Minggu, 17 Mei 2015

Perempuan dan Teknologi Informasi

[Bagian Pertama]

Serius menyimak (foto: Ani Berta)


            
          Di era golabalisasi ini, sumber daya manusia merupakan kekuatan utama dalam pembangunan.  Untuk mewujudkan pembangunan demi meningkatkan kemakmuran, peran masyarakat sangat diharapkan.  Terutama di dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Termasuk di dalamnya peran kaum perempuan. Keterlibatan kaum perempuan dalam perannya ini mau tidak mau membuat mereka harus diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki. Kesempatan yang terpenting adalah bisa mendapatkan, mempelajari, dan memanfaatkan teknologi untuk mencerdaskan diri sendiri dan keluarganya. Sebab dari diri dan keluargalah segalanya berawal. 
          Sebagai seorang perempuan, saya pun merasa terpanggil untuk ikut berperan dalam pembangunan, sekecil apa pun bentuknya. Beruntunglah saya, tinggal dan hidup di area perkotaan yang tidak terlalu sulit mengakses pengetahuan tentang TIK. Dan, bersyukur sekali juga rasanya ketika saya mendapatkan kesempatan berharga untuk ikut duduk bersama dan berdiskusi dengan para perempuan hebat. Kami bertemu dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diprakarsai oleh Deputi Bidang PUG Bidang Ekonomi, KementrianPemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI untuk membahas tema tentang “Pemberdayaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Perempuan”.

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Ragam Aktivitas
            Acara yang berlangsung dua hari berturut-turut (7 - 8 Mei 2015) di ruang rapat Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW), Gedung Nyi Ageng Serang lantai 2 Jakarta Selatan itu, menghadirkan empat praktisi yang ahli di bidangnya masing-masing sebagai narasumber.
      Saya terkagum-kagum ketika Adiatmo Rahardi (Founder of the Largest Indonesia Robot Maker Community), menyajikan materi tentang “Making Things for the Internet of Things”. Beliau memaparkan cara kerja sebuah sistim untuk membantu kita dalam melakukan banyak aktivitas. 
(dokpri)

       Salah satu contoh yang sempat saya rekam adalah dalam hal penggunaan mesin cuci. Mesin cuci ternyata bisa dioperasikan dengan kontrol jarak jauh. Kalau saya bisa mengoperasikan alat ini, tentu akan sangat membantu. Saya bisa mengerjakan naskah-naskah cerita di depan komputer, sementara pakian kotor siap dijemur, tanpa harus berbasah-basah di dekat mesin cuci itu.
            Adi Robot (sebutan populer dari Adiatmo) juga memberi penjelasan tentang betapa hebatnya kemampuan teknologi sehingga memudahkan kaum perempuan untuk melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Sebagai contoh kecil (sebenarnya sangat besar buat saya ^^), Adi Robot juga memaparkan keunikan cara kerja alat sensor yang bisa mendeteksi kelalaian terhadap kewajiban sikat gigi dalam keluarga. Jika Ibu diberi alat kontrol (semacam komunikasi jarak jauh) untuk mengecek apakah ada salah satu anggota keluarga yang lalai melakukan rutinitas sikat gigi tersebut, maka Ibu sebagai pemegang alat kontrol itu akan tahu. Keren kan?


Adiatmo Rahardi saat memaparkan materinya (dokpri)

            Bukan itu saja. Masih banyak contoh kecanggihan pemanfaatan teknologi lainnya bagi keluarga yang diberikan Adiatmo Rahardi. Salah satunya alat pengecek (sensor) persediaan makanan di kulkas. Jika isi kulkas mulai kosong, maka sensor itu yang akan memberitahu pemiliknya. Bahkan sampai sensor tentang pengeluaran belanja dan jenis makanan sehat yang akan kita konsumsi dari isi kulkas tersebut pun bisa dideteksi oleh alat pintar tersebut.  Wow! Mau banget ya punya alat sensor seperti ini. Jika ingin melihat model-model teknologi lain, bisa mengunjungi Instructables.com. “Di sana ada penjelasan tentang tutorial pembuatan alat-alat teknologi seperti robot tersebut,” ujar Adi.
        Satu lagi yang paling ingin saya miliki (bukan karena kepo ya ^^), yaitu alat pengecek untuk mengawasi anggota keluarga yang serumah dengan kita. Dengan alat ini, kita bisa mengecek kegiatan yang dilakukan anggota keluarga di rumah, sementara kita tidak berada di sana. Luar biasa! Saya yakin, sebagai perempuan (terlebih Ibu), bukan hanya saya yang tergiur dengan manfaat penggunaan alat-alat berteknologi canggih seperti yang diutarakan oleh Adi Robot. 

