul, bacalah kembali cerita yang sudah selesai dikerjakan. Jika dirasa kurang pas pikirkan sekali lagi dan cari kalimat yang lebih cocok, menarik dan tentunya bisa memancing pembaca untuk melanjutkan membaca cerita kita,” jawab saya.
Saya pun membagi trik dalam membuat judul yang menarik. Mereka girang karena akhirnya memahami bahwa ternyata membuat judul cerita itu tidak sesulit yang mereka bayangkan selama ini. Setelah memahami cara membuat judul cerita, saya pun kembali memaparkan unsur-unsur penting dalam menulis cerita pendek. Dari mulai penokohan sampai ending dan tahap mengedit cerita yang sudah selesai dikerjakan.
Pada materi “konflik” cerita, saya mencoba menguji kemampuan mereka menggambarkan konflik yang akan menggerakkan cerita mereka. Saya minta mereka membuat dua jenis konflik, yaitu konflik batin dan konflik fisik. Dari 24 anak yang mencoba menuliskan ide tentang dua jenis konflik tersebut, muncullah Layla dengan ide cemerlangnya yang mengisahkan seorang anak tunanetra.
Layla dan hadiah buku saya (doc. pribadi)
Seperti biasa jika saya mengisi kelas pelatihan menulis, di tengah penyajian materi, saya senang menyelipkan permainan untuk mencairkan suasana. Anak-anak saya ajak untuk bermain tepuk tangan dan yang tercepat serta paling tepat menyahuti tepuk tangan saya, akan mendapatkan hadiah. Aaah... serunya melihat mereka berlomba membalas tepuk tangan sesuai arahan saya. Tapi, karena hadiahnya hanya satu, akhirnya terpilihlah Alvin sebagai pemenangnya. Alvin mendapatkan buku karya saya. Wajahanya sumringah menerima hadiah itu.
Alvin dan buku hadiah dari saya (doc.pribadi)
Sampailah pada materi “Membuat Ending Cerita”. Saya memberikan beberapa contoh tentang ending (happy ending, sad ending, ending tertutup dan terbuka, serta ending yang mengejutkan pembaca). Saya senang karena mereka terlihat seperti menemukan ilmu baru dari tahapan menulis.
Sebelum sampai pada tahap editing, mereka minta disuguhi games lagi. Baiklah, saya berusaha menuruti permintaan mereka dan kembali menyuguhkan permainan tebak-tebakan. Inilah sesi yang paling heboh dan lucu. Ketika saya membuka dengan pertanyaan pertama, suara tawa dan kebingungan memenuhi kelas.
“Mata, hidung, telinga, mulut, badan, mirip kerbau, tapi bukan kerbau. Apaan ya itu?” tanya saya di tebakan pertama.
Mereka sibuk berpikir. Ada yang sudah tahu jawabannya berkali-kali menyatakan “Yes!” Hahaha... lucu.
Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan kocak berikut saya lemparkan dan kembali disambut tawa geli mereka. Akhirnya Rafa yang memenangkan permainan. Kembali saya menghadiahi buku untuknya.
Rafa dan buku antologi dari saya (doc. pribadi)
Kelas terus berlanjut hingga menjelang istirahat (ISHOMA). Selepas istirahat, kami kembali ke kelas. Namun, sebelum melanjutkan materi saya menyajikan tontonan sejenak untuk memancing perhatian mereka kembali agar tetap fokus pada materi. Film singkat yang saya putar berupa tampilan sekilas tentang benda-benda serta makhluk-makhluk lucu yang sedang membaca. Film pendek itu saya copy dari Haya. Kembali mereka menebak macam-macam benda dan makhluk yang ada di film itu setelah filmnya saya hentikan.
Lagi-lagi Alvin yang memenangkan perlombaan. Tapi, tiba-tiba hati saya terharu ketika Alvin meminta saya untuk memberikan hadiahnya kepada Nizan.
“Bu, boleh gak hadiah buatku dikasih ke Nizan. Dia pengen dapat hadiah tapi gak pernah dapat dari tadi,” ujarnya mencengangkanku yang disambut tepuk tangan teman-temannya.
Alvin memberikan hadiahnya untuk Nizan (doc.pribadi)
Materi tentang menulis saya lanjutkan kembali. Tahap mengedit cerita (self editing) pun usai. Dan,  sesi terakhir diisi dengan praktik menulis cerita. Mereka saya minta untuk menuliskan cerita sebanyak satu halaman folio yang sudah dibagikan sebelumnya. Waktu yang diberikan sekitar 45 menit.
Dari semua anak yang menulis, saya memilih 6 cerita yang masuk dalam kriteria saya,   selanjutnya dari 6 cerpen itu saya harus memilih 1 terbaik (karena hadiahnya memang tinggal satu, hehehe). Terpilihlah cerita Dela yang berjudul “Lomba Memasak” sebagai cerpen terbaik.
Dela, pemenang cerpen terbaik (doc.pribadi)
Tibalah pada penghujung acara. Hati saya kembali disesaki rasa berat meninggalkan mereka. Tapi, apa boleh buat, waktu juga yang harus membatasi pertemuan kami. Sebelum mengakhiri kebersamaan, kami menutupnya dengan berfoto bersama. 
Saya, Haya, Benny, dan POMG (panitia penyelenggara WS) - (doc.pribadi)
Terima kasih, anak-anakku... teruslah menulis, tuangkan imajinasimu ke dalam cerita agar dunia tahu siapa kamu!
Terima kasih, Haya... momen ini kembali menghangatkan hatiku. Semoga kerjasama kita dengan pihak sekolah tidak terhenti sampai di sini. Semoga. Aamiin. []






