Kamis, 17 Desember 2015

Aku dan Mama di Hari Ulang Tahunnya


 
"Selamat ulang tahun, Ma ... I love you so much."

         Momen ini diabadikan saat Mama saya berulang tahun tanggal 2 November 2015 yang lalu. Mengapa saya selalu berusaha memberi kenangan khusus (walaupun hanya mengucapkan selamat ulang tahun) di tanggal kelahiran Mama? Alasannya sederhana. Dulu, Mama selalu berusaha memberikan yang spesial di hari ulang tahun kami, kedua anaknya. Padahal saya tahu, terkadang Mama tidak punya uang untuk melakukannya. Namun, entah mengapa, beliau selalu berupaya agar tanggal di bulan kelahiran kami dibuat khusus dari hari-hari lainnya.
Walaupun hanya sepiring nasi kuning dengan sebutir telur rebus yang diletakkan di tengahnya, Mama selalu memberikan warna berbeda untuk mengingat tanggal dan hari kelahiran kami. “Ini hanya untuk mengingat bahwa pernah terjadi sesuatu yang menandakan sebuah ikatan batin yang digariskan Allah di antara kita. Mama dan kau,” begitu Mama dengan bahasa yang menyiratkan kedalaman makna, saat saya menggigit dan mengunyah telur rebus yang pernah dihadiahkannya di hari ulang tahun saya kala itu. Sejak itu, saya bertekad akan melakukan hal yang sama untuknya. Mungkin tidak lagi dengan telur rebus dan nasi kuning, demi meneruskan apa yang telah dilakukannya untuk kami. Dan, di jelang Hari Ibu ini, saya ingin mengucapkan, “Selamat Hari Ibu, Mamaku sayang ... semoga Allah Swt. senantiasa mencurahkan rahmat-Nya untukmu. Aamiin ....”
      


                    Foto ini diikutsertakan dalam GA sehari: Aku dan Ibuku

Rabu, 16 Desember 2015

Ibu Nies Agus DW Martowardojo

“Menjadi Ibu Rumah Tangga yang berhasil mengurus keluarga, mendukung suami dan membesarkan anak dengan baik adalah prestasi tertinggi seorang istri....”
Ibu Nies Agus Martowardojo (dokpri)
Sambutan hangat langsung terasa ketika kami tiba di rumah yang beralamat di Jl. Tirtayasa X No. 6 Jakarta Selatan itu. Sedikit pun tak terasa kesan kaku dan menegangkan karena senyum ramah pemilik rumah membuat saya begitu merasa nyaman untuk memulai obrolan. Sosok istri dari orang pertama di Bank Indonesia ini sangat ramah. Sesekali tawa renyahnya lepas meningkahi suasana wawancara sehingga terasa begitu akrab. 

Kehidupan masa kecil dan remaja Ibu Nies.
Wanita cantik bernama Berliantin Satyawati ini lahir di kota Malang, 10 Mei 1960 dari pasangan Soeharti dan Soeroso Partosugondo. Saya mengenalnya sebagai Ibu Agus DW Martowardojo, istri Gubernur Bank Indonesia. Ayahnya yang pernah bekerja di Kementrian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membuat anak kedua dari empat bersaudara ini terbiasa dengan kehidupan birokrat. Ini tercermin dari pembawaan serta sikapnya yang tertata dengan baik. 

Saya dan Ibu Nies Agus DW Martowardojo di rumahnya yang asri
Ibu Nies, begitu panggilan akrabnya, sangat merasakan bahwa pendidikan yang telah diberikan oleh kedua orangtuanya sangat berpengaruh luas dan mendalam dalam perjalanan hidupnya. Meskipun didikan itu tidak terlalu otoriter - seperti tidak boleh melakukan ini dan itu - namun rambu-rambu yang diberikan kedua orangtuanya mampu membuat Ibu Nies dan ketiga saudaranya untuk mematuhi. “Orangtua saya itu tidak otoriter banget kok, tapi mereka tetap menanamkan nilai-nilai yang baik sehingga kami anak-anaknya mengerti mana yang boleh dan mana yang tidak untuk dilakukan,” begitu kenangnya.
Ibu Nies Agus menghabiskan masa anak-anak dan remajanya dengan bersekolah di SD dan SMP Tarakanita. Ketika naik ke kelas tiga SMP, beliau terpaksa pindah ke SMP Imanuel Medan, karena Sang Ayah dipindahtugaskan ke kota itu. Ketika kembali ke Jakarta, beliau melanjutkan SMA nya di Bulungan. Setelah lulus dari SMA, beliau meneruskan kuliah di Perguruan Tinggi Trisakti dengan mengambil jurusan Arsitektur Lanskap.

