Sabtu, 08 November 2014

Manfaat TIK di Kelas Ekstrakurikuler Jurnalistik dan Menulis



            Pelajaran jurnalistik dan menulis sangat membutuhkan kemampuan menggunakan komputer. Minimal mengetik dan menyimpan hasil ketikan. Dalam proses belajar mengajar, perangkat seperti infocus dan layarnya menjadi faktor penunjang yang mau tidak mau harus dipenuhi. Selain itu hal yang paling mendukung adalah adanya jaringan internet yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan/diakses dalam proses pencarian informasi. Inilah persyaratan dasar yang saya ajukan kepada Kepala Sekolah ketika pertama kali diminta menjadi tenaga pengajar di kelas ekstrakurikuler tersebut. Tujuannya semata-mata untuk  mempermudah proses belajar mengajar.  
Alhamdulillah, sekolah tempat saya mengajar telah memiliki semua fasilitas yang saya ajukan. Saya pun menyetujui permintaan Kepala Sekolah untuk mengajar di sana. Sejak tahun 2010 saya resmi menjadi guru pembimbing kelas ekstrakurikuler jurnalistik dan menulis di SDIT Thariq Bin Ziyad, Pondok Hijau Permai Bekasi.

Dampak Minimnya Pengetahuan Teknologi Informasi dan Komunikasi
            Bagi murid sekolah dasar, kemampuan dalam menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memang tidak bisa dipukul rata. Disinilah fungsi guru TIK dioptimalkan di sekolah-sekolah. Tidak terkecuali di tempat saya mengajar. Namun sebagai guru ekskul, saya tidak bisa intervensi dalam penetapan mulai dari murid kelas berapa yang sudah layak mengikuti pelajaran TIK tersebut. Sementara di sekolah saya, murid-murid yang sudah berhak memilih beragam ekstrakurikuler dimulai dari kelas 3 sampai kelas 5.
Murid SDIT Thariq Bin Ziyad belajar TIK dengan fun (doc. pribadi)
            Melihat level kelas yang berbeda ini tentu saja tidak semua murid yang cepat tanggap dalam menyerap pelajaran. Kemampuan mereka pun sangat bervariasi. Semua itu tergantung seberapa jauh guru pembimbing TIK mereka memberikan materi.
Beginilah saat murid-murid TBZ PHP belajar TIK (doc. pribadi)
Dari informasi yang saya dengar ternyata pelajaran TIK yang mereka dapatkan dari guru pembimbingnya tidaklah menyeluruh. Mereka hanya diperkenalkan dengan pengetahuan dasar tentang cara mengoperasikan komputer seperti menghidupkannya, mengetik dengan keyboard, dan menyimpan hasil ketikan dari layar komputer ke folder. Itupun ternyata tidak maskimal. Akses internet yang ada di sekolah tidak sepenuhnya diperuntukkan bagi mereka yang belajar TIK.

 
Saat menyusun daftar pertanyaan untuk bahan wawancara

Untuk memperluas pengetahuan mereka, peran saya sebagai guru ekskul mau tidak mau menjadi bertambah. Saya tidak hanya mengajarkan materi jurnalistik dan menulis saja. Dalam setiap pertemuan seminggu sekali yang menggunakan ruang TIK, saya sekaligus membimbing mereka dalam menggunakan internet secara benar. Mereka saya ajarkan bagaimana melakukan browsing untuk mendapatkan referensi tentang materi terkait yang saya tugaskan kepada mereka.
 
Di ruang TIK (dokpri)
Mengenal pekerjaan Reporter (dokpri)
Saya yang juga aktif di dunia kepenulisan dan kerap bersentuhan dengan dunia maya seperti blog, facebook, serta twitter, setahap demi setahap membagi pengetahuan kepada murid-murid saya agar mereka juga akrab dengan semua itu. Apa yang murid-murid saya dapatkan dari pelajaran TIK pelan-pelan saya lengkapi.

