Minggu, 05 April 2015

Surga itu Ada di Rumah Kita



             

              Kamis, 2 April 2015 lalu, saya mengajak murid-murid saya dari kelas ekstrakurikuler Jurnalistik dan Menulis SDIT Thariq Bin Ziyad Pondok Hijau Permai Bekasi, untuk menonton film “Ada Surga di Rumahmu”. Nonton bareng ini sebenarnya sudah sejak dua minggu sebelumnya kami rencanakan.
            Saya mengajukan usulan nobar ini kepada Ibu Kepala Sekolah. Tanpa saya duga, ternyata beliau juga berniat ikut bersama kami. Saya yang diminta mengkoordinir pembelian tiket. Tentu saja saya tidak keberatan. Saya malah senang karena anak-anak akan semakin nyaman jika guru-guru mereka yang lainnya juga ikut mendampingi.
            Dari rencana 20 guru yang akan ikut nobar, akhirnya berkurang menjadi 10 orang. Banyak kendala yang menyebabkan semua guru dan karyawan sekolah tidak bisa ikut. Sementara itu, nonton bareng ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun dari kelas ekskul Jurnalistik dan Menulis yang saya gawangi. Anak-anak tidak hanya sekadar nobar, tapi setelahnya mereka akan membuat catatan (review) dari film yang mereka tonton untuk pengambilan nilai akhir.
Singkat cerita, tibalah hari “H”. Saya sudah membeli tiket untuk 29 seat. Saya memilihkan jam tayang pada pukul 16.45 WIB di bioskop XXI Bekasi Square. Kami berangkat 10 menit dari jam 4, sore itu. Ada rasa khawatir. Saya takut anak-anak tidak akan sempat melihat filmnya dari awal. Kalau terlambat, mereka pasti kecewa, karena tidak akan bisa menuliskan review lengkap seperti yang saya minta.
            Apa boleh buat, akhirnya kami memang sedikit terlambat. Film sudah dimulai sekitar 10 menit. Saya mencoba menenangkan anak-anak. Kami pun masuk dengan tertib, disusul oleh beberapa guru yang sejak tadi ikut bersama kami.
            Apa yang saya khawatirkan pun terjadi.
            Belum apa-apa, adegan film “Ada Surga di Rumahmu” (ASDR) karya Aditya Gumay itu sudah mulai “mengganggu” perasaan saya. Saat kami masuk, adegan sudah berpindah pada saat Ramadhan kecil (diperankan oleh Raihan Khan) sedang berkelahi dengan temannya. Setelah perkelahian itu, Ramadhan akhirnya dikirim oleh orangtuanya ke sebuah pesantren milik Ustad Athar (diperankan oleh Ustad Ahmad Alhabsyi). 
Sesaat sebelum Ramadhan berangkat menuju pesantren
            Pelepasan Ramadhan menuju pesantren mulai memancing keharuan. Tidak hanya bagi saya, tapi juga murid-murid saya. Terutama Nasywa dan Raisa Nazhifa, salah satu murid yang duduk di deretan bangku sebelah kiri saya saat itu. Tarikan nafas mereka menjadi sinyal kalau mereka mulai sibuk mengatur emosinya. Untunglah jilbab mereka terbuat dari bahan katun, jadi nggak perlu repot mencari tisu.
Abuya (Ayah Ramadhan) mengantarkannya ke pesantren
            Kembali ke adegan berikutnya. Dikirim ke pesantren, tidak lantas membuat Ramadhan berubah drastis. Ia tetap menjadi anak laki-laki yang banyak akal dan terkesan pembangkang. Bahkan Ramadhan sempat dihukum bersama dua orang sahabatnya. Mereka diminta untuk berceramah di sebuah pemakaman pada malam hari. Adegan ketakutan yang diperlihatkan membuat rasa haru berbaur kelucuan. Isi ceramah salah satu sahabat Ramadhan memancing tawa penonton. Mau tahu isi ceramahnya apa? Nanti ditonton saja ya. 
Adegan menjalankan hukuman di area kuburan
            Ramadhan juga pernah dihukum dengan cara berceramah di pasar. Bakat terampil berceramah di diri Ramadhan sangat membantunya. Ia tidak terlalu sulit menjalankan hukuman itu.
            Satu adegan yang membuat saya sibuk mencari tisu, saat Ustad Athar salah memberi hukuman. Ustad Athar memukul tangan Ramadhan dan kedua sahabatnya dengan penggaris dari kayu. Mereka kesakitan dan menangis. Ustad Athar mengira Ramadhan telah bersekongkol mengajak teman-temannya berbohong. Ramadhan diduga keluar dari kamar pada malam hari secara sembunyi-sembunyi bersama teman-temannya hanya untuk nonton film. Ternyata, Ramadhan mengajak kedua sahabatnya untuk menonton acara ceramah ustad-ustad terkenal yang rutin ditayangkan di tivi.
Adegan saat Ramadhan dan kedua sahabatnya dihukum pukulan mistar
Adegan saat Ustad Athar menyadari kekeliruannya dan begitu berjiwa besar meminta maaf kepada Ramadhan, membuat saya sulit mengatur emosi untuk tidak menangis.
“Ramadhan, ambil mistar ini, Nak. Pegang dengan tanganmu, Nak. Kau pegang kuat-kuat mistar ini, Nak. Kau pukul Abuya, Nak. Kau balas balik, Nak. Lakukan, Nak ... seperti apa yang Abuya lakukan padamu tadi, Nak. Pukul sekuat-kuatnya. Abuya nggak mau nanti Allah murka pada Abuya, gara-gara salah ngasi hukuman sama kau, Nak. Sekarang, Nak ... lakukan, Nak. Balas balik, Nak ....”
“Tidak, Abuya ... tidak Abuya.”