Pemilik bisnis kuliner di Banjaramasin yang perlu sentuhan TIK (dokpri)
        Semua perempuan, apalagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, kecanggihan fungsi alat pintar itu akan sangat membantu memudahkan aktivitas mereka. Namun, masalahnya, bagaimana dengan perempuan-perempuan yang tinggal di pelosok-pelosok negeri tercinta ini? Seperti ketika saya berkunjung ke Banjarmasin dan sempat melihat perempuan-perempuan yang punya bisnis kuliner. Kesederhanaan dalam pengelolaan bisnis dan cara kerja mereka, menjadi salah satu contoh yang perlu dikenalkan dengan sentuhan teknologi yang lebih canggih. 

Anak-anak Pemulung yang belum tersentuh TIK. (dokpri)
        Contoh lain adalah kesulitan yang sempat saya rasakan saat memberi materi tentang menulis kepada anak-anak pemulung di sekolah pemulung Bantargebang. Akses teknologi, khususnya internet yang terbatas atau bahkan tidak ada samasekali, menjadi sebuah tantangan bagi saya sebagai trainer di sana.
        Melalui forum diskusi inilah saya berusaha mencari masukan tentang langkah-langkah untuk memikirkan solusinya. Tidak ada masalah yang tak memiliki jalan keluar. Semua harus diawali dengan semangat. Salah satu contohnya adalah dengan mengunjungi daerah-daerah terpencil itu, memberikan sosialisai, dan mengenalkan teknologi dari tingkat dasar, serta dilakukan secara berkesinambungan. Dan, itu adalah tugas perempuan juga sebagai bagian dari penggerak pembangunan.

Perlukah Personal Branding bagi Perempuan?  
            Dalam memanfaatkan Teknologi Informasi, satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah peran sosial media. Perempuan sebagai penggunanya, perlu mengukuhkan kekuatan di sosial media agar mampu mengontrol segala aktivitasnya di sana. Untuk menjawab kondisi tersebut, Amalia E. Maulana, Ph.D., Brand Consultant dan Ethnographer (ETNOMARK Consulting), hadir sebagai narasumber berikutnya.
Amalia E. Maulana, Ph.D dan materi tentang Personal Branding (dokpri)

            Perempuan hebat dan smart yang murah senyum ini, menyajikan materi seputar personal branding serta pemanfaatan kekuatan sosial media untuk kegiatan marketing yang efektif dan efisien.  Beliau mengatakan, “Sosial media adalah uncontrollable media. Untuk itu kita perlu membangun kekuatan di dalamnya.” Untuk membangun kekuatan tersebut, personal branding memang sangat diperlukan. Dengan kekuatan personal branding ini kita akan bisa mengetahui seperti apa kita di mata orang lain. Apa yang mereka bicarakan tentang kita (positif maupun negatif) saat kita tidak bersama mereka? Seberapa besar mereka mengingat profil kita, di sanalah sebenarnya brand kita terbentuk.
            Di awal paparan materinya, Amalia mengatakan dirinya adalah “Agent of Change”. “Saya yakin, ibu-ibu yang diundang dan hadir di sini adalah Agent of Change juga. Dan, sebagai Agent of Change, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus bekerjasama,” tekannya memberi apresiasi kepada kami yang ada di ruangan itu. Wah! Tiba-tiba rasa tersanjung itu menyusup di hati saya. Namun, sebelum rasa tersanjung itu membubung, rasanya saya perlu menyimak lebih jauh lagi tentang personal branding ini. 
 
