Jumat, 13 September 2013

My Dear Son....



Darryl Khalid Aulia

            Ibu sudah pernah bercerita bahwa melahirkanmu adalah momen paling mendebarkan. Selama lebih dari 24 jam Ibu menanggung rasa sakit dari yang ringan sampai luar biasa nyaris tak tertahankan, namun kau tak kunjung lahir juga. Ibu sempat menyerah dan minta dokter melakukan bedah caesar agar rasa sakit itu tak lebih lama lagi Ibu rasakan. Tapi, dokter punya keyakinan lain. Dia percaya kalau Ibu masih kuat untuk melahirkanmu secara normal.
            Kamu tahu, Nak... selama 24 jam itu pula Ibu merasakan kelelahan yang luar biasa. Erangan dari rasa sakit sesekali terucap dari bibir Ibu yang terus berharap agar kau cepat lahir. Ibu ingin sekali melihat bayi laki-laki mungil yang masih betah di perut ini. Akhirnya keyakinan dokter yang membantu Ibu melahirkanmu terbukti. Ibu masih bertahan hingga detik-detik kau hadir ke dunia ini. Begitu tubuh mungilmu yang masih diselimuti darah itu digendong perawat dan diletakkan di atas dada Ibu, luar biasa, Nak... rasa sakit selama 24 jam sebelumnya tiba-tiba hilang seketika. Melihat wajah mungilmu yang begitu tampan membuat Ibu tersenyum bahagia dan berkali-kali mengucap syukur kepada Allah SWT.
            Ibu juga sempat melihat senyum bahagia itu di bibir bapakmu. Dia tak sabar menunggu perawat membersihkanmu untuk diazankannya. Setelah itu, lagi-lagi Ibu dan Bapak sepakat memberi nama untuk bayi kedua kami secara bersama-sama. Bapak memberimu nama Darryl Khalid dan Ibu menambahkan Aulia sebagai penutup namamu. Rasanya lengkaplah sudah, kami memanggilmu dengan nama Darryl Khalid Aulia. Ibu tersenyum kala itu, teringat ketika Ibu juga melengkapi nama kakakmu , bukan di belakang tapi di bagian depan namanya. Selanjutnya Ibu menikmati hari-hari pertumbuhanmu.


