Selasa, 10 September 2013

My Dear Daughter....




Yasmin Amira Hanan
Anakku....
Melihatmu adalah berjuta bahagia buatku
Ceriamu adalah luapan pelipur laraku
Air matamu adalah tumpukan gundahku
Ibadahmu adalah pelindung dan penyelamatku
Meski tak selalu terucap dalam kata-kata
Sayang dan cintaku kerap ada dalam doa
Tetaplah menjadi anak Ibu yang manis dan soleha
Agar tak hanya di dunia kita bersama

Ketika kau masih di dalam kandungan Ibu, Bapak selalu menduga kalau yang ada di dalam perut Ibu adalah anak laki-laki. Semakin hari bapakmu semakin dibikin penasaran karena dokter kandungan yang memantau perkembanganmu dalam rahim Ibu masih bertahan tak mau memberitahu jenis kelamin dirimu. Tapi, sebenarnya Ibu sudah merasakan bahwa ada calon bayi perempuan mungil dalam perut Ibu.
Begitulah, Nak... bapakmu lalu mencarikan nama anak laki-laki sebagai persiapan menyambut kelahiranmu. Nama itu cukup bagus sebenarnya, Bagus Abian Wicaksana, tapi keyakinan Ibu semakin besar ketika hari-hari kelahiranmu semakin dekat bahwa kamu adalah anak perempuan. Dan, benar saja... ketika wajahmu muncul, bapakmu tanpa sadar berucap, “Oh, Alhamdulillah... perempuan rupanya, Wiek.” Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
Bapakmu memang cekatan, begitu dia tahu kalau anaknya lahir sebagai bayi perempuan cantik yang montok, dia segera menemukan nama Amira Hanan untukmu. Lalu, Ibu melengkapi nama itu dengan tambahan Yasmin di depannya. Lengkaplah kami memanggilmu Yasmin Amira Hanan. Dokter dan perawat di rumah sakit itu sempat memuji namamu yang indah. Alhamdulillah, saat itu ibu pun tak henti berdoa semoga akhlakmu jauh lebih indah dari nama yang kami berikan.
Sebagai anak pertama Ibu dan Bapak, sekaligus cucu pertama dari Kakek dan Nenek, waktu itu kehadiranmu tentu saja seakan sebuah permata yang berkilau. Perhatian dan kasih sayang kami tercurah untukmu. Dan, kau pun tumbuh menjadi anak yang periang, lincah, kreatif serta menggemaskan. 
Suatu hari, kala itu usiamu baru sekitar lima tahun. Tapi, entah pemicu dari mana dan mungkin saat itu Ibu terlalu lelah, tiba-tiba kenakalanmu sulit Ibu tolerir. Ibu sempat memukul kakimu dengan ikatan sapu lidi. Kamu menangis tersedu-sedu dan dalam isakanmu kau berkata, “Ibu jahat!” Kau tahu, Nak... saat itu hati Ibu hancur berkeping-keping. Ibu ingin segera memelukmu, tapi entah bisikan syetan mana yang menahan Ibu untuk tak segera memelukmu. Bisikan itu mengatakan, bahwa Ibu perlu menghukummu kalau kamu nakal.
Ketika rasa lelah sempurna menguasaimu karena menangis, akhirnya kamu tertidur lelap. Saat itulah, Nak... Ibu memandangi wajahmu berlama-lama sambil sesekali mengelap air mata penyesalan yang menetes di pipi Ibu. Ibu mengelus betismu yang tadi sempat tersambit oleh sapu lidi. Rasanya Ibu tak sabar menunggu kau terbangun dan mengucapkan permohonan maaf serta memelukmu. Dengan hati penuh harap, Ibu sabar menunggu kau terbangun sambil sesekali mengelus kepala dan punggungmu.
Begitu kau membuka mata, Ibu tak mau menunggu lama dan mengatakan, “Maafin, Ibu ya.” Matamu masih menerawang menatap wajah Ibu. Lagi-lagi Ibu tak mau menyia-nyiakan waktu, tubuhmu Ibu raih dan peluk seerat mungkin demi menebus semua kesalahan dan kekasaran Ibu. Rasa haru semakin membuncah ketika pelukan Ibu kau sambut dengan hangat seolah kau sudah lupa dengan kekejaman yang baru saja Ibu lakukan padamu. Ah, kalau ingat itu, rasanya Ibu ingin sekali mengulang waktu agar kejadian itu tak ada dalam catatan hati Ibu dan dirimu. Sungguh, Ibu menyesal....
