Rabu, 30 Maret 2016

Ada Mbah Jumino di Balik Jendela Kamar



Saya saat kelas lima SD
            Dari kemarin saya menimbang-nimbang untuk memilih postingan keempat untuk One Day One Post ini. Sebenarnya tidak perlu bingung, sebab terlalu banyak kenangan masa kecil yang bisa diulas menjadi cerita. Namun, yang ini justru membuat saya sedikit ragu. Nah, lho?! Ada apa sih?
            Masa kecil saya sebenarnya standar saja. Terlahir dari pasangan yang membawa dua suku berbeda (Minang dan Mandailing). Humm … lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Siapa itu Mbah Jumino? Sabaaar … belum sampai pada sosok itu ceritanya. Biar panjang, beri saya kesempatan untuk membuka kisah tentang masa kecil saya dari arah lain dulu ya. *disembur air kumur-kumur … iiih, jijaaai *  Baiklah … baiklah, fokuuus.
            Here we go ….
            Saya lahir dan dibesarkan di kota Medan. Kota yang kaya akan kelezatan kulinernya. Enggak percaya? Tanyakan saja kepada mereka yang sudah pernah ke Medan.
Saya juga punya satu adik laki-laki. Kami hanya dua bersaudara. Terkadang akur, selebihnya berantam juga. Maklumlah, persaingan menarik perhatian orangtua itu terkadang dorongannya lebih kuat dibanding hubungan sedarah. Hahaha … kidding!
Kami dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak terlalu pakem pada aturan dan kedisplinan akan hal-hal tertentu. Seperti makan harus selalu duduk semeja makan di setiap jam makan (pagi, siang, dan malam), gosok gigi sebelum tidur di malam hari (hihi, jangan ditiru ya), harus selalu tepat waktu saat bangun pagi dan tidur di malam hari, dan beragam aturan lainnya. Tidak … tidak seperti itu. Mama dan Papa tidak melakukannya. Walaupun demikian, Mama saya selalu saklek untuk mengingatkan sholat, mengaji, membaca bismillah setiap memulai sesuatu, dan mengucapkan salam setiap keluar dan masuk rumah. Sederhana sekali ‘kan?
            Tadinya saya ingin bercerita tentang saya dan teman-teman masa kecil saya. Tapi, terlalu banyak yang harus saya ceritakan. Kasihan kalau ada yang tidak ikut ditampilkan di blog saya ini. Kalau mereka nanti tiba-tiba nemu blog ini, saya khawatir mereka bakal protes. Saya tidak siap untuk itu. *lebaaay ….*

