Senin, 10 Oktober 2016

Mengambil Hikmah dari Perang Uhud

Peta posisi pasukan musyrik Quraisy dan muslim saat terjadi perang

Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya.” (HR. Al – Bukhari).
            Alhamdulillah, wasyukurillah. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, kami diberi kesempatan mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Termasuk berziarah ke makam para Syuhada Uhud yang letaknya tak jauh dari Jabal Uhud (Gunung Uhud).
            Jabal Uhud adalah gunung batu berwarna kemerahan yang letaknya terpisah dari bukit-bukit lainnya. Jabal Uhud merupakan sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung lainnya seperti gunung-gunung yang ada di Madinah. Oleh sebab itu, penduduk Madinah menyebutnya Jabal Uhud yang artinya “bukit menyendiri”.
Jabal Uhud merupakan salah satu tempat istimewa di kota Madinah yang letaknya berada di bagian Utara dari Masjid Nabawi dengan jarak sekitar 4,5 kilometer. Panjang Gunung Uhud sendiri mencapai 8 km dengan lebar sekitar 2 – 3 km. Ketinggian puncaknya mencapai sekitar 1.077 meter di atas permukaan laut.
            Mengapa Jabal Uhud menjadi salah satu lokasi yang dianjurkan untuk diziarahi saat berhaji maupun berumrah? Ada peristiwa bersejarah yang ditandai oleh sebuah makam para Syuhada di tempat itu. Dari tempat itu pula umat muslim bisa memahami sejarah perjuangan Rasulullah saw dalam menegakkan Islam dan mengambil hikmah untuk dijadikan pelajaran. 

Posisi Jabal Uhud (foto: doc pribadi)
        Perjalanan kami dari hotel menuju Jabal Uhud tidak hening begitu saja. Ustad yang mendampingi para jama’ah mengisinya dengan mengisahkan sejarah Perang Uhud yang terjadi pada bulan Syawal tahun ke-3 Hijriyah. Saya yang pernah membaca kisahnya kembali merasa tegang, marah, dan sedih saat membayangkan peristiwa itu. Betapa beratnya perjuangan Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam di zaman itu. Begitu banyak kebencian dan fitnah yang akhirnya memuncak pada peperangan. 

Persiapan menghadapi Perang Uhud    
            Bermula dari kekalahan kaum kafir Quraisy di Perang Badar. Kekalahan kaum kafir Quraisy di Perang Badar ternyata meninggalkan dendam yang mendalam. Mereka akhirnya kembali mempersiapkan diri untuk membalaskan dendam itu. Kafir Quraisy melakukan persiapan yang lebih matang. Mereka membuka kesempatan kepada orang-orang untuk menjadi sukarelawan, termasuk melibatkan kabilah-kabilah Arab di luar kabilah Quraisy yang bergabung dengan orang-orang Quraisy. Total pasukan yang mereka siapkan berjumlah 3000 orang, ditambah 200 kuda, dan 700 tameng. Para wanita juga ikut serta bersama mereka sebagai penyemangat perang. Pasukan mereka dipimpin oleh Abu Sufyan dengan kesatria-kesatria dari Bani ‘Abdu ad-Daar sebagai pembawa panjinya menuju Madinah.
            Sementara suasana di Madinah semakin mencekam. Pihak Rasulullah saw. yang telah mendengar kabar itu disibukkan untuk menghadapi peperangan. Nabi Muhammad saw. pun segera melakukan latihan militer dengan pasukannya. Rasulullah saw. awalnya mengajukan pilihan, “Apakah hendak menghadapi musuh di luar atau bertahan di dalam kota?” Rasulullah saw. akhirnya memutuskan untuk bertahan di dalam kota dengan pertimbangan taktik tersebut akan lebih optimal.
Muncullah dua pendapat. Abdullah bin Ubai bin Salul, pimpinan orang-orang munafik (mereka yang memisahkan diri dari pasukan saat perang akan dimulai), memilih untuk berdiam dan duduk di rumah hanya demi menghindar dari tuduhan tidak ingin berperang. Pemuda-pemuda yang semangatnya masih berkobar pasca Perang Badar, memilih bertempur di luar dan maju ke medan perang.

