Selasa, 17 Mei 2016

Campur Tangan Allah itu Nyata



            Saya sadar, kalau cerita ini bisa saja dialami oleh para orangtua lainnya. Namun, hati saya begitu kuat untuk tetap mencatatnya di blog ini. Bukan untuk riya. Tidak samasekali. Niat saya sederhana saja. Ingin mengabadikan momen yang pernah saya lewati bersama anak sulung saya, Mira. Dan yang terpenting, saya ingin membagi keyakinan, bahwa Allah itu sungguh Maha Pengasih dan Penyayang.
Mira masih 3 tahun
            Sebagai anak pertama dan kebetulan cucu pertama pula dari kedua belah pihak keluarga saya dan suami, Mira seolah jadi pusat perhatian. Awal-awal kelahirannya menjadi hadiah terindah bagi keluarga saya dan suami. Mulai dari pemberian nama dan ulang tahun pertama hingga beberapa tahun setelahnya pun, kami ungkapkan dalam bentuk tasyakuran. Yasmin Amira Hanan, sebuah nama pemberian saya dan suami ditabalkan di Medan. Sebuah pesta sederhana yang berlangsung di rumah saya kala itu, dihadiri oleh sanak famili. Rasa syukur dan bahagia mewarnai suasana saat itu.
            Keluarga kecil kami tidak tinggal di Medan (kampung halaman saya dan suami). Kami sempat tinggal di Komplek Perdatam, Jakarta Selatan, waktu itu. Hanya setahun. Jelang empat bulan usia Mira, kami pun pindah ke Bekasi hingga saat ini. Setiap tahun menjadi tradisi kami untuk mudik ke Medan. Saat itu ketika usia Mira tepat setahun, bertepatan dengan Idul Fitri, saya dan suami kembali menggelar acara tasyakuran. Mensyukuri setahunnya umur Mira.
            Begitulah, sebelum adiknya dan sepupu-sepupunya lahir, perhatian para kakek dan neneknya belum bergeser. Mira jadi tumpuan kasih sayang kami. Seiring berjalannya waktu, cucu-cucu lainnya pun lahir. Porsi untuk Mira pun mulai terbagi. Seolah tanpa diatur oleh hal-hal tertulis, keberadaannya jadi contoh atau tolok ukur buat adik-adiknya. Waktu itu, saya tidak pernah menyadarinya. Namun dari waktu ke waktu, karakter Mira kian terbentuk sedemikian rupa. Bisa jadi dia tanpa sadar pelan-pelan memosisikan dirinya sebagai “Kakak Tertua” dari adik kandung dan sepupu-sepupunya.