 Ada Mbah Jumino di Balik Jendela Kamar
            Rumah kami dulu tidak seluas dan semegah rumah-rumah orang kaya pada umumnya. Tidak berpagar keliling, hanya di bagian depan rumah saja yang diberi pembatas dengan pintu pagar sederhana bercat putih metalik (keren kan, warna pagarnya pakai cat metalik … hahaha). Kamarnya ada tiga. Kamar saya, Mama – Papa, dan adik saya. Semua jendela kamar mengadap ke satu arah. Saya lupa itu arahnya ke mana ya? Selatan, Timur, atau Barat. Ah, sudahlah, yang penting hadapnya ke sebelah kiri saya kalau saya berdiri menghadap depan rumah.
            Biarpun kamar saya tidak megah, malah sangat sederhana, tapi saya tidak suka kalau isinya berantakan. Itulah yang membuat saya cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kala itu. Kalau kamar saya belum rapi, rasanya saya tidak akan nyaman meninggalkannya. Saya tidak akan bisa betah bermain bersama teman-teman saya di luar rumah kalau kamar saya spreinya belum dirapikan. Rajin ya saya? Iya, begitulah … makanya jodohnya gampang. *hahaha … siap disihir jadi upik abu*
            Kembali ke jendela kamar. Di sanalah saya menyimpan kenangan tentangnya hingga hari ini. Bisa jadi hanya segelintir dari keluarga saya yang tinggalnya berdekatan dengan rumah kami, bisa mengingat sosok wanita itu.
Namanya, Mbah Jumino. Saya mengenalnya ketika usianya sudah renta. Fisiknya pun tidak normal. Punggungnya melengkung dimakan usia - atau memang sudah seperti itu sejak lahir - membuat Mbah Jumino selalu berjalan dengan posisi tubuh melengkung. Bongkoklah, supaya lebih mudah menerjemahkannya.
            Entah jam berapa Mbah Jumino memulai hari-harinya di bawah pohon kelapa yang berjajar di sebelah rumah saya. Jarak pohon-pohon kelapa itu sekitar lima belas meter dari tembok rumah kami. Sepagi apa pun saya membuka jendela (kecuali saat hujan), Mbah Jumino sudah duduk di sana sambil menyerut daun pelepah kelapa untuk dijadikan sapu lidi. Sayangnya, saya tidak punya bukti foto sebagai dokumentasi tentang sosoknya. Coba saat itu saya sudah jadi blogger, momen itu pasti tidak akan saya abaikan begitu saja tanpa foto-foto wefie yang santek dengannya. *kualat gak ya ngomong begini….*
            Walaupun tidak ada foto tentang sosok Mbah Jumino, saya berusaha mengisahkannya dengan baik karena saya masih mengingatnya dengan jelas. Kalau hari mulai terang saat saya membuka jendela, Mbak Jumino pasti membagi senyumnya untuk saya. Awalnya saya ragu-ragu membalas senyum tuanya itu. Keberadaannya di sana saja sering meninggalkan tanda tanya besar di kepala saya. Seiring berjalannya waktu, cara kami bersua menjadi kebiasaan. Saya pun tidak ragu lagi membalas senyumnya.

Tak kenal maka bingung
            Suatu hari, saya begitu penasaran ingin sekali menghampirinya. Duduk berdua di atas tikar persegi empat mungil yang mulai usang mengikuti usia Mbah Jumino. Saya nekat melompati jendela kamar dan menginjak lahan kosong penuh tanaman liar dan beberapa pohon pisang di samping rumah saya. Sementara posisi pohon-pohon kelapa ada di bagian bedeng besar dan keras antara lahan itu, sehingga saat saya membuka jendela kamar, sosok Mbah Jumino bisa langsung terlihat.
         “Sudah jadi lidi ya, Mbah?” begitu saya memulai obrolan yang kembali dibalas dengan senyuman oleh Mbak Jumino.
            Mbah Jumino menepuk-nepukkan telapak tangannya di atas tikar tanpa bicara. Saya pikir itu adalah isyarat agar saya duduk. Saya pun duduk di depannya sambil ikut-ikutan memilih pelepah kelapa yang akan diserutnya. Logika anak-anak saya waktu itu sibuk bertanya. Fisik Mbah Jumino yang seperti itu rasanya tidak mungkin mengambil pelepah-pelepah kelapa sendirian. Saya pun menanyakannya.
            “Cucu lanangku,” jawabnya singkat dengan suara serak parau hampir tidak terdengar.
         Saya baru ingat kalau cucu yang disebut si Mbah adalah Bang Jumino. Dari nama itulah orang-orang memanggilnya Mbah Jumino yang artinya Nenek si Jumino. Herannya, saya malah tidak pernah melihat Bang Jumino di sana membantu Mbahnya menurunkan batang-batang pelepah kelapa itu. Aaah, tidak pentinglah itu untuk diingat-ingat.
            Setelah itu, beberapa kali saya kembali melompati jendela kamar dan menemani Mbah Jumino. Saya jadi tertarik membantunya menyerut daun-daun kelapa dari batang halusnya. Mbah Jumino keliatannya senang saya bantu. Kebersamaan kami lebih banyak dihabiskan dengan saling diam. Sesekali saya bertanya, Mbah Jumino hanya menanggapinya dengan anggukan dan gelengan kepala.
            “Mbah umurnya berapa?”
            Itulah pertanyaan yang membuat Mbah Jumino tiba-tiba ingin berbicara banyak tapi kembali terhenti dan dilanjutkan dengan gelengan kepala. Hanya kalimat dalam bahasa Jawa yang waktu itu samasekali tidak saya mengerti artinya. Sejak itu, saya semakin terbiasa dengan sambutan Mbah Jumino ketika saya membuka jendela kamar.

