Tampilkan postingan dengan label Tulisanku di Koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku di Koran. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2015

Menulis di Koran Tempo


Penampakan artikel saya di koran Tempo (dokpri)

Saya tidak pernah membayangkan kalau suatu hari tulisan saya bisa dimuat di koran Tempo. Semua berawal dari pesan di inbox facebook beberapa waktu lalu. Pesan itu disampaikan oleh Mbak Elin Driana, istri dari Bapak Putut Widjanarko (Produser Mizan Production). Isinya meminta saya menggantikannya mengisi di Rubrik Ramadan koran Tempo. Menurut beliau, sayalah yang lebih pas untuk menulis di kolom tersebut. Tentu saja, tawaran ini saya sambut baik.
Pesan dari Mbak Elin (dokpri)
Akhirnya, selang beberapa hari, saya pun dihubungi Mbak Rachma dari Tempo via hape. Setelah berkenalan, inti pesannya sama. Beliau meminta saya mengisi Kolom Ramadan sesuai dengan pengalaman saya. Namun, beliau tidak menjamin sepenuhnya kalau artikel yang saya buat nanti akan lolos dan dimuat. Menulis untuk koran Tempo adalah pengalaman pertama buat saya. Saya harus berusaha membuatnya sebaik mungkin. Masalah nanti bisa dimuat atau tidak, saya serahkan pada redaktur koran tersebut.
Alhamdulillah, ternyata artikel saya diterima dengan baik. Inilah hasilnya ....

Penjara, Penyesalan, dan Harapan

Dulu, ketika masih anak-anak, kata penjara adalah momok yang sangat menakutkan buat saya. Saya menganggap tempat itu adalah “sarang” bagi orang-orang yang telah melakukan kejahatan besar tak terampuni. Menyeramkan!
            Setelah 35 tahun, ketakutan itu seolah menguap. Semua bermula dari kedatangan saya di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang. Keterlibatan saya di sana berawal dari sebuah obrolan ringan dengan seorang teman. Beliau bercerita tentang kegiatan yang dilakukan oleh sebuah komunitas bernama “Gerakan Peduli Remaja” di lembaga pemasyarakatan itu. Saya pun dikenalkan kepada Suci Susanti yang menjadi ketua komunitas tersebut.
Saya yang berprofesi sebagai penulis, awalnya diajak untuk mengisi pertemuan dengan memberikan pelatihan menulis kepada anak-anak lapas. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya memberi pelatihan menulis, akhirnya saya pun semakin cinta dan melebur bersama kegiatan GPR di lapas anak itu. Tidak ada lagi rasa takut saat berkunjung ke penjara itu. Sebaliknya, saya justru sering merasa rindu jika berlama-lama tidak kembali.
Di setiap kunjungan ke lapas, kami selalu bertemu dan duduk bersama di sebuah musholla bernama Baitur Rohman. Di musholla itulah anak-anak penjara melakukan beragam kegiatan. Mulai dari berlatih menulis cerita pendek, belajar membaca Al Qur’an, menghafal surat-surat pendek, konseling secara personal, hingga kegiatan pesantren kilat di bulan Ramadan.
Dari beberapa kali perjumpaan dan berdialog dengan mereka, mampu menciptakan rasa kedekatan di hati saya. Rasa itu kian mengusik untuk menguak sisi gelap yang melatarbelakangi mereka melakukan kesalahan, sehingga membuatnya terjerat di balik jeruji besi itu. Selalu ada alasan di balik semua yang telah terlanjur mereka lakukan. Di sanalah tugas GPR meluruskannya.
