Senin, 09 Desember 2013

Bukan Sekadar Nonton Bareng


Asyiiik, akhirnya bisa nonton bareng! (Foto: Wylvera W.)

Sebenarnya acara nonton bareng ini ingin saya jadikan tradisi tahunan untuk murid-murid kelas ekstrakurikuler jurnalistik dan kepenulisan. Selain refreshing, saya ingin mengajak mereka untuk berlatih membuat resensi (salah satu materi ekskul yang saya masukkan ke dalam silabus) dari film yang mereka tonton. Namun, sejak angkatan pertama (2010 – 2011), murid-murid kelas jurnalistik SDIT Thariq Bin Ziyad, Pondok Hijau Permai, Bekasi yang saya bimbing tidak pernah lagi mendapat kesempatan untuk merasakan sensasi nonton bareng. Alasannya, karena kami tidak pernah menemukan jadwal untuk berkumpul di hari libur dengan film yang pas untuk ditonton. Terpaksa saya hanya bisa menyuguhkan film-film pendek untuk ditonton di kelas saja. Itu tentu saja tidak maksimal.
Setelah menunggu sekian lama waktu yang benar-benar pas, betapa senangnya karena akhirnya kesempatan itu kembali dinikmati oleh angkatan keempat. Sebelum memasuki ujian semester, mereka sempat meminta untuk menonton bersama seperti yang pernah dirasakan oleh kakak-kakak kelasnya.
“Ayo dong, Bu. Kapan nih kita nonton bareng? Masak cuma angkatan pertama aja yang diajak sama Ibu?” tanya salah satu dari murid saya ketika itu.
“Bukan begitu. Masalahnya, setiap ibu bisa selalu di antara kalian ada yang nggak bisa ikut. Enggak asyik kalau sebagian bisa nonton sebagian lagi enggak ikutan,” jawab saya memberikan pengertian.
“Sekarang pasti semua bisa deh, Bu. Iya kaaan?” tanyanya lagi kepada teman-teman sekelasnya.
Kelas mulai riuh oleh suara-suara mereka yang memaksa untuk segera dijadwalkan acara nonton bareng itu. Saya pun akhirnya menyetujui dan memutuskan untuk menetapkan tanggal serta harinya. Awalnya saya ragu, karena tanggal yang kami pilih bertepatan dengan sehari menjelang ujian semester pertama di tahun ajaran 2013 – 2014. Apakah orangtua mereka akan memberikan izin? pikir saya bimbang. Namun, mengingat semangat mereka yang menggebu-gebu itu, saya tekadkan untuk tetap membuatkan surat permohonan izin kepada orangtua mereka.
Singkat cerita, akhirnya surat izin orangtua pun disetujui oleh Kepala Sekolah. Senangnya saya, karena Kepala Sekolah malah memberikan dukungan dengan menyediakan anggaran makan siang untuk kami. Akhirnya surat yang sudah ditandatangani oleh Kepala Sekolah pun dibagikan ke murid-murid ekskul jurnalistik untuk dikumpulkan kembali di hari Kamis, 5 Desember 2013.
Di hari Jum’at (jadwal ekskul), saya kembali bertemu dengan anak-anak. Saya mengatakan bahwa acara nonton bareng di hari Minggu itu mereka tidak sekadar nonton begitu saja. Tentunya ada tugas yang akan mereka kerjakan. Untuk pemenuhan tugas itu, saya pun memberikan materi tentang cara meresensi film. Mereka tekun mencatat semua langkah yang harus mereka kerajakan nantinya.
Alhamdulillah, dari 19 murid yang ikut di kelas ekskul, 16 yang menyatakan ikut karena yang 3 lagi tidak bisa meninggalkan acara bersama keluarganya. Oh, iya... film yang akan kami tonton awalnya adalah “Sokola Rimba”, namun ternyata film itu sudah tidak ditayangkan lagi di seluruh bioskop XXI Bekasi. Sayangnya saya mengetahui ini di hari Sabtu sehingga tak sempat memberitahukan ke anak-anak. Saya pun memutar rencana. Dengan meminta persetujuan Kepala Sekolah lewat telepon, akhirnya saya mengalihkan uang yang sudah terkumpul untuk menonton film “Frozen” agar murid-murid saya tidak kecewa kalau dibatalkan.
Pada hari Minggu, ketika semua sudah berkumpul di sekolah, saya akhirnya mengatakan kalau film yang akan mereka tonton bukanlah “Sokola Rimba”, melainkan “Frozen”. Tanpa saya duga, mereka serentak berteriak girang.
“Horeee...! Nggak apa-apa, Bu. Frozen juga katanya asyik, kok,” seru mereka sambil menunjukkan senyum sumringah.
“Syukurlah, kalau begitu,” kata saya lega.
Tepat pukul 10.15 WIB kami pun berangkat menuju Mega Bekasi Mal dengan mengendarai dua mobil. Tiba di lokasi, serasa banyak mata yang memandang dengan bibir tersenyum ke arah kami, khususnya saya. Ya iyalah... 1 ibu dengan 16 anak itu, sesuatu banget lho. Hehehe....
Sabar menunggu pintu bioskopnya dibuka. :) (Foto: Wylvera W.)
Kami pun berjalan seperti pasukan baris ber baris, seakan tak mau terpisah dari rombongan sekejap pun. Karena pintu bioskop belum dibuka, mereka memilih untuk menunggu sambil duduk-duduk di sudut kosong yang bersih. Lucu melihatnya!
Begitu pintu dibuka, saya langsung melesat membeli tujuh belas tiket untuk kami. Jadwal tayang yang saya pilihkan adalah pukul 12.15 WIB. Masih ada waktu untuk menunggu.
“Kita sholat dulu yuk, biar nontonnya tenang,” usul salah satu dari mereka. Saya tersenyum karena merasa sudah didahului memberikan usul yang sama kepada mereka. Saya pun membimbing mereka ke tempat sholat. Saya yang tidak sholat (lagi libur soale) ketika itu mengambil kesempatan untuk mengambil foto kebersamaan mereka ketika melakukan sholat zuhur berjema’ah. Subhanallah....