Mira masih TK
            Mira pun masuk play group, TK A dan B, hingga sekolah dasar. Tidak pernah sekalipun saya mempersiapkannya untuk jadi yang terbaik di mata adik-adiknya. Namun, itu tadi, Mira tanpa sadar mendorong dirinya sendiri untuk berada di posisi itu. Beberapa prestasi pun kerap diperolehnya. Di play group saja, sudah ada beberapa piala yang dihasilkannya. Begitu juga di TK, SD, SMP, hingga SMA. Dan semua keberhasilan itu tidak melulu terkait dengan bidang akademik saja.
Sempat beberapa kali terbesit di benak saya, “Apakah semua penghargaan yang pernah diperoleh Mira itu akan membuatnya sulit menerima kekalahan?” Ya, saya beberapa kali membaca ulasan dan paparan para pakar tentang perkembangan karakter anak. Wajarlah kalau saya khawatir. Disebutkan di beberapa artikel itu bahwa anak yang senantiasa mudah mendapatkan keberhasilan, egonya akan sulit dilenturkan. Keras kepala, mau menang sendiri, sulit bernegosiasi, dan hal lainnya yang mengarah ke sana bisa saja mendominasi karakternya. Kekhawatiran itulah yang mengiringi hati saya agar terus mendampinginya untuk mempersiapkan mental.
Tidak semudah itu membentuk karakter anak yang sejak awal merasa jadi panutan dalam keluarga. Namun saya tidak semudah itu juga untuk menyerah. Saya terus memengaruhi pola pikir Mira dalam menyiapkan hati menerima sebuah kekalahan. Itu saya mulai sejak dia masih duduk di sekolah dasar. Semua yang saya lakukan selalu saya sandarkan pada permohonan ridho dari Allah.  Namun, sekali lagi, memang tidak mudah. Sesekali terlontar dari mulutnya, “Aaah, kenapa nggak berhasil sih?” “Memangnya salahku di mana sampai bisa gagal ya, Bu?” “Kesal ni, Kakak … gagalnya di mana ya, Bu?” Dan, masih ada beberapa penolakan lain yang pernah terucap saat dia dihadapkan pada kegagalan.
Kondisi seperti itulah yang akhirnya membuat saya khawatir ketika Mira mulai duduk di bangku SMA. Tapi, Allah SWT ternyata mendengar kekhawatiran saya. Mira semakin hari semakin tumbuh menjadi pribadi yang wise. Saya pun terheran-heran sendiri. Sejak Allah menyembuhkannya dari pasca operasi pengangkatan batu di kantung empedunya (kondisi yang nyaris membuat hidup saya gamang waktu itu), saya diam-diam memerhatikan perubahan karakternya. Mira seolah terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih legowo, tidak terlalu ambisius, santai saat mendapatkan bahwa dirinya gagal menerima sesuatu. Meskipun sesekali masih muncul penolakan itu, namun tidak sekuat masa-masa sebelumnya. Alhamdulillah, semua karena izin Allah.
Hingga sampailah menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) yang akan mengantarkannya melepas masa SMA. Justru saya yang cemas. Sementara Mira santai dan seolah tidak terlalu terbebani dengan target-target. Begitu juga saat menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Awalnya Mira ingin mengambil jurusan kedokteran. Pilihan ini saya yakini hanyalah bentuk rasa hormatnya saja pada ibu dan bapaknya waktu itu. Ya, saya dan suami sempat mendengung-dengungkan bahwa dulu kami gagal untuk kuliah di jurusan itu. Mira seolah ingin mewujudkan mimpi kedua orangtuanya.
Di seleksi awal jalur undangan, sekolah melakukan pemetaan awal. Saat itu Mira memilih fakultas kedokteran. Begitu hasilnya keluar, posisi Mira ada di nomor urut tiga. Mira seperti disadarkan. Dia bilang ke saya, “Bu, sepertinya Kakak nggak cocok deh ambil kedokteran.” Saya terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Saya pikir dia serius mau mengambil jurusan itu. Namun ternyata Mira hanya ingin menguji kekuatan dan target dari nilai-nilai rapot yang telah diraihnya.
Wajarlah kalau ketika mendengar Mira memilih jurusan yang pernah menjadi obsesi saya dan bapaknya, saya senangnya bukan kepalang. Namun, saya buru-buru menetralkan perasaan. Sekuat hati saya tidak mau memengaruhi pilihannya. Mira yang tahu dia mau jadi apa nanti. Sebagai orangtua, saya dan bapaknya hanya memberikan fasilitas, mendukung, dan mendoakannya.
Sampailah pada akhirnya Mira memutuskan untuk pindah jalur dari IPA ke IPS. Mira memilih Fakultas Hukum UI untuk final pengisian data jalur undangan. Selain itu, Mira menemukan informasi tentang penerimaan jurusan yang sama namun di kelas internasionalnya. Waktu pendaftaran ternyata sudah sangat mepet, sementara syarat yang diminta ada yang belum dimiliki oleh Mira.
Saya dan suami menyemangati Mira agar tidak mundur sebelum bertanding. Akhirnya Mira juga mencoba keberuntungan untuk seleksi di Fakultas Hukum kelas internasional Universitas Indonesia - Talent Scouting. Ada beberapa syarat yang diminta. Pertama, harus memiliki sertifikat IELTS atau TOEFl dengan standar score 5,5. Kedua, harus membuat motivational statement (semacam application letter). Ketiga, nilai rapot semester 1 sampai 5. Keempat, sertifikat prestasi yang terkait.
Mira belum memilik sertifikat TOEFL maupun IELTS. Karena masih ada waktu, saya dan bapaknya pun sibuk menemaninya untuk mengikuti test IELTS waktu itu. Alhamdulillah, Mira berhasil meraih overall score 7 untuk IELTS. Ini menjadi pemicu harapannya untuk diterima di Faculty of Law UI International Class. 

