Rabu, 08 Juli 2015

Buka Puasa Bersama BRID



BRID, Amy Atmanto, dan Yenny Wahid

Kalau ditanya, kapan persisnya saya bergabung di Komunitas Blogger Reporter Indonesia, pasti saya lupa jawabnya. Maaf, bukan karena tak cinta pada BRID. Yang terpenting, komunitas ini mampu menginspirasi saya untuk selalu aktif ngeblog, rasanya lebih dari cukup untuk menjawabnya.
Selama berada di BRID, satu hal yang membuat saya salut pada Founder dan para adminnya. Ketatnya “aturan main” yang diberlakukan di Komunitas Blogger Reporter Indonesia membuatnya menjadi berbeda dan solid. Yang paling ditakutkan (menyimak dari beberapa komentar blogger tentang BRID) adalah tentang ancaman dikeluarkan dari komunitas. Jika sudah siap untuk hadir di event yang ditawarkan, maka komitmennya adalah wajib membuat reportasenya. Kalau lalai, siap-siap untuk didepak dari keanggotaan.
Walaupun saya bukan anggota aktif di acara-acara yang di-share admin, tapi setidaknya saya bisa belajar banyak dari beragam postingan acara-cara tersebut. Terutama belajar tentang cara menyajikan liputan yang keren. Ini testimoni saya tentang Komunitas Blogger Reporter Indonesia yang tidak sempat saya utarakan di acara buka puasa bersama kemarin, sehingga membuat saya gagal dapat hape baru.  *siap diguyur rame-rame*  
 
Foto: Mas Hazmi Srondol (pinjem yaaa ....^_^)
Menyinggung acara buka puasa bersama, BRID telah memberi kesempatan bagi saya untuk berjumpa dan mengenal anggota BRID lainnya. Ini adalah momen pertama buat saya selama menjadi anggota BRID. Momen pertama yang meninggalkan kesan istimewa tentunya.
Bertempat di Warung Daun, Jalan Cikini Raya No.26 Jakarta Pusat, Blogger Reporter Indonesia menggelar acara bertajuk “Silaturahim dan Buka Puasa Bersama”. Acara yang didukung oleh Indosat ini dihadiri oleh sekitar 50 blogger yang semuanya tergabung dalam komunitas online (facebook) Blogger Reporter Indonesia.

Ulish Anwar
Begitu acara dibuka oleh Mas Ulish Anwar (MC yang juga dikenal sebagai pakar Public Speaking), semua blogger langsung fokus menyimak keseruan yang mulai muncul satu per satu. Diawali oleh testimoni dari sepuluh blogger yang sudah merasakan pengalamannya selama melebur di BRID. Dari semua testimoni, saya mencatat satu kesamaan dengan ulasan saya di awal catatan ini. Tentu saja kujujuran dan cara teman-teman BRID menyampaikan testimoninya memancing gelak tawa yang benar-benar mencairkan suasana. 

Nunik Utami (yang tengah itu ya ^_^)
“Pas saya masuk di BRID, saya melihatnya berbeda dari grup-grup blogger lain. Cuma grup ini yang berani mengeluarkan anggotanya yang tidak disiplin menulis reportase sesegara mungkin. Tapi itu asyik banget. Saya merasa nyaman di sini dan saya juga hati-hati banget agar tidak membuat kesalahan seperti itu, karena saya sendiri merasa nyaman dan tidak mau dikeluarkan dari grup ini,” ujar Nunik Utami mengawali testimoninya.
Nunik menambahkan bahwa di BRID dia menjadi tertantang untuk menuliskan reportase sesuai jadwal yang ditetapkan. Hal itu mencerminkan kedisplinan blogger sejati. Ketika ditanya siapa admin favoritnya, Nunik menyebut Mas Ahmed. Begitu pula dengan blogger lainnya yang memberikan testimoni. Selamat untuk Mas Ahmed yang menjadi admin terfavorit di BRID. Sayang beliau tidak bisa hadir.

