Senin, 30 Juni 2014

Hobi Menulis itu Menular



            Saya pikir hanya saya yang asyik sendiri dengan hobi menulis ini. Ternyata, kedua anak saya tertular juga. Lalu, bagaimana dengan suami saya? Meskipun tidak ikut menulis seperti kami, namun dialah yang sedikit banyak merasakan dampak positif dari hobi ini. Hobi menulis ini juga telah membuat saya dan buah hati berhasil menerbitkan karya lewat buku. Meskipun tak seberapa nilainya, setidaknya kami telah memberi sumbangsih di dunia perbukuan. Bangga dan bahagia tentu saja menjadi puncak rasa dari semua yang saya lakukan.
Kecintaan saya pada kegiatan menulis sebenarnya sudah dimulai sejak SD. Namun, rasa cinta itu hanya sebatas menuangkan ide dalam tulisan semacam puisi, cerpen, dan catatan-catatan harian saja. Tak ada yang tahu kalau saya melakukannya. Semua sebatas untuk kenikmatan sendiri. Hingga akhirnya saat kuliah, tulisan saya berhasil menembus koran lokal di kota kelahiran saya, Medan. Sejak itu saya baru tahu betapa nikmatnya jika hobi itu bisa menghasilkan sesuatu (uang dan kepuasan batin). Bukan hanya saya yang merasa bangga, kedua orangtua saya juga turut merasakannya kala itu.
Cerpen pertama saya yang terbit koran Analisa, Medan (1992) - dokpri
            Meskipun hobi menulis ini sempat vakum selama bertahun-tahun setelah saya menikah, namun di tahun 2008 saya berhasil melahirkan karya berupa buku bacaan anak. Inilah starting point buat saya. Sejak itu, saya tak lagi melakukan kegiatan menulis sebagai sekadar hobi, melainkan saya berani mengatakan bahwa profesi saya sudah bertambah, selain ibu rumah tangga, saya adalah penulis.
Buku pertama saya yang terbit di tahun 2008 dan karya lainnya ada di sini- dokpri
            Awalnya tentu saja pilihan menambah profesi baru ini tak serta-merta mendapat simpati 100% dari suami dan anak-anak. Saya merasakan kalau apresiasi yang mereka berikan ketika itu hanya sebatas rasa senang karena saya berhasil punya karya berupa buku. Sebatas itu. Sebaliknya saya melihat kecemasan di mata mereka seolah profesi baru ini akan menyita waktu saya bersama mereka. Kekhawatiran itulah yang perlahan saya buktikan bahwa profesi penulis tak akan merenggut waktu saya dari mereka. Saya tetap ada untuk mereka.
Saya berjanji dalam hati bahwa saya akan memberikan manfaat ganda sekaligus kepada mereka. Pertama, saya tetap menjadi istri dan ibu yang setia melayani semua kebutuhan mereka. Kedua, saya akan memberikan nilai lebih untuk mereka lewat karya-karya saya. Dan itu sudah saya buktikan. Melalui hobi dan profesi menulis ini saya juga menuai beberapa reward. Saya dipercaya mengajar di salah satu sekolah, didaulat menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah internal, diminta untuk memberikan pelatihan menulis di beragam kesempatan, serta memenangkan lomba menulis di blog dan media lain. Semua itu menjadi momen membanggakan bagi anak-anak dan suami. Begitu juga sebaliknya, saat anak-anak saya berhasil menyelesaikan satu cerita dan diterbitkan dalam bentuk buku, saya dan suami yang kecipratan rasa bangga itu.
Ini buku-buku si Sulung - dokpri
Ini buku-buku si Bungsu - dokpri
Pemicu penularan hobi ini awalnya sangat sederhana. Begitu anak-anak saya tahu kalau saya mendapatkan royalti dari buku-buku saya, mereka berlomba ingin mengikuti jejak saya. Alhamdulillah, anak sulung saya sudah berhasil menuangkan ide-ide kreatifnya lewat beberapa buku karyanya. Sementara si bungsu masih terus berproses untuk menambah karya lagi setelah terakhir menerbitkan karya dalam bentuk komik.
Begitulah, hobi menulis yang menular ini semakin mengikat kami dalam kebersamaan. Saya dan anak-anak menulis, suami menjadi komentator pada karya kami. Kami sangat menikmatinya. []
 
