Sabtu, 12 September 2015

Ketika Obsesi Berubah Haluan




يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (QS. Luqman: 17)

Ayat ini mengingatkan saya pada obsesi yang sudah sekian lama belum terwujud. Satu keinginan yang akhirnya membawa saya ke sebuah bangunan luas dengan pagar tembok tinggi mengelilinginya. Kita lebih mengenalnya dengan kata penjara. Kini, namanya sudah berubah dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Pria Tangerang. Saya sangat setuju dengan kebijakan baru mengubah nama tersebut. Perubahan sebutan menjadi “pembinaan” akan memberikan kesan lebih mendidik.

Kenangan saat saya memberi mereka pelatihan dasar tentang menulis
Lalu, apa obsesi saya yang belum terwujud itu? Ya, awalnya saya ke sana membawa status dan profesi sebagai penulis (lebih kerennya trainer menulis). Saya pun telah menyediakan waktu di beberapa kali pertemuan untuk memberi pelatihan menulis kepada anak-anak di sana. Ada beberapa tulisan mereka yang masih saya simpan sampai sekarang. Namun, untuk mengubahnya menjadi kumpulan cerita pada sebuah buku, belum memenuhi syarat. Itu yang membuat angan-angan saya belum terpenuhi hingga hari ini.
Saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan. Namun, Allah menggiring niat saya untuk lebih memperhatikan hal yang lebih urgent ketimbang sekadar mengajarkan mereka menulis. Saya tidak bisa melawan taqdir Allah. Obsesi saya ingin mengumpulkan tulisan mereka menjadi kumpulan kisah akhirnya harus di-pending. Saya mengubah haluan dengan melebur bersama kegiatan teman-teman GPR (Gerakan Peduli Remaja) yang telah mengenalkan saya pada LPKA itu sejak 2012 lalu. 
Acara buka puasa dan tarawih bersama Imam Palestina (dokpri)
Rutinitas GPR berkunjung dan memberi layanan konseling, dakwah, pembinaan mental, belajar sholat dan membaca Al Qur’an, membuat saya tergerak untuk mengubah tujuan. Meskipun mengajarkan menulis tak kalah mulia dari semua layanan yang diberikan GPR kepada anak-anak LPKA itu, menurut saya saat ini mereka membutuhkan pendampingan yang lebih spesifik. Saya dan GPR hadir sekali dalam seminggu untuk mendampingi mereka layaknya orangtua yang rindu pada anak-anaknya.
Selain itu, GPR juga sesekali menggelar event dengan menggandeng mantan artis/aktor yang telah hijrah dari kehidupan glamour serta mengundang Ustad untuk memberikan dakwah dan siraman rohani. Ya, sepertinya saya sudah semakin melebur pada visi dan misi yang sangat mulia itu. “Begitu indahnya menggarap ladang amal jika hati dipenuhi keikhlasan,” pikir saya saat itu.
Bersama GPR, kini saya turut mendampingi, mendengar, memberi nasihat, contoh tauladan, serta menyediakan hati untuk anak-anak kurang beruntung itu menumpahkan keluh-kesahnya. Meskipun mereka bukan anak-anak kandung saya, arti ayat di atas merupakan salah satu penyulut gerak hati saya yang paling kuat. Obsesi saya tidak lagi sekadar ingin berbagi pengalaman dan keterampilan menulis, tapi lebih pada memberikan pencerahan agar mereka mengerti arti kata mungkar itu.

