Sabtu, 13 Oktober 2012

Jadi Volunteer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF 2012)

        Menjadi volunteer sebenarnya bukan pengalaman pertama buat saya. Saya pernah merasakannya di event yang berbeda. Tapi, belakangan saya berfikir bahwa menjadi volunteer di acara bergengsi, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), merupakan pengalaman baru yang bagi saya pantas untuk dijajal.

Berawal dari obrolan di grup, terbesit keinginan untuk hadir ke acara UWRF 2012. Bukan sebagai volunteer atau sebagai pembicara/pemateri, melainkan sebagai peserta. Melihat acaranya yang begitu menarik, sayang rasanya untuk dilewatkan. Atas saran teman (Indah Juli-red), saya mencoba mendaftar secara online sebagai volunteer di website UWRF tersebut. Saya memilih di Children and Youth Program, karena saya memang merasa lebih enjoy jika ditempatkan di bagian itu. But, nothing to lose! Itu kesan yang saya rasakan saat mengisi formulir pendaftaran. Diterima, syukur... enggak pun tidak masalah.
Setelah mengisi aplikasi yang lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris itu, saya tak lagi memikirkannya. Sekitar seminggu setelah itu, ada informasi di e-mail saya yang mengatakan kalau saya diterima sebagai volunteer bersama 199 orang lainnya dari negara yang berbeda-beda.
Bingung dan sekaligus senang saya rasakan bersamaan. Senang, karena bakal merasakan pengalaman seru yang pertama dan bertemu dengan orang-orang dari beragam negara di ajang bergengsi itu. Bingung, karena ternyata tiket dan akomodasi ditanggung sendiri. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kebingungan saya pun terpecahkan. Suami mendukung 100%. Saya pun mulai mencari-cari informasi dari teman-teman yang pernah menjadi volunteer di acara itu. Alhamdulillah, beberapa informasi penting sudah saya dapatkan, termasuk penginapan dan transportasi selama di sana.
Singkat cerita, saya pun mempersiapkan diri untuk berangkat. Bersama seorang teman yang juga penulis (Dyah P. Rinni, yang akhirnya berhasil saya rayu untuk ikut serta menghadiri acara tersebut), kami berangkat bersama dari bandara Soekarno Hatta di tanggal 1 Oktober 2012. Keberangkatan sengaja saya percepat, karena ada orientasi di tanggal 2 Oktober yang mewajibkan volunteer untuk hadir. Dan, Dyah setuju mengikuti jadwal saya.
Tibalah saatnya saya bertugas sebagai volunteer di Ubud Writers and Readers Festival 2012. Dimulai dengan orientasi tugas  pada tanggal 2 Oktober 2012. Saya baru sadar, kalau ternyata pilihan saya saat mendaftar tidak sesuai dengan harapan. Saya tidak bisa ditempatkan di Children and Youth Program, karena volunteer di sana sudah penuh.
Awalnya ada sedikit rasa kecewa setelah tahu bahwa saya ditempatkan di Main Program. Tapi setelah mendengar informasi dari Radhinka Basuki (Assistant Volunteer Coordinator), bahwa dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, materi yang digelar di Main Program selalu menarik dan bernas, rasa kecewa saya berubah menjadi penasaran.


Left Bank, di sinilah pertemuan pertama (orientasi) para volunteer digelar.
Base Camp Volunteer
  Selepas orientasi dan mengikuti pembagian program, saya pun bergabung dengan teman-teman volunteer lainnya yang ada di Main Program untuk saling mengenal dan memperkenalkan diri. Dari sekitar dua puluh orang yang tergabung di program ini, kami dipecah lagi menjadi tiga kelompok berdasarkan tempat di mana kami akan bertugas. Tiga tempat itu adalah, Neka, Indus, dan Left Bank. Dan, saya kebagian bertugas di Indus.
       Setelah Doads, Supervisor di Main Program memberikan pengarahan, kami pun diminta untuk berdiskusi dengan anggota kelompok masing-masing untuk mengatur tugas dan apa-apa yang diperbolehkan serta tidak. Termasuk peraturan tentang larangan merekam, memotret, saat acara berlangsung.


            Di Indus Main Venue Program ada delapan Volunteer. Ada Dorothy Cormack (Supervisor Indus Main Venue), Zorah Wenham (Assistant Supervisor), Barbara Peters dan Margot Duel (Reception), Saya, Walid, Clorinda, dan Avicenna (Helper). Kami berdelapan inilah yang akan menggawangi dan membantu jalannya acara di Indus Main Program dari tanggal 4 – 7 Oktober 2012 dengan pergantian shift setiap harinya.
  