Sholat zuhur berjema'ah sebelum nonton. (Foto: Wylvera W.)
Tibalah waktunya memasuki ruang bioskop. Kami mendapat posisi bangku di baris paling atas dan kedua. Saya mulai mengingatkan mereka kembali untuk tetap enjoy menonton filmnya supaya bisa merekam semua detail yang berlangsung di film ”Frozen” tersebut.
“Wah, lumayan berat ni, Bu,” bisik salah satunya.
“Kenapa?” tanya saya pura-pura tidak paham.
“Kan bahasanya aja udah beda sama film Indonesia, Bu,” jawabnya dengan mimik lucu.

Sesaat sebelum film diputar. (Foto: Wylvera W.)
Saya hanya tersenyum dan tetap menyemangati mereka agar tetap semangat menonton supaya tuga meresensinya lancar. Saatnya film diputar. Mereka langsung konsentrasi dan menikmatinya. Sesekali saya melirik ke mereka yang duduk sederetan dengan bangku saya. Wajah-wajah ceria dan antusias itu membuat saya tersenyum berulang-ulang. Puas karena bisa menyenangkan mereka, murid-murid saya.
Usai menonton, masih ada acara makan siang bersama. Tanpa dikomando, mereka langsung mengambil posisi duduk dengan tertib. Santapan sederhana yang tersedia pun habis dilahap. Sesekali saya dengar mereka mengulas tentang film yang baru mereka tonton.

Lunch dengan paket hemat. ;) (Foto: Wylvera W.)
“Eh, jangan lupa lho, resensinya harus dikumpulkan setelah ujian,” kata mereka saling mengingatkan. Saya kembali tersenyum sambil ikut menikmati sisa ayam goreng di piring saya.
Begitulah, panduan untuk menuliskan resensi tentang film Sokola Rimba yang sudah saya berikan di hari Jum’at, akhirnya beralih ke film Frozen, sehingga nonton bareng kali ini bukan sekadar nonton ceritanya. Hehehe....
        Rasanya tak sabar menunggu mereka menuliskan resensi itu. Tak sabar untuk membahas tentang film itu bersama mereka di kelas ekskul jurnalistik dan kepenulisan. Baiklah, saya harus sabar menunggu mereka selesai ujian semester. 
:) [Wylvera W.]

