Jumat, 03 April 2015

Berbagi Kebahagiaan Lewat Welfie

Foto welfie bersama anak-anak Lapas (dokpri)


Welfie bersama anak-anak lapas? Pantaskah? Pantas saja, kenapa nggak?
Bukankah mereka juga butuh sedikit kegembiraan untuk sejenak melepas rasa resah, terkungkung, tertekan, kesepian, serta penyesalan yang membelenggu mereka di balik jeruji, akibat perbuatan yang terlanjur mereka lakukan? Tak ada yang salah bukan?

Baidewei ... sebenarnya, tidak pernah terpikir oleh saya untuk menyajikan kisah di balik gambar yang satu ini. Kalau bukan gara-gara membaca event di blog Emak Winda Krisnadefa, takkan pernah foto ini terpajang di blog saya.

Yap! Betul. Event dengan judul “Lomba Selfie Story Bersama Smartfren Berhadiah Windows Phone” yang digelar Emak Gaoel (begitu sebutan populernya), bikin saya tergugah untuk akhirnya ikut at the last minute waktu lomba yang ditetapkan.

Inilah kisah di balik sebuah foto yang saya pajang pada postingan kali ini.
Kalau dilihat selintas, tidak ada kesan istimewa yang tertangkap di balik momen dalam foto welfie bersama anak-anak Lapas Tangerang ini. Malah, cenderung kesan seru-seruan saja. Yaaa, namanya juga foto welfie. Apa sih yang pertama ingin ditampilkan kalau bukan momen seru?

Tapi, percayalah ... sesungguhnya ada beberapa cerita yang mendahuluinya.
Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria, Tangerang. Bukan sekadar berkunjung dan berfoto-foto tujuan utama saya. Ada hal yang lebih penting ingin saya bagi untuk mereka.

Profesi saya adalah penulis. Walaupun mungkin ilmu menulis yang saya miliki tidaklah sehebat dan sebanyak para penulis tenar lainnya, tapi saya merasa perlu membagi yang sedikit itu. Ketika saya diberi tawaran oleh komunitas Gerakan Peduli Remaja (GPR) yang sudah lebih dulu memiliki jadwal kunjungan tetap ke lapas anak pria ini, saya spontan mengiyakan.

Sejak itu, obsesi saya pun mencuat. Saya ingin anak-anak lapas itu juga mampu menulis. Tapi, saya tidak memaksa mereka untuk kelak menjadi penulis seperti saya setelah keluar dari penjara nanti. Saya hanya ingin mereka mau membagi kisah, keresahan, keinginan, angan-angan, cita-cita, serta harapan yang mungkin belum sempat terungkapkan dan lama terpendam di lubuk hati mereka.

Bersama teman-teman GPR, saya pun ikut menyusun dan membagi jadwal. Mereka mengisi sesi konsultasi (belajar mengaji dan sharing uneg-uneg), sementara saya memberi materi dasar tentang menulis. Begitulah kami melakukannya secara berkala. Hingga akhirnya anak-anak lapas itu berhasil menuliskan ceritanya. Memang tidak semua yang mampu menuliskannya sesuai arahan yang saya berikan. Namun, dari yang sedikit itu saja hati saya sudah bergetar membacanya.

Salah satu dari mereka ada yang menuliskan, “Kalau aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan mau melakukan kejahatan ini. Kasihan orangtuaku, apalagi ibuku. Pastilah sekarang hatinya hancur karena menahan malu punya anak seperti aku.”

Oh my God! Tidakkah hati ini terguncang membacanya? Ya, begitulah ... saya tak bisa bohong kalau mata saya basah ketika menyelami kalimatnya itu.

Baiklah, kembali dengan foto welfie yang menjadi tema postingan saya ini.
Setiap mengisi pelatihan menulis untuk anak-anak lapas waktu itu, saya memang suka meminta diambilkan foto pada teman-teman GPR. Bukan untuk gagah-gagahan ... bukan. Foto-foto itu hanya untuk pelengkap catatan saya tentang kegiatan berbagi pengalaman menulis di sana (beberapa di antaranya sudah tercatat di blog saya ini). Beberapa foto yang diambil itu, tak satu pun yang bentuknya selfie atau welfie, sebab momen diambil saat saya memberi materi.

Lalu, mengapa tiba-tiba ada foto welfie seperti yang terpajang di postingan ini?
Entah kapan tepatnya, saya tiba-tiba ingin sekali punya tongsis. Melihat beberapa teman yang memamerkan foto-foto selfie yang mereka ambil dengan bantuan tongsis, saya jadi pengin juga. Jadilah saya membeli dan punya tongsis.

Nah, di kunjungan ke lapas berikutnya, diam-diam saya bawa tongsis itu. Saya ingin berfoto bersama anak-anak lapas dengan menggunakan smartphone dan tongsis. Pasti akan berbeda kesannya, pikir saya waktu itu.

