Rabu, 08 Juli 2015

Ibu dan Kasihnya yang Tanpa Batas


Belahan jiwa
 
Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.
            Lirik lagu di atas memberi gambaran kepada kita bahwa kasih seorang ibu tidaklah berbatas. Ini terbukti dari proses panjang yang dimulai sejak ibu mengandung selama sembilan bulan, saat melahirkan hingga ibu mempertaruhkan nyawanya demi memperjuangkan buah hatinya lahir dan bisa memandang isi dunia. Tidak berhenti sampai di situ, ibu juga masih harus menyusui, menyuapi, mengasuh dan mendampingi pertumbuhan anaknya.  Ibu mampu memberikan seluruh waktunya dalam sehari untuk anaknya, seperti tak mengenal kata lelah sepanjang siang hingga malam. Tak pernah sekalipun dia menganggap itu sebagai beban.
            Lalu, pernahkah kita begitu sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya? Sementara kita lalai melakukan hal yang sama kepada orang yang sangat dekat dengan kita, yaitu ibu. Seolah-olah kita menganggap bahwa pengorbanan dan kasih sayangnya merupakan sebuah proses alami yang tak perlu diberikan rasa terima kasih berulang-ulang. Padahal perhatian dan kepedulian yang diberikannya adalah bentuk kasih sayang yang tak ternilai harganya dan itu diberikan secara terus-menerus tanpa batas.
Ibu menjalankan semua rutinitasnya tanpa pamrih. Bahkan dia rela mengorbankan segalanya demi kebahagiaan buah hatinya, sehingga ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu” menjadikan salah satu keistimewaannya di sisi Allah. Maknanya, bahwa Allah memberikan ridha kepada kita dengan memuliakannya. Ridho Allah itu pulalah yang menghantarkan kita menuju kesuksesan dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat.
Menjadi ibu adalah salah satu peran wanita secara kodrati. Bahkan, tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di muka bumi ini daripada menjadi seorang ibu yang melahirkan, memelihara, menumbuhkan serta membesarkan sebuah keluarga dengan baik. Meskipun peran mendidik anak tidaklah semata-mata diberikan kepada ibu karena ada peran ayah juga di sana, namun ibulah yang memiliki porsi lebih besar dalam menentukan baik buruknya seorang anak. Ibulah yang kelak menjadi pencetak generasi penerus yang unggul.

Cinta Ibu sepanjang masa
Ibu juga mampu menjadi aktor yang tangguh. Dia dapat memerankan karakter apa saja. Ketika kita perlu bimbingannya, ibu berperan sebagai guru. Ibu bisa berperan sebagai psikolog saat kita butuh tempat untuk berbagi masalah dan mencarikan solusinya. Ketika kita butuh dekapan untuk menghentikan derai air mata, ibu akan siap memerankan dirinya sebagai malaikat pelindung yang akan menghapus air mata kita serta membelai kita dengan tangannya yang lembut. Saat ekonomi keluarga butuh pengelolaan yang baik, ibu mampu berperan sebagai akuntan ahli. Bukan hanya itu, ibu juga bisa berperan sebagai juru masak handal yang menyajikan hidangan penuh cinta dan kasih sayang.
Ketika kita berbicara tentang pendidikan dasar, maka tak bisa dipungkiri bahwa semua itu berawal dari rumah, khususnya ibu sebagai pemberi pendidikan awal. Pendidikan dasar berupa proses sosialisai dalam keluarga, terutama dengan ibunya. Maka kedekatan sosok ibu dan anak mulai bayi hingga dewasa sangatlah berpengaruh pada prilaku anak. Sejak dini seorang ibu mengajarkan  nilai-nilai kehidupan dan sosial agar anak mampu melihat, mengamati serta beradaptasi dengan sekitarnya.
Di Indonesia sendiri, pemerintah sejak lama menetapkan tanggal istimewa untuk para ibu yang jatuh pada 22 Desember. Lalu, apa yang perlu kita maknai dengan penetapan tanggal dan bulan itu? Apakah hanya sekadar memperingatinya sebagai “Hari Ibu” saja? Tentu tidak. Untuk hari istimewa itu, sejatinya kita mampu memaknai peran dan arti cinta kasih seorang ibu yang tulus, tanpa pamrih. Mengingat dan menghargai bahwa peran dan posisi ibu memiliki arti penting dalam mempersiapkan masa depan bangsa.
Setelah mengurai begitu banyaknya peran yang luar biasa dari sosok seorang ibu ini, kita semakin sadar bahwa semua itu dia lakukan atas dasar cinta dan kasih yang tak berbatas. Kasihnya yang tanpa batas itu pula membuatnya menjadi sosok yang wajib untuk dihormati dan dijunjung tinggi. [Wylvera W.]


Note: Postingan kedua (FB)

12 komentar:

  1. Kalau baca postingan seperti ini selalu ingat almarhumah Mama, senangnya yang masih punya Ibu, apalagi pas bulan Ramadan gini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, maaf kalau jadi kangen sama Mama ya, In. Kirim doa buat Almarhumah.

      Hapus
  2. saya kenapa ya mak, suka malu kalo pas mudik, belum bisa balas kebaikan ibu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selagi ada rasa belum bisa membahagiakan Ibu, itu artinya kita masih memiliki rasa cinta dan terus berusaha memenuhinya, Mbak. Rasa puas malah akan membuat kita "sok" yakin kalau kita sudah cukup membalas kebaikan Ibu kita.

      Hapus
  3. Aku tidak terlalu dekat dengan ibu, lebih dekat ke ayah, tapi anak-anakku sangat dekat dengan aku, alhamdulillah. Semoga bisa menjadi role model mereka dan aku sempat membahagiakan ibuku. aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa-masa SD aku suka berpindah-pindah menginap, antara rumah ortuku dan Kakek/Nenekku. Malah sejak kelas 1 SMP sampai kls 2 SMA, aku benar-benar tinggal di rumah Kakek dan Nenek. Tapi, justru setelah kuliah aku mulai merasa dekat dengan Mama. Terlebih setelah menikah. Mamalah tempat curhat yang paling membuatku nyaman setelah Allah Swt. tentunya. Mungkin ini yang membuatku selalu ingin dekat dengan anak-anakku, supaya mereka tidak kehilangan momen itu.

      Hapus
  4. seorang ibu bisa punya oeran ganda ya

    BalasHapus
  5. setuju, Mak. Semoga anak-anak pun mengerti kalau kasing syaang ibu itu tanpa batas, ya :)

    BalasHapus
  6. Ibu..
    Memang tak tergantikan..
    Ayah ora ono apa2ne yo, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayah juga tak tergantikan kok. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...