Jabal Uhud dari posisi makam Syuhada
Rasulullah saw. pun akhirnya memenuhi semangat para pemuda itu. Rasulullah saw. membagi pasukan ke dalam tiga batalion. Pertama, kelompok Muhajirin, panji pasukan dibawa oleh Mush’ab bin ‘Umair. Kedua, kelompok Aus, panji dibawa oleh Usaid bin Hudhair. Ketiga, kelompok Khazraj, panji pasukan dibawa oleh Habbib bin al-Mundzir.
Setelah sholat Ashar, pasukan Rasulullah saw. yang berjumlah 700 orang pun bergerak menuju Uhud. Jika dilihat dari perbandingan jumlah pasukan, rasanya mustahil akan memenangkan peperangan dari kaum kafir Quraisy. Namun semangat telah berkobar demi membela agama Allah. Pasukan meneruskan langkahnya menuju Jabal Uhud.

Tergiur harta rampasan perang
Ketika tiba di Syi’ab, di celah lembah yang membelakangi Jabal Uhud, Rasulullah saw. langsung memasang strategi dan posisi. Pasukan sayap kanan ditempatkan di kaki gunung di bawah pimpinan Abdullah bin Jabir. Sementara di pertahanan sayap kiri, Rasulullah saw. menempatkan 50 pemanah andal di atas Bukit Rummat. 
Rasulullah saw. memberikan amanah kepada ke-50 pasukan pemanah itu.
“Lindungi kami. Seandainya kalian melihat kawanan burung dari langit menyambar kami, jangan pernah kalian turun dari bukit!” pesan Rasulullah saw. (HR. Bukhari).
Peperangan pun tinggal menunggu detik. Pasukan muslim dan kaum musyrik telah saling berhadapan. Tidak ada rasa gentar sedikit pun yang terpancar dari wajah kaum muslim walaupun jumlah mereka hanya 700. Sementara, tatapan penuh dendam terlihat sekali di mata pasukan musyrik Quraisy.
Pertempuran akhirnya pecah. Jabal Uhud dan area sekitarnya menjadi saksi pertarungan sengit itu. Suara pedang beradu kian memenuhi udara. Atas izin Allah SWT akhirnya peperangan sengit yang tidak seimbang itu dimenangkan oleh pasukan Rasulullah saw. Khalid bin Walid yang saat itu belum masuk Islam, tidak mampu mengungguli kekuatan Rasulullah saw. dan pasukannya. Kaum musyrik semakin marah tatkala gemuruh takbir dan Asma Allah digaungkan oleh pasukan Rasulullah saw.
Pasukan Rasulullah saw memenangkan Perang Uhud. Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama. Pasukan musyrik Quraisy lari tunggang-langgang, termasuk para wanita yang tadinya ikut menyemangati mereka. Musyrik Quraisy berlarian dan meninggalkan harta mereka di medan perang. Melihat harta benda yang berhamburan di tanah Uhud, membuat kaum muslim lengah. Mereka tergoda dengan harta rampasan perang (ghanimah) itu. Pasukan Rasulullah saw. yang berada di bawah bukit sibuk mengambil dan mengumpulkan harta musyrik Quraisy itu.
Pasukan pemanah yang sudah diamanahkan untuk tetap bertahan di atas bukit ikut tergoda oleh harta-harta itu. Mereka lupa pada perintah Rasulullah saw. Walaupun Abdullah bin Zubair, panglima pasukan pemanah berulang kali mengingatkan agar pasukannya tetap menunggu perintah Rasulullah saw, mereka tidak mau mendengarkannya. Abdullah bin Zubair panik melihat 40 teman-temannya tergesa-gesa menuruni bukit, demi mengambil harta rampasan perang. Amanah tinggalah amanah. Pasukan pemanah melanggarnya.