Meraih gelar The Best Speaker
Berikutnya, Mira pun sibuk membuat motivational statement dan memilih tiga sertifikat yang pernah diperolehnya (salah satunya sertifikat “The Best Speaker pada kompetisi English Debating” antar SMA se-Bekasi). Semuanya sudah berhasil disubmit. Tinggal menunggu hasil.
Ketika UAN telah terlampaui, pengumuman kelulusan pun telah keluar, detik-detik kecemasan dimulai lagi. Jujur saja, orang paling cemas saat menunggu pengumuman kelulusan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah saya. Ya, saya … ibunya Mira. Daaan … Mira tidak lulus undangan. Saya pikir Mira down. Ternyata dia tenang-tenang saja. Justru sayalah yang agak cemas. Kalau jalur undangan tidak lolos, harapan berikutnya adalah Talent Scouting. Kalau itu pun gagal, Mira harus siap bersaing lewat ujian tertulis bersama ratusan siswa SMA lainnya lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan Simak UI.
Mira pun tidak mau konyol. Dia memilih untuk ikut kelas intensif IPS demi mempersiapkan diri di jalur-jalur test tadi. Talent Scouting sementara dilupakannya. Tiga tahun dijejali dengan pelajaran IPA membuatnya sedikit kesulitan saat pertama kali mendapatkan materi pelajaran IPS. Nilai tryout-nya pun standar sekali. Mira hanya mampu berada di urutan ke-50 di antara teman-teman lesnya. Minggu-minggu berikutnya, Mira terus berusaha hingga akhirnya ia mampu meraih hasil nilai tryout yang membawanya pada posisi 10 untuk kelas IPS.
Di tengah-tengah mempersiapkan diri untuk test SBMPTN dan Simak UI, tibalah saatnya menunggu pengumuman Talent Scouting FH UI, 16 Mei 2016. Ini seolah menjadi klimaks dari penantian kami. Mira kembali memunculkan rasa khawatirnya. Berulang-ulang dia bilang ke saya, “Kok tangan Kakak dingin ya, Bu. Jam tiga masih lama banget ya?” Duuuh … kondisi ini mau tak mau membuat saya ikut cemas, bahkan lebih cemas dari Mira sendiri. Termasuk ibu saya (Nenek) pun yang awalnya tenang akhirnya terbawa cemas.
Menjelang pukul 15.00 WIB, kami semakin uring-uringan. Begitu tepat jam tiga, Mira langsung mengecek website. Berulang-ulang dicoba tetap saja gagal. Hingga akhirnya Mira memutuskan menunggu azan untuk sholat Ashar. Saya yang sedang tidak sholat menunggu dengan harap-harap cemas. Ibu saya pun mendahulukan sholat. Namun, saya tetap tidak berani mencoba-coba membuka website-nya.
Setelah selesai sholat, Mira berubah sedikit lebih tenang dan mulai membuka websitenya kembali. Akhirnya bisa! Mira memasukkan passwordnya.
“Ya Allah … Alhamdulillah, aku diterima! Aku lulus, Bu! Lulus!” serunya dengan suara serak. Saya spontan mencium kepalanya dan kami berpelukan (lebay ya … tapi sesungguhnya itulah yang terjadi). Sesaat setelah merasakan kegembiraan itu, saya buru-buru mengingatkan Mira untuk sujud syukur. Bahagianya tak terkira. Allah akhirnya menjawab doa-doa dan penantian Mira dan kami semua. Dan, saya percaya, bahwa keberhasilan ini sedikit banyak adalah berkat doa dari teman-teman saya juga (baik di facebook, whatsApp, dan lainnya).
“Alhamdulillah, aku sekarang sudah jadi mahasiswa ya, Bu. Doa-doa kita di sholat-sholat tengah malam itu sudah dijawab Allah. Alhamdulillah ya, Bu,” ujar Mira bikin kami tersenyum haru.
Speechless….  
Saya hanya tersenyum haru menyimak kata-kata Mira. Terima kasih, Ya Allah. Sungguh, kebesaran dan janji-janji-Mu untuk orang-orang yang ikhlas terbangun pada sepertiga malam, semakin membuktikan bahwa Engkau Maha Mengabulkan permintaan hamba-Mu yang bersungguh-sungguh berharap. Alhamdulillah….
Tanpa campur tangan-Mu, semua kebahagiaan yang Mira dan kami rasakan ini tidak akan terjadi. Untuk itu, kami kembalikan segalanya pada kuasa dan kasih sayang-Mu, Ya Allah. Perjalanan Mira masih panjang (jika Engkau meridhoinya). Ini adalah permulaan baginya dalam memasuki gerbang kedewasaan demi meraih cita-cita yang diinginkannya. Saya mohon, jaga dan bimbinglah anak kami untuk tetap tawadhu’ dan istiqomah dalam menuntut dan mengamalkan ilmunya - untuk dunia dan bekal akhiratnya - di jalan yang Engkau ridhoi. Aamiin …. [Wylvera W.]
           