 Artikel ini diikutsertakan dalam "3rd Giveaway : Tanakita - Hobi dan Keluarga"

Sabtu, 14 Juni 2014

Pelatihan Menulis untuk Persit Kartika Chandra Kirana


 
Saat menyimak pembukaan acara (dokpri)

            Permintaan untuk memberikan pelatihan menulis di inbox facebook sudah beberapa kali saya terima. Tentu saja saat membacanya ada perasaan campur baur antara deg-degan dan senang. Begitu pula ketika menerima permintaan dari Mbak Rianti Budiman, rasa bangga dan senang itu muncul tiba-tiba. Siapakah Mbak Rianti Budiman ini? Mengapa saya bisa mendapat permintaan untuk memberi pelatihan tersebut? Saya perkenalkan terlebih dahulu ya. Hehehe....
Mbak Rianti yang saya kenal dengan panggilan Tita adalah teman suami saya. Mbak Tita dan suami sama-sama bekerja di Bank Indonesia. Saya sudah lama mengenal beliau, tapi belakangn justru saya baru mengetahui bahwa beliau adalah Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XL Brigif 15 Kujang II PD III/Siliwangi. Suami Mbak Tita adalah Komandan di sana. Wow! Sebuah kehormatan yang membuat saya menjadi benar-benar tersanjung. Begitu cerita singkatnya.
Begitulah, setelah beberapa kali kami melakukan kontak lewat facebook dan whatsapp akhirnya kesepakatan diambil. Pelatihan menulis diselenggarakan pada hari Sabtu, 14 Juni 2014 di lokasi Asrama Brigif 15 Kujang II Siliwangi, Cimahi. Saya pun kembali menyiapkan materi dalam format powerpoint yang berisi penjelasan tentang motivasi menulis, berita, artikel, dan tulisan kisah inspiratif. Ini saya susun berdasarkan informasi yang saya terima bahwa ibu-ibu tentara tersebut ingin mendapatkan keterampilan mengemas tulisan nonfiksi untuk bisa ikut dan percaya diri mengisi majalah internal mereka.
Tibalah hari yang telah disepakati. Saya diantar oleh suami menembus udara pagi yang cerah menuju Cimahi. Perjalanan yang lancar mengantarkan kami tepat pada waktu yang dijanjikan, yaitu pukul 09.00 WIB. Kami disambut dengan hangat oleh Bu Dini, salah satu dari anggota Persit yang sebelumnya menjadi penghubung dengan saya untuk kelancaran acara pelatihan.
Kami diantarkan ke ruang tamu yang begitu nyaman. Di meja telah terhidang camilan dan minuman sebagai pelengkap sambutan yang hangat tersebut. Namun, karena ibu-ibu dari Sukabumi belum hadir (tercegat kemacetan), waktu menunggu saya gunakan untuk berbincang dengan Ibu Wakil Ketua. Kesempatan itu saya pakai untuk menanyakan beberapa hal yang bisa melengkapi referensi saya tentang peserta pelatihan agar tidak terjadi kekakuan.
Pembukaan acara (dokpri)
Setelah peserta pelatihan dari masing-masing utusan perwakilan pengurus Persit Ranting 3 Yonif 310 Sukabumi,  Ranting 4 Yonif 312 Subang, dan perwakilan Persit Ranting 1 Denma yang semuanya merupakan perwakilan pengurus telah berkumpul, saya pun diminta memasuki ruang pelatihan. Lagi-lagi saya merasa tersanjung. Kehadiran saya sebagai pemateri di acara pelatihan menulis ini benar-benar mendapat sambutan yang tertata sedemikan rupa. Terlepas dari panitia adalah ibu-ibu tentara yang telah terbiasa mengemas acara, tetap saja saya merasa benar-benar dihargai dan diperlakukan sebagai tamu yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Luar biasa!
Acara pun dibuka oleh Ny. Tanty Ipa Fauzi selaku MC. Dilanjutkan kata sambutan oleh Ny. Tita Fifin Firmansyah selaku Wakil Ketua Persit KCK Cabang XL Brigif 15 Kujang PD II/Siliwangi. Dalam sambutannya beliau menyampaikan permohonan maaf dari Ibu Rianti Budiman yang tidak bisa hadir karena mengurus kelulusan ananda tercintanya. Selepas itu, sesi pelatihan dibuka pula oleh Ny. Jesicca Riza Taufiq selaku Moderator yang membacakan beberapa hal penting dari CV saya. 
Sesi pelatihan menulis pun dimulai. (dokpri)
Usai Moderator membuka sesi pelatihan, saya pun langsung memandu acara. Seperti biasa saya memberi salam dan perkenalan . Saya ingin agar para peserta pelatihan menulis klik dulu dengan pemateri. Pembukaan harus menjadi permulaan yang menyegarkan dan nyaman untuk peserta dan saya. Joke ringan menjadi umpan sederhana yang selalu saya lakukan setiap kali mengisi pelatihan menulis.