Seperti inilah cara kerja sosmed (dokpri)


            Sebagai penulis, guru jurnalistik, blogger, dan baru saja memulai usaha bisnis kecil-kecilan (kuliner), saya sendiri sering menggunakan istilah brand atau branding untuk mempromosikan diri dan hasil karya saya. Sementara Amalia mengatakan bahwa brand bukan hanya tentang iklan, banyak hal yang perlu dikaji dan dipahami lebih jauh.
Menurut Amalia, ada tiga label yang perlu dipahami tentang brand ini:
  1. Brand Ambasador, yaitu bersedia mengenalkan produk atau menjadi bagian dari branding produk tanpa harus dibayar.
  2. Brand Endorser, yaitu membantu mempromosikan produk karena dibayar.
  3. Brand Guardian, yaitu terlibat secara aktif dalam melakukan branding produk serta bersedia memberikan jawaban atas keluhan/masalah dari konsumen terhadap produk tersebut.  
Dari penjelasan Amalia, saya menyimak lima kesalahan yang sering terjadi dalam penggunaan sosial media sebagai marketing.
  1. Learning by doing
Amalia sangat menganjurkan untuk meninggalkan konsep “Learning by doing” menjadi “Do it right from the beginning”. “Melakukan semuanya dari awal dengan benar, akan membuat kita terhindar dari masalah-masalah yang menjauhkan kita dari tujuan awal,” ujarnya meyakinkan.

  1. Trial and Error
Buatlah konsep yang efektif dan efisien terhadap apa yang ingin kita tawarkan. Hal ini akan memberikan efek yang tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, uang, dan tenaga. Memahami karakteristik konsumen adalah langkah yang wajib dilakukan. Apa yang dibutuhkan konsumen (customer oriented) harus menjadi pijakan utama. Product oriented akan memberikan efek jangka pendek. 

  1. Competitor Benchmarking bukan Consumer Understanding
Menghindari kebiasaan membuat produk yang sudah ada dan pernah dibuat oleh kompetitor. “Carilah hal-hal baru yang belum pernah diberikan oleh produk yang sama kepada customer untuk memberi kepuasan berbeda,” imbuh Amalia.

  1. Advertising focus bukan “Branding (Research)” focus
Studi dan research yang kreatif tentang sebuah produk, serta menemukan orientasi konsumen dan perilakunya merupakan langkah yang lebih tepat, ketimbang gencar beriklan tanpa konsep yang jelas. 

  1. Tidak memperhatikan Reputasi Diri
Menurut Amalia, reputasi adalah aset terbesar yang harus selalu dijaga dan diperhatikan. Hal-hal positif dan negatif tentang kita akan terekam di sosial media. Ini akan menjadi rekam jejak reputasi kita sepanjang masa. Maka, butuh kehati-hatian yang ekstra di sini.

        Berikutnya, Amalia menjelaskan tentang Revolusi Digital. “Kita harus lebih fokus dalam hal pemahaman konsumen, karena konsumen di era digital lebih berat untuk dipuaskan dibanding zaman sebelumnya. Termasuk memahami prilakunya serta media yang digunakannya,” ujarnya.
        Amalia juga memberi contoh tentang perempuan-perempuan yang belum menggunakan semua ketersediaan akses di sosial media, seperti instagram, twitter, facebook, blog, dan lain-lain. Bagaimana cara menjangkau mereka? Beliau menganjurkan untuk menggunakan prinsip low hanging fruit. Mencari lapisan konsumen yang paling mudah dijangkau dibanding yang sulit, akan memberikan hasil lebih besar.

Menyempatkan foto bareng dgn Ibu Amalia 
Dari paparan tentang personal branding ini, Amalia memberikan gambaran tentang sebuah brand. “Brand yang kuat adalah brand yang cemerlang, relevan, konsisten, dan distinctive (berbeda, istimewa),” pungkas Amalia.  
To be continued .... [Wylvera W.]

4 komentar:

  1. Sarat pengetahuan...tfs mbak....slm kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak. Salam kenal kembali. :)

      Hapus
  2. Aku juga mau mesin cuci cerdas itu loh, mbak. Asik banget tuh bisa nyuci sendiri dengan sensor jarak jauh, trus bisa jemur sendiri pula :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, aku juga pengin, Mbak. Etapi, kalau urusan ngejemur mah teuteup kitalah. ^_^

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...