Seiring berjalannya waktu, Ibu sempat merasakan rasa tidak percaya diri muncul di ekspresi matamu kala itu. Sebab kau sering mendengar anggapan seperti ini, “Kalau si Kakak mukanya paduan wajah Ibu dan Bapaknya, kalau Khalid siapa ya?” Akhirnya tanpa Ibu duga kau mengajukan pertanyaan yang begitu mengejutkan. “Bu, aku anak Ibu sama Bapak kan?” tanyamu dengan tatapan penuh penasaran, mengharap kepastian. Saat itulah Ibu menceritakan proses kelahiranmu. Berangsur-angsur bibirmu tersenyum. Oalah, Naaak... kau pikir kau anak siapa memangnya?
            Kau pun semakin bertumbuh dengan pembawaan yang tenang. Mulailah Ibu merasakan perbedaan-perbedaan itu. Bagaimana Ibu bersikap kepada Kakak tidak sama polanya jika Ibu berhadapan denganmu, Nak. Watakmu yang keras dan sedikit sulit berbasa-basi membuat Ibu harus pandai-pandai menghadapimu. Kalau lagi kesal, bapakmu selalu menjuluki karaktermu itu textbook style. Kalau ingat itu, Ibu jadi geli sendiri.
            Suatu ketika, Ibu juga dikejutkan oleh pertanyaan yang spontan darimu. Saat itu kau masih duduk di kelas 2 SD. “Bu...Ibu sayangnya sama siapa sih? Aku atau Kakak?” tanyamu membuat Ibu nyaris terdiam karena tak siap diajukan pertanyaan seperti itu. Untunglah, Ibu tak terlalu lama menyusun jawaban yang Ibu harap bisa memuaskanmu. “Ibu sayang sama dua-duanya. Kakak sama Adek kan sama-sama anak Ibu, jadi sayangnya juga harus sama, tak ada yang dibeda-bedakan,” jawab Ibu tak langsung membuat bibirmu tersenyum. “Trus, kenapa Ibu lebih suka marahi aku kalau nyuruh belajar. Ke Kakak enggak tuh,” sambungmu lagi memberi perbandingan. “Sebenarnya Ibu bukan marah, tapi memberi semangat ke Adek supaya belajarnya lebih rajin,” jawab Ibu lagi semakin ragu karena tak yakin kau puas mendengarnya.
Benar saja, kau masih mengajukan argumentasi lainnya. “Kakak juga enggak terlalu rajin belajarnya, tapi Ibu tenang-tenang aja tuh,” katamu lagi. Ibu mulai terpojok kala itu, Nak. Begitulah bagian kecil dari karaktermu yang selalu merasa tak puas jika tak menemukan argumentasi yang kuat. Dan itu pula yang memicu Ibu untuk terus belajar menampung segala pertanyaan dan argumentasi lain yang terkadang tiba-tiba muncul dari bibir mungilmu.
            Bukan tak pernah kita berselisih paham, anakku. Bahkan Ibu sempat menangis karena merasa kalah dan kehabisan akal untuk melenturkan egomu. Namun, bersamaan dengan itu, hati Ibu benar-benar kau sejukkan kembali dengan permintaan maaf darimu. Meskipun watakmu keras, namun demi menenangkan hati Ibu, kau tak angkuh untuk meminta maaf atas kesalahan yang sempat kau lakukan. Itu yang diam-diam membuat Ibu bangga padamu, Nak. Ibu semakin menyadari bahwa kekerasan watak dan karaktermu itu bukan tanpa alasan, hanya saja terkadang Ibu terlambat memahaminya. Maafkan Ibu ya, Nak....
Dan, ada hal-hal lain juga yang tanpa Ibu sadari, ternyata membuatmu tidak nyaman. Sikap yang Ibu lakukan terhadapmu dalam soal belajar, makan, mandi, dan hal-hal lain yang menurutmu tak perlu disuruh-suruh, membuatmu terkadang merasa jengah. Sekali lagi, maafkan Ibu, Nak... karena Ibu terkesan tidak adil di matamu, meskipun sesungguhnya semua itu Ibu lakukan karena rasa cinta yang besar kepadamu. 