Senin, 02 Desember 2013

Menularkan “Virus” Menulis pada Anak


doc. Pribadi

Anak yang bisa menulis bukan hanya untuk menjadi penulis saja. Sebab, apa pun kelak profesi yang dipilih si anak, kemampuan menulis akan dapat menumbuhkan kreativitasnya dalam menjalankan profesi tersebut. Namun, untuk menjadi gemar dan suka menulis mungkin tak diminati oleh semua anak. Maka, untuk memotivasi mereka agar menggemari kebiasaan ini adalah tugas kita sebagai orangtua, guru, maupun insan yang peduli pada hal itu. 
Menulis di layar komputer vs buku tulis (sensasinya beda-beda lho). Doc. Pribadi
Untuk kepedulian itu, sebagai salah satu orangtua sekaligus guru (meskipun hanya mengajar di kelas ekskul), saya selalu memupuk semangat untuk menularkan kebiasaan menulis ini kepada anak-anak didik saya dengan istilah “virus” menulis. Saya selalu mengingatkan kepada anak-anak didik yang saya bimbing sejak 2010 lalu di SDIT Thariq Bin Ziyad Pondok Hijau Permai, Bekasi, tempat saya mengajar pada kelas ekstrakurikuler jurnalistik. Saya selalu menularkan “virus” menulis itu di sela-sela materi jurnalistik yang saya ajarkan kepada mereka. Seterampil apa pun mereka melakukan liputan dan wawancara, mereka tak akan mampu menyusun berita yang bagus jika keterampilan menulis mereka tidak diasah dengan baik. Itu yang kerap kali saya ingatkan.
doc. Pribadi
Awalnya mereka heran, sebab mengira bahwa kelas jurnalistik semata-mata hanya berlatih menjadi wartawan cilik yang baik dengan mampu meliput serta mewawancari narasumber saja. Begitu saya meminta mereka menuliskan reportasenya, barulah mereka menyadari bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan supaya mereka bisa menyajikan berita yang enak untuk dibaca.
Nonton bareng jadi kegiatan yang paling menyenangkan. (Doc. Pribadi)
Demi mengasah keterampilan mereka, saya tak lupa untuk menyelipkan materi menulis di setiap kali saya bertemu di kelas dengan mereka. Materi itu bisa berupa dari menuliskan cerpen, catatan harian, maupun opini mereka. Saya juga memberikan kesempatan kepada anak-anak itu untuk sekadar duduk di luar kelas atau di luar gerbang sekolah. Mereka saya minta untuk mengamati apa yang terjadi di sekeliling mereka dalam waktu sekitar lima belas menit. Setelah itu, saya meminta mereka kembali ke dalam kelas untuk memberikan laporan pandangan matanya ke dalam tulisan. Saya meminta mereka menuliskan semua yang mereka tangkap lewat panca inderanya. Alhamdulillah, hasilnya lumayan bagus.
Kunjungan ke Panti Asuhan. (Doc. Pribadi)
Tak hanya itu, untuk mendorong semangat mereka dalam menulis, sesekali saya juga meminta mereka menuliskan apa yang paling mereka sukai, ketahui dan kuasai. Karena menuliskan apa yang paling dikuasai akan memudahkan mereka menuangkan idenya. Imbas dari kebiasaan itu, lambat laun mereka semakin terampil untuk membuat laporan wawancara serta liputan lainnya dalam bentuk tulisan. Saya mengharapkan dua keterampilan sekaligus dapat mereka kuasai selama berada di kelas ekskul yang saya bimbing.  
Wawancara Pedagang. (Doc. Pribadi)
Pertama tentunya keterampilan jurnalistiknya. Untuk level anak-anak seperti mereka, saya membatasi pada keluwesan dalam menyusun pertanyaan serta melakukan wawancara kepada guru, teman sekolah, pedagang di sekitar sekolah, orangtua mereka serta terampil melakukan liputan sederhana di dalam maupun di sekitar sekolah. Kedua, tentunya keterampilan menulisnya. 
Doc. Pribadi
             Dari pengalaman mengajar kelas ekskul ini,  salah satu murid saya (Salwa Salsabila) sudah berhasil membukukan salah satu cerpennya yang lolos di lomba menulis cerpen tingkat nasional beberapa waktu lalu. Bukan hanya itu, cerpen Salwa juga lolos seleksi dan dia berhasil ikut serta dalam Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2013 setelah berkompetisi dengan lebih seratus cerpen peserta dari seluruh tanah air. Sementara murid saya yang lainnya juga telah berhasil menyusun tulisan dari wawancara mereka kepada para pedagang di luar sekolahnya yang dimuat di tabloid sekolah itu.
Saya berharap, keberhasilan ini tak terhenti hanya pada satu atau beberapa murid saja. Kelak akan ada lagi yang menyusul karena imbas “virus” menulis yang saya tularkan. Semoga. []

