Selasa, 06 November 2012

Sekolah Mapan dan Sekolah Sampah

       Indonesia memiliki penduduk lebih dari 230 juta jiwa. Setiap warganya berhak mendapatkan pendidikan. Sementara, pendidikan masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat kita. Dari data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2011, tercatat tidak kurang dari setengah juta anak SD serta sekitar 200 ribu anak SMP, tak mampu meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kondisi ini menempatkan Education Development Index Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negara.

Catatan di atas membuat naluri saya, yang hampir lebih dua tahun ini ikut berkecimpung di dunia pendidikan, merasa terusik. Saya hanya mengambil peran kecil dari kehidupan para guru, yaitu sebagai pengajar ektrakurikuler “Jurnalistik dan Kepenulisan” di salah satu Sekolah Dasar Islam Terpadu, Bekasi. Selama itu pula saya belum sempat berpikir untuk menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Mungkin ini lebih disebabkan kenyamanan yang sudah saya dapatkan di sekolah tersebut, sehingga saya tak sempat menelaah nasib guru-guru lainnya di luar sana.

Penulis dan murid-muridnya di SDIT Thariq Bin Ziyad PHP
Semua berawal dari kehadiran saya di acara Peresmian Gerakan Indonesia Berkibar di Museum Arsip Nasional, pada tanggal 28 Oktober 2012 yang lalu. Dari acara tersebut,  saya sempat menyimak, membuat liputan kecil, dan telah mencatatnya di blog saya. Dari situ, diam-diam saya menyimpan beberapa pertanyaan. “Ke mana saja saya selama ini? Apakah saya sudah puas dengan apa yang sudah saya lakukan sebagai guru ektrakurikuler? Apakah saya tak ingin melihat bagaimana perjuangan para guru di sekolah lain yang tercatat sebagai sekolah yang serba tertinggal, mulai dari kualitas gurunya, kualitas kurikulumnya, maupun kualitas infrastrukturnya?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggerakkan saya menuliskan catatan singkat di blog saya.
Saya awali dengan mengamati sebuah sekolah yang berisikan murid-murid dari keluarga mampu. Saya menyempatkan diri untuk meninjau prasarana (infrastruktur) sekolah tersebut. Mulai dari perangkat pendukung belajar yang serba lengkap, seperti laboratorium bahasa, komputer, lapangan untuk berolahraga, sampai sarana untuk kegiatan ekstrakurikuler pun hampir seluruhnya tersedia.
Laboratorium Komputer
Laboratorium Bahasa
Lapangan olahraga
Melihat semua perangkat pendukung itu, tentu saja akan menarik minat para orangtua untuk menitipkan putra-putri mereka di sekolah tersebut. Mereka sudah memiliki bayangan, jika anak-anak mereka tak akan ketinggalan dalam pengetahuan tentang teknologi. Apalagi jika melihat catatan prestasi beberapa siswanya dan dukungan pengalaman para pengajarnya. Rata-rata para guru tersebut telah dibekali dengan kemampuan mengajar serta mendidik yang baik. Kenyataan ini akan semakin membulatkan tekat para orangtua yang notabene dari keluarga mampu, untuk menitipkan anak-anak mereka di sekolah tersebut.
            Lalu, saya mencoba membandingkannya dengan “Sekolah Sampah” yang berlokasi di kawasan bau busuk menyengat. Saya menyebutnya “Sekolah Sampah” karena sekolah itu terletak di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Tentu saja, jauh sekali rentang kesenjangannya. Sekolah itu bernama Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Al – Falah di bawah Yayasan Ummu Amanah.  Tidak seperti sekolah-sekolah reguler lainnya, di sekolah ini masih memakai kurikulum pendidikan kesetaraan paket A, B, dan C.
Penulis di lokasi pembuangan sampah yang dekat dengan sekolah
Inilah nama sekolah itu



 Jumlah murid yang ada di sekolah tersebut tidak merata di setiap jenjangnya. Untuk jenjang sekolah dasar (SD) tidak sampai seratus murid yang tersebar di masing-masing kelas. Bahkan ada yang hanya dua belas murid saja dalam satu kelasnya. Sedangkan untuk SMP dan SMA hanya delapan murid. Dan, tentu saja itu bukan untuk anak-anak yang berada di luar lokasi sampah. Sekolah itu diperuntukkan kepada anak-anak para pemulung. Selain itu, guru-guru di sana pun tak didukung penuh oleh infrastruktur seperti sekolah pertama yang saya amati.
Perangkat komputer sumbangan Donatur
Ruang guru yang sangat sederhana