            Sekarang kau sudah kelas 2 SMP, sudah baligh, bahkan suaramu pun lambat-laun mulai berubah. Ibu sangat menikmati setiap perubahan yang ada di dirimu, Nak. Rasanya begitu cepat waktu membawamu menuju remaja. Watakmu yang dulunya keras dan sulit sekali dilenturkan, kini mulai melembut. Kau lebih mudah diajak negosiasi tentang hal-hal yang dulunya sulit kau tolerir. Meskipun masih ada karakter dasar yang tetap seperti dulu, seperti soal tampil/show di depan umum. Kalau boleh Ibu membandingkan (sekali ini saja), kau dan kakakmu sangat jauh berbeda dalam hal ini. Kakakmu itu selalu percaya diri untuk tampil, baik itu hanya sekadar menyanyi atau menari maupun mengikuti lomba-lomba. Sedangkan dirimu, jangan harap kau mau mengikuti perlombaan jika itu tak benar-benar kau rasakan langsung manfaatnya. Jangan harap Ibu bisa melihatmu tampil bermain gitar (meskipun kau sudah mulai terampil memainkannya), jika keinginan itu tak datang dari hatimu.
“Aku bukan Kakak, kami berbeda, jadi Ibu sama Bapak harus ngerti. Jangan memaksa kalau aku enggak suka melakukannya. Jangan bikin seolah aku jadi saingan Kakak.” Begitu bijaknya kau menekankan argumentasimu jika Ibu tak sadar telah melakukan kesalahan yang sama. Waktu itu Ibu sangat tertohok mendengar kalimat yang meluncur dari bibirmu. Meskipun awalnya Ibu sulit menerima argument itu, tapi lama-kelamaan Ibu menyadari bahwa Ibu dan Bapak tak boleh menyamakan atau membanding-bandingkan karaktermu dengan kakakmu. Maafkan Ibu lagi ya, Nak... karena proses memahamimu mungkin kau rasakan begitu lambat sehingga kau tak sabar untuk mempercepatnya. Tak apa, Nak... dengan begitu Ibu menjadi sadar dan cepat mengubah kesalahan yang telah terlanjur Ibu lakukan.
Meskipun kalian berdua lahir dari rahim Ibu, perbedaan karakter itu tetaplah harus Ibu dan Bapak hormati dan hargai. Justru jika Ibu mengenang semua itu, rasa bangga yang muncul. Bukankah itu menunjukkan kalau kau sebenarnya anak yang cerdas? Masih seumur ini saja kau sudah kuat memegang prinsip. Rasanya tak pantas jika Ibu menilai sikapmu itu sebagai bentuk perlawanan kepada Ibu dan Bapak. Pertahankan hal-hal positif dalam dirimu dan buang yang negatif itu jauh-jauh. Ingatkan Ibu juga jika suatu hari kelak, Ibu kembali melakukan kesalahan. Ibu mengizinkanmu untuk melakukannya, asal semua untuk kebaikan kita bersama, Nak. Asal semua kita lakukan atas dasar cinta karena-Nya.
Akhirnya, my dear boy....
Sebelum tadi merangkai kata hati ini untukmu, Ibu benar-benar memilih kata dan kalimat yang Ibu harap pas untukmu. Jika kelak kau membaca semua ini, Ibu harap kau akan suka dan semakin memahami bahwa sesungguhnya Ibu sangat menyayangi dan mencintaimu anakku. Ibu ingin kelak kau menjadi pelindung bagi keluarga ini. Teruslah bertumbuh sebagai pria sejati, penyayang dan penuh cinta kasih terhadap sesama. Jadilah pria soleh yang akan menjadi imam untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu di kemudian hari. Aamiin....

Sebelum menutup curahan hati untukmu ini, izinkan Ibu mengutip kembali bagian dari bait-bait puisi yang pernah Ibu hadiahkan di hari ulang tahunmu. Semoga kau suka, anakku sayang....

Anak lelakiku....
Hari ini, senyumku mungkin tak begitu kau pahami
Tapi sesungguhnya aku tau jika hari ini kau juga ikut tersenyum
Hari ini, bahagiaku mungkin tak begitu kau mengerti
Namun sesungguhnya aku tau hari ini kau juga ikut berbahagia
Tak banyak yang kau pinta karena kau begitu sederhana
Meskipun aku tahu ada harap dibalik senyummu
Dan,
Dia menitipkan cinta kepada Ibu dan bapakmu
Untuk bisa mengasihimu, memelukmu, membesarkanmu dan mendidikmu
Maka melangkahlah dengan gagah
Isi hari-harimu dengan berjuta makna
Untukmu anakku, kami takkan lepas memanjatkan doa
Agar kau tumbuh menjadi lelaki yang berguna
Tak ingkar akan keagungan Sang Pencipta
Seperti Zakaria dalam doanya...
"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau maha pendengar doa." (Qs Ali Imran 3:38)
__________Untuk melanjutkan tongkat estafet menuliskan surat cinta (project manis dari Makmins KEB) kepada #DearSon ini, aku berikan kepada Mak Yuni Fawwaaz Rudy , silakan ya, Mak.

Selasa, 10 September 2013

My Dear Daughter....




