Minggu, 07 Februari 2016

Berbagi Kisah dari Kawasan Sampah

Beginilah kondisi lingkungan yang tak jauh dari sekolah Al Falah
Tidak ada manusia yang ingin dilahirkan menjadi miskin. Sejatinya, semua pasti menginginkan kehidupan yang cukup dan layak. Namun, kita tidak bisa menghindar dari ketentuan yang sudah digariskan Allah. Setiap manusia memiliki takdirnya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan anak-anak yang senantiasa saya temui di PKBM Al Falah Bantar Gebang.
Hampir semua murid-murid di Al Falah itu lahir dan tumbuh di lingkungan yang mungkin bagi kita sangat tidak nyaman. Mereka hidup dari hasil memulung sampah yang menjadi mata pencaharian orangtuanya. Bahkan mereka pun ikut membantu orangtuanya mencari nafkah dari sampah-sampah itu.

Memilih untuk bersekolah
Awalnya sekolah adalah bentuk pengekangan bagi mereka. Lewat sebuah proses yang cukup panjang, akhirnya mereka menyadari bahwa sekolah adalah kebutuhan dasar selain memulung. Dari kesadaran itulah mereka memilih untuk menggali dan menimba ilmu di sekolah PKBM Al Falah Bantar Gebang. 

Dulu sekolah itu masih seperti ini (foto: Al Falah)
Sekolah itu dirintis dan dibangun di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Bantar Gebang hingga menjadi seperti sekarang ini. Aroma busuk yang dibawa angin sepoi-sepoi selalu menjadi warna dari sekolah itu. Di sanalah mereka berkumpul, belajar, bereksperimen, menggali potensi kreatif, berkarya, serta menimba ilmu agama sebagai kompas hidup mereka menuju jannah-Nya. 


Berkat perjuangan keras pendirinya akhirnya berproses seperti ini (foto: Al Falah)
Al Falah saat ini, namun aroma sampah tetap jadi sahabat mereka (dokpri)
Saya hanya bagian terkecil dari sekolah itu. Atau bahkan bukan siapa-siapa. Keterlibatan saya di sana pun tidak bermula dari saat sekolah itu masih berdinding tepas dan sisa-sisa tripleks bekas. Saya datang dan mengenal sekolah itu setelah menjadi bangunan yang permanen seperti sekarang ini. Namun, sekecil apa pun yang bisa saya lakukan untuk sebagian kecil murid di sana, saya berharap Allah meridhoinya.

Kelas Ektrakurikuler Menulis yang Sederhana
            Sejak pertama kali mengenal pendiri PKBM Al Falah Bantar Gebang, pikiran saya langsung tertuju pada dua kata, yaitu “Kelas Menulis”. Alhamdulillah, ternyata Allah terus meluaskan jalan menuju kedua kata itu. Hingga saat ini, saya merasa telah resmi menjadi guru pembimbing kelas menulis di sana. Bahkan saya nekat mengukuhkan sendiri bahwa kehadiran saya di setiap hari Jum’at di sana adalah untuk mengisi “Kelas Ekstrakurikuler Menulis”.