Mengenalkan Blog untuk Mencatat Ragam Kegiatan Ekskul Jurnalistik dan Menulis
            Untuk murid-murid saya angkatan pertama (tahun pelajaran 2010 – 2011), saya mengajak mereka untuk menyimpan semua catatan kegiatan jurnalistik mereka di flashdisk. Saya katakan bahwa nanti semua kegiatan mereka di kelas ekskul akan tercatat di blog. Itulah pertama kali saya mengenalkan blog kepada murid-murid saya. 
Blog tempat catatan kegiatan ekskul jurnalistik (doc.pribadi)
Kendala pertama, mereka belum terampil membuat blog.  Sayalah yang membantu membuatkannya. Di blog yang bernama “Warcil SDIT Thariq Bin Ziyad PHP – Bekasi” itulah catatan-catatan mereka saya simpan. Dan beberapa dari mereka saya berikan nama serta password agar bisa mengakses blog tersebut untuk membantu saya meng-update hasil liputan, wawancara, dan artikel lainnya.
Hasil wawancara disimpan di blog Warcil (dokpri)
Dari sanalah mereka belajar membuat blog sendiri. Satu per satu murid saya dari angkatan pertama akhirnya memiliki blog sendiri. Saya tidak serta-merta melepas mereka untuk mengisi blog pribadinya. Untuk kontennya saya tetap mengingatkan agar tetap berhati-hati dan tidak mengisi blog mereka dengan hal-hal yang melanggar etika di dunia maya.
Hasil wawancara dengan pedagang kelapa muda (dokpri)
Namun setelah angkatan pertama blog “Warcil SDIT Thariq Bin Ziyad PHP – Bekasi” memang jarang di-update lagi. Lagi-lagi terkendala pada kemampuan angkatan setelahnya yang lebih banyak dari murid kelas 3 dan 4.
Catatan kegiatan ekskul jurnalistik di blog saya (dokpri)
Melihat kondisi ini saya tidak ingin patah semangat. Beberapa kegiatan ekskul jurnalistik dan menulis kami tetap saya muat di blog pribadi saya. Murid-murid saya tetap bisa mengakses kisah kegiatan mereka dari blog saya. Selain itu mereka juga bisa melihat cerpen saya yang menang lomba sebagai contoh saat saya minta menulis cerita.

Memanfaatkan Akun Facebook Sebagai Tempat Diskusi
            Di setiap pertemuan tahun pelajaran baru saya selalu menanyakan apakah murid-murid saya sudah memiliki blog. Selain itu saya juga menanykan akun facebook mereka. Tujuannya adalah agar saya lebih mudah memberikan informasi terkait dengan materi yang sedang dibahas di luar jam sekolah.
Lagi-lagi tidak semua murid memiliki blog dan akun facebook. Ketika ditanya alasannya, muncullah beragam jawaban. Ada yang belum diizinkan untuk membuka akun facebook oleh orangtuanya. Ada yang belum paham caranya. Untuk semua alasan itu saya pelan-pelan memberikan pemahaman tentang dampak positif yang akan mereka dapatkan.
Memberi motivasi di grup FB (dokpri)
Sebagai guru pembimbing mereka, saya pelan-pelan mengajak mereka untuk melek teknologi. Selain mahir menggunakan ponsel untuk bertukar kabar, mereka juga harus mampu memanfaatkan aplikasi di gadget mereka untuk mengakses internet.
Grup FB angkatan 2013 - 2015 (dokpri)
Salah satunya saya gencar menganjurkan agar murid-murid saya memiliki akun facebook. Alhamdulillah, saat ini sudah hampir semua murid saya memiliki akun facebook. Malah salah satu dari mereka mengambil inisiatif untuk menjadi Admin grup di facebook dengan nama grup “Jurnalist Kids” untuk angkatan 2010 – 2012 dan “Jurnalistik 2013 – 2015” untuk angkatan saat ini.

