Selasa, 29 Maret 2016

Manfaat Silaturahmi bagi Kesehatan Jiwa



Saya, sepupu, dan para keponakan dari pihak Papa ^_^
 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda;
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". [Muttafaqun 'alaihi].

            Sebagai seorang muslim, saya selalu berusaha untuk melakukan segala sesuatunya dengan merujuk pada tuntunan yang saya yakini di agama saya. Salah satunya tentang silaturahmi. Perintah Allah SWT dan sabda Rasulullah saw. merupakan rujukan yang saya panuti. Namun, saya yakin semua agama pun tentunya memiliki pedoman dalam memaknai kata silaturahmi tersebut. Bagi saya, momen silaturahmi selalu memberi efek kesehatan bagi jiwa dan raga.
Inilah cerita saya tentang silaturahmi, khususnya dengan keluarga besar saya. Baik dari pihak saya maupun suami.
           
Cerita lama selalu mewarnai pertemuan dan silaturahmi kami
Sejak menikah di tahun 1997 staus saya dan suami adalah “Anak Rantau”. Kami yang sama-sama anak Medan pada akhirnya harus pindah ke Jakarta lalu menetap di Bekasi. Sejak itu, jarak pun memisahkan saya dan suami dari keluarga besar kami. Namun, hati kami tentunya tidak ikut berjarak dengan mereka. Hubungan komunikasi jarak jauh terus kami lakukan agar silaturahmi tetap terjaga. Bahkan kami selalu berusaha mewujudkan komitmen untuk pulang kampung. 

Saya, suami, keponakan, dan cucu dari pihak Papa (sudah punya cucu lho ^^)
            Tinggal dan meneruskan hidup di perantauan membuat saya dan suami kehilangan momen untuk rutin mengunjungi keluarga besar kami. Kalau bukan karena mudik lebaran, kami sulit mengatur waktu untuk pulang ke Medan. Itu sebabnya, lebaran adalah momen yang selalu kami tunggu-tunggu. Kerinduan akan kampung halaman dan bertemu sanak keluarga menjadi pemicunya. 

Dengan sebagian kecil dari keluarga besar suami
            Sebelum mudik, biasanya kami mengatur rencana dan kesepakatan terlebih dahulu. Karena keluarga saya dan suami sama-sama keluarga besar (bukan fisiknya yang besar lho, tapi jumlahnya … hihihi), kami harus bijak membagi jadwal kunjungan dengan jatah cuti suami yang sangat singkat. Idealnya, semua ingin kami kunjungi, namun terkadang realisasinya tidak memungkinkan. Kondisi seperti itu selalu kami sikapi dengan ikhlas dan tidak menyalahkan keterbatasan waktu yang diberikan Allah.

Mira menikmati permainan tradisional bersama sepupu-sepupunya
            Saat bertemu kembali setelah setahun tidak bertatap muka tentu ada saja yang menjadi topik obrolan yang seru. Salah satunya adalah mengenang kejadian-kejadian lucu masa lampau. Sebagai contoh yang saat itu membuat saya dan sepupu-sepupu tertawa adalah kenangan saat saya mengambil jambu biji milik Uak kami tanpa meminta izin.  
            Dulu, sewaktu masih sekolah dasar, saya dan para sepupu serta keponakan suka bermain sama. Mulai dari main alip cendong, patok lele, sampai rebutan memanjat pohon. Waktu itu, pohon jambu biji Uak kami sedang berbuah lebat. Saat main alip cendong, saya bukannya sembunyi di balik tembok atau pagar rumah, tapi malah memilih naik ke pohon jambu. Saya ngiler melihat jambu biji yang ranum-ranum itu dan ingin segera memetiknya. Tapi naas, saat turun, saya merasakan gatal di bagian paha. Belakangan baru saya sadar kalau paha saya telah ditempeli ulat bulu. Saya tidak tahu kapan ulat itu menjalar di paha saya.

Saya, Mira, Khalid bersama keluarga Mama
            “Hahaha … itu akibatnya kalau nyuri jambu Uak. Kualat kau, Wiek!” komentar salah seorang sepupu saya memancing tawa kami.
            Kalau dibawa ke hati, ledekan-ledekan seperti itu tentulah bikin bête. Namun kami tidak pernah membiarkan perasaan lebay itu menyusup dan merusak kebersamaan yang hanya setahun sekali bisa kami rasakan. Selain cerita tentang ulat bulu yang membuat paha saya bengkak menahan gatal yang luar biasa, masih banyak cerita-cerita nostalgia yang kerap mewarnai kebersamaan kami di momen silaturahmi itu. Saya selalu menikmatinya.