 
            Sebagai volunteer, tentu saja saya tak akan bercerita semua hal tentang Ubud Writers and Readers Festival, sebab informasi tentang itu pasti sudah bisa dibaca di website-website dan media lainnya. Di kesempatan ini, saya akan berkisah tentang bagian saya saja selama menjalani tugas sebagai volunteer.


Dengan Dorothy (supervisor saya di Indus)
            Hari pertama, saya mendapat shift pagi. Topik yang dibahas di jam saya bertugas adalah, “Opening The Book on Burma”, menghadirkan para pembicara/penulis luar seperti Guy Delisle, Ma Thanegi, Michelle Aung Thin dengan Moderator, Richard Lloyd Party. Selain menggelar acara talk show, di ruang depan setelah pintu masuk Indus, juga disajikan beragam buku yang menambah daya tarik peserta yang berkunjung.


         Dari topik dan pembicara yang mengisi sesi pertama di tempat saya bertugas sebagai volunteer, tiba-tiba muncul rasa penasaran saya pada kondisi tersebut. Sebagai seorang yang juga berkegiatan di dunia menulis, muncul rasa “cemburu” di hati saya. Rasa cemburu itu berwujud sebuah pertanyaan, “Mengapa tak ada penulis dari tanah air yang duduk berdampingan di meja Pemateri?” Namun, pertanyaan yang dilandasi rasa cemburu itu saya simpan baik-baik, sambil menunggu sesi-sesi berikutnya.
            Akhirnya di shift pagi hingga pukul 14.30 WITA, yang menggelar empat topik di masing-masing sesi, saya hanya melihat dua penulis Indonesia. Tentu saja tidak sebanding dengan dua belas penulis luar yang menjadi pembicara di Indus Main Program. Miris rasanya.
            Di hari kedua, saya sedikit terhibur dengan kehadiran Guntur Alam, namun tak bisa melegakan setelah menyimak ulasannya yang seperti tak tuntas saat membahas topik “All in the Family”. Penulis luar tetap menguasai arena. Namun, ada momen yang lumayan menghibur hati saya ketika itu. Saya sempat berkenalan dengan Bapak Drs. Ketut Suardana, M.Phil (Chairman Mudra Swari Saraswati Foundation). Dari bincang-bincang kami yang hanya sekejap itu, saya sempatkan menyampaikan pertanyaan, “Mengapa UWRF didominasi oleh penulis-penulis luar, padahal begitu banyak penulis-penulis tanah air yang mumpuni termasuk para penulis cerita anak?” Pak Ketut tak memberikan jawaban yang rinci, namun beliau membuka kesempatan untuk UWRF tahun mendatang. “Silahkan ajukan proposal atau karya yang bagus, namun kami tak bisa menjanjikan selain tiket dan akomodasi. Dan di situlah terkadang kendalanya, jika ingin menghadirkan penulis-penulis tanah air,” tegasnya. Saya belum puas mengobrol dengan beliau, tetapi beliau sudah harus menghadiri rapat.



            Saya tak patah semangat dan beruntung sekali, ternyata Janet De Neefe (Founder and Director UWRF) sekaligus istri dari Pak Ketut sering hadir di Indus. Saya beranikan diri untuk menyapanya. Kembali saya perkenalkan diri dan mengatakan bahwa saya tergabung di Forum Penulis Bacaan Anak. Janet memberikan kartu namanya. “Kalau kamu mau kirim e-mail ke saya, pleaaase... kontak saya jika lama tak dibalas,” ujarnya dalam bahasa Indonesia yang lumayan fasih. Tak heran, Janet sudah tinggal di Ubud sejak tahun 1984. Saya senang sekali mendengar nada “welcome” itu. Semoga tahun depan saya bisa hadir, tidak lagi sebagai volunteer, tapi bersama teman-teman penulis bacaan anak lainnya dengan kapasitas sebagai pembicara. Aamiin.


 
         Di luar jadwal volunteer, bersama teman sekamar, saya selalu menyempatkan diri menikmati pentas seni yang juga digelar di beberapa tempat. Dari mulai pemutaran film di Betelnut, menikmati street party dengan suguhan tari-tarian Bali, sampai pementasan teater di Lotus Stage – Puri Saraswati.