Rahasia Keharmonisan Rumah Tangga Bu Nies.
            Wanita yang punya hobi menata rumah, membaca, menonton film dan berkebun ini kembali berbagi kisah tentang perkenalan pertamanya dengan suami. “Saya bertemu Pak Agus tahun 1975. Pada saat itu beliau adalah mahasiswa FEUI dan teman dari kakak kandung saya, sehingga saya cukup lama mengenalnya dan kemudian kami menikah di tahun 1985,” ujarnya mengenang masa-masa manis perkenalan itu.
            Pernikahan mereka yang sudah berjalan harmonis selama 28 tahun ini telah dikaruniai 2 anak laki-laki. Anak pertama bernama Adri Prasetyo (27 tahun) yang saat ini sudah bekerja di Astra Internasional. Lalu putra kedua mereka bernama Aswin Dwianto (21 tahun) yang saat ini masih kuliah di Monash University, mengambil jurusan Business and Finance.
Bu Nies bersama keluarga (suami dan kedua putranya)
            Ibu Nies sudah mendampingi suami yang selama ini bekerja di berbagai instansi, mulai dari Bank Asing, Bank Nasional, Bank BUMN, sebagai Menteri Keuangan dan hingga saat ini menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Selama itu kehidupan rumah tangga mereka tak mengalami keguncangan dan berjalan langgeng serta harmonis.
            Ketika ditanya tentang rahasia sukses dalam menjaga kelanggengan rumah tangga, wanita yang murah tertawa dan penyuka segala jenis warna ini mengatakan, “Kesuksesan itu relatif dan tidak bisa diukur dengan angka-angka atau menilai pencapaiannya secara pribadi. Namun, apa yang sudah saya dan suami jalani selama 28 tahun ini didukung oleh rasa respect satu sama lain. Kami selalu berusaha membina komunikasi yang baik sehingga semua masalah Insya Allah dapat dipecahkan secara bersama-sama.”
            Selain sebagai istri, Ibu Nies juga menjalankan perannya sebagi Ibu dari kedua anaknya. Membesarkan, memberikan pendidikan yang baik, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang positif, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang Insya Allah berguna bagi negara dan bangsanya. “Menjadi ibu rumah tangga yang berhasil itu adalah sebuah prestasi tertinggi dari seorang istri. Saya selalu mensyukuri pernikahan yang sudah berlangsung selama 28 tahun ini dengan memiliki keluarga yang sehat, dapat diterima dengan baik di masyarakat. Tak henti-hentinya saya berdoa agar semua ini berlangsung sampai akhir hayat,” tambahnya ketika membahas masalah prestasi.

