Kamis, 08 Oktober 2015

Mengendalikan Hawa Nafsu



            Saya dan Gerakan Peduli Remaja kembali memenuhi jadwal rutin mendampingi anak-anak Lapas/Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Tangerang. Tapi hari itu kami tidak komplet. Kebetulan teman-teman GPR sedang ada jadwal lain. Jadilah hanya saya dan Suci (Ketua GPR) dibantu Kiki yang mengisi materi untuk anak-anak LPKA itu. Sedikit terasa sepi. Namun, kami harus tetap membuat suasana terkesan ramai.

Selasa, 6 Oktober 2015
            Kami tiba di lapas sekitar pukul 10.30 WIB.  Selesai mengisi buku tamu di pintu masuk, kami pun bergegas menemui anak-anak LPKA di masjid lapas. Suci dan saya sudah menetapkan materi apa yang akan diberikan untuk anak-anak itu. Kami ingin mengajak mereka membaca kisah Rasulullah saw.
Ada donatur yang menyumbangkan buku seri “Muhammad Teladanku”. Jumlahnya ada 18 buku ditambah 1 buku karya saya. Sembilan belas buku itu kami bagi dua. Saya kebagian 19 anak, sisanya bersama Suci.

Selalu tak sanggup pasang wajah sangar berdialog dengan mereka (dokpri)
            Setelah semua berkumpul dan duduk membentuk setengah lingkaran, saya pun mengajak mereka untuk membaca doa. Saya jelaskan bahwa hari itu saya akan membagikan sejumlah buku kepada mereka. Saya meminta mereka membaca 1 sampai 2 cerita saja yang ada di dalam buku seri “Muhammad Teladanku” itu. Karena buku tidak cukup, saya pun membagi 1 buku untuk 2 anak.
            Saya memberi waktu sekitar 15 menit. Menit-menit pertama, mereka masih terlihat antusias. Saya tidak tahu, apakah mereka sungguh-sungguh membaca atau sekadar melihat-lihat ilustrasinya saja. Lima menit berlalu. Seperti biasa, ada yang fokus dan tekun, tapi hanya diam dan tersenyum ketika ditanya. Ada yang menatap dengan pandangan kosong. Ada yang antusias merespon ketika diajak berdiskusi. Ada yang tetap duduk di setengah lingkaran depan saya, tapi sikapnya seolah tidak peduli. 

Eeeh ... mengapa yang ini nggak mau berbagi buku ya? Aaah .... (dokpri)
Jujur saja, saya sudah memrediksi situasi ini. Saya tidak boleh marah. Sambil terus berusaha mempertahankan perhatian mereka, saya pun memancing dengan pertanyaan.
            “Ayo, waktunya sudah habis. Siapa yang mau berbagi tentang kisah yang sudah dibaca dari buku ini?”
            Sesaat hening.
            “Ayo dong. Kan tadi Bunda sudah meminta kalian membaca, kok nggak ada yang mau berbagi cerita?”
            Keriuhan pun terjadi. Mereka saling tunjuk untuk meminta temannya bercerita. Saya membiarkannya saja. Akhirnya, tidak ada satu pun yang mau berbagi cerita. Saya memberi semangat dengan membagikan gorengan yang sengaja kami bawa. Sambil melihat mereka menggilir kantong gorengan, saya menukar pertanyaan.
            “Apa yang kalian lakukan kalau ada teman yang iseng ngeledek atau becandain kalian, padahal kalian lagi bete dan nggak mau dibecandain?” tanya saya.
            “Marah, Bunda!”
            “Tonjok aja, Bunda!”
            “Sikat aja, kurang ajar itu namanya, Bunda!”
Tak satu pun jawaban yang menggambarkan kesabaran. Semua jawaban isinya amarah. Saya jadi teringat pada salah satu ayat dalam Al Qur’an yang menerangkan tentang hawa nafsu. 

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat (nya).”- QS. An Nazi’at: 40-41

            Saya ingin mereka mulai belajar dan berusaha mengendalikan hawa nafsu itu. Sebab, dari sanalah bermula semua hal yang membawa mereka ke LPKA itu.
Saya mulai mengambil salah satu akhlak mulia dari Rasulullah saw. sebagai contoh. Saya minta satu orang dari mereka menunjukkan cerita tentang kesabaran Rasulullah saw. saat menghadapi hinaan, celaan, bahkan aniaya fisik. Buku yang berisi tentang kisah itu ada di antara mereka.
            “Oh ini, Bunda! Pas Rasul dilempar kotoran unta sama diledekin oleh keluarga dari kaum kafir Quraisy,” ujar H bersemangat.
            “Nah! Itu maksud Bunda tadi meminta kalian berbagi cerita dari apa yang sudah kalian baca. Dari cerita itu, kita bisa melihat betapa Rasulullah saw. itu begitu kuat mengendalikan hawa nafsu amarahnya. Menahan emosinya, menahan lidahnya untuk sesuatu yang jelas-jelas telah menyakitinya, dan menahan diri serta panca inderanya dari perbuatan yang dimurka Allah,” kata saya akhirnya menemukan kalimat yang membuat mereka spontan menatap serius.