 
Pada hari terakhir, 7 Oktober '12, saat saya kembali mendapat shift pagi, ada rasa terhibur dan bangga melihat penulis perempuan yang masih muda, Astina Triutami yang tampil sebagai pembicara. Tina, penulis novel yang berjudul “Aku Bukan Budak”, memaparkan pengalaman yang melatarbelakanginya menulis novel tersebut. Astina menceritakan sekilas pengalamannya selama menjadi TKW di Hongkong. Selain itu dia juga mengkritik pemerintahan rezim Soeharto dan kesemena-menaan beberapa majikan dalam memperlakukan para TKW. 
 
Ternyata benar, Main Program menggelar tema-tema menarik selama acara berlangsung. Rasa kecewa saya semakin terobati. Apalagi ketika mendengar salah satu tema dengan judul, "After Harry Potter, What? The Emergency of the Young Adult". Di sini mereka membahas tentang "Apa yang mendorong kenaikan dan munculnya young adult genre dan siapa yang membaca? Sesi ini tak hanya dihadiri oleh peserta dewasa, anak-anak remaja pun ikut ambil bagian dalam sesi tanya jawab.


Dari buku panduan program, sebenarnya ada sekitar 140 penulis dari 30 negara yang ikut ambil bagian dalam UWRF. Indonesia diwakili para penulis seperti Ayi Jufridar (Aceh), Astina Abigail, Guntur Alam (mewakili Jakarta), Khrisna Pabichara, Muhary Wahyu Nurwa (dari Makassar), Indah P, Niduparas Erlang (dari Solo), Sunlie Thomas Alexander, Bandung Mawardi (Yogya), Arif Fitrah Kurniawan (Jawa Tengah), Romo Amanche (Kupang), Aprilia Wayar (Papua). Sisanya didominasi oleh penulis-penulis dari luar Indonesia. Tak apa, mungkin tahun-tahun mendatang formasi ini bisa diubah. Semoga.
Di kesempatan lain, saat saya tak bertugas, saya sempatkan memuaskan batin dengan berkunjung di Children and Youth Program. Alhamdulillah, saya sempat melihat kegiatan yang bertajuk, “Banner Making Workshop”. Di sini anak-anak diajak untuk menggambar dan melukis dengan tema “The Earth of Mankind: Bumi Manusia” yang menjadi tema Ubud Writers and Readers Festival 2012. Dipandu oleh Made Bayak, anak-anak semangat mengayunkan kuasnya di atas kain panjang yang drentangkan di depan mereka. 





                                           

 Lalu, di hari Sabtu, 6 Oktober, saya kembali menyaksikan kegiatan di Youth Program dengan tajuk, “Writing Your Story”. Sungguh, saat itu... hati saya kembali merasa “cemburu” melihat rekan penulis yang tampil di depan anak-anak remaja itu. Melihat kondisi ini, timbul obsesi saya, bahwa tahun depan semoga teman-teman dari Komunitas Penulis Bacaan Anak bisa memandu semua materi di Children and Youth Program. Itu harapan saya.


 
UWRF 2012 diakhiri dengan acara “Closing Night Party” yang digelar di Museum Antonio Blanco. Dalam sambutannya, Janet tak lupa mengucapkan rasa terimakasihnya kepada seluruh volunteer yang telah ikut membantu berlangsungnya acara tersebut. 
 
 Diam-diam, meski hanya sebagai volunteer, ada rasa bangga juga yang terbesit di hati saya. Tak peduli pendapat yang terkesan memandang kasihan kepada para volunteer (khususnya yang dari tanah air), bagi saya ini adalah pengalaman pertama yang banyak memberi kesan. Tak hanya pengalaman dalam menambah wawasan tentang menulis, tapi juga belajar memupuk rasa kekompakan antara volunteer dalam satu team yang notabene berasal dari negara dengan budaya berbeda. Meskipun tak semua menyenangkan, tapi pengalaman berharga ini bisa menepisnya.

 
Perpisahan pun tak bisa dielakkan. Sebelum benar-benar berpisah, kami sempatkan berfoto bersama teman se-team. Sambil memeluk saya, Zora mangatakan, “Nice working with you, Wylvera. Hope we can meet again next year.” Sambil membalas mendekapnya saya menjawab, “Yup! But hopefully I can attend as a speaker,” kata saya sambil melepas tawa di tengah hingar bingar suara musik di pesta penutupan itu. Zora mengangguk-angguk tanda setuju, karena saya sempat bercerita kalau saya juga penulis. [Wylvera W.]




