Senin, 03 November 2014

Pembicara di Event Office to Office Majalah Kartini



          Pagi itu tiba-tiba hape saya berdering. Perempuan yang memperkenalkan diri dengan nama Esthie Engela, Sr. Account Executive dari Majalah Kartini  menghubungi saya. Katanya nama saya direkomendasikan oleh Mbak Ria dari Majalah Annisa.
Kebetulan beberapa waktu lalu saya memang pernah diminta oleh Majalah Annisa untuk mengisi event office to office mereka di kantor Bank Syariah Mandiri Jakarta. Sama seperti momen waktu itu, Mbak Esthie pun menanyakan kesediaan saya mengisi acara serupa untuk Majalah Kartini. Saya diminta menjadi pembicara untuk Ibu-ibu PIA Ardhya Garini Mabes TNI AU di Cilangkap, Jakarta Timur.
            Setelah menanyakan beberapa hal terkait dengan event itu, saya pun menyetujui permintaannya. Maka diberikanlah hari dan tanggal acara kepada saya. Saya diminta mengajukan tema yang akan disampaikan. Dari dua tema yang saya berikan akhirnya client mereka (Ketua PIA Ardhya Garini Mabes AU) menyetujui satu tema yang berjudul, “Menulis Mendekatkan Ibu dengan Anak dan Buku”.
            Saya pun kembali menyiapkan materi dalam format PowerPoint. Sekitar enam belas slide saya siapkan untuk dipaparkan. Tak banyak uraian di PowerPoint itu. Saya memilih menyajikan lebih banyak ilustrasi. Penjelasan dari ilustrasi itulah nanti yang akan saya jadikan bahan untuk mengisi materi semi parenting untuk ibu-ibu istri TNI AU.
            Tibalah hari Senin, 27 Oktober 2014. Bersama seorang teman, pagi-pagi sekali kami sudah siap berangkat menuju Mabes AU, Cilangkap Jakarta Timur. Alhamdulillah, jalanan tidak terlalu padat sehingga kami bisa tiba setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan.
            Setelah memarkirkan mobil, kami pun diminta untuk menunggu di ruang VIP. Ketika memasuki aula Mabes AU tersebut, sempat terbesit rasa takjub di hati saya. Awalnya saya mengira ini event kecil. Ternyata ibu-ibu yang hadir lebih dari 100 orang. Wow! Nuansa biru memenuhi aula berkapasitas ratusan orang itu. Saya akui, saya sempat terpana dan sedikit nervous. Namun setelah setengah jam menunggu dan berbincang dengan panitia di ruang VIP sedikit demi sedikit melenyapkan rasa gugup saya.
            Saat menunggu, Ibu Vera selaku ketua, menghampiri dan memastikan judul tema yang akan saya sampaikan. Kami pun berkenalan. Tepat pukul 09.00 WIB saya diminta menuju kursi terdepan untuk mengikuti serangakaian acara pembuka. Saya sudah terbiasa dengan protokoler semacam itu. Saya tetap khidmat mengikutinya.
Saya, Bu Atik, Bapak Sitompul dan Istri (doc. pribadi)
          Acara diawali dengan pembukaan oleh MC khusus dari ibu-ibu Mabes AU. Sambutan dari Ketua PIA Ardhya Garini. Sambutan Ibu Atik dari Majalah Kartini, hingga akhirnya dilengkapi dengan pembacaan doa agar acara berlangsung lancar. Semua berjalan sangat tertib layaknya acara resmi. Begitulah, saya tetap santai mengikuti prosedurnya.
     Acara resmi pun selesai. MC yang diundang khusus untuk acara inti, membuka sesi berikutnya. Tibalah giliran saya naik ke atas pentas yang ditata sedemikian elegan. MC yang lumayan kocak itu membacakan profil saya dan menjelaskan sekilas tentang materi yang akan saya sampaikan.   
Sambil lihat contekan supaya tak salah sebut nama (doc. pribadi)
       “Untuk apa sih sebenarnya menulis itu buat Ibu-ibu?” begitu MC mengantar materi saya.
          “Untuk menuangkan isi hati sebagai catatan pribadi,” jawab ibu yang pertama.
         “Menulis adalah sarana untuk merangkai ide yang bermunculan di kepala kita,” lanjut ibu berikutnya.
          “Mencatat lirik lagu, karena kebetulan saya seorang penyanyi,” kata ibu yang ketiga.
       Ketiga jawaban itu akhirnya diserahkan kepada saya untuk memilih jawaban yang paling tepat. Saya menjawab bahwa ketiga jawaban itu semuanya benar. Akhirnya ketiga ibu yang menjawab mendapat hadiah voucher belanja.
        Selebihnya, MC memberikan waktu sepenuhnya kepada saya untuk memaparkan slide demi silde yang sudah saya siapkan. Saya minta izin untuk berdiri. Saya katakan kalau saya lebih nyaman jika menyampaikan materi dalam keadaan berdiri. Tujuannya agar saya bisa melihat wajah ibu-ibu satu per satu. Mereka pun tertawa mendengar alasan saya. 
(doc. pribadi)
        Slide pertama saya buka. Lalu berlanjut dengan slide berikutnya yang menampilkan ilustrasi serta pertanyaan, “Mengapa Ibu Harus Menulis?” Saya pun mulai menjelaskan beberapa alasan yang membuat seorang ibu perlu menulis. Beberapa diantaranya adalah untuk menghilangkan stress, mengisi waktu luang, meningkatkan daya ingat. Satu per satu alasan itu saya jelaskan melalui ragam contoh yang dekat dengan keseharian para ibu. Di penjelasan-penjelasan itulah akhirnya suasana khusyuk dalam menyimak materi saya akhirnya mencair. Tawa renyah ibu-ibu mendengar contoh-contoh beraroma humor dari saya membuat kebersamaan kami semakin hangat.
Slide pertama (doc. pribadi)
      “Coba Ibu bandingkan, mana yang lebih hebat sensasinya jika Ibu menuliskan ungkapan cinta kepada suami dibanding mengucapkannya,” ujar saya memberi satu contoh yang disambut gelak tawa.
       Satu contoh lagi saya berikan. “Coba kembali Ibu bandingkan. Ketika Ibu kesulitan berkomunikasi lewat lisan dengan anak Ibu, lalu Ibu menggantinya dengan menuliskan beberapa kalimat untuk mewakili perasaan Ibu kepada buah hati. Dan anak Ibu membacanya. Apa yang akan terjadi?” 