Yasmin Amira Hanan
Anakku....
Melihatmu adalah berjuta bahagia buatku
Ceriamu adalah luapan pelipur laraku
Air matamu adalah tumpukan gundahku
Ibadahmu adalah pelindung dan penyelamatku
Meski tak selalu terucap dalam kata-kata
Sayang dan cintaku kerap ada dalam doa
Tetaplah menjadi anak Ibu yang manis dan soleha
Agar tak hanya di dunia kita bersama

Ketika kau masih di dalam kandungan Ibu, Bapak selalu menduga kalau yang ada di dalam perut Ibu adalah anak laki-laki. Semakin hari bapakmu semakin dibikin penasaran karena dokter kandungan yang memantau perkembanganmu dalam rahim Ibu masih bertahan tak mau memberitahu jenis kelamin dirimu. Tapi, sebenarnya Ibu sudah merasakan bahwa ada calon bayi perempuan mungil dalam perut Ibu.
Begitulah, Nak... bapakmu lalu mencarikan nama anak laki-laki sebagai persiapan menyambut kelahiranmu. Nama itu cukup bagus sebenarnya, Bagus Abian Wicaksana, tapi keyakinan Ibu semakin besar ketika hari-hari kelahiranmu semakin dekat bahwa kamu adalah anak perempuan. Dan, benar saja... ketika wajahmu muncul, bapakmu tanpa sadar berucap, “Oh, Alhamdulillah... perempuan rupanya, Wiek.” Ibu hanya tersenyum mendengarnya.
Bapakmu memang cekatan, begitu dia tahu kalau anaknya lahir sebagai bayi perempuan cantik yang montok, dia segera menemukan nama Amira Hanan untukmu. Lalu, Ibu melengkapi nama itu dengan tambahan Yasmin di depannya. Lengkaplah kami memanggilmu Yasmin Amira Hanan. Dokter dan perawat di rumah sakit itu sempat memuji namamu yang indah. Alhamdulillah, saat itu ibu pun tak henti berdoa semoga akhlakmu jauh lebih indah dari nama yang kami berikan.
Sebagai anak pertama Ibu dan Bapak, sekaligus cucu pertama dari Kakek dan Nenek, waktu itu kehadiranmu tentu saja seakan sebuah permata yang berkilau. Perhatian dan kasih sayang kami tercurah untukmu. Dan, kau pun tumbuh menjadi anak yang periang, lincah, kreatif serta menggemaskan. 
Suatu hari, kala itu usiamu baru sekitar lima tahun. Tapi, entah pemicu dari mana dan mungkin saat itu Ibu terlalu lelah, tiba-tiba kenakalanmu sulit Ibu tolerir. Ibu sempat memukul kakimu dengan ikatan sapu lidi. Kamu menangis tersedu-sedu dan dalam isakanmu kau berkata, “Ibu jahat!” Kau tahu, Nak... saat itu hati Ibu hancur berkeping-keping. Ibu ingin segera memelukmu, tapi entah bisikan syetan mana yang menahan Ibu untuk tak segera memelukmu. Bisikan itu mengatakan, bahwa Ibu perlu menghukummu kalau kamu nakal.
Ketika rasa lelah sempurna menguasaimu karena menangis, akhirnya kamu tertidur lelap. Saat itulah, Nak... Ibu memandangi wajahmu berlama-lama sambil sesekali mengelap air mata penyesalan yang menetes di pipi Ibu. Ibu mengelus betismu yang tadi sempat tersambit oleh sapu lidi. Rasanya Ibu tak sabar menunggu kau terbangun dan mengucapkan permohonan maaf serta memelukmu. Dengan hati penuh harap, Ibu sabar menunggu kau terbangun sambil sesekali mengelus kepala dan punggungmu.
Begitu kau membuka mata, Ibu tak mau menunggu lama dan mengatakan, “Maafin, Ibu ya.” Matamu masih menerawang menatap wajah Ibu. Lagi-lagi Ibu tak mau menyia-nyiakan waktu, tubuhmu Ibu raih dan peluk seerat mungkin demi menebus semua kesalahan dan kekasaran Ibu. Rasa haru semakin membuncah ketika pelukan Ibu kau sambut dengan hangat seolah kau sudah lupa dengan kekejaman yang baru saja Ibu lakukan padamu. Ah, kalau ingat itu, rasanya Ibu ingin sekali mengulang waktu agar kejadian itu tak ada dalam catatan hati Ibu dan dirimu. Sungguh, Ibu menyesal....
