Jumat, 08 Januari 2016

Kelas Menulis untuk Anak Pemulung





            Kelas menulis yang pernah saya awali di Yayasan Ummu Amanah, PKBM Al Falah, Bantargebang, Bekasi, telah lama terhenti. Banyak kendala yang membuatnya seperti itu. Tidak perlulah saya sebutkan satu per satu. Yang penting hati saya tetap ada di sana. Itu pula yang menyebabkan saya masih menyimpan semangat untuk melanjutkannya. Lalu,  apa sih yang membuat saya selalu ingin kembali ke sekolah yang kerap menebar aroma busuk dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah itu? Rindu! Itu jawabnya.
            Beberapa bulan lalu, pendiri yayasan yang sering saya sebut sebagai sekolah tempat anak-anak pemulung itu kembali dari Paris. Sudah tiga tahun kami tidak pernah lagi berjumpa. Sejak Mbak Sari pindah sementara ke Paris mendampingi suaminya yang ditugaskan di sana, komunikasi kami perlahan-lahan terhenti. Masing-masing kami disibukkan oleh kegiatan yang seolah-olah tak ada hentinya. Namun, saya tetap meneruskan memberikan pelatihan menulis untuk anak-anak pemulung di sekolah miliknya. Sampai akhirnya saya tidak bisa lagi memenuhi jadwal rutin itu. Kelas menulis terhenti berbulan-bulan lamanya. 

Kilas balik 
            Meskipun kelas menulis terhenti, saya tetap berusaha menjaga agar komunikasi dengan Kepala Sekolah (Pak Khoiruddin) tidak ikut terputus. Alhamdulillah, ada saja momen yang mengantarkan saya ke sekolah itu. Saat anak saya berulangtahun ke-17, misalnya. Mira tidak ingin merayakan hari lahirnya dengan acara yang berkesan hura-hura. Ia lebih memilih sekolah itu untuk berbagi rasa syukurnya. Pilihan Mira untuk berbagi kepada anak-anak pemulung itu, kembali membawa saya ke sana.

Momen tasyakuran ulang tahun Mira di Al Falah
            Momen berikutnya, ketika ibu-ibu Pengurus Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) ingin memberikan sumbangan ke sekolah itu. Lagi-lagi saya ikut mengantarkannya. Saat itu hati saya merasa tersindir oleh sambutan Pak Khoiruddin. Dalam pembuka sambutannya, beliau seolah ingin memberi sinyal agar saya tidak melupakan anak-anak mereka. Agar saya kembali bersedia melanjutkan memberikan pelatihan menulis untuk anak-anak di sekolah tesebut.

Kunjungan ibu-ibu PIPEBI ke Al Falah
            Puncaknya adalah saat Mbak Sari menjenguk dan melepas rindu dalam momen “Temu Kangen” bersama anak-anak pemulung binaannya di sekolah tersebut. Saya diundang untuk hadir dan menyaksikan pertemuan yang mengharukan itu. Tiga tahun tak melihat sosok Ibu yang selalu mereka hormati dan panuti, membuat acara itu sungguh-sungguh berkesan buat saya. 

Mbak Sari dan Saya
            Janji saya kepada Pak Khoiruddin dan Mbak Sari akhirnya terwujud. Hari Jum’at, 8 Januari 2016, saya kembali hadir di sekolah itu. Tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi kembali masuk ke kelas dan mengulang materi tentang panduan menulis cerita kepada anak-anak pemulung di sana.
            Tidak seperti sebelumnya. Kalau di awal dulu, saya mengajar banyak murid di sekolah itu yang tidak semuanya terampil membaca dan menulis. Fasilitas mengajar pun masih sangat sederhana. Tidak ada layar dan infokus. Hanya papan tulis dan spidol saja. Namun, sekarang saya merasa sangat lega. Begitu masuk ke dalam kelas, anak-anak yang mengikuti kelas menulis sudah disaring sedemikan ketat. Mereka adalah anak-anak yang sudah lancar menulis dan membaca.
            Tidak hanya itu yang membuat saya semakin bersemangat. Separangkat alat pendukung untuk penyajian materi dari saya pun sudah disediakan. Ya! Layar dan infokus sudah siap menunggu saya.

