Sabtu, 06 April 2013

Rindu di Tepi Kanal

 Aku baru saja menikmati kesibukan pagi di kota Bern. Ibukota Swiss ini memang tak pernah sepi. Apalagi di musim semi seperti ini. Udara yang sudah tidak terlalu dingin membuat orang semakin nyaman menikmati pemandangan dengan berjalan kaki. Masih pagi saja sudah begitu ramai orang hilir mudik. Rasa lelahku di perjalanan dari kota Medan langsung hilang.
Dulu, ketika Papa masih bertugas di sini, aku selalu diajak Mama menyusuri kota tua Bern. Kota ini sangat terpelihara dengan baik. Di jalanan yang yang berbaur bebatuan, menara jam (zytglogge) masih berdiri dengan gagah. Menara yang merupakan landmark dari abad ketigabelas ini berperan sebagai menara penjaga dan sekaligus denyut kehidupan kota Bern. Dulu aku selalu berhenti sejenak jika menara jam itu tiba-tiba memunculkan patung yang bergerak. Kata Mama, patung itu akan muncul setiap satu jam sekali.
Walaupun Bern memiliki transportasi umum yang sangat bagus, Mama lebih suka memilih menikmati kota tua ini dengan berjalan kaki. Kesempatan itu selalu diambil Mama saat menjemputku pulang dari sekolah. Aku tahu kalau Mama suka memanfaatkan waktu pulang sekolah untuk berkali-kali melintasi pemandangan yang sama.
“Enggak usah naik bis ya, Di. Enakan jalan kaki,” ujar Mama sambil sesekali membetulkan letak syal di leherku.
“Terserah Mama aja, kan kemarin-kemarin juga jalan kaki,”  balasku menahan senyum.
“Iya, Wily juga lebih senang jalan kaki kalau pulang sekolah. Dia enggak pernah mau saya ajak naik bis,” sambar Tante Mirna, Mama Wily.
Ingatanku bergerak pada anak laki-laki berkulit hitam manis dan selalu memakai topi itu. Ya, Wily namanya. Papi Wily juga ditugaskan oleh kantornya di Bern. Awalnya aku dan Wily teman satu sekolah. Setelah dua tahun di sekolah yang sama, akhirnya Wily pindah ke level SMP. Tapi, sekolah kami letaknya berdekatan. Tak sampai seratus meter. Sehingga kebiasaan pulang bersama pun kerap kali terulang.
Meskipun aku tahu kalau Wily adalah anak tunggal, tapi aku suka geli melihat ada anak laki-laki yang sudah SMP masih mau dijemput sama ibunya. Tapi, Wily tak pernah merasa jengah dengan sikap Maminya. Malah sepertinya dia sangat menikmati kebersamaan mereka saat pulang dan berjalan bersama itu. Kebiasaan menjemput itulah yang membuat Mamaku dan Mami Wily jadi berteman.
Kenangan tentang Wily kuhentikan. Sekarang tujuanku bukan untuk menghabiskan waktu di kota Bern. Ada janji dengannya untuk bertemu di Interlaken. Sebuah kota kecil di Swiss yang selalu membawaku berlama-lama melamunkannya. Aku bergegas menaiki kereta api menuju kota yang jaraknya hampir satu jam dari Bern itu. Selain ingin bertemu dengan teman masa kecilku, ada kenangan manis yang sulit aku lupakan di kota itu.
Kereta api yang kunaiki terus melaju, melintasi pemandangan bak lukisan di balik kaca jendela kereta. Pohon-pohon dengan warna daun yang kuning, hijau, dan kemerah-merahan menandakan musim semi sudah sempurna menyelimuti setiap kota. Rumah-rumah penduduk berdiri anggun di atas hamparan rumput hijau yang tumbuh di atas tanah berbukit. Sekawanan domba semakin melengkapi lukisan alam itu. Setiap kali ada kesempatan mendatangi kota ini, aku tak pernah bosan mengabadikan pemandangan dari balik jendela kereta yang sedang melaju. Ada kenikmatan tersendiri yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Takjub! Itu intinya.
Keretaku akhirnya sampai di Interlaken. Dadaku tiba-tiba bergemuruh. Ada seseorang yang berjanji menungguku di tepi kanal.
“Kamu tahu, kenapa kota ini bernama Interlaken?” tanya Wily waktu itu. Aku menggeleng dan memandang sinis padanya. Bagiku, Wily memang terkesan sok tahu segalanya. Meskipun benar dan diam-diam aku mengaguminya, tapi aku selalu gengsi untuk mengakuinya.
“Karena letak geografis Interlaken ini unik, Di. Letaknya di antara dua danau besar, Thun dan Brienzer. Nama Iterlaken berasal dari bahasa Latin, yaitu inter lacus yang artinya di antara dua danau,” tambah Wily menjelaskan. Aku diam saja waktu itu. Lagi-lagi gengsi mengakui kehebatan Wily di pelajaran Geografi. Sekali lagi bibirku tersenyum mengingat semua itu.
Janji bertemu dengan Wily membuatku tak sabar menuju bangku kayu di pinggir kanal itu. Sambil mengayunkan kaki, mulutku tak pernah lepas dari decakan kagum akan kota ini. Sejauh mata memandang, keindahan pegunungan Alpen selalu tampak sebagai latar belakang kota. Interlaken benar-benar seperti negeri Heidy si penggembala domba.
“Kota yang damai dan tenteram,” gumamku melepas kekaguman.
