![]() |
| "Selamat ulang tahun, Ma ... I love you so much." |
Kamis, 17 Desember 2015
Rabu, 16 Desember 2015
Ibu Nies Agus DW Martowardojo
“Menjadi Ibu Rumah Tangga yang
berhasil mengurus keluarga, mendukung suami dan membesarkan anak dengan baik
adalah prestasi tertinggi seorang istri....”
![]() |
| Ibu Nies Agus Martowardojo (dokpri) |
Sambutan
hangat langsung terasa ketika kami tiba di rumah yang beralamat di Jl.
Tirtayasa X No. 6 Jakarta Selatan itu. Sedikit pun tak terasa kesan kaku dan
menegangkan karena senyum ramah pemilik rumah membuat saya begitu merasa nyaman
untuk memulai obrolan. Sosok istri dari orang pertama di Bank Indonesia ini
sangat ramah. Sesekali tawa renyahnya lepas meningkahi suasana wawancara
sehingga terasa begitu akrab.
Kehidupan
masa kecil dan remaja Ibu Nies.
Wanita
cantik bernama Berliantin Satyawati ini lahir di kota Malang, 10 Mei 1960 dari
pasangan Soeharti dan Soeroso Partosugondo. Saya mengenalnya sebagai Ibu Agus
DW Martowardojo, istri Gubernur Bank Indonesia. Ayahnya yang pernah bekerja di
Kementrian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membuat anak kedua dari
empat bersaudara ini terbiasa dengan kehidupan birokrat. Ini tercermin dari pembawaan
serta sikapnya yang tertata dengan baik.
![]() |
| Saya dan Ibu Nies Agus DW Martowardojo di rumahnya yang asri |
Ibu
Nies, begitu panggilan akrabnya, sangat merasakan bahwa pendidikan yang telah
diberikan oleh kedua orangtuanya sangat berpengaruh luas dan mendalam dalam
perjalanan hidupnya. Meskipun didikan itu tidak terlalu otoriter - seperti tidak
boleh melakukan ini dan itu - namun rambu-rambu yang diberikan kedua
orangtuanya mampu membuat Ibu Nies dan ketiga saudaranya untuk mematuhi.
“Orangtua saya itu tidak otoriter banget kok, tapi mereka tetap menanamkan
nilai-nilai yang baik sehingga kami anak-anaknya mengerti mana yang boleh dan
mana yang tidak untuk dilakukan,” begitu kenangnya.
Ibu
Nies Agus menghabiskan masa anak-anak dan remajanya dengan bersekolah di SD dan
SMP Tarakanita. Ketika naik ke kelas tiga SMP, beliau terpaksa pindah ke SMP
Imanuel Medan, karena Sang Ayah dipindahtugaskan ke kota itu. Ketika kembali ke
Jakarta, beliau melanjutkan SMA nya di Bulungan. Setelah lulus dari SMA, beliau
meneruskan kuliah di Perguruan Tinggi Trisakti dengan mengambil jurusan
Arsitektur Lanskap.
Rahasia
Keharmonisan Rumah Tangga Bu Nies.
Wanita yang punya
hobi menata rumah, membaca, menonton film dan berkebun ini kembali berbagi
kisah tentang perkenalan pertamanya dengan suami. “Saya bertemu Pak Agus tahun
1975. Pada saat itu beliau adalah mahasiswa FEUI dan teman dari kakak kandung
saya, sehingga saya cukup lama mengenalnya dan kemudian kami menikah di tahun
1985,” ujarnya mengenang masa-masa manis perkenalan itu.
Pernikahan mereka yang sudah
berjalan harmonis selama 28 tahun ini telah dikaruniai 2 anak laki-laki. Anak
pertama bernama Adri Prasetyo (27 tahun) yang saat ini sudah bekerja di Astra
Internasional. Lalu putra kedua mereka bernama Aswin Dwianto (21 tahun) yang
saat ini masih kuliah di Monash University, mengambil jurusan Business and
Finance.