“Maafkan Abuya, Nak. Abuya sudah salah ngasi hukuman sama kau, Nak. Kau ikhlas kan, Nak?”
“Iya, Abuya ... Ramadhan ridho, Abuya ....” sambil terus menangis sesenggukan.
Saya tidak kuat menahan haru. Saat itulah, murid saya spontan berkomentar, “Ibu nangis ya?” Dan, saya ... hening ... sambil pelan-pelan menarik nafas.
            Begitulah adegan demi adegan terus bergulir. Akhirnya, Ramadhan kecil pun tumbuh menjadi pemuda tampan (diperankan oleh Husein Alatas). Perubahan setting waktu itu mulai memasukkan unsur percintaan. Alur cerita akhirnya bergulir pada konflik cinta segitiga antara Ramadhan, Nayla (diperankan oleh Nina Septiani) teman masa kecil Ramadhan, dan Kirana (Zee Zee Shahab), artis yang sempat bertemu Ramadhan saat syuting di lokasi pesantren tempat Ramadhan menimba ilmu agama.
            Film yang terinspirasi dari buku “Ada Surga di Rumahmu” karya Ustad Alhabsyi ini memang sarat dengan dialog-dialog yang mampu mengguncang perasaan. Salah satu contoh yang saya ingat adalah kutipan dialog (yang menjadi pesan utama) dalam film itu, “Surga itu begitu dekat, tapi mengapa kita sibuk mengejar yang jauh?”
            Banyak adegan-adegan yang sulit membuat mata saya berpaling. Seperti pertemuan dengan Kirana yang membuncahkan angan-angan masa kecil Ramadhan, yaitu ingin masuk televisi. Desakan dari keinginannya itu sangat mengusik hati Ramadhan. Hingga pada suatu kesempatan Ramadhan berdialog dengan Ustad Athar. Dialog ini juga sangat menancap di kepala saya.
"Abuya pernah mengatakan, kita harus mengutamakan kepentingan orangtua dan permohonannya. Permohonan yang seperti apa, Abuya?" tanya Ramadhan pada Ustad Athar, guru yang sangat dihormatinya itu.
"Permohonan yang bisa membuat engkau lebih dekat dengan Allah, Nak. Ingat! Ridhonya Allah ada pada ridho orangtua. Kalau engkau sudah dapat kata ridho yang keluar dari lisannya, maka seolah-olah langit itu akan terbuka, Nak. Arasy itu bergoncang, Malaikat mengaminkan do'amu, dan Allah akan meridhai semua keinginanmu," jawab Ustad Athar begitu menggetarkan hati saya.
AllahuAkbar ...! Sebegitu hebatnya Allah menempatkan kedua orangtua kita pada kedudukan yang paling mulia di muka bumi ini, sehingga ridho mereka menjadi syarat penentu bagi anak-anaknya untuk bisa masuk ke surga-Nya.
Dalam usaha ingin mewujudkan mimpinya, Ramadhan akhirnya meninggalkan Palembang (kota kelahiran Ramadhan yang menjadi setting tempat paling utama  di film ini) menuju Jakarta. Tidak segampang itu mewujudkan mimpi. Ramadhan yang ditemani kedua sahabat karibnya semasa di pesantren akhirnya harus bermalam di salah satu masjid di ibukota.
Masuk pada adegan ketika Ramadhan tanpa sengaja mendengar seorang remaja laki-laki sedang menangis. Ramadhan mengintip dan menyimak tangisan itu dari dinding masjid yang dedesain berlubang-lubang. Bahu remaja laki-laki itu berguncang memanjatkan permohonan ampun. Akhirnya Ramadhan menghampiri dan bertanya apa yang menyebabkannya menangis. Ternyata anak itu sedang menyesali perbuatannya. Kedua orangtuanya sudah meninggal. Ia ingin Allah menghidupkan mereka agar ia  bisa mengubah sikap dan memohon ampunan.
Adegan saat Ramadhan mendengar curhatan remaja laki-laki yg menangis itu
Mendengar curhatan remaja laki-laki itu, Ramadhan sontak teringat ibunya. Mereka saling berpelukan dan Ramadhan tak kuat menahan tangisnya. Kejadian inilah yang membuat Ramadhan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Adegan berikutnya kembali mengaduk-aduk emosi. Air mata saya tak bisa lagi dibendung saat Ummi Ramadhan (diperankan oleh Elma Theana) sakit akibat menahan kerinduan pada anaknya. 
Salah satu adegan yang juga bikin gak kuat menahan air mata
         Pesan utama dari film ini juga sukses tersampaikan. Selama ini kita sibuk mencari cara untuk meraih surga-Nya di luar sana. Padahal, di rumahlah jalan menuju surga itu. Begitu dekat, begitu mudah untuk kita raih jika kita sadar sejak awal. Ibu sebagai media paling indah untuk kita mendapatkan surga. Sementara Ayah menjadi pelengkap yang tak pernah mengeluh berjuang mencari nafkah agar kita bisa meraih ilmu demi menjadi manusia yang berarti. 
Walau matanya ada yang sembab, tapi tetap berusaha ceria saat foto
            Terlepas dari segala kekurangan (baik akting, bumbu percintaan segi tiganya, hingga ending yang terasa menggantung),  saya tetap merekomendasikan kalau film “Ada Surga di Rumahmu” yang mengambil setting terbanyak di tepian Sungai Musi Palembang ini, layak ditonton untuk segala lapisan umur. Ini catatan saya tentang acara nonton bareng bersama murid-murid saya. 
                 Semoga mereka berhasil membuat review yang lebih bagus. Kita tunggu ya. Baidewei ... mumpung filmya masih diputar, jangan sampai terlambat untuk menonton ya. [Wylvera W.]