Melihat senyum dan tawa kecil dari ibu-ibu tersebut membuat saya enjoy meneruskan materi pelatihan. Satu per satu slide dari powerpoint yang sudah saya kemas sedemikian rupa pun terpampang di layar infokus. Pertama, saya memberikan motivasi tentang menulis. Berikutnya materi tentang berita dengan contoh-contohnya. Setelah itu, saya lanjutkan dengan mengupas tentang artikel dan contohnya.
Karena materi sangat padat, saya tak ingin ibu-ibu merasa jenuh meskipun setiap kali saya bertanya tentang semangat peserta dan jawabannya selalu “masih”, saya harus tetap menjaga kekonsistenan perhatian mereka. Sebelum melanjutkan materi berikutnya, saya selingi pelatihan dengan games. Benar saja, ibu-ibu menjadi semakin bersemangat dan seolah semua ingin menerima tantangan games dari saya. 
Selamat ya, ibu-ibu! (dokpri)
Dua kesempatan yang saya berikan akhirnya dimenangkan oleh dua orang ibu yang memberi jawaban dengan melengkapi alasan yang paling pas dari pertanyaan semacam teka-teki yang saya ajukan. Saya mengatakan bahwa pertanyaan yang saya berikan keduanya sangat erat kaitannya dengan materi yang saya sampaikan. Ibu-ibu dipancing kreativitasnya dalam memberikan jawaban. Semua jawaban sebenarnya tak ada yang salah sebab menulis bukanlah ilmu matematika, namun dua jawaban yang diberikan ternyata jauh lebih kreatif. Maka merekalah yang mendapatkan hadiah pertama dari saya.
Materi berlanjut ke penulisan kisah inspiratif. Sudah saya duga sejak awal kalau materi inilah yang paling mengena dengan ibu-ibu. Saat memaparkan hal-hal penting terkait dengan tulisan inspiratif, saya merasakan keantusiasan peserta semakin meningkat. Kesempatan baik itu saya ambil untuk kembali melempar guyonan-guyonan segar yang mampu membuat mereka tertawa dan sesekali ikut berkomentar.
“Sebagai contoh saja ini ya, Bu. Misalnya, ibu ingin menceritakan bahwa suatu ketika ibu medengar hape bapak berbunyi tengah malam, sementara bapak telah terlelap. Tiba-tiba ibu ingiiin sekali membuka pesan di hape itu. Dengan mengendap-endap dan dibebani rasa bersalah dan benar, antara dorongan ingin membaca dan tidak, namun akhirnya ibu memutuskan untuk membacanya. Dengan tangan gemetar dan jantung berdegup kencang ibu membaca sebaris kalimat yang menanyakan, “Mas, sudah tidur ya” di hape bapak, itu menjadi sesuatu ledakan dahsyat yang sulit ditenangkan,” begitu saya memberi contoh yang disambut oleh respon “Geeerrr....” dari peserta.
Dari contoh itu saya dan peserta pun seolah semakin ditautkan oleh semangat kebersamaan. Hahaha... begitulah ibu-ibu pada umumnya. Contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan mereka memang menjadi sesuatu yang hangat untuk dibahas. Tapi, materi pelatihan masih terus berlanjut, maka saya sengaja menghentikan contoh bermuatan lelucon yang sudah mampu mengidupkan suasana.
“Maaf, ya ibu-ibu... sampai di sini saja dulu ceritanya. Nanti kita lihat apakah si Wiwin itu benar-benar ada atau tidak,” ujar saya membuat tawa kembali pecah memenuhi ruang pelatihan. Stt, Wiwin yang saya sebutkan adalah nama pengirim pesan di hape si bapak tadi, lho. Hehehe.... 
Sesi praktik (dokpri)
Setelah semua materi telah saya sampaikan, saya masih memberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.  Sesi pelatihan saya akhiri dengan praktik menulis. Saya bebaskan peserta untuk memilih jenis tulisan apa yang ingin mereka kerjakan. Berita, artikel atau kisah inspiratif. Saya berikan waktu setengan jam untuk menyelesaikan tulisan dengan minimal setengah halaman folio. Setelah itu saya meminta waktu sekitar lima belas menit untuk memilih tulisan terbaik. Sambil saya membaca, peserta rehat dan menikmati snacknya.
Inilah enam orang ibu yang tulisannya terpilih sebagai tulisan terbaik. (dokpri)