Selasa, 26 November 2013

Indahnya Berbagi Pengalaman di SMART Ekselensia



               Suatu ketika seorang teman, yang akrab saya panggil dengan Mbak Dwitra, memposting tentang acara bertema “Menjadi Indonesia Lebih Baik” di facebooknya. Acara itu adalah tentang kegiatan berbagi pengalaman, cerita kehidupan, dan pembelajaran hidup kepada adik-adik dhuafa di sekolah SMART Ekselensia, Parung, Bogor. Awalnya saya tidak ngeh, tapi karena nama saya ikut di-tag di kolom komen, maka saya tertarik untuk membaca postingan itu.


            Pucuk dicinta ulam pun tiba. Seperti menemukan lahan amal yang baru, hati saya langsung tergerak untuk ikut bergabung. Saya langsung menghubungi Mbak Dwitra lewat inbox facebook untuk menanyakan seperti apa bentuk kegiatan berbagi pengalaman itu. Dari penjelasan beliau akhirnya saya diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang profesi saya sebagai penulis. Ditambah penjelasan dari Ibu Lisa Rosaline (Manajer Pengembangan Bahasa di sekolah itu), rasanya sudah lumayan lengkaplah informasi yang saya terima.
            Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu (Senin, 11 November 2013), sebab hampir tak kuat rasanya menahan rasa penasaran untuk bertemu dengan adik-adik dhuafa yang kabarnya rata-rata memiliki intelegensi yang luar  biasa itu. Sebelumnya saya dan dua rekan lainnya (Siraj El Munir Bustami dan istri beliau, Indira Abidin) yang akan berbagi pengalaman, sudah diberikan susunan acara untuk kelas filantropi itu. Saya kebagian murid-murid kelas 7 SMP yang semuanya laki-laki.
 Sejak pagi saya sudah tak sabar menunggu jemputan dari pihak sekolah SMART Ekeselensia yang dijanjikan. Begitu mobil jemputan tiba di depan rumah, saya langsung dipersilakan naik dan kami pun berangkat menuju sekolah tersebut. Jalanan yang lumayan macet tak membuat saya dan salah seorang guru (Bu Retno) yang menjemput merasa bosan. Selama di perjalanan begitu banyak cerita yang kami bagi. Mulai dari cerita tentang pengalaman saya mengajar di kelas menulis sampai tentang pola pendampingan pendidikan kepada dua anak saya yang saat ini memasuki fase remaja. Obrolan kami yang menghabiskan durasi sekitar satu setengah jam itu akhirnya terhenti ketika mobil tiba di lokasi.
Sebelum masuk ke kelas filantropi, kami diberikan pengenalan sekilas tentang Sekolah SMART Ekeselensia yang sudah berdiri sejak tahun 2004 di Parung, Bogor itu. Sekolah itu adalah sekolah menengah berasrama yang membebaskan biaya pada murid-muridnya (anak-anak dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia). Sekolah itu juga menerapkan sistim akseleratif (5 tahun untuk jenjang SMP – SMA).
Mata saya tak bisa lepas dari tayangan tentang prestasi yang sudah diraih oleh murid-murid dhuafa di sekolah itu. Ragam prestasi telah mereka raih salah satunya seperti medali emas pada Olimpiade Sains Nasional ke IX untuk bidang Biologi. Masih banyak lagi prestai yang telah mereka ukir selama menimba ilmu di sekolah itu. Bahkan tidak sedikit alumni SMART Ekselensia yang lolos di Perguruan Tinggi Negeri ternama di tanah air ini. Luar biasa bukan?
Rasa kagum dan salut menyeruak di lubuk hati saya seketika itu. Betapa tidak, mereka saja yang terlahir sebagai anak-anak dhuafa telah mampu mengukir prestasi di bidang pendidikan, mengapa masih banyak anak-anak yang berkecukupan di luar sana lalai akan kesempatan yang ada di depan mata mereka? Seharusnya mereka belajar dari semangat teman-teman dhuafa ini.