Betul saja!
Begitu tongkat narsis itu saya keluarkan, anak-anak lapas spontan melirik. Padahal waktu itu sesi pelatihan sudah berakhir dan mereka bersiap untuk sholat zuhur. Mungkin beberapa di antara mereka belum paham kegunaan tongsis itu untuk apa.

Tidak menyia-nyiakan waktu, saya pun menyiapkan hape dan menyematkannya pada tongsis. Saya mengajak anak-anak lapas mendekat agar bisa tertangkap oleh layar kamera smartphone saya. Tidak semua yang mau diajak berfoto secara terang-terangan seperti itu. Namun, beberapa dari mereka (walau terkesan malu-malu), mau juga mendekat.

Kehebohan pun terjadi sesaat dan itu lepas begitu saja. Mereka tersenyum, senang, dan benar-benar merasakan keakraban bersama kami.

“Wah! Bunda narsis juga ya ternyata!” celetuk salah satu dari mereka membuat wajah saya sedikit berubah warna.

“Narsis juga ya ternyata.”
Kalimat spontan yang terucap itu membuat saya seolah tidak berjarak dengan mereka. Bahagia sekali rasanya.

Inilah kisah dibalik foto welfie saya bersama anak-anak lapas dan teman-teman Gerakan Peduli Remaja. Semoga momen bahagia ini selalu membekas di hati mereka, apalagi saya. Pasti itu. [Wylvera W.]

Smartfren


29 komentar:

  1. Ih kereeen! Emang mereka butuh hiburan juga ya, Mak. Aku salut sama dirimu. Sukses ya, Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, momen-momen seperti ini sangat mereka tunggu-tunggu.
      Btw, aamiin ... makasih ya, Mak. :)

      Hapus
  2. Wah..mantaap deh, bisa berbagi dengan anak-anak di lapas. Mereka juga harus dipersiapkan lebih mandiri ketika keluar nanti ya Mak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Itulah tujuan teman-teman Gerakan Peduli Remaja yang digawangi Mbak Suci di sana. Aku hanya mengambil bagian terkecil dari kesempatan yang diberikan.

      Hapus
  3. "kapan lagi bisa welfie sama ibu guru yang cantik" kata mereka wekekek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap! Benar! #Eh *buru-buru elus pipi* Hahaha ....

      Hapus
  4. Wahhh mbakbya aktivis lapas ya? Salam kenal ini punyaku.http://www.novawijaya.com/2015/04/selfie-story-in-beautiful-island.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, bukaaan, aku bukan aktivis lapas, Mbak Nova. Hanya diajak utk mengisi sesi pelatihan menulis di sana sama Ketua Gerakan Peduli Remaja.
      Salam kenal kembali ya. Iya, aku mampir habis ini ya. :)

      Hapus
  5. Balasan
    1. Alhamdulillah, makasih, Mak Tanti. :)

      Hapus
  6. sharing is caring banget Mba Wiwiek, semoga sukses ya ikutan lombanya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih, Mas Salman Faris. :)

      Hapus
  7. Senangnya mereka bisa belajar menulis, ya. Insya Allah ilmu yang dida[at dari Kak Wiek bisa mereka manfaatkan kelak. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, iya, Hay. Walau keciiil sekali porsinya, tapi mudah-mudahan mereka ingat ya.

      Hapus
  8. Semoga diantara mereka ada yang terinspirasi dan tergali bakat dan minat menulis ya mbak... terus jadi penulis sukses.. Bakal ada cerita hikmah yang bisa mereka bagi.. Tentu kita juga bisa belajar dari pengalaman mereka. Salut untuk aktivitasnya mbak Wy :)


    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih doanya, Mbak Haya Nufus. :)

      Hapus
  9. Keren Mak, mengsinpirasi ceritanya. Sukses buat lombanya ya Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ... kalau momen welfie ini akhirnya bisa menginspirasi ya, Mak. Aamiin, makasih doanya. :)

      Hapus
  10. mereka baru tau mbak wiwiek bisa narsis juga mungkin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, baru tau ... padahal kan dari lahir ya, Mbak? (Jangan segan-segan kalau mau komen gitu ah) :p

      Hapus
  11. Mereka jugak manusia biasa, mungkin saat itu pernah melakukan kesalahan.. Namun sekarang terbuka jalan.. :D

    BalasHapus
  12. Every body has a mistake. yang penting bagaimana kita dapat memperbaiki diri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Apalagi mereka ini masih muda. Masih panjang kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Tks, sdh mampir ke sini ya.

      Hapus
  13. Lapas? ga salah sih
    perduli sama mereka itu keren!
    salam kenal dari saya @guru5seni8
    penulis di http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com dan www.kartunet.or.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Kita sudah punya jadwal rutin ke sana.
      Salam kenal kembali.

      Hapus
  14. Semoga mereka kelak akan menjai anak yang dibanggakan irangtuanya.aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Ya Rabb. Makasih, Mas Wildan.

      Hapus
  15. kenangan yang sangat membahagiakan

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...