Suasana di kelas Ekskul Menulis (dokpri)
            Tidak mudah menjalani dan mewujudkan obsesi saya ini. Saya sadar sekali itu. Keterbatasan murid-murid yang saya bimbing tentu menjadi tantangan. Mereka memulai masa pendidikannya dengan proses panjang dan tidak seperti murid-murid di sekolah reguler lainnya. Untuk bisa membaca dan menulis dengan lancar pun mereka butuh proses serta perjuangan yang panjang dan lumayan berat. Tiba-tiba saya hadir menyuguhkan hal baru kepada mereka. Kagok, bingung, bengong, susah nyambung, dan ekspresi lainnya yang masih terlihat di sikap mereka, sangat saya rasakan. 
Lihatlah betapa antusiasnya mereka walau hanya menulis di buku tulis (dokpri)
            Saya belum menyerah, dan semoga tidak mudah kalah pada kondisi itu. Tekat saya yang ingin membuat mereka bisa menulis cerita pendek masih menggebu-gebu hingga hari ini. Insya Allah, keyakinan saya bahwa mereka bisa mengikuti proses yang saya suguhkan menjadi modal kuat. Semoga semesta juga mengaminkannya.
            “Bagaimana progressnya, Bu?”
            Pertanyaan dari Kepala Sekolah kemarin mengejutkan saya. Walaupun sebenarnya saya tahu bahwa pertanyaan itu suatu hari akan diajukan. Kalau anak-anak di sekolah berkecukupan mungkin akan berhasil membuat 1 cerita pendek dalam 4 kali pertemuan. Murid-murid ekskul menulis bimbingan saya baru mampu membuat cerita satu halaman dengan alur yang belum bisa disebut bagus. Namun, dari judul dan ide yang belum mampu terurai dengan baik itu, saya berani menyimpulkan bahwa mereka mulai memahami materi yang saya sampaikan.

Menulis dari apa yang pernah dirasakan
            Saya sudah memberikan materi dasar tentang menulis di empat kali pertemuan kelas ekskul menulis itu. Setiap hari, saya selalu mencoba mengaplikasikannya dalam bentuk praktik. Mulai dari memilih ide dan meminta mereka menguraikannya secara singkat dalam satu paragraf, memilih dan mencoba menentukan karakter tokoh dari beberapa gambar yang saya sajikan, serta membuat cerita singkat tentang tokoh, karakter yang sudah mereka pilih dan tentukan. Walau belum menjadi cerita utuh, semua berjalan dengan baik. Hanya satu dua orang yang masih bingung dan belum menyelesaikan tugasnya dengan tuntas.

Untung ada tempat buat duduk ya ^_^ (dokpri)
           Di pertemuan ke-4, Jum’at (5 Februari 2016) kemarin, saya mencoba mengajak mereka keluar kelas. Saya memilih sebuah tempat yang bisa membuat mereka lebih mudah menemukan ide untuk dituangkan dalam ceritanya kelak. Menulis dari apa yang pernah dirasakan dan dialami tentu akan lebih memudahkan. Itulah ide awal saya mengajak mereka melakukan pengamatan di sekitar lokasi pembuangan sampah. 
Memilih posisi masing-masing 
Sambil memandang lalu menuliskannya

Tidak sepenuhnya niat saya klop dengan keinginan mereka. Salah satu dari mereka justru terlihat kesulitan. Sikapnya gelisah. Kalau teman-temannya sibuk dan semangat mencatat semua yang mereka lihat dan rasakan di sekitar tempat kami berkumpul, murid saya yang satu itu justru membiarkan halaman buku tugasnya kosong.
           “Kamu kenapa? Kok belum menulis?” tanya saya pura-pura tidak peka pada sikapnya.
            “Saya bingung mau nulis apaan, Bu,” jawabnya pelan sekali.
            “Sini, dekat sama Ibu. Biar Ibu bantu menunjukkan objek mana saja yang bisa kamu tuliskan di situ,” bujuk saya mendekatinya.
            “Saya sudah sering liat tempat ini, kan saya tinggal di sini,” balasnya lagi masih bertahan tidak mau menulis hasil pengamatannya.
          “Justru itu, seharusnya kamu semakin mudah dong menuliskannya. Kok malah bingung?” bujuk saya lagi mulai berusaha keras menahan haru.
            “Bingung aja. Males aja nulisnya. Kan udah tau,” jawabnya semakin membuat saya tertantang.
Apa ya yang mereka lihat di bawah sana?
            Akhirnya saya duduk di dekatnya. Saya menunjuk gunungan sampah yang saat itu sedang dikeruk oleh sebuah mesin besar. Saya pancing dia dengan komentar, “Sampai menggunung begitu ya sampahnya. Ibu kok pengin ya naik ke gunung sampah itu.”
         “Jangan, Bu! Bahaya itu. Bisa tenggelam Ibu di situ. Ibu ada-ada aja. Seram saya,” selanya tiba-tiba.
            “Naaah, itu dia. Sekarang Ibu tanya deh. Apa yang bisa kamu tulis dari obrolan kita barusan?” tanya saya kembali memancingnya.
            “Oooh, iya ... iya ... oke, Bu. Saya ngerti. Yaudah, tungguin ya, Bu. Waktunya masih lama, ‘kan?” balasnya tiba-tiba semangat.
    Saya tersenyum. Apa sih yang membuatnya tiba-tiba bilang ngerti? Silakan pembaca yang menyimpulkannya ya. *maaf, gak ada hadiahnya sih buat yang bisa menjawab:p*

