Minggu, 19 April 2015

Ketika Mereka Sudah Remaja


 
Time flies so fast (dokpri)

            Dulu saat anak-anak saya masih kecil, seolah waktu 24 jam habis hanya untuk mereka. Memandikan, memberi makan, menemani tidur, mendampingi belajar, mengantar ke tempat kursus, dan maaasih banyak rutinitas lainnya yang saya lakukan untuk mereka. Rutinitas itu pula yang membuat waktu seolah cepat sekali berputar. Saya juga merasakan sempitnya ruang untuk menikmati Me Time. Bahkan saya hampir menyerah, ketika tak ada waktu untuk berduaan menikmati kebersaam bersama suami.
“Kapan ya kita bisa dinner berduaan tanpa harus takut ninggalin anak-anak di rumah?” Pertanyaan ini pun sempat saya ajukan ke suami waktu itu.
            Seiring berjalannya waktu, kedua anak saya pun beranjak remaja. Keluhan saya tentang sulitnya mencuri momen berdua dengan suami, perlahan bergeser menjadi kecemasan. Saya perlahan-lahan merasakan sesuatu yang hilang dari rutinitas itu. Pada saat-saat ingin bersama, tiba-tiba saya merasa sendiri dan kesepian. Saya justru rindu masa-masa repot seperti dulu, kala mereka masih kecil.

My lovely Kids (dokpri)
            Banyak perubahan yang saya alami. Kalau dulu mereka selalu menjadikan saya tumpahan segala keingintahuannya, sekarang perlahan bergeser. Mereka mulai mahir menemukan jawaban serta solusi lewat nalar atau media lain. Kalau dulu mereka selalu minta ditemani saya atau bapaknya, sekarang mereka sudah punya alternatif. Mereka bisa mengajak teman-teman sekolahnya.  
Satu hal yang paling sering membuat saya merasa benar-benar rindu adalah pergi bersama di waktu weekend. Saya harus menemukan alasan yang pas agar mereka mau ikut. Bahkan tidak jarang mereka menolak dengan halus sambil bercanda, “Ibu sama Bapak aja berduaan. Kami di rumah aja. Biar lebih romantis, gitu.” Kalau sudah begini, saya tidak akan memaksa lagi. Itu tandanya mereka memang benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu bersama ibu dan bapaknya.
Demi mengatasi rasa rindu ini, saya mencoba mencari persamaan. Mungkin yang saya rasakan juga dialami para orangtua lainnya. Saya browsing dan mencari info serta pengalaman para orangtua yang telah melewati fase ini. Atau bahkan bertukar cerita dengan para sahabat. Untunglah, ternyata saya tidak sendiri. Apa yang saya rasakan juga dialami oleh para orangtua lainnya yang memiliki anak seumuran anak-anak saya.
Beberapa pengalaman pun saya serap. Katanya, memasuki masa remaja, ternyata anak mulai sulit untuk diajak bepergian bersama orangtuanya. Bahkan saat di rumah pun mereka seakan memberi sinyal kalau ingin menghabiskan momen sendiri. Mereka memilih kamar sebagai tempat paling pribadi. Mereka bisa berjam-jam menghabiskan waktu di situ.
Lalu, pertanyaan saya, “Wajarkah kondisi seperti ini?”
Ternyata dari beragam artikel yang sempat saya baca, kondisi ini dinilai wajar. Sebab di masa remaja, anak mulai mengalami fase keinginan memiliki ruang pribadi. Ruang pribadi itu bisa berupa tempat dan waktu dimana mereka tidak ingin diganggu. Inilah yang membuat mereka mulai enggan untuk sering-sering bepergian atau berkumpul terus-menerus dengan orangtuanya.
Saya pernah bertanya kepada Mira, anak sulung saya, “Kenapa sih, sekarang susah banget ngajak Kakak sama Adek pergi bareng? Padahal, Ibu sama Bapak kangen. Pengin kita lunch atau dinner berempat kayak dulu lagi.”
Simak apa jawabnya.
“Kami kan sudah besar. Dulu Ibu sama Bapak pasti pengin sering-sering pergi berduaan, tapi malah susah curi waktunya gara-gara kami. Nah, sekarang waktunya sudah ada. Kenapa nggak dinikmati?”
Kalau sudah mendengar jawaban seperti ini, kira-kira apa yang harus saya lakukan sebagai orangtua? Apakah harus memaksa mereka untuk tetap menuruti ajakan saya? Saya memilih tidak, walaupun pengin banget memaksa. Hikks ....

