Senin, 02 Desember 2013

Menularkan “Virus” Menulis pada Anak


doc. Pribadi

Anak yang bisa menulis bukan hanya untuk menjadi penulis saja. Sebab, apa pun kelak profesi yang dipilih si anak, kemampuan menulis akan dapat menumbuhkan kreativitasnya dalam menjalankan profesi tersebut. Namun, untuk menjadi gemar dan suka menulis mungkin tak diminati oleh semua anak. Maka, untuk memotivasi mereka agar menggemari kebiasaan ini adalah tugas kita sebagai orangtua, guru, maupun insan yang peduli pada hal itu. 
Menulis di layar komputer vs buku tulis (sensasinya beda-beda lho). Doc. Pribadi
Untuk kepedulian itu, sebagai salah satu orangtua sekaligus guru (meskipun hanya mengajar di kelas ekskul), saya selalu memupuk semangat untuk menularkan kebiasaan menulis ini kepada anak-anak didik saya dengan istilah “virus” menulis. Saya selalu mengingatkan kepada anak-anak didik yang saya bimbing sejak 2010 lalu di SDIT Thariq Bin Ziyad Pondok Hijau Permai, Bekasi, tempat saya mengajar pada kelas ekstrakurikuler jurnalistik. Saya selalu menularkan “virus” menulis itu di sela-sela materi jurnalistik yang saya ajarkan kepada mereka. Seterampil apa pun mereka melakukan liputan dan wawancara, mereka tak akan mampu menyusun berita yang bagus jika keterampilan menulis mereka tidak diasah dengan baik. Itu yang kerap kali saya ingatkan.
doc. Pribadi
Awalnya mereka heran, sebab mengira bahwa kelas jurnalistik semata-mata hanya berlatih menjadi wartawan cilik yang baik dengan mampu meliput serta mewawancari narasumber saja. Begitu saya meminta mereka menuliskan reportasenya, barulah mereka menyadari bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan supaya mereka bisa menyajikan berita yang enak untuk dibaca.
Nonton bareng jadi kegiatan yang paling menyenangkan. (Doc. Pribadi)
Demi mengasah keterampilan mereka, saya tak lupa untuk menyelipkan materi menulis di setiap kali saya bertemu di kelas dengan mereka. Materi itu bisa berupa dari menuliskan cerpen, catatan harian, maupun opini mereka. Saya juga memberikan kesempatan kepada anak-anak itu untuk sekadar duduk di luar kelas atau di luar gerbang sekolah. Mereka saya minta untuk mengamati apa yang terjadi di sekeliling mereka dalam waktu sekitar lima belas menit. Setelah itu, saya meminta mereka kembali ke dalam kelas untuk memberikan laporan pandangan matanya ke dalam tulisan. Saya meminta mereka menuliskan semua yang mereka tangkap lewat panca inderanya. Alhamdulillah, hasilnya lumayan bagus.
Kunjungan ke Panti Asuhan. (Doc. Pribadi)
Tak hanya itu, untuk mendorong semangat mereka dalam menulis, sesekali saya juga meminta mereka menuliskan apa yang paling mereka sukai, ketahui dan kuasai. Karena menuliskan apa yang paling dikuasai akan memudahkan mereka menuangkan idenya. Imbas dari kebiasaan itu, lambat laun mereka semakin terampil untuk membuat laporan wawancara serta liputan lainnya dalam bentuk tulisan. Saya mengharapkan dua keterampilan sekaligus dapat mereka kuasai selama berada di kelas ekskul yang saya bimbing.  
Wawancara Pedagang. (Doc. Pribadi)
Pertama tentunya keterampilan jurnalistiknya. Untuk level anak-anak seperti mereka, saya membatasi pada keluwesan dalam menyusun pertanyaan serta melakukan wawancara kepada guru, teman sekolah, pedagang di sekitar sekolah, orangtua mereka serta terampil melakukan liputan sederhana di dalam maupun di sekitar sekolah. Kedua, tentunya keterampilan menulisnya. 
Doc. Pribadi
             Dari pengalaman mengajar kelas ekskul ini,  salah satu murid saya (Salwa Salsabila) sudah berhasil membukukan salah satu cerpennya yang lolos di lomba menulis cerpen tingkat nasional beberapa waktu lalu. Bukan hanya itu, cerpen Salwa juga lolos seleksi dan dia berhasil ikut serta dalam Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013 setelah berkompetisi dengan lebih seratus cerpen peserta dari seluruh tanah air. Sementara murid saya yang lainnya juga telah berhasil menyusun tulisan dari wawancara mereka kepada para pedagang di luar sekolahnya yang dimuat di tabloid sekolah itu.
Saya berharap, keberhasilan ini tak terhenti hanya pada satu atau beberapa murid saja. Kelak akan ada lagi yang menyusul karena imbas “virus” menulis yang saya tularkan. Semoga. []

2 komentar:

  1. hebat nih Salwa siapa dulu gurunya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salwanya memang hebat dan selalu tekun kalau di kelas, Mbak. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...