18 komentar:

  1. Selamat siang. Waah, keren, mba. Menebar manfaat pada anak-anak agar tebiasa menulis ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, kegiatan ini menjadi bagian aktivitasku. Menyenangkan sekali. :)

      Hapus
  2. Mak, aku kok belum pernah dapat undangan sekolah ya? Apa tampangku nggak cocok buat anak2? Hahahaaa.... Btw, kapan2 bikin kelas online ttg bagaimana menghandle kelas menulis anak dong mak. Soalnya durasinya itu kan panjang banget, kalau nggak ada teknik khusus bisa garing kan mak, kehabisan bahan pembicaraan. Apalagi cara mencerna anak2 tentu beda dg kelas mahasiswa. Btw, om Benny kayak eyang subur ya, istrinya banyak hahahahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... masak sih?
      Boleh aja, Mak, Insya Allah aku siap berbagi pengalaman untuk KEB. :)

      Hapus
  3. kemarin temenku cerota tetang acara ini mbak, anaknya sekolah disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kesannya baik ya, Mak. ;)

      Hapus
  4. Balasan
    1. Alhamdulillah, Mak. Makasiiih. :)

      Hapus
  5. aktivitas yang bermanfaat ya mak.... pengen juga diterapkan ke anak2 ku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dicoba Mak, supaya anak-anak kita semakin kreatif. :)

      Hapus
  6. Ikut merasakan hangatnya hati membaca postingan ini *meleleh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga berkah apa yang kushare di sini ya, Fit. Aamiin. :)

      Hapus
  7. Reportasenya komplet. Makasih ya, Kak Wiek. Semoga acara Sabtu lalu jadi pertemuan yang bermanfaat dan diberkahi. Aamiin. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin YRA, sama-sama, Haya. ^_^

      Hapus
  8. Artis terkenal dari London. :D
    Pelatihan ini akan selalu dikenang oleh merwka ya, Mba. Apalago udah kenal happy ending. Makin giat nulis nantinya.

    Sukses selalu, Mbaaa. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.... *artisnya nyungsep*
      Iya, Insya Allah anak-anak itu terus semangat menulisnya supaya ilmu yang sudah didapat bisa dipraktikkan dengan baik. Makasih ya, Mbak Idah. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...