Sabtu, 15 November 2014

Pernikahan Langgeng Harus Pakai Syarat


 
Saya dan suami. Narsiiis... :) (dokpri)

Memiliki pernikahan yang harmonis dan langgeng menjadi impian setiap pasangan. Tak hanya bagi pasangan yang baru menikah, saya yang sudah belasan tahun menjalani pernikahan juga menyimpan impian yang sama. Namun jalan untuk mewujudkan impian itu tak semudah yang dibayangkan. Jangan abaikan syarat-syarat yang bisa jadi pendukung untuk mewujudkannya.
Pertengkaran menjadi salah satu penyebab terkendalanya kelanggengan rumah tangga. Belum lagi persoalan lain yang terkadang bisa memicu “hawa panas” dalam pernikahan. Perselisihan rasanya sulit dielakkan dalam setiap bahtera kehidupan rumah tangga. Lalu, bagaimana menyikapi kondisi ketidakmudahan tadi?  
Sepanjang pernikahan saya berusaha menjadikan perselisihan sebagai momen untuk belajar memahami karakter pasangan. Saya selalu berusaha bijak dan berusaha memahami kondisi emosional pasangan. Meskipun bukanlah hal yang mudah untuk memahami pasangan, namun saya tetap belajar dan berusaha selama komitmen tetap dipegang teguh. Bagaimana dengan Anda?
Kebersamaan di masa perkenalan dan sebelum pernikahan terkadang bukanlah suatu ukuran bahwa kita mampu memahami pasangan. Banyak hal yang membuat kita terkaget-kaget. Yang awalnya dia sangat pendiam dan penyabar, tiba-tiba bisa berubah menjadi banyak bicara dan meledak-ledak. Nah, perubahan sikap sebelum dan sesudah menikah inilah yang terkadang bisa membuat kita sulit menerima. Maka, jika tak pandai mengolah emosi, ini bisa menjadi pemicu pertengkaran yang mengancam keharmonisan pernikahan.
Sebelum semuanya menjadi semakin runyam dan menjauhkan kita dari impian tentang keharmonisan dan kelanggengan pernikahan, sebaiknya mari kita coba belajar melakukan beberapa saran berikut ini; 

Berusaha Memahami
Sebanyak apa pun artikel yang kita baca tentang cara dan tips menjaga keharmonisan pernikahan, jika kita tak legowo memraktikkannya dengan pasangan, ini akan sia-sia. Jadi, berusaha memahami pasangan adalah modal dasar dalam sebuah pernikahan. Rujukan tentang cara dan tips dari berbagi sumber yang kita baca akan semakin mudah kita lakukan jika konsep memahami sudah bisa kita jalankan. Jangan langsung merasa tidak diacuhkan ketika pasangan kita lebih leluasa berbagi dengan temannya ketimbang dengan kita. Justru di sinilah saatnya kita belajar memahaminya agar pasangan kita berbalik merasa nyaman untuk bicara dan berbagi dengan kita. 

Komunikasi
Wanita dan pria memang ditakdirkan dengan karakter dasar yang berbeda. Pria cenderung menyimpan ribuan kata dalam sikap dan gerak-geriknya ketimbang mengumbarnya lewat lisan. Sementara wanita sulit menyimpan sebaris keinginan di balik lidahnya. Maka demi mempertemukan kedua karakter dasar ini, komunikasi  menjadi kunci penting. Bukan ingin memberatkan kaum istri, jika suatu ketika suami Anda tiba-tiba ingin bicara, cobalah diam sejenak dan berusaha menjadi pendengar yang baik. Karena momen itu mungkin tak akan selalu Anda dapatkan dari dirinya. 

Jangan selalu merasa sok tahu
Terkadang kita suka menyepelekan hal-hal pribadi yang disimpan oleh pasangan. Seolah kita merasa sok tahu tentang segalanya. Belajarlah menghargainya dengan menghormati kemampuan berpikirnya. Jika ada yang ingin diluruskan, maka bicarakan dan diskusikan dengan bahasa yang santun tanpa harus mengecilkan kapasitas cara berpikir pasangan kita. Konsep berbagi pikiran akan memudahkan pasangan untuk mentransfer keinginan-keinginannya. Sekali lagi hindari rasa sok tahu itu. 

Memuaskan pasangan secara emosional dan fisik
Wanita butuh cinta untuk melakukan hubungan seks, sementara pria sebaliknya, dia butuh seks untuk cinta. Ya, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Justru itu, aspek fisik bagi pria menjadi sangat penting. Bukan bermaksud kembali menempatkan wanita pada posisi untuk selalu menjadi pemegang tanggung jawab dalam upaya menjaga keharmonisan rumah tangga. Namun, kodrat dasar menjadikan wanita berperan dalam upaya membuat pasangannya merasa puas dan senang secara fisik dan emosional. Tak bisa dimungkiri, ini kunci penting dalam menjaga hubungan tetap langgeng. 