Haya Aliya Zaki
“Di BRID saya belajar untuk menjadi blogger yang profesional karena kalau hadir di acaranya harus menulis reportase. Ada aturan-aturan lain yang saya temui di BRID namun tidak ada di komunitas lain. Di sini saya belajar untuk disiplin dan komitmen menjadi blogger yang profesional,” papar Haya Aliya Zaki di testimoni berikutnya.
Dari testimoni ini tergambar bahwa Blogger Reporter Indonesia merupakan komunitas yang tegas, disiplin, dan konsisten dalam menerapkan “aturan mainnya”. Dengan kekonsistenan itu pula BRID dianggap mampu memberi pelajaran kepada para blogger untuk profesional menjalankan peran dan fungsinya sebagai blogger.
Hazmi Srondol
Selanjutnya, Mas Hazmi Srondol selaku founder komunitas Blogger Reporter Indonesia menyampaikan sambutan dan penjelasannya tentang latar belakang BRID menggelar acara buka puasa bersama tersebut. Selain itu, beliau juga mengulas sekilas tentang asal muasal orang bisa berinternet lewat jejaring server. Ide dasar itu berkembang terus sampai muncul protokol yang mampu menghubungkan antar server ke seluruh dunia.
Diingatkan juga oleh Hazmi bahwa Pak Indar Atmanto ikut terlibat dalam proses panjang tersebut. Indar Atmanto merupakan sosok yang tidak asing lagi bagi pemerhati internet di tanah air. Beliaulah yang telah berjasa dalam memelopori perkembangan internet di Indonesia. Namun saat ini, Pak Indar Atmanto sedang terlibat kasus hukum yang statusnya masih dalam pengajuan Peninjuan Kembali (PK) di Mahkamah Agung.
“Inti acara ini adalah, selain kita bersilaturahmi setelah selama ini kita banyak berkomunikasi lewat dunia maya. Utamanya lagi adalah kita melakukan doa bersama untuk kebebasan Pak Indar Atmanto,” ujar Mas Hazmi.

Any Atmanto
Selepas Founder BRID menyampaikan sambutannya, Ibu Amy Atmanto (istri dari Pak Indar Atmanto) hadir menyampaikan ucapan terima kasinya kepada Blogger Reporter Indonesia. Dalam sambutannya Amy Atmanto menyampaikan permohonan agar teman-teman BRID ikut memberi dukungan kebebasan Pak Indar lewat petisi di www.bebaskanIA.tk.
“Saya mohon doa dan dukungannya. Ini merupakan ujian yang sangat berat, namun saya tetap berpikir positif dalam mencari keadilan,” ujar Bu Amy berharap.
Suasana silaturahmi terus berlanjut hingga jelang berbuka puasa. Waktu yang tersisa pun diisi oleh siraman rohani berupa kuliah tujuh menit (kultum) dari Dr. Ruli Nasrullah, M.Si. yang lebih akrab dengan panggilan Kang Arul atau Dosen Galau. 

Kang Arul
Sempat kaget dan terpana. Jujur saja, baru kali itu saya melihat Kang Arul tampil untuk mengisi tausiyah. Sosoknya yang saya kenal kocak dan tak pernah move on dari kata “jengkol” ternyata menyimpan muatan ilmu dakwah yang mumpuni. Salut!
“Saya memang dosen di UIN Jakarta di Fakultas Dakwah tapi jurusan saya adalah Komunikasi. Cuma masalahnya, kalau di komplek mereka nggak tau kalau saya ini jurusannya komunikasi. Taunya kuliahnya di UIN, Fakultas Dakwah lagi, pasti bisa ceramah. Makanya kalau acara 17-an saya suka pergi ke mana-mana menjadi tukang doa. Itu masalahnya. Tapi alhamdulillah, hanya BRID yang berhasil memaksa saya ceramah di sini,” ujarnya kocak memancing tawa dan tepuk tangan.  
Sesaat setelah itu, sesi ceramah sempat terputus. Perhatian teman-teman blogger tiba-tiba teralihkan oleh kehadiran Yenny Wahid. Termasuk saya yang baru pertama kali melihat langsung. Kondisi itu seolah membuat Kang Arul sempat kalah pamor. *ngakak guling-guling*