Betapa cepat waktu melaju. Sekarang, kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Banyak waktu dan cerita yang sudah kita lewati bersama. Ketika dulu kau sakit, terjatuh, tertawa, sampai kegembiraan yang meluap-luap saat kau menerima beberapa piala adalah kenangan yang selalu indah untuk Ibu kenang. Kau memang selalu mengisi hari-hari Ibu dengan pesona kreativitas yang Allah berikan untukmu, Nak. Semoga budi pekertimu pun tumbuh seiring dengan kreativitas itu.        
          Saat kau tumbuh remaja dan mulai terbuka bercerita tentang teman laki-laki sekelasmu atau sahabat perempuan di sekolah yang terkadang membuatmu kesal dan ingin marah. Lalu, ketika tanpa terelakkan kita tiba-tiba berdebat tentang sebuah prinsip, lagi-lagi itu membuat Ibu semakin belajar memahamimu, anakku. Semoga proses itu terus kita nikmati bersama.
Kau ingat, ketika pertama kali mendapatkan haid pertamamu? Kala itu kau masih duduk di fifth grade elementary school. Waktu itu kita masih berada di Urbana Illinois Amerika. Kau sempat menolak tanda akil baliqmu itu dan mengatakan, “Kenapa kok cepat banget sih? I’m ashamed! Kakak gak mau ke luar apartemen!” ujarmu panik.
Ibu tak mau membiarkanmu larut dalam kepanikan itu. Dengan menyimpan rasa lucu sebenarnya, Ibu memberi pengertian kepadamu bahwa seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT. Darah yang keluar dari tubuhmu itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepadamu agar kau semakin belajar untuk menjaga diri, semakin bertaqwa dan menjaga auratmu. Artinya kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Mendengar penjelasan Ibu, sikapmu tidak langsung berubah, kau masih malu-malu turun dari mobil ketika Ibu mampir ke apartemen teman waktu itu. Kau lebih memilih menunggu di mobil. Lucu rasanya kalau ingat itu.
“Aku nggak mau orang lain tahu kalau aku berdarah,” ucapmu lugu membuat Ibu berusaha menahan tawa. Namun, situasi itu tidak lama. Kau memang anak Ibu yang cerdas. Akhirnya kau mau menerima dan mulai terbiasa dengan tanda kegadisan itu.
Anakku sayang, kau tahu... ketika berada di sampingmu ada waktu-waktu yang sejujurnya membuat Ibu ketakutan tapi sekaligus berusaha ikhlas dan pasrah? Yah, saat itu adalah ketika melihat dirimu sakit dan terbaring lemah. Dulu, ketika kau masih kecil, Ibu begitu cemas ketika kau harus dirawat di rumah sakit. Hati Ibu tak pernah lepas dari doa agar kau segera pulih dan kembali bermain dengan riang gembira. Saat-saat itu Ibu pikir sudah kita lewati, Nak. Tapi, Allah SWT ternyata masih sayang kepadamu dan Ibu.
Belum lama ini, Ibu kembali dihadapkan pada kecemasan yang luar  biasa berat Ibu rasakan. Rasanya baru saja kita bersuka-cita merayakan hari kelahiran dan pertambahan usiamu menjadi 15 tahun di bulan Juni 2013 lalu, tiba-tiba kau kembali jatuh sakit. Ketika itu dunia terasa runtuh di atas kepala Ibu, Nak. Ibu berusaha tegar mendengar diagnosa dokter yang menyimpulkan bahwa di empedumu saat ini tengah menyimpan batu kecil berdiameter 0,8 centimeter. Itulah yang membuat kita sama-sama menikmati malam-malam puasa di rumah sakit itu. Tidak hanya itu, hasil endoskopi menunjukkan bahwa lambungmu juga bermasalah. Dari diagnosa itu kau pun harus menjalani terapi obat dan diet ketat.
            Hasil diagnosa itu membuatmu harus kembali mengkonsumsi obat secara rutin setelah kau sempat menghentikannya di pertengahan 2013 lalu. Proses dan serangan rasa sakit yang kau derita saat itu membuat hati Ibu terasa tercabik-cabik. Erangan suaramu saat berjuang menahan rasa perih di lambung dan perutmu yang kram serta wajahmu yang pucat pasi menekan beban nyeri di ulu hati, membuat Ibu ingin meminjamkan semua organ tubuh ini untukmu. Dan, kalau saja mungkin, Ibu ingin sekali menggantikan kesakitanmu itu, Nak. Sungguh....
             