Sabtu, 29 September 2012

Pelatihan Menulis di SMP Islam Dian Didaktika, Cinere Estate



Sesi I. 22 September 2012.

Alhamdulillah, salah seorang orangtua murid (Mbak Chitra Savitri-red) di SMP Islam Dian Didaktika mengajukan nama saya sebagai narasumber/pemateri di pelatihan menulis yang akan mereka gelar. Maka, setelah melewati pembicaraan via telepon, akhirnya kesepakatan pun terjalin. Saya didaulat menjadi pemateri sebanyak dua kali pertemuan di pelatihan menulis tersebut, yaitu 22 dan 29 September 2012.
Sabtu pagi, 22 September 2012 udara sangat bersahabat, sehingga membuat saya lebih bersemangat. Segala keperluan untuk melengkapi pelatihan sudah saya siapkan. Mulai dari materi dalam bentuk power point (ppt), laptop, flash disk, pointer, buku-buku untuk hadiah kuis dan games, semua sudah siap dibawa.
Perjalanan dari Bekasi menuju Jl. Rajawali blok F No. 10 Cinere Estate, menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Saya tiba di lokasi pukul 07.20 WIB.
Kedatangan saya disambut oleh salah satu guru di sekolah itu. Setelah berkenalan, saya pun diajak memasuki ruangan tempat pelatihan. Masih kosong. Sambil menunggu, saya mencoba beradaptasi dengan kondisi kelas. Tak berapa lama, guru lainnya pun tiba di tempat.
Setelah semua disiapkan dan peserta yang hadir (23 siswa) sudah lengkap, sesi pertama pelatihan menulis pun dimulai pukul 08.30 WIB. Acara diawali oleh kata pembuka oleh pemandu acara (Ibu Syaidah). Kemudian, Bapak Sukardi selaku kepala sekolah di SMP Islam Dian Didaktika memberi sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan pelatihan menulis.
Bapak Sukardi mengatakan, bahwa kegiatan pelatihan menulis ini adalah langkah pertama yang akan mengawali rencana mereka untuk membentuk komunitas dan cikal bakal penulis muda di sekolah tersebut. Penjelasan ini tentu saja menerbitkan rasa tersanjung di hati saya, karena saya terpilih menjadi bagian dari tim pelopor rencana mulia itu.


Selanjutnya, acara sepenuhnya diserahkan kepada saya. Saya buka sesi pelatihan dengan memperkenalkan diri kepada para peserta. Awalnya, saya melihat wajah-wajah yang malu-malu dan belum memberi respon terhadap keberadaan saya. Namun, setengah jam setelah itu... mereka seolah lebur dengan saya.

 
Di kesempatan ini, saya memilih memberikan materi penulisan cerita pendek. Saya awali materi dengan membangkitkan semangat mereka untuk menulis terlebih dahulu. Saya katakan kepada mereka bahwa tak perlu takut jika merasa tak berbakat dalam menulis, karena bakat hanya 1% dibutuhkan dalam keterampilan menulis. Selebihnya adalah usaha, latihan, dan kerja keras.
Selanjutnya saya membagikan tips kepada peserta pelatihan tentang bagaimana caranya agar tetap konsisten menulis dan berhasil menghasilkan tulisan yang baik, yaitu dengan niat, keyakinan, fokus, konsisten, dan terakhir... harus mendisiplinkan diri.
Materi tentang langkah menulis cerita pendek pun tersampaikan satu persatu. Mulai dari tahapan menulis cerpen dari memilih ide, menentukan judul, membuat sinopsis, membuat tantangan/kendala atau yang sering disebut dengan konflik, penokohan, setting cerita,  sampai pada tahap self editing. Saya juga menerangkan kepada mereka tentang unsur-unsur penting dalam cerpen dan membuat alur yang menarik.
Sesekali saya bertanya apakah anak-anak itu sudah paham dengan apa yang saya sampaikan. Mereka selalu mengatakan, “Paham, Bu.” Yang paling menarik perhatian mereka adalah saat saya menyampaikan materi tentang self editing. Ternyata selama ini, ada beberapa di antara mereka yang gemar menulis, tapi tak pernah mempersoalkan tentang aturan-aturan EYD, typo, dan kesalahan-kesalahan kecil yang sangat mempengaruhi mutu tulisan mereka.


