Jumat, 19 Juni 2015

Berkah dalam Berbagi



Bersama para siswi SMP Islam Dewan Dakwah (dokpri)
Dulu, setiap kali diminta untuk memberi pelatihan menulis untuk anak-anak, selalu ada rasa tidak percaya diri di benak saya. Pengalaman dan kemampuan saya rasanya belumlah memadai untuk itu. Namun, melihat besarnya minat yang meminta, kok rasanya gak tega menolak. Maka saya pun bergerak dari niat ingin berbagi itu. Bukankah tak harus menunggu punya ratusan buku dulu baru bersedia berbagi ilmunya. *CMIIW*
Sejak itu, saya pun semakin bersemangat berbagi apa yang saya tahu. Dan senangnya, yang sedikit dari saya itu selalu dirasa besar manfaatnya bagi mereka yang mengikuti pelatihan. Dari sedikit yang saya bagi itu, mampu memicu semangat anak-anak itu untuk memulai menulis. Kenyataan ini membuat saya semakin percaya diri. Di samping itu, saya terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tentang menulis (khususnya menulis cerita). Dari yang lebih ahli tentunya. Sebab, di atas langit masih ada langit kan? ^_^
Pada hari Selasa, 8 Juni 2015 yang lalu, saya kembali diminta oleh teman untuk berbagi ilmu (biar keren saya sebut ilmu dong ya, hehehe) dan pengalaman menulis. Teman saya itu kebetulan guru di SMP Islam Dewan Dakwah yang berlokasi di Komplek Pusdiklat Dewan Dakwah, Setiamekar, Tambun Selatan, Bekasi.
Tidak terlalu lama saya berpikir untuk menerima tawaran itu. Terlebih saat mengetahui kalau yang akan saya ajari adalah murid-murid soleha yang semuanya perempuan. Mereka itu katanya sudah terlatih berdakwah, namun tetap haus akan ilmu menulis. Wah! Ini akan menjadi pengalaman baru lagi buat saya. Berbagi ilmu menulis kepada anak-anak yang sehari-harinya sudah dilatih untuk terampil berorasi. Saya harus mampu menyajikan materi dengan apik. Tantangan banget buat saya.
Tibalah hari ‘H’. Saya hadir lebih cepat dari waktu yang diminta. Tak apa. Saya jadi punya waktu untuk beradaptasi dengan lokasi acara. Saya juga bisa menyempatkan diri mengenal beberapa guru sebelum berhadapan dengan sekitar 70 murid yang semuanya perempuan itu. 
Sambutan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan (dokpri)
Sambutan Kepala Sekolah dan sekaligus membuka acara pelatihan (dokpri)
Acara yang dikemas sedemikan rapi oleh pengurus OSIS (mereka menyebutnya Lajnah Banatil Yaum). Saya kagum pada anak-anak SMP itu. Dari Pembawa Acara hingga kata sambutan Ketua Lajnah yang tampil, memberikan gambaran yang sesuai dengan tempat mereka bersekolah. Kalimat yang mereka gunakan sangat terangkai dengan rapi. Lancar dan mengalir.
Saya deg-degan? Ya ... sedikit.
Akhirnya setelah moderator selesai membacakan profil dan CV saya, waktu pun saya ambil alih. Bismillah ... saya berdoa dalam hati. Semoga cara saya menyajikan materi tentang kepenulisan mampu klik ke mereka. Saya buka dengan salam dan motivasi awal tentang pentingnya keterampilan menulis untuk melengkapi profesi. Semua tekun menyimak. Pelan-pelan rasa deg-degan yang tadi muncul menghilang. Saya mulai melebur dengan mereka.
Lihatlah betapa tekunnya mereka menyimak ^^(dokpri)
Saya pun bersemangat menjelaskan (dokpri)
Setelah materi motivasi selesai, saya mulai masuk ke teknik menulis. Mulai dari menemukan dan memilih ide serta mengemasnya menjadi sebuah cerita yang menarik. Belum ada pertanyaan. Mereka masih fokus pada pemaparan saya. Hingga sampai pada penentuan nama dan karakter tokoh, barulah mereka merespon.
“Bolehkah kita membuat cerita dari kisah nyata tapi dibikin fiksi?”
“Bagaimana cara memilih ide yang menarik jika ide itu banyak sekali?”
“Apakah karakter tokoh utama harus selalu baik?”
Dan, masih banyak lagi pertanyaan yang mereka ajukan sebelum masuk ke sesi praktik pertama. 
Membacakan nama dan karakter tokoh (dokpri)
Saya jelaskan bahwa sah-sah saja jika mereka mau mengambil ide ceritanya dari kisah nyata. Selama nama tokoh dan detail cerita aslinya sudah diubah ke dalam format fiksi. Saya berikan beberapa contoh tentang cerita seperti itu.
Memilih ide di antara puluhan ide yang bermunculan di kepala kita, memang bukan hal yang mudah. Karena ide cerita yang kita punya belum tentu tidak dimiliki oleh orang lain. Maka kuncinya memang harus banyak membaca. Dari banyaknya bahan bacaan, kita akan terbantu untuk memilih dan mengemas  ide yang berbeda. Untuk melengkapi pertanyaan ini, saya kembali memberikan contoh dari satu ide yang sama tapi dikemas dalam sajian yang berbeda. Intinya jangan menjadi plagiator.
Untuk karakter tokoh, saya kembali menjelaskan bahwa tidak selalu karakter yang baik-baik itu melekat pada tokoh utama dalam cerita. Yang perlu diperhatikan adalah pergerakan/perubahan karakter tokoh utama itu. Dari buruk menjadi baik, atau sebaliknya. Karena dari sanalah cerita dibangun. Dari sana pula konflik muncul dan mampu mewarnai alur cerita.