Flashdisk dan PowerPoint Mengurangi Penggunaan Kertas
            Dalam proses belajar dan mengajar saya selalu berusaha untuk meminimalisir peenggunaan kertas. Itu sebabnya di setiap awal tahun pelajaran saya meminta murid-murid saya untuk melengkapi persyaratan mengikuti eksktrakurikuler jurnalistik dan menulis. Setiap murid saya wajibkan memiliki flashdisk sebagai penyimpan beragam materi dan tugas-tugasnya.
Meskipun ada penggunaan kertas hanyalah pada saat saya ingin me-review hasil praktik lapangan mereka di jam dan hari yang sama. Untuk tugas yang dibawa pulang, saya tetap meminta murid-murid saya menyimpannya di flashdisk.
Beginilah cara saya menyampaikan materi (dokpri)
Dalam menyampaikan materi pelajaran, saya selalu menggunakan PowerPoint yang ditampilkan di layar menggunakan infocus. Materi akan tersaji dengan rapi disertai ilustrasi yang lebih efektif dalam memaparkan contoh. Murid-murid saya selalu semangat jika saya menyampaikan materi dengan tampilan slide yang disertai gambar-gambar. Mereka jauh lebih cepat mengerti.
Ternyata memang jauh lebih efisien memaparkan materi seperti itu dibandingkan menuliskannya di papan tulis. Di samping itu murid-murid saya juga belajar mengurangi penggunaan kertas sebagai usaha mendukung gerakan go green.

Perlunya Pengetahuan TIK sejak Usia SD
            Informasi di beragam media yang menyebutkan bahwa pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tidak tercantum dalam kurikulum 2013. Saya tidak begitu paham alasan apa yang menyebabkan pelajaran ini tidak lagi masuk dalam mata pelajaran wajib. Saya hanya menyayangkan kalau itu benar. Sebab pelajaran tersebut akan melatih anak-anak untuk mampu memanfaatkan TIK sebagai proses belajar dan kehidupannya sehari-hari.
            Mengingat semakin banyaknya sekolah-sekolah yang membuka kelas ekstrakurikuler terkait dengan pengetahuan Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka mau tidak mau pelajaran TIK hendaknya juga diterapkan mulai dari sekolah dasar. Di samping itu sumber daya manusia, infrastruktur, dan kontennya pun perlu dibekali. Melihat kondisi ini saya berharap kepada pemerintah untuk meninjau ulang keputusannya serta memikirkan solusi terbaik demi kemajuan anak bangsa.
            Akhirnya, sebagai guru ekstrakurikuler jurnalistik dan menulis tingkat sekolah dasar, saya merasa perlu untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan yang terkait dengan TIK. Apalagi materi yang saya ajarkan tak bisa lepas dari sentuhan TIK. Pengetahuan itu akan saya tularkan kepada murid-murid saya di sela-sela pemaparan materi tentang ekskul jurnalistik dan menulis. Saya berharap mereka semakin terampil menggunakan komputer, tablet, ponsel serta mengakses internet dengan tetap berpedoman pada etika dan batasan sebagai pengguna yang masih di bawah umur. []

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba "Guru Blogger Inspirattif 2014"

           

33 komentar:

  1. Anak2 memang akan lebih mudah paham dg pemberian slide bergambar yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak.
      Dan saya pun sebagai gurunya lebih mudah memberikan penjelasan dari contoh-contoh gambar itu. Makasih sudah berkunjung dan memberikan komentarnya ya. :)

      Hapus
  2. Kalau TIK digunakan dengan baik memang banyak memberikan kemudahan bagi kita ya Bun. Guru mudah menyampaikan materi anakpun senang bahkan betah di kelas.
    Sukses untuk lombanya Bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, Mbak Ika.
      Itu sebabnya tenaga pengajar perlu terus-menerus meningkatkan kemampuannya dalam mentransfer pengetahuan di bidang TIK kepada murid-muridnya supaya lebih nyambung. Makasih untuk komentarnya ya. :)

      Hapus
  3. Anak sekarang memang lebih adaptif ketimbang orang dewasa. Jangan sampai kecolongan gara-gara orang tua gaptek teknologi. Heee.
    Salam edukasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Orangtua dan guru harus lebih giat lagi belajar dan memahami teknologi ya. Biar nyambung dan bisa jadi teman diskusi mereka. Makasih sudah mampir dan memberi komentar.