          Ibu ingin menuntaskan curahan hati ini kepadamu, Nak. Sebelas hari kebersamaan kita di rumah sakit itu membuat nyali Ibu pasang surut. Ketakutan Ibu semakin memuncak ketika malam itu rasa nyeri itu kembali menyerangmu sehingga para perawat bergegas memasangkan selang dari tabung oksigen ke hidungmu. Kau tahu, Nak... sekali lagi Ibu ingin memelukmu sekuat-kuatnya saat itu. Ingin memohon kepada Sang Maha Pengasih untuk menggantikan semua kesakitan yang kau rasakan ke tubuh Ibu. Tapi, Ibu terus berusaha menegarkan rasa, memupuk ikhlas dan rasa menerima bahwa semua ini harus kita lewati bersama-sama. Allah punya rahasia untuk kita, Nak....
            Mira, anakku sayang... In shaa Allah, setelah apa yang kita alami, membuat Ibu semakin dekat dan menjagamu dengan segenap jiwa raga. Ibu akan terus memberikan yang terbaik demi kesembuhanmu, demi angan-angan dan cita-citamu yang tinggi. Ibu ingin melihat kau meraihnya. Ibu ingin melihat stetoskop itu tergantung di lehermu. Iya, Kak... Ibu akan berusaha mendampingimu hingga kau meraih profesi dokter itu. Teruslah berjuang, anakku sayang... Ibu dan Bapak akan selalu mendukungmu. Terutama Ibu, luapkan segala rasa yang ingin kau tumpahkan. Ibu selalu siap untukmu, In shaa Allah.
Semoga Allah SWT memberikan waktu itu untuk kita, anakku. Aamiin. []  



Untuk Mak Dian Ekawati Suryaman salam kenal, sebagai salam perkenalan kita, aku mempersilakan dirimu membagi catatan hatimu bersama putri kesayanganm, ya Mak. :)

       

Kamis, 05 September 2013

Di Acara Halalbihalal itu ....



