Selasa, 15 Maret 2016

Gagal Mendidik Anak, Fatal Akibatnya



"A" mencoba bertahan pada panasnya api dunia

Tidak sedikit para orangtua yang selalu ketakutan jika bisnisnya gagal. Bahkan dunia serasa kiamat ketika sumber uang tiba-tiba tertutup. Mereka menganggap seolah itulah tujuan dan akhir dari kehidupan di dunia ini.
Tapi, ketika gagal menjadi orangtua (ayah dan ibu) bagi anak-anak mereka, ketakutan yang dirasakan tidak sebesar saat kehilangan harta benda. Padahal, sesungguhnya itulah yang akan perlahan-lahan membawa malapetaka bagi mereka. Dampaknya bisa puluhan tahun, bahkan butuh pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Sementara, tidak sedikit juga orangtua yang mengukur keberhasilan anak-anaknya dengan materi. Jika anak-anak mereka sudah jadi orang hebat, kaya, punya kedudukan yang baik, mereka merasa selesailah tugasnya menjadi orangtua. Mereka tidak menyadari, kelak semua itu tidak memberi jaminan bahwa anak-anak mereka akan masuk surga dan menolong mereka ikut mencium wanginya.
Saya memaparkan hal di atas bukan tanpa sebab. Semua ada contoh dan bukti nyata. Dan itu saya temukan di lapas, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Tangerang. Mau melihat hasil didikan orangtua yang gagal seperti apa? Di sana semua ada dan saya kerapkali bertemu dengan anak-anak malang itu.
Hal yang mendorong saya menuliskan ini adalah kondisi psikis salah satu anak binaan di lapas itu. Anak itu berinisial “A”. Usianya 18 tahun. Karakternya labil. Meskipun “A” seolah selalu menampilkan gerak-gerik ceria, namun di balik itu dia sangatlah rapuh. Saya mulai mengenalnya beberapa bulan lalu saat melakukan pembinaan dan pendampingan rohani. Saya juga sempat menceritakan tentangnya di wall facebook saya waktu itu.
“A” yang pernah begitu yakin dengan ketidakpercayaannya kepada Tuhan, sehingga dia merasa tidak perlu sholat. “A” yang tidak percaya adanya neraka begitu sombong untuk mencoba bertahan pada panasnya api dunia. Ya, itulah “A” yang saya kenal di awal-awal perkenalan kami.
Di pertemuan konseling berikutnya, betapa terharunya saya ketika tiba-tiba “A” menghampiri saya lalu berkata dengan lantang; “Bunda, aku sekarang sudah percaya kalau Allah itu ada.”
Saya terkejut dan terpana sejenak. Lalu saya tanya, "Apa buktinya?"
“A” dengan mantap menjawab, "Buktinya aku sudah mau sholat, tapi baru magrib dan Isya, Bunda. Subuh masih susah."
Lalu, apa kaitannya dengan ulasan saya tentang kegagalan orangtua dalam mendidik anaknya? Tentu  ada. Sosok “A” adalah satu dari lebih seratus anak yang ada di lapas. Mereka haus akan kasih sayang dan pendampingan orangtuanya. Kegamangan mereka menjalani tumbuh kembang, sehingga akhirnya terseret pada pergaulan yang menyesatkan dan menggiring mereka ke lapas itu. Kenyataan itu merupakan bukti tidak adanya perhatian dan kasih sayang orangtua.
Kembali kepada “A”.
Tadi siang, (Selasa, 15 Maret 2016), saya kembali berjumpa dengan “A”. Diam-diam “A” mendekati saya. Saya pikir dia mau memberi laporan tentang sholatnya yang semakin rajin. Ternyata “A” ingin memberikan surat yang isinya curhatan hatinya yang terdalam.
“Bunda, aku mau curhat. Tapi kalau ngomong langsung aku nggak ngerti. Bunda mau nggak baca suratku?” tanyanya membuat kerongkongan saya tercekat sesaat.
“Tapi, baca suratnya jangan di sini ya, Bun,” ujar “A” lagi.
Saya spontan mengangguk. Sesaat kemudian, saya buru-buru bilang ke “A”, “Iya, mana suratnya? Nanti Bunda baca di rumah deh.”
Setelah tiba di rumah, saya segera membuka surat yang diberikan “A”. Ya Allah, air mata ibu mana yang tidak meleleh membaca isi surat itu. Walaupun “A” bukan anak saya, namun rasa kecewa, kesakitan, dan keputusasaan yang diungkapkannya dalam surat itu sudah mewakili kesedihan yang sangat mendalam dari seorang anak, yang rindu akan kasih sayang orangtua yang tak pernah didapatkannya. 

Curhatan "A" yang mendorong saya menuliskan semua ini di blog saya
Dari kenyataan ini, masihkah kita sebagai orangtua, tidak percaya bahwa tanggung jawab kita sungguh besar pada anak-anak kita? Mereka adalah amanah yang dititipkan Allah SWT kepada kita. Lalu, jika kita hanya merasa takut saat kehilangan harta benda, bagaimanakah jika kita kehilangan kesempatan untuk mendidik anak-anak kita? Tidak takutkah kita bahwa di akhirat kelak, Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap amanah yang sudah dititipkan-Nya?
Sebagai umat muslim, kita diberi akal untuk meyakini bahwa sesungguhnya anak-anak adalah titipan dari Allah SWT kepada kita. Sebagai titipan-Nya, anak adalah harapan bagi kita. Bukan membiarkan mereka terjerumus pada kenistaan.