Murid kelas 2 (ada yang berseragam ada yang tidak)
 Kondisi yang memprihatinkan kerap dialami para guru dan murid di “Sekolah Sampah” itu. Meskipun bangunan yang sekarang mereka tempati sudah lumayan memadai, namun bau busuk serta geliat dari belatung-belatung yang berebut mengurai tumpukan sampah, masih tak bisa lepas dari keseharian mereka. Di kondisi seperti itu pula mereka berjuang dan bertahan berbagi senyum. Dengan prasarana yang belum bisa dikatakan memadai, mereka mencoba membekali para muridnya dengan ilmu yang mereka miliki. 

Penulis bersama Kepala Sekolah dan beberapa guru
Saya yakin, para guru di sekolah itu bukan tak menyimpan obsesi besar. Misalnya, tentang kesempatan yang bisa mereka dapatkan untuk membekali diri dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan standar pendidikan di tanah air tercinta ini. Namun, mungkin waktu belum memihak kepada mereka.
            Meskipun beberapa guru di sana sudah ada yang memiliki bekal kemampuan dan pengetahuan yang sama dengan para pengajar di sekolah mapan, namun jika sarana dan prasarana tak selengkap di sekolah pertama yang saya amati tadi, kemampuan itu tak akan maksimal. Dan, melahirkan anak-anak cerdas dari “Sekolah Sampah” itu pasti penuh dengan tantangan serta perjuangan. 
Memang terasa nikmat dan menjadi kebanggan bagi para guru, jika di tengah kesulitan dan usaha yang tertatih-tatih, mereka berhasil melahirkan siswa yang cemerlang dan mampu bersaing dengan murid-murid dari sekolah yang mapan. Tapi, kesejahteraan para pendidik di sana pun perlu mendapat perhatian. Setidaknya kita perlu memberikan dukungan, agar tantangan serta perjuangan tersebut tak menjadikan para pendidik di sana semakin hari semakin tergerus oleh tantangan demi tantangan yang terkadang sulit mereka hadapi. 
Ikrar para murid Al- Falah yang diabadikan dalam frame
Melihat dua sekolah dengan kesenjangan yang sangat jauh berbeda ini, saya mencoba memupuk harapan. Seandainya, ada pihak yang mau meluangkan waktunya untuk menilik sekolah-sekolah seperti ini. Tidak hanya berkunjung, tapi mencoba mencarikan solusi dan memberi bantuan agar “Sekolah Sampah” tersebut bisa memenuhi standar mutu pendidikan yang jauh lebih baik lagi. Atau paling tidak, bisa perlahan-lahan mengikuti sekolah-sekolah mampu lainnya. Baik dari pembenahan kurikulum, sarana dan prasarana, sampai pembekalan keterampilan mengajar/mendidik kepada para gurunya.
            Sebagai solusi, peran Gerakan Indonesia Berkibar yang beberapa waktu lalu sempat saya hadiri peresmiannya, sangat diharapkan dalam pemulihan kondisi ini. Sesuai dengan visi dan misinya yang sangat mulia, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perbaikan kualitas guru dan sekolah. Banyak harapan yang disandarkan pada Gerakan Indonesia Berkibar dan para pendukung yang terkait dalam pergerakannya. Salah satunya mungkin “Sekolah Sampah” ini. Dan ini tentunya akan menambah catatan Gerakan Indonesia Berkibar.
Tak banyak contoh yang bisa saya sajikan. Ini hanya salah satu dari sekian banyak kondisi sekolah, murid, dan guru yang masih memerlukan pembenahan. Jika masalah dan tantangan ini bisa kita carikan solusinya secara bersama-sama, maka harapan ke arah peningkatan mutu pendidikan di tanah air bisa teratasi. Sehingga sekolah mapan dan sekolah sampah tak lagi terganjal oleh kesenjangan yang tajam, khususnya di masalah penerapan kurikulum, mutu pendidikan, dan kesejahteraan guru yang setiap harinya bersentuhan dengan para murid yang hidup dalam ekonomi pas-pasan tersebut.   
Jika kesenjangan ini perlahan bisa diatasi, bukan tidak mungkin dari sekolah-sekolah macam “Sekolah Sampah” itu kelak, para pendidiknya mampu melahirkan putra-putri bangsa yang bisa ikut serta berperan besar dalam menggerakkan pembangunan di tanah air. Keberhasilan putra putri bangsa itu kelak hendaknya mampu mengubah catatan Education Development Index Indonesia ke posisi yang lebih tinggi di antara negara-negara lainnya. Dan, ini tentunya akan menambah semangat para guru untuk semakin meningkatkan kualitas dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan. 
 Semoga! [Wylvera W.]