![]() |
| Bu Nies bersama keluarga (suami dan kedua putranya) |
Ibu Nies sudah mendampingi suami
yang selama ini bekerja di berbagai instansi, mulai dari Bank Asing, Bank
Nasional, Bank BUMN, sebagai Menteri Keuangan dan hingga saat ini menjabat
sebagai Gubernur Bank Indonesia. Selama itu kehidupan rumah tangga mereka tak
mengalami keguncangan dan berjalan langgeng serta harmonis.
Ketika ditanya tentang rahasia
sukses dalam menjaga kelanggengan rumah tangga, wanita yang murah tertawa dan penyuka
segala jenis warna ini mengatakan, “Kesuksesan itu relatif dan tidak bisa
diukur dengan angka-angka atau menilai pencapaiannya secara pribadi. Namun, apa
yang sudah saya dan suami jalani selama 28 tahun ini didukung oleh rasa respect satu sama lain. Kami selalu
berusaha membina komunikasi yang baik sehingga semua masalah Insya Allah dapat
dipecahkan secara bersama-sama.”
Selain sebagai istri, Ibu Nies juga
menjalankan perannya sebagi Ibu dari kedua anaknya. Membesarkan, memberikan
pendidikan yang baik, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang positif, sehingga
mereka tumbuh menjadi anak-anak yang Insya Allah berguna bagi negara dan
bangsanya. “Menjadi ibu rumah tangga yang berhasil itu adalah sebuah prestasi
tertinggi dari seorang istri. Saya selalu mensyukuri pernikahan yang sudah
berlangsung selama 28 tahun ini dengan memiliki keluarga yang sehat, dapat
diterima dengan baik di masyarakat. Tak henti-hentinya saya berdoa agar semua
ini berlangsung sampai akhir hayat,” tambahnya ketika membahas masalah
prestasi.
Sikap
dalam mendampingi suami bekerja.
Ibu
Nies Agus
Martowardojo ikut memberikan masukannya sejalan dengan tema Majalah
Insani yang diangkat pada edisi itu. Ketika saya menanyakan bagaimana
tanggapan
beliau tentang sikap atau pilihan istri, ketika suami yang notabene
adalah
pegawai Bank Indonesia saat diberi amanat untuk pindah tugas sementara
ke luar
negeri, beliau mengatakan, “Istri itu adalah soulmate bagi suaminya, begitu juga sebaliknya. Jadi menurut saya,
mendampingi suami saat dipindahtugaskan itu sangat penting karena dengan adanya
istri yang mendampingi, suami akan bisa lebih fokus dan berkonsentrasi
menjalankan tugas dan pekerjaannya. Tapi, jika ada sebuah kendala yang sulit
untuk menentukan pilihan ikut suami atau tidak, maka janganlah dibuat menjadi
dilema yang berkepanjangan karena semua masalah ada solusinya. Jika itu
dibicarakan dan diputuskan bersama maka hasilnya akan jadi baik untuk semua
anggota keluarga.”
Sebagai istri dari orang yang
memegang jabatan tertinggi di Bank Indonesia, wanita penyuka hampir seluruh
masakan Indonesia dan Internasional ini juga selalu bersyukur bahwa Allah SWT
telah memberikan amanah yang luar biasa mulia untuk sang suami. Penyuka
novel-novel romance ini juga
menambahkan bahwa beliau selalu berharap agar suami dapat menjalankan tugas dan
amanatnya dengan baik. “Saya tahu bahwa Pak Agus selalu mempunyai niat yang
baik dan tulus dalam menjalankan pekerjaannya. Saya juga berharap agar beliau
dapat diterima dengan baik serta mendapatkan dukungan dari seluruh pimpinan dan
karyawan BI, sehingga dapat mewujudkan kinerja yang baik serta bermanfaat bagi
bangsa dan negara dan khususnya Bank Indonesia sendiri,” begitu tambahnya.
Tanggapan
tentang PIPEBI dan Majalah Insani.