        Begitulah contoh demi contoh yang mampu menjawab pertanyaan “Mengapa Ibu perlu menulis” saya paparkan. Hingga akhirnya sampai pada materi bagaimana kegiatan menulis itu bisa mendekatkan Ibu dengan anak dan buku. Saya perhatikan ibu-ibu istri TNI AU sangat antusias dengan materi yang saya sajikan dari awal hingga akhir. 
Sesi tanya jawab
Hadiah bagi penanya terbaik (doc. pribadi)
         Sampai pada sesi tanya jawab yang disediakan, begitu ramai yang ingin mengajukan pertanyaan. Mulai dari bagaimana caranya memulai menulis, hingga pertanyaan tentang upaya apa yang harus dilakukan supaya ibu dan anak sama-sama bisa mencintai kegiatan membaca dan menulis. Semua saya jawab dengan detail. Alhamdulillah, mereka puas. Malah ada yang meminta saya agar mau kembali memberikan pelatihan khusus menulis untuk mereka. Wow! Senang banget dong mendengarnya. Saya tunggu undangan itu!
Saat saya menyajikan materi (doc. pribadi)
       Akhirnya sesi saya yang diberi durasi selama satu jam lebih itu berakhir dengan pemberian hadiah untuk tiga pertanyaan terbaik. Setelah sesi saya, acara masih berlanjut dengan tutorial hijab dari Zoya.
        Acara yang dihadiri oleh Ketua PIA Ardhya Garini Gabungan I Mabes AU, Ibu Vera JFP Sitompul, Ibu-ibu Ketua PIA Arhdya Garini Cabang, Ranting Berdiri Sendiri, dan Ranting di jajaran Gabungan I Mabes AU itu ditutup dengan pemilihan busana terindah dan foto bersama.
Foto bersama dengan pose bebas :)  (doc. pribadi)
           Saya dan teman seperjalanan pun pulang dengan hati puas. Semoga apa yang saya sampaikan memberikan pencerahan. Terima kasih kepada Majalah Kartini yang telah memberi kepercayaan kepada saya untuk mengisi acara pertemuan besar itu. Semoga tidak mengecewakan dan kembali diundang oleh Ibu Ketua PIA Ardhya Garini Mabes AU. Semoga! [Wylvera W.]

           

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih, Mbak Lidya. Masih terus belajar. :)

      Hapus
  2. Wah mulai banyak undangan nih. Lancar terus yah go public nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, rezeki memang tak terduga, Mbak. Makasih sdh mampir ya. :)

      Hapus
  3. wah sepertinya seru sekali ya :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...