26 komentar:

  1. selamat ya mak buat mira....semoga dilancarkan sumuanya...., kebayang nanti jika anak saya bisa seperti itu, alangkah bahagianya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb.
      Makasih ya, Mak. Kudoakan ananda juga sukses dunia akhirat kelak ya. :)

      Hapus
  2. Selamat ya...ikut deg-degan nih jadi membayangkan kalau nanti anak saya udah sebesar kakak Mira...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Kania. Insya Allah, kalau kita tulus, Dia akan menunjukkan jalan kebaikan. Semoga keberkahan tercurah untu anak Mbak Kania ya. Aamiin.:)

      Hapus
  3. selamat ya...semoga perjuangan mira..selalu diberkahi..aamiin..

    BalasHapus
  4. Selamat ya Mba Mira.
    Saya yg lagi h2c karena adikku gagal dijalur undangan dan akan berjuang di Sbmptn tgl 31 Mei nanti.
    Semoga kali ini bisa diterima. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, aku bantu mendoakan, Mbak :)

      Hapus
  5. Alhamdulillah senang sekali membaca tulisan ini mba. Saya juga percaya Allahs elalu bersama orang-orang yang berdoa dan berusaha. Selamat ya untuk mba Mira. Smoga perjalanan hidupnya makin baik. Amin

    BalasHapus
  6. alhamdulillah... selamat ya buat Mira... semoga selanjutnya selallu diberi kemudahan

    BalasHapus
  7. Cerita mbak, mengingatkan saya tiga tahun lalu. Ujian tiga kali buat masuk kampus impian, eh tapi gagal. Meskipun gitu ternyata malah diberi Allah kampus yang lebih baik. Selamat buat Mira. semoga sukses selalu ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih ya, Mbak. Sukses juga buat Mbak Oka. :)

      Hapus
  8. Alhamdulillah, baca tulisan mbak, kok saya ikut deg-degan. Semoga kedepannya lancar selalu ya buat mbak Mira. Adik saya nih yang skrg lagi berjuang di sbmptn akhir Mei nanti.deg-degan masih harus berlanjut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga adik Mbak Revi lulus juga ya. Sukses :)

      Hapus
  9. Wah bacanya jadi ingat cerita diri sendiri, dari IPA yg disuruh2 masuk kedokteran sampe akhirnya memilih FHUI dan bisa masuk via jalur undangan, alhamdulillah skrg sudah sarjana hukum sih haha, dan aku yakin doa mamiku yg perannya paling besar. God is the best :) selamat ya buat Mira, selamat bergabung dgn makara merah ^^

    Rumahcantikputri.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mira Insya Allah menyusul nanti ya, Mbak. :)

      Hapus
  10. Saya kok lebih suka manggil Yasmin ya? Hihihi
    Saya ngefans sama Yasmin sejak lihat doi nyanyi di SB ke 1. Kerennnn apa lagi prestasi-prestasinya. Tak diragukan. Jadi inspirasi buat anak saya juga.
    Selamat ya, Kak dan Yasmin sudah mencapai hal terbaik.
    Semoga sukses terus ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, sebenarnya sejak SMP, dia pun lebih enjoy dipanggil Yasmin karena di sekolah teman-temannya memanggil dengan nama depannya itu, Tanta Ani. Tapi, karena di rumah kita memanggilnya Mira, ibunya jadi pakai nama itu.
      Btw, makasih dukungan doanya ya, Tante, semoga Sekar nanti jauh lebih sukses lagi. Aamiin :)

      Hapus
  11. hanya Allah tempat bersandar ya bun, smoga MIra menjadi anak yang soleha. sukses dunia akhirat. jujur saja anak saya masih 4 tahun, tpi sya sudah mulai khawatir tentang masa depannya, apalagi melihat berita di tv ttg narkoba, pelecehan seksual, krn tidak selamanya kita bisa mengawasi anak ya bun. dan mungkin hanya ALLAH lah satu-satunya tempat bersandar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Benar, Mbak, disamping pengawasan dan bimbingan aqidah, hanya Allah Yang Maha Penentu segalanya. :)

      Hapus
  12. oh ya mba wylvera, saya suka design blognya. simple, tidak banyak gambar, mudah mencari artikel2 lain. yang penting isinya ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, jadi malu. Ini designya sudah lama dan gak diganti-ganti. Alhamdulillah, kalau suka, Mbak. Makasih. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...