Sikap dalam mendampingi suami bekerja.
            Ibu Nies Agus Martowardojo ikut memberikan masukannya sejalan dengan tema Majalah Insani yang diangkat pada edisi itu. Ketika saya menanyakan bagaimana tanggapan beliau tentang sikap atau pilihan istri, ketika suami yang notabene adalah pegawai Bank Indonesia saat diberi amanat untuk pindah tugas sementara ke luar negeri, beliau mengatakan, “Istri itu adalah soulmate bagi suaminya, begitu juga sebaliknya. Jadi menurut saya, mendampingi suami saat dipindahtugaskan itu sangat penting karena dengan adanya istri yang mendampingi, suami akan bisa lebih fokus dan berkonsentrasi menjalankan tugas dan pekerjaannya. Tapi, jika ada sebuah kendala yang sulit untuk menentukan pilihan ikut suami atau tidak, maka janganlah dibuat menjadi dilema yang berkepanjangan karena semua masalah ada solusinya. Jika itu dibicarakan dan diputuskan bersama maka hasilnya akan jadi baik untuk semua anggota keluarga.”
            Sebagai istri dari orang yang memegang jabatan tertinggi di Bank Indonesia, wanita penyuka hampir seluruh masakan Indonesia dan Internasional ini juga selalu bersyukur bahwa Allah SWT telah memberikan amanah yang luar biasa mulia untuk sang suami. Penyuka novel-novel romance ini juga menambahkan bahwa beliau selalu berharap agar suami dapat menjalankan tugas dan amanatnya dengan baik. “Saya tahu bahwa Pak Agus selalu mempunyai niat yang baik dan tulus dalam menjalankan pekerjaannya. Saya juga berharap agar beliau dapat diterima dengan baik serta mendapatkan dukungan dari seluruh pimpinan dan karyawan BI, sehingga dapat mewujudkan kinerja yang baik serta bermanfaat bagi bangsa dan negara dan khususnya Bank Indonesia sendiri,” begitu tambahnya.

Tanggapan tentang PIPEBI dan Majalah Insani.
            “PIPEBI menurut saya adalah sebuah organisasi yang mulia, karena mampu menghimpun para istri pegawai BI yang kemudian dapat menjalankan aktivitasnya, bermanfaat bagi anggota maupun keluarga besar Bank Indonesia serta masyarakat sekitarnya. Yang terpenting adalah organisasi ini mampu menjalin hubungan serta komunikasi yang baik antara pengurus dan anggotanya,” ungkap beliau. Selain itu beliau juga berharap agar PIPEBI mampu menjalankan fungsinya secara profesional, tertib organisasi, tertib anggaran dan senantiasa memberikan manfaat bagi anggotanya.
Suguhan pembuka saat bincang-bincang berlangsung (dokpri)
            Menurut beliau, semua istri dari pegawai Bank Indonesia diharapkan senantiasa dapat menjadi pendamping dan pendukung para suami dalam menjalankan tugasnya. Para istri memiliki tugas yang mulia, yaitu memberi dukungan moril dan motivasi untuk suami sehingga mampu bekerja dengan penuh integritas serta bekerja secara profesional. “Semua istri pegawai BI adalah anggata PIPEBI, namun kita harus menyadari bahwa sebagai istri pegawai BI dalam hal mendukung suami tidaklah perlu terlalu ikut campur atau memasuki ranah kedinasan sang suami. Kita harus tahu batas-batasnya,” ujar beliau menegaskan.
            Selanjutnya untuk Majalah Insani, Ibu Nies mengatakan, “Buat saya, Insani sudah bagus, isinya lengkap. Ada rubrik untuk pendidikan, keluarga, kesehatan, kuliner, serta mengakomodir kegiatan-kegiatan PIPEBI dari seluruh cabang dan perwakilan BI, sehingga para istri/anggota PIPEBI bisa saling mengetahui kegiatan dan mendapatkan informasi yang bermanfaat,” pungkasnya mengakhiri bincang-bincang kami. [Wylvera W.]

Rabu, 09 Desember 2015

Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan



Ini bukti bahwa perempuan tak bisa lepas dari benda-benda itu ^_^

Tidak bisa dipungkiri, keberadaan dan peran kaum perempuan di mana pun adalah kunci keberhasilan dalam keluarga sebagai basis untuk membangun masyarakat dan negara yang ideal. Sementara, kemajuan masyarakat dan negara tidak bisa lepas dari peran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Untuk menunjang keberhasilan tersebut, keterlibatan kaum perempuan dalam keterampilannya terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi pun tidak bisa dipisahkan.
Teknologi Informasi dan Komunikasi mampu memberikan banyak manfaat. TIK juga memungkinkan peran-peran dalam bidang ekonomi dan bidang sosial menjadi lebih kuat dan optimal. Kaum perempuan bisa meningkatkan produktivitas, membuka peluang ekonomi, meningkatkan taraf hidup diri dan keluarganya, memberikan kontribusi yang lebih besar pada ekonomi dan sosial. Namun, manfaat itu ternyata belum dirasakan merata di berbagai wilayah.
Melihat kondisi ini, maka Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) RI, Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merasa perlu dan bertanggung jawab untuk menyusun sebuah pedoman pemanfaatan TIK, khususnya bagi perempuan demi meningkatkan kualitas. Terkait dengan keinginan baik tersebut, diskusi demi diskusi telah dilakukan untuk menyusun sebuah pedoman yang maksimal untuk disosialisasikan. 