Anak-anak yang Smart dan membanggakan.
Setelah sesi perkenalan dengan penanggung jawab sekolah, kita pun diantarkan ke kelas masing-masing. Sesampainya di kelas, saya langsung menangkap sorot mata murid-murid yang antusias dan haus akan ilmu itu. Betapa senangnya saya menerima sambutan yang begitu bersemangat dari mereka.
Sebelum saya berdiri di depan kelas, salah seorang murid membuka acara dan menyampaikan kata-kata sambutan dalam Bahasa Inggris. Saya semakin kagum dibuatnya. Selanjutnya beberapa murid tampil dengan suguhan performance, menyanyikan lagu berjudul “I Have a Dream”. Lagu itu seolah menggambarkan luapan mimpi mereka akan masa depan yang cerah.

Nyanyian pembuka untuk menyambut saya. :)
Akhirnya mereka mempersilakan saya untuk tampil dan berbagi kisah pengalaman saya sebagai penulis. Materi yang telah saya siapkan pun sudah terpampang di layar infocus. Jangan heran, walaupun sekolah ini diperuntukkan kepada anak-anak dhuafa, tapi perlengkapan sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar mereka lengkap dan memadai. Semua itu berkat Dompet Dhuafa sebagai penyandang dananya.
Tibalah waktunya saya berbagi. Bukan tentang materi menulis, tapi lebih pada memotivasi mereka untuk tidak ragu-ragu bermimpi sebesar yang mereka inginkan. Bahkan menjadi penulis pun bisa dijadikan sebagai mimpi besar mereka di masa yang akan datang.


Ada hal yang membuat saya tersenyum haru. Ketika di awal saya menampilkan foto saya dengan balutan coat, mereka langsung bertanya, “Itu fotonya di mana, Bu?” Saya pun spontan menemukan ide untuk membangkitkan semangat mereka. Saya katakan kalau foto itu diambil ketika saya berada di London.

“Nah, menjadi penulis itu hebat ‘kan? Dari hasil royalti atau uang yang didapat dari penjualan buku-buku karyanya bisa membawanya sampai ke luar negeri,” kata saya menyemangati mereka.
“Nulis bukunya harus banyak ya, Bu?” tanya salah satu dari mereka.
“Bisa iya bisa tidak. Karena beberapa buku saja pun jika best seller atau penjualannya laris maka royaltinya bisa banyak juga dan cukup untuk melancong sampai ke luar negeri, lho,” jawab saya membuat mereka menahan senyum takjub.
Masih banyak pertanyaan lain yang mereka ajukan. Saya menjadi bertambah semangat menjawabnya. Setelah itu, saya memberi kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan kemampuan menulisnya. Saya berikan waktu sekitar 10 menit untuk menuliskan 9 kalimat tentang mimpi dan harapan mereka. Bagi yang tercepat menyelesaikan dan utuh sembilan kalimat, saya menyediakan hadiah buku karya saya. Begitu waktu start disebutkan mereka langsung bergegas mencari posisi menulis yang nyaman bagi mereka. Luar  biasa! Tak satu pun yang terlihat enggan melakukannya. Semua semangat dan antusias.



Dari waktu sepuluh menit untuk menulis itu, akhirnya terpilihlah dua murid yang sesuai dengan syarat yang telah saya berikan. Buku karya saya pun menjadi milik mereka. Sebelum menutup acara, saya kembali disuguhi oleh penampilan salah satu murid yang menyanyikan lagu Justin Bieber, berjudul “Never say Never”. Wow! Kerennyaaa....

Nyanyian penutup sebelum berpisah.
Waktu sekitar dua jam yang diberikan kepada saya terasa sangat kurang. Banyak hal yang masih ingin mereka tanyakan, tapi karena waktu yang terbatas saya pun menutup kebersamaan kami dengan mengucapkan kalimat penyemangat, “Teruslah bermimpi dan bercita-cita setinggi mungkin, tidak terkecuali mimpi menjadi penulis hebat karena apa pun cita-cita dan mimpi kalian Insya Allah akan terwujud kalau kalian sungguh-sungguh ingin meraihnya.” Selebihnya, mereka tak membiarkan saya ke luar kelas begitu saja. Mereka berebut ingin mendapatkan tanda tangan saya. Subhanallah... harunya hati ini.

Terima kasih cinderamatanya, Bu Lisa. :)
Terima kasih, anak-anakku, dari kalian saya jadi mendapatkan pengalaman yang luar  biasa untuk dibagi kepada kedua anak-anak saya di rumah. Terima kasih juga, SMART Ekselensia, semoga suatu hari nanti saya diberi kesempatan lagi untuk kembali ke sana. [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...