Setelah istirahat lima belas menit, pelatihan menulis dilanjutkan dengan kuis dan tanya jawab yang berkaitan dengan materi. Mereka sangat antusias menjawab pertanyaan yang diajukan. Tapi, yang paling tepat menjawablah yang mendapatkan hadiahnya.




Sebelum melanjutkan dengan sesi praktik menulis, saya memutarkan sebuah film pendek dengan tema persahabatan. Tujuannya untuk merangsang imajinasi mereka sebelum masuk ke tahap praktik menulis. Mereka senang sekali ketika menyaksikan tayangan film itu.


 
Acara pelatihan menulis dilanjutkan dengan praktik menentukan judul, penokohan/karakter, konflik, setting, dan sinopsis dari dua tema yang sudah saya tetapkan. Kelompok pertama mendapat tema tentang persahabatan, dan kelompok kedua dengan tema petualangan dan misteri.



Diskusi kelompok ini berlangsung sangat seru. Saya melihat keseriusan mereka dalam berdiskusi untuk menentukan poin-poin yang saya minta. Setelah itu, juru bicara masing-masing kelompok saya minta maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka. Betapa terkesannya saya dengan ide yang muncul dari kerjasama mereka. Idenya luar biasa dan membuat saya diam-diam menyimpan rasa kagum.
Tak terasa pertemuan pertama di pelatihan menulis cerpen tanggal 22 September 2012 itu berakhir tepat pukul 12.00 WIB. Sebelum mengakhiri sesi pertama itu, saya memberikan tugas kepada peserta untuk membuat cerita pendek dengan tema budaya Indonesia untuk dievaluasi di pertemuan Sabtu berikutnya.

Sesi II. 29 September 2012

            Sabtu, 29 September 2012, saya kembali mengisi pelatihan menulis cerpen di SMP Islam Dian Didaktika. Meskipun peserta tak sekomplet di pertemuan pertama, karena berhalangan hadir, namun acara pelatihan tetap terasa ramai dan seru. 
         Sebelum melanjutkan materi berikutnya, saya buka suasana pagi dengan mengajak peserta pelatihan untuk melakukan senam otak bersama.



Diiringi musik India yang “aduhai” itu, kami pun mulai melakukan gerakan-gerakan yang menyegarkan. Tawa dan kelucuan memenuhi ruang pelatihan. Alhamdulillah... suasana Sabtu pagi itu telah dibuka dengan keceriaan.
Pelatihan sesi kedua pun saya mulai. Atas permintaan guru Bahasa Indonesia mereka (Ibu Sri Hastini-red) untuk menambah materi tentang langkah-langkah menulis berita, artikel, dan tahapan melakukan wawancara, saya pun mengawali pagi itu dengan materi tersebut.
Setelah itu, peserta pun maju satu persatu untuk mempresentasikan hasil tulisannya. Sekali lagi, saya menggunakan istilah “kursi listrik” yang sudah dipatenkan oleh Kepala Sekolah Galeri Kelas Ajaib, Benny Rhamdani untuk me-review naskah-naskah mereka.





Subhanallah... ide mereka sungguh luar biasa. Cerita-cerita yang mereka buat sangat mengagumkan. Dari naskah yang berjudul "Jamu vs Soda" sampai "Tragedi Ondel-ondel". Saya sampaikan kepada Bapak Kepala Sekolah, bahwa karya mereka ini layak dibukukan. Dan, ternyata Pak Sukardi juga menyimpan keingan yang sama.



Satu hal yang membuat saya puas, dari beberapa tulisan pertama yang sempat dikirimkan ke saya memberikan kemajuan yang pesat, padahal hanya dalam waktu seminggu. Awalnya mereka masih berantakan mengetiknya (margin yang tak dirapikan, spasi yang berantakan, paragraf yang acak-acakan), tapi setelah mendapatkan materi dari saya... semua berubah drastis. Itu artinya, mereka menyerap apa yang saya sampaikan. 
Itulah yang membuat saya semakin bersemangat membagi ilmu kepada mereka. Untuk itu saya tak segan-segan membagi hadiah berupa buku kepada penulis naskah-naskah terbaik. Dan, memberikan hadiah kepada peserta yang memberikan jawaban yang benar terhadap pertanyaan kuis yang diajukan.