Di beberapa kali pertemuan, mata saya tak bosan-bosan menatap sekitar 200 wajah-wajah penuh penyesalan. Mereka adalah anak-anak berusia rata-rata di bawah 18 tahun. Hukum telah menjerat mereka atas beragam kasus. Di antaranya; pembunuhan, perbuatan asusila, narkoba, dan pencurian. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.
Di saat berdialog, saya kerap menatap mata mereka. Seperti tidak ada tanda-tanda atau bekas kejahatan yang tergambar di sana. Alih-alih tegar, mata saya seringkali nyaris berkaca-kaca.
“Ibu saya tukang cuci. Saya anak nomor 3 dari 7 bersaudara. Cari makan susah, Bunda. Keras!” begitu keluhan salah satu mereka yang pernah saya dengar.
“Saya cuma curi besi. Dijual bisa buat makan,” imbuh yang lainnya memberi alasan atas kesalahan yang telah dilakukannya.
“Pusing, stres, Bunda. Kalau makai stresnya hilang,” ujar salah satu yang terlibat kasus narkoba.
Ini kenyataan. Anak-anak itu terjebak pada kejahatan yang terkadang tak mereka sadari. Mereka begitu saja melakukan kejahatan yang semestinya tak mereka lakukan. Bisa jadi, peran dan perhatian orangtua tak pernah mereka dapatkan. Ditambah faktor lingkungan dan pergaulan yang semakin memicu ke arah yang salah. Kondisi inilah yang menjadi dasar bagi Gerakan Peduli Remaja untuk tetap hadir di lapas tersebut secara berkala.
Telah banyak cerita yang saya dengar dari mereka. Semua mengerucut pada ungkapan rasa penyesalan. Namun, di balik rasa sesal itu sesekali muncul ungkapan ketidakpercayaan diri yang kuat. Mereka seolah tidak siap menghadapi dunia di luar penjara saat bebas nanti. Ada rasa takut akan kembali terlibat kasus yang sama lalu balik ke penjara. Dilema.
Demi menguatkan keyakinan bahwa selalu ada tempat untuk orang-orang yang bertaubat, teman-teman dari Gerakan Peduli Remaja pun selalu melakukan konseling untuk pemulihan mental mereka. Misi inilah yang membuat kehadiran saya di lapas anak itu akhirnya bergeser. Dari berbagi pengetahuan dasar tentang menulis cerita, akhirnya saya terlibat untuk memberikan motivasi juga bersama teman-teman GPR.
Di setiap Ramadan (sejak 2012), teman-teman dari Gerakan Peduli Remaja berusaha menggelar kegiatan pesantren kilat untuk anak-anak lapas. Tidak terkecuali pada Ramadan 1436 H ini.
“Kita ingin anak-anak lapas ini juga ikut merasakan momentum Ramadan. Lewat ceramah-ceramah Islami, diharapkan mampu menggerus hal-hal negatif yang sudah tertanam di diri mereka selama ini,” ujar Suci Susanti memberikan latar belakang dari semua upaya yang dilakukan, termasuk pesantren kilat.
Semoga momen Ramadan kali ini mampu membawa hati mereka untuk benar-benar menyadari kesalahan dan dosa-dosanya. Bertaubat dan kembali ke jalan yang benar adalah harapan yang selalu tersimpan di hati anak-anak lapas itu. Semoga Tuhan mendengar dan menerima taubat mereka. [Wylvera W.] 