Yenny Wahid dan Saya
Akhirnya tausiyah kembali berlanjut. Kang Arul mengambil contoh karakter umat Nabi Muhammad Saw. dalam kata “blogger”. Kegemaran seseorang pada batu akik menjadi perumpaan yang digambarkan Kang Arul tentang blogger. Tak ada yang bisa memberi alasan mengapa seseorang sangat cinta dan mau berlama-lama mengurusi batu akik. Begitu juga dengan aktivitas blogger. Hanya mereka yang tahu menjawabnya.
Kang Arul juga memaparkan makna dari singkatan BRID yaitu Brave (berani), Respect (menghargai orang lain), Inspiratif (menuliskan konten yang mampu menggerakkan pembacanya), dan Development (terus berlatih membangun dan mengembangkan diri). Makna yang diungkapkan Kang Arul sejalan dengan karakter Rasulullah Saw. yang sesungguhnya.
Menurut Kang Arul, menulis itu penuh istiqomah yang luar biasa. Yang paling penting perlu passion. Tidak sembarangan orang bisa menulis, apalagi menjadi blogger.
“Percayalah, setitik suara blogger itu seperti titisan air di atas batu. Pelan, tapi lama-kelamaan batu itu akan bolong dan pecah. Yakinlah ....!” pungkas Kang Arul di ujung tausiyahnya.
Sesaat sebelum azan magrib berkumandang, Mas Ulish Anwar kembali mengingatkan para blogger ikut mendoakan agar Pak Indar Atmanto terbebas dari kasus hukum yang tengah menjeratnya.
Alhamdulillah, dikasi gudibek juga ^_^
Salut juga kepada Indosat yang telah memberi dukungan penuh sehingga acara silaturahmi dan buka puasa bersama Blogger Reporter Indonesia (#BukberBRID) ini benar-benar  meninggalkan banyak kesan. Sebagai pendukung acara, Indosat juga memperkenalkan program terbarunya yaitu #Ketupat TIM3. Program ini adalah paket dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Terdiri dari Paket Santan (SMS terus-terusan), Paket Telor (Telepon Ramadhan), Paket Opor (Online pol Ramadhan), dan Paket Komplit (Internetan, Nelepon dan SMS).

Sebagian menu yang bikin gak konsen di detik-detik berbuka :)
Sebagai catatan penutup, saya sangat berterima kasih kepada Founder dan segenap admin BRID yang memberi kesempatan untuk ikut di acara ini. Semoga saya tetap menjadi bagian dari BRID yang penuh keakraban, inspiratif, serta memberi manfaat agar semua anggota bisa sama-sama berkembang menuju blogger yang profesional. [Wylvera W.]

9 komentar:

  1. asyik, lengkap euy reportasenya :)

    upz, foto terakhir itu bikin ngiler...
    *puasa, puasa, he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penginnya cerita lebih panjang. :)
      Hahaha, lihatnya jangan lama-lama.

      Hapus
  2. lho koq miripp, emang kakak adik sama bu yeni ya mak wiek? hihiihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakak adik lain Ibu dan Ayah. Hahahaha ....

      Hapus
  3. makasih mbak wiwiek udah mau ditebengi aku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, kan aku juga jadi pede ada teman jalan. :)

      Hapus
  4. Selalu salut ama tulisan mbak Wyl,

    Walau memakai bahasa informal ala blogger, tetapi kaidah EYD nya tetap sempurna. Seharusnya, yang disebut "blogger reporter" ya memang seperti ini, Mbak sangat cocok jadi mentor bagi blogger-blogger junior :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaah, tersanjung ini jadinya. Makasih, Mas Hazmi. Justru aku sedang belajar ini dari blogger-blogger di BRID yang keren-keren reportasenya. *menunduk*

      Hapus
  5. Bundaaa, akuh sampe pangling liat foto bundaa sama bu yenny :)
    sama sama meneduhkan senyumnya :D

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...