Kamis, 10 Maret 2016

Deden Terkena Sakit Kulit



          Ceritaku yang berjudul "Deden Terkena Sakit Kulit" masuk dalam Dongeng Anak Terpilih Kategori Sanitasi - Lomba Menulis Dongeng Anak KSAN 2015 yang lalu. Bagaimana rasanya? Ah, nggak usah ditanya lagi. Pasti senang rasanya. Sebab, mengikuti lomba menulis cerita anak itu merupakan momen yang selalu bikin degdegan. Selain sibuk mikirin cerita yang bisa memikat hati juri, menunggu pengumumannya juga menjadi penantian yang mendebarkan. Jika akhirnya terpilih, tentu senang banget dong. Semakin girang lagi ketika melihat ceritaku yang terpilih itu dimuat di Nusantara Bertutur, Kompas Klasika, Minggu, 28 Februari 2016 yang lalu.
        Bagi yang belum sempat membaca, ini cerita versi Nusantara Bertuturnya ya ....^_^


 
Deden dan kedua orangtuanya sudah lama tinggal dan hidup di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta. Puluhan rumah tetangga Deden juga berjajar di sepanjang bantaran sungai itu. Mereka menggunakan air sungai untuk mencuci dan mandi. Mereka juga membuang sampah ke sungai itu.
Deden dan teman-temannya sering menghabiskan waktu bermain sambil berenang di sungai itu. Suatu hari, Deden merasakan sekujur tubuhnya gatal dan panas. Semakin digaruk malah semakin meluas rasa gatalnya, bahkan kulit sampai melepuh.
            “Aduuuh...! Sakit sekali rasanya, Ayah!” keluh Deden.
            Ayah dan Deden memutuskan untuk mencari obat bagi penyakit kulit tersebut. Di persimpangan jalan, Deden dan ayahnya dihampiri oleh seorang laki-laki tua. Melihat kulit Deden yang memerah, ia pun berkata.
            Sebaiknya kalian nenuju ke perkampungan pinggir sungai di sebelah sana. Carilah Pak Yusuf. Dia punya ramuan obat tumbuh-tumbuhan yang ampuh,” ujar laki-laki tua itu.
            Deden dan ayahnya akhirnya tiba di perkampungan pinggir sungai Ciliwung di daerah Condet.
“Lihat, Ayah! Air sungainya sangat jernih!” seru Deden melihat aliran air sungai yang tampak bersih dan bening.
Benar saja, tak satu sampah pun yang mengambang di atas sungai. Bantaran sungai juga asri karena ditanami beragam pohon. Padahal dahulunya, sungai dan perkampungan di daerah ini sama kotornya dengan tempat Deden tinggal. Rupanya setahun terakhir, warga telah mengubah lingkungan perkampungan menjadi bersih.
Deden dan ayahnya mencari rumah Pak Yusuf, yang disebut orang tua tadi.
“Apa yang bisa saya bantu?” kata Pak Yusuf kepada Deden dan ayahnya.
“Anak saya terserang penyakit kulit. Kami dengar, Bapak punya ramuan obat tumbuh-tumbuhan yang mujarab,” jawab ayah Deden. Pak Yusuf lalu mengambil sesuatu dari lemari yang ada di ruang tamu.
“Pakailah racikan ini. Terbuat dari tanaman obat yang kami tanam di pinggiran sungai. Dalam beberapa hari, kulit yang sakit akan sembuh,” ujar Pak Yusuf.
Pak Yusuf kemudian mengajarkan Ayah dan Deden bagaimana cara menjaga sumber air agar tetap bersih dan sehat. Walaupun Pak Yusuf dan tetangganya hidup di bantaran sungai, kebersihan air sungai tetap terjaga. Mereka tidak pernah sekali pun membuang sampah ke sungai. Mereka tidak pernah mencuci di sungai, apalagi mandi di sana. Sanitasi di pemukiman itu selalu dirawat secara berkala. Mereka selalu bergotong royong untuk membersihkan bantaran sungai. [Wylvera Windayana]

Note: Ceritanya bisa juga dilihat di sini

8 komentar:

  1. Aku suka ingin belajar nulis cerita anak Kak.
    Dulu waktu Sekar masih balita doang aku bikin cerita bua dongeng sebelum tidur dan itu apa adanya hahaha
    Mau coba bikin lagi ah belajar dari tulisan di atas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, dicoba lagi. Nanti juga bakal keasyikan kayak nulis artikel buat blog. ;)

      Hapus
  2. Sukaaaa ceritanya, Kak Wiek.
    Selamat yaa, akhirnya muncul di Kompas.


    Eh, terus Deden sembuh nggak kulitnya?

    #apasih

    BalasHapus
  3. Makasih, Mbak.
    Ini ceritaku yang keempat yang pernah muncul di Kompas Klasika sebenarnya. Tapi tiga lainnya bukan hasil menang lomba. Hehehe ....
    Sstt ... iya, Deden sudah sembuh sekarang. Hihihi

    BalasHapus
  4. Pak Guru Yudi15 Maret 2016 04.34

    Kak Wiwiek, mau dong belajar menulis cerpen....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masak murid ngajarin guru sih? Hahahaha

      Hapus
  5. Dulu jaman SMP aku malah srg ngirimin cerpen k bobo :D. Tp sjk udh kerja, punya anak malah GA prnh lg mbak.. Prnh MW nyoba,tp kok ya GA segampang dulu idenya ngalir :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh latihan aja itu, Mbak. Insya Allah, bisa lancar lagi. Ayo ah, semangaaat! ;)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...