Senang melihat mereka semangat
            Begitulah, saya bersyukur karena sejauh ini, dari hari ke hari mereka masih menunjukkan semangatnya. Dan, saya masih butuh waktu lebih lama agar mereka bisa menghasilkan satu cerita pendek yang enak dibaca dan layak dibukukan. Saya juga yakin kalau murid-murid ekskul menulis di Al Falah butuh praktik yang lebih beragam lagi. Semua itu bertujuan untuk membantu kreativitas dan imajinasi mereka. Semoga saya dan mereka selalu klik di pertemuan-pertemuan berikutnya. Aamiin. [Wylvera W.]

Minggu, 31 Januari 2016

Perempuan dan Kepemimpinan





            Kepemimpinan adalah satu area yang telah lama diyakini hanya milik kaum laki-laki. Inilah yang menyebabkan perempuan dianggap tabu sebagai pemimpin. Sebenarnya pemahaman ini berangkat dari keberadaan sosok perempuan dalam sebuah keluarga. Suamilah yang berhak menjadi pemimpin untuk keluarganya, karena dia adalah imam untuk istri dan anak-anaknya. Ini benar. Tidak ada yang pantas membantahnya, kecuali bagi perempuan sebagai single parents. Dari hal yang mutlak ini, berkembanglah budaya tabu untuk kaum perempuan yang memegang tampuk kepemimpinan. Semakin kuat mengakar sehingga digeneralisir pada semua aspek kehidupan.
Berabad-abad sudah perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah. Dalam bersikap dipandang sulit mengendalikan perasaannya sehingga dianggap emosional. Dari pandangan ini, maka kaum perempuan belum sepenuhnya layak sebagai makhluk yang mampu mengendalikan banyak hal. Sehingga di beberapa kancah, perempuan selalu diragukan untuk tampil sebagai pemimpin. Tersisih oleh sosok laki-laki yang dianggap rasional dan tegas dalam mengambil segala keputusan.
            Namun, jika dilihat dari gerakan emansipasi, pandangan bahwa perempuan adalah sosok yang lemah semakin hari semakin memudar. Saat ini, kaum perempuan telah menunjukkan posisinya. Mereka mampu bersaing dengan kaum laki-laki di berbagai bidang. Bahkan sudah banyak kaum perempuan yang berada di garis depan sebagai pemimpin yang sukses.
            Kenyataan menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin di berbagai sektor kehidupan. Kondisi ini akhirnya mematahkan mitos yang selama ini menganggap mereka adalah kaum yang lemah. Tidak bisa diabaikan bahwa pada kenyataannya, sebagian kaum perempuan berhasil menunjukkan jati dirinya. Mereka tidak kalah dari kaum laki-laki. Mereka juga bisa tegas, berani, dan kuat menghadapi tantangan.
            Topik yang diketengahkan Redaksi Insani kali ini adalah tentang “Perempuan dan Kepemimpinan” di luar kehidupan berkeluarga. Sebab, sejatinya dalam setiap keluarga, peran kepemimpinan tetaplah berada di pundak kaum laki-laki sebagai kepala keluarga. Untuk itu, kita tidak mencampuradukkan peran tersebut dalam kehidupan berkeluarga. Kekuatan dalam kata “kepemimpinan” yang menjadi pembahasan di edisi kali ini adalah yang terkait dengan dunia pendidikan, seni, olahraga, serta beragam organisasi yang digawangi oleh kaum perempuan.
Di dunia pendidikan saja, sudah banyak kaum perempuan yang diberi amanah serta tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah. Bahkan tidak sedikit yang menjadi ketua dari sebuah yayasan yang terkait dengan hajat hidup orang banyak. Di level pelajar pun, seperti OSIS (Organisasi Intra Sekolah), tidak hanya diketuai oleh siswa laki-laki. Begitu juga di kancah politik. Kisah keberhasilan kaum perempuan memegang posisi puncak sudah banyak tersebar di media sosial.
Belum lagi di beragam organisasi dan komunitas, peran kepemimpinan perempuan sudah bukan barang tabu lagi. Termasuk peran pemimpin dalam menggerakkan dan memajukan PIPEBI (Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia) selama ini. Melihat kuatnya semangat gerakan emansipasi di tanah air tercinta ini, Insani merasa perlu memilih tema yang terkait dengan itu. Maka, Insani mencoba mengaitkan peran kepemimpinan perempuan dalam menggerakkan roda sebuah perkumpulan yang selama ini kita kenal dengan nama PIPEBI (Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia).
Jika kita putar ulang ke belakang, maka bukti bahwa kaum perempuan mampu menjadi seorang pemimpin. Tidak semata-mata karena semua yang berstatus istri pegawai Bank Indonesia itu adalah perempuan. Namun, sosok-sosok mereka yang mengemban amanah untuk memajukan PIPEBI yang menjadi titik perhatian Insani.
Sejak terbentuk hingga saat ini, PIPEBI semakin eksis dan mampu memberikan manfaat. Tidak hanya memberi manfaat kepada anggota, PIPEBI juga telah banyak melakukan sumbangsih kepada masyarakat yang membutuhkannya. Semua itu tidak bisa lepas dari peran seorang pemimpin, yang lebih akrab kita sebut sebagai “Ketua”. Dan mereka semua adalah perempuan. [Wylvera W.]