“PIPEBI menurut saya adalah sebuah
organisasi yang mulia, karena mampu menghimpun para istri pegawai BI yang
kemudian dapat menjalankan aktivitasnya, bermanfaat bagi anggota maupun
keluarga besar Bank Indonesia serta masyarakat sekitarnya. Yang terpenting
adalah organisasi ini mampu menjalin hubungan serta komunikasi yang baik antara
pengurus dan anggotanya,” ungkap beliau. Selain itu beliau juga berharap agar
PIPEBI mampu menjalankan fungsinya secara profesional, tertib organisasi,
tertib anggaran dan senantiasa memberikan manfaat bagi anggotanya.
![]() |
| Suguhan pembuka saat bincang-bincang berlangsung (dokpri) |
Menurut beliau, semua istri dari
pegawai Bank Indonesia diharapkan senantiasa dapat menjadi pendamping dan
pendukung para suami dalam menjalankan tugasnya. Para istri memiliki tugas yang
mulia, yaitu memberi dukungan moril dan motivasi untuk suami sehingga mampu
bekerja dengan penuh integritas serta bekerja secara profesional. “Semua istri
pegawai BI adalah anggata PIPEBI, namun kita harus menyadari bahwa sebagai
istri pegawai BI dalam hal mendukung suami tidaklah perlu terlalu ikut campur
atau memasuki ranah kedinasan sang suami. Kita harus tahu batas-batasnya,” ujar
beliau menegaskan.
Selanjutnya untuk Majalah Insani,
Ibu Nies mengatakan, “Buat saya, Insani sudah bagus, isinya lengkap. Ada
rubrik untuk pendidikan, keluarga, kesehatan, kuliner, serta mengakomodir
kegiatan-kegiatan PIPEBI dari seluruh cabang dan perwakilan BI, sehingga para
istri/anggota PIPEBI bisa saling mengetahui kegiatan dan mendapatkan informasi
yang bermanfaat,” pungkasnya mengakhiri bincang-bincang kami. [Wylvera W.]
Rabu, 09 Desember 2015
Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan
| Ini bukti bahwa perempuan tak bisa lepas dari benda-benda itu ^_^ |
Tidak
bisa dipungkiri, keberadaan dan peran kaum perempuan di mana pun adalah kunci
keberhasilan dalam keluarga sebagai basis untuk membangun masyarakat dan negara
yang ideal. Sementara, kemajuan masyarakat dan negara tidak bisa lepas dari peran
Teknologi Informasi dan Komunikasi. Untuk menunjang keberhasilan tersebut,
keterlibatan kaum perempuan dalam keterampilannya terhadap pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi pun tidak bisa dipisahkan.
Teknologi Informasi dan Komunikasi
mampu memberikan banyak manfaat. TIK juga memungkinkan peran-peran dalam bidang
ekonomi dan bidang sosial menjadi lebih kuat dan optimal. Kaum perempuan bisa
meningkatkan produktivitas, membuka peluang ekonomi, meningkatkan taraf hidup
diri dan keluarganya, memberikan kontribusi yang lebih besar pada ekonomi dan
sosial. Namun, manfaat itu ternyata belum dirasakan merata di berbagai wilayah.
Melihat
kondisi ini, maka Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(KPPPA) RI, Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender Bidang Ekonomi, Bidang Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merasa perlu dan bertanggung jawab untuk
menyusun sebuah pedoman pemanfaatan TIK, khususnya bagi perempuan demi meningkatkan
kualitas. Terkait dengan keinginan baik tersebut, diskusi demi diskusi telah
dilakukan untuk menyusun sebuah pedoman yang maksimal untuk disosialisasikan.
![]() |
| Suasana di ruang diskusi |
Beruntung
sekali, saya termasuk salah satu peserta yang diundang untuk memberikan usulan
pada pedoman pemanfaatan TIK yang masih berbentuk draft. Saya hadir untuk memenuhi undangan dari KPPPA pada hari
Senin dan Selasa (7 – 8 Desember 2015) di Hotel Salak Bogor. Pertemuan dua hari
satu malam itu benar-benar dimaksimalkan untuk mengumpulkan masukan dari para
peserta yang hadir. Di antaranya dari Kemkominfo, Tim Pokja – Pemerhati TIK, Tim
Pokja Serempak – UI, Tim Pokja Serempak – BPPT, Tim Pokja Serempak – IWITA,
blogger, dan penulis.