Menikmati kuliner khas Medan
            Selain cerita-cerita nostalgia yang bikin ketawa setiap pulang ke Medan, kami selalu mendapatkan jamuan makan khas Medan yang bikin rindu. Dari lontong khas Medan sampai memilih dan pergi bersama-sama ke restoran yang menyajikan hidangan tradisional khas Medan. Momen itu pula yang membuat kedua anak saya selalu mengingat-ingatnya ketika kami kembali ke Bekasi.

Dijamu makanan khas Medan. Yummyyy .... (keluarga suami)
            Selain itu, kebersamaan dalam momen silaturahmi juga kami manfaatkan untuk memilih, berunding, serta memutuskan untuk memasak sesuatu bersama-sama sebagai pelengkap acara kumpul-kumpul. 


Ide masak-masak bareng yang pindah ke restoran (keluarga suami)
Makan-makannya pindah ke sini saja ^^ (keluarga saya dari pihak Papa)

Jika pilihan tidak juga ditetapkan padahal diskusi sudah menghabiskan waktu lebih dari sejam, di sanalah uniknya. Kami saling mengusulkan makanan favorit masing-masing, sementara tidak mungkin untuk memasak sekaligus jika ada sepuluh pilihan selera. Ujung-ujungnya, kami memutuskan untuk makan di restoran pada akhirnya. Mau marah? Ya, tidaklah. Justru perdebatan itu poin yang membuat pertemuan kami menjadi lebih seru dan heboh.

Manfaat silaturahmi yang saya rasakan
            Karena momen lebaran datangnya setahun sekali, saya dan suami selalu berusaha untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin. Tidak menjadikan hal-hal kecil sebagai kendala yang dapat merusak momen silaturahmi dengan keluarga. Selalu mengingatkan hati untuk menikmati setiap momen pertemuan, baik dengan sanak keluarga dari pihak saya maupun suami. Berusaha memperkenalkan anak-anak saya dengan sepupu-sepupu, uak, om dan tante, paklik dan buklik, dan para kakek - nenek mereka yang masih ada di Medan sana.    

Dengan keluarga Papa dan Mama saya
Mira bersama Om dan tante-tantenya (keluarga saya dari pihak Mama)
        Saya tegaskan kembali, bahwa silaturahmi merupakan bentuk ibadah selain ibadah wajib lainnya di agama yang saya anut. Manfaat utama yang saya dapatkan dari momen silaturahmi dengan keluarga besar saya dan suami, yaitu tersambungnya secara terus-menerus hubungan kekerabatan hingga ke generasi berikutnya. Anak-anak kami pun bisa mengenal siapa keluarga mereka. Jika tradisi mulia ini tidak kami teruskan, bukan tidak mungkin mereka bertemu di suatu tempat tapi tidak saling mengenal. Padahal bisa jadi hubungan mereka adalah sepupuan. Ini bisa saja memicu hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Semoga Allah melindungi kami. Aamiin. 

Mira, Khalid, dan sepupu-sepupu mereka (anak adik kandung saya)
Selain itu, saya juga yakin bahwa tak ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini. Sekecil apa pun bentuknya, kita pasti akan membutuhkan orang lain, apalagi keluarga.
Seperti yang difirmankan Allah dalam Al Qur’an Surah An Nisaa’ ayat 1 yang artinya;  "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."
Ini yang membuat saya yakin bahwa menjaga dan memelihara silaturahmi adalah perbuatan mulia yang Insya Allah membawa berkah karena mendapat pengawasan dari Allah SWT. Jika mampu menjadikannya sebagai asupan yang bermanfaat bagi jiwa, maka efeknya raga pun selalu pada status sehat dan bahagia. Bagaimana dengan kamu? Sharing yuuuk …. [Wylvera W.]


Note: Postingan ketiga untuk #ODOP Fun Blogging

8 komentar:

  1. Mbak wik udah punya cucu? sama dong.aku punya cucu dari pihak suami.
    manfaat silahturahmi bagiku, jadi kenal saudara jauh.Kalau pas jalan2 ke luar kota tempat saudara bisa jadi tempat nginep atau Ishoma heheehe.dgn begitu mempererat silahturahminya

    BalasHapus
  2. Iya, Mbak soale sepupuku dari Papa usianya sama dengan Mamaku. Makanya cepat punya cuculah aku. Btw, betul banget, silaturahmi itu wajib lho. :)

    BalasHapus
  3. Senangnya kumpul bareng. Oh iya mesti direncakanan dulu ya mau kemananya. Aku setahun sekali kumpul bareng keluarga besar, ini acara yang paling ditunggu oleh anak-anakku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, supaya adil. Hehehe ....

      Hapus
  4. Nah saya kadang suka jarang silaturahmi pas ketemu lebaran aja itu pun hanya sebentar hihihi makasih udh diingatkan mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sih sebenarnya kita, Mbak. Tapi waktu di sana, aku suka kumpul-kumpul keluarga.

      Hapus
  5. Indahnya silaturahmi...
    trims sharingan hangatnya ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, makasih juga sudah mampir ya. :)

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...