Selasa, 08 April 2014

Bunga Untuk Ibu Imah



Buku kumpulan 13 Cerpen Pemenang Lomba Cerpen Guru 2012 #Bobo


Didin masih kesal dengan gurunya. Gara-gara tidak mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, Bu Imah menyetrap Didin dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Selama di kelas lima, Didin sudah tiga kali diberi hukuman yang sama oleh Bu Imah. Didin malu pada teman-temannya. Tapi, Didin juga tak pernah mau mengubah kebiasaannya yang malas mengerjakan tugas sekolah itu.
“Awas ya, Bu Imah, aku akan balas nanti,” gerutu Didin dengan tangan mengepal.
          “Eh, memangnya kamu mau membalas apa ke Bu Imah?” tanya Agung terpancing dengan gerutuan Didin.
            “Itu rahasia, yang penting Bu Imah harus merasakan kesal yang sama dengan ku!” jawab Didin tak mau mengatakan rencana balas dendamnya.
            “Dosa itu Din. Bu Imah kan guru kita,” balas Agung mencoba menyadarkan Didin.
“Halaaah...mikirin dosa, dia saja enggak mikir kalau aku lelah berdiri sejam di depan kelas!” kata Didin bertambah kesal.
            “Iya, tapi....”
            “Sudah! Kamu enggak usah ikut campur, Gung! Sok baik kamu. Mau dapat nilai tinggi ya? Cari muka!” potong Didin cepat membuat Agung tak berani meneruskan kata-katanya. Agung buru-buru meninggalkan Didin. Dia tak mau mencari masalah dengan Didin.
            “Nah! Itu dia sepeda Bu Imah,” seru Didin sambil melangkah dengan cepat menuju ke tempat parkir sekolah.
            “Makanya, jangan main-main sama Didin,” ujar Didin sambil membuka tutup pentil sepeda Bu Imah. Setelah selesai mengempiskan ban sepeda Bu Imah, Didin kembali ke kelas.
            Tinggal satu mata pelajaran lagi. Didin tak sabar menunggu waktu pulang. Dia ingin melihat wajah Bu Imah yang menahan kesal karena ban sepedanya kempis.
            Teeet!
       Akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Didin buru-buru menuju kamar mandi sekolah yang letaknya tak jauh dari parkiran. Bibir Didin menahan senyum kepuasan, saat melewati ruang guru. Didin sempat melihat Bu Imah merapikan buku-bukunya. Mata Didin berbinar-binar melihat Bu Imah yang sebentar lagi akan pulang dengan berjalan kaki.
            “Eh, Din! Kemari kamu!” panggil Bu Imah. Jantung Didin seolah berhenti berdetak.
            Wah, gawat! Apakah Bu Imah tahu kalau aku telah mengempiskan ban sepedanya ya? tanya Didin ketakutan dalam hatinya.
            “Didin!” panggil Bu Imah sekali lagi. Dengan langkah gemetar, Didin mendekati ruang guru.
            “Iya Bu. Maafkan saya,” ujar Didin sambil menundukkan kepalanya.
         “Maaf? Untuk apa? Bukannya tadi Ibu sudah memaafkan kamu gara-gara tidak mengerjakan pe-er?” tanya Bu Imah kebingungan.
            “Anu, anu Bu,” jawab Didin terbata-bata.
         “Sudahlah, Din. Ibu cuma mau mendidik kamu supaya bisa mengubah kebiasaan malasmu itu. Kasihan ibumu yang berjuang sendiri membiayai sekolahmu,” balas Bu Imah. Didin semakin menundukkan kepalanya.
         “Mengerajakan pe-er itu tujuannya untuk melatih kedisplinan juga, Din,” tambah Bu Imah lagi. Didin diam. Dia tak berani menatap wajah Bu Imah. Saat ini, yang ada di kepala Didin hanya bayangan ban sepeda Bu Imah yang kempis gara-gara ulahnya.
         “Nah, tadi kebetulan Ibu dapat rezeki dari Bapak Kepala Sekolah. Karena Ibu dengar ibumu sedang sakit, maka rezeki ini sebaiknya Ibu bagi buat ibu kamu,” ujar Bu Imah. Didin berusaha mengangkat wajahnya.
            “Berikanlah kotak kue ini ke ibu kamu ya. Sampaikan salam Ibu juga. Semoga ibu kamu cepat sembuh dan bisa berjualan lagi di pasar,” kata Bu Imah semakin membuat Didin bingung dan malu.
            “I...iya Bu. Maafkan saya,” balas Didin gugup.
            “Ibu mendengar kabar ini dari Agung, teman sebangkumu. Kalau tidak, Ibu enggak pernah tahu jika ibumu sedang sakit,” ujar Bu Imah lagi.
            “Maafkan saya Bu,” sekali lagi Didin mengucapkan permintaan maafnya.
            “Ibu sudah memaafkanmu, Din. Sekarang pulanglah. Hati-hati ya, kotak kuenya jangan sampai terjatuh,” kata Bu Imah. Didin hanya mengangguk pelan dan buru-buru menuju tempat parkir.
            Didin menuliskan permohonan maafnya di selembar kertas. Setelah itu, Didin memetik setangkai kembang sepatu yang sedang mekar di sekeliling halaman parkiran. Didin menjepitkan kertas tadi dan ujung tangkai kembang sepatu di boncengan sepeda Bu Imah.
            “Maafkan saya ya Bu Imah,” bisik Didin dengan suara parau. []
Kata Pengantar dalam buku dan keterangan para pemenang
***
          


11 komentar:

  1. bagus mbak... selamat ya..

    BalasHapus
  2. Cerita yang mengandung suatu pelajaran.
    Apik Jeng
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Pakdhe.
      Salam hormat dari Bekasi. :)

      Hapus
  3. bagus mbak.. kira2 gimana ya reaksi bu imah setelah tau ban sepedanya kempes..? suka, ending yang menggantung tp keren ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih...hehe, biarkan Bu Imah yang memberikan jawabannya ya. *kedip sebelah mata*

      Hapus
  4. Bagus mak! Selamat ya.
    Benar-benar tipikal cerita bobo sarat pesan yang kerap saya baca di masa kecil saya :)

    BalasHapus
  5. Pantes menang, bagus banget. Sederhana, tapi menyentuh hati. :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...