Senin, 04 Mei 2015

Bertemu Calon Penulis Andal



Saya dan murid-murid terpilih SDIT Gembira (dokpri)

            Setelah beberapa bulan lamanya tidak berbagi di luar sekolah tempat saya biasa mengajar, ternyata bikin rindu juga. Maka, permintaan untuk menjadi pemateri di acara “Pelatihan Menulis” pun langsung saya terima waktu itu. Alhamdulillah, lewat obrolan via inbox di facebook, akhirnya saya menerima kepastian hari dan tanggal pelatihan tersebut.
Seminggu sebelum hari “H”, saya kembali menyusun dan memperbaharui tampilan slide power point yang sudah ada. Semangat saya benar-benar terpicu, sambil membayangkan saya kembali berdiri dan berbagi ilmu menulis di depan 60 murid SDIT Gembira Jatibening Pondok Gede Bekasi. Materi, hadiah kuis, bahkan baju apa yang ingin saya pakai pun sudah disiapkan. *ngaruh kan ya pilihan baju ini, hehe*
Namun siapa yang bisa menduga kalau tiba-tiba di hari Jum’atnya saya jatuh sakit. Buang-buang air hingga 8x membuat stamina saya drop. Lambung saya terasa seperti ditekan-tekan, nyeri sekali. Otot dan persendian saya mulai terasa kaku dan pegal saat digerakkan. Saya nyaris mengalami dehidrasi. Sore harinya, saya memutuskan untuk ke rumah sakit terdekat. Hasil diagnosa dokter penyakit dalam mengatakan kalau usus saya mengalami infeksi. Saya pun diberi obat penghenti buang-buang air, pereda rasa nyeri, dan antibiotik. Saat itu, harapan saya adalah ingin segera pulih agar esoknya tetap bisa tampil sebagai pemateri.
            Hanya keinginan untuk pulih dan ridha Allah Swt. yang membuat saya tetap semangat. Obat dari dokter pun saya makan, berharap esok pagi (Sabtu) tetap bisa memenuhi permintaan pihak SDIT Gembira. Tak terbayangkan, betapa kecewanya anak-anak itu jika tiba-tiba saya memutuskan untuk tidak bisa hadir walaupun alasannya sakit yang tidak bisa dielakkan. Allah Swt. mendengar doa dan harapan saya.
            Tibalah di hari “H”, Sabtu, 25 April 2015. Dengan diantar oleh suami tercinta ... ehem ... saya pun siap menuju lokasi. Setelah dijemput oleh Mbak Levin (contact person dari sekolah itu) di lokasi yang kami sepakati, akhirnya saya tiba sekitar jam delapan lebih beberapa menit. Sambutan hangat pihak sekolah, membuat saya lupa sejenak dengan tekanan rasa nyeri yang sesekali masih terasa di bagian perut.
Sambil menunggu persiapan teknis, saya diantar ke ruangan administrasi. Dari saat menunggu itulah saya mendapat informasi bahwa acara pelatihan menulis ini baru pertama kali diadakan oleh pihak sekolah. Mbak Levin mengatakan kalau usulan beliau sebagai salah satu orangtua murid, mendapat dukungan luar biasa dari para orangtua murid, lalu disetujui oleh Kepala Sekolah, dan guru-guru di sekolah tersebut.  Ini catatan versi beliau.

Mereka sudah menunggu saya sejak jam tujuh pagi (dokpri)
            Setelah semua siap, saya kembali diajak menuju aula sekolah. Betapa terharunya saya ketika melihat murid-murid (kelas 3, 4, 5, dan 6) dengan seragam pramuka mereka, telah menunggu kehadiran saya sejak jam 7 pagi (katanya). Tatapan mata mereka begitu terlihat antusias dan haus ilmu. Katanya 58 murid ini adalah siswa terpilih yang berhak mengikuti kelas “Pelatihan Menulis” bersama saya. "Sebenarnya banyak yang mendaftar, tapi mau tidak mau harus diseleksi," ujar salah satu guru. Dan, merekalah yang beruntung.
Sambutan Wakasek bidang kesiswaan (dokpri)
            Tibalah giliran saya, setelah acara dibuka oleh Mbak Levin dan sambutan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Saya memulai kelas dengan menampilkan judul sederhana, yaitu “Menulis, Yuk!” Sengaja saya buat begitu agar anak-anak tidak usah berpikir terlalu jauh untuk memulai menulis. 
Foto "aktris" itu bikin anak-anak senyum-senyum lho (dokpri)
Setelah memperkenalkan diri dan memancing perhatian mereka dengan beberapa pertanyaan pembuka, seperti “Siapa di sini yang sudah pernah menulis cerita?” Pertanyaan saya langsung direspon dengan beragam jawaban. Dua diantaranya;
            “Saya pernah, Bu, tapi cuma untuk dibaca sendiri!”
            “Saya juga pernah menulis tapi nulis puisi, Bu!”
Saya senang mendengar jawaban mereka. Ternyata memang benar, kalau yang ada di depan saya adalah murid-murid pilihan. 