            Menyinggung tentang kata hahalbihalal, dari literasi yang pernah saya baca, halal-bihalal sendiri dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan menyenangkan. Mungkin terkait dengan makna itu, setiap memasuki bulan syawal, tradisi yang kerapkali digelar adalah acara halalbihalal ini.
Hampir semua komunitas menyempatkan waktu mengambil momen untuk terlibat di acara ini. Begitu juga dengan Kumpulan Emak2 Blogger (KEB). Setelah awalnya MakPon Mira Sahid (sapaan akrab Emak Founder KEB) melemparkan usulan tanggal penyelenggaraan halalbihalal di grup, akhirnya muncullah kesepakatan bahwa acara itu akan digelar pada tanggal 1 September 2013 yang lalu.
Hari “H” yang ditunggu-tunggu pun tiba. Acara halalbihalal Kumpulan Emak2 Blogger digelar di sebuah tempat makan bernama D’Cost yang lumayan nyaman, murah dan mudah dijangkau oleh anggota KEB yang bermukim di Jabodetabek. Dan, tidak terlalu sulit juga bagi mereka yang datang dari Bandung. Buktinya mereka hadir tepat waktu.
Karena sudah lama tak saling bertemu dan kumpul-kumpul, saya pun ikut hadir di acara yang diadakan di Plaza Semanggi itu. Begitu memasuki gedung, dengan mengenakan dress code  Smart Casual white and jeans (meskipun enggak casual-casual amat sih... makanya enggak menang...hihihi) yang sudah disepakati, saya pun melangkah yakin menuju lokasi acara. Seperti biasa, setiap KEB menggelar acara kumpul-kumpul, jangan kaget kalau penyambutannya selalu hangat dan penuh kekeluargaan. Kedatangan saya pun disambut sehangat matahari pagi. Cipika- cipiki pun tidak terlewati (padahal saya belum ngisi buku tamu lho waktu itu, untung ingat kalau enggak ‘kan nggak bakalan dapat doorprize...qiqiqi).
MC andalan KEB (Mak Aulia Gurdi) membuka acara halalbihalal.
Singkat cerita, acara pun dibuka oleh MC favoritnya KEB, Mak Aulia Gurdi dengan santai. Tak panjang kata pembuka yang beliau habiskan (mungkin kasihan melihat wajah-wajah lapar yang sudah menunggu untuk makan siang...hahaha), beliau pun mempersilahkan Mak Fadlun (Ketua Panitia #KEBSyawalan). Lagi-lagi seperti ingin mempercepat waktu lunch, Mak Fadlun tak berpanjang kata dan langsung membuka acara dengan doa. Feling so good. Hehehe....
Mak Fadlun (ini lho ketua panitianya).
Tak lengkaplah rasanya kalau KEB menggelar acara tanpa sepatah dua patah kata dari Foundernya. MC pun mendaulat MakPon Mira Sahid untuk memberi sambutannya. Yang saya ingat, MakPon mengatakan bahwa acara halalbihalal ini adalah bentuk kerinduan KEB yang sudah lama tak menggelar acara pertemuan setelah event akbar Srikandi Blogger beberapa bulan yang lalu. 
MakPon Mira Sahid dalam sambutannya. :)
Emak muda yang selalu tampil cantik dan stylist ini juga menyelipkan program KEB ke depan. Pertama tentang training online menulis yang akan digawangi oleh Nunik Utami (penulis yang sudah menghasilkan puluhan buku) untuk member KEB. Kedua, tentang ajang pemilihan Srikandi Blogger 2014. Saya cukup senang dan berbangga hati menyimak informasi yang disampaikan oleh MakPon. Kalau di event Srikandi Blogger yang lau jajaran Makmin KEB telah mempercayakan saya sebagai ketua penyelanggaranya, untuk 2014 nanti sahabat saya yang didaulat untuk memotori acara bergengsi ini. Alhamdulillah... semoga Mak Haya Aliya Zaki dan para Srikandi Blogger KEB 2013 terpilih diberi kemudahan dan kelancaran untuk mengemban amanah ini. Aamiin.
Inilah panitia Pemilihan Srikandi Blogger 2014 yad.
            Sebelum acara dilanjutkan, ternyata masih ada satu lagi yang didaulat untuk memberi sambutannya. Emak berbaju oranye itu terlihat gugup saat memulai kata-katanya. Yaaa... tentu saja, belum memulai sudah dianggap selesai. Hahaha... peaaace ya, Mak Icoel.
Mak Sumarti Saelan salah kostum deh kayaknya. :p
           Begitulah, setelah sambutan selesai MC pun menggelar acara makan siang bersama. Tapi, jangan salah, biarpun dalam keadaan makan, ruangan yang berukuran kira-kira 5x5 meter itu tidak pernah hening dari keriuhan. Ada saja bahan candaan yang mampu membuat suasana terus mencair dan memancing gelak tawa. Itulah kami, para Emak yang tak pernah kering oleh senda gurau.
            Setelah makan siang, MC kembali memberi waktu kepada Mak Riski Fitriasari untuk memandu games. Game pertama adalah lomba meraut pensil. Saya ikutan dooong... tapi... tapi... enggak menang, Mak. Hehehe... ketauan kalau sehari-hari jarang sekali merautkan pensil anak ya?