Suasana di ruang diskusi
Beruntung sekali, saya termasuk salah satu peserta yang diundang untuk memberikan usulan pada pedoman pemanfaatan TIK yang masih berbentuk draft. Saya hadir untuk memenuhi undangan dari KPPPA pada hari Senin dan Selasa (7 – 8 Desember 2015) di Hotel Salak Bogor. Pertemuan dua hari satu malam itu benar-benar dimaksimalkan untuk mengumpulkan masukan dari para peserta yang hadir. Di antaranya dari Kemkominfo, Tim Pokja – Pemerhati TIK, Tim Pokja Serempak – UI, Tim Pokja Serempak – BPPT, Tim Pokja Serempak – IWITA, blogger, dan penulis.

Sekilas hasil pemaparan dan diskusi
Di sesi awal, Ari Fitria Nandini SH. MH. (Kemkominfo) memberi masukan. Beliau menyoroti penggunaan rujukan/acuan yang jelas terhadap makna dari dua terminologi yang ditemukan dalam kata TIK, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Beliau mengusulkan untuk mengambil rujukan yang pasti agar tidak muncul keragu-raguan dalam pemahaman defenisinya. Ari Fitria juga mengatakjan bahwa pedoman yang disusun sudah tepat. Dan pedoman ini tidak hanya ditujukan untuk perempuan perkotaan, namun sampai ke perempuan di pedesaan.

Ari Fitria Nandini
“Bagaimana kita membuat pedoman yang step by step agar mereka yang sudah melek teknologi sampai yang belum pun bisa memahami tapi tidak merasa digurui,” ujarnya menambahkan.
Ari Fitria juga mengatakan bahwa pedoman yang disusun juga perlu mencantumkan batasan hukum yang menyangkut hak asasi. UU terkait dengan itu (UU ITE) perlu dicantumkan dalam pedoman final nantinya. Dan, beberapa masukan lainnya yang nantinya akan disepakati akan dimuat di dalam pedoman.
Selanjutnya, Indriyanto Banyumurti (dari Tim Pokja Serempak) mengawali paparannya dengan menampilkan tayangan/film (hasil riset dari London School Public Relation/LSPR bekerjasama dengan AC- Qwords) yang menggambarkan tentang perempuan dan penggunaan ICT (Information and Communication Technologies) di Indonesia. Dalam tayangan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa perempuan tidak bisa lepas dari internet.

Indriyanto Banyumurti
            Dari draft yang saya terima, dalam rilis penelitiannya yang berjudul “Profil Pengguna Internet Indonesia 2014”, Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom – UI) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun per tahun mencapai 88,1 juta orang hingga akhir tahun 2014. Ini sama dengan 34,9 % dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebesar 52 juta penggunanya berada di kawasan Jawa dan Bali.


Dari data yang dirilis oleh APJII dan Puskakom UI di atas, Indriyanto Banyumurti mengatakan, “88, 1 juta pengguna internet itu besar, tapi jika dilihat penetrasinya terhadap populasi, ini masih rendah, hanya 34,9%. Target 2015 harusnya Indonesia punya 50% kalau kita memakai acuan WSIS – Word Summit on the Information Society tahun 2003, yang mendeklarasikan bahwa 50% penduduk dunia memiliki akses atas informasi.”
Isu kesetaraan gender merupakan sebuah tujuan utama pembangunan. Hal ini terutama bisa meningkatkan produktivitas - improve development dari generasi mendatang, karena kita tahu bahwa perempuan adalah garda utama dalam pembangunan generasi mendatang.