      Hapus
  4. TIK untuk reportase seperti ini biasanya untuk kelas 4 ke atas atau beda2 tiap sekolah ya kak wyk? naksir nih ama sekolahnya...keren deh..hehehe

    makasih sharingnya ya kak wyk.. semoga menang ya....:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, untuk materi reportase ini aku yang ngasi Dian. Itu bagian dari materi ekskul jurnalistik.
      Btw, kami sesekali memakai ruang TIK untuk ekskul jurnalistik dan menulis ini, karena di kelas hanya ada infocus dan layarnya saja.
      Nah, untuk pelajaran TIKnya sendiri iya, mulai kelas 4 ke atas yang bisa ikutan.
      Iya, Dian sama-sama, Dian. Aamiin. :)

      Hapus
    2. Oh iya, nggak tau ya untuk sekolah lain. Mungkin beda-beda setiap sekolah. :)

      Hapus
  5. Waaah aku pengin mak Wiwik ngajar di sekolah anak2ku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, mau sih, tapi gimana terbang ke sananya ya, Mak Lusi? *ngitungduitdidompet* ^_^

      Hapus
  6. Salam silaturahmi ...
    Dengan bantuan media, siswa memang jadi lebih senang ketika belajar, ya, mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam silaturahmi kembali.
      Betul banget, Mak Ani Rostiani. :)

      Hapus
  7. Eh mak..ikutin skalian ke lomba guru menulis di kompasiana mak..kerjasama sm tanoto fondation. Keren nih ceritanya! Kyknya bentar lg hari guru y?*kudet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ada juga ya, Mak.
      Ntar dilihat dulu ya. Btw, makasih sudah mampir di sini. :)

      Hapus
  8. Keren Kak, inspirasi pakai full (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih Mas Sinyo. Semoga semakin banyak yang memahami pentingnya TIK dikenalkan kepada anak-anak secara positif ya. Btw, makasih sudah mampir. :)

      Hapus
  9. Mbak, bermanfaat banget nih. Makasih sudah berbagi. :)

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah, kalau memberi manfaat. Monggo diterapkan di sekolahnya Mbak. Insya Allah anak-anak semakin semangat. Btw, muridku ada yg sampai 2 tahun berturut-turut betah di kelas ekskul jurnalistik dan menulis. :)

    BalasHapus
  11. wah...bagus nih ada TIK untuk sekolah dasar. anak-anak memang harus sejak awal diberikan ruang untuk berekspresi. dan mba adalah satu dari sedikit guru yang mendedikasikan pengetahuan,pengalaman dan waktunya untuk perkembangan anak-anak. salut sama mba'. saya jadi ingat dulu kita demikian senangnya di pelajaran bahasa Indonesia, mengarang. lalu ada fase menulis diary dan belajar bikin cerpen di jaman yang semangatnya lebih tinggi daripada ketersediaan fasilitan penunjang. sekarang anak-anak lebih mudah mengeksplor dengan dukungan perangkat canggih dan teknologi internet. saya berharap di sekolah anak saya ada guru yang juga seperti mba'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, tersanjung ini saya. Makasih Mbak Novie. :)

      Hapus
  12. Di sekolah Kayla yang sekarang, TIK masih ada, tapi jadi ekstrakurikuler sih, lebih canggih karena anak-anak wajib bawa laptop saat diajarin :D
    Salut untukmu, Wik, yang tak pernah berhenti berbagi meski kadang menyita waktumu untuk menulis buku sendiri. Goodluck ya cyn :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Anak-anak sepertinya sdh menjadi duniaku, In. Apa aja rasanya mau dishare asal mereka enjoy. Apalagi ilmu dan pengalaman. Makasih ya. ;)

      Hapus
  13. Yaaay, akhirnya berhasil komen, setelah berhari-hari ditendang, dianggap spam :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, kok bisa gitu. Aduuuh, maaf ya. :)

      Hapus
  14. Setujuu ... mengajarkan anak ttg TiK sejak dini dampaknya memang cukup positif. Selama diarahkan untuk hal positif, banyak hal yg bisa dipelajari oleh anak-anak, kok. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Kang Iwok.
      Iya, kalau dihambat justru mereka akan cari tau dengan caranya yang bisa saja salah. :)

      Hapus
  15. Lagi pun udah eranya. Mesrinya sejak dini memang dikenal teknologi biar ga silap. -benny

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, anak-anak ini harus difasilitasi supaya nggak ketinggalan tapi tetap dibimbing dalam penggunaannya. :)

      Hapus
  16. Senang liat para blogger cilik ini, semoga konten blog mereka bisa tetap terjaga ya mbak.

    BalasHapus
  17. sepertinya semua sudah terbiasa menggunakan komputer ya :) itu kemajuan yang baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum semuanya. Masih harus didampingi. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...