Senin, 13 Agustus 2012

Amplop Kosong

            Setiap kali bepergian dengan kendaraan umum, selalu saja ada hikmah yang kubawa pulang. Waktu itu, selepas mengikuti kegiatan olahraga di kawasan Blok M, aku memilih pulang naik bis. Sehabis berlatih, aku pun langsung menuju terminal Blok M untuk menunggu bis jurusan Bekasi.
Peluh mulai membasahi kening dan punggungku. Teriknya matahari membuatku nyaris terbakar. Bis yang kutunggu belum juga kelihatan. Demi melawan panas yang menyengat, aku berkomat-kamit, berdoa supaya bis segera tiba. Akhirnya doaku terkabul. Buru-buru aku menaikinya. Mengempaskan tubuh di salah satu bangkunya. Udara dingin yang berhembus dari pendingin bis, sedikit membantu.
Panas matahari menembus dinding-dinding bis yang kunaiki. AC yang dinyalakan pak sopir sebenarnya tak banyak berpengaruh pada udara di dalam angkutan. Peluh di badanku selepas olahraga tadi belum sempurna mengering. Tiba-tiba, keisenganku muncul. Dari pada menggerutu tentang panas dan gerah, lebih baik aku mencandai situasi. Satu, dua, tiga! hitungku mulai iseng dalam hati. Hitungan kulakukan untuk menebak, pasti sebentar lagi bis akan dipenuhi oleh suara merdu musisi jalanan. Benar saja. Anak muda itu mulai bernyanyi. Sebuah lagu berakhir dengan mulus.
Lumayanlah, aku suka lagunya. “Andaikan Kau Datang Kembali.” Lagu lama yang pernah hits dinyanyikan ulang oleh Ruth Sahanaya waktu itu. Suasana panas berangsur-angsur sejuk mendengar lagu itu dinyanyikan dengan alunan suara yang bagus. Sesekali bibirku ikut bergumam mengikuti syairnya. Berlanjut ke lagu berikutnya, aku mulai tak kuat menekan rasa kantuk yang sedari tadi menghimpit kelopak mataku. Hingga aku tak sadar, kalau pengamen itu sudah menyelesaikan lagunya.
            “Terimakasih Bu,” katanya kepada penumpang yang duduk disebelahku. Buru-buru kukeluarkan uang ribuan. Aku suka pada lagu dan suaranya, jadi rasanya tak menyesal untuk memberikannya tips lebih. Dia kembali mengucapkan terimakasih.
            Bis terus berjalan hingga pintu tol Jati Bening. Aku sudah tak ingin tidur lagi. Biasanya, habis pengamen satu turun dan rute bis masih cukup untuk satu atau dua lagu, pastilah kembali diisi dengan pengamen berikutnya. Aku kembali iseng menghitung. Satu, dua, tiga! bisikku dalam hati. Aku menghitung seperti hendak mengikuti lomba lari cepat. Pada hitungan ketiga tebakanku kembali tepat. Bis kembali diisi dengan musisi lainnya. Kali ini pengamen cilik. Sebagai awal penampilannya, dia membagikan amplop-amplop berukuran kecil, cukup untuk meletakkan uang receh saja sebenarnya.
            Anak itu mulai bernyanyi. Rasa kantukku sudah hilang dilumat suara fales pengamen cilik itu. Samasekali tak ada keindahan di lagu-lagu yang dinyanyikannya. Kalau boleh jujur, lebih baik anak ini baca puisi saja ketimbang bernyanyi.
            “Terimakasih, Bapak sopir, Bapak kondektur, dan Bapak Ibu yang baik hati. Keikhlasan Bapak Ibu yang sangat kami harapkan untuk bisa kami gunakan membeli sebungkus nasi,” kata anak itu sambil kembali memunguti amplop-amplop yang dibagikannya ke seluruh penumpang tadi. Dari bangku depan, aku mulai melihat ekspresi kesal di wajahnya. Tentu saja, amplop-amplop itu mungkin kembali dengan kosong. Anak itu pasti bisa meraba, apakah amplop kosong miliknya telah terisi uang atau tidak.
Sampai ke bangku belakang, aku tak lagi melihat raut wajahnya, hanya gerutunya saja yang terdengar.
            “Orang kaya kenapa pelit-pelit ya? Enggak masuk surga kalau punya duit tapi dimakan sendiri!”
Surprise! Refleks sebagian penumpang menoleh ke arahnya. Aku tak tahu, apakah mereka ingin marah atau malu mendengar ocehan pengamen cilik itu.
            Ternyata, sedekah pada pengamen juga sangat dipengaruhi oleh mutu suara. Kalau pengamen pertama yang naik dari Blok M, bisa mengumpulkan rezeki lebih banyak, karena lagu dan suaranya cukup lumayan. Tapi, pengamen cilik ini tak sedikitpun memberi penghiburan di dalam bis.
Kasihan kamu dek, mestinya kamu sekolah vocal dulu baru jadi pengamen, bisikku bergurau dalam hati. Aku membayangkan pengamen cilik itu pasti malas membuka amplop-amplop yang tak berisi itu. Salah satu amplop yang tadi diletakkannya di atas pangkuanku, juga terselip diantara puluhan amplop kosong yang tadi disebarkannya ke seluruh penumpang bis. Akhirnya, pengamen cilik itu turun juga dengan amplop-amplop kosong di perempatan lampu merah Metropolitan Mal.
            Dek, coba kamu lihat lagi...mungkin tak semua amplopmu kosong lo, bisikku kembali dalam hati. [Wylvera W.]
--------

Dimuat di majalah Insani Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia.

6 komentar:

  1. Iya mak, sampai skrg masih banyak anak2 kecil meminta uang dengan amplop begitu.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan gak jarang juga mereka gak mendapatkan apa yang mereka harapkan, Mak. :)

      Hapus
  2. HArusnya si adek jangan menggerutu dulu ya. Buka dulu amplop dari Mbak Wiwik yang sudah bercampur dengan puluhan amplop kosong. Hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya kasihan sih sebenarnya.

      Hapus
  3. Di depan ATM kadang ada penunggunya yg ngasih amplop kosong. Harapannya tentu agar diisi oleh orang yg baru keluar dari ATM. Nggak tahu dengan pasti apakah ada yg ngisinya atau tidak. Maklum yg masuk ATM belum tentu ambil uang. Mungkin hanya mbayar listrik atau cicilan motor.
    Siapa ya yang ngajari pengamen beramplop itu?
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Pakde.
      Siapa yang memulai cara seperti itu ya?

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...