Selasa, 05 April 2016

Puisi Romantis di Mading Sekolah



Saya dan teman sekelas (jangan ditebak saya yang mana, pokoke ada di situ:p)

            Mading atau Majalah Dinding adalah media komunikasi yang paling sederhana. Disebut sebagai majalah, karena prinsip paling dasar dari majalah ada di tampilan kontennya yang berisi tulisan dan gambar. Kalau di sekolah, namanya majalah dinding sekolah. Fungsinya bisa sebagai penyalur kreativitas  siswa/siswi di lingkungan sekolah tersebut.  Bisa berupa puisi, cerpen, pantun, atau karya tulis lainnya. Selain itu majalah dinding sekolah juga bisa dipakai untuk pengumuman penting lainnya yang terkait dengan siswa di sekolah itu.
            Masalahnya, saya mau cerita apa ya tentang mading sekolah? Saya tidak menyimpan banyak cerita tentang mading ini. Yang saya ingat, sebagai pengurus OSIS, saya juga bertanggung jawab pada keberadaan mading sekolah kami. Membuat jadwal tayang secara berkala setiap minggunya. Memilih tulisan dan informasi yang masuk untuk ditampilkan.
Keberadaan mading sekolah waktu itu belum terlalu populer. Yang dipajang pun lebih pada karya-karya tulis siswa-siswi di sekolah kami. Saya yang sejak dulu memang senang menulis, tentu saja ikut memanfaatkan mading sekolah kami sebagai media “pamer” karya. *hahaha … sejak dulu memang sudah narsis ya saya*
Selain cerita mini, saya juga pernah menampilkan puisi karya saya di mading sekolah. Namun, tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya ada satu cerita rahasia sebenarnya dari puisi yang pernah saya pajang di mading sekolah kami. *hahaha, akhirnya nemu juga yang mau diceritakan*
Humm … terusin enggak ya … terusin enggak ya?
Baiklah … tapi jangan bilang siapa-siapa ya. *ngikik cantik*
Masa SMA di zaman itu, saya pun tidak luput dari urusan suka-sukaan, tebar pesona, atau cari-cari perhatian. Tidak mungkin juga menunjukkan semua perasaan itu pada orang yang dituju. Saya ‘kan orangnya gengsian banget. Uhuk! Padahal orang itu sudah menyatakan rasa sukanya lebih dulu dan kami sudah menjadi teman dekat. Aaah … saya terlibat hal-hal begiini juga ternyata waktu itu. *jangan ditiru ya, dulu saya ‘kan masih lugu-lugu centil*
Kembali ke puisi tadi.
Bagaimana cara membalas ungkapan suka itu supaya tidak terkesan murahan? Pasang akal dong.
Mading sekolah pun jadi media terselubung. Saya pajanglah sebuah puisi yang sudah saya siapkan dengan tulisan tangan sehari sebelumnya. Ada teman yang sempat memuji puisi karya saya. Dia pikir itu hanya kata-kata puitis yang sengaja saya rangkai sedemikian rupa tanpa maksud. Sementara, teman-teman lainnya mungkin tidak menangkap maksud dari puisi itu. Ada yang berkomentar, “Romantis kali puisinya, Wiek!”
Waktu itu saya pikir semuanya aman-aman saja. Saya tidak akan malu memajang puisi beraorama “modus” itu. Bayangkan saja, kalau sampai orang yang saya maksud membaca yang tersirat dalam puisi itu, betapa malunya saya.
Seminggu pun berlalu. Jatah pemajangan karya di mading sekolah harus diganti. Termasuk puisi saya. Lega rasanya karena puisi saya yang terlanjur dipajang tidak sampai membuat saya malu hati. Saya pun kembali sibuk menata ulang isi mading yang baru bersama teman-teman pengurus.
Saat ingin balik ke kelas, saya didekati oleh kakak kelas. Kakak kelas yang mendekati saya itu adalah orang yang sekaligus menjadi teman dekat yang saya maksud. Ia senyum-senyum ke saya, sambil memberikan kertas yang dilipat kecil. Ia tidak bicara apa-apa, hanya memberikan kertas itu lalu berjalan ke kelasnya. Meninggalkan saya yang degdegan plus.
Saya tidak langsung ke kelas gara-gara kertas berlipat itu. Rasa penasaran lebih dominan di kepala saya. Buru-buru saya ke kamar mandi dan membuka lipatan kertas yang sejak tadi saya remas di genggaman.
Taraaa …! Coba tebak apa tulisan di kertas itu? *kasih tau enggak yaaa…?*
Tidak perlulah saya beritahu apa yang dituliskan kakak kelas saya itu. Kesimpulan jangka panjangnya, sekarang dia sudah menjadi suami saya. *hahaha, jangan menyesal membaca postingan ini ya*  See you in the next story ^_^  [Wylvera W.]


Note: 
Postingan ke-10 One Day One Post Challenge Fun Blogging
Maaf, tidak ada bukti foto untuk mading sekolahnya. ;)

10 komentar:

  1. foto 90 ke bawah, ya bu. mading dari dulu sampai sekarang tempat anak-anak sma berkreasi. jadi kangen masa nulis-nulis puisi untuk nembak cewek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, walau tuir , tapi masih semangat muda ibu :)

      Hapus
  2. waw...kode-kode cinta di mading sekolah berhasil ya mbak sampai jadi suami. hihi..

    BalasHapus
  3. Hih..ternyata suami mb Wiek itu kakak kelas ya?

    BalasHapus
  4. wah baru tahu saya ternyata...heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata apa, Mbak? *pura-pura lugu*

      Hapus
  5. kode-kodenya sangat jitu, sehingga sekarang bisa jadi suami. semoga menjadi keluarga SAMAWA. ammiiinnn

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...