Dari sinilah KPPPAI menginisiasi disusunnya “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan” Indonesia, yang intinya adalah diarahkan menjadi acuan bagi siapa saja, para stakeholder, untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam penggunaan TIK. Sedangkan ruang lingkup dari pedoman ini terkait dengan pengertian umum tentang Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi, kompetensi di bidang TIK khusus untuk kaum perempuan, kurikulum pelatihan yang diperuntukkan, serta contoh modul pelatihannya
            Selanjutnya dalam kajian pengembangan konten dan akses perempuan pada internet yang diteliti oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2012, ditemukan bahwa sebagian kaum perempuan tidak memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kesempatan yang tinggi dalam mengakses teknologi informasi (internet). Kendala ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti; beban perempuan di ranah domestik yang lebih dominan, kemampuan terhadap akses teknologi yang rendah, serta minimnya pengetahuan dan keterampilan di bidang TIK. 

            Selain itu, yang paling menarik adalah ketika dampak dari pemanfaatan TIK ini dirasa telah melebur ke dalam hampir seluruh aktivitas kita sebagai warga masyarakat. Kenyataan inilah yang melatarbelakangi perlunya disusun sebuah pedoman untuk melakukan pengembangan kompetensi kaum perempuan di bidang TIK. Pedoman tersebut tidak akan tersusun secara maksimal tanpa adanya peran dan sumbangsih dari seluruh pemangku kepentingan.  
            Penyusunan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan” ini juga dimaksudkan sebagai acuan bagi instansi pemerintah, lembaga masyarakat, masyarakat (khususnya kaum perempuan), serta para pemangku kepentingan lainnya dalam rangka meningkatkan kapasitas perempuan dalam menggunakan TIK.
            Sementara pedoman ini nantinya akan menunjang beberapa hal, diantaranya meliputi aktivitas dalam keluarga, sosial maupun ekonomi yang didukung oleh kemampuan dan kecakapan dalam penggunaan TIK.
            Penyusunan pedoman yang saya hadiri membahas detail aspek yang dibutuhkan agar mampu memberi solusi bagi keterbatasan pengetahuan kaum perempuan terhadap kemajuan TIK. Beragam masukan disampaikan oleh peserta diskusi yang hadir. Semata-mata bertujuan untuk memaksimalkan rumusan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”.
Selanjutnya Indriyanto memaparkan beberapa penelitian lainnya terkait dengan pokok bahasan dalam diskusi tersebut. Di antaranya adalah menyoroti penelitian GSM Association yang mengukur bagaimana pemanfaatan kaum perempuan terhadap ponsel selular pada negara-negara berkembang. Khusus untuk Indonesia - merujuk pada peneilitian tersebut - ada tiga hal utama yang menjadi kendala dalam pemanfaatan teknologi. Pertama adalah biaya kepemilikian handset dan pulsanya. Mereka tidak memiliki keleluasaan ekonomi untuk memenuhi hal tersebut. Kedua, kepercayaan diri dan literacy technical (kemampuan untuk menggunakannya secara teknis).




Hal tersebut menjadi isu utama yang perlu disoroti, khususnya terkait dalam pedoman yang disusun. Terkait dengan ini pula, team pun merumuskan beberapa kompetensi yang dibutuhkan oleh perempuan di bidang TIK.
  1. Mengerti berbagai perangkat dan jenis TIK, seperti tablet, smartphone dengan beraham jenis dan spec teknologinya yang kian berkembang.
  2. Memahami prinsip kerja internet. Hal ini diperlukan sebagai knowledge. Kaum perempuan harus tahu menggunakan dan bagaimana internet itu bekerja. Terutama ketika berbicara tentang perlindungan anak dan keamanan data di internet.
  3. Menggunakan penelusuran website. Di bagian ini, skill sangat dibutuhkan. Misalnya dalam menggunakan mesin pencari dalam internet.
  4. Menggunakan surat elektronik sebagai alat komunikasi dasar.
  5. Mengenal berbagai jenis media sosial.
  6. Mengetahui etika regulasi terkait dengan internet. Ini termasuk di dalamnya tentang attitude.
Dalam kegiatan rumah tangga, perempuan bisa menggunakan internet untuk pendidikan, memahami dampak positif dan negatif, juga berkaitan dengan fitur-fitur dan parental control.
Dalam kegiatan ekonomi, lebih pada bagaimana internet bisa digunakan sebagai rumusan strategi pemasaran, bagaimana membuat media promosi (melalui website dan blog).
Dalam kegiatan sosial, bagaimana para perempuan yang bergerak sebagai aktivis sosial, internet bisa digunakan melakukan campaign, advokasi, edukasi publik, membangung jejaring, dan lain sebagainya.