Betapa cepat waktu melaju. Sekarang, kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Banyak waktu dan cerita yang sudah kita lewati bersama. Ketika dulu kau sakit, terjatuh, tertawa, sampai kegembiraan yang meluap-luap saat kau menerima beberapa piala adalah kenangan yang selalu indah untuk Ibu kenang. Kau memang selalu mengisi hari-hari Ibu dengan pesona kreativitas yang Allah berikan untukmu, Nak. Semoga budi pekertimu pun tumbuh seiring dengan kreativitas itu.        
          Saat kau tumbuh remaja dan mulai terbuka bercerita tentang teman laki-laki sekelasmu atau sahabat perempuan di sekolah yang terkadang membuatmu kesal dan ingin marah. Lalu, ketika tanpa terelakkan kita tiba-tiba berdebat tentang sebuah prinsip, lagi-lagi itu membuat Ibu semakin belajar memahamimu, anakku. Semoga proses itu terus kita nikmati bersama.
Kau ingat, ketika pertama kali mendapatkan haid pertamamu? Kala itu kau masih duduk di fifth grade elementary school. Waktu itu kita masih berada di Urbana Illinois Amerika. Kau sempat menolak tanda akil baliqmu itu dan mengatakan, “Kenapa kok cepat banget sih? I’m ashamed! Kakak gak mau ke luar apartemen!” ujarmu panik.
Ibu tak mau membiarkanmu larut dalam kepanikan itu. Dengan menyimpan rasa lucu sebenarnya, Ibu memberi pengertian kepadamu bahwa seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT. Darah yang keluar dari tubuhmu itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepadamu agar kau semakin belajar untuk menjaga diri, semakin bertaqwa dan menjaga auratmu. Artinya kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Mendengar penjelasan Ibu, sikapmu tidak langsung berubah, kau masih malu-malu turun dari mobil ketika Ibu mampir ke apartemen teman waktu itu. Kau lebih memilih menunggu di mobil. Lucu rasanya kalau ingat itu.
“Aku nggak mau orang lain tahu kalau aku berdarah,” ucapmu lugu membuat Ibu berusaha menahan tawa. Namun, situasi itu tidak lama. Kau memang anak Ibu yang cerdas. Akhirnya kau mau menerima dan mulai terbiasa dengan tanda kegadisan itu.
Anakku sayang, kau tahu... ketika berada di sampingmu ada waktu-waktu yang sejujurnya membuat Ibu ketakutan tapi sekaligus berusaha ikhlas dan pasrah? Yah, saat itu adalah ketika melihat dirimu sakit dan terbaring lemah. Dulu, ketika kau masih kecil, Ibu begitu cemas ketika kau harus dirawat di rumah sakit. Hati Ibu tak pernah lepas dari doa agar kau segera pulih dan kembali bermain dengan riang gembira. Saat-saat itu Ibu pikir sudah kita lewati, Nak. Tapi, Allah SWT ternyata masih sayang kepadamu dan Ibu.
Belum lama ini, Ibu kembali dihadapkan pada kecemasan yang luar  biasa berat Ibu rasakan. Rasanya baru saja kita bersuka-cita merayakan hari kelahiran dan pertambahan usiamu menjadi 15 tahun di bulan Juni 2013 lalu, tiba-tiba kau kembali jatuh sakit. Ketika itu dunia terasa runtuh di atas kepala Ibu, Nak. Ibu berusaha tegar mendengar diagnosa dokter yang menyimpulkan bahwa di empedumu saat ini tengah menyimpan batu kecil berdiameter 0,8 centimeter. Itulah yang membuat kita sama-sama menikmati malam-malam puasa di rumah sakit itu. Tidak hanya itu, hasil endoskopi menunjukkan bahwa lambungmu juga bermasalah. Dari diagnosa itu kau pun harus menjalani terapi obat dan diet ketat.
            Hasil diagnosa itu membuatmu harus kembali mengkonsumsi obat secara rutin setelah kau sempat menghentikannya di pertengahan 2013 lalu. Proses dan serangan rasa sakit yang kau derita saat itu membuat hati Ibu terasa tercabik-cabik. Erangan suaramu saat berjuang menahan rasa perih di lambung dan perutmu yang kram serta wajahmu yang pucat pasi menekan beban nyeri di ulu hati, membuat Ibu ingin meminjamkan semua organ tubuh ini untukmu. Dan, kalau saja mungkin, Ibu ingin sekali menggantikan kesakitanmu itu, Nak. Sungguh....
             