Bahkan Rasulullah saw. bersabda;
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
Sesunguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” [HR. Ahmad: 10618. Hasan]

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن
Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” –[HR. Al Hakim: 7679]

Di dalam Al Qur’an pun Allah SWT telah berfirman dan memberi tanggung jawab ini kepada kedua orangtua untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [QS At Tahrim: 6]

Dalam sebuah hadits, para orangtua juga diingatkan untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anaknya.
Abdullah bin Umar ra berkata,
أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك
Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” [Tuhfah al Maudud hal. 123]
                Semoga Allah SWT. senantiasa menuntun hati kita para orangtua untuk memberikan yang terbaik buat anak-anak kita. Aamiin. [Wylvera W.]

35 komentar:

  1. Masya Allah baru baca sepotong suratnya aja udah mbrebes mili :'( PR banget ini buat saya pribadi yang sebentar lagi jadi orang tua :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Aku saja yang sering berhadapan dengan anak-anak di lapas itu, membaca surat A ini tetap nangis. :(

      Hapus
    2. Duh, terharu... Jadi inget anak sendiri.
      Makasih udah nambah wawasan saya nih 😊

      Hapus
    3. Iya, kita sama-sama saling mengingatkan ya, Mbak.

      Hapus
  2. Sedih banget dia haus kasih sayang. Pengen mirip buku deh buat sih A, Mbk. Titip salam ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, boleh, Naqi. Salamnya nanti kusampaikan ya.

      Hapus
  3. Masya allah.. Semoga kita bisa menjaga anak-anak dengan baik..

    BalasHapus
  4. Saya jadi termotivasi Mba Wilvera pas baca ini, memperbaiki dan baca2 lagi buku parenting. Kadang dalam kondisi tertentu, semangat itu naik turun. Makasih, smg tulisan ini menginspirasi banyak ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusiawi itu, Mbak. Aku pun terkadang seperti itu. Syukurnya, aku punya kesempatan untuk mampir ke lapas anak ini, sehingga selalu merasa ada recharge. Juga saat mengajar di sekolah anak-anak pemulung. Alhamdulillah banget rasanya. Btw, kita saling mengingatkan dalam kebaikan ya, Mbak. Insya Allah.

      Hapus
  5. Kasihan sekali :(( menurut saya, sebagai warga masyarakat kita tidak hanya berkewajiban mendidik anak-anak kita sendiri tapi kita juga di lingkungan sekitar kita. Saya pernah menjadi warga baru di sebuah perumahan, okeh salah seorang tetangga diberi tahu agar anak saya jangan bermain dengan "x" karena suka mengumpat ("misuh"), tapi justru saya membolehkan anak saya bermain dengan si "x" tersebut,tapi sudah saya kasih tahu sebelumnya mana yang baik dan mana yang butuk. Syukurlah sejak berteman dengan anak saya si x ini jadi jarang mengumpat lagi. Bahkan menurut saya dia cenderung lebih mudah dikasih tahu daripada anak lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idealnya seperti itu, Mbak. Ketika kita merasa nyaman bahwa anak-anak kita baik-baik saja, maka lihatlah di luar sana. Masih banyak anak-anak yang kehilangan perhatian dan kasih sayang orangtua mereka. Pergaulan yang bebas, dan banyak lagi yang bisa saja menjadi tantangan bagi anak-anak kita. Maka, saling bergandengan tangan untuk meluruskannya jadi seperti keharusan ya. Btw, tks sharingnya juga ya. :)

      Hapus
  6. masya Allah :( semoga Allah menyayanginya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, iya semoga ada jalan untuknya bertaubat.

      Hapus
  7. sedih banget saya baca suratnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Itu yang membuat A sempat tidak percaya sama Allah. :(

      Hapus
  8. Hiks...
    masyaallah,
    makasih mak, mengingatkan aku untuk lebih baik mendidik anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, sama-sama, Mak. Kita saling mengingatkan ya.

      Hapus
  9. Harus sering baca pencerahan seperti ini. Biar punya stok sabar dan ilmu saat mendidik anak. Makasih mba Wik. Sehat selalu ya mba biar bisa terus mendampingi anak-anak seperti A.

    BalasHapus
  10. Nangis... jd pgn minta maaf ke anak2 *pelukin mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, selagi masih ada waktu, Mbak.

      Hapus
  11. brembes mili mba...hikss semoga mba slalu dimudahkan untuk mengajar disana mba...

    BalasHapus
  12. Semua hal yg berkenaan dengan anak-anak pasti, selalu membuat saya terharu. Betapa kita sebagai orangtua memikul tanggung jawab besar. Sayangnya tdk semua dari kita menyadarinya. Salam kenal mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, Mas.
      Terima kasih, sudah mampir ke catatan ini.

      Hapus
  13. Baca suratnya sedih sekali :(, semoga si A menjadi anak yang sholeh dan diberikan kebahagian ...

    BalasHapus
  14. ya Allah sangat terharu membaca suratnya :(

    BalasHapus
  15. Waktu kita bareng ke lapas dulu, saya merasakan sesuatu yang sulit untuk saya ungkapkan dengan kata-kata, sedih, pilu, mengharu biru, namun dibalik semua itu ada juga terselip kebahagiaan saat mereka begitu antusias mengikuti apa yang kita sampaikan saat itu. Makanya ingin dan ingin lagi kesana, meresapi bagaimana rasanya jiwa yang hampa disaat tiada orang tua berada disisi kita, sungguh suatu pengalaman batin yang tak akan mudah dilupakan begitu saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Yah.
      Insya Allah nanti kalau dapat izin mengisi pelatihan kembali di sana, aku ajak Ayah juga kalau pas kosong jadwalnya ya. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...