Sekilas
hasil pemaparan dan diskusi
Di
sesi awal, Ari Fitria Nandini SH. MH. (Kemkominfo) memberi masukan. Beliau
menyoroti penggunaan rujukan/acuan yang jelas terhadap makna dari
dua terminologi yang ditemukan dalam kata TIK, yaitu Teknologi Informasi dan
Teknologi Komunikasi. Beliau mengusulkan untuk mengambil rujukan yang pasti
agar tidak muncul keragu-raguan dalam pemahaman defenisinya. Ari Fitria juga
mengatakjan bahwa pedoman yang disusun sudah tepat. Dan pedoman ini tidak hanya
ditujukan untuk perempuan perkotaan, namun sampai ke perempuan di pedesaan.
| Ari Fitria Nandini |
“Bagaimana
kita membuat pedoman yang step by step
agar mereka yang sudah melek teknologi sampai yang belum pun bisa memahami tapi
tidak merasa digurui,” ujarnya menambahkan.
Ari
Fitria juga mengatakan bahwa pedoman yang disusun juga perlu mencantumkan
batasan hukum yang menyangkut hak asasi. UU terkait dengan itu (UU ITE) perlu
dicantumkan dalam pedoman final nantinya. Dan, beberapa masukan lainnya yang
nantinya akan disepakati akan dimuat di dalam pedoman.
Selanjutnya,
Indriyanto Banyumurti (dari Tim Pokja Serempak) mengawali paparannya dengan
menampilkan tayangan/film (hasil riset dari London School Public Relation/LSPR
bekerjasama dengan AC- Qwords) yang menggambarkan tentang perempuan dan
penggunaan ICT (Information and Communication Technologies) di
Indonesia. Dalam tayangan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa perempuan tidak
bisa lepas dari internet.
| Indriyanto Banyumurti |
Dari draft yang saya terima, dalam rilis penelitiannya yang berjudul
“Profil Pengguna Internet Indonesia 2014”, Asosisasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia
(Puskakom – UI) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun
per tahun mencapai 88,1 juta orang hingga akhir tahun 2014. Ini sama dengan
34,9 % dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebesar 52 juta
penggunanya berada di kawasan Jawa dan Bali.
Dari
data yang dirilis oleh APJII dan Puskakom UI di atas, Indriyanto Banyumurti
mengatakan, “88, 1 juta pengguna internet itu besar, tapi jika dilihat
penetrasinya terhadap populasi, ini masih rendah, hanya 34,9%. Target 2015
harusnya Indonesia punya 50% kalau kita memakai acuan WSIS – Word Summit on the
Information Society tahun 2003, yang mendeklarasikan bahwa 50% penduduk dunia
memiliki akses atas informasi.”
Isu
kesetaraan gender merupakan sebuah tujuan utama pembangunan. Hal ini terutama bisa
meningkatkan produktivitas - improve
development dari generasi mendatang, karena kita tahu bahwa perempuan
adalah garda utama dalam pembangunan generasi mendatang.
Dari
sinilah KPPPAI menginisiasi disusunnya “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”
Indonesia, yang intinya adalah diarahkan menjadi acuan bagi siapa saja, para stakeholder, untuk meningkatkan
kapasitas perempuan dalam penggunaan TIK. Sedangkan ruang lingkup dari pedoman
ini terkait dengan pengertian umum tentang Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi,
kompetensi di bidang TIK khusus untuk kaum perempuan, kurikulum pelatihan yang
diperuntukkan, serta contoh modul pelatihannya
Selanjutnya dalam kajian
pengembangan konten dan akses perempuan pada internet yang diteliti oleh
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di tahun 2012,
ditemukan bahwa sebagian kaum perempuan tidak memiliki pengetahuan, kemampuan,
dan kesempatan yang tinggi dalam mengakses teknologi informasi (internet).