Note: Tulisanku di Majalah Insani, Sketsa edisi Januari 2016

(versi asli) 


         

Sabtu, 23 Januari 2016

Berbagi Kasih di Negeri Sampah



Inilah "Negeri Sampah" itu (dokpri)
           Sejak tahun 2012, saya mulai mengakrabkan diri dengan lokasi yang selalu menyuguhkan aroma busuk dari gunungan sampah. Di kawasan itu pula terdapat beberapa sekolah dengan murid-murid yang berasal dari lingkungan setempat. Rutinitas saya menuju lokasi yang dekat dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu adalah untuk membagi ilmu menulis. Saya mengajar kelas menulis salah satu sekolah di sana.
Di kawasan Bantar Gebang tersebut, berjajar rumah-rumah bedeng dengan 7.000 kepala keluarga yang tinggal di bantaran dekat pegunungan sampah setinggi 30 meter. Sementara anak-anak di kawasan tersebut terdiri dari usia balita hingga remaja (SMP). Sehari-hari mereka membantu orangtuanya memulung, memilih sampah, dan menjualnya kepada pengusaha sampah. Tak pernah putus rasa haru di hati saya saat mendatangi lokasi itu.
Didampingi oleh gunungan sampah yang selalu menebar aroma tak sedap, wajah anak-anak itu selalu menunjukkan aura semangat untuk meraih ilmu di bangku sekolah. Lalu dari manakan istilah “Negeri Sampah” itu munculnya?

Kepedulian Econity90 dan Wings Peduli Kasih
            Hari itu, Selasa, 19 Januari 2016, saya diundang untuk menghadiri acara bertajuk “Membangun Impian dari Negeri Sampah” di Sekolah Alam Tunas Mulia yang berlokasi di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) – Sumur Batu Bantar Gebang. Acara ini diprakarsai oleh Econity90 dan Yayasan Wings Peduli Kasih untuk ratusan anak dan warga sekitar wilayah TPA Bantar Gebang, Bekasi. 