          Ibu ingin menuntaskan curahan hati ini kepadamu, Nak. Sebelas hari kebersamaan kita di rumah sakit itu membuat nyali Ibu pasang surut. Ketakutan Ibu semakin memuncak ketika malam itu rasa nyeri itu kembali menyerangmu sehingga para perawat bergegas memasangkan selang dari tabung oksigen ke hidungmu. Kau tahu, Nak... sekali lagi Ibu ingin memelukmu sekuat-kuatnya saat itu. Ingin memohon kepada Sang Maha Pengasih untuk menggantikan semua kesakitan yang kau rasakan ke tubuh Ibu. Tapi, Ibu terus berusaha menegarkan rasa, memupuk ikhlas dan rasa menerima bahwa semua ini harus kita lewati bersama-sama. Allah punya rahasia untuk kita, Nak....
            Mira, anakku sayang... In shaa Allah, setelah apa yang kita alami, membuat Ibu semakin dekat dan menjagamu dengan segenap jiwa raga. Ibu akan terus memberikan yang terbaik demi kesembuhanmu, demi angan-angan dan cita-citamu yang tinggi. Ibu ingin melihat kau meraihnya. Ibu ingin melihat stetoskop itu tergantung di lehermu. Iya, Kak... Ibu akan berusaha mendampingimu hingga kau meraih profesi dokter itu. Teruslah berjuang, anakku sayang... Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu. Terutama Ibu, luapkan segala rasa yang ingin kau tumpahkan. Ibu selalu siap untukmu, In shaa Allah.
Semoga Allah SWT memberikan waktu itu untuk kita, anakku. Aamiin. []  



Untuk Mak Dian Ekawati Suryaman salam kenal, sebagai salam perkenalan kita, aku mempersilakan dirimu membagi catatan hatimu bersama putri kesayanganm, ya Mak. :)

       

29 komentar:

  1. semoga Allah selalu memberikan kesehatan pada yasmin, nama yg bagus ..terharu sekali mbak saya baca postingan ini :), salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin YRA, makasih Mbak. :)
      Salam kenal kembali ya Mbak.

      Hapus
  2. Tuh kan.. Selalu deh mewek kl baca #deardaughter.. Ur both are amazing :) punya anak perempuan tu memang menyenangkan ya nak.. Semoga mira cpt sembuh :)
    Salam kenal dr Surabaya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Aamiin... makasih doanya ya, Mak. *salam kenal kembali dari Bekasi*

      Hapus
  3. Hiks.. nangis aku, Mak. Semoga Mira selalu sehat, juga Makmaknya, ya.. *peluk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih Mak dan maaf sudah bikin dirimu menangis baca ini. *peluk balik*

      Hapus
  4. Speechless aku, Mak. Setiap ibu punya kisah tersendiri akan kebersamaan dan kasih sayangnya terhadap anandanya, terhadap anak gadisnya. Semoga Mira senantiasa berada dalam limpahan berkah dan lindungan Allah SWT, menggapai cita-citanya dan menjadi kebanggaan ayah bunda, agama dan bangsa ini, ya, Mak. Trims sudah berbagi. :) Tetap ada haru dan sakit di tenggorokan setiap membaca #DearDaughter maupun #DearSon para emak KEB.

    Kita memang wanita [ibu2] hebat ya, Mak. :) Tegar dan pantang menyerah dalam mempersembahkan kasih sayang dan hal terbaik bagi putra/putri kita. Semoga Allah senantiasa memberkahi kita dan keluarga, Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu namanya naluri Ibu ya Mak sebab kitalah yang paling mengerti tentang anak-anak kita, sehingga setiap kali membaca cerita tentangnya pasti akan memancing rasa haru. Aku semalam menyelesaikan ini sambil bolak-balik tarik napas, dan kalau mau jujur sebenarnya jari-jariku masih ingin mengurai lebih panjang lagi, karena rasanya tak aada akhir dari kebersamaan ibu dan anak itu, Mak.