Saling percaya dan saling mendukung
Pernikahan tak akan bertahan lama jika tidak dilandasi oleh rasa saling percaya. Pasangan akan merasa percaya diri dan nyaman jika kita memposisikan diri sebagai orang pertama yang mendukungnya.

Nah, memiliki pernikahan yang harmonis dan langgeng bukan menjadi impian yang sulit lagi jika kita mampu melakoni beberapa syarat di atas. Yuk, sama-sama mewujudkannya! [Wylvera W./Wiwiek Indra Gunawan]

***

33 komentar:

  1. Nice artikel Kak. Makasih share-nya ya kak. Moga aku bisa menerapkannya di rumah tanggaku. aamiin... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Nel. Kita sama-sama belajar terus ya. :)

      Hapus
  2. semoga pernikahannya terus langgeng ya mak.. hihi jadi pengen nikah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Ayo, buruan! Seru lho. Lho? Hahaha....

      Hapus
  3. artikel yg bermanfaat mba wik. banyak yg harus saya praktikkan nih. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Kang Iwok.
      Aku dan suami pun masih terus belajar memraktikkannya. Semoga kita bisa menjaga komitmen dengan pasangan masing-masing dalam keharmonisan ya. :)

      Hapus
  4. Artikelnya menginspirasi siapa saja yang membaca mak.Termasuk diriku belajar mnjadi lebih baik n memberikan terbaik menjadi keluarga harmonis plus Samara ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kalau tulisan ini memberi manfaat buat siapa saja yang membacanya. Btw, iya Mak sebagai keluarga muslim tujuan kita berumah tangga adalah untuk membinanya menjadi harmonis dan samara. Insya Allah selalu diberi jalan untuk mewujudkannya ya. Aamiin. :)

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. Baru tahu mak, kalau lelaki butuh seks untuk cinta..
    Artikel yang bermanfaat buat saya yang baru 3 th menikah.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan aku yang bilang, tapi dari hasil beberapa survey para ahli katanya seperti itu. Humm... ternyata ada benarnya juga. :)

      Hapus
  7. Kalau berantem and ngambek jangan lama-lama dan cepet diselesaikan hihihi

    Makasih sharingnya Mak Wiek, mengingatkan aku kalau masih harus banyak belajar dan memperbaiki diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak Sary. Diam-diaman dengan pasangan itu paling gak enak lho dan pasti akan menghambat semuanya, terutama daya pikir untuk melakukan sesuatu. Jadi habis marahan segeralah minta maaf kalau pasangan bertahan pada keakuannya. Yang penting cair dulu. Hehehe, berat sih memang tapi kalau gak dicoba ya gitu deh... siap-siap kesal seharian. Hahaha....
      Btw, iya Mak, kita sama-sama belajarlah soale masih panjang tujuan ke depannya kan? ;)

      Hapus
  8. Balasan
    1. Hahahaha, bikinlah sama si Aba. ;)

      Hapus
  9. Suka dg artikelnya mbak...moga makin langgeng yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. Makasih, Mbak. :)

      Hapus
  10. Betul bangett inih syarat2nyaa, hehehe. semoga langgeng terus yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya Mbak. Semoga yang sudah dan akan berumah tangga bisa mencobanya. :)

      Hapus
  11. setuju banget mba.... hal2 tsb diatas yg akan melanggengkan pernikahan, IsyaAllah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Insya Allah. Yuk, kita praktikkan terus, Mbak. :)

      Hapus
  12. Masih belajar berrumah tangga terus nih mak:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mak. Aku juga masih terus belajar. :)

      Hapus
  13. setuju banget Mak sama tulisannya..
    yang intinya harus ada rasa "SALING"

    moga langgeng yuaa :D
    (lapor, saya sudah bewe ya) :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih Mak. Nanti kubalas bewe yach. :)

      Hapus
  14. Setujuu, tapi menjalani 8 tahun pernikahan, sering saya merasa kenyataan tak semudah teori. Tapi namanya belajar, gak ada kata berhenti ya Mak. Terus mempelajari karakter masing-masing sangat mungkin akan berlangsung seumur hidup ya. Makasih sharenya Mamak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap! Betul Mak. Sama-sama ya. :)

      Hapus
  15. belajar dari mbak wiwiek yang lebih senior nih pernikahannya. langgeng terus ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, kita sama-sana belajar. Cuma beda start aja kok ini. Hahaha....

      Hapus
  16. Panutaaaaaaanku :D
    Pasangan suami istri yang patut dicontoh, tapi gue bingung, Wik. Siapa nih yang beruntung, dirimu apa Bang Indra ya :))) *ditabokkemoceng*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuuh, tersanjung aku. *berusahagakterbang* Eiiits, kami sama-sama beruntunglah, Indah. Ada minus dan plusnya makanya lanjooot! Wkwkwkwk....

      Hapus
  17. soswit sekali ya itu yang di foto ..hahahahahah

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...