Ingatanku kembali ke Wily. Setelah tiga tahun bertugas di Bern, Papi Wily masih harus meneruskan masa dinasnya di kota administratif itu. Jika liburan panjang, keluargaku suka diajak melancong ke Interlaken. Di kota inilah dulu kami sering menghabiskan waktu sepanjang liburan. Di sini pula kami menghabiskan kebersamaan terakhir sebelum akhirnya Papaku kembali ke tanah air. Sementara keluarga Wily masih harus melanjutkan hari-harinya untuk menetap di Bern.
Dulu keluargaku dan Wily selalu melengkapi kebersamaan kami dengan menyusuri Boulevard di sepanjang tujuh ratus meter, yang merupakan jalan utama kota Interlaken. Turkis Kebab, tempat makan favoritku dan Wily juga masih ada dan terlihat tetap ramai saja dengan pengunjungnya. Entah mengapa, dari sekian banyak pilihan jajanan dan restoran yang menyajikan makanan khas Eropa di Interlaken, Turkis Kebablah yang selalu menjadi pilihanku dan Wily.
“Kalian mau makan apa?” begitu Om Herman selalu memberi pilihan awal kepada kami. Seolah aku dan Wily lah yang menjadi penentu.
“Aku enggak akan pernah bosan menikmati kebab, Pa. Kamu gimana, Di?” tanya Wily mengharapkan dukunganku.
“Iya, aku juga. Lebih aman dan halal,”
“Mengenyangkan pula,” sambar Wily sambil menepuk-nepuk perutnya. Geli juga kalau mengingat itu.
Ya, selain kenangan bersama Wily, aku memang selalu mengagumi kota ini. Jalanan yang bersih dengan bangunan pertokoan tertata rapi. Musim semi semakin melengkapi keindahan kota kecil ini dengan bunga-bunga segar yang berwarna-warni. Tak banyak yang berubah. Kota ini tetap cantik seperti dulu.
Sebentar lagi aku sampai di tepi kanal tempat Wily berjanji menungguku. Kupercepat langkah. Tiba-tiba kakiku terpaksa berhenti sejenak. Senyumku kembali merekah ketika melihat iring-iringan sapi berbadan gemuk berjalan berlawanan arah denganku. Suara lonceng yang menggantung di leher sapi-sapi itu mengeluarkan bunyi yang indah.
Kenangan lucu masa lalu kembali melintas manis di benakku. Dulu Wily suka mendorongku sampai merapat ke sapi-sapi itu. Dia tahu kalau aku takut sekali. Tapi, sekarang justru aku ingin mengelus badan sapi-sapi itu. Pemandangan seperti ini membuat ingatanku semakin menancap pada sosok Wily. Aku harus segera bertemu dengannya.
“Wily?!” seruku ketika melihat seorang pemuda dengan topi pet cokelat duduk di bangku kayu itu. T-Shirt hitam bergaris putih tipis-tipis itu membalut tubuh jangkungnya.
Pemuda itu menoleh ke arahku. Matanya menyipit. Beberapa saat ada keraguan di benakku. Lima belas tahun cukup lama untuk membuat struktur tubuh dan wajah seseorang berubah. Wily tumbuh menjadi pemuda jangkung. Badannya tak terlalu kurus. Meskipun dalam keadaan duduk, aku bisa mengukur bahwa perawakan Wily sangat proporsional untuk standar peragawan.
Wily mencoba berdiri dari bangku kayu yang dulu sering kami pakai untuk melepas lelah. Namun, Wily kembali terduduk. Matanya menatap air kanal yang berwarna kehijaun di depannya. Aku masih berdiri tak begitu jauh dari tempatnya duduk. Ingin memastikan apakah pemuda itu benar-benar Wily. Kudekati bangku kayu itu.
“Iya, Dian. Ini aku, Wily... laki-laki SMP yang selalu dijemput Maminya saat pulang sekolah ketika itu,” ujarnya lirih.
“Kakimu...?”
“Iya, aku mengalami kecelakan ketika mencoba mendaki Alpen,” sambarnya cepat.
Aku menghela nafas. Perlahan aku duduk di sebelah Wily. Mulutku terkunci. Tak sanggup melanjutkan obrolan. Padahal sebelumnya aku ingin melepas rindu yang membuncah di rongga dadaku. Banyak hal yang ingin kupertanyakan atas kabar-kabar lewat e-mail yang dikirimkan Wily. Salah satu pertanyaan tentang mengapa Wily tak pernah mau lagi mengirimkan foto-fotonya kini sudah terjawab.
Aku tak sanggup melihat Wily dengan kaki sebelah yang terkulai lemah. Penyangga seperti tongkat yang tersandar di sisi bangku kayu itu membuat dadaku bagai tertindih beban berat. Tanganku masih mencengkeram sisi bangku kayu yang sudah menua dimakan cuaca ini. Kubiarkan kami sama-sama terdiam. Air kanal di depan kami mulai memunculkan riak karena kepakan kaki bebek-bebek yang berenang. Hanya suara bebek-bebek di kanal Interlaken itulah yang terdengar di kebisuanku dan Wily. []











2 komentar:

  1. hai mbak vera, tahunya aku yg kompasiana ajaa..

    disini juga lengkap kap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai juga, maaf telat balas komennya ini. Maklum, sok banget beberapa minggu ini. Iya, Mbak... di sini catatanku yg lebih lengkap. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...