Melihat dengan mata hati
Tidak ada anak yang terlahir nakal. Perkembangan karakter mereka tentu melalui proses panjang. Lalu, di mana mereka menjalani proses panjang yang menjadi standar ukurnya? Jawabannya adalah keluarga dan lingkungan. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan jika akhirnya mereka terperangkap pada perbuatan yang melanggar hukum. Mari kita melihatnya dengan mata hati.
Dulu, sebelum mengenal dan mendengar kisah hidup mereka, saya pun sempat memandang sinis. Saya menganggap bahwa mereka terlalu cengeng, ingin mendapatkan kenikmatan dengan jalan pintas, tidak ikhlas menerima garis hidup yang kurang beruntung, dan lain sebagainya. Namun, begitu mendengar cerita dan alasan mereka melakukan semua itu, hati saya sontak seakan dicubit. Sakit. Sikap saya berbalik iba, prihatin, dan ingin sekali membantu mengeluarkan mereka dari alam pikir yang keliru itu.
Sesi sharing dan konseling  (dokpri)
Setiap Selasa, saya pun berkomitmen untuk mengosongkan jadwal demi bergabung bersama teman-teman GPR. Kami bersama-sama menyusun program, memilih materi yang pas, dan memosisikan diri layaknya seorang Ibu. Ya, teman-teman GPR semuanya perempuan yang memiliki niat tulus Lillahi ta'ala. Ada Suci (sebagai ketua), ada Lisya, Edas, Sarah, Ratna, Indah, Ajeng, Ningsih, dan saya sebagai anggotanya. Kami sudah seperti keluarga yang sama-sama memiliki rasa kepedulian untuk membantu menyelamatkan anak-anak LPKA itu menuju perbaikan mental, moral, serta aqidahnya.
Apa yang kami rasakan tidak lagi karena efek melihat anak-anak itu dari sekadar lewat penilain kasat mata. Lebih pada ikatan hati yang ingin memberi tuntunan agar mereka bisa melihat dunia dan kehidupannya dari ajaran agama (Islam) yang dianutnya. Keyakinan bahwa Allah Swt, Tuhan yang diimaninya tidak meningggalkan mereka. Keberadaan mereka di sana hanyalah teguran pada khilaf yang telah mereka lakukan. Dan, jika memahami makna kata bertaubat, Allah Swt. akan memberi jalan terang untuk mengubah kehidupan mereka.

Rencana selepas masa hukuman
            Sebuah perbincangan di sesi konseling mengingatkan saya pada janji Allah Swt. di beberapa firman-Nya. Antara lain;
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53).
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-A’raf: 153).

Dari ayat-ayat ini, saya dikuatkan untuk menyimak, menyampaikan, memotivasi anak-anak yang saat itu tinggal menunggu masa hukumannya berakhir.
            “Saya sebentar lagi mau keluar, Bunda,” ujar si A dengan nada menggantung.
            “Apa rencana kamu setelah bebas nanti?” tanya saya memancing semangatnya.
            “Itu dia, Bunda. Masih bingung mau ngapain,” balasnya menyambung nada yang menggantung tadi.
            “Kamu masih punya keluarga ‘kan?” saya terus menggiringnya agar berpikir jernih.
            “Kalau orangtua nggak di sini. Saya nanti pulang ke rumah Om. Cuma bingung mau kerja apa lagi ya, Bun? Kan sudah nggak sekolah. Sudah tamat,” jawabnya mulai galau.
            “Pasti ada pekerjaan yang menghasilkan uang yang halal. Memang tidak banyak dan bisa buat kamu beli ini dan itu. Tapi, penghasilan yang kecil itu bisa menjagamu dari hal-hal berisiko seperti sebelumnya. Punya uang halal dari kerja yang halal itu pasti rasanya lebih nikmat dan aman. Kamu tidak perlu sibuk mikirin kalau-kalau tertangkap, apalagi belum gelisah dan sibuk sembunyi-sembunyi. Yang terpenting, kamu tidak dihantui rasa berdosa karena Allah Maha Melihat, Dia tidak pernah tidur. Kamu paham maksud Bunda?” papar saya agak sulit memilih kata-kata.
            “Iya sih, Bunda. Saya malah kalau keluar, pertama kali mau ke masjid. Siapa tahu saya ditawari pekerjaan menjaga masjid, bersih-bersih masjid,” ujarnya di luar dugaan saya.
            Kerongkongan saya tercekat sesaat. Sekuat tenaga saya menahan agar  si A dan teman-temannya tidak melihat mata saya berkaca-kaca. Saya sedang duduk memosisikan diri sebagai Ibu mereka. Saya tidak boleh cengeng.
Saya buru-buru melanjutkan obrolan.
            “Masya Allah, itu rencana yang mulia banget. Senang Bunda dengarnya.”
            Begitulah ....
Itu bagian obrolan saat sesi konseling yang terkadang membuat hati saya berulang-ulang bertakbir, memuja kebesaran Allah. Masih banyak perbincangan lain yang lebih mengguncangkan perasaan. Setiap Selasa, selalu ada saja cerita penuh hikmah yang saya bawa pulang dari sana. Itu pula yang semakin menguatkan hati saya untuk terus menjalin ukhuwah bersama teman-teman GPR.   Merekalah (GPR) yang telah membuka mata hati saya. Semoga Allah Swt. semakin mempererat rasa kasih dan kebersamaan diantara kami dalam berkah dan ridho-Nya.