      Btw, Aamiin... thanks doa dan supportnya ya. *hug*

      Hapus
  5. Dag..dig..dug....menerima tongkat estafet dari Mak Wylvera yang amazing ini....Salam kenal Mak...Semoga diriku bisa menceritakan sebaik emak-emak lainnya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... iya, aku pasti mampir di curhatanmu Mak. :)

      Hapus
  6. Mak Wik, kerbersamaan kita dengan anak adalah cerita kehidupan. Tak akan terulang, jadi hanya bisa simpan dalam satu kotak kecil bernama memori disalah satu ruang di hati kita ya, mak. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mak Elisa dan bersyukurnya Mak Indah meminta kita menorehkannya di ruang catatan masing-masing sehingga suatu hari nanti ini menjadi kenangan indah buat kita dan anak-anak kita tentunya.

      Hapus
  7. Ikatan yang dijalinkan Allah memang luar biasa ya. Terharu membacanya. Semoga kakak Mira bisa meraih cita-citanya dengan didampngi Ibu dan Bapak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin YRA, terima kasih ya, Mbak Niken. :)

      Hapus
  8. Dear kaka mira sayang,...
    Tetap semangat untuk sembuh ya, jaga kesehatan selalu.
    Insyaallah cita2mu terwujud.
    Catatan hati yang indah mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih Tante Irma (Emaknya mewakili Mira).
      Menulis ini seperti merajut cinta yang kian mendalam Mak. :)

      Hapus
  9. Rasanya mak-JLEB membaca tulisan-tulisan dear daughter & dear son. Termasuk tulisan ini. Semoga putrinya lekas sembuh :)

    BalasHapus
  10. Semua doa indah udah dikomenkan teman2 diatas. Rasanya saya cukup meangaminkan semuanya dan hanya ingin bilang ibu dan anak dua-duanya sama2 cantik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih Mak Hana. :)

      Hapus
  11. Aku nangis mak, ketika memukul kaki anakmu. Menjadi Ibu memang tdk ada yg sempurna, tapi ketika anak sedang tidur, penyesalan kita akan apa yg telah kita lakukan pada anak, seakan hadir menyesakkan dada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saat itu aku sedang megang sapu lidi buat bersihin kasur jadi refleks, Mak. Duh! Kalau ingat itu rasanya aku pengen nyambit kakiku sedniri. T_T

      Hapus
  12. HIks...kita tidak pernah tahu akan bagaimana dan seperti apa nak kita kelak. Ya Allah..rasanya sedih, pedih dan em...enggak bisa diungkapkan ketika tahu anak kita sakit. Aku juga gitu, waktu Faiz sakit, rasa bersalah timbul ketika ingat...pernah keras ke Faiz.

    Sehat selalu ya sayang,

    BalasHapus
  13. Semoga Mira akan selalu sehat dan mampu menjadi dokter spt yang diharapkan Mak...
    Memang setiap kali anak sakit, Mama pasti akan merasa ikut sakit juga... dan berharap andai saja mampu menggantikan menanggung semua rasa sakit itu, ya Mak.
    Mira pasti sangat terharu membaca surat penuh cinta ini, Mak.
    Salam kenal dari Madiun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih doa dan dukungannya, Mak. Suatu saat nanti dia bisa membacanya.
      Salam kenal kembali dari Bekasi. :)

      Hapus
  14. Emang ya, nggak bisa nggak mewek kalo baca surat cinta. Semoga sehat terus ya anak cantik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama saja dengan waktu menuliskannya. Aamiin, makasih Tante (mewakili Mira). :)

      Hapus
  15. Walau sudah tahu ceritanya langsung, tapi membacanya tetap membuncahkan rasa haru. Terima kasih sudah mau berbagi cerita tentang Yasmin di #DearDaughter ya, Wik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga makasih banget karena dirimu sudah membuka, mengingatkan dan memberi kesempatan kepada kita-kita (Emak2 Blogger) berbagi rasa di surat cinta ini, Indah. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...