Kekalahan yang memilukan
            Situasi yang melemahkan pasukan Rasulullah saw itu dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid. Kalau pernah membaca kisah Khalid bin Walid (yang akhirnya memeluk Islam), beliau adalah seorang ahli strategi perang yang memimpin tentara berkuda. Sepuluh pemanah yang tersisa di atas bukit langsung diserang oleh Khalid bin Walid. Setelah posisi pasukan muslim benar-benar lemah, Khalid bin Walid memerintahkan pasukannya bergerak mengitari Jabal Uhud. Dari posisi itulah pasukan Khalid bin Walid menyerang dan membantai pasukan muslim.
Rasulullah saw dan beberapa pasukan yang tersisa telah benar-benar terkepung. Musyrik Quraisy terus mendesak dan memfokuskan serangan ke arah Rasulullah saw. Mereka menyerang Nabi akhir zaman itu hingga benar-benar terdesak. Beliau terjatuh karena tidak mampu menahan serangan yang bertubi-tubi itu. Gigi seri bagian bawah Rasulullah pun copot dan kepalanya terluka. Kekalahan yang memilukan pun dialami pasukan Rasulullah saw.
Sambil mengusap darah di keningnya, Rasulullah saw., bersabda;
“Bagaimana mungkin suatu kaum mendapat keberuntungan jika mereka melukai wajah Rasulullah saw dan memecahkan giginya, padahal dia mengajak memeluk Islam?”
Lalu Allah SWT menurunkan firman;
Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran, 3: 128).

Hamzah dan Hindun
Dari beberapa pimpinan pasukan, nama Hamzah bin Abdul Muthalib sangat dikenal di Perang Uhud. Beliau adalah paman Rasulullah saw. Hamzah bertarung dengan gigih. Ia berhasil membunuh kaum musyrik dengan tebasan pedangnya. Julukan sebagai “Singa Padang Pasir” semakin mengukuhkan nama Hamzah. Namun, Hamzah pun akhirnya gugur pada Perang Uhud. Rasulullah saw. sangat bersedih atas kematian pamannya itu.
Pada bagian ini, Pak Ustad mengingatkan kami pada seorang perempuan bernama Hindun (istri Abu Sufyan). Kematian Hamzah merupakan obsesi Hindun untuk memenuhi rasa dendamnya. Hindun dendam karena Hamzah telah membunuh ayah dan saudaranya pada Perang Badar. Hindun pun bersumpah akan memakan jantung Hamzah dan niat itu dilakukannya atas jenazah Hamzah.
Na’udzubillahimindzalik!
Perasaan muslim mana yang takkan berdetak marah jika diperdengarkan kembali kisah kekejaman Hindun ini? Tak ada kata yang pantas selain mengutuk kekejian yang dilakukan Hindun. Namun, jika kita kembali diingatkan pada Maha Pengampunnya Allah SWT, hati ini pastilah bergetar hebat menahan tangis. Lembaran hitam yang pernah dilakukan Hindun binti Utbah di masa Jahiliyah, telah ditebusnya dengan menjadi muslimah teladan pembela agama Allah SWT. Untuk itu, Allah SWT menjanjikan surga untuknya. Masya Allah … sungguh Engkau Maha Pengampun ya Tuhanku.

Makam para Syuhada menjadi saksi Perang Uhud
            Kekalahan pasukan perang dan Rasulullah saw. di Perang Uhud meninggalkan duka yang sangat dalam. Pasukan muslim yang tersisa akhirnya turun dari bukit dan mencari teman-teman mereka. Banyak yang terluka maupun gugur di tanah Uhud itu. Jenazah yang gugur di Perang Uhud akhirnya dimakamkan dekat lokasi perang serta dishalatkan satu per satu sebelum dikuburkan.
Rasulullah saw. menguburkan lebih dahulu orang yang lebih banyak hapalan Qur’annya ke dalam liang lahat. Ada 70 orang yang mati syahid dalam Perang Uhud. Mereka disebut sebagai Syuhada Uhud. Karena rasa cinta Rasulullah saw yang begitu besar kepada para Syuhada Uhud, zaman itu hampir setiap tahun beliau berziarah di Jabal Uhud. Apa yang dilakukan Rasulullah saw kemudian diikuti oleh beberapa sahabat sesudah beliau wafat.