Kelas “Ektrakurikuler Menulis”
            Setelah anak-anak yang berjumlah tujuh belas orang itu masuk ke ruangan dan duduk dengan rapi, saya membuka kelas. Saya menyapa mereka dengan salam. Demi meyakinkan mereka tentang pentingnya keterampilan menulis, saya tidak langsung menyajikan materi teknis.

Anak-anak fokus menyimak
Saya mengajukan pertanyaan awal
            Saya ajak mereka ngobrol santai terlebih dahulu. Salah satu pertanyaan yang saya ajukan.
“Mengapa mereka ingin mengikuti kelas menulis bersama saya?”
“Apakah hanya karena dipilih oleh kepala sekolah atau benar-benar dari keinginan mereka sendiri?”
Betapa terharunya saya ketika mendengar jawaban-jawaban yang samasekali tidak saya duga.
“Saya ingin menjadi orang sukses. Trus, saya ingin menuliskan bagaimana saya meraih kesuksesan itu, Bu!” jawab Nur Afifah, murid kelas 8.
“Saya mau menulis tentang lingkungan kami yang berbau sampah, supaya orang lain tahu seperti apa kami di sini!” ujar lantang Aji yang juga murid kelas 8 di sekolah itu.

Sintia menuliskan alasannya mengikuti kelas menulis
Setelah itu jawaban-jawaban lainnya pun menyusul. Semuanya menunjukkan kalau mereka sungguh-sungguh ingin mendapatkan ilmu menulis itu. Saya pun meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang tak mungkin. Jika mereka bersungguh-sungguh karena Allah, tentu akan diberikan kemudahan oleh-Nya. Aamiin.
Irfan ingin terampil menuliskan tentang alam
Saya melanjutkan memberikan motivasi agar anak-anak pemulung itu semakin yakin dan bersemangat. Saya akhirnya menyebut kelas itu sebagai kelas “Ekstrakurikuler Menulis” agar mereka merasa benar-benar terikat dan bersungguh-sungguh. Tidak seperti sebelumnya. Kedatangan saya tidak terjadwal dengan rutin.  

Tamu yang menyenangkan
            Setelah satu jam memberikan motivasi dan pengantar tentang menulis, tiba-tiba kelas kami kedatangan tamu. Salah seorang guru di sekolah itu mendampingi perempuan cantik berkulit putih memasuki kelas. Ternyata dia adalah mahasiswi dari salah satu universitas di Jepang. Katanya dia ingin melihat saya mengajar di kelas itu.
            Saya menyambutnya dengan senang hati. Saya persilakan dia duduk di samping meja saya. Kebetulan anak-anak sedang saya minta untuk menuliskan pilihan sumber ide dari gambar yang sedang saya tayangkan di layar infokus. Waktu 20 menit yang saya berikan untuk anak-anak, sangat pas untuk kesempatan berbincang dengan perempuan cantik yang belakangan saya tahu namanya adalah Kazuki Hananado.
            Kazuki bertanya dalam Bahasa Inggris yang tidak begitu mulus. Meskipun katanya dia pernah tinggal di Amerika saat SMA, dia mengakui bahwa Englishnya tetap saja tidak sempurna. Sama dong dengan saya. Saya juga pernah tinggal di Amerika, tapi tetap saja English saya ngepas begini. Akhirnya kami sama-sama tertawa.