Dinner di luar yang semakin sulit dinikmati berempat (dokpri)

Alih-alih memaksa, yang ada saya harus menerima pergeseran fase ini dengan damai. Saya harus lebih bijak untuk memahami tentang momen berkualitas bersama mereka. Saya harus sadar dan bisa menerima kalau sekarang mereka sudah remaja. Dan, ternyata memang tidak perlu mematok-matok lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa menciptakan momen berkualitas itu. Yang penting saya dan suami harus berkomitmen melakukannya setiap hari. Bahkan lima belas menit pun sudah cukup, jika benar-benar dilakukan secara maksimal.
Bagaimana caranya agar saya bisa mengobati kerinduan akan kebersamaan yang full-time itu? Tentu dengan cara berkomunikasi, karena diam tidak akan mendekatkan saya dengan mereka. Kapan kesempatan berkomunikasi itu bisa saya lakukan dengan baik dan berkualitas? 
Ternyata banyak waktu yang bisa mengobati kerinduan saya. Salah satunya saat mengantar mereka ke tempat kursus/les. Waktu sekitar 15 – 20 menit di perjalanan dalam mobil, selalu saya gunakan untuk ngobrol dengan mereka. Tentang apa saja.
Waktu 15 menit lainnya adalah di saat-saat mereka tidak melakukan apa-apa di kamarnya. Saya sesekali merebahkan badan di tempat tidur mereka. Sambil tidur-tiduran, saya suka memancing cerita-cerita baru yang terjadi di sekolah. Bahkan sampai nyerempet ke hal-hal yang pribadi dan sensitif. Seperti masalah suka-sukaan dengan lawan jenis, atau apakah ada seseorang yang sempat membuat mereka bete. Ini terkadang menjadi obrolan yang bisa memancing tawa dan canda.
Ternyata benar kata anak-anak saya. “Kalau ada waktu yang bisa membuat Ibu dan Bapak menikmati momen berdua, kenapa harus memaksakan kami ikut. Bukannya kebersamaan dengan kami jauh lebih sering Ibu dapatkan di rumah, ketimbang dengan Bapak yang setiap hari pulang kerjanya malam?”  
Duh! Kalimat pembuka saya yang membeberkan kerinduan pada momen kebersamaan di masa mereka kecil, seakan menguap. Mengingat kata-kata anak-anak saya yang menghangatkan hati itu, membuat saya seharusnya lebih bersyukur. Ketika anak-anak saya sudah remaja, justru saya banyak belajar dari mereka. Belajar memanfaatkan momen berkualitas. [Wylvera W.]


11 komentar:

  1. Waktu pasti terasa begitu cepat ya mak bila anak sudah remaja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Rasanya baru kemarin buatin susu, mandiin, nemani tidur. Hiks.

      Hapus
  2. Kayaknya saya akan mengalami fase itu. Kayaknya bakalan sedih banget :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, Mas Hadi. Siapkan hati ya. :)

      Hapus
  3. Baru bahas tadi ama suami, gara gara baca status mba wiek wekekek

    "Kayaknya kita nikmati ama anak anak cuma sampe usia mereka 15 thn, selebihnya kita bakal berdua mulu ke mana mana nih" tiba tiba hening. Trus jadi berencana nambah anak wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betu, Shinta.
      Puas-puasin deh, sebelum datang saatnya merindukan momen-momen itu. :)

      Hapus
  4. Tulisannya Mbak.. mengharu biru buatku. Sekaligus jadi reminder buat saya yang jarang sekali ada di rumah. Mungkin ibu saya pernah merasakan perasaan ini ya. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sepertiku. Dulu juga sok sibuk banget di sekolah, kampus, dan kerjaan. Hikks, sekarang gantian.

      Hapus
  5. Aku puas-luasin berarti sekarang ya mbak. Aku gak konsen lihat foto Khalid yang ganteng mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, puas-puasin deh, Mbak selagi anak-anak masih kecil.
      Btw, jiaaahahaha, kenapa jadi pindah fokus ih. :p

      Hapus
  6. Tema yang sangta bagus sekali Mak, menjadi pembelajaran buat para ioranguta yang anaknya menginjak usia ABG

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...