"Saya, Bu!" (dokpri)

Setelah saya merasa tersambung dengan mereka, barulah saya buka materi awal tentang dasar-dasar untuk memulai menulis sebuah cerita. Tentu saja dimulai dengan unsur pertama dalam memulai tulisan, yaitu menemukan “Ide”. Saya memberi contoh bahwa ide itu ada di mana-mana dan sangat mudah ditemukan. Dari hal terdekat dengan mereka hingga ke yang lebih luas dengan memainkan kreativitas imajinasi.
Salah satu contoh yang saya berikan adalah tentang termos berisi air minum milik salah satu murid. Dari sebuah termos berwarna hijau berisi air itu saya mengurainya menjadi pembuka satu cerita. Sesekali saya menyapu pandangan. Saya tersenyum melihat tatapan mata mereka yang begitu fokus menyimak. Ada yang nyaris tak berkedip ketika saya mengatakan, “Setiap hari aku selalu membawa termos ini ke sekolah. Termos ini juga pernah menyelamatkan salah satu temanku yang merasa kehausan, dst ....”
Baim yang suka merenung (dokpri)
            Dari contoh-contoh sumber “Ide” yang saya sajikan di slide, ada gambar anak sedang merenung. Tiba-tiba salah satu murid nyeletuk, “Baim, tuh Bu. Suka merenung!” Maka saya pun mendapat satu momen yang menyenangkan. Saya langsung memanggil anak yang bernama Baim untuk maju. Awalnya dia malu-malu, tapi akhirnya mau juga berdiri di samping saya. Baim pun saya minta menceritakan apa yang biasa dia pikirkan saat merenung. “Hmm, apa ya ... apa ya ... bingung. Oh iya, tadi pagi saya merenung, trus mikir ... gimana caranya supaya bisa nulis cerita,” ujarnya pintar memilih isi renungan yang pas dengan momen pelatihan saat itu. Ah! Baim, kamu pasti bisa!
            Begitulah, dari “Ide” materi bergerak ke cara membuat “Judul”, menentukan “Tokoh dan Karakter” nya, sampai menetapkan “Ending” pada sebuah cerita. Mengajak anak-anak berlatih dan memulai menulis itu memang gampang-gampang susah. Dua jam lebih bersama mereka, saya harus mampu menemukan selingan-selingan agar mampu mempertahankan perhatian mereka tetap fokus ke saya. Intinya, agar mereka tidak bosan dan tetap konsisten menyimak dan merasa terus terlibat di sesi pelatihan itu.
Saya memilih menyelinginya dengan memperbanyak praktik ketimbang berlama-lama memaparkan materi. Sebagai contoh pada saat menentukan karakter tokoh dalam cerita, saya memilih menampilkan tujuh gambar wajah anak (laki-laki dan perempuan) dengan mimik yang berbeda-beda. Lalu, saya meminta mereka menentukan pilihan pada salah satu gambar dan membuat karakternya. Minimal mereka harus menentukan tiga karakter unik yang bisa mereka buat sesuai gambar.

Salah satu murid yg berani maju menampilkan karakter tokohnya (dokpri)
            Sesi ini sangat seru. Mereka mulai terpancing untuk mengolah imajinasinya. Walaupun beberapa murid masih terkesan bingung, namun akhirnya mereka mampu menyelesaikan tantangan yang saya berikan. Saya semakin menyemangati mereka dengan mengatakan bahwa di akhir pelatihan, saya akan memberikan hadiah buku karya saya kepada tiga murid yang paling kreatif. Waktu untuk menetapkan tokoh dan karakter berdasarkan gambar yang ada adalah 15 menit. Dan, mereka berhasil. Karakter dan nama tokoh sudah mereka tentukan. Saya meminta mereka menyimpannya untuk dipakai di sesi praktik berikutnya. 