Ada yang serius, ada yang cuek, ada yang tak peduli (dokpri)
            Walaupun tidak semua memerhatikan penjelasan saya, paling tidak sebagian dari mereka mulai fokus menyimak. Saya tidak mau menyia-nyiakan itu. Saya terus memaparkan bahwa jika mereka mau belajar mengendalikan hawa nafsu, bersabar, ikhlas, maka Allah SWT. akan memberikan kemudahan bagi mereka.
            “Gimana mau sabar, Bunda. Kalau ditekan terus, hajar aja!” tiba-tiba satu anak nyeletuk. Jujur saya tersentak, tapi saya berusaha tenang.
            “Kasus kamu apa?” tanya saya masih tetap berusaha tersenyum menghadapinya.
            “Pembunuhan, Bunda!” seru beberapa temannya.
            “Boleh duduk sini dekat Bunda,” bujuk saya memintanya mendekat. Anak itu cengengesan dan tetap bertahan di posisinya.
            “Biar jin yang nakal di dekatmu menjauh, kamu harus duduk dekat Bunda,” ulang saya lagi.        
Sambil tetap cengengesan, akhirnya dia bergerak maju duduk mendekat persis di depan saya. Saya meminta perhatian teman-temannya yang lain untuk tetap menyimak. Syukurlah semua kembali tenang. Saya pun mengajak anak itu ngobrol, sementara yang lainnya saya minta untuk tetap di tempat sambil membaca-baca bukunya kembali.
            “Apa yang kamu rasakan saat melakukannya?” tanya saya sengaja tidak mau menyebut detail perbuatannya.
            “Puaslah, Bunda. Biar dia tau rasa, nggak seenaknya nekan-nekan aku,” jawabnya tenang sekali.
            “Lalu setelah kamu di sini, apa yang kamu rasakan?” lanjut saya.
            “Tenang, Bunda. Bisa makan, nggak pusing lagi,” jawabnya masih konsisten pada rasa benar atas perbuatannya.
            “Benar kamu merasa tenang? Bunda mau kamu jawab yang jujur. Di antara kita ini ada malaikat yang mendengarkan isi hati kamu. Apalagi ada Allah Yang Maha Tahu apa yang kamu sembunyikan di hati kamu yang paling dalam sekali pun,” kata saya terus memancingnya.
            “Enggak taulah, Bunda. Saya ini ngaji aja gak bisa. Sholat apa lagi,” jawabnya ngelantur.
            “Yang Bunda tanya, benar kamu merasa tenang?” ulang saya lagi tak memedulikan jawabannya yang ngelantur.
            “Hmm... gimana ya, Bunda. Sebenarnya nggak. Aku jadi putus sekolah dan belum tentu bisa ngelanjutkan lagi. Di sini 4 tahun,” akhirnya jawaban jujur itu keluar juga dari hatinya.
            “Baiklah ..., Bunda tidak mau meminta kamu mengulang kronologis kasus yang menimpamu. Yang Bunda inginkan, kamu mulailah berusaha untuk mengambil hikmah dari semua yang sudah kamu lakukan. Bukan hanya Y ya. Kalian semuanya,” ujar saya kembali kepada anak-anak lain yang masih duduk di depan saya.
“Jadikan tempat ini sebagai kesempatan kalian untuk bertobat, belajar agama Islam yang benar, sholatnya mulai tekun, dan mengajinya juga. Tanamkan keyakinan di hati kalian, bahwa Allah akan memberikan kemudahan jika kalian sungguh-sungguh,” papar saya kembali memosisikan diri seperti Ibu.
            “Melawan nafsu juga ya, Bunda,” tiba-tiba ada yang mengingatkan saya tentang “hawa nafsu” tadi.
            “Nah, benar ... usaha yang paling berat bagi setiap manusia itu adalah melawan hawa nafsu. Makanya, dengan sholat, mengaji, sering membaca kisah-kisah Nabi dan sahabat-sahabatnya, Insya Allah kalian bisa belajar pelan-pelan melawan hawa nafsu itu,” ujar saya sebelum menutup kebersamaan kami di hari itu.

Lihatlah! Saya bicara menghadap mana, yang ini malah fotoan ... ck...ck...ck

            Sambil menyudahi kebersamaan itu, hati saya tetap bermohon. Semoga Allah meninggalkan hikmah dari apa yang saya sampaikan di hati anak-anak itu. Melapangkan hati mereka agar sedikit nasihat yang saya berikan membekas di hati mereka. Hingga suatu hari kelak, mereka mulai mampu mengendalikan hawa nafsunya. Dan, begitulah seterusnya. Aamiin. [Wylvera W.]
           