Praktik membuat cerita, minimal dua halaman folio (dokrpi)
Mereka manggut-manggut menyimak pemaparan saya. Alhamdulillah ... saya semakin bersemangat. Inilah yang membuat saya selalu merasa keasyikan jika sudah berdiri di depan para peserta (terlebih anak-anak dan remaja). Jika apa yang saya bagi direspon dengan antusias, maka momen itu akan semakin mengasyikkan. 

Inilah mereka yang terpilih dari dua sesi praktik (dokrpi)
Saya kembali melanjutkan materi sampai tuntas ke bagian ending dan self editing. Setelah semua materi selesai, saya akhiri dengan sesi praktik kedua, yaitu menulis cerita dengan memasukkan tokoh dan karakter yang sudah mereka buat di praktik pertama. Cerita yang mereka buat merujuk pada ilustrasi yang sengaja saya buat acak sesuai dengan jumlah gambar para tokoh di praktik pertama. Akhirnya dari semua cerita, saya memilih tiga terbaik. Mereka mendapatkan buku karya saya sebagai hadiahnya.
Alhamdulillah, berkah itu selalu menyertai keikhlasan (dokpri)
Begitulah, kebersamaan di kelas pelatihan menulis itu akhirnya menghabiskan waktu sekitar tiga jam. Setengah jam sebelum masuk waktu zuhur, acara pun diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan untuk saya. Tidak hanya satu. Ada sertifikat, buku karya Bapak Kepala Sekolah, piagam dan lainnya. Wah! Saya terharu karena mereka begitu menghargai profesi saya. Masya Allah ... semakin berkah rasanya. 
Alhamdulillah, mereka memborong buku-buku saya dan Yasmin (dokpri)
Terima kasih untuk awal dan akhir yang manis ini. Semoga apa yang saya sampaikan bisa dimanfaatkan dan memicu semangat menulis kalian anak-anakku yang soleha. Aamiin. [Wylvera W.]


12 komentar:

  1. Pertanyaan2 dr adik2 begitu mengejutkan. Seumuran mereka lho. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saat usai praktik pun aku kaget baca karyanya. Sepertinya mereka sudah terbiasa menulis. :)

      Hapus
  2. Semoga kelak bermunculan penulis2 muda yang jago ya Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, iya semoga. Makasih, Mbak Rita. :)

      Hapus
  3. Iya mba, berbagi memang membahagiakan hati kita sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.
      Selalu ada terasa bertambah saat kita membagi ilmu yang kita punya, yaitu pengalaman. :)

      Hapus
  4. Ih, Banyak banget yah ternyata kalo dilihat dri foto bersama ^^ Syukron, Jazakillah Bunda wiwik ^^
    -Dapet salam dari anak Banat ^^ (SMP Islam Dewan Da'wah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Annisa.
      Wa'alaikumsalam....
      Salam kembali ya. Tetap semangat untuk menulis. Ditunggu karyanya. :)

      Hapus
  5. hebat mbak wiwiek selalu berbagi melalui pelatihan menulis, Semoga banyak penulis2 bagus muncul kaya mbak wiwiek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga lebih bagus tentunya, Lidya. ^_^

      Hapus
  6. Ungunya itu menggoda kalilaaa. *batuk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. I love purple! Hahahaha ....

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...