____

         Tak lupa saya ucapkan terima kasih juga kepada Mbak Suci Susanti (Ketua Gerakan Peduli Remaja). Mengenalnya membuat saya kian hari kian dekat dengan anak-anak lapas itu. []


Selasa, 31 Maret 2015

Aura Mistis Patung Sigale-gale












#LatePost
Tulisan sy di Koran Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 3 Mei '14

 

Berwisata ke Danau Toba, Sumatera Utara rasanya kurang lengkap jika tidak mengunjungi pulau Samosir. Pulau vulkanik yang menawan ini terletak di tengah Danau Toba, danau terluas di Asia Tenggara. Ada tiga jalur perairan melalui Danau Toba menuju ke pulau ini. Pertama, melalui Pelabuhan Ajibata ke Pelabuhan Tomok. Kedua, dari Muara menuju Nainggolan. Ketiga, melalui Tigaras menuju Simanindo. Kami memilih menumpang kapal ferry dari Ajibata menuju Tomok dengan membayar Rp91.500 (sudah termasuk mobil). Rasanya uang sejumlah itu terbayar dengan suguhan pemandangan danau yang indah dan menakjubkan selama lebih kurang satu jam waktu tempuh menuju lokasi.
Tiba di Samosir, kami menuju Tomok untuk melihat lokasi patung Sigale-gale yang menjadi landmark pulau tersebut. Pertama kali saya memandang patung itu, terasa aura mistis melekat di sana. Mungkin karena patung Sigale-gale sendiri berwujud laki-laki jangkung dengan bola mata melotot memancarkan tatapan yang bagi saya agak menyeramkan. Dengan atasan jas abu-abu, topi yang terbuat dari kain menutupi sebagian kepalanya, bawahan sarung serta ulos yang diselempangkan di bahu hingga pinggangnya, patung Sigale-gale seolah digambarkan seperti manusia bernyawa.
Patung Sigale-gale diletakkan di depan sebuah rumah adat Samosir. Patung ini bisa bergoyang-goyang menirukan gerakan tortor dengan iringan gondang sabangunan (gondang Batak). Jika memperhatikan strukturnya, patung yang diukir menyerupai laki-laki dewasa itu menggunakan tali yang cukup kuat sebagai pengikat di bagian-bagian persendiannya. Mulai dari leher, lengan, lutut, jari-jemari, hingga ke persendian kakinya. Tali itu pula yang disambungkan kepada beberapa orang yang dalam pewayangan disebut dalang untuk menggerakkannya. Tarif untuk melihat pertunjukan tarian patung ini hanya Rp5.000.
Anak-anak saya begitu terkesan dengan patung ini. Mata mereka nyaris tak berpaling memandangi gerakan patung itu. Sementara saya sibuk mencari alasan tentang aura mistis yang terpancar dari patung itu. Mungkin hanya saya yang merasakannya. Dari kesan itu saya mencoba menelusuri sejarah keberadaan patung Sigale-gale ini.
Banyak versi yang tersebar tentang asal-usulnya. Salah satu versi yang saya baca, konon katanya di zaman dahulu ada seorang raja yang sangat bijaksana tinggal di wilayah Toba. Raja itu bernama Rahat. Raja Rahat sangat terkenal dengan kekayaannya. Dia hanya memiliki satu putra yang menjadi putra mahkota dari kerajaannya.
Raja Rahat sangat menyayangi putranya, hingga pada suatu hari kesedihan melanda hatinya. Putranya yang bernama Manggale terjangkit penyakit aneh yang tak seorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Manggale menghembuskan napasnya, menghadap Sang Pencipta. Raja Rahat sangat berduka atas kematian putra semata wayangnya.  Raja rahat meminta para pengawalnya untuk mencari para tukang ukir kayu yang mumpuni ke seluruh penjuru kampung. Dari sekian banyak tukang ukir kayu yang ditemui, akhirnya Raja Rahat meminta salah satu yang paling terkenal dari mereka. Nama tukang ukir kayu itu adalah Rahat Bulu atau dikenal dengan gelar Datu Manggeleng.
Datu Manggeleng pun menyanggupi permintaan Raja Rahat untuk menyelesaikan patung kayu yang menyerupai sosok Manggale dalam tiga hari. Datu Manggeleng menuju hutan dan menemukan pohon dengan kayu berkualitas memiliki tinggi yang sama dengan almarhum putra Raja Rahat. Lalu, tukang ukir kayu itu pun menebang pohon tersebut dan mulai mengukirnya menyerupai wujud Manggale.
Betapa gembiranya hati Raja Rahat melihat hasil kerja Datu Manggeleng. Patung berwujud Manggale pun diabadikan setelah Raja Rahat berpesan kepada penduduk di sana bahwa patung itu adalah sebagai pengganti putranya yang telah tiada. Raja Rahat pun memberi nama patung itu dengan sebutan Sigale-gale.
Raja Rahat akhirnya meninggal dunia beberapa tahun kemudian. Punahlah keturunannya. Namun, penduduk memenuhi permintaan Raja Rahat untuk melaksanakan acara adat pemakaman seperti yang dipesankan Raja. Sigale-gale pun dibuat menari oleh tukang ukir kayu. Selepas acara adat, mayat Raja Rahat pun diantarkan bersama Sigale-gale ke pemakaman.
Kabarnya, pertunjukan Sigale-gale awalnya dilakukan hanya untuk raja-raja yang kehilangan keturunannya. Tetapi, kemudian kebiasaan itu diperuntukkan bagi setiap penduduk yang tak memiliki keturunan. Setiap orang yang sengaja memesan pembuatan patung Sigale-gale untuk alasan papurpur sapata (menaburkan janji). Lalu, Sigale-gale dengan gerakan tariannya menjadi semacam obat bagi impian mereka yang kandas untuk memperoleh keturunan sampai upacara kematiannya tiba.
            Menurut kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat patung Sigale-gale harus rela menyerahkan jiwanya pada patung buatannnya itu agar patung itu bisa bergerak dan hidup seperti manusia.
            Terlepas dari aura mistis yang saya rasakan, pertunjukan tarian patung Sigale-gale yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan itu menjadi hiburan yang menarik bagi saya dan keluarga. [Wylvera W.]