15 komentar:

  1. Kesenjangan itu kentara sekali ya. tapi semoga tidak menghambat harapan adik-adik kita yang bersekolah di sekolah 'sampah' untuk membuktikan diri kalau mereka memang bisa jadi orang hebat suatu hari kelas!

    BalasHapus
  2. @Kang Iwok: Aamiin, semoga harapan itu bisa menjadi kenyataan. Makasih ya, sudah berkunjung di sini. :)

    BalasHapus
  3. @Erna Fitrini: Jadi? *menunggu komen berikutnya. Thanks, sudah berkunjung ya. ;)

    BalasHapus
  4. Semoga cita-cita anak-anak itu tercapai ya.

    BalasHapus
  5. @IndahJuli: Aamiin.... Btwm bukan hanya anak-anak itu, gurunya juga menyimpan jutaan harapan di sana. Semoga impian mereka segera terjawab.:)

    BalasHapus
  6. Ikrar itu, mengharukan sekali... :)

    BalasHapus
  7. Benar. Ikrarnya keren. Coba dulu waktu SD aku ada kaya' begituan.

    BalasHapus
  8. Jadi inget film Rumah Tanpa Jendela. Semoga kondisi ini tidak mengalahkan semangat anak-anak Sekolah Sampah. Tulisan yang sangat menyentuh dan "mengusik" nurani, Kak Wiek. Inspiratif. :)

    BalasHapus
  9. Posenya bagus tuh *salah fokus*

    ----benerin fokus-----

    apapun nama gerakannya, kalo demi kemajuan bangsa pasti saya dukung. minimal doa dan komen di blog. yang penting konsisten, terus menerus sampai tujuan tercapai sekalipun.

    BalasHapus
  10. @Haya Aliya Zaki: Benar, dulu sebelum mereka mendapat tempat d tanah wakaf(dari salah satu donaturnya)yang sekarang dibangun tempta belajar yang lumayan layak, mereka sempat merasakan belajar dengan fasilitas yang mirip-mirip rumah kardus cuma waktu itu dari bambu dan triplek. Aku sempat lihat foto-fotonya. Duh... terharu dan miris melihatnya. Makasih ya, Haya. Kapan-kapan kita bisa ke sana bersama-sama. :)

    BalasHapus
  11. @Benny Rhamdani: Eh, pose yang mana? *dibahas
    ----kembali ke komen yg fokus---

    Aamiin, memang kekonsistenan itu yang paling penting. Makasih ya, Pak Guru sudah mau mampir di tulisan ini. :)

    BalasHapus
  12. @Fita Chakra: Iya, Fit... mereka begitu optimis melihat masa depannya. Semoga impian itu terjawab ya. Aamiin. :)

    @Dee: Waktu aku SD suka diminta menuliskan karangan tentang cita-cita di buku tulis. :)

    BalasHapus
  13. sudah bisa saya bayangkan baunya,
    dari rumah saya yang depan pasar bantargebang saja sudah tercium, apalagi disana langsung.

    Semoga Allah membalas perbuatan mulia mereka untuk memuliakan manusia dengan balasan berlipat ganda.
    Amin.

    BalasHapus
  14. @catatan-cinta-bunda: Aamiin.... iya, Bunda. Sesekali dari rumah kami di Rawa Lumbu saja masih suka bertiup aroma sampah dari sana. Dan, ketika saya berkunjung, tak bisa saya ungkapkan bagaimana rasa kagum saya pada para guru yang begitu bersemangat membagi ilmu dan cintanya kepada anak-anak di sana.

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...