Saya bacakan cth menggambarkan setting dalam cerita (dokpri)

            Materi kembali bergulir dengan santai. Sesi tanya jawab juga saya buka. Wow! Begitu diberi kesempatan bertanya, mereka langsung berebut mengangkat tangan.
            “Bu, bagaimana kalau ceritanya nggak ada konflik? Nggak boleh ya?”
            Setting boleh ganti-ganti nggak, Bu?”
            “Karakter tokohnya boleh nggak kalau cuma satu aja?”
            Itulah beberapa pertanyaan “bergizi” yang mereka ajukan. Saya menjawab semua pertanyaan itu dengan rinci dan lagi-lagi selalu dengan contoh, agar mereka lebih mudah memahaminya ketimbang teori. Hingga akhirnya saya mengakhiri pemaparan materi pada “Editing”. Bagian ini juga memancing rasa ingin tahu mereka. Selama ini yang tidak paham cara menuliskan kata “ke mana” dan “diminta” dengan benar, akhirnya paham. Mereka jadi mengerti tentang pentingnya mengedit tulisan yang sudah selesai agar tidak terjadi kesalahan di sana-sini. Mereka merasa menemukan hal yang baru dalam hal menulis. Syukurlah. 
Ada yang langsung serius nulis nih (dokpri)
            Tibalah sesi praktik membuat cerita mini. Saya meminta mereka menulis cerita dengan 10 kata kunci yang saya berikan dengan menggunakan tokoh dan karakter yang sudah mereka tetapkan tadi. “Ooo, karakter tokohnya buat bikin cerita ini ternyata,” celetuk salah satu anak yang duduknya tak jauh saya. Saya tersenyum mendengar celetukannya. Lalu, saya memberikan waktu 45 menit untuk menyelesaikan cerita yang mereka tulis. 

Inilah empat calon penulis keren yang terpilih (dokpri)
            Praktik menulis cerpen berakhir. Saya akhirnya membaca cepat karya mereka untuk memilih tiga terbaik. Namun, karena ada 4 cerita yang menurut saya nilainya berimbang, maka saya menambahkan 1 hadiah lagi. Jadilah 4 cerita yang terbaik yang terpilih dari 58 cerita yang terkumpul. Betapa senanganya mereka menerima hadiah buku dari saya. Semoga yang lainnya juga semakin semangat untuk terus berlatih menulis dengan baik.

Alhamdulillah, dapat kenang-kenangan dari Pak Kepsek (dokpri)
            Berakhirlah kelas “Pelatihan Menulis” itu dengan lancar. Kebersamaan dengan calon-calon penulis andal itu, membuat saya lupa pada rasa nyeri di perut saya. Akhirnya, terima kasih yang setulusnya kepada Mbak Levin yang telah mempertemukan saya dengan anak-anak kreatif itu. Juga terima kasih saya kepada Kepala Sekolah SDIT Gembira, segenap guru, dan orangtua murid. Semoga kerjasama ini kelak bisa berlanjut dan menjadi pembuka untuk kelas menulis berikutnya.
            Terakhir, untuk anak-anakku, teruslah berlatih. Semoga dari kalian kelak akan lahir penulis hebat yang mampu menginspirasi dunia. Tetap semangat! [Wylvera W.]

16 komentar:

  1. Serunya berbagi ya mak.. apalagi sampe gak kedip audience nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak.
      Susah-susah gampang menarik perhatian mereka untuk waktu lebih dari 2 jam lho. Harus pandai-pandai cari momen. :)

      Hapus
  2. Kok gak ada book signing dan amplop signing story-nya?


    Mampir juga ya di mari: http://www.bennyrhamdani.com/2015/05/mister-aladin-teman-travel-terbaikmu.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, book signing ada, tapi gak sempat minta difotoin waktu itu. Sstt, yang amplop signingnya OtR ah. Pamali. ^_^

      Ok, ntar saya mampir ya.

      Hapus
  3. ternyata ide itu bisa darimana saja ya mba, dari benda yg ada di dekat kita pun bisa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Kania. Kita tinggal berlatih mengolahnya menjadi cerita yg unik. :)

      Hapus
  4. Wah seru ya mbak wiwiek. kapan nih aku diajari menulis juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo privat, Lidya. Kita cari waktu yg sama ya. :)

      Hapus
  5. Kembali kasih mbak Wik, luar biasa keren... tulisanki penjelasannya patah"... baca disini tentang penulisan anak lebih detail jadi ikut tambah paham.... makasih mbak sudah berbagi ide dan ilmunya... 😍😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa-apa, Levin. Sudah bersedia mempertemukan dan menemaniku saja sudah luar biasa banget rasanya. Catatanku ini sebagai pelengkap versi Levin. Toss!

      Hapus
  6. Semoga mereka jadi semangat buat karya.. In Shaa Allah karyanya best seller :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih supotnya Mbak. :)

      Hapus
  7. Mereka generasi penerus yang kelak menggantikan para maestro yang sekarang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Insya Allah. Tks ya. :)

      Hapus
  8. Kereeeen mak W... Masya Allah ekspresi adik2 itu luar biasaaa

    BalasHapus
  9. Pingin banget bisa menulis seperti mak hebat ini.

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...