Rabu, 17 Juli 2013

Lima Kata Ajaib



 
            Saya masih terganggu dengan sikap Khalid sore tadi. Ada kesalahan yang telah saya lakukan sehingga dia menunjukkan protes yang mengejutkan. Saya harus meluruskan masalah ini agar tak ada lagi ganjalan di hati Khalid.
            “Ibu enggak adil!” tiba-tiba tadi Khalid protes di depan saya. Tas sekolahnya di lempar ke atas kursi. Saya tersentak. Dahi saya berkerut sejenak.
Apa pasal? Mengapa anak bungsu saya menuduh saya tidak adil? Akhirnya, saya dekati Khalid yang sedang memasang wajah kesal.
            “Memangnya Khalid Ibu apain?” tanya saya hati-hati.
            “Kakak jadi besar kepala kalau cuma aku yang disuruh minta maaf,” jawabnya mulai lunak.
            “Oh, soal pesan di hp itu?” tanya saya lagi minta kepastian.
            “Iya. Kan, kakak yang matiin hp nya. Jadi bukan aku dong yang salah. Aku sudah kirim pesan kok, kalau Ibu enggak bisa jemput Kakak. Bukan salahku dong kalau Kakak kelamaan nunggu Ibu dan Ibunya enggak datang,” paparnya lagi.
            “Ibu minta maaf ya, Dek” kata saya buru-buru mengulurkan tangan. Khalid meraih tangan saya dan tersenyum.
“Nanti Ibu suruh Kakak minta maaf juga ke Adek,” kata saya kembali membujuknya. Khalid mengangguk pelan.
            Malamnya saya berusaha mengajak Mira, Khalid, dan Bapak mereka, duduk bersama. Obrolan saya buka dengan topik tentang minta maaf dan memaafkan. Awalnya mereka acuh, tapi lama-kelamaan mereka tertarik juga untuk mendengarkan.
            “Kalian pernah dengar tentang lima kata ajaib?” tanya saya memancing.
            “Apa itu Bu?” Khalid mulai antusias dan balik bertanya.
            “Maaf, tolong, permisi, terimakasih, dan salam,” jawab saya.
            Saat saya menjelaskan, Khalid melirik ke Mira. Mungkin hatinya belum puas dengan sikap kakaknya yang tak mau spontan meminta maaf siang tadi. Saya pura-pura tidak memerhatikannya. Saya lanjutkan penjelasan tentang lima kata ajaib tadi.
            “Ucapkanlah kata maaf ketika kita terlanjur berbuat salah kepada orang lain, baik disengaja maupun tidak. Jangan pernah lupa mengucapkan kata tolong saat kita meminta bantuan orang lain. Katakan permisi ketika kita ingin lewat, mau berbicara atau meninggalkan teman, saudara atau siapa saja yang telah bersama kita. Lalu, jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah membantu atau berbuat baik kepada kita. Yang terakhir, ucapkanlah salam ketika kita bertemu dengan orang lain,” ujar saya menjelaskan panjang lebar.
            Khalid dan Mira tekun menyimak. Saya sengaja membuka memori mereka pada lima kata ajaib ini. Terutama kata maaf yang selalu saya dan suami ajarkan kepada anak-anak kami saat mereka masih kecil. Sekarang mereka sudah sama-sama SMP. Mungkin mereka terlupa.
            “Maafin ya, Dek. Maafin ya, Bu,” tiba-tiba Mira mengulurkan tangannya ke arah saya dan Khalid. Saya meraih tangannya sambil tersenyum. Mira pasti menyadari kesalahannya siang tadi.
            “Aku juga minta maaf ya, Kak, Bu. Besok-besok tolong dong hp nya dinyalakan kalau sudah bel pulang sekolah, ya Kak,” kata Khalid pula sambil mengucapkan dua dari lima kata ajaib tadi.
            Mata kami saling menatap dan akhirnya kami sama-sama tersenyum. Penjelasan saya tentang lima kata ajaib kembali membuka hati Mira dan Khalid, untuk mengingat semua kebiasaan baik yang telah ibu dan bapaknya tanamkan sejak kecil. []

Note: Dimuat di Leisure Republika rubrik Buah Hati, edisi Selasa, 9 April 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...