Makam para Syuhada Uhud
Saya memperhatikan tempat pemakaman itu. Tempat pemakaman yang terlihat sangat sederhana. Hanya dikelilingi pagar setinggi 1,75 meter. Pagar itu dipasangi jeruji, sehingga para jema’ah bisa melihat dari celah-celahnya. Tidak ada batu nisan sebagai penanda makam masing-masing Syuhada. Hanya makam Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abdullah Jahsyi (sepupu Rasulullah saw) ditandai dengan batu-batu hitam. Sementara 68 makam Syuhada lainnya berada di sampingnya tanpa tanda.
Rasulullah saw bersabda;
“Mereka yang dimakamkan di Uhud tidak memperoleh tempat lain kecuali ruhnya berada di dalam burung hijau yang melintasi sungai surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah kehabisan makanan. Para Syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga.”
Maka turunlah firman Allah yang artinya;
Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah SWT itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS. Al Imran, 3: 169)

Pagar yang mengelilingi makam Syuhada
Ketika berziarah ke Jabal Uhud, kita disunnahkan memberi salam kepada para Syuhada Uhud serta mendoakannya. Dari kisah Perang Uhud, ada hal yang bisa saya jadikan pembelajaran, yaitu tentang ketaatan para pengikut Rasulullah saw yang menjadi pasukannya dalam perang itu demi membela agama Allah. Pelajaran lainnya tentu tentang nafsu duniawi, yaitu abai pada amanah karena tergoda pada harta benda yang tidak ada kekekalan di dalamnya.
Seperti firman Allah SWT dalam Al Qur’an ketika kegalauan tentang kekalahan itu muncul sebagai pertanyaan;
Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badar), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran, 3: 165)
Semoga catatan yang merupakan bagian perjalanan berhaji saya dan suami ini memberi manfaat bagi pembaca. Kalau ada yang ingin dikomentari, silakan. Salam. [Wylvera W.]

10 komentar:

  1. Aku baru tau Mbak, kalok Hindun jadi muslimah yg taat pada akhirnya. Ah paling seneng baca sejarah Islam gini. Makasih sharingnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak begitu di catatan sejarahnya. 😊

      Hapus
  2. merinding membaca perang uhud, segitu penuh perjuangan nabi untuk mendirikan kalimat laiillahhaillalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Apalagi membaca versi lengkapnya. Bercampur-baur perasaan ini rasanya.

      Hapus
    2. hemm, ya bu, melihat tempat itu dari foto itu juga terbayang perang yang sangat hebat dimasa itu bu

      Hapus
  3. Membaca cerita islami kaya gini makin membuat pengen banget ke Mekah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah, semoga niatnya segera terwujud ya, Mbak. Aamiin.

      Hapus
  4. terima kasih telah mengingatkan Bun.
    dari kisaha tersebut kira-kira apa yang bisa diimplementasikan untuk kondisi saat ini ya ?
    terima kasih dan salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali.
      Tidak silau pada harta sehingga dengan mudah menghalalakan segala cara untuk memperolehnya, termasuk mengabaikan amanah yang diserahkan padanya. Berpegang teguhlah pada amanah, ini bisa dicontohkan pada para pemimpin negeri ini. Sebab jika tidak amanah, niscaya petaka yang bakal mengikutinya. Dan banyak hal lainnya.

      Hapus
  5. Jadi pengen ke sana, untuk melihat langsung, Mbak :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...