Kegiatan Saya

 photo 2-2_zps00d5613c.png  photo 35_zpsf452104f.png  photo 41_zpse996c372.png  photo 42_zps95cee5b6.png  photo 2_zpscfb747ab.png  photo 1_zpsa99f250a.png  photo 3_zpsae6782d8.png  photo 10-10_zpsa441ee36.png  photo 40_zps4830b3c2.png  photo 21_zps043f8c6b.png  photo 20_zps6384c46c.png  photo 17_zps007e9072.png  photo 19_zps16654878.png  photo 18_zpsb118c488.png  photo 7-7_zpsdfb94ace.png  photo 8-8_zpsa1083f9d.png  photo 4-4_zps00473a5d.png  photo 9-9_zpsb89ab553.png  photo 3-3_zpsc62fcc95.png  photo 5_zpsad30d194.png  photo 4_zps63caf761.png  photo 6_zps7e2ad9b1.png  photo 7_zpsbf8cabfa.png  photo 8_zps2f9985b4.png  photo 9_zpsbee7bea9.png  photo 23_zpse02bc34a.png  photo 10_zpsdf6599a4.png  photo 37_zpsf95a72a2.png  photo 12_zps263ebfed.png  photo 36_zpsb256cca6.png  photo 11_zpsfd4aa245.png  photo 14_zpse78e216a.png  photo 13_zpsafc43cd0.png  photo 25_zpsc3288c24.png  photo 24_zpsfccf8f23.png  photo 28_zpsf795dab7.png  photo 29_zps34157bf0.png  photo 30_zpsb08b473f.png  photo 39_zps893f2352.png  photo 27_zps191bc1ff.png  photo 26_zps68f48e8e.png  photo 22_zps1c48f8b1.png  photo 15_zpsbf5400aa.png  photo 16_zpsb08eca8b.png  photo 31_zps3196da76.png

Rabu, 14 November 2012

Kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak Pria Tangerang



            Catatan ini berawal dari obrolan ringan antara saya dengan teman. Saat itu beliau bercerita tentang kegiatan yang dilakukan oleh sebuah komunitas di lembaga pemasyarakatan. Dari obrolan itu,  tiba-tiba saya tertarik dan menyimpan keinginan kuat untuk ke sana. Tanpa diduga, teman saya itu mengajak saya untuk melihat dan berkunjung ke Lembaga Pemasayarakatan Anak Pria, Tangerang. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyeutujui.
            Pada hari Rabu, 14 November 2012, kami pun bersiap menuju Tangerang. Sebelumnya, saya sudah berusaha memasukkan alamat lapas ke dalam GPS di mobil, tapi berkali-kali tak dtemukan arah yang pasti. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat dan mencoba bertanya-tanya jika sudah sampai di kota Tangerang. Tepat pukul delapan pagi kami berangkat dari Bekasi.
            Cukup jauh jarak yang kami tempuh. Belum lagi bolak-balik bertanya tentang letak pasti dari lapas tersebut kepada penduduk di pinggir-pinggir jalan. Lalu, ditambah dengan nyasar dan salah memasuki lapas. Kami begitu yakin dan langsung memarkir mobil ketika melihat nama Lembaga Pemasyarakatan, Tangerang tipe 1 A. Namun, saat tiba di pintu gerbang lapas, ternyata itu bukan lapas yang ingin kami tuju. Itu adalah lapas pemuda yang menampung para napi dewasa (usia di atas dua puluhan).
            Ternyata alamat yang benar adalah Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria, Jalan Daan Mogot, No. 29 C, Tangerang. Setelah diberi petunjuk arah oleh penjaga lapas, kami pun memutar arah kembali. Masih mengalami salah arah lagi, namun kami tak mau putus asa. Dengan meminta bantuan seorang tukang koran keliling, akhirnya kami dipandu menuju lapas yang kami inginkan.

           Sampai di sana, kami disambut dengan baik oleh penjaga lapas dan diminta langsung menuju lokasi acara. Acara digelar dalam mesjid yang ada di area lapas tersebut. Saya langsung berkenalan dengan Mbak Suci Susanti (Ketua Gerakan Peduli Remaja/GPR) dan Bunda Yerita Bestina (dari Yayasan Nur Aulia Ihsan) yang sudah lebih dulu tiba di lapas.
            Begitu saya duduk, mata saya langsung menyapu puluhan anak laki-laki yang berada di dalam mesjid Baitur Rohman. Mereka adalah para tahanan yang karena berbagai kasus akhirnya dijebloskan ke lapas itu. Umur mereka rata-rata di bawah 19 tahun. Dan, umumnya pula mereka ini berasal dari keluarga kurang mampu. Saya perhatikan wajah dan sorot mata mereka satu persatu. Seperti tak ada tanda-tanda atau bekas kejahatan tergambar di sana. Alih-alih, mata saya yang nyaris berkaca-kaca.