Tulisan peserta. (dokpri)
Dari 35 tulisan yang terkumpul, terpilihlah 6 tulisan terbaik dengan jenis tulisan yang berbeda. Sejujurnya, semua tulisan yang saya baca bagus-bagus, namun karena hadiah dari saya hanya tersisa 6, terpaksa saya hanya memilih 6 tulisan saja. Setelah pemberian hadiah untuk penulis terbaik ternyata saya juga dapat hadiah dari panitia. Senangnyaaa....
Cinderamata yang cantik. :) (dokpri)
Acara pun ditutup dengan doa dan foto bersama masing-masing wilayah. Tidak sampai di situ, saya juga diberi suguhan makan siang ala prasmanan dengan menu yang serba lezat (duh, nggak sempat ambil fotonya, hehehe).
Foto bersama plus sisipan sesi praktik, hehe. (dokpri)
Akhirnya, menutup semua kebersamaan yang begitu menyenangkan selama kurang lebih tiga jam itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Rianti Budiman, Mbak Dini, dan Ibu Tita (wakil ketua) atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya sebagai pemateri di pelatihan menulis ini. Semoga apa yang sudah saya sampaikan dapat dipraktikkan sesuai kebutuhan menulis yang dimaksud. Terima kasih atas kerjasama yang menyenangkan ini. [Wylvera W.]


Senin, 26 Mei 2014

Liebster Award, Tanda Persahabatan dari Saya



            Kemarin saya sempat mengintip sekilas postingan tentang Liebstar Award berantai di grup KEB. Seru juga ternyata menemukan sesuatu yang ingin kita ketahui dari seseorang. Apalagi sesuatu itu begitu unik dan memberi inspirasi bagi kita. Di tengah rasa terkesan ini, tiba-tiba saya menerima Liebstar Award dari Haya Aliya Zaki. Saya yakin (tanpa bermaksud ge-er...qiqiqi), mungkin sebenarnya sahabat saya ini (begitu saya memposisikannya dalam episode kehidupan saya belakangan ini) sudah paham betul dengan segala sesuatu tentang saya. Tapi, saya tetap tersanjung dengan permintaannya melanjutkan Liebstar Award ini. Terima kasih, Haya! Baiklah...here we go!
Foto dari sini

Sebelumnya, kita baca dulu aturan mainnya.
1.     Post award ke blog kamu.
2.  Ucapkan terima kasih kepada blogger yang memberikan award ini kepada kamu dan sertakan linkback ke blognya.
3.     Share 11 hal tentang diri kamu.
4.     Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada kamu.
5.      Pilih 11 blogger lain dan berikan 11 pertanyaan yang kamu ingin mereka jawab.

Inilah 11 hal tentang saya.
1.     Ibu dua anak yang gemar menulis dan berbagi kegiatan lewat blog.
2.   Selalu ingin dekat dengan dunia anak-anak, untuk itulah saya tetap enjoy menulis cerita untuk anak serta menekuni profesi  sebagai guru ekskul jurnalistik dan menulis di sebuah Sekolah Dasar Islam Bekasi.
3.  Suka berkhayal mendapat uang banyak agar saya bisa membeli sebuah lahan lalu mendirikan tempat kegiatan belajar mengajar gratis untuk menampung anak-anak jalanan, anak-anak pemulung, atau anak-anak yang menyimpan mimpi menjadi penulis tapi tak punya uang untuk mewujudkannya.
4.  Sesekali merasa sedih karena merasa bahwa apa yang sudah saya lakukan belumlah maksimal buat anak-anak tak mampu di luar sana.
5.  Penggemar eskrim. Kalau bukan lantaran kolesterol yang mulai mengganggu saya akan menyantap jenis eskrim apa saja. *kunyah belimbing*
6.  Yang ini bukan karena kolesterol. Sejak zaman dahulu kala saya enggak suka sama daging kambing. Hehehe....
7.    Kurang suka bersikeras, baik di medsos maupun di dunia nyata. Saya biasanya memilih mundur ketimbang ngotot-ngototan, kecuali kalau sudah kelewatan banget ya. Kalau memunginkan saya akan ambil jalan komunikasi secara personal dengan orang yang terang-terangan melukai hati saya tanpa seisi dunia harus mendengarnya tapi kalau gak mungkin ya sutralah, berdoa saja semoga ada jalan agar kami bisa kembali berdamai, siapa pun dia orangnya.
8.     Banyak yang bilang saya tipe penyabar dan pemaaf (Alhamdulillah). Memang seperti itulah sesungguhnya. Saya paling nggak bisa mendendam dan marah berkepanjangan, apalagi kalau sudah diajak shopping dan makan gratis dijamin langsung meleleh. Jiahahahaha...ngarep banget ya?
9.     Suka dijadikan tempat curhat. Curhatan teman-teman itu menjadi pembelajaran juga  bagi saya. Satu lagi, saya jadi ikut belajar mencari solusi layaknya psikolog (yang amatiran sih). Hahaha....
10.  Saya senang menulis tapi nggak begitu getol untuk ikutan lomba-lomba. Sesekali mau, tapi tidak terlalu gencar. Bukan karena nggak tergiur sama hadiahnya atau ingin menguji kemampuan lewat lomba-lomba tersebut, tapi memang begitulah saya. Meskipun saya suka kagum sama teman-teman yang selalu memenangi lomba di medsos, tapi untuk diri sendiri saya tidak begitu terpicu mengikutinya. Saya lebih memilih menulis untuk memuaskan hati lewat cara saya. Mungkin di sini letak kekurangan saya sebagai penulis ya? Kurang eksis di dunia lomba. Nggak apa-apa deh, yang penting saya tetap enjoy menjalani profesi ini.
11.  Sejak mengenal facebook, saya seolah tak bisa lepas dari pesonanya. Maka jangan heran dan maaf kalau jadi bikin bosan yang membacanya ya kalau hampir setiap hari ada update status baru di facebook saya. Hehehe....

11 pertanyaan yang harus saya jawab.
1.      Sejak kapan ngeblog?
     Sejak akhir 2007 saya sudah aktif di multiply. Waktu itu isi multiply saya hanya seputar artikel-artikel ringan, tentang kegiatan saya dan keluarga selama tinggal di Amrik. Ditambah sedikit tentang dunia menulis karena waktu itu saya bergabung di FLP Amerika Kanada. Setelah multiply tak ada lagi saya beralih ke blog sejak tahun 2011 hingga saat ini.

2.     Apa manfaat ngeblog?
Sebagai terapi jiwa.
Dulu saya kalau lagi sumpek suka curhat di buku diary. Malah sampai sekarang beberapa dari buku diary (zaman SMP/SMA/kuliah) itu masih saya simpan. Dulu juga, saya tipe orang yang nggak pandai curhat sama orang lain. Kalau saya kesal atau marah saya lebih memilih memuntahkannnya di buku diary. Tapi, ternyata waktu sedikit banyak bisa mengubah kebiasaan. Setelah menikah, punya anak, dan umur bertambah, keterampilan lisan saya pun tiba-tiba terasah. Anak-anak menyebutnya “cerewet”. Wuakakaka....
Sejak itu, kegiatan curhat di diary pun terhenti. Lalu, apakah saya lantas curhat di blog? Oh, no! Curhatan saya lebih kepada berbagi tentang kegiatan-kegiatan yang sudah saya lakukan. Mengapa saya mengatakan bahwa ngeblog adalah terapi jiwa? Ya, ketika saya menulis tentang sesuatu lalu pembaca berkunjung serta mengomentari tulisan saya dan menilai apa yang saya lakukan itu bisa menginspirasi mereka, itu menjadi kepuasan tersendiri yang bisa menghangatkan jiwa.
Menambah teman dan wawasan.
Dipercaya jadi pembicara/pemateri karena konten blog.

3.      Hal bahagia atau sedih yang dialami saat ngeblog?
Saya memang tak pernah peduli tentang hal-hal menyedihkan selama ngeblog sehingga saya merasa hampir semua kegiatan ngeblog saya memberikan kebahagiaan? Apalagi saat saya diminta menjadi pemateri di beberapa event pelatihan menulis untuk anak-anak lantaran mereka sempat mengintip konten blog saya yang bercerita tentang kegiatan tersebut. Wuiiih! Bahagia sekali rasanya. Jadi, jujur saja saya memang nggak pernah mengalami hal-hal sedih saat ngeblog. Bagi saya, ngeblog adalah kegiatan yang justru menyenangkan.

4.   Tuliskan tiga tempat yang ingin dikunjungi dan apa alasannya?
           Mekkah.
        Meskipun saya sudah pernah mengunjungi Mekkah saat umroh  beberapa waktu lalu, namun  keinginan untuk menunaikan ibadah haji tetaplah menjadi niatan yang ingin sekali saya wujudkan.
          Keliling Indonesia.
      Saya pencinta batik dan kain-kain nusantara tapi belum memiliki koleksi yang lengkap. Setelah sempat mewawancari salah satu istri Deputi Gubernur Bank Indonesia yang begitu concern pada tekstil Indonesia yang mengoleksi ratusan jenis kain batik beberapa waktu lalu, saya jadi terobsesi untuk mengoleksinya dengan cara berkeliling nusantara tentunya.
         Venezia.
       Alhamdulillah, saya telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyinggahi beberapa negara yang bagi saya begitu indah. Namun, kalau masih diizinkan, saya masih menyimpan mimpi untuk bisa mengunjungi Venezia, kota romantis yang hampir seluruhnya dikelilingi air itu. Membayangkan saya, suami dan anak-anak kami menaiki gondola mengelilingi kota menjadi impian yang ingin sekali saya wujudkan.

5.  Apa yang ingin dicapai tahun ini?
    Sudah lama sekali saya dan keluarga tak melakukan perjalanan bersama. Saya ingin sebelum tahun ini berakhir, kami sekeluraga diberi kesempatan untuk kembali melakukan traveling ke kota menarik yang ada di luar atau dalam negeri. Satu lagi, saya ingin buku Islami untuk anak-anak yang pernah saya garap bisa terbit di bulan Ramadan tahun ini.

6.   Buku atau film apa yang menjadi inspirasi selama ini?
    Buku cerita anak Trio Detektif (hampir semua judul) karya Alfred Hitchcock, karya Road Dahl, karya Enid Blyton, dan cerita-cerita anak yang unik yang ditulis oleh penulis tanah air. Kalau untuk film anak sih ada beberapa yang sampai sekarang masih melekat di ingatan saya, antara lain Lion King, Brother Bear, dan Finding Nemo yang semuanya mengisahkan tentang pengorbanan dan keluarga. Saya juga suka sama film The Sixth Sense yang mengisahkan tentang anak indigo. Alur ceritanya bagi saya sangat luar biasa. Kalau penonton lain mungkin melihat point of view (POV) film itu dari pemeran anak yang memilki indera keenam, tapi saya justru melihat kehebatan film tersebut dari tokoh utamanya yang ternyata sudah meninggal. Dia bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya lewat media si anak yang memiliki indera keenam itu. Karena penasaran saya akhirnya menulis novel Misteri Anak Jagung yang berkisah tentang anak indigo.

7.    Hobi.
Wisata kuliner, traveling, nonton, daaan... nyanyi *disoraki rame-rame*

8.    Siapa sosok yang menjadi inspirasi?
    Mama, almarhumah Nenek, dan almarhum Kakek. Mereka memiliki karakter yang mirip yaitu penyabar, penyayang, tak pandai marah, sangat mengayomi serta nyaman untuk tempat berbagi cerita.
  Papa dan suami. Karakter mereka yang keras dan tegas menjadi penyeimbang bagi pembentukan kepribadian saya.

9.   Momen paling bahagia?
    Saat saya menerima hadiah umroh gratis dari salah satu sponsor acara. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika suami mau ikut berumroh bersama saya walaupun dia harus membayar karena hanya saya yang diberi tiket dan akomodasi gratis. Umroh berdua dengannya menjadikan momen yang tak terlupakan sampai kapan pun.

10.  Momen sedih?
     Ketika Kakek saya meninggal. Kata keluarga besar dari Mama, saya adalah cucu kesayangan Kakek dan Nenek. Hampir sebagian masa kanak-kanak saya dihabiskan bersama mereka. Saya merasa kebersamaan saya dengan Kakek belumlah cukup. Beliau meninggal saat saya masih kelas 2 SMP.
    Ketika Nenek saya meninggal saat saya masih berada di Amrik. Tiga hari saya tak berselera makan, lemas dan hampir terjatuh di kamar mandi. Betapa sedih rasanya karena saat saya berangkat beliau sempat bertanya, “Bisakah kita jumpa lagi nanti ya? Berapa lama kau di sana?” Lalu, ketika dia sakit dan akhirnya meninggal saya tak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Aaah...sediiih.

11.  Dua hal menggambarkan tentang diri saya.
      Penyayang. 
      Ramah.
      Enggak pelit (katanya sih), eiiits kelebihan ya? Biarin ah. 

Tuntas sudah saya menjawab semua pertanyaan. Berikutnya, Liebstar Award saya serahkan kepada 11 sahabat saya lainnya (semoga nggak keberatan ya) dengan pertanyaan yang masih sama (biar saya nggak repot lagi mikir pertanyaannya, qiqiqi). Btw, hihihi ... semoga sebagian nama (para makmin KEB) yang saya colek di bawah ini mau meluangkan waktunya memberi jawaban ya. Etapi kalau nggak ada waktu buat melanjutkannya pun tak apa-apa. Santai saja. Tapiii, kalau mau mengerjakannya ya saya nggak bisa memberi apa-apa selain senyum termanis dan ucapan terima kasih. Terima kasih ya!

1.      Nelfi Syafrina
2.      Fita Chakra
3.      Irma Senja
4.      Alaika Abdullah
5.      Mira Sahid
6.      Indah Julianti Sibarani
7.      Meti Mediya
8.      Waya Komala
9.      Lusiana Trisnasari
10.  Sary Melati
11.  Lydia Fitrian

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...