Sapu lidi dari Mbah Jumino
            Hampir seminggu saya menghabiskan liburan sekolah di rumah Nenek. Karena hari Senin waktunya untuk kembali ke sekolah, maka hari Minggu saya kembali ke rumah. Saya sempat terlupa dengan sosok Mbah Jumino. Senin paginya, ketika saya selesai berdandan dan segera berangkat ke sekolah, saya buru-buru mematikan lampu kamar dan membuka jendela. Mata saya langsung mengarah ke tempat Mbah Jumino biasa berkerja. Tak ada dia di sana.
            Karena penasaran, akhirnya saya tanya ke Mama. Ternyata sudah beberapa hari Mbah Jumino sakit. Namun sebelum sakit, dia menitipkan sapu lidi ke Mama saya. Sejujurnya, saya ingin sekali mampir ke rumah Bang Jumino, cucu si Mbah. Namun, saya pasti akan terlambat masuk sekolah. Saya niatkan sepulang sekolah akan singgah di rumahnya yang tidak jauh dari rumah saya.


            Begitulah, selama di kelas otak saya tiba-tiba tidak bisa konsentrasi. Rasanya mau cepat-cepat pulang dan melihat Mbah Jumino. Ketika lonceng sekolah berbunyi, saya seperti ingin terbang saja dari kelas. Saya buru-buru meninggalkan sekolah. Entah mengapa rasanya saya ingin sekali melihat wajah Mbah Jumino waktu itu. Walaupun saya tidak mengerti bahasa Jawa yang sesekali dia ucapkan saat kami berdua di bawah pohon kelapa, tapi saya merasa dia suka sama saya.
            Saya terus melangkah cepat sambil menyusuri jalanan kampung yang biasa saya lewati sepulang dari sekolah. Tidak berapa jauh dari rumah Mbah Jumino yang letaknya sedikit masuk ke dalam dari jalan besar, kaki saya seolah dipaksa berlari. Ramainya orang berlalu-lalang persis di depan rumah Mbah Jumino membuat nyali saya ciut.
Jangan-jangan ….
            Dugaan saya benar. Mbah Jumino baru saja meninggal. Saya tidak sempat melihatnya untuk yang terakhir kali. Hanya sapu lidi yang dititipkannya ke Mama menjadi salam perpisahan di antara kami waktu itu. Setelah itu, tak ada Mbah Jumino lagi yang tersenyum memandang saya ketika saya membuka jendela kamar. Semoga Mbah Jumino mendapat tempat yang indah di sisi Allah sampai hari ini dan nanti. Aamiin.  
Uniknya, kenangan ini bisa tersimpan rapi hingga hari ini. Kalaupun ada yang tahu, hanya Mama yang pernah saya ceritakan. Mungkin karena sosok Mbah Jumino tidak begitu familiar di kampung saya, jadi saya pun merasa tak perlu menceritakannya ke siapa-siapa waktu itu.
“Maafkan saya ya, Mbah. Kenangan bersama Mbah yang tidak pernah menjadi topik pembicaraan hangat di masa anak-anak saya, kini menjadi postingan di blog saya.”  [Wylvera W.]


Note: Postingan hari keempat untuk One Day One Post Fun Blogging            

10 komentar:

  1. Wah, Mbah Jumino yang meninggalkan kesan begitu mendalam. Semoga Mbah Jumino mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya

    BalasHapus
  2. Mbah Kimono memberi kenangan yang ga mungkin bisa di lupakan ya mba.

    BalasHapus
  3. Iya, Mbak. Tapi namanya bukan Kimono, Mbah Jumino, Mbak. :)

    BalasHapus
  4. mbah jumino baik... makanya tak terhapus dari kesan yang dirasa mba wiwik.. semoga mbah jumino mendapat tempat terbaik disisinya...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahuma Aamiin....
      Makasih ya, Mbak

      Hapus
  5. Mbah Jumino berkesan bgt ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak padahal tidak yang terlalu istimewa

      Hapus
  6. Semoga Mbah Jumino sudah masuk surga ya mbak :)

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...