Anak-anak lapas pria
            Tak berapa lama, acara penyambutan 1 Muharram pun dibuka oleh pembawa acara. Dilanjutkan dengan pembacaan Al Qur’an. Mata saya kembali terpaku pada sosok anak laki-laki yang berjalan ke depan sambil membawa Al Qur’an di tangannya. Saya pikir, bacaannya akan biasa-biasa saja. Namun, saya keliru. Lantunan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dari salah satu anak di lapas tersebut, membuat saya merinding. Seperti tak percaya kalau anak tersebut adalah salah satu dari para tahanan yang terjerat salah satu kasus dari beragam kasus seperti pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian antar remaja, pencurian, dan lain-lain. 
Pembacaan ayat suci Al Qur'an
“Ya Allah, ini kenyataan. Dan, saya tak bisa melukiskannya dengan kata-kata.”
Beberapa sambutan berikutnya melanjutkan acara tersebut. Sambutan pertama disampaikan oleh Wakil Kepala Lapas, Bapak Hisam Wibowo, Bcip, SH. Kemudian Bunda Yerita Bestina memberikan sambutannya sebagai pendahulu acara inti penyambutan 1 Muharram tersebut.
Sambutan Bunda Yerita Bestina
Pembagian snack sebelum ISHOMA
 Di sela-sela acara, saya tak bisa menahan keinginan untuk berbincang dengan beberapa anak di lapas itu. Kebetulan saya duduk dengan seorang anak yang terlihat lebih dewasa dari yang lainnya. Salah satu anak yang sempat saya ajak ngobrol lebih lama adalah Rozi. Inilah obrolan kami yang membuat jantung saya berdetak tak menentu.
"Kasus kamu apa?" tanya saya setengah berbisik kepada Rozi karena acara tengah berjalan. 
Saya tahu namanya Rozi, karena sebelumnya dia sudah memperkenalkan diri.
"Asusila dan pembunuhan, Bunda,” jawabnya sedikit ragu-ragu.
Saya  terdiam sejenak, karena terkejut dengan jawabannya yang begitu datar. Lalu, saya berpikir melanjutkan pertanyaan berikutnya.
"Sudah berapa lama di sini?" lanjut saya lagi.
"Lima tahun. Tapi masa hukumannya delapan tahun."
"Mengapa kamu melakukannya?"
Kali ini Rozi yang terdiam dengan mata redup dan wajah yang ditekuk, seperti bingung ingin menjawab.
"Dendam keluarga, tapi saya balasnya ke pacar saya itu," katanya akhirnya.
"Yang kamu bunuh itu pacarmu? Kalian masih saudara?" tanya saya semakin terperanjat.
"Iya Bun. Saya menyesal,” jawabnya lagi kembali menundukkan mukanya.
Saya menarik nafas, mencoba mengatur detak jantung yang sejak tadi mulai tidak beraturan. Antara haru, geram, kasihan, dan mencoba untuk melihat sisi lebih jauh lagi dari kejahatan/kekhilafan apa yang sudah melatarbelakangi mereka melakukannya. Semoga saya tak salah jika sempat menilai bahwa faktor didikan orangtualah yang begitu memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak-anak ini. Terutama didikan agama.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" lanjut saya tak begitu pintar memilih pertanyaan.
"Sudah agak tenang, tapi tetap menyesal dan ingin benar-benar bertobat," jawabnya.
“Iya, syukurlah. Kamu punya adik atau kakak?” tanya saya lagi.
“Ada, adik saya perempuan. Makanya saya malu banget, Bunda. Kasus ini sudah bikin keluarga saya malu. Saya kasihan sama keluarga saya,” jawabnya panjang penuh rasa penyesalan yang tak menyiratkan kepura-puraan. (Maaf, saya sengaja tak menampilkan foto Rozi demi kenyamanannya.)
Saya tak kuat meneruskan obrolan. Saya tinggalan doa dalam hati untuknya. Semoga Rozi menemukan hidayah Allah SWT untuk kembali ke jalan yang benar dan sungguh-sungguh bertaubat demi mendapat ampunan-Nya.
Acara penyambutan tahun baru Hijriyah pun dijeda dengan waktu sholat dan istirahat makan siang. Selepas sholat berjemaah dan makan siang, acara dilanjutkan dengan penampilan kelompok marawis anak-anak lapas, tauziah, dan pemutaran film bertema Islami.
Kelompok Marawis lapas
Tauziah
Pemutaran film
Informasi yang saya terima dari Mbak Suci, kegiatan kunjungan ke lapas anak pria di Tangerang ini sudah rutin mereka lakukan. Tujuannya adalah untuk melakukan pembinaan mental dan spiritual anak-anak muslim di lapas tersebut.
“Mereka senang sekali kalau kita ke sini, Mbak. Dan, Alhamdulillah... pihak lapas memberikan kita waktu dan tempat untuk bersentuhan dengan mereka,” begitu ujar Mbak Suci.
Saya begitu kagum kepada Mbak Suci dan teman-teman dari GPR serta pendukungnya. Dengan keikhlasan, mereka kerap meluangkan waktu untuk membina anak-anak lapas tersebut. Kegiatan yang dilakukan oleh GPR ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi anak-anak lapas. Harapannya, agar setelah mereka keluar dari lapas, mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik serta tidak mengulang kesalahan yang sama.
Selanjutnya...dari sekian banyak anak laki-laki di lapas tersebut yang terdata oleh GPR, ternyata ada yang memiliki hobi menulis. Mendengar itu saya langsung tertarik mengajaknya ngobrol dan memintanya mengambil contoh tulisan yang sudah pernah dibuatnya. Subhanallah... tulisan-tulisan anak itu bagus sekali dan tertata dengan rapi. Saat memulai berbincang, anak itu tak ingin saya menuliskan namanya.
Ini salah satu puisi anak itu
“Tulisan saya lebih banyak puisi, Bunda. Saya kepengen banget ada yang mau bantu membukukan puisi-puisi ini,” ujarnya berharap.
“Insya Allah, jangan putus asa. Tetaplah menulis, nanti pasti ada jalannya,” kata saya mencoba memberi semangat.
Saya masih menyimpan niat dalam hati, bahwa saya akan kembali ke lapas itu. Bincang-bincang saya dengan Mbak Suci, Rozi, dan anak yang gemar menulis puisi tadi, serta beberapa anak yang sudah saya ajak bicara tak bisa berlangsung lebih lama karena keterbatasan waktu. Tapi, saya ingin mewujudkan niat dan keinginan mereka untuk menorehkan kisah-kisah mereka kelak dalam sebuah buku kumpulan kisah anak-anak lapas itu. Mungkin saya tidak kembali sendirian. Insya Allah, saya akan menggandeng teman-teman dari Galeri Kelas Ajaib untuk berusaha mewujudkan keinginan mereka. 