Saya dan Kazuki yang ramah

Selanjutnya, Kazuki bertanya tentang materi yang saya berikan ke anak-anak. Saya menjelaskan kalau kelas yang saya pegang ini, khusus memberikan pelatihan tentang dasar-dasar menulis cerita pendek.
            Are you a writer?” tanyanya yang saya jawab dengan anggukan.
            Kazuki menanyakan karya apa saja yang sudah saya buat terkait dengan profesi saya sebagai penulis. Saya jelaskan bahwa saya sudah menulis beberapa buku untuk bacaan anak-anak. Matanya berbinar menyimak pengakuan saya. Kazuki mengatakan kalau dia pernah ingin sekali belajar menulis cerita, tapi ternyata dia lebih berbakat di seni musik.
            Sambil melakukan penelitian, Kazuki ternyata menjadi tenaga pengajar seni musik di sekolah itu. Bahkan beberapa praktisi dari Jepang sudah menjadi partner PKBM Al Falah. Mereka sudah memberikan kelas ekskul bahasa Jepang untuk anak-anak pemulung di sekolah itu.
Betapa takjubnya saya, saat mengetahui bahwa banyak anak-anak pemulung di sekolah itu yang lebih mahir berbahasa Jepang ketimbang bahasa Inggris. Malah mereka belum pernah mendapatkan kelas bahasa Inggris. Semoga suatu hari nanti, ada sukarelawan yang mau menyediakan waktu untuk memberi pelatihan bahasa Inggris di sekolah itu.
Kazuki mengatakan bahwa dia sangat senang bisa berkenalan dengan saya. Ia juga berterima kasih karena saya sudah memberinya kesempatan untuk ikut menyimak dan melihat cara saya mengajar di kelas itu. Saya juga mengucapkan terima kasih padanya atas kunjungannya yang sangat spesial itu.Saya katakan bahwa suatu hari nanti saya ingin berkunjung ke negaranya. Kazuki sumringah merespon keinginan saya.
Kembali ke kelas menulis. Semoga ini menjadi start awal yang bisa memicu semangat anak-anak untuk terus berlatih agar mampu menulis cerita dengan baik. Aamiin. [Wylvera W.]
             

24 komentar:

  1. Semoga terus mengispirasi mba. Terharu dengan jawaban anak2 dan semNgat mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih, Mbak.
      Iya, anak-anak itu menyimpan mimpi yang yang tidak terduga. :)

      Hapus
  2. wow, inspiring banget mba..
    oia, semoga murid2 di sana jadi orang sukses semua yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih doanya, Mbak Dessy. :)

      Hapus
  3. bagus sekali kegiatannya mbaaa..semoga berkah dan anak-anak pun semangat untuk terus belajar dan maju..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih support doanya, Mbak Indah. *kangen ih*

      Hapus
  4. percayalah ilmu akan terus berkembang mana kala ia bagikan dengan orang lain, supaya tidak menjadi pohon tanpa buah

    kegiatan positif insya Allah akan menghasilkan sesuatu hal positiv..

    lanjutkan mak..

    aku juga pengen diajarin menuliissss

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ikut seneng aku mbaa baca ini, mudah2an anak pemulung itu jadi anak2 yang sukses dunia akhirat, suatu hari bisa menerbitkan buku juga, aamiin.

    BalasHapus
  6. mantap bu, terus menginspirasi ya. semoga ibu diberikan kemudahan dan kelancaran untuk terus menebar manfaat menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahuma Aamiin.
      Makasih, Mas Sandi. :)

      Hapus
  7. Kagum dengan semangat mengajar mbak Wiwik.
    semoga barakah dalam sisa usia yaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ... aamiin ... aamiin Ya Rabb.
      Semangat ini ada karena anak-anak itu juga semangat, Mbak. :)

      Hapus
  8. Terharu banget baca suara hati anak-anak ini mbak. Saya selalu ingin ikut kegiatan semacam ini. Makasih udah menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga sudah mampir ke blogku ini ya, Mbak.

      Hapus
  9. Semoga terus menginspirasi ya mba,aku jadi malu belum berbuat banyak untuk orang sekitar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Ini hanya melakukan apa yang kubisa, Mbak. Belum seberapa, kok. :)

      Hapus
  10. Subhanallah, Semoga amalan Kk mendapat balasan yang lebih tinggi dari Allah SWT.
    Kakak ini inspirasi saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahuma Aamiin.
      Ani, dirimu juga selalu menginspirasiku. Makasih ya, say. *love*

      Hapus
  11. Saya mampir sini dalam rangka nyari-nyari jejak teh Ani Berta dan beneran ada di atas situ hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, dan aku baru pagi habis Subuh tadi taunya. Lucky me! Disamperin blogger super. *berbunga-bunga*

      Hapus
  12. Inspirasi banget jd pengen beebagi di usia senja nih... Mrk benar benat spirit tanpa henti...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah berkunjung ke blogku ini, Mbak. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...