Martha Simanjuntak
Dalam kesempatan diskusi tersebut, Martha Simanjuntak (Tim Pokja Serempak – IWITA), menyampaikan pengalamannya ketika mengikuti seminar dan pelatihan TIK di Korea.
“Dari hasil informasi yang saya dapat terkait perempuan dan TIK di sana, menurut pandangan mereka, Thailand masih lebih baik kesiapannya terhadap TIK ini. Namun, menurut saya dan teman-teman dari negara lain, Indonesia lebih unggul. Jika dilihat dari kepemilikan handphone dan akun di media sosial, perempuan Indonesia lebih unggul dari negara-negara ASEAN tersebut. Tapi karena Indonesia ini besar jadi tidak merata sehingga di negara ASEAN, Indonesia masuk dalam kategori pemula dalam pemahaman perempuannya terhadap TIK,” ujar Martha. 

Yudho Giri Sucahyo
Di sesi berikutnya, Yudho Giri Sucahyo (Tim Pokja Serempak – UI), menyampaikan masukannya tentang peningkatan literasi TIK, Perempuan dan Anak. Yudho memberikan contoh tentang peran Ibu dalam urusan seleksi masuk sekolah yang dipantau lewat website. Kemudian tentang mendampingi anak-anak dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. Ada beberapa soal pertanyaan yang mau tidak mau harus dicari jawabannya di dengan menggunakan internet. Menurut Yudho juga, saat ini untuk menjadi PNS pun pemahaman terhadap penggunaan internet sangat dibutuhkan. Selanjutnya tentang pengaturan penggunaan ponsel oleh anak. 

“Saya sudah sejak tahun 2007 menjadi mitra PBB - Asia Pasifik untuk pelatihan TIK. Mereka punya inisiatif, tahun ini launching tahun depan akan semakin banyak kegiatan yang namanya WIFI - Women and ICT  Frontier Initiative,” ujar Yudho.
Yudho mengatakan bahwa yang perlu dilakukan adalah menggalang komitmen. Tahun depan akan banyak perempuan yang bisa diundang untuk pelatihan. Beberapa hal terkait kaum perempuan yang disebutkan Yudho untuk dikenalkan dan diberi pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan TIK menjadi tujuan utama pedoman yang dirumuskan. Maka, pedoman yang didiskusikan perlu disempurnakan, sehingga bisa digunakan sebaik-baiknya.

Riski Fitriasari (Blogger) - Sumber: Ani Berta
Arin Murtiyarini (Blogger) - Sumber Ani Berta
        Sesi dilanjutkan dengan mengumpulkan beragam masukan dan koreksi dari peserta diskusi. Beberapa masukan seperti pedoman terhadap sanksi copy paste konten (karya tulis), penjelasan tentang dampak kesehatan pada durasi penggunaan internet, sosialisai dan pengenalan manfaat TIK ke sekolah-sekolah dasar (terutama untuk para guru), dan banyak lagi masukan lainnya demi menyempurnakan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”. 


Senang diberi kesempatan untuk memberi usulan - Sumber: Ani Berta

Diharapkan pedoman ini akan mampu memberikan perubahan pada perempuan-perempuan Indonesia. Sehingga mereka “melek” Teknologi Informasi (e-literate), yaitu tidak hanya sekadar mengetahui cara penggunaannya, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara positif. [Wylvera W.]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...