Kendala ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti; beban perempuan di ranah
domestik yang lebih dominan, kemampuan terhadap akses teknologi yang rendah,
serta minimnya pengetahuan dan keterampilan di bidang TIK.
Selain itu, yang paling menarik
adalah ketika dampak dari pemanfaatan TIK ini dirasa telah melebur ke dalam
hampir seluruh aktivitas kita sebagai warga masyarakat. Kenyataan inilah yang
melatarbelakangi perlunya disusun sebuah pedoman untuk melakukan pengembangan
kompetensi kaum perempuan di bidang TIK. Pedoman tersebut tidak akan tersusun
secara maksimal tanpa adanya peran dan sumbangsih dari seluruh pemangku
kepentingan.
Penyusunan “Pedoman Pemanfaatan TIK
bagi Perempuan” ini juga dimaksudkan sebagai acuan bagi instansi pemerintah,
lembaga masyarakat, masyarakat (khususnya kaum perempuan), serta para pemangku
kepentingan lainnya dalam rangka meningkatkan kapasitas perempuan dalam
menggunakan TIK.
Sementara pedoman ini nantinya akan
menunjang beberapa hal, diantaranya meliputi aktivitas dalam keluarga, sosial
maupun ekonomi yang didukung oleh kemampuan dan kecakapan dalam penggunaan TIK.
Penyusunan pedoman yang saya hadiri
membahas detail aspek yang dibutuhkan agar mampu memberi solusi bagi
keterbatasan pengetahuan kaum perempuan terhadap kemajuan TIK. Beragam masukan
disampaikan oleh peserta diskusi yang hadir. Semata-mata bertujuan untuk
memaksimalkan rumusan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”.
Selanjutnya
Indriyanto memaparkan beberapa penelitian lainnya terkait dengan pokok bahasan
dalam diskusi tersebut. Di antaranya adalah menyoroti penelitian GSM Association
yang mengukur bagaimana pemanfaatan kaum perempuan terhadap ponsel selular pada
negara-negara berkembang. Khusus untuk Indonesia - merujuk pada peneilitian
tersebut - ada tiga hal utama yang menjadi kendala dalam pemanfaatan teknologi.
Pertama adalah biaya kepemilikian handset
dan pulsanya. Mereka tidak memiliki keleluasaan ekonomi untuk memenuhi hal
tersebut. Kedua, kepercayaan diri dan literacy technical (kemampuan untuk
menggunakannya secara teknis).
![]() |
Hal
tersebut menjadi isu utama yang perlu disoroti, khususnya terkait dalam pedoman
yang disusun. Terkait dengan ini pula, team
pun merumuskan beberapa kompetensi yang dibutuhkan oleh perempuan di bidang
TIK.
- Mengerti berbagai perangkat dan jenis TIK, seperti tablet, smartphone dengan beraham jenis dan spec teknologinya yang kian berkembang.
- Memahami prinsip kerja internet. Hal ini diperlukan sebagai knowledge. Kaum perempuan harus tahu menggunakan dan bagaimana internet itu bekerja. Terutama ketika berbicara tentang perlindungan anak dan keamanan data di internet.
- Menggunakan penelusuran website. Di bagian ini, skill sangat dibutuhkan. Misalnya dalam menggunakan mesin pencari dalam internet.
- Menggunakan surat elektronik sebagai alat komunikasi dasar.
- Mengenal berbagai jenis media sosial.
- Mengetahui etika regulasi terkait dengan internet. Ini termasuk di dalamnya tentang attitude.
Dalam kegiatan rumah
tangga, perempuan bisa menggunakan internet untuk pendidikan, memahami dampak positif
dan negatif, juga berkaitan dengan fitur-fitur dan parental control.
Dalam kegiatan ekonomi,
lebih pada bagaimana internet bisa digunakan sebagai rumusan strategi
pemasaran, bagaimana membuat media promosi (melalui website dan blog).