16 komentar:

  1. Pesan ceritanya memang sangat mudah diterima, apalagi sangat berhubungan berbakti pada orang tua :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas.
      Kisah antara anak dan orangtua memang lebih menyentuh.

      Hapus
  2. Layak di tonton, untung aja aku di ajak ya mbak :) aku menitikkan air mata ga ketauan kan ya hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alamaaak, aku lupa menyebut namamu di dalam catatan itu, Mbak Lidya. Maafkeun ya. Terima kasih banget sudah mau nemani aku ngemong anak-anak. Suatu hari nanti kalau aku tiba-tiba pindah, aku sdh punya calon yg gantiin aku ni. *kedip-kedip*
      Btw, kita sama-sama mewek tapi sama-sama gengsi ya. ;)

      Hapus
  3. Ini menyangkut banget dengan pelajaran sekolah anak.....muatan akhlak, santun dan moral..jg lainnya.... makasih reviewnya mbak Wik.... smg mnyusul bs nonton jg... #miris dgn prilaku BC tentang film ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Levin.
      Kenapa harus dipukul rata ya. :(

      Hapus
  4. ekskul jurnalistiknya asik bangte, Mbak. Karena ada acara nobar rutinnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. *banget* maaf, typo :D

      Hapus
    2. Iya, karena ada materi review, Mbak. Anak-anak lebih memilih nobar, karena lebih seru katanya. :)

      Hapus
  5. Asik banget Mbak, jadi kegiatan rutin tiap tahunnya nonton bareng.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada nobar, kunjungan ke panti asuhan dan sekolah anak-anak pemulung, atau wawancara para pedagang. :)

      Hapus
  6. Jadi pengen nonton. Padahal baca reviewnya aja dah mewek niih mbaak ... gimana kalo nonton coba ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapkan tisu, Mbak Titie. :)

      Hapus
  7. Bosenin gak alurnya? Pengen nonton bawa anak anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak sih. Kalau ada yang kurang nyaman, mungkin di bagian adegan percintaannya saja. Tapi so far so goodlah. Pesan dakwahnya nyampe, Mak. :)

      Hapus
  8. Bagus ya mabk filmnya, sedih hiks..hiks..

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...