Siap-sap lomba meraut pensil ni ceritanya. (Foto: Dina Begum)

Selepas itu, games lainnya juga tak kalah seru. Ada beberapa pertanyaan seputar KEB yang harus dijawab oleh para Emak. Dan, lagi-lagi saya bukan salah satu pemenangnya. Kasiaaan deh. Tak apalah, yang penting mereka happy (ngeless tingkat dewi). Berlanjut ke lomba mendorong tutup botol di atas meja. Siapa yang terdekat dengan garis pembatas tutup botol miliknya yang jadi pemenangnya. Daaan... the winner is... Mak Aryani! Plok...! Plok...! Plok...!


            Nah, bukan hanya itu lho games nya. Ada lagi yang seru. Kata panitianya, kalau ini tidak dilaksanakan, bakal tak ada lagi kesempatan untuk “ngerjai” para MakMin KEB. Nah, lho! Hihihi.... Kalau mau melihat keenergikan para MakMin dengan goyangan cesarnya, ya di acara inilah saatnya. Lanjutkaaan! Hahahaha....
Sebenarnya ini belum lengkap, tapi nggak tega, Maaak.... :p
            Tiga jam bersama di acara halalbihalal #KEBSyawalan ini benar-benar momen yang membuat saya nyaris “lupa diri”. Katanya sih, saya gokil... ah masak sih? Bukankah Mak Elisa Koraag jauh lebih “gila” dibanding saya yang pendiam dan malu-malu ini. Qiqiqi.... 
Lihatlah, kami sudah berusaha supaya tampil cantik. :)


Foto: Mak Dey (pinjam foto cantiknya ya. ;))
Eh, tapi, terang saja kegokilan saya kambuh. Bayangkan saja ya, saya dan Mak Elisa yang sudah begitu pede bakalan dipilih sebagai Emak dengan dress code terbaik, akhirnya harus mengalah (tepatnya gigit jari sih) karena pilihan panitia jatuh kepada Mak Winda Krisnadefa. Yaaah... lagi-lagi kami rela jika ditempatkan hanya sebagai finalis saja (menurut kami:p). 

Mak Winda, pemenang dress code terbaik. :)
            Demikianlah, acara yang penuh dengan canda tawa itu akhirnya ditutup dengan foto bersama. Kalau boleh jujur, sebenarnya kami masih ingin berlama-lama, tapi melihat mata pelayan di D’Cost itu rasanya enggak rela juga sih kalau sampai diusir dulu baru pulang. Hahahaha....

Lumayan kan yang hadir? :)

            Kebersamaan yang indah ini semoga terus terjalin dan terpupuk selamanya. Tidak hanya di dunia maya (blog, grup facebook dan twitter), KEB In shaa Allah mampu mengeratkan tali silaturahmi, menebar ilmu dan info bermanfaat, mencerdaskan sesama anggotanya di mana pun berada. Semoga.
            Kesimpulan dari cerita ini adalaaaah... saya sangat menikmati acaranya. Dua jempol buat panitia! Jarang-jarang juga ‘kan bisa melihat saya gokil macam itu? Jujur saja sehari-harinya saya ini pendiam dan agak malu-malu "in" lho, Maks. Hahaha....  []
           

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...