Satu dari mereka baru saja bebas (dokpri)
Saya selalu bermohon agar Allah Swt. tidak murka jika sesekali saya masih memikirkan obsesi untuk membukukan tulisan mereka. Namun, mungkin saya harus menyelam lebih jauh dan membaur lebih lama serta memahami apa yang anak-anak itu rasakan. Sehingga ketika kisah-kisah yang mereka tulis dibukukan, akan memberi inspirasi lebih dalam bagi pembacanya. Semoga.... [Wylvera W.]
           

Senin, 07 September 2015

GPR Piknik ke Ancol



Pengin nyemplung liat air ini (dokpri)

            Rencana piknik ke Ancol sebenarnya tercetus begitu saja. Tidak terlalu serius. Obrolan buat piknik dan jalan-jalan itu mengalir di sela-sela gurauan. Kemacetan di tengah perjalanan menuju pulang dari kegiatan rutin kami di Lapas Anak yang namanya kini berubah menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), memunculkan ide untuk refreshing.
“Yang dekat-dekat aja,” usul salah satu dari kami.
Keesokan harinya, diskusi pun berlanjut. Setiap kali kami membahas tentang program kerja Gerakan Peduli Remaja berikutnya, ujung-ujungnya berakhir pada pembahasan piknik. Akhirnya Pantai Ancol mendapatkan suara terbanyak saat penentuan destinasi di grup whatsapp.
            Kami memutuskan untuk meliburkan jadwal rutin ke LPKA di hari Selasa, 1 September 2015 lalu. Alasannya pun tepat. Seminggu sebelumnya, kami telah sukses menggelar acara bersama Dik Doank dan kawan-kawannya untuk anak-anak LPKA. Wajarlah, kalau kami butuh rehat demi mengumpulkan amunisi baru lagi untuk menjalankan program GPR berikutnya.
            Sesuai dengan kesepakatan, kami pun memutuskan untuk berkumpul di Pondok Kelapa (rumah Bunda Suci, Ketua GPR). Setelah semua hadir, sekitar jam delapan pagi dengan mengendarai mobil saya, kami siap menuju Ancol. Untunglah tol tidak terlalu padat sehingga kami tiba di lokasi sesuai dengan target.
            Tiket sudah dibeli di pintu masuk. Tujuan kami bukanlah Dufan atau objek wisata lainnya yang ada di kawasan Ancol. Kami hanya ingin sekadar menikmati pantainya saja. Suci memutuskan untuk mencari lokasi yang teduh untuk menggelar tikar. Saya diarahkan menuju Beach City Mal. Saya belum pernah ke sana. Suci bilang, di sana pantainya jauh lebih bersih dan pasirnya putih. Ada juga tempat yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai.
            Tibalah kami di tempat parkir di luar mal. Setelah menurunkan semua bekal makanan, dengan percaya diri kami menuju jalan masuk menuju area pantai di sisi mal tersebut. Begitu ingin masuk, kami dicegat oleh Pak Satpam. Kami tidak diizinkan masuk dengan membawa makanan.
Saya nyaris tertawa ngakak. Bayangkan saja. Kami yang sudah menenteng-nenteng makanan,
dengan tidak mengurangi rasa hormat, Pak Satpam meminta kami meninggalkannya di mobil. Oh, no! Trus untuk apa makanan itu dibawa? Dari pada bersikeras, akhirnya kami menerima peraturan itu dan kembali ke mobil lalu mencari lokasi lain.

Tongsis beraksi :p
Airnya bening dan menggoda bangeeet ^_^

Alhamdulillah, kami mendapat tempat yang strategis, dekat dengan toilet, bersih, dan pantainya juga lumayan bersih. Tikar yang saya bawa dari rumah pun dibentangkan. Sebelum menikmati air laut di tepi pantai, kami pun menyantap makanan yang dibawa. 