Begitulah, beberapa jam saya berada di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria, Tangerang itu...hati saya sudah dipenuhi dengan berbagai rasa. Haru, takjub, iba, dan perasaan lain yang tak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Semua rasa itu membuat saya tak sempat mengabadikan banyak momen dalam foto. Saya begitu terhanyut dengan suasana. Semoga lain waktu, saya akan sempatkan berfoto dengan mereka.
Dalam memperingati tahun baru Islam, 1 Muharram 1434 Hijriyah ini, hanya do’a yang bisa saya titipkan untuk mereka. Semoga mereka diberi cahaya penuntun ke jalan kebenaran oleh Allah SWT, sehingga mereka benar-benar menyadari segala kejahatan, kekeliruan, dan dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Semoga Allah meridhoi taubat mereka demi meraih hidayah-Nya. Aamiin. [Wylvera W.]

7 komentar:

  1. Subhanallah...
    Pasti mengharu biru hati berada disana ya mbak.
    Bagaimanapun mereka tetaplah generasi muda yang nanti menjadi penerus bangsa. Semoga penjara mampu merubah mereka menjadi pribadi yang baru.

    Salam kenal mbak... Kunjungan perdana disini.

    BalasHapus
  2. @Mbak Niken: Aamiin... salam kenal kembali, Mbak. Iya... tak terlukiskan perasaan saya rasanya. Kalau saja tak malu, saya sudah meneteskan air mata di sana.

    BalasHapus
  3. Subhanallah. Anak2 itu memang terbukti melakukan kejahatan, tapi sulit juga kita menyalahkan mereka sepenuhnya mengingat mereka memang belum matang berpikir dan mengendalikan emosi. Orangtua seharusnya menanggung sebagian tanggung jawab, bukan hanya malunya saja. Semoga anak-anak itu diberi jalan taubat dan setelahnya bermanfaat bagi masyarakat. Amien.
    Bun, kalau bisa di pilihan komentar diberi tambahan "name/URL" spy sy bisa sering2 komen tanpa harus login gmail. Terima kasih.

    BalasHapus
  4. subhanallah..semoga kegiatan ini kian menambah kepekaan hati kita terhadap para penerus bangsa yang kebetulan terpenjara. semoga pahala untuk admin yang udah share untuk pencerahan ini.

    ayo bantu membukukan puisi itu m'ba.

    salam sehat selalu bagi kita semua

    BalasHapus
  5. @burselfwomen: Aamiin... btw, utk komentar nanti ya saya lihat dulu. Makasih. :)

    @Cilembu thea: Insya Allah, semoga ada jalannya ya, Mas. Aamiin.

    BalasHapus
  6. sedih saya bacanya,, ampe berkaca-kaca,,, :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau datang langsung ke lokasi, Mbak. :(

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...