Dalam kegiatan sosial,
bagaimana para perempuan yang bergerak sebagai aktivis sosial, internet bisa
digunakan melakukan campaign,
advokasi, edukasi publik, membangung jejaring, dan lain sebagainya.
| Martha Simanjuntak |
Dalam kesempatan diskusi
tersebut, Martha Simanjuntak (Tim Pokja Serempak – IWITA), menyampaikan
pengalamannya ketika mengikuti seminar dan pelatihan TIK di Korea.
“Dari hasil informasi
yang saya dapat terkait perempuan dan TIK di sana, menurut pandangan mereka,
Thailand masih lebih baik kesiapannya terhadap TIK ini. Namun, menurut saya dan
teman-teman dari negara lain, Indonesia lebih unggul. Jika dilihat dari
kepemilikan handphone dan akun di
media sosial, perempuan Indonesia lebih unggul dari negara-negara ASEAN
tersebut. Tapi karena Indonesia ini besar jadi tidak merata sehingga di negara
ASEAN, Indonesia masuk dalam kategori pemula dalam pemahaman perempuannya
terhadap TIK,” ujar Martha.
| Yudho Giri Sucahyo |
Di sesi berikutnya, Yudho
Giri Sucahyo (Tim Pokja Serempak – UI), menyampaikan masukannya tentang peningkatan
literasi TIK, Perempuan dan Anak. Yudho memberikan contoh tentang peran Ibu
dalam urusan seleksi masuk sekolah yang dipantau lewat website. Kemudian tentang mendampingi anak-anak dalam mengerjakan
tugas-tugas sekolah. Ada beberapa soal pertanyaan yang mau tidak mau harus
dicari jawabannya di dengan menggunakan internet. Menurut Yudho juga, saat ini
untuk menjadi PNS pun pemahaman terhadap penggunaan internet sangat dibutuhkan.
Selanjutnya tentang pengaturan penggunaan ponsel oleh anak.
“Saya sudah sejak tahun
2007 menjadi mitra PBB - Asia Pasifik untuk pelatihan TIK. Mereka punya
inisiatif, tahun ini launching tahun
depan akan semakin banyak kegiatan yang namanya WIFI - Women and ICT Frontier Initiative,” ujar Yudho.
Yudho mengatakan bahwa
yang perlu dilakukan adalah menggalang komitmen. Tahun depan akan banyak
perempuan yang bisa diundang untuk pelatihan. Beberapa hal terkait kaum
perempuan yang disebutkan Yudho untuk dikenalkan dan diberi pemahaman dan
keterampilan dalam menggunakan TIK menjadi tujuan utama pedoman yang dirumuskan.
Maka, pedoman yang didiskusikan perlu disempurnakan, sehingga bisa digunakan
sebaik-baiknya.
![]() |
| Riski Fitriasari (Blogger) - Sumber: Ani Berta |
![]() |
| Arin Murtiyarini (Blogger) - Sumber Ani Berta |
Sesi dilanjutkan dengan
mengumpulkan beragam masukan dan koreksi dari peserta diskusi. Beberapa masukan
seperti pedoman terhadap sanksi copy
paste konten (karya tulis), penjelasan tentang dampak kesehatan pada durasi
penggunaan internet, sosialisai dan pengenalan manfaat TIK ke sekolah-sekolah
dasar (terutama untuk para guru), dan banyak lagi masukan lainnya demi
menyempurnakan “Pedoman Pemanfaatan TIK bagi Perempuan”.
| Senang diberi kesempatan untuk memberi usulan - Sumber: Ani Berta |
Diharapkan pedoman ini
akan mampu memberikan perubahan pada perempuan-perempuan Indonesia. Sehingga
mereka “melek” Teknologi Informasi (e-literate), yaitu tidak hanya sekadar
mengetahui cara penggunaannya, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara
positif. [Wylvera W.]
Langganan:
Postingan (Atom)