Mbak Chitra Savitri (pengurus POMG sekolah) memberi hadiah
Di penghujung pelatihan, saya tak lupa meminta anak-anak peserta pelatihan tersebut menuliskan feedback terhadap saya. Yaitu berupa kesan, kritik, dan saran mereka. Ini saya anggap perlu, demi koreksi terhadap diri saya pribadi sebagai Trainer penulisan. Dan, betapa terharunya saya ketika membaca tanggapan mereka. Ini salah satu contohnya;



Setiap pertemuan hampir selalu diakhiri dengan perpisahan. Demikian juga dengan pelatihan menulis kali ini. Sebelum menutup kegiatan pelatihan menulis, Bapak Sukardi kembali memberikan sambutannya dan sekaligus menutup pelatihan secara resmi. Saya terharu sekali ketika pihak sekolah Dian Didaktika yang digawangi oleh Bapak Sukardi menyampaikan ucapan terimakasihnya dan memberikan “oleh-oleh” untuk saya bawa pulang.



Akhirnya kebersamaan kami ditutup dengan doa dan foto bersama.

 
Semoga kerjasama ini tak terhenti sampai di sini. Terimakasih.

***

Kamis, 20 September 2012

Juara Lomba Menulis Cerpen oleh Guru di Majalah Bobo




Menang lomba? Wow!
Rasa girang, kaget dan seolah tak percaya, lebur jadi satu. Bayangkan saja, selama ini aku begitu terobsesi agar tulisanku bisa mejeng di majalah anak-anak yang cukup bergengsi itu. Ya! Siapa sih yang enggak kenal sama Majalah Bobo? Tapi, ternyata keberuntungan belum memihak padaku. Belum ada satu cerpenku yang berhasil muncul di majalah itu. Hingga akhirnya pada suatu hari, aku mendapat kiriman link dari teman. Isinya, Majalah Bobo sedang menggelar lomba menulis cerpen khusus untuk para guru se-Indonesia.

Awalnya, aku ragu mau ikut. Mengapa? Ya itu tadi, ngirim cerpen  ke majalahnya saja enggak pernah dimuat, kok nekat sih ikutan lombanya. Tapi, akhirnya rasa kurang percaya diri itu kubuang jauh-jauh. Sebab, keberuntungan bisa datang dari mana saja, asal kita gigih dan terus berusaha.

Singkat cerita, akhirnya aku mengirimkan satu karyaku yang berjudul, “Bunga untuk Ibu Imah”. Ceritanya sederhana. Aku hanya ingin menyampaikan pesan bahwa anak-anak yang cenderung “nakal” atau terlihat “pembangkang” di sekolah bukanlah semata-mata karena anak tersebut terlahir dengan karakter seperti itu. Tentu saja ada faktor-fator pendorong yang terkadang sulit bagi si anak untuk menepisnya, sehingga jadilah dia seperti itu. Dan, sebagai pelebur untuk karakter anak yang seperti itu, aku mencoba menghadirkan sosok Ibu Imah, seorang guru yang tegas dan bijaksana.

Meskipun awalnya Didin (tokoh anak dalam ceritaku) mengira bahwa Ibu Imah sebagai sosok guru yang kejam, galak dan tak peduli padanya, namun... di akhir cerita, Didin menyadari jika apa yang dilakukan Ibu Imah terhadapnya hanyalah sebuah “hukuman” yang sangat mendidik. 
Cerpen inilah yang membawaku menjadi pemenang “Juara II Lomba Menulis Cerpen oleh Guru” di majalah Bobo itu dan hadiahnya lumayan lho... Rp6.500.000. :)

            Didin masih kesal dengan gurunya. Gara-gara tidak mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, Bu Imah menyetrap Didin dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Selama di kelas lima, Didin sudah tiga kali diberi hukuman yang sama oleh Bu Imah. Didin malu pada teman-temannya. Tapi, Didin juga tak pernah mau mengubah kebiasaannya yang malas mengerjakan tugas sekolah itu.
            “Awas ya Bu Imah, aku akan balas nanti,” gerutu Didin dengan tangan mengepal.
            “Eh, memangnya kamu mau membalas apa ke Bu Imah?” tanya Agung terpancing dengan gerutuan Didin. ....
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Silahkan dapatkan bukunya dan baca kisahnya, siapa tahu kamu pemenang lombanya tahun depan. :)
Ini lho cover depan bukunya....
          
            
***


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...