Makan siang empit-empitan tapi enyaaak ^_^ 
Walau tikarnya tidak terlalu lebar dan kami harus duduk bersempit-sempit menikmati nasi kuning lengkap dengan ayam goreng dan kering tempenya, tetap saja nikmat dan nyaman. Ketan serundeng yang saya bawa pun nyaris habis.  Kebersamaanlah yang membuat hati kami lapang dan bahagia.

Naik kapal besar nggak punya uang, naik kapal kecil ya goyang-goyang
            Sejak masuk ke erea parkir kedua, sebenarnya kami sudah ditawari untuk berperahu ke Sungai Musi sekitar area yang tidak jauh dari pantai. Waktunya hanya 30 menit. Tukang perahu menawarkan harga 200 ribu untuk kami berdelapan. Teman-teman menawar setengahnya. Akhirnya tawar-menawar berakhir pada harga 160 ribu alias dihitung 20 ribu per orang.
 
Sarah dan Edas
Saya dan Lysa lomba kecepatan .... wkwkwkwk
            Setelah selesai makan dan sholat Zuhur, kami tidak langsung naik perahu. Ragam alat olahraga yang disediakan di dekat mushola menarik perhatian teman-teman GPR. Tidak terkecuali saya. Benar-benar seperti kembali ke masa kecil. Beberapa alat yang ada kami coba dan terjadilah kelucuan yang menyenangkan. 

Lihatlah wajah-wajah ceria kami
Tongsisnya kereeen! #Eh

            Selepas itu, tukang perahu kembali mengingatkan untuk segera naik. Kami pun bergegas menuju dermaga kecil, tempat perahu ditambatkan. Perjalanan menuju laut Ancol pun dimulai. Tongsis yang saya bawa pun sangat berfungsi mengabadikan beragam momen. Mulai dari foto-foto narsis, merekam keindahan laut, hingga saya pun iseng bermonolog dengan logat Batak. Sempurnalah kelucuan yang kami rasakan. 

Bebas di laut lepaaas...!
Ini setelah berakting. Wkwkwkwk....
            Tiba-tiba, tukang perahu mengajukan tawaran untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai Marina. Syaratnya, kami harus menambah 40 ribu lagi. Tanpa pikir panjang kami pun menyetujui. Perahu mesin mulai bergerak menuju laut yang lebih luas. Apa yang terjadi saudara-saudara? Canda dan tawa mendadak berhenti. Perahu terasa bergoyang lebih kencang dari sebelumnya.
Semakin ke tengah semakin kencang goyangannya. Tanpa diperintahkan, kami pun duduk merapat. Melihat ombak yang semakin kuat menggoyang perahu, akhirnya saya dan teman-teman berseru, “Pak, kembali saja ke dermaga! Gak usah jadi ke Marina!” Mendengar seruan kami, perahu pun segera berbalik arah. Kami tidak mau mengambil risiko. Bersama kami ada dua anak kecil. Kalau terjadi apa-apa ... duh, saya nggak berani membayangkannya.

Pose of the year :p
Akhirnya kami pun kembali ke dermaga. Hari semakin siang. Kami tidak ingin terjebak kemacetan tol jika pulang bersamaan dengan jamnya orang-orang pulang kerja. Namun, daya tarik eskrim di AW menunda kepulangan kami. Sambil menikmati eskrim di tengah gerahnya udara Ancol siang itu, kami memutar hasil rekaman. Kelucuan dan tawa tidak bisa dihindari kembali. Apa yang terekam di hape Suci, membuat kami sibuk memilih mana yang boleh dan tidak untuk dipublish. Sstt ... salah satunya aksi panggung monolog saya di atas perahu. Hahaha .... jangan maksa ya minta diposting! Bahaya itu. Bisa merusak reputasi. *simpan videonya buru-buru*
Begitulah, piknik bersama GPR akhirnya berakhir manis dan meninggalkan kesan yang susah buat dilupakan. Semoga kebersamaan itu mampu menyulut semangat yang lebih besar lagi untuk GPR dalam melanjutkan kegiatan sosialnya di LPKA. Aamiin. [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...