Minggu, 04 Oktober 2015

Kebiasaan Mendongeng Mengantarkan Kami Menjadi Penulis



Foto taken from deparagkii.wordpress.com

 
            Mendongeng untuk anak adalah sebuah kegiatan interaktif yang banyak manfaatnya. Saya pun sudah merasakan manfaat itu. Masa kecil saya yang tidak lepas dari kebiasaan mendengar dongeng, menentukan pilihan profesi saya saat ini. Lalu, siapakah dulu yang mendongeng untuk saya?  
Sampai sekarang kenangan manis itu tidak bisa saya lupakan. Betapa dongeng itu sangat membekas di hati dan ingatan saya. Hampir setiap malam menjelang tidur, Papa selalu mendongeng untuk saya dan adik saya. Jenis dongeng yang disampaikan Papa pun beragam. Ada yang dari kisah-kisah legenda, film, bahkan dari hasil karangannya sendiri. Papa juga menyajikan dongeng panjang untuk kami. Saking panjanganya, dongeng itu akhirnya diceritakan secara bersambung. Jadilah setiap malam saya dan adik saya menunggu-nunggu lanjutannya sebelum tidur.
Kebiasaan mendongeng dari Papa ini membuat saya perlahan tumbuh menjadi anak yang kreatif dan gemar bercerita, baik secara lisan maupun tulisan. Nilai mengarang saya zaman SD juga selalu sempurna. Pelajaran mengarang menjadi favorit buat saya.
Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya memahami bahwa kebiasaan Papa yang menyampaikan dongeng secara sederhana dulu, ternyata banyak sekali manfaatnya. Tanpa sadar, kosakata di kepala saya kian hari kian bertambah. Cerita-cerita itu juga pelan-pelan menstimulasi daya imajinasi dan berpikir saya menjadi lebih kreatif. Saya jadi banyak tahu tentang hal-hal baru. Misalnya, gajah itu punya belalai yang panjang, tubuh yang besar, dan gading yang indah. Padahal saya belum pernah melihatnya. Dan, masih banyak lagi yang saya dapat dari dongeng-dongeng Papa. Lewat mendongeng itu pula Papa berhasil memberikan sentuhan manusiawi dan sportivitas di diri kami, anak-anaknya.
Setelah menjadi Ibu dari dua anak, saya merasa wajib mempertahankan warisan dari Papa itu. Kalau dulu, mungkin Mama saya tidak terampil melakukannya, sehingga Papa kami yang mengambil alih, maka sekarang saya yang mendongeng untuk anak-anak saya.
Sejak anak-anak saya kecil, saya pun membiasakan diri untuk mendongeng untuk mereka. Tidak hanya saat menjelang tidur malam saja, di waktu-waktu senggang pun saya kerap mendongeng. Sementara cerita yang saya pilih, bisa dari buku, bisa juga hasil karangan saya sendiri. Yang terpenting, waktu 10 hingga 15 menit untuk mendongeng itu mampu menjalin ikatan batin antara saya dan mereka. Lewat dongeng-dongeng itu pula kami jadi saling bertukar tanya, cerita, dan menyimpulkan hikmah bersama-sama.
Saya tidak pernah berkhayal kalau kebiasaan saya mendongeng kelak akan memberikan dampak yang menggembirakan. Mungkin Papa saya juga dulu seperti itu. Tapi, begitulah ... setiap hal positif yang kita lakukan, cepat atau lambat tentu akan memberikan dampak. Alhamdulillah ... kebiasaan mendongeng yang saya lakukan, mengantarkan anak-anak saya menjadi penulis cilik. Beberapa buku karya mereka sudah terbit dan menambah koleksi bacaan para pembacanya. Siapa yang tidak bahagia melihatnya?
Begitu juga mungkin yang dirasakan oleh Papa saya. Dari kedua anak yang sering dimanjanya oleh dongeng, saya yang berhasil menjadi penulis saat ini. Lewat kebiasaan sederhana mendongeng dari Papa, kini saya berhasil menuliskan kisah dalam buku-buku anak karya saya.
Betapa dahsyatnya efek kebiasaan mendengar dongeng. Mendongeng tidak hanya sekadar cerita pengantar tidur saja, namun mampu memberikan manfaat besar bagi perkembangan anak. Bahkan kemampuan berbicara anak pun dipengaruhi oleh seberapa efektif orangtuanya bercerita atau mendongeng pada anaknya. Lewat dongeng, kreativitas anak tumbuh dan terlatih, sementara nilai-nilai moral bisa diajarkan melalui karakter tokoh-tokoh dalam ceritanya.
Lalu, masih tidak yakinkah bahwa dongeng memiliki kekuatan yang begitu besar bagi pertumbuhan karakter dan intelegensia anak? Yuk, kita pertahankan warisan budaya mendongeng untuk anak-anak dan generasi mendatang! [Wylvera W]

Postingan ini ditulis dalam rangka menyambut “Festival Dongeng Internasional” yang akan diadakan pada tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 di Museum Nasional.

Info lengkap tentang event tersebut ada di http://indostoryfest.com/

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...