Dalam kegiatan tersebut, Econity90 menggandeng Yayasan Wings Peduli Kasih. Bentuk perhatian serta sumbangan yang diberikan adalah berupa pendirian fasilitas pendidikan untuk Sekolah Alam Tunas Mulia, terutama bangunan tempat belajar dan mengajar nantinya.
            Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Felice (perwakilan dari Yayasan Wings Peduli Kasih), Bapak Aristo Kristandyo - Group Head of Marketing Communications PT. Sayap Mas Uatama (Wings Food and Beverages), Bapak Rahmat Susanta (Ketua Dewan Pengurus Econity90), Bapak Topik Ajimulya (Lurah Sumur Batu Bantar Gebang), dan Bapak Nadam Dwi Subekti selaku pendiri Sekolah Alam Tunas Mulia, serta para orangtua murid dan tamu undangan lainnya. 

Anak-anak di Negeri Sampah menyuguhkan ragam hiburan seni

Sambutan dari pihak sekolah begitu terlihat antusias. Anak-anak murid Sekolah Alam Tunas Mulia memberi sambutan berturut-turut dengan lagu pembuka berjudul, “Guruku Tersayang” serta tarian dari Sumatera Barat (Dindin Badindin/Indang). Ini menunjukkan bahwa sekolah tersebut tidak hanya fokus pada bidang pelajaran akademik, namun tetap mengajarkan hal berbau seni yang terangkum dalam bidang non akademik. 
Topik Ajimulya (Lurah Sumur Batu)

Dalam sambutannya, Bapak Rahmat Sutanta (Ketua Dewan Pengurus Econity90) mengatakan, bahwa di Indonesia terdapat lebih dari seratus ribu sekolah yang dianggap tidak layak pakai. Meskipun Sekolah Alam Tunas Mulia sudah berjalan sekian tahun lamanya, menurut Pak Rahmat sekolah itu termasuk dalam kategori sekolah belum layak.    

Rahmat Sutanta
Untuk itu, selaku wakil dari Wings Peduli Kasih, Bapak Aristo Kristandyo mengatakan bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Namun, menurutnya, yang sering menjadi kendala adalah masalah kekonsistenan. “Ide dan upaya harus terus kita lakukan secara konsisten. Membangun impian juga harus konsisten. Semua berangkat dari keluarga masing-masing. Jangan lupa untuk selalu menyemangati anak-anak. Itulah bentuk konsistensi kita,” himbau beliau di sambutan berikutnya.
Aristo Kristandyo
Bapak Aristo juga megatakan bahwa setelah bangunan nanti berdiri, Wings Peduli Kasih dan Econity90 tidak melepas begitu saja. Mereka akan kembali lagi untuk melihat progressnya. Hal ini dilakukan sebagai perwujudan kepedulian dari Wings Peduli Kasih yang berkomitmen untuk selalu terlibat dalam pemberdayaan masyarakat dan komunitas. Terutama pembinaan sumber daya manusianya (pelatihan terhadap tenaga pengajar). Wings Peduli Kasih juga menerima pengajuan proposal terkait dengan daerah yang layak untuk diberikan bantuan, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. 
Nadam Dwi Subekti
Sekolah Alam Tunas Mulia yang didirikan oleh Bapak Nadam Dwi Subekti ini telah mampu menampung 60 orang anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), 50 orang anak SD, dan sekitar 20 anak setingkat SMP dengan 8 guru. Sejak sekolah itu berdiri, tentu perhatian dari pihak luar pun mulai berdatangan untuk berbagi. Begitu pula dengan perhatian tulus yang diberikan oleh Econity90 (yayasan sosial yang didirikan oleh para almuni Fakultas Ekonomi UI, angkatan ’90). Hal ini sangat disyukuri oleh Pak Nadam. 

Salah satu ruang belajar
Dalam sambutan berikutnya, Bapak Nadam Dwi Subekti mengatakan bahwa ia sangat terharu dan senang sekali dengan bentuk perhatian yang diberikan oleh Econity90 dan Wings Peduli Kasih. Akan dibangunnya ruang kelas untuk anak-anak Sekolah Alam Tunas Mulia, tentu memberi semangat baru.  Selama ini mereka melakukan kegiatan belajar dan mengajar di bangunan yang semi permanen, berbentuk rumah panggung. 

Ruang belajar lainnya
Dari bangunan sederhana itu, Sekolah Alam Tunas Mulia telah berhasil mengantarkan tujuh murid-muridnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Bahkan ada yang akan lulus kuliah di tahun ini (2016). Di sela sambutannya, Pak Nadam membeberkan kisah tujuh murid yang telah berhasil dibina di sekolah itu. Ketujuh murid tersebut telah mampu menginspirasi Bapak Nadam dan teman-temannya untuk membukukan kisah berjudul “Impian dari Negeri Sampah” dalam bentuk novel.
Perpustakaan
“Waktu itu sejak tahun 2004 saya sudah mengajar mengaji di pemulungan. Ternyata murid-murid saya tidak ada yang bersekolah. Jadi saya berpikir, kenapa saya tidak mendirikan sekolah saja untuk mereka. Sejak itu, saya dan teman-teman pun berupaya mendirikan sekolah untuk anak-anak pemulung itu. Karena sekolah ini menjalankan sistim kejar paket, maka saya memilih model sekolah alam agar lebih dekat dengan mereka,” ujar Pak Nadam saat saya diberi kesempatan berbincang dengan beliau.
Selama setahun Bapak Nadam terus berupaya mendapatkan izin untuk mewujudkan mimpinya mendirikan sekolah tersebut. Dan, akhirnya hingga saat ini Sekolah Alam Tunas Mulia pun sudah banyak memberi manfaat kepada anak-anak pemulung di kawasan tersebut. 

Tommy Prabowo (MC)
            Sebelum berlanjut ke acara berikutnya, MC Tommy Prabowo memandu acara puncak, yaitu peletakan batu pertama untuk pembangunan ruang kelas/belajar Sekolah Alam Tunas Mulia. Dengan didirikannya bangunan kelas ini, diharapkan anak-anak bisa lebih nyaman dan bertambah semangat belajarnya. 
peletakan dan pencangkulan (tanah) pertama (groundbreaking)
 
            Acara dilanjutkan dengan suguhan hiburan. Anak-anak sangat senang mendengar dongeng Kak Inne Sudjono (pembaca berita, penyiar radio, storyteller, dan aktivis dunia anak). Mereka terlihat sangat antusias menyimak. Lewat dongeng yang disampaikan, Kak Inne ingin memotivasi agar anak-anak yang bermukim di kawasan pembuangan sampah itu tetap semangat, giat, dan tekun belajar untuk meraih cita-cita mereka.

Anak-anak tekun menyimak dongeng Kak Inne
            Tidak hanya anak-anak yang diberi motivasi, Dokter Cindhe Puspito juga memaparkan tentang cara hidup sehat kepada para orangtua murid yang hadir di acara itu. Lingkungan yang selalu dikelilingi sampah, hendaknya jangan membuat mereka tidak peduli pada kebersihan. Kebersihan diri dan keluarga tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan. 
 
dr. Cindhe Puspito
Praktik mencuci tangan yang benar
Menjaga kebersihan dengan memulainya dari hal kecil. Mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan kuku, dan mencuci bahan makanan yang ingin dimasak dengan cara yang benar. Menurut Dokter Cindhe, tubuh yang bersih akan membuat fisik sehat dan kuat. 

Pembagian goodie bag
            Acara diakhiri dengan pemberian goodie bag kepada anak-anak Sekolah Alam Tunas Mulia. Semoga kepedulian yang dilakukan oleh Econity90 dan Wings Peduli Kasih ini dapat menjadi contoh, agar bangsa yang kita cintai bisa lebih maju, baik dari sisi pendidikan maupun kesehatannya. [